Anda di halaman 1dari 8

BAB IX

PENETRASI BAHAN BAHAN BITUMEN

IX.1.

Tujuan Percobaan
Untuk menentukan besar penurunan atau penetrasi sebuah bitumen keras atau lembek

(solid atau semi lembek) dengan cara memasukkan jarum penetrasi berdiameter tertentu pada suhu
25 oC.

IX.2.

Teori
Penetrasi adalah penurunan jarum penetrasi menembus bitumen yang diakibatkan

pembebanan dengan berat yang tertentu, kecepatan, suhu dan waktu tertentu.
Percobaan dilakukan untuk mengetahui apakah harga penetrasi pada spesifikasi pada
produsen. Bila harga penetrasi hasil percobaan lebih kecil menunjukkan bahwa kondisi aspal lebih
kental atau keras, sedangkan bila harga penetrasi percobaan lebih besar berarti kondisi aspal lebih
lembek atau cair.
Spesifikasi Bina Marga untuk harga penetrasi pada iklim tropis Indonesia adalah AC
06/07 yaitu penetrasi sebesar (60-70 ) 0.01 mm.
Pengujian penetrasi ini adalah bentuk pengujian viskositas yang merupakan sifat utama
bitumen yang membatasi kebutuhan praktis di lapangan pada proses pencampuran, penggilasan,
dan pengujian aspal.
Dalam hal ini ketelitian tentang suhu sangat menentukan harga penetrasi bitumen adalah
material penyusun lapisan pekerasan jalan raya.
Jenis jenis bitumen:
1.

Aspal : Bitumen yang diperoleh dari minyak bumi

2.

Ter

: Bitumen yang diperoleh dari reduksi batubara

Aspal adalah bahan termoplastik yang ada pada penambahan suhu akan cair dan
sebaliknya pada pengurangan suhu.

Jenis jenis aspal:


1. Berdasarkan terjadinya
a. Aspal alam
b. Aspal buatan
2. Berdasarkan wujudnya
a. Aspal keras/panas adalah aspal yang digunakan dalam keadaan cair dan panas.
Aspal ini berbentuk padat di dalam penyimpanan.
b. Aspal cair/dingin adalah aspal yang digunakan dalam keadaan cair atau dingin.
c. Aspal elmusi adalah aspal yang disediakan dalam bentuk elmusi. Dapat digunakan
dalam keadaan dingin ataupun panas. Aspal elmusi dan cut back asphalt umumnya
digunakan pada campuran dingin atau penyemprotan dingin.
3. Berdasarkan nilai penetrasi
a. Type aspal 40/50 yaitu AC dengan penetrasi antara (40-59) 0.1mm
b. Type aspal 60/70 yaitu AC dengan penetrasi antara (60-79) 0.1mm
c. Type aspal 80/100 yaitu AC dengan penetrasi antara (80-99) 0.1mm
d. Type aspal 120/150 yaitu AC dengan penetrasi antara (120-199) 0.1mm
e. Type aspal 200/300 yaitu AC dengan penetrasi antara (200-300) 0.1mm

Di Indonesia biasa digunakan type aspal AC 60/70, berkaitan dengan sifat


termoplastisnya, AC type ini berwujud padat pada kondisi penyimpanan dan pada pekerjaan
penghamparan dalam keadaan panas dan cair di atas titik lembeknya tidak cepat mengental,
sehingga penetrasi akibat pemadatan lebih mudah.
Rumus rumus yang digunakan :

fi xi

x
, dimana x = nilai penetrasi rata rata
fi
Standard deviasi dirumuskan dengan:

SD =

fi.xi
fi

fi.xi

fi

Catatan :
1.

Pembacaan pada waktu stop watch yang kurang tepat (5

0.01) detik percobaan

dikategorikan batal.
2.

Toleransi yang diberikan adalah sebagai berikut:


Penetrasi
Toleransi (mm)

IX.3.

0-49
2

50-149
4

150-249
6

250-300
8

Peralatan yang digunakan


1. Alat penetrasi dengan ketelitian 0.1 mm
2. Pemegang jarum dengan berat (47 0.05) gram yang dapat dilepaskan dengan
mudah dari alat penetrasi untuk penurunan.
3. Pemengang jarum dengan berat (50 0.05) gram yang dapat dilepaskan untuk
mengukur penetrasi dengan beban 100 gr.
4. Jarum penetrasi yang terbuat dari stainless steel mutu 44 0C atau HRC 54-60, ujung
jarum harus berbentuk kerucut yang panjang.
5. Cawan dari bahan logam berbentuk silinder dengan dasar rata-rata. Dalam percobaan
ini penetrasi di bawah 200, maka cawan berukuran tinggi 35 mm dengan diameter 55
mm.
6. Bak perendam terbuat dari bejana dengan isi kurang lebih dari 10 liter dan dapat
mengukur suhu tertentu.
7. Tempat air untuk benda uji yang ditempatkan di bawah alat penetrasi yang isinya 350
ml dengan tinggi cukup untuk perendaman tanpa gerak.
8. Stop watch dengan skala pembagi kecil 0.1 detik atau kurang dari kesalahan tertinggi
0.1 detik per 60 detik.
9. Termometer untuk pengukur tinggi suhu.

IX.4.

Gambar Alat
Kuali
Kompor Gas

LPG
48 mm

Bejana

Bak Perendam

Termometer

Jarum penetrasi

Cawan

Pembacaa
n Dial

Pemberat

Tombol
Pemegang
kunci

Tiang

Plat
dudukan

Jarum
Penetrasi
Bejana
Cawan

IX.5.

IX.1
Pembuatan BendaGambar
Uji

Peralatan yang digunakan

1.

Panaskan sampel perlahan lahan sambil diaduk agar merata sampai suhu 150 oC.

2.

Setelah suhu di atas tercapai tuangkan aspal cair tersebut ke dalam cawan untuk
didiamkan hingga cukup dingin selama

IX.6.

30 menit.

3.

Tinggi sampel tidak kurang di atas penetrasi ditambah 10 mm.

4.

Kemudian sampