Anda di halaman 1dari 10

Aplikasi Pendidikan Karakter Oleh Guru Yang Tersertifikasi Pada Mata

Pelajaran Ekonomi Di SMA Tugu (SMAN 1,SMAN 3 dan SMAN 4) Kota


Malang
Made Yudha Astrianto
ABSTRAK : Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, fokus dalam
penelitian ini adalah Bagaimana pembelajaran ekonomi oleh guru yang sudah

tersertifikasi, bagaimana penerapan pendidikan karakter kedalam proses


pembelajaran oleh guru dan kendala apa yang ditemui oleh guru ketika
menerapkan pendidikan karakter di di SMA Tugu (SMAN 1,SMAN 3 dan
SMAN 4) kota malang. Dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi
terstruktur. yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaplikasian pendidikan
karakter di SMAN dari SMAN 1 Malang, SMAN 3 Malang, dan SMAN 4 Malang.

Hasil dalam penelitian ini adalah Pembelajaran ekonomi di SMA TUGU kota
malang sudah baik, karena guru memakai metode diskusi sehingga siswa
sudah dapat aktif dan dari metode diskusi tersebut banyak pendidikan
karakter yang secara tidak langsung diterpakan di dalam proses pembelajaran
.
Kata Kunci : aplikasi pendidikan karakter

Character education is a system where the educators develop


characters values to the students including knowledge, awareness, and action
.Focus of this research is how the economic teachers implementating character
ABSTRACT :

education into the class, learning process by the teacher and what the obstacles
encountered by teachers when implementing character education at SMA Tugu
(SMAN 1, SMAN 3 and SMAN 4) Malang. The present study was conducted by

giving semi-structured interview with the Economics teachers as the object.


The findings of the study indicate that the economics learning in Tugu
secondary schools is Excellent for the teachers implement discussion method
to make the students active. Besides, by doing such method, indirectly apply
character education in the learning process.
Key words : aplication of character education
PENDAHULUAN
Pendidikan dapat

dilakukan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Seiring makin tingginya tuntutan ekonomi yang menyibukan orang tua


dan besarnya arus perubahan nilai di masyarakat, maka peran sekolah untuk
turut

membangun karakter positif peserta didiknya semakin besar. Orang tua

sangat mengandalkan dan mengharapkan bahwa para guru di sekolah dapat

mewakili mereka mengembangkan nilai moral dan sistem nilai pada anakanaknya (Dumiyati,2010:97
Pendidikan karakter mulai dikenal di Indonesia pada tahun 2009, hal ini
merupakan pembenahan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan, tujuan adanya
pendidikan karakter adalah untuk membenahi karakter bangsa. Seperti yang
tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 pasal 3 yang menyatakan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders)
harus dilibatkan). Dalam hal ini,pendidikan karakter harus dilakukan oleh guru
guru yang profesional. Keprofesionalan guru itu sendiri sekarang sudah terjamin
dengan adanya program yang digalakkan oleh pemerintah yaitu program
sertifikasi guru.
Sesuai Permendikbud No.05 tahun 2012 tentang sertifikasi guru dalam
jabatan, Sertifikasi guru adalah suatu program yang ditujukan kepada guru-guru
atau tenaga pengajar yang bertujuan untuk menambah profesionalisme mereka
kedepan agar mereka lebih baik dalam mengajar di kelas. Tujuan dari sertifikasi
guru adalah untuk :
1. menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik
profesional,
2. meningkatkan proses dan hasil pembelajaran,
3. meningkatkan kesejahteraan guru, serta
4.

meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan


nasional yang bermutu.
Di indonesia saat ini memang sudah banyak guru yang profesional dan

lulus sertifikasi seharusnya mereka sudah benar benar mengaplikasikan


kurikulum dengan baik, termasuk juga mengaplikasikan pendidikan karakter
dengan benar khususnya pada mata pelajaran ekonomi, tetapi pada kenyataannya
masih banyak guru-guru yang belum mengaplikasikan pendidikan karakter
dengan baik. Hal tersebut dapat dicontohkan ketika peneliti melakukan kegiatan

praktek pengalaman lapangan di sekolah,peneliti merasakan tidak adanya


peringatan atau himbauan untuk menerapkan pendidikan karakter di kelas, bahkan
ketika peneliti benar-benar tidak mengaplikasikan pendidikan karakter di
keas,tidak ada teguran khusus dari guru pamong peneliti.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pendidikan
karakter itu diterapkan dalam pembelajaran oleh guru yang tersertifikasi
khususnya di sekolah yang termasuk dalam sekolah unggulan. Oleh karena itu
penelitian ini mengambil studi kasus di SMA Di SMA Tugu (SMAN 1,SMAN 3
dan SMAN 4)

pengambilan tempat penelitian tersebut dimaksudkan karena

ketiga sekolah tersebut pernah menjadi

sekolah sekolah rintisan sekolah

berstandar internasional sehingga diharapkan guru guru ekonomi yang ada


disana sudah benar benar profesional dan sudah bisa benar benar
mengaplikasikan pendidikan karakter pada proses pembelajaran yang dilakukan
KAJIAN TEORI
Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Hasbullah (2009 : 4 ) pendidikan
yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya, pendidikan
yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka
sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
Menurut UU no 20 th 2003 tentang pendidikan, menyebutkan bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Menurut Suhardi (2012 : 6) pendidikan pada dasarnya diperoleh seseorang
dari 3 lingkungan yaitu
1. Pendidikan keluarga

Pada tahap ini pendidikan berlangsung sejak dalam kandungan sampai


masuk sekolah. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua hanya berkisar tentang
Perkembangan jasmani dan rohani, pembiasaan dan pendidikan yang sederhana.

Dan tahap ini orang tua mempunyai peranan penting tentang perkembangan
fisiknya
2. Pendidikan di sekolah

Pendidikan ini merupakan lanjutan dari pendidikan di keluarga.


Pendidikan ini dilaksanakan secara mandiri dimana anak tidak algi dilayani oleh
orang tuanya, akan tetapi kegiatan di sekolah di bawah pengawasan guru. Namun
demikian pendidikan di sekolah juga mempunyai peranan yang sangat besar
terhadap perkembangan anak.
3. Pendidikan di masyarakat

Sekolah bagaimanapun majunya tidak mungkin mampu memberikan


semua tuntutan perkembangan manusia oleh sebab itu selain pendidikan di
sekolah atau pendidikan di keluarga, diperlukan juga pendidikan di masyarakat
Sudah menjadi pengetahuan kita bersama bahwa pendidikan humanis di
masyarakat itu dapat memberikan kebebasan untuk berpikir kritis.
Menurut Mulyatiningsih (2011:5) pendidik

wajib

memberi

teladan

perilaku/karakter yang baik pada peserta didiknya. The Character Education,


Guidance, Lifeskills

mengidentifikasi manusia yang berkarakter baik adalah

manusia yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Trustworthiness: dapat dipercaya;

Respect: menghormati, sopan-santun

Responsibility: memiliki tanggung jawab pada tugas yang diberikan

Fairness: bersikap adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan

Caring: menunjukan kepedulian kepada sesama, suka menolong

Citizenship:

menunjukkan

sikap

kebangsaan,

cinta

pada

negara/lembaga,

loyal, disiplin menaati peraturan

Honesty: memiliki sikap jujur, terbuka dan apa adanya

Courage: memiliki sikap berani atau suka tantangan

Diligence: memiliki sikap tekun, ulet, pantang menyerah dan kerja keras

Integrity: memiliki integritas atau kata dan tindakan selalu konsisten.

Pada prakteknya dikelas, lickona (2012 : 106 ) memberikan penjelasan


mengenai pendekatan yang harus dilakukan oleh guru yaitu :
1.

Bertindak

sebagai

seorang

penyayang,

model,

dan

mentor

yang

memperlakukan siswa dengan kasih sayang dan respek, memberikan contoh


yang baik, mendukung kebiasaan yang bersifat sosial dan memperbaiki jika
ada yang salah
2.

