Anda di halaman 1dari 9

PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN
KEBIJAKAN PEMERINAHAN JOKOWI - JK

Nama

: Muh Januar arifin

Npm

: 15213682

Kelas

: 2EA33

Dosen

: Sri Waluyo

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN


UNIVERSITAS GUNADARMA
2015

A. Kebijakan Kontroversi yang di Lakukan di Masa Pemerintahan Jokowi - JK


Sejak mulai pencalonan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia, sosok Joko Widodo
tidak pernah terlepas dari pro dan kontra. Meski banyak pedukung, dia diserang dari segala
sisi dengan isu-isu SARA dan lainnya. Bahkan, jauh sebelum piplres, ketika Jokowi
memutuskan untuk maju ke DKI 1, banyak kontroversi yang mengiringi langkahnya. Hingga
kini hal tersebut masih terus berlanjut. Setiap gerak-gerik dan keputusan Jokowi
diamati baik-baik oleh masyarakat dan dia harus siap menerima kritik dari
berbagai kalangan. Berikut ini adalah lima kebijakan pemerintahan Jokowi yang
menuai kontroversi.

1. Pengangkatan Hasban Ritonga


Pada tanggal 20 Desember 2014, Presiden Jokowi menurunkan Keppres
No. 214/M/2014 terkait pengangkatan Hasban Ritonga sebagai Sekda Provinsi
Sumatera Utara. Hal ini tentu saja membuat sebagian besar orang menentang
keras karena Hasban adalah terdakwa kasus korupsi. Hasban pernah disidang
atas kasus penyimpangan pajak di Kabupaten Labuhan Batu sebesar 2,4 milyar.
Setelah dikonfirmasi ulang, Mendagri mengatakan bahwa pihaknya tidak
mengetahui bahwa yang bersangkutan menjadi terdakwa dalam sebuah kasus
korupsi. Hasban tetap dilantik menjadi sekda pada tanggal 14 Januari 2014 lalu.

2. Kenaikan BBM Pada Tahun 2014


Pada tanggal 17 Nopember 2014, Presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan
yang memancing banyak kontroversi di berbagai kalangan. Premium dinaikkan
dari 6500 menjadi 8500 rupiah. Sementara solar dinaikkan dari 5500 menjadi
7500. Ini disebut-sebut sebagai kebijakan yang akan merugikan rakyat kecil.
Kenaikan harga BBM, tentu saja diikuti oleh kenaikan harga-harga lain seperti
harga bahan pangan dan ongkos transportasi umum. Menurut pemerintah
Jokowi, kebijakan kenaikan ini memang diperlukan karena anggaran negara
sangat terbebani dengan subsidi yang begitu besar. Yang membuat rakyat lelah
adalah, harga BBM naik turun dan membingungkan sepanjang November hingga
Maret kemarin.

3. Penenggelaman Kapal Asing di Ke.pulauan Riau


Pada 5 Desember 2014, tiga kapal asing di perairan Anambas, Kepulauan
Riau ditenggelamkan oleh pihak Indonesia karena dianggap menyebrangi teritori
batas dan mencuri hasil kekayaan Indonesia. Hal ini disambut meriah oleh
banyak orang, karena tampak memperkuat ketahanan maritim Indonesia.
Bahkan, kala itu beredar luas meme Ibu Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan
dan Perikanan, yang sedang memasang kacamata dengan latar belakang kapal
yang sedang terbakar. Like a boss.. Namun, menurut sejumlah kalangan, hal itu
bukanlah hal yang hebat. Menurut politisi Fadli Zon, orang yang selalu aktif
mengkritik pemerintahan Jokowi, kapal tersebut adalah hasil penangkapan tahun
2008 dan sudah menjadi barang rongsokan. Namun, sebagian lagi berpendapat
bahwa tindakan itu tetaplah sesuatu yang layak diapresiasi.

4. Cicak VS Buaya Jilid 2


Pada era pemerintahan SBY, sempat terjadi perseteruan antara KPK dan
POLRI. Dan ketika itu muncullah istilah cicak vs buaya dimana KPK dan para
pendukungnya dianalogikan sebagai cicak kecil yang berusaha melawan reptil
sebesar buaya yaitu Polri. Insiden ini kembali terjadi di era pemerintahan
Presiden Jokowi. Presiden Jokowi mengusulkan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai
calon Kapolri. Budi Gunawan disebut mempunyai rekening gendut dan telah
ditetapkan sebagai tersangka KPK pada 13 Januari 2014. KPK mendapat
sejumlah ancaman dan isu-isu pengalihan yang akhirnya menyeret Abraham
Samad ke pengadilan. KPK mendapat banyak sekali dukungan dari rakyat
Indonesia.

