Anda di halaman 1dari 19

Sampo adalah sediaan kosmetik untuk mengeramas rambut, hingga kulit kepala dan rambut

bersih, sedapat mungkin rambut menjadi bersih, berkilau, indah dan mudah diatur.
Semula bahan-bahan yang sering digunakan untuk sampo adalah berbagai bahan dari alam
seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang (sekam padi). Dewasa ini yang
digunakan adalah detergen (zat sabun sintetik).
Sampo dapat dikemas dalam berbagai bentuk sediaan, bubuk, larutan,jernih, larutan pekat,
larutan berkilat, krim, gel, atau aerosol, dengan jenis:
1. Sampo dasar (basic shampoo), yaitu sampo yang dibuat sesuai dengan kondisi
rambut, kering, normal, berminyak
2. Sampo bayi (baby shampoo), yaitu sampo yang tidak menggunakan bahan yang
mengiritasi mata dan mempunyai daya bersih sedang karena kulit dan rambut bayi
masih minim sebumnya
3. Sampo dengan pelembut (coditinioner), 2 in 1, 3 in 1
4. Sampo profesional; yang mempunyai konsentrasi bahan aktif lebih tinggi sehingga
harus diencerkan sebelum pemakaian
Sampo medik (medicated shampoo); yang mengandung antiketombe ( sulfur, tar, asam
salisilat, sulfida, plivinil, pirolidon, ) dan tabir surya (PABA, non-PABA)
Isi sampo meliputi:
1. Surfaktan
Surfaktan adalah bahan aktif sampo yang berupa deterjen pembersih sintesis yang cocok
untuk kondisi rambut pemakai. Deterjen bekerja dengan cara menurunkan tegangan
permukaan cairan karena bersifat amfibilik, sehingga dapat melarutkan kotoran yang melekat
pada permukaan rambut. Biasanya dipilih surfaktan anionik yaitu fatty alcohol sulfate, antara
lain:
1. Lauril sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), merupakan pembersih yang baik
namun mengeraskan rambut.
2. Lauret sulfat (natrium, amonium, trietanolamin), pembentuk busa yang baik dan
kondisioner yang baik.
3. Sarkosinat (natrium lauril, lauril), daya bersih kurang, kondisioner yang baik.
4. Sulfasuksinat (dinatrium oleamin, natrium dioktil), pelarut lemak yang kuat untuk
rambut berminyak.
Biasanya digunakan lebih dari satu surfaktan dalam sampo, yang utama disebut surfaktan
primer, selebihnya adalah surfaktan pelengkap atau sekunder. Surfaktan yang dipilih dapat
dari golongan yang sama atau dari golongan surfaktan lain.
2. Pelembut (conditioner)

Pelembut membuat rambut lebih mudah disisir dan diatur oleh karena dapat menurunkan
friksi antarrambut, mengkilapkan rambut oleh karena memperbaiki refleksi cahaya yang
mengenai batang rambut, dan memperbaiki keadaan rambut yang rusak akibat
overshampooed, overdried, overbrushed, overcombed, keriting, pewarna, pemutih, atau
styling yang menyebabkan kerusakan pada korteks rambut yang merupakan kekuatan dari
rambut. Bahan pelembut yang sering digunakan adalah lemak, protein, polimer atau silikon,
adeps, lanolin, oleialkohol, dan asetogliserida.
3. Pembentuk busa
Pembentuk busa adalah bahan surfaktan yang masing-masing berbeda daya pembuat
busanya. Busa adalah emulsi udara dalam cairan. Kemampuan membentuk busa tidak
menggambarkan kemampuan membersihkan. Busa yang terbentuk akan segera terikat dengan
lemak sebum sehingga rambut yang lebih bersih akan menimbulkan busa yang lebih banyak
pada pengulangan pemakaian shampoo. Busa yang terbentuk lazim diberi penguat yang
menstabilkan busa agar lebih lama terjadi, misalnya dengan menambahkan alkanolamid atau
aminoksida.
4. Pengental (thickener) dan pengeruh (opacifier)
Bahan ini ditambahkan untuk menyenangkan konsumen, keduanya tidak menggambarkan
daya bersih dan konsentrasi bahan aktif dalam sampo. Zat pengental biasanya gom
sintetik/alam : tragakan, gom akasia, hidroksietilselulosa.
Opacifyng agents:
a. alkohol (rantai panjang) : stearil, setil
b.cairan magnesium : stearat, silikat, gom
5. Pemisah logam
Dibutuhkan keberadaannya untuk mengikat logam berat (K, Mg) yang terdapat dalam air
pencuci rambut, misalnya etilen diamin tetra asetat (EDTA).
6. pH balance
Diperlukan agar menetralisasi reaksi basa yang terjadi dalam penyampoan rambut, misalnya
asam sitrat.
7. Pemberi warna dan bau
Bahan ini ditambahkan untuk memberi kesan nyaman bagi konsumen yang memakai.
Busa adalah dispersi gas dalam suatu cairan. Busa terbentuk selam
pengguanaan bahn pembersih dan merupakan efek samping yang tidak begitu
penting tetapi sangat diinginkan konsumen. Sebab konsumen mempunyai
anggapan bahwa dengan busa yang melimpah akan menambah aksi dalam
membersihkan. Sebenarnya busa tidak dapat digunakan sebagai ukuran aksi
atau daya membersihkan, misalnya surfaktan non ionik memberikan reaksi

