Anda di halaman 1dari 10

Arsitektur Naungan

Posted on April 3, 2013 by p.khrisno.a


Idea, Writings
Arsitektur Naungan, hari ini sering dikemukakan oleh josef prijotomo juga sebelumnya sering di
kaji melalui bahasa lain oleh YB mangunwijaya dan Silaban tentang sikap tropis. Tulisan ini
adalah catatan perjalanan, pendapat dan pengembangan awal dari pengalaman melalui buku
sejarah, filsafat, fiksi, jurnal, arsitektur, koran, tautan jejaring maya, berkegiatan praktek, perjalanan rumah asuh, kursus singkat, perjalanan, percobaan tentang metoda praktek membangun
arsitektur di Indonesia hingga pertemuan pertemuan singkat dan diskusi setelah 5 tahun sejak
lulus sarjana. Catatan ini juga merupakan eksplorasi yang tak usang dari remahan-remahan awal
yang perlu di lanjutkan, kembangkan dan dibuktikan lewat belajar, lanjutan percobaan dan membuka diri untuk menerima kemungkinan baru.
Tempat
Pada mulanya manusia berpindah mencari tempat yang nyaman untuk hidup. Setelah lelah hidup
berpindah pindah, manusia berusaha mencoba menciptakan kenyamanan dengan menetap dalam
satu lokasi dan menyesuaikan diri terhadap kondisi tempat tersebut. Manusia kemudian menciptakan hunian dasar dengan menyesuaikan(adapt) secara bertahun-tahun hingga berabad-abad
dengan tempat, yang di pengaruhi 3 faktor besar tempat yaitu : letak geografis, letak astronomis,
dan letak geologis.
Letak geologis ialah letak suatu tempat berdasarkan struktur batu-batuan yang ada pada kulit
buminya. Letak geologis dapat terlihat dari beberapa sudut, yakni dari sudut formasi geologinya,
keadaan batuannya, dan jalur-jalur pegunungannya. Tanah memiliki ciri-ciri material dan struktur
batuan kompleks yang terkandung di dalamnya baik mineral, karakter, zat, hingga minyak bumi.
Kandungan tanah beserta batuan yang berada di suatu tempat, mempengaruhi keadaan tumbuhan
apa saja yang dapat tumbuh. Dari tumbuhan ini binatang dapat hidup di sekitarnya. Bagi
manusia, tumbuhan dan binatang ini menjadi sumber makanan dan mata pencaharian manusia.
Bahan, kondisi lansekap, Tumbuhan dan binatang ini kemudian dipakai selanjutnya sebagai
material konstruksi bagi manusia untuk menciptakan hunian seperti kayu, batu, hingga kulit
binatang, untuk beradapatasi dengan iklim dan cuaca di sekitarnya serta pengaruh lain untuk
melindungi fisiknya. Selain itu kondisi mineral, tumbuhan dan binatang ini juga digunakan
manusia sebagai penghasil energi dasar, seperti api kemudian minyak untuk menghangatkan
tubuh, sejalan dengan adaptasi dan teknologi sebagai sumber memasak, dan penghasil energi.
Letak geologis, juga menghasilkan potensi bumi. Potensi bumi adalah keadaan bumi yang berhubungan dengan air, angin, panas, dan aktifitas aktifitas bumi. Masing masing potensi ini
memiliki dampaknya terhadap konstruksi bangunan hunian. Air, contohnya hunian dipantai atau
pinggir sungai yang sering terkena pasang, akan mengangkat bangunan huniannya agar air tidak
masuk kedalam bangunan. Angin, contohnya hunian yang sering terlanda angin kencang, akan
menancapkan konstruksi bangunannya kedalam tanah agar tidak mudah tercerabut, disamping itu

bentuk bangunan dibuat tidak menantang angin (aerodinamis) sehingga tidak merusak bangunan
secara berarti ketika angin kencang terjadi. Disamping itu juga masih ada potensi bumi seperti
gempa yang coba dipecahkan dengan konstruksi yang lepas dari tanah agar tidak
menentang/lepas dari gerakan gempa atau dibuat pengikat-pengikat miring seperti struktur
bawah bangunan vernakular(geografis) Nias agar konstruksi bangunan kaku, tetapi tetap terlepas
dari tanah.