5. PNS Dilarang Rapat di Hotel


Untuk mengefektifkan dana anggaran pemerintahan Jokowi melarang para PNS untuk
menyelenggarakan rapat di hotel. Hal ini dilakukan karena rapat di hotel sering kali berujung
kepada tamasya, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Selain itu, banyak fasilitas
gedung yang bisa digunakan untuk rapat selain hotel. PNS diminta untuk menjadi sosok yang
displin dan sederhana. Namun, hal ini mengundang kontroversi karena pengunjung hotel
turun drastis. Ini menyebabkan sejumlah hotel menjadi sepi bahkan sebagian dari mereka
harus mem-PHK karyawannya. PNS juga merasa hal ini tidak adil karena tidak pernah
dilakukan di pemerintahan sebelumnya. Apapun kebijakan dari pemerintahan sekarang,
memonitor dan mengkritik adalah kewajiban kita bersama. Kita harus memperhatikan benarbenar kebijakan pemerintah, karena itu menyangkut kehidupan kita. Tidak ada salahnya
untuk bersuara dan berpendapat untuk kemajuan bersama.

B. Kebijakan Yang di Lakukan 100 Hari Pemerintahan Jokowi - JK

1. Membentuk Kabinet Kerja dengan 34 kementerian. Ini tak sesuai janjinya saat
kampanye yang akan membentuk kabinet ramping

2. Program Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Keluarga
Sejahtera (KKS), oleh sejumlah kalangan dinilai hanya "ganti baju" kebijakan Presiden
SBY. Politikus Partai Demokrat Wahidin Halim menyebut KIP pada masa SBY bernama
Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau pengembangan dari Bantuan Operasional Sekolah
(BOS). KIS merupakan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan BPJS yang
telah ada di APBN 2014. KKS adalah program pemberian uang tunai kepada keluarga
miskin atau Program Keluarga Harapan (PKH) yang sudah dilakukan pemerintahan SBY.
Masalah anggaran Kartu Sakti juga sempat menjadi polemik. Mensesneg menyatakan
sumber anggarannya berasal dari CSR BUMN, yang kemudian diralat oleh Menkeu
bahwa sumber dananya berasal dari APBN 2014.

3. Menaikkan harga BBM subsidi pada 17 November. Harga premium dari Rp


6500 menjadi Rp 8.500. Solar dari Rp 5500 menjadi Rp7500. Hal ini
mendapat sorotan karena selain memicu kenaikan harga bahan pokok
pangan, kebijakan diambil saat tren harga minyak dunia terus melemah.

4. Jokowi menerbitkan Keppres No 214/M/2014 pertanggal 29 Desember 2014


tentang pengangkatan Hasban Ritonga sebagai Sekdaprov Sumut. Hasban
berstatus terdakwa kasus sengketa lahan di Jalan Pancing, Medan.

5. Jokowi mengusulkan Komjen Pol Budi Gunawan yang disebut-sebut punya

rekening gendut dan belakangan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, 13


Januari 2015.

6. Jokowi melantik sembilan anggota Wantimpres, 19 Januari 2015. Salah


satunya Jan Darmadi.Jan disorot Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Tamrin
Amal Tomagola. Melalui akun facebooknya, Tamrin menyebut Jan sebagai bos
judi.
7. Pada 16 Januari 2015 Jokowi mengumumkan penurunan harga BBM. Premium
Rp 6.600, Solar Rp 6.400 per liter. Harga barang-barang termasuk tarif
angkutan telanjur naik.
8. Menteri Rini Soemarno berencana menjual gedung BUMN.
9. Penenggelaman tiga kapal asing di perairan Anambas, Kepri, 5 Desember.
Wakil Ketua DPR, Fadli Zon menilai hanya pencitraan karena berdasar info
yang diterimannya, itu kapal hasil tangkapan 2008 dan sudah rongsokan.

10. Menpan-RB Yuddy Chrisnandi melarang instansi PNS rapat di hotel.


Dampaknya hotel sepi, mulai ada PHK karyawan. Yuddy dinilai tak paham
APBN yang dikeluarkan lewat pos belanja pemerintah itu juga berfungsi untuk
stimulus perekonomian. Juga terkait kebijakannya membatasi PNS yang
punya hajatan hanya boleh menyebar undangan untuk 400 tamu saja.