Menciptakan sebuah komunitas bermoral di dalam ruang kelas, membantu


siswa untuk saling mengenal saling menghormati dan menjaga satu sama lain,
dan merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut

3.

Berlatih memiliki disiplin moral, menggunakan aturan sebagai kesempatan


untuk membantu menegakkan moral, kontrol terhadap diri sendiri, dan sebuah
generalisasi rasa hormat bagi orang lain.

4.

Menciptakan sebua lingkungan kelas yang demokratis, melibatkan siswa


dalam pengambilan keputusan dan berbagi tanggung jawab untuk
menciptakan ruang kelas yang baik serta nyaman untuk belajar.

5.

Mengajarkan nilai-nilai yang baik melalui kurikulum, menggunaka pelajaran


akademik sebagai kendaraan untuk membahas permasalahan etika.

6.

Menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif dalam mengajar anakanak untuk bersikap dandapat saling membantu.

METODE
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam
penelitian ini peneliti melakukan penelitian sendiri secara langsung dengan hadir
ke lokasi penelitian yaitu di SMA Tugu. Penelitian ini sudah dilakukan sekitar
bulan februari. Sehingga, pada bulan juni, data yang diperlukan peneliti sudah
bisa dikumpulkan dan siap membuat laporannya. Sumber data pada penelitian ini
adalah guru mata pelajaran ekonomi yang telah lulus program sertifikasi dan
beberapa ahli pendidikan di Universitas Negeri Malang
Alat dan teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode
wawancara/interview, dilakukan untuk mendapatkan data primer dari sumber data
pada penelitian ini. Teknik wawancara yang dipakai adalah wawancara semi-

terstruktur, disini peneliti akan menyiapkan beberapa pertanyaan pokok dan


kemudian akan diikuti dengan pertanyaan pertanyaan tambahan.
Selain wawancara tersebut

penelitian juga dilakukan dengan

metode

dokumentasi, dilakukan untuk mendapatkan data tambahan sehingga diperoleh


deskripsi variabel yang komprehensif. Dalam penelitian ini, metode dokumentasi
dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data tertulis yang ada di SMA Tugu
SMAN 1, SMAN 3 dan SMAN 4) Kota Malang

yang berkaitan dengan

penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil penelitian dengan menggunakan wawancara yang dilakukan
mengenai aplikasi pendidikan karakter di SMA Tugu kota Malang yang meliputi
SMAN 1 Malang dengan responden ibu Dwi Astuti , SMAN 3 Malang dengan
responden ibu Tri Rahayu dan SMAN 4 Malang bapak Fatoni, serta dengan
dilengkapi hasi wawancara dengan narasumber 1 yaitu bapak Drs. Sapir , S.sos,
M.si dan narasumber 2 yaitu bapak Dr. Agung Haryono, S.E, M.P keduanya
adalah dosen fakultas ekonomi universitas negeri malang
Pembelajaran ekonomi oleh guru di sma tugu ini secara umum sudah baik,
walaupun model pembelajaran yang dipakai memang berbeda, tetapi ada
kesamaan dari kesemua guru yaitu semua cenderung memakai metode
diskusi,dengan tujuan agar siswa mau berpikir lebih kritis dan mengharapkan
siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran di kelas, serta tujuan lebih
lanjutnya untuk mengembangkan beberapa pendidikan karakter yaitu, kerjasama,
rasa ingin tahu, dan menghargai pendapat orang lain
Dalam hal penggunaan perangkat pembetlajaran terdapat perbedaan
pendapat disana yaitu satu responden mengatakan bahwa tidak begitu
mempersoalkan

masalah

perangkat

pembelajaran

karena

dalam

proses

pembelajaran,apa yang di rencanakan seringkali tidak sesuai dengan apa yang


benar-benar terjadi di lapangan.
Tiga responden lainnya mengatakan bahwa perangkat itu wajib ada dan
harus dilakukan, tetapi satu orang dari tiga responden itu menyatakan bahwa
pembuatan perangkat itu harus fleksibel dan dari narasumber 2 dan narasumber 1
sepakat bahwa memang perangkat itu wajib ada karena merupakan syarat