Letak Geografis ialah letak suatu daerah dilihat dari kenyataannya di bumi atau posisi daerah itu
pada bola bumi dibandingkan dengan posisi daerah lain. Letak geografis ditentukan dengan
keadaan lautan dan daratan sekitar tempat. Letak geografis ditentukan pula oleh letak astronomis
dan letak geologis.
Secara astronomis, kondisi tempat didasarkan pada posisinya pada garis lintang dan bujur bumi.
Menurut geografis, dampaknya adalah kondisi Iklim dan cuaca disuatu tempat. Iklim dan cuaca
setempat berdampak pada bagaimana manusia mengadaptasikan tubuhnya terhadap kondisi suhu
lingkungannya. Pembagian iklim dan cuaca terhadap kemampuan penyesuaian tubuh manusia,
terbagi atas; Iklim dan cuaca ekstrim contohnya adalah iklim sedang, dingin, hingga iklim kutub.
di iklim ini terdapat suhu dan cuaca ekstrim seperti panas matahari hingga kondisi salju yang
membuat manusia membutuhkan perlindungan. Tanpa perlindungan yang benar-benar tertutup,
manusia tidak dapat hidup dengan iklim dan cuaca tersebut. Sedangkan iklim dan cuaca suhu
yang bisa disesuaikan dengan tubuh contohnya adalah iklim tropis. Suhu tropis yang berada di
antara 1832 derajat celcius membuat manusia membutuhkan naungan sekedar untuk menghindari curah hujan tinggi dan terik matahari yang suhu rata rata sepanjang tahun masih dapat
diadaptasi tubuh manusia tanpa sebuah perlindungan. Iklim secara langsung menghasilkan sikap
tubuh-hunian terhadap alam.
Tropis, kemarau dan penghujan
Indonesia berada di Iklim tropis yang menurut koppen adalah berkarakter temperatur tinggi
(pada permukaan laut atau ketinggian rendah) dua belas bulan memiliki temperatur rata-rata
18 C (64.4 F) atau lebih tinggi. Indonesia sendiri berada di iklim hujan tropis dimana mengalami kelembaban 60 mm (2.4 in) ke atas sepanjang 12 bulan. Iklim ini terjadi pada garis lintang
510 dari khatulistiwa. Di iklim hujan tropis, Manusia bisa dengan mudah menyesuaikan diri
dengan suhu alam sekitar.
Matahari dan Hujan adalah tantangan terbesar di lokasi tropis. Matahari sepanjang tahun, kelembapan yang tinggi, dan curah hujan yang tinggi, adalah potensi utama yang perlu di pertimbangkan dalam mengadaptasi hunian terhadap iklim tropis. Kegiatan manusia dapat di lakukan
kapan saja bila tidak terganggu terik matahari dan curah hujan tinggi yang berpengaruh langsung
terhadap tubuh manusia dan menghindari kelembapan yang berpotensi timbul bakteri dan
penyakit bagi manusia. Suhu Iklim tropis tidak menjadi gangguan berarti bagi tubuh manusia.
Dalam beberapa catatan, Josef prijotomo seringkali menyebutkan kebiasaan telanjang(hanya
menggunakan cawat) masyarakat tradisional yang dinalarkan ketidakpengaruhan signifikan
antara suhu iklim tropis dan tubuh. Penyesuaian hunian manusia untuk iklim tropis ini adalah
menghindari efek langsung terik panas matahari dan curah hujan basah yang tinggi mengenai
tubuh. Sehingga yang dibutuhkan dalam hunian tropis adalah yang menaungi kegiatan manusia

dari terik matahari dan curah hujan yang tinggi. Dan sejatinya seperti pendapat Romo Mangun,
manusia tropis, hidup di luar daripada di dalam.
Arsitektur Tropis, adalah tentang mengatasi bayang dan aliran udara. Arsitektur Tropis adalah
arsitektur naungan.