C. Rencana Kebiakan Pemerintahan Jokowi JK yang Menuai Kontroversi

Dengan mengusung jargon yang bombastis Revolusi Mental, ekspektasi terhadap programprogram pemerintahan Jokowi-JK sangat tinggi. Implementasi dari jargon tersebut
diharapkan membawa perubahan signifikan dari pendahulunya. Perubahan yang diharapkan
tentu saja ke arah yang positif, dan tidak barati semua program pemerintahan Presiden SBY
harus diubah atau ditinggalkan. Harus diakui, di bawah kepemimpinan Presiden SBY selama
10 tahun, deretan prestasi berhasil ditorehkan Indonesia dan diakui dunia.
Terminologi revolusi yang bermakna perubahan secara radikal, meluah harapan lahirnya
gebrakan besar dari Jokowi-JK dalam menata Indonesia lima tahun kedepan. Terobosan yang
berpihak pada rakyat dan mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan.
Keberpihakan rencana kebijakan Jokowi-JK kepada rakyat bukan berarti program-program
tersebut hanya dipahami, disetujui dan diterima di tingkatan elit, atau disepakati oleh
pemerintah saja. Namun lebih dari itu, sebuah program dikatakan berpihak kepada rakyat bila
program tersebut bisa dikomunikasikan sehingga dipahami oleh rakyat. Dengan dasar
pemahaman yang kuat atas program pemerintah, maka rakyat bisa menentukan sikap secara
rasional, memberikan persetujuan dan legitimasi sehingga program-program tersebut berjalan
mulus tanpa menuai penolakan dan kontroversi.
Dua bulan jelang pelantikan sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada 20 Oktober
mendatang, sejumlah rencana program pemerintahan Jokowi-JK telah disampaikan ke publik.
Ada yang disampaikan langsung oleh Jokowi-JK ada pula yang muncul dari gagasan tim
sukses mereka. Namanya ide, pastilah ada yang mendapat apresiasi, namun banyak pula yang
menuai kontroversi. Beberapa rencana program Jokowi-JK yang menuai kontroversi dan
mengakibatkan perdebatan sengit antara lain :

a. Mencabut subsidi BBM


Alasan mendasar yang menjadi pembenaran Jokowi-JK untuk mencabut subsidi
(menaikkan) BBM adalah karena subsidi BBM mengakibatkan jebolnya anggaran negara,
subsidi BBM menggunakan anggaran sangat besar. Konsumsi bahan bakar memang sangat
tinggi. Salah satu variable yang menyebabkan tingginya konsumsi BBM adalah dinamika
pertumbuhan ekonomi. Di berbagai sektor, aktivitas masyarakat harus ditunjang oleh BBM.
Ketika pemerintah mencoba membatasi konsumsi BBM masyarakat, kita melihat panjangnya
antian di SPBU. Orang-orang telat ke kantor, bahkan tak bisa ke tempat kerja karena
mobilitas terganggu oleh keterbatasn BBM. Konsumsi BBM bersubsidi yang tinggi tentu saja
menyedot anggaran yang tidak kecil. Maka kemudian muncul ide untuk mengemat anggaran
dengan mencabut subsidi. Kontroversinya terjadi di sini. Untuk menghemat anggaran,
apakah mencabut subsidi BBM satu-satunya jalan?
Subsidi adalah hak rakyat yang harus dijamin oleh Negara. Apalagi kenaikan BBM
dipastikan menyebabkan inflasi dan kenaikan harga-harga sehingga memukul daya beli
masyarakat (purchasing power hitting), menganggu pertumbuhan ekonomi dan dampak
derivatifnya bahkan bakal menciptakan kemiskinan baru. Bila alasan mencabut subsidi untuk
menghemat anggaran atau menjaga ruang fiskal, banyak opsi solusi lain yang bisa ditempuh.
Misalnya merampingkan birokrasi, mengurangi belanja pegawai, menekan angka kebocoran
anggaran dan korupsi, meningkatkan pendapatan Negara dari sektor pajak, merealokasi