pembersihan yang baik dengan sedikit atau tanpa busa. Metode yang umum
diguanakan untuk mengukur tinggi busa dan stabilitas adalah dari Rose Miles.
Dari hasil uji pengukuran stabilitas busa, sampo mampu menghasilkan busa
yang stabil karena perbedaan tinggi busa per waktu tidak jauh berbeda.

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Shampo adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud keramas rambut,

sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan sedapat mungkin menjadi
lembut, mudah diatur dan berkilau. Dan merupakan produk perawatan rambut yang
digunakan untuk menghilangkan minyak, debu, serpihan kulit, dan kotoran lain dari rambut..
Kata shampoo berasal dari bahasa Hindi champo, bentuk imperatif dari champna,
"memijat". Di Indonesia dulu shampoo dibuat dari merang yang dibakar menjadi abu dan
dicampur dengan air.
Shampoo adalah suatu zat yang terdiri dari surfaktan, pelembut, pembentuk busa,
pengental dan sebagainya yang berguna untuk membersihkan kotoran yang melekat pada
rambut seperti sebum, keringat, sehingga rambut akan kelihatan lebih bersih, indah dan
mudah ditata.
Shampoo banyak jenis dan typenya, formulanya dan klasifikasi preparat seperti liquid,
krim, pasta, shampoo anti dandruff, shampoo untuk anak-anak dan sebagainya.
Sebuah formulasi shampoo yang baik mempunyai kemampuan khusus yang dapat
meminimalisasi iritasi mata, mengontrol ketombe (dandruff) serta dapat memperbaiki
struktur rambut secara keseluruhan.
Preparat shmapo harus meninggalkan kesan harum pada rambbut, lembut dan mudah
diatur, memiliki performance yang baik (warna dan viskositas yang baik) harga yang murah
dan terjangkau. Secara spesifik suatu shampoo harus:
1. Mudah larut dalam air, walapun air sadah tanpa mengalami pengendapan
2.

Memiliki daya bersih yang baik tanpa terlalu banyak menghilangkan minyak dari kulit
kepala

3. Menjadikan rambut halus, lembut serta mudah disisir


4. Cepat bebusa dan mudah dibilas serta tidak menimbulkan iritasi jika kontak dengan mata
5. Memiliki pH yang baik netral maupun sedikit basa
6. Tidak iritasi pada tangan dan kulit kepala
7. Memiliki performa yang baik

Antidandruff shampoo merupakan shampooyang ditujukan untuk mengontrol sel kulit


mati dikulit kepala, formulasinya hamper sama seperti shampoo lain tetapi ditambahkan
bahan aktif seperti senium sulfide, zinc pirythion, sulfur.

I.2

Tujuan Percobaan

1. Mengetahui cara membuat sediaan shampoo yang aman dan nyaman digunakan
2. Mengetahui metode-metode krim yang tepat
3. Mampu mengevaluasi sediaan shampo

BAB II
LANDASAN TEORI
II.1

Shampo
Rambut memang mahkota bagi semua orang dan bisa dianggap sebagai bingkai untuk

wajah anda. Karena keindahan rambut sangat bisa menunjang kecantikan dan keseluruhan
penampilan anda.
Mencuci rambut memang persoalan mudah tetapi mungkin anda mengalami kesulitan saat
memilih jenis shampo yang cocok untuk diri anda sendiri. Karena memang banyak sekali
produsen shampo menawarkan kepada anda..
Shampoo, bila dicampur dengan air, dapat melarutkan minyak alami yang dikeluarkan
oleh tubuh untuk melindungi rambut. Setelah mencuci rambut dengan shampoo, biasanya
digunakan produk conditioner agar rambut mudah ditata kembali.
Shampoo untuk bayi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak perih di mata. Shampoo
untuk binatang juga dapat mengandung insektisida untuk membunuh kutu. Beberapa
shampoo manusia tidak dapat digunakan untuk binatang karena mengandung seng (misalnya
shampoo anti ketombe). Logam ini tidak beracun bagi manusia, namun berbahaya bagi
binatang.
Selain itu terdapat juga shampoo dalam bentuk padat, yang lebih ringkas dan mudah dibawa
namun kurang praktis untuk rambut panjang.
Pada awalnya shampo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber
alam, seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang ( sekam padi ). Shampo yang
menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan shampo yang
dibuat dari detergen.

