Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Melalui kegiatan produksi atau operasi segala sumber daya masukkan

perusahaan diintegrasikan untuk menghasilkan keluaran yang memiliki nilai


tambah. Produk yang dihasilkan dapat berupa barang jadi, barang setengah jadi
dan jasa. Oleh karena itu, kegiatan produksi atau operasi menjadi salah satu fungsi
utama perusahaan.
Manajemen modal kerja yang efektif dan efisien menjadi sangat penting
untuk pertumbuhan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila
perusahaan kekurangan modal kerja maka besar kemungkinannya perusahaan
tersebut akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang tidak
memiliki modal kerja yang cukup tetapi tidak dapat membayar kewajiban jangka
pendek pada waktunya maka akan menghadapi masalah likuiditas.
Dalam menyusun dan menyempurnakan makalah ini penyusun mencoba untuk
menyampaikan bahwa modal kerja memiliki arti penting dalam pengaturan jasajasa monopoli yang di beriakan oleh perusahaan-perusahaan. sehingga pembaca
dapat mengambil manfaat yang terkandung dalam makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis memiliiki maksud dan tujuan.
Adapun maksud penulis adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen
Bisnis. Sedangkan tujuannya, penulis berharap agar makalah ini bisa memberikan
sedikit ilmu pengetahuan mengenai Manajemen Produksi atau Operasi dan
Manajemen Keuangan kepada para pembaca.
1.2

Tujuan

1.2.1 Untuk mengetahui tentang manajemen produksi dan manajemen keuangan


1.2.2 Untuk mengetahui cara manajemen produksi dan manajemen keuangan

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1

Manajemen Produksi

2.1.1 Pengertian Manajemen Produksi


Manajemen Produksi dan Operasi terdiri dari kata manajemen dan
produksi / operasi. Para ahli manajemen, mempunyai banyak definisi tentang
manajemen. Yang pasti manajemen adalah tindakan atau kegiatan merencanakan,
mengorganisir, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengontrol untuk
mencapai tujuan organisasi.
Produksi adalah seperangkat prosedur dan kegiatan yang terjadi dalam
penciptaan produk atau jasa. Operasi adalah kegiatan untuk mengubah input
menjadi output sehingga lebih berdaya guna daripada bentuk aslinya. Operasi
merupakan salah satu dari fungsi-fungsi yang ada dalam suatu lembaga. Fungsi
lain selain operasi adalah keuangan, personalia, pemasaran, dan lain-lain. Operasi
inilah yang menentukan kemampuan suatu lembaga melayani pihak luar. Jadi
manajemen operasi merupakan penerapan ilmu manajemen untuk mengatur
kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien. Mekasisme
atau sistem manajemen operasi masing-masing perusahaan berbeda, namun yang
pasti ada proses mengubah bentuk fisik, atau memindahkan (transportasi),
menyimpan, memeriksa dan meminjamkan.
Menurut Downey dan Erickson (1992), pada agribisnis, prinsip manajemen
produksi terbukti telah bermanfaat dalam memperbaiki metode pengumpulan,
penyortiran dan pengelompokan mutu, pemrosesan dan pabrikasi, pengepakan
serta pengiriman produk pertanian.
2.1.2 Sistem Produksi
Pada masa lalu pengertian produksi hanya dikaitkan dengan unit usaha
fabrikasi yaitu yang menghasilkan barang barang nyata seperti mobil, perabot,
semen dsb, namun pengertian produksi pada saat ini menjadi semakin meluas.
Produksi sering diartikan sebagai aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan
nilai masukan (input) menjadi keluaran (output). Dengan demikian maka kegiatan

usaha jasa seperti dijumpai pada perusahaan angkutan, asuransi, bank, pos,
telekomunikasi, dsb menjalankan juga kegiatan produksi.
2.1.3 Perencanaan Produksi
Seperti di bidang manajemen lainnya, manajemen produksi memerlukan
perencanaan yang cermat. Faktor pertimbangan yang terlibat antara lain : lokasi
fasilitas, ukuran pabrik, tata letak, pembelian, persediaan dan pengendalian
produksi. Sedangkan menurut Yamit (2003), perencanaan kapasitas produksi
adalah jumlah maksimum output yang dapat diproduksi dalam satuan waktu
tertentu. Contoh : pabrik pupuk mempunyai kapasitas 100.000 kg sekali produksi
Kapasitas produksi dikaitkan dengan kapasitas sumber daya yang dimiliki seperti :
1.