administratif bagi seorang guru untuk memiliki perencanaan yang matang


sebelum memulai proses pembelajaran.
Ada banyak cara yang diterapkan oleh guru untuk mengaplikasikan
pendidikan karakter, misalnya satu responden menganggap menerapkan
pendidikan karakter secara implisit, tidak diungkapkan terhadap siswanya akan
ada penerapan pendidikan karakter. Salah satu responden yang lain , karena dari
awal merasa kebingungan sehingga beliau menerapkan pendidikan karakter
dengan melihat situasi di dalam kelas pada saat itu,sehingga ketika terjadi
penyimpangan oleh peserta didiknya beliau langsung menegur dan mengingatkan
tanpa melihat apakah pendidikan karakter tersebut ada di dalam indikator yang
tercantum atau terintegrasi pada materi.
Salah satu responden juga menganggap bahwa pelaksanaan pendidikan
karakter itu harus sesuai dengan indikator yang sudah disebutkan di dalam
perangkat pembelajaran dan langsung disampaikan kepada peserta didiknya
pendidikan karakter apa yang saat itu sedang dibahas pada materi tersebut. Salah
satu responden yang lain karena beliau sebagai waka kesiswaan maka ada dua
pandangan yaitu sebagai waka dan sebagai guru kelas sebagai waka beliau
mengaplikasikan pendidikan karakter dengan bekerja sama dengan masyarakat
untuk mengadakan semacam bakti sosial dengan peserta didiknya, menurut beliau
dengan bakti sosial tersebut peserta didik bisa langsung memahami fenomena
yang terjadi di masyarakat khususnya kelas bawah, sedangkan dari sisi beliau
sebagai guru kelas beliau memberi contoh permasalahan yang ada disekitar
peserta didiknya untuk menumbuuhkan karakter peserta didiknya
Keberhasilan proses pendidikan karakter selain peran dari guru kelas juga
harus ada kontribusi dari semua pihak,baik sekolah, orang tua maupun masyarakat
seperti yang dirumuskan oleh ki hajar dewantara mengenai tri pusat pendidikan
yaitu keluarga,sekolah dan organisasi pemuda dan suhadi juga mengungkapkan
seperti itu bahwa pendidikan itu berlangsung di keluarga, sekolah dan masyarakat.
Menurut para guru, karena sekolah menengah guru mengajar sebatas beberapa
jam sehingga tidak begitu intens dalam menumbuhkan karakter yang baik pada
siswa, peran orang tua sangat penting karena karakter anak di sekolah adalah
cerminan dari karakter keluarga dirumah, peran sekolah adalah untuk

merumuskan tata tertib dan benar-benar menerapkan tata tertib tersebut dengan
baik. Tapi menurut guru terkadang guru menemukan masalah ketika apa yang
terjadi dirumah berbeda dengan apa yang terjadi di sekolah, keterangan dari orang
tua dirumah siswa itu pendiam, penurut, tetapi di sekolah sikapnya berbeda.
Sehingga perlu adanya komunikasi dari pihak sekolah dengan orang tua siswa.
Hampir semua responden menyatakan tidak mengalami kesulitan dalam
penerapan pendidikan karakter menurut satu responden tidak ada kesulitan
asalkan ada dukungan yang baik dari tata tertib yang berlaku di sekolah dan
pastinya tata tertib tersebut harus dilaksanakan oleh semua pihak civitas akademik
di sekolah tersebut.
PENUTUP
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pembelajaran ekonomi di SMA
TUGU (SMAN 1, SMAN 3, SMAN 4) Kota Malang kota malang sudah baik,
karena guru memakai metode diskusi sehingga siswa sudah dapat aktif dan dari
metode diskusi tersebut banyak pendidikan karakter yang secara tidak langsung
diterpakan di dalam proses pembelajaran .dan untuk pemakaian perangkat
pembelajaran, perangkat pembelajaran merupakan syarat yang harus di buat oleh
guru sebelum mengajar dan perangkat pembelajaran yang baik adalah perangkat
pembelajaran yang fleksibel karena ketika terjadi perbedaan antara apa yang
direncanakan dengan yang terjadi di lapangan maka guru dapat segera mengatasi
masalah tersebut.
Aplikasi pendidikan karakter oleh guru bisa dengan berbagai cara atau
metode dan tidak ada metode yang benar atau salah di dalam penerapan ini, yang
perlu ditekankan adalahpendidikan karakter ini adalah suatu proses dan selama
proses itu berlangsung guru harus melakukan pendekatan dengan memberikan
contoh dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Selain guru,
keberhasilan pendidikan karakter ini harus didukung oleh pihak keluarga, sekolah
dan masyarakat.
Dari semua responden hanya satu responden yang mengaku mengalami
kesulitan namun