Agar shampo berfungsi sebagaimana disebutkan diatas, shampo harus memiliki sifat sebagai
berikut :
1. Shampo harus dapat membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut
dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.
2.

Shampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika
tidak kulit kepala menjadi kering.

3.

Shampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti
lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada didalam komposisi shampo.
Kotoran rambut yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit
yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetik.

4.

Tidak mengiritasi kulit kepala dan juga mata.

5. Shampo harus tetap stabil. Shampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam
penyimpanan.

Viskosita dan pHnya juga harus tetap konstan, shampo harus tidak

terpengaruh oleh wadahnya ataupun jasadrenik dan dapat mempertahankan bau parfum yang
ditambahkan kedalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan shampo memiliki sifat
fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang
dikehendaki untuk shampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya
pembersihnya kuat, sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat
hilang, rambut menjadi kering, kusam dan mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk shampo adalah kemampuan
membangkitkan busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat,
terutama laurilsulfat, juga alkohol monohidrat dengan rantai C10 18. Sifat detergen ini
tergantung pada panjang rantai alkohol lemak yang digunakan. Homolog rendah seperti C12
( lauril ) dan C14 ( miristil ) memiliki sifat yang lebih baik dibandingkan dengan homolog
yang lebih tinggi seperti C16 ( palmitil ) dan C18 ( stearil ) dalam hal memberikan busa dan
basah dengan sifat pembersih yang baik, meskipun suhu rendah. Detergen alkilsulfat yang
dibuat dari alkohol lemak, kelarutannya menurun dengan meningkatnya homolog rantai
karbonnya, sehingga shampo yang dibuat dari detergen alkilsulfat dengan atom C16-18 tidak
dapat disimpan pada suhu rendah. Kelarutan detergen alkilsulfat dalam air berkurang,
sehingga tidak begitu berbusa, lagipula detergen ini dipengaruhi oleh efek air sadah.
Detergen alkilsulfat dengan alkohol lemak dengan rantai karbon kurang dari 10 seperti C8
( kaprilil ) dan C10 ( kapril ) lebih condong menunjukkan sifat iritasi.

Detergen alkilsulfat dengan rantai karbon 12 14 adalah noniritan, memberikan cukup busa
pada suhu kamar, dan tidak mudah rusak dalam penyimpanan.
Trietanolamina ( TEA ) laurilsulfat dianggap paling luas dapat diterima untuk
digunakan dalam pembuatan shampo, disamping itu dalam penyimpanan tetap stabil.
Amonium alkilsulfat, meskipun memiliki keaktifan pembersih yang sedang, tetapi jarang
digunakan untuk pembuatan shampo, karena suhu padatnya tinggi. Biasanya senyawa ini
digunakan sebagai campuran detergen seperti nampak pada amonium monoetanolamina atau
amonium trietanolamina alkilsulfat. Shampo dengan formulasi tersebut memiliki pembersih
dan pembusa yang baik, rambut yang dikeramas dengan shampo ini masih mudah diatur.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan shampo, harus memiliki sifat
berikut :
1. Harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.

SHAMPOO
I.

PENGERTIAN SHAMPOO
Shampoo adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud keramas rambut,
sehingga setelah itu kulit kepala dan rambut menjadi bersih, dan sedapat mungkin menjadi
lembut, mudah diatur dan berkilau. Dan merupakan produk perawatan rambut yang
digunakan untuk menghilangkan minyak, debu, serpihan kulit, dan kotoran lain dari rambut..
Kata shampoo berasal dari bahasa Hindi champo, bentuk imperatif dari champna,
"memijat". Di Indonesia dulu shampoo dibuat dari merang yang dibakar menjadi abu dan
dicampur dengan air.
Shampoo adalah suatu zat yang terdiri dari surfaktan, pelembut, pembentuk busa,
pengental dan sebagainya yang berguna untuk membersihkan kotoran yang melekat pada
rambut seperti sebum, keringat, sehingga rambut akan kelihatan lebih bersih, indah dan
mudah ditata.

I.