Kapasitas tenaga kerja

2.

Kapasitas mesin

3.

Kapasitas bahan baku

4.

Kapasitas modal
Manajer agribisnis yang mampu memperkirakan semua pengaruh yang

mungkin atas berbagai variabel produksi menerapkan cara pandang sistem. Ketiga
bagian dari sistem ini yaitu : lokasi, ukuran dan tata letak fasilitas.
A.

Lokasi
Dalam memilih tempat untuk fasilitas, pada umumnya manajer agribisnis

harus mempertimbangkan 4 hal yaitu : 1) sumber bahan baku, 2) ketersediaan


tenaga kerja, 3) lokasi pasar dan insentif khusus yang tersedia pada daerah
tertentu.
Sedangkan menurut Assauri (2008), lokasi penting bagi perusahaan karena
akan mempengaruhi kedudukan perusahaan dalam persaingan dan menentukan
kelangsungan hidup perusahaan. Dengan adanya penentuan lokasi suatu
perusahaan yang tepat karena menentukan :
1.

Kemampuan melayani konsumen dengan memuaskan.

2.

Mendapatkan bahan-bahan mentah yang cukup dan kontinu dengan harga


yang memuaskan/layak.

3.

Memungkinkan diaadakan perluasan pabrik di kemudian hari.

Menurut Yamit (2003), pemilihan lokasi pabrik terkait dengan pendirian


pabrik baru atau perluasan (expansion) pabrik. Perluasan pabrik disebabkan :
1.

Sumber Bahan Baku


Lokasi agribisnis mungkin akan berdekatan dengan sumber bahan bakunya

jika pada dasarnya hanya dibutuhkan satu jenis bahan baku dan ongkos angkutnya
dalam bentuk bahan baku sangat besar. Misalnya : ongkos angkut untuk ternak
atau buah dan sayuran lebih mahal daripada ongkos angkut untuk hasil olahan dari
bahan tersebut. Agribisnis memerlukan sedemikian banyak jenis bahan baku dari
lokasi yang terpencar dan berjauhan sehingga lebih tepat menempatkan lokasi
produksi di dekat pasar.
2.

Ketersediaan Tenaga Kerja


Wilayah yang berbeda menawarkan jenis tenaga kerja yang berbeda pula.

Disamping itu wilayah tertentu memerlukan upah dan tunjangan yang lebih tinggi
bagi pekerjanya karena biaya hidup yang lebih tinggi di daerah tersebut. Ada juga
daerah yang menjanjikan tingkat produktivitas yang lebih tinggi serta
ketidakhadiran dan pergantian pekerja yang lebih rendah.
3.

Lokasi Pasar
Jika perusahaan membutuhkan banyak jenis bahan bakar dengan ongkos

angkut yang tidak begitu besar, maka penempatan di dekat pasar bisa sangat
menguntungkan. Penempatan yang berdekatan dengan pasar terutama penting
bagi pengecer sehingga pelanggan tidak perlu pergi jauh-jauh untuk membeli.
4.

Insentif Khusus
Industri pertanian membutuhkan air dan pembangkit tenaga yang besar

sebaiknya ditempatkan di daerah yang berlimpah dengan sumber perbekalan


tersebut. Untuk menggairahkan bisnis adakalanya pemerintah menawarkan
keringanan pajak dan biaya listrik atau air disamping kemudahan dalam perijinan
dan penyediaan prasarana yang lebih baik.

B.

Ukuran Pabrik
Ukuran pabrik yang optimal merupakan dimensi penting dari agribisnis.