Dengan memahami ciri ciri iklim dan cuaca tropis, maka kita bisa mengenali unsur yang membentuk arsitektur tropis, tetapi sebelum melanjutkan ke unsur pembentuk arsitektur lainnya, kita
perlu memahami singkat tentang terbentuknya fungsi, dan politik identitas melalui sejarah
Kegiatan Manusia dan Fungsi
Arsitektur dan tempat berjalan dengan sejarah yang panjang menyesuaikan kondisi lingkungan
sekitar. Melalui trial and error manusia bersinggungan dengan alam, berusaha menyempurnakan
tempat tinggalnya sehingga bisa menyesuaikan tubuh dengan huniannya terhadap alam.
Manusia menurut Diagram Maslow akan memenuhi kebutuhan fisiknya untuk dapat bertahan
hidup, yaitu makan, minum, bernafas, sekresi, homeostatis, dan tidur. Pada taraf dasar selanjutnya manusia mulai berpolitik mencari lawan jenisnya sebagai pemenuhan seks untuk
bereproduksi.
Untuk memenuhi kebutuhan reproduksi, manusia mulai menciptakan sistem sosial termasuk
politik. Hubungan hubungan yang semakin kompleks dalam kehidupan sosial kemudian berlanjut tidak hanya pada jalan mencari lawan jenis dan bereproduksi. Manusia yang tinggal dalam
satu tempat bertambah banyak dan menjadi satu komunitas kemudian mulai membagi peran, bergotong royong sebagai komunitas sesuai kemampuannya dan mulai saling bergantung untuk
saling memenuhi kebutuhannya. Hubungan hubungan manusia yang diatur ini menjadi satu
kesepakatan sosial agar komunitas manusia yang didalamnya bisa hidup berdampingan dengan
adil. Komunitas yang terbentuk dari sistem sosial kemudian membentuk kegiatan dan fungsi
baru didalam hunian untuk menyediakan fasilitas sosial. Hunian kini terbagi menjadi tempat
yang memisahkan aktifitas fisik yang privat sesuai dengan nilai sosial yang terbentuk. Manusia
hidup berkelompok dan ruang ruang bersama tercipta baik di dalam hunian maupun di luar
hunian. Kesepakatan sosial juga membentuk sistem ekonomi agar hasil dari peran masing
masing manusia dapat dinilai dan dihargai sehingga bisa ditukar dengan kebutuhan lainnya.
Disamping itu, manusia juga mempertanyakan tentang asal usul hal, hingga menelurkan sistem
kepercayaan yang menyesuaikan sistem sosial setempat.
Perkembangan sistem sosial, kepercayaan, politik, ekonomi, teknologi dan politik yang berkembang secara kompleks dan kumulatif, kemudian menumbuhkan fungsi fungsi kegiatan baru
dalam komunitas dan membutuhkan tempat yang nyaman untuk berkegiatan sesuai fungsinya.
Lumbung makanan, ruang tamu, tempat bermusyarah, penjara, kantor ketua adat, tempat ibadah,
restoran, hingga bank berkembang secara kumulatif.
Dengan berjalannya perkembangan manusia diseluruh dunia, manusia yang membentuk sistem
sosial dan ekonomi, melakukan perjalanan ke tempat-tempat lain untuk mencari tempat yang
lebih nyaman baik dengan motif kenyamanan tempat-tubuh hingga motif politik dan ekonomi.

Pengaruh luar tempat mulai saling menginspirasi baik dari sistem kebudayaan, kepercayaan
sosial, ekonomi hingga teknologi.
Dari ekspansi manusia austronesia, masuknya pengaruh India, Eropa, timur tengah hingga
sekarang, informasi baru berdatangan. Fungsi turut berkembang secara akumulatif dengan Bahan
dan Teknologi seperti bata merah hingga sistem dinding dan beton mewarnai perkembangan
arsitektur Indonesia. Masing masing zaman berusaha mewakilkan bahan dan fungsi, juga berusaha menyesuaikan terhadap kondisi alam.
Identitas
Kebutuhan manusia menurut diagram Maslow, setelah pemenuhan fisik telah tercapai, manusia
kemudian mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhan lainnya yang timbul karena sistem
sosial, seperti rasa aman, percaya diri, kognitif, estetik, aktualisasi diri hingga pemenuhan yang
transenden. Sebagai bagian dari satu komunitas yang besar, manusia kemudian membuat tanda
dan simbol sebagai satu bahasa untuk berinteraksi dan memenuhi kebutuhan sosialnya. Tanda
dan simbol ini akhirnya digunakan manusia sebagai identitas diri, maupun identitas komunitas
untuk membedakan dengan diri atau komunitas lainnya.