SYARAT SHAMPOO
Sebuah formulasi shampoo yang baik mempunyai kemampuan khusus yang dapat
meminimalisasi iritasi mata, mengontrol ketombe (dandruff) serta dapat memperbaiki
struktur rambut secara keseluruhan.
Preparat shampoo harus meninggalkan kesan harum pada rambut, lembut dan mudah
diatur, memiliki performance yang baik (warna dan viskositas yang baik) harga yang murah
dan terjangkau. Secara spesifik suatu shampoo harus:
1. Mudah larut dalam air, walapun air sadah tanpa mengalami pengendapan

2. Memiliki daya bersih yang baik tanpa terlalu banyak menghilangkan minyak dari kulit kepala
3. Menjadikan rambut halus, lembut serta mudah disisir
4. Cepat bebusa dan mudah dibilas serta tidak menimbulkan iritasi jika kontak dengan mata
5. Memiliki pH yang baik netral maupun sedikit basa
6. Tidak iritasi pada tangan dan kulit kepala
7. Memiliki performa yang baik
Antidandruff shampoo merupakan shampooyang ditujukan untuk mengontrol sel kulit
mati dikulit kepala, formulasinya hamper sama seperti shampoo lain tetapi ditambahkan
bahan aktif seperti senium sulfide, zinc pirythion, sulfur.

Shampoo, bila dicampur dengan air, dapat melarutkan minyak alami yang dikeluarkan
oleh tubuh untuk melindungi rambut. Setelah mencuci rambut dengan shampoo, biasanya
digunakan produk conditioner agar rambut mudah ditata kembali.
Shampoo untuk bayi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak perih di mata. Shampoo
untuk binatang juga dapat mengandung insektisida untuk membunuh kutu. Beberapa
shampoo manusia tidak dapat digunakan untuk binatang karena mengandung seng (misalnya
shampoo anti ketombe). Logam ini tidak beracun bagi manusia, namun berbahaya bagi
binatang.
Pada awalnya shampoo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber
alam, seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, sari abu merang ( sekam padi). Shampoo
yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan shampo yang
dibuat dari detergen.
Agar shampo berfungsi sebagaimana disebutkan diatas, shampoo harus memiliki sifat sebagai
berikut :
1. Shampoo harus dapat membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut
dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.
2. Shampoo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika
tidak kulit kepala menjadi kering.
3. Shampoo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti
lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada didalam komposisi shampo.
Kotoran rambut yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit
yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetik.
4. Tidak mengiritasi kulit kepala dan juga mata.
5. Shampoo harus tetap stabil. Shampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam
penyimpanan. Viskositas dan pHnya juga harus tetap konstan, shampo harus tidak
terpengaruh oleh wadahnya ataupun jasadrenik dan dapat mempertahankan bau parfum yang
ditambahkan kedalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan shampo memiliki sifat
fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang
dikehendaki untuk shampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya
pembersihnya kuat, sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat
hilang, rambut menjadi kering, kusam dan mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk shampo adalah kemampuan
membangkitkan busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat,

terutama laurilsulfat, juga alkohol monohidrat dengan rantai C10 18. Sifat detergen ini
tergantung pada panjang rantai alkohol lemak yang digunakan. Homolog rendah seperti C12
( lauril ) dan C14 ( miristil ) memiliki sifat yang lebih baik dibandingkan dengan homolog
yang lebih tinggi seperti C16 ( palmitil ) dan C18 ( stearil ) dalam hal memberikan busa dan
basah dengan sifat pembersih yang baik, meskipun suhu rendah. Detergen alkilsulfat yang
dibuat dari alkohol lemak, kelarutannya menurun dengan meningkatnya homolog rantai
karbonnya, sehingga shampo yang dibuat dari detergen alkilsulfat dengan atom C16-18 tidak
dapat disimpan pada suhu rendah. Kelarutan detergen alkilsulfat dalam air berkurang,
sehingga tidak begitu berbusa, lagipula detergen ini dipengaruhi oleh efek air sadah.
Detergen alkilsulfat dengan alkohol lemak dengan rantai karbon kurang dari 10 seperti C8
( kaprilil ) dan C10 ( kapril ) lebih condong menunjukkan sifat iritasi.
Detergen alkilsulfat dengan rantai karbon 12 14 adalah noniritan, memberikan cukup busa
pada suhu kamar, dan tidak mudah rusak dalam penyimpanan.
Trietanolamina ( TEA ) laurilsulfat dianggap paling luas dapat diterima untuk digunakan
dalam pembuatan shampo, disamping itu dalam penyimpanan tetap stabil. Amonium
alkilsulfat, meskipun memiliki keaktifan pembersih yang sedang, tetapi jarang digunakan
untuk pembuatan shampo, karena suhu padatnya tinggi. Biasanya senyawa ini digunakan
sebagai campuran detergen seperti nampak pada amonium monoetanolamina atau amonium
trietanolamina alkilsulfat. Shampo dengan formulasi tersebut memiliki pembersih dan
pembusa yang baik, rambut yang dikeramas dengan shampo ini masih mudah diatur.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan shampo, harus memiliki sifat
berikut :
1. Harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.
2. Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan baik.
3. Warnanya tidak boleh menyolok.
III. JENIS-JENIS SHAMPO
1. Shampo bubuk (Dry Shampoo)
Sebagai dasar shampo digunakan sabun bubuk, sedangkan zat pengencer biasanya digunakan
natrium karbonat, natrium bikarbonat, natrium seskuikarbonat, dinatrium fosfat, atau boraks.
2.