Pada umumnya unit-unit yang lebih besar lebih mudah dioperasikan, tetapi pabrik
yang terlalu besar hanya akan merupakan pemborosan besar jika ditinjau dari
berbagai faktor.
Menurut prinsip skala usaha yang ekonomis, pabrik yang besar biasanya
akan mengakibatkan biaya perunit yang makin kecil. Akan tetapi, ukuran pabrik
yang lebih kecil menawarakan lebih banyak fleksibiltas dalam hal jaraknya ke
sumber bahan baku atau ke pasar yang pada gilirannya mengakibatkan ongkos
angkut yang lebih murah.
C.

Tata Letak
Dalam merencanakan tata letak suatu pabrik perlu mempertimbangkan

semua proses dan prosedur yang kan dijalani pabrik, kuantitas dan kualitas yang
diperlukan dan setiap jenis perubahan, jenis, mutu atau permintaan produk di
masa mendatang. Menurut Subagyo (2000), tata letak (layout) pabrik adalah cara
penempatan fasilitas-fasilitas yang digunakan di dalam pabrik. Fasilitas itu
misalnya : mesin, alat produksi, alat pengangkutan barang, tempat pembuangan
sampah dan lain-lain. Letak dari fasilitas-fasilitas itu harus diatur sedemikian rupa
sehingga proses produksi dapat berjalan sedemiakian rupa dengan lancar dan
efisien. Sedang menurut Assauri (2008), layout yang baik dapat diartikan sebagia
penyusunan yang teratur dan efisien semua fasilitas pabrik dan buruh (personel)
yang ada di dalam pabrik. Fasilitas pabrik tidak hanya mesin-mesin tapi juga
service area termasuk penerimaan dan pengiriman barang, tempat maintenance,
gudang dll. Selain itu juga harus diperhatikan segi keamanan pekerja.

2.2

Manajemen Keuangan

2.2.1 Pengertian Manajemen Keuangan


Keberhasilan manajemen agribisnis sangat bergantung pada kemampuan
manajer serta para karyawan dalam memantau dan memperkirakan prestasi kerja
yang akan mereka capai. Dalam prakteknya, tujuan umum organisasi adalah
memaksimumkan laba, bukan sebagai penyediaan bimbingan yang diperlukan
untuk memeriksa kemajuan. Karena itu, kemajuan harus diukur berdasarkan
sasaran yang lebih khusus. Implikasi biaya dan pendapatan tidak dapat diabaikan
karena eksistensi bisnis pada akhirnya bergantung pada kemampuannya untuk
menghasilkan laba.
Dewasa ini manajer keuangan memegang peranan yang sangat penting.
Seiring dengan perkembangannya tugas manajer keuangan tidak hanya mencatat,
membuat laporan, mengendalikan posisi kas, membayar tagihan-tagihan, dan
mencari dana. Akan tetapi, manajer keuangan juga harus mampu
menginvestasikan dana, mengatur kombinasi sumber dana yang optimal, serta
pendistribusian keuntungan (pembagian deviden) dalam rangka meningkatkan
nilai perusahaan.
Setiap perusahaan selalu membutuhkan dana dalam rangka memenuhi
kebutuhan operasi sehari-hari maupun untuk mengembangkan perusahaan.
Kebutuhan dana tersebut berupa modal kerja maupun untuk pembelian aktiva
tetap. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut perusahaan agribisnis harus
mampu mencari sumber dana dengan komposisi yang menghasilkan beban biaya
paling murah. Kedua hal tersebut harus bias diupayakan oleh manaje keuangan.
Dengan demikian manajemen keuangan atau sering disebut pembelanjaan
dapat diartikan sebagai semua aktivitas perusahaan yang bersangkutan dengan
usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha
untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien. Pada
hakekatnya masalah manajemen keuangan adalah :
Menyangkut masalah keseimbangan finansial didalam perusahaan yaitu
mengadakan keseimbangan antara aktiva dengan pasiva yang dibutuhkan serta
mencari susunan kualitatif daripada aktiva & pasiva tersebut dengan sebaikbaiknya.

2.2.2 Konsep Biaya, Penerimaan, dan Keuntungan


A.

Biaya
Biaya merupakan pengorbanan ekonomi yang diukur dalam satuan uang,

yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Ada
empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut yaitu:
1.

Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.

2.

Diukur dalam satuan uang

3.