anggaran dari Kementrian yang selama ini realisi serapannya rendah, serta serta bebagai
pilihan solusi tanpa harus mengorbankan hak-hak rakyat.
b. Menjual Pesawat Kepresidenan
c.
Ide menjual pesawat kepresiden ini dilontarkan oleh Ketua DPP PDIP, Maruarar
Sirait. Menurut politikus muda PDIP ini, penjualan pesawat kepresidenan yang baru beberapa
bulan lalu digunakan oleh Presiden SBY adalah dalam kerangka penghematan anggaran
Negara. Dasar kajian argumentasi tim sukses Jokowi-JK pada Pilpres lalu ini memang masih
absurd. Tidak jelas kalkulasi dan penghematan apa yang dicapai jika pesawat kepresidenan
dijual. Padahal, alasan pengadaan pesawat kepresidenan tersebut oleh pemerintahan Presiden
SBY, adalah dalam rangka menghemat anggaran Negara. Dari perhitungan yang dilakukan
dengan cermat oleh Pemerintah, penghematan anggaran negara selama masa pakai
pesawat ini di kisaran beberapa tahun ke depan adalah Rp114,2 miliar per tahun, kata Menteri
Sekretari Negara Sudi Silalahi, seperti diberitakan Jurnal Nasional.
Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) dibeli Indonesia seharga 89,6 juta dollar
AS atau dalam kurs rupiah sebsar Rp 847 miliar. Sebagai perbandingan, anggaran untuk sewa
pesawat kepresidenan tahun 2011 mencapai Rp156 miliar dan tahun 2012 sebesar Rp102
miliar. Bila kita rata-ratakan Rp 120 miliar pertahun, artinya menyewa pesawat selama 7
tahun setara dengan satu pesawat kepresidenan baru. Dengan memiliki pesawat kepresidenan,
anggaran Negara hanya terbebani satu kali, selebihnya hanya biaya operasional. Tapi bila
menyewa pesawat, maka setiap tahun anggarannya harus dialokasikan. Jadi, membeli lebih
efisien daripada menyewa.

3. Menjual/Privatisasi Pertamina
Rencana kebijakan kontroversi ketiga yang dilontarkan oleh kubu Jokowi-JK adalah
privatisasi Pertamina, BUMN strategis yang tanggungjawabnya melayani hajat hidup 250
juta rakyat Indonesia. Adalah Effendi Simbolon, yang mengusulkan rencana privatisasi
Pertamina. Alasannya memang sangat bagus, dengan privatisasi, kepemilikan saham
Pertamina jadi terbuka ke publik sehingga transparansi Pertamina bisa dicapai. Cagub gagal
pada Pilgub Sumut ini mengatakan, selama ini Pertamina cenderung tidak transparan,
termasuk dalam penentuan harga BBM.
Barangkali politikus PDIP ini lupa, bila luka yang ditorehkan oleh pemerintahan
Megawati belumlah sembuh dan masih nanar di nurani bangsa Indonesia ketika Ketua Umum
PDIP tersebut menjual Indosat, salah satu asset strategis bangsa. Bila alasan yang
dikemukakan ingin privatisasi Pertamina hanya untuk menciptakan transparansi, saya kira itu
tergantung pemerintah sebagai pemilik saham. Kalau pemerintah melalui perpanjangan
tangan Kementrian BUMN memang beriktikad baik menciptakan transparansi di tubuh
Pertamina, ya, sederhana saja. Tinggal turun ke bawah, memperbaiki manajemen korporasi
yang sudah mulai berkiprah di kancah global tersebut.
Lagian, jika Pertamina dijual, kepempilikan saham pemerintah dilepas, tak ada
jaminan transparansi berdampak pada efisiensi harga BBM yang jadi komoditas utama

Pertamina saat ini. Bahkan, harga BBM bisa dinaikkan seenaknya oleh pemilik saham. Ini
yang harus dipikirkan masak-masak oleh Effendi Simbolon! Sebagai orang yang
berpengalaman di bidang ekonomi, kita berharap Pak JK menolak fantasi liar privatisasi
Pertamina tersebut.
4. Mengurangi Gaji PNS
Rencana kebijakan keempat, dalam catatan penulis yang juga menuai kontroversi
adalah soal pengurangan/pemotongan gaji PNS. Bagi non PNS, ide ini tentu tidak bikin
pusing, malah disambut gembira. Apalagi PNS, sebagai pelayan rakyat, selama ini kinerjanya
memang banyak yang tidak jelas. Banyak yang menuding, PNS hanya makan gaji buta tanpa
kinerja. Saya kira pendapat semacam ini bentuk ekspresi kekecewan masyarakat terhadap
birokrasi secara umum, yang harus ditangkap dan direspons oleh pemerintah.
Namun, bagi saudara-saudara kita yang bekerja sebagai PNS, rencana pemotongan
gaji tentu saja sangat mengkhawatirkan. Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok,
kenaikan tarif dasar listrik dan rencana kenaikan harga BBM, gaji PNS bisa jadi tidak
mencukupi untuk meng-cover kebutuhan mereka. Ini juga dapat berdampak pada turunnya
kualitas layanan PNS kepada masyarakat sehingga merusak tatanan birokrasi pemerintah.
Yang semestinya disikapi dari abdi Negara ini adalah menyetop sementara (moratorium)
penerimaan PNS sembari PNS yang telah ada dioptimalisasi fungsinya agar berkinerja
dengan baik sehingga keberadaan mereka betul-betul bermanfaat/tidak membebani anggaran
Negara.