Shampo emulsi
Shampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental. Tergantung dari jenis
zat tambahan yang digunakan, shampo ini diedarkan dengan berbagai nama seperti shampo

lanolin, shampo telur, shampo protein, shampo brendi, shampo lemon, shampo susu atau
bahkan shampo strawberry.
3.

Shampo krim atau pasta (Creme paste Shampoo)


Sebagai bahan dasar digunakan natrium alkilsulfat dari jenis alkohol rantai sedang yang dapat
memberikan konsistensi kuat. Untuk membuat shampo pasta dapat digunakan malam seperti
setilalkohol sebagai pengental. Dan sebagai pemantap busa dapat digunakan dietanolamida
minyak kelapa atau isopropanolamida laurat.

4.

Shampo larutan (Liquid Shampoo)


Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi shampo ini
meliputi viskosita, warna keharuman, pembentukan dan stabilitas busa, dan pemgawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi 0,2 % larutan formaldehid 40 %, garam
fenilraksa; kedua zat ini sangat racun, sehingga perlu memperhatikan batas kadar yang
ditetapkan pemerintah. Parfum yang digunakan berkisar antara 0,3 1,0 %, tetapi umumnya
berkadar 0,5 %.

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Di zaman yang modern ini, kita sudah bisa menjumpai sampo-sampo di warung terdekat.
Kita sudah bisa menjumpai berbagai produk sampo di warung-warung, misalnya Clear,
Pantene, Sunsilk, dan masih banyak lagi.
Mungkin orang zaman sekarang akan berfikir dua kali bila membuat sampo sendiri dari
bahan alami. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia telah bergantung pada
pabrik-pabrik pembuat sampo. Kita tidak tahu apakah sampo yang diproduksi pabrik baik
untuk kulit kepala kita dengan kata lain tidak ada campuran bahan kimia. Bila kita
menggunakannya sekali atau dua kali, mungkin bahayanya belum terlihat.
Namun bila kita menggunakannya dalam tempo yang lama, mungkin kulit kepala kita
menjadi tidak sehat. Kita bisa melihat di era modern ini sebagian
masyarakat Indonesia
mempunyai rambut botak. Tidak menutup kemungkinan rambut kita yang akan menjadi botak
selanjutnya. Orang zaman sekarang kurang peduli terhadap kulit kepalanya sendiri. Hal ini
dibuktikan dari sebagian masyarakat yang jarang keramas. Rambut memerlukan nutrisi yang
harus dipenuhi setiap harinya. Apabila kita membeli sampo secara terus menerus, itu akan
menipiskan dompet. Padahal rambut harus terlihat indah dan sehat setiap waktu, karena
rambut yang indah dan sehat akan menambah rasa percaya diri yang tinggi dibandingkan
orang yang mempunyai rambut yang kusut dan beerantakan. Mempunyai Rambut yang sehat
dan indah adalah keinginan semua orang yang ada di dunia ini. Tak khayal mereka banyak
melakukan penelitian membuat sampo.
Terkadang mereka menambahkan bahan kimia dalam penelitiannya. Kita sebagai orang awam
tak akan bisa membedakan antara sampo alami dan sampo dari bahan kimia. Sebaiknya kita
membuat sampo sendiri dari bahan alami. Selain terjamin aman, membuat sampo sendiri dari
bahan alami sangat ekonomis. Kita bisa menggunakan uang untuk keperluan kita yang
lainnya. Bahan utama dalam pembuatan sampo adalah lidah buaya. Lidah buaya pun banyak
kita temui di lingkungan kita. Cara pembibitannya pun terbilang mudah dan murah.
Tanaman lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat karena
tanaman ini rnengandung zat- zat yang memiliki efek positif bagi kesehatan manusia. Zatzat tersebut adalah:
Antakuinon dan Kuinon yang memiliki efek menghilangkan rasa sakit (analgetik) dan
menghilangkan pusing.
Lignin atau Selulosa dalam gel lidah buaya (aloe vera) mampu menembus dan meresap ke
dalam kulit menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit, sehingga kulit tidak cepat
kering serta teqaga kelembabannya.
Acetylated Mannose yang merupakan imunostimulan yang kuat, yang berfungsi
meningkatkan fungsi fagositik dari sel makrofag, respon sel T terhadap patogen serta
produksi interferon dan zat kimia yang meningkatkan system imun untuk menstimulasi atau
merangsang antibodi.
Gel atau Lendir lidah buaya (aloe vera) mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan
luka bakar, memberikan lapisan pelindung pada bagian yang rusak dan mempercepatti ngkat
penyembuhan.
Aloin, Aloe-Emodin menyebabkan usus besar berkontraksi atau mengkerut sehingga
bersifat sebagai pencahar yang kuat.
Szponin memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptik sehingga sangat efektif
mengobati luka terbuka.
Alomicin mempunyai efek sebagai anti-kanker.