Setelah bangunan hunian, kegiatan bertambah dan beragam, sehingga membentuk arsitektur baru
sesuai dengan fungsi baru yang dibutuhkan komunitas atau masyarakat. Sebagai satu komunitas,
manusia yang berusaha memenuhi kebutuhan sosialnya melalui perjuangan identitas juga turut
berdampak pada arsitekturnya. Identitas ini digunakan baik untuk membedakan fungsi,
kepemilikan komunitas, baik suku, kepercayaan hingga negara sebagai pemenuhan rasa
bersama
Dari proses pengaruh mempengaruhi sebelum jaman majapahit, arsitektur vernakular(geografis)
yang masih hidup, pendudukan belanda hinga menjadi negara Indonesia, kita bisa melihat
pengaruh identitas muncul dalam arsitektur. Satu contoh menjelang kemerdekaan, arsitek-arsitek
belanda seperti wolff schoemaker dengan politik etis berusaha mengadaptasi kondisi alam
dengan mencoba teknologi bangunan modern digabungkan dengan identitas bangunan vernakular yang telah ada, bahkan dengan sadar meletakkan identitas dibangunan pada saat tersebut,
seperti dikutip dibuku tegang bentang, arsitektur occidental (barat) merupakan suatu konstruksi
yang bersifat totalitas, sedangkan arsitektur tradisional Indonesia merupakan susunan yang
subyektif, elementer, dengan mengutamakan wajah luar terutama wajah depan.
Perjuangan identitas berlanjut pada awal masa kemerdekaan, pemerintahan presiden Soekarno,
menggunakan gaya modern sebagai nation building. Usaha untuk membawa zeitgeist, indonesia
yang satu. Keadaan ini didukung dengan proyek-proyek pada saat itu dengan gaya internasional
oleh arsitek-arsitek generasi Sujudi, Silaban, dsb yang mengisi dominasi arsitektur di Indonesia.
Periode selanjutnya, arsitektur kemudian di dikte oleh kekuasaan presiden Soeharto untuk menciptakan Indonesia yang satu(generik) dengan program-program standarisasi. Pada masa
Soeharto terjadi jawanisasi dengan menjoglokan bangunan pemerintahan. Arsitektur vernakular
lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, yang masih hidup dianggap sebagai arsitektur
tradisional yang sudah lewat masanya.

Masyarakat yang jengah dengan politik imperialisme ini, kemudian mulai menyuarakan
kebosanan terhadap modernisme. Modernisme dianggap tidak bisa menyuarakan keragaman dan
pluralisme yang ada diseluruh indonesia. Ditandai pada tahun 1984 ketika konggres IAI (Ikatan
Arsitek Indonesia) tentang mempertanyakan arsitektur Indonesia, kemudian berlanjut hingga
gerakan seperti LSAI (Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia), AMI (Arsitek Muda Indonesia)
dan kelompok-kelompok setelahnya yang mencoba memberikan pandangan lain dalam usaha
memperjuangkan tentang keragaman.
Sudah 50 tahun, Post-modern sejak kelahirannya menjadi momok menakutkan di dunia arsitektur. Sesuatu yang terus menerus di hindari oleh mahasiswa dan praktisi, tetapi pada kenyataannya
taktik dan metodenya telah berhembus dan terbangun dengan diam diam. Setiap orang
melakukan post-modern. Setiap orang melakukan dekorasi. Kita kurang lebih sepakat seakan
mempertanyakan otentik. Kini setiap orang bisa menggunakan sejarah, budaya, referensi,
tema, metafora, memori, pengalaman, sebagai metode tanpa rasa malu. Alih alih arsitektur
modern yang terlalu dingin dan mewakili imperialisme, post-modern atau melalui sebutan(teori)
lainnya hadir sebagai jawaban atas pluralisme, mewakili suara-suara keragaman. Modern yang
sebelumnya menjadi semangat jaman baru, pemersatu, kini digantikan dengan bahasa lebih
sopan, melalui abstraksi abstraksi identitas, seringkali dalam bentuk yang lebih sederhana.