walaupun mengalami

kesulitan tetap

mengaplikasikan

pendidikan karakter ketika proses pembelajaran sehingga secara umum tidak ada

kendala yang menghambat pelaksanaan pendidikan karakter di SMA TUGU


(SMAN 1, SMAN 3, SMAN 4) Kota Malang.
Dari kesimpulan tersebut, peneliti dapat memberikan 1) Bagi Sekolah
Diharapkan untuk benar benar menerapkan tatatertib dengan baik dan juga
bekerjasama dengan pihak keluarga dan masyarakat agar proses pendidikan
karakter ini dapat berjalan dengan baik. 2) Bagi guru diharapkan untuk benarbenar menjalakan perannya dengan baik dalam proses pembelajaran di kelas agar
proses pendidikan karakter ini berjalan dengan baik 3) Bagi peneliti Diharapakan
peneliti lain dapatmeneliti pendidikan karakter secara lebih mendalam, mungkin
juga dapat meneliti pendidikan karakter dari sisi lain.
Daftar Rujukan
Arikunto, Suharsimi.

2010.

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta : Rineka Cipta


Auerbach, Carl F & Silversten, Louise B. 2003. Qualitative Data, New York :
New York University Press
Dumiyati. 2011.

Manajemen Pelaksanaan Pendidikan Karakter Di Sekolah,

(online), (http/www.staff.uny.ac.id/.html), diakses 7 Desember 2012 pukul


21.00 WIB
Fathudin ,Syukri . 2011. Pendidikan Karakter & Implementasinya , (online),
(http/www.staff.uny.ac.id/.html), diakses 7 Desember 2012 pukul 21.00
WIB
Hasbullah. 2009. Dasar dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rajagrafindo
Lickona, Thomas. 2012. Educating For Character : How Our School Can Teach
Respect and Responsibility. Jakarta : Bumi Aksara
Kesuma, Dharma. 2012. Pendidikan Karakter Kajiian Teori dan Praktik Di
sekolah. Bandung : Rosda
Moleong, J.Lexy. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rosda

Mulyatiningsih, Endang. 2011. Analisis Model-Model Pendidikan Karakter Untuk


Usia

Anak-Anak,

Remaja

Dan

Dewasa,

(online),

(http/www.staff.uny.ac.id/.html), diakses 7 Desember 2012 pukul 21.00


WIB
Mudyahardjo, Redja. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan Suatu Pengantar. Bandung :
Rosda
Sajidan, H. Nat. 2010. Pengembangan Profesionalisme Guru dan Dosen Melalui
Sertifikasi(online), (http/www.unes.ac.id/.html), diakses 8 desember 2012

pukul 09.00 WIB


Saptono. 2011. Dimensi Dimensi Pendidikan Karakter, Wawasan, Strategi dan
Langkah Praktis. Jakarta : Erlangga
Sarosa, Samiaji. 2012. Penelitian Kualitatif Dasar Dasar, Jakarta: Indeks
Suardi, Moh. 2012. PENGANTAR PENDIDIKAN Teori dan Aplikasi. Jakarta :
Indeks