B.

Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :
- Apa saja yang terkandung pada lidah buaya?
- Bagaimana langkah-langkah pembuatan sampo dari lidah buaya?
- Selain sebagai sampo, ternyata lidah buaya masih banyak manfaatnya, apa saja manfaat
lidah buaya?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah memperkenalkan kepada pembaca bagaimana cara
pembuatan sampo alami yang berbahan dasar dari lidah buaya.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian Lidah Buaya
Lidah buaya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Aloe Vera ini adalah tumbuhan yang
berduri dan kaya akan manfaat yang sudah diketaui sejak ribuan tahun silam dan digunakan
untuk penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat
ditemukan dengan mudah di lingkungan Indonesia.
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan tanaman lidah buaya
berkembang sebagai bahan baku industri farmasi dan kosmetika, serta sebagai bahan
makanan dan minuman kesehatan.
Lidah buaya (aloe vera) merupakan tanaman yang fungsional karena semua bagian dari
tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Akan tetapi, banyak masyarakat Indonesia tidak
mengetahui tentang manfaat dan pemanfaatan bahan-bahan alami tersebut, dan walaupun
tahu, mereka kurang berminat untuk menggunakannya. Berdasarkan hal tersebut di atas,
kami tergerak untuk menemukan cara pengolahan lidah buaya (aloe vera) menjadi sabun
sampo alami serbaguna, di mana cara pengolahannya sederhana, mudah dipraktikkan oleh
siapa saja, serta dapat dijadikan sebagai peluang untuk berwirausaha bagi masyarakat.
Secara umum, lidah buaya merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang
mempunyai potensi untukdikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri.
Berdasarkan hasil penelitian, tanaman ini kaya akan kandungan za t-zat seperti enzim, asam
amino, mineral, vitamin, polisakarida dan komponen lain yang sangat bermanfaat bagi
kesehatan.
Selain itu, menurut Wahyono E dan Kusnandar (2002), lidah buaya berkhasiat sebagai anti
inflamasi, anti jamur, anti bakteri dan membantu proses regenerasi sel. Di samping
menurunkan kadargula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah,
menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta dapat digunakan
sebagai nutrisi pendukung penyakit kanker, penderita HIV/AIDS.
Salah satu zat yang terkandung dalam lidah buaya adalah aloe emodin, sebuah senyawa
organik dari golongan antrokuinon yang mengaktivasi jenjang sinyal insulin sepertipencerap
insulin-beta dan -substrat, fostatidil inositol-3
kinase dan meningkatkan laju sintesis
glikogen dengan menghambat glikogen sintase kinase 3beta, sehingga sangat
berguna
untuk mengurangi rasio gula darah.
Di negara-negara Amerika, Australia, dan Eropa, saat ini lidah buaya juga telah dimanfaatkan
sebagai bahan baku industri makanan dan minuman kesehatan.
Aloe vera/lidah buaya mengandung semua jenis vitamin kecuali vitamin D, mineral yang
diperlukan untuk fungsi enzim, saponin yang berfungsi sebagai anti mikroba dan 20 dari 22
jenis asam amino. Dalam penggunaannya untuk perawatan kulit, Aloe vera dapat
menghilangkan jerawat, melembabkan kulit, detoksifikasi kulit, penghapusan bekas luka dan
tanda, mengurangi peradangan serta perbaikan dan peremajaan kulit.
Dengan beragam