Dalam sejarah arsitektur Indonesia, modernisme tidak pernah benar benar terjadi menjadi
gerakan sama seperti di Amerika, ia hanya menjadi sebuah gaya. Begitu juga dengan post modernisme yang alih-alih menjadi semangat pembawa keragaman atau lomba otentisitas atas
dorongan konsumerisme.
Tidak dapat di pungkiri, Indonesia dengan keragaman yang luar biasa membuat masing masing
baik pribadi maupun secara kelompok memerlukan identitas yang menginformasikan karakter
masing masing usul, tempat, dan budaya termasuk dengan praktek arsitektur dan arsiteknya yang
sadar/tak sadar berada dalam taktik post modern ini.
Metafora tsunami yang diusung ridwan kamil dalam bentuk bangunan museum aceh, Tema jendela dan pintu dalam fasade Bar dan restaurant Potato Head oleh andramatin, Kulit kedua bata
kerawang di bangunan fakultas elektro UI oleh Yori Antar, Menara Phinisi di Makasar oleh Yu
sing, hingga peminjaman tampilan kubus-putih-berlubang-acak-kotak di sekolah bogor raya oleh
Indra Tata Adilaras
Fungsi, teknologi, dan wajah arsitektur, berkembang akumulatif dengan sistem sosial hingga
politik pada zamannya. Arsitektur di Indonesia sekarang memiliki tantangan dengan semakin terbukanya informasi lewat teknologi informasi. Arus deras informasi baik teknologi, teori, visual
turut serta memeriahkan praktik arsitektur di Indonesia. Arsitektur di Indonesia sekarang selain
memiliki dimensi sosial yang kian kompleks, juga memiliki permasalahan menyaring informasi
dan tanda tanda untuk kemudian memilih yang bisa disesuaikan terhadap tempat.
Unsur Arsitektur Naungan
Sistem sosial, politik, kepercayaan, hingga ekonomi ditambah dengan masalah masalah kontemporer membuat arsitektur mengembangkan diri sesuai pemahaman bahan dan teknologi pada

zamannya untuk memenuhi kebutuhan fungsi dan identitas yang semakin beragam dan juga terpenting adalah pembagian fungsi kegiatan melalui pemintakatan (penzoningan) area terhadap
hubungan dengan tempat.
Namun, yang perlu di pikirkan kembali setelah masuknya pengaruh fungsi dan identitas, adalah
menarik kembali arsitektur ke hubungan manusia dan tempat, tempat dimana tempat saya tinggal, Indonesia, yang senantiasa menjadi gambaran besar masalah tubuh dan tempat adalah
tropikalitas dengan sinar matahari dan curah hujan tinggi, tentang naungan.
Dengan dasar naungan, maka perlu ada pengertian kembali dari masing masing unsur. Untuk
memudahkan praktikalitas dalam desain, maka yang perlu di perhatikan dalam tiap unsur arsitektur dasar setelah mengartikan kembali adalah mempertanyakan masalahnya dengan alam dan
hubungannya dengan tubuh manusia itu sendiri.
Mintakat (zoning)
Sejalan dengan konsep naungan, pertanyaannya adalah bagaimana memetakan tempat untuk
kegiatan sesuai dengan kebutuhan. Perlu ada cara pembagian mintakat dari fungsi dan program,
baik hasilnya tempat berupa ruang dan massa tanpa harus mengorbankan bagaimana udara, dan
cahaya tetap dapat mengalir dan atau menembuskan(permeable). Mintakat yang tetap mengalirkan atau dan menembuskan(permeable) secara berkelanjutan
kegiatan dan fungsi apa saja yang perlu di bagi antara privat dan
bagaimana menyesuikan terhadap paparan panas yang begitu besar di iklim
bagaimana
pembagian
mintakat
pada
lahan
yang
bagaimana membagi mintakat sesuai privat dan umum tanpa mengorbankan kebutuhan
dan aliran udara.