Yang telah terjadi atau secara potensial akan terjadi

4.

Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu


Berdasarkan perilaku dalam hubungan dengan perubahan volume, kegiatan

biaya dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu biaya tetap dan biaya variabel.
Adapun keterangannya yaitu:
1.

Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar perubahan

volume kegiatan tertentu. Biaya tetap per satuan akan berubah dengan adanya
perubahan volume kegiatan. Biaya tetap merupakan biaya untuk mempertahankan
kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu. Besarnya biaya
tetap dipengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang, teknologi dan metode
serta strategi manajemen.
n

TFC =

FC
i 1

Keterangan:
TFC

= total biaya tetap

FC

= biaya tetap untuk biaya input

= banyaknya input
Biaya yang diperhitungkan sebagai biaya tetap adalah biaya penyusutan alat.

Besarnya biaya penyusutan alat dihitung dengan rumus (Mulyadi, 1992):


Pb Ps
t
D=

Keterangan:
D

= Penyusutan alat (Rp/tahun)

Pb

= Harga beli awal (Rp)

Ps

= Nilai sisa (Rp)


7

t = Umur ekonomis
2.

Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan

perubahan volume kegiatan. Biaya variabel per unit tetap (konstan) dengan
adanya perubahan volume kegiatan (Mulyadi, 1992).
Biaya yang diperhitungkan sebagai biaya tidak tetap meliputi biaya bahan
baku dan bahan penolong, dihitung dengan rumus:
n

TVC =

VC
i 1

Keterangan:
TVC = total biaya tidak tetap
VC = biaya variabel dari setiap unit
N

= banyaknya input

VC = Pxi . Xi
Keterangan:

3.

Pxi

= harga input ke i

Xi

= jumlah input ke i

Biaya Total
Biaya Total adalah nilai seluruh yang dikeluarkan baik biaya tetap maupun

variabel. Biaya total dihitung dengan rumus (Soekartawi, 1993):


TC = TFC + TVC
Keterangan:
TC

= Biaya total (Rp)

TFC

= Biaya tetap (Rp)

TVC

= Biaya tidak tetap (variabel) (Rp)

4.

Penerimaan dan Keuntungan


Penerimaan adalah semua pendapatan yang diterima pengusaha dalam

kaitannya dengan jumlah yang dilakukannya. Penerimaan biasanya diperoleh dari


jumlah produksi dikalikan harga produk dipasaran. Makin besar jumlah produksi
maka makin besar pula penerimaan yang akan didapatkan. Menurut Soekartawi
(1993), penerimaan merupakan perkalian antara yang dihasilkan dengan harga
jual, dapat dirumuskan sebagai berikut:
TR = P x Q
Keterangan:
TR

: Total penerimaan (Rp)

P: Harga produk (Rp/kg)


Q

: Jumlah produksi (kg)

Analisis keuntungan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total


biaya yang digunakan. Semakin tinggi keuntungan yang didapat, maka dapat
dikatakan bahwa perusahaan tersebut berkembang dengan baik. Mengingat tujuan
perusahaan secara umum adalah memperoleh keuntungan maksimal dengan
pengorbanan sedikit mungkin. Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan
dan semua biaya, dapat dirumuskan sebagai berikut (Soekartawi, 1993):
= TR TC
Keterangan:
: Keuntungan (Rp)
TR

: Total Penerimaan (Rp)

TC

: Total biaya (Rp)

BAB 3
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Manajemen operasi merupakan penerapan ilmu manajemen untuk

mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien.
Mekasisme atau sistem manajemen operasi masing-masing perusahaan berbeda,
namun yang pasti ada proses mengubah bentuk fisik, atau memindahkan
(transportasi), menyimpan, memeriksa dan meminjamkan. Manajemen keuangan
semua aktivitas perusahaan yang bersangkutan dengan usaha-usaha mendapatkan
dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan
mengalokasikan dana tersebut secara efisien.
3.2

Saran
Dalam mengetahui Manajemen Operasi atau Produksi dan Manajemen

Keuangan semoga untuk langkah selanjutnya dala pengolahan produksi dan uang
semakin membaik dan tidak ada kesalahan lagi.

10