manfaat yang terkandung dalam lidah buaya,


pemanfaatannya kurang optimal oleh
masyarakat yang hanya memanfaatkannya sebagai penyubur rambut
D. Manfaat Lidah Buaya
Tumbuhan lidah buaya ini sangat kaya akan manfaatnya, di bawah ini adalah contoh manfaat
dari lidah buaya :
1. Mendinginkan kulit yang terbakar sinar matahari, terutama bagi mereka yang kerap bekerja
di luar ruangan.
2. Mengatasi masalah kulit yang disebabkan cuaca, seperti kulit kering, kemerahan,
mengelupas, dan iritasi ringan atau ruam.
3. Memudarkan warna kemerahan pada memar di tubuh.
4. Mengatasi rasa tidak nyaman yang disebabkan alat cukur.
5. Mengatasi luka bakar ringan.
6. Meredakan kulit yang melepuh.
7. Dapat digunakan sebagai krim anti penuaan diri atau untuk mengatasi keriput.
8. Mengobati ruam akibat terkena getah tanaman.
9. Mengatasi rasa gatal akibat gigitan serangga.
10. Gunakan setiap hari untuk memudarkan bekas luka dan strecth mark, garis-garis putih
atau merah akibat kehamilan.
11. Merawat luka kecil akibat teriris pisau atau tergores.
12. Memudarkan bintik bintik kehitaman pada kulit.
13. Dapat berguna sebagai pengganti kondisioner dan jelly untuk rambut.
14. Bisa digunakan untuk mengurangi jerawat
15. Digunakan untuk mempercepat penyembuhan sariawan.
16. Dapat digunakan sebagai body lotion alami.
17. Untuk meredakan otot yang keram atau menegang.
18. Digunakan untuk mengurangi keluhan pada masalah gusi.
19. Mengurangi ketombe pada kepala.
20. Mengatasi kutu air.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Lidah_Buaya
http://bina-usaha-mandiri.com/node/101
http://health.kompas.com/read/2012/03/19/14221925/20.Manfaat.Lidah.Buaya
http://shoreaaugustaa.blogspot.com/2013/12/makalah-pemanfaatan-lidah-buaya-sebagai.html

DATA PRAFORMULASI
1. Ekstrak lidah buaya 5%
2. Na Laurilsulfat 20%
a. Sinonim
Dodecyl sodium sulfate; sodium dodecyl sulfate; sodium laurilsulfate; sodium
monododecyl sulfate; sodium monolauryl sulfate
b. Organoleptis
Bentuk
: kristal atau serbuk halus
Warna
: putih atau krem
Rasa : pahit
Bau : agak berbau
c. Sifat kimia
Rumus molekul
: C12H25NaO4S
Berat molekul
: 288.38
Struktur formula
:
d. Fungsi dan Penggunaan
Surfaktan anionik, deterjen, agen pengemulsi, pelumas tablet dan kapsul, agen
pembasahan
e. Sifat Fisika
Kelarutan
: mudah larut dalam air, praktis tidak larut dalam kloroform dan eter.
Titik leleh
: 2042070 C
f. Inkompatibilitas
Sodium lauril sulfat bereaksi dengan surfaktan kationik, menyebabkan hilangnya
aktivitas bahkan dalam konsentrasi terlalu rendah untuk menyebabkan presipitasi.
Tidak seperti sabun, itu kompatibel dengan asam encer dan kalsium dan ion
magnesium
Larutan natrium lauryl sulfate (pH 9,5-10,0) agak korosif terhadap baja ringan,
tembaga, kuningan, perunggu, dan aluminium. Sodium lauril sulfat juga tidak
kompatibel dengan beberapa alkaloid garam dan mengendap dengan garam timbal
dan kalium.
g. Stabilitas dan Penyimpanan
Natrium lauril sulfat adalah stabil di bawah kondisi penyimpanan normal. Namun,
dalam larutan, dalam kondisi ekstrim yaitu pH 2,5 atau di bawah itu, mengalami
hidrolisis terhadap alkohol dan sodium lauril bisulfat.
Simpan dalam wadah tertutup dan kering.

3. Asam Stearat 7%
a. Sinonim

Cetylacetic acid, Crodacid, Pearl Steric, stereo-phanic acid, Acidum Stearicum.


b. Organoleptis
Bentuk
: keras, kristal padat, serbuk
Warna
: putih atau sedikit kekuningan
Rasa : berasa seperti lemak
Bau : agak berbau
c. Sifat kimia
Rumus molekul
: C18H36O2
Berat molekul
: 284.47
Struktur formula
:
d. Fungsi dan Penggunaan
Agen pengemulsi, peningkat kelarutan dan pelumas tablet dan kapsul.
e. Sifat Fisika
Kelarutan
: mudah larut dalam benzen, karbon tetraklorida, kloroform dan eter.
Larut dalam etanol 95%, heksan dan propilenglikol. Praktis tidak larut dalam air.
Titik leleh
: 540 C
f. Inkompatibilitas
Asam stearat tidak kompatibel dengan beberapa hidroksida logam dan
mungkin tidak kompatibel dengan agen pengoksidasi.
g. Stabilitas dan Penyimpanan
Asam stearat merupakan bahan stabil, antioksidan

mungkin

juga

ditambahkan ke dalamnya, harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat


yang sejuk dan kering.
4. NaOH

0,5%

a. Sinonim
: Natrium Hidroksida, Natrii Hydroxidum
b. Organoleptis
Bentuk

: batang, butiran, massa hablur atau keping

Warna

: putih

Bau : tidak berbau


c. Sifat kimia
Rumus molekul
Berat molekul

: NaOH
: 40

d. Kelarutan
Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol 95%. (FI Ed III)
e. Penyimpanan
: dalam wadah tertutup baik
f. Khasiat dan Penggunaan
: agen pembasa dan penyangga, opacifying agent
(jika ditambah asam stearat)
Pertimbangan Pemilihan Bahan

a. Natrium Lauril Sulfat


Surfaktan paling umum digunakan dan harganya murah. Memiliki daya pembersih
(detergensi) yang tinggi, bahkan didalam air sadah sekalipun. memiliki kemampuan
membentuk busa yang baik., efektif pada pH yang netral ataupun sedikit asam serta
mudah tercuci dengan air.
b. Asam Stearat dan Natrium Hidroksida
Bersama NaOH membentuk Natrium Stearat yang bersifat opacifiers dimana dapat
mengurangi transparansi sediaan dan meningkatkan penampilan akhir produk. Lalu
natrium hidroksida bersama dengan asam lemak (asam stearat) dapat berfungsi
sebagai pembentuk busa.
g
IV.

PROSEDUR KERJA
1. Mempersiapakan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Menimbang bahan-bahan sesuai dengan perhitungan bahan yang telah dilakukan.
3. Na lauril sulfat dilarutkan dalam sebagian air bersama dengan dan ekstrak lidah
buaya kemudian dipanaskan pada 80 oC (M1)
4. Asam stearat dilebur dalam wadah tersendiri (M2), panaskan perlahan-lahan hingga
80 oC
5. Gerus M1 dan M2 dalam lumpang perlahan.
6. Genapkan volume sediaan dengan aquadest, aduk homogen hingga dingin
7. Sediaan yang telah jadi di masukkan dalam wadah botol yang sesuai.

PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini, kami membuat sediaan shampoo dengan ekstrak
lidah buaya. Bahan-bahan yang digunakan adalah na lauril sulfat yang merupakan
surfaktan paling umum digunakan dan harganya murah. Memiliki daya pembersih
(detergensi) yang tinggi, bahkan didalam air sadah sekalipun. memiliki kemampuan
membentuk busa yang baik, efektif pada pH yang netral ataupun sedikit asam serta
mudah tercuci dengan air. Selain itu kami menggunakan asam stearate, dimana
bersama NaOH membentuk Natrium Stearat yang bersifat opacifiers yang dapat
mengurangi transparansi sediaan dan meningkatkan penampilan akhir produk. Lalu
natrium hidroksida bersama dengan asam lemak (asam stearat) dapat berfungsi
sebagai pembentuk busa.
Hal yang pertama kami lakukan adalah melarutkan na lauril sulfat ke dalam
aquades bersuhu 800 C. Hambatan yang terjadi pada proses ini adalah perlunya
waktu yang lama dalam proses pelarutan. Lalu setelah itu, kami campurkan ekstrak
lidah buaya yang sudah disaring, ke dalam larutan tersebut.
Pada selang waktu yang sama, kami melebur asam stearate dengan natrium
hidroksida, yang diharapkan menjadi natrium stearate. Kemudian kami campurkan
larutan natrium stearate ke dalam larutan ekstrak tersebut pada suhu 80 0 C, dan
diaduk hingga homogen. Karena hasil yang diperoleh kurang homogen dan asam
stearate kembali mengkristal, maka kami memanaskan kembali larutan tersebut
hingga homogen dan menggerusnya di dalam lumpang. Hasil yang didapat ternyata
lebih baik, kekentalannya juga baik, dan homogen. Namun dikarenakan terlalu
sering digerus, maka sediaan tersebut berubah membusa seperti krim. Untuk itu,
sediaan kami simpan ke dalam beker gelas hingga busa menghilang dan sediaan
kembali cair.
Evaluasi sudah kami lakukan. Dan sebagaimana tertera di bab sebelumnya,
bahwa sediaan memiliki homogenitas yang baik, pH sebesar 7,5, dengan sifatnya
yang mudah terbentuk busa, juga mudah tercuci oleh air. Ini semua sudah sesuai
dengan syarat sediaan shampoo yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta : Depkes RI

Flick, Ernest W.1992.Cosmetic and Toiletry Formulations : second edition - volume 1.


USA : Noyes Publications
I.S Tranggono, Retno. 2007. Ilmu Pengetahuan kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Waide, Ainley, and Waller, Paul J. 1994. Handbook of Pharmaseutical Exipients. Second
edition. Washington : American Pharmaseutical Association.
.
http://sepisendiriterus.blogspot.com/2012/06/pembuatan-shampoo-dengan-ekstrak-lidah.html