umum
tropis
sempit
cahaya

Sempadan (batas)
Hal yang paling sulit setelah pemintakatan adalah menentukan sisi yg menjadi perhinggaan suatu
tempat (ruang, daerah, dan sebagainya) melalui ketentuan yg tidak boleh dilampaui. Mengartikan
ulang tentang sempadan dalam arsitektur naungan, menjadi penting untuk menentukan cairnya
dan sifat ketembusan masing-masing mintakat sebagai sikap terhadap bayang dan aliran udara.
apakah
ada
ketentuan
yg
tidak
boleh
dilampaui
bagaimana
sebuah
sempadan
mewujud
untuk
memisahkan
mintakat
bahan apa yang bisa memisah kegiatan privat dari suara, dan pandangan tetapi tetap meresapkan
udara
dan
cahaya
agar
tidak
lembab?
bagaimana
menjaga
suhu
tiap
tempat
agar
stabil
bagaimana
menanggulangi
angin
yang
terlalu
keras
bagaimana
menanggulangi
paparan
matahari
yang
panas
sepanjang
waktu
bagaimana menanggulangi agar binatang yang tidak diinginkan tidak masuk ke tempat kegiatan
manusia
Naungan (Atap)

Untuk menghindari curah hujan dan panas sinar matahari langsung, maka dibutuhkan naungan
yang dapat membuat manusia tetap dapat berkegiatan tanpa terganggu. Naungan pada awal terbentuknya adalah penyesuaian peneduh dari hal sederhana untuk dari berteduh sekedar dibawah
pohon atau memanfaatkan gua kemudian berkembang dengan membuat dan merangkai bahan
sekitar lingkungan seperti dedaunan atau kayu untuk digunakan sebagai naungan.
Di iklim hujan tropis, kelembapan tinggi sering terjadi karena penguapan air yang tinggi. Kelembapan tinggi menimbulkan masalah bagi penghuni karena memicu timbulnya jamur atau bakteri
penyakit yang berdampak pada tubuh manusia. Untuk mengadapatasi sebuah hunian, maka
diperlukan pemahaman bahwa ruang dibawah naungan bisa dilewati angin agar ruangan tidak
menjadi lembab.
Dalam sejarah arsitektur, naungan ini dikembangkan menjadi elemen atap dalam bangunan. Atap
naungan tropis pada awalnya adalah sebuah elemen untuk meneruskan curah hujan yang tinggi
dengan segera ke tanah. Seiring dengan perkembangan teknologi, atap dapat mengalami transformasi dari bentang pendek ke bentang lebar yang disesuaikan dengan fungsi kegiatan yang akan
menempati di bawahnya.
Naungan, di iklim tropis yang kemudian menandakan tempat berkegiatan khusus yang dapat
dilakukan dimana ruang dibawahnya terbebas curah hujan tinggi dan sengatan terik matahari
yang langsung mengenai tubuh.
ketika curah hujan tinggi, air diturunkan secepat cepatnya ke tanah, tetapi kesiapan tanah untuk
menyerap
tidak
baik.
bagaimana atap yang besar atau luas tetapi tetap terang di ruang dalam
bagaimana
konsep
naungan
disusun
dalam
hunian
tinggi
bahan apa yang memiliki daya tahan tinggi terhadap terpaan panas dan hujan, mudah diganti bila
rusak
Bagaimana proporsi, skala naungan terhadap tubuh
Setelah mengartikan kembali dan mempertanyakan masing-masing unsur dasar arsitektur:
manusia dan tempat, kemudian dicari pemecahan masalahnya secara utuh dengan unsur
solusinya baik bahan (struktur dan teknologi) dan idiom estetika tampilan yang dibutuhkan bagi
masing masing manusia, komunitas atau tempat itu sendiri.
Dari sekian solusi mintakat dan naungan, berikut ini adalah beberapa pendapat atas melalui percobaan karya, melihat, hingga merasakan beberapa bangunan arsitek yang saya datangi yang
menghasilkan beberapa cara untuk diterjemahkan kedalam konteks kekinian untuk mengatasi
bayang dan aliran udara adalah :
mintakat yang menembuskan (permeable) : melalui pembagian mintakat dengan merancang
ruang dan masa diantara ruang terbuka yang berorientasi menembuskan dengan ruang terbuka,
gaya hidup tropis dengan aliran udara yang baik bisa mengalir. Dengan pengolahan mintakat yg
menembuskan, maka terdapat beberapa keuntungan yang tercipta, yaitu;

kontrol kegiatan : membagi mintakat sesuai fungsi atau sifat seperti privat dan umum menentukan bagaimana cairnya hubungan masing masing sifat kegiatan dengan ruang ruang terbuka
dan
solusi
menembuskan
bagi
masing-masing
fungsi
dan
sifat
kegiatan.
ruang interaktif : dalam skala mendatar(horizontal), ruang terbuka maka menyediakan bahkan
memancing bagi manusia/komunitas untuk interaksi guyub seperti di taman, plaza, setapak, dan
lain sebagainya..
skala ketinggian : dalam bangunan tinggi masalah kepadatan menjadi penting, tetapi perlu ada
solusi dalam skala bangunan agar tetap dalam skala manusia sehingga perlu dibagi sehingga
memiliki satu ruang terbuka dalam skala vertikal. Dalam beberapa kasus membuat mintakat
melayang memberikan efek menembuskan secara trimatra baik mendatar ataupun meninggi.
lansekap bagian dari arsitektur : pohon besar dan rindang adalah unsur baik untuk menaungi
panas dan hujan lewat daun dan ranting rantingnya. Menggunakan pohon berarti juga
menurunkan suhu lewat bayangnya bagi tubuh, dan menyejukkan bagi mata. Pohon juga
sekaligus menyediakan skala manusia, sehingga dalam skala kota, skala dan garis langit buatan
manusia yang kadang terlalu tinggi, menyilaukan, dan membosankan direduksi dengan kehadiran
pohon. landsekap seperti tanaman rambat atau pohon berfungsi tidak saja meneduhkan bangunan
tetapi menjadi pilihan lain membagi mintakat secara umum dan privat.
payung peneduh : pohon berhasil dalam kondisi tropis memberikan naungan yang teduh, sama
seperti halnya teritisan atap miring yang melindungi curah hujan tinggi, tetapi juga melindungi
panas langsung ke dinding atau jendela langsung. Selain panas ke atap, sebagian besar panas
matahari juga mengenai dinding dan ruang dalam. perlu ada payung payung peneduh yang bisa
mengurangi panas ini yg meneduhkan baik melalui bayangan dan keporian tanpa mengorbankan
pandangan.
berpori : seperti dalam bangunan vernakular(geografis) tropis, banyak material pemisah ruang
privat menggunakan kayu, bambu dan ijuk yang memberikan angin sejuk mengalir dari ruang ke
ruang. Melalui kreativitas pola dan jenis bahan, konsep berpori bisa menjadi alternatif penghawaan alami sekaligus memisahkan privat dan umum.
Arsitektur Mengkini
Hari hari ini, kita terbenam dalam waktu yang serba cepat, kecepatan adalah kemajuan,
kekuatan/kecepatan menggeser kekuatan/pengetahuan. Hidup dengan gaya konsumerisme kini
dinilai dengan uang/produksi. Sukses dinilai dengan kecepatan. Begitu halnya dengan teknologi
media informasi, berlomba lomba menyajikan kecepatan dan keseketikaan informasi. Kecepatan
memberikan kepuasan.
Dunia yang datar karena teknologi informasi ini, kemudian di pakai sebagai jejaring informasiseketika tentang arsitektur. Informasi bertebaran dengan tanda-tandanya. Jejaring informasi
kemudian digunakan arsitek meluaskan fungsinya sebagai; tempat diskusi, kritik, tempat
promosi, propaganda, dan lain sebagainya. Informasi dan tanda bertebaran dalam keseketikaan.

Hari hari ini, dalam kecepatan dan budaya konsumerisme, kita dituntut untuk terus berproduksi.
Praktikalitas ditantang dengan arus permukaan untuk di bangun. Membaca adalah kemewahan
bagi yang berpraktek. Membangun adalah kemewahan bagi akademisi. Tidak ada yang sempurna, pandangan/teori ideal dan praktek ideal. Praktek menemukan masalah realitas tumpang
tindih yang tidak tertulis dalam teori dan butuh solusi praktis. Dan teori menemukan masalah
yang begitu kompleks, terus berubah dan tidak ada yang sempurna menyelesaikan satu hal.
Melalui idiom estetika modern seperti gestalt dan postmodern seperti pastiche, parodi, kitch,
camp, skizofrenia yang banyak digunakan melalui bayang bayang jargon/teori seperti critical
regionalism, community based, dekonstruksi, desain parametrik, historicism, fenomenologi, dan
sebagainya, arsitektur seringkali terjebak dalam permainan tanda, menjadi fetisisme komoditi.
Arsitektur melalui permainan tanda dan makna ini seringkali mengandung unsur distorsi yang
menyesatkan antara fungsi, makna dan nilainya sehingga dapat menggiring publik ke tingkah
laku yang menyimpang. Arsitektur kemudian memiliki pesona yang sesungguhnya tidak ada.
Arsitektur menjadi hiperrealitas komunikasi, kepalsuan menjadi kebenaran, isu menjadi sebuah
informasi.
Tanda dan kandungan informasi yang terjadi dalam arsitektur sekarang perlu di telaah secara
kritis. Penilaian arsitektur yang kian terbagi orisinil atau tidak bagus jelek perlu di pahami
terbagi dalam dua kutub subyektif dan obyektif. Aspek obyektif berkaitan dengan pertimbangan
berbagai faktor yang yang membatasi proses pengembangan arsitektur, seperti teknologi, teknik,
material, konvensi, dan kode bahasa. Sedangkan aspek subyektif berkaitan dengan kemampuan
daya kreatif yang dibentuk oleh kebudayaan, mitos, kepercayaan, ideologi atau ketidaksadaran
arsitek.
Di tulisan ini arsitektur naungan adalah salah satu cara memahami secara obyektif dalam mencoba memecahkan masalah tubuh dan tempat yang saya harapkan bisa secara radikal (mengakar)
terhadap dominasi masalah tempat di Indonesia yaitu iklim tropis basah. Masih ada masalah berikutnya yang masih memerlukan kajian dalam perjalanan saya sebagai arsitek, namun bisa kita
jawab
bersama-sama
dengan
payung
arsitektur
naungan,
yaitu
meningkatnya jumlah penduduk dan arus urbanisasi, manusia kini mendominasi kota. Kota
dengan batas luasnya yang terbatas kini menghadapi masalah karena jumlah manusia yang harus
di atur, bagaimana arsitektur naungan melalui bahan dan teknologi dapat berperan dalam
kepadatan tinggi bisa menjadi pemecahan masalah termasuk turunannya seperti sosial budaya
politik
dan
lain
sebagainya.
Tingkat keberhasilan arsitektur naungan dengan pemecahan subyektif melalui hiburan, kreatif
dan estetik yang dilakukan dilapangan dengan analisa rencana dan keberhasilannya baik meliputi
metoda
detail,
skala,
proporsi
dan
lain
sebagainya.
Bahan(material) dan teknologi apa yang bisa kita ciptakan sebagai jawaban akumulatif dari
arsitektur
naungan
sesuai
unsur-unsur
di
atas.
Mengingat belum meratanya pembangunan di Indonesia, arsitektur yang bisa menjangkau semua
kalangan termasuk ekonomi rendah perlu dipikirkan sebagai tanggung jawab bersama.
Bagaimana mengaitkan hubungan arsitektur naungan sebagai kesatuan utuh, sebagai cara
manusia menghuni melalui hubungannya dengan tempat-manusia dan liyan.

Memang, arsitektur naungan tanpa pemahaman yang dalam akan dianggap sekedar arsitektur
atap sebagai solusi arsitektur tropis dan kemudian terjebak dalam perlombaan menganyam
wajah. Pada akhirnya, Arsitek sebaiknya mendahulukan penyelesaian masalah objektif(yang
membatasi proses), meningkatkan pengetahuan obyektif dan mengurangi pengetahuan palsu
(pseudo knowledge) melalui hubungan manusia dan tempat dan masalah lainnya tanpa mengurangi unsur subyektif seperti hiburan, kreativitas dan estetika. Arsitektur perlu dikritisi sehingga
berbagai bentuk salah persepsi dapat di hindarkan, lalu membagi kritik secara luas dampak
arsitektur sebagai pendidikan ke masyarakat, dibanding berkutat pada meniscayakan (sekedar)
Tampilan yang meng-Indonesia yang seringkali terjebak dalam politik identitas