D. Pemerintahan Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen


Meski masih sulit mancapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen, pemerintah akan terus
berupaya merealisasikannya, demikian disampaikan Menteri Keuangan, Bambang
Brodjonegoro hari Senin (27/10). Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil berpendapat,
harus ada kejutan dalam menggerakkan perekonomian sehingga investor berminat
berinvestasi di Indonesia.Usai serah terima jabatan di Jakarta hari Senin (27/10), Menko
bidang Perekonomian, Sofyan Djalil kepada pers mengatakan tim ekonomi Kabinet Kerja
pemerintahan Presiden, Jokowi dan Wakil Presiden, Jusuf Kalla harus segera bekerja.
Menko berpendapat banyak hal yang harus dibenahi agar ekonomi terus bergerak dan tumbuh
karena jika tidak bergerak cepat akan sulit mengantisipasi dampak negatif bagi perekonomian
Indonesia yang disebabkan karena melambatnya perekonomian global.Meski Menko belum
bersedia menyebut target pertumbuhan ekonomi yang akan dikejar, menurutnya harus

dilakukan kejutan melalui berbagai kebijakan ekonomi yang mampu menarik minat para
investor berinvestasi di Indonesia. Menko optimistis peningkatan investasi mampu
menggerakkan perekonomian secara cepat.
Saya belum bisa menyebutkan angka tetapi bahwa kalau ekonomi kita lagi begini harus ada
kejutan, nah salah satu yang bisa dilakukan segera adalah bagaimana membuat kebijakan,
membuat keputusan memperlakukan hal-hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah segera
sehingga akan mempercepat dunia usaha bergerak, kata Sofyan. Dalam beberapa
kesempatan, Presiden Jokowi menegaskan ingin pemerintahan di bawah kepemimpinannya
mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen. Sementara, dalam anggaran
negara yang disusun pemerintahan sebelumnya menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun
2014 dan tahun 2015 sekitar 6 persen.
Menurut Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, target pertumbuhan 7 persen realitis
namun dapat dicapai dengan beberapa catatan dan kemungkinan akan terealisasi pada tahun
2016.Tujuh persen tentunya bisa tetapi kita harus perbaiki dulu pondasinya, baik pondasi
fiskal, moneter maupun sektor riil, karena nggak mudah, tujuh persen itu intinya kita harus
punya pertumbuhan investasi dan ekspor yang tinggi, karena ekspor mungkin agak susah
dalam kondisi sekarang ketika global demand lagi slow down maka kita harapkan pada
investasi, 2015 mudah-mudahan sudah mulai pulih tetapi belum sampai 7 (persen) tentunya,
paling cepat itu mungkin 2016 tapi itu pun kita perlu reformasi struktural yang serius, papar
Bambang.
Bambang Brodjonegoro menambahkan, program pembangunan infrastuktur harus segera
diluncurkan untuk mempermudah kinerja para investor. Jika anggaran negara terbatas untuk
membangun infrastruktur menurut menteri keuangan, beberapa cara dapat ditempuh di
antaranya melalui kerjasama dengan pihak swasta lokal maupun asing.Kalau kita 2015
punya program pembangunan infrastruktur besar-besaran, selain membereskan masalah
infrastruktur kita, juga membantu mendorong pertumbuhan, keuntungan besarlah buat
ekonomi kita. (Tapi) Iklim investasinya harus benar dulu jangan sampai antusiasme investor
itu bisa drop hanya karena mereka melihat wah di Indonesia nggak ada kepastian." demikian
menurut Bambang.

Anda mungkin juga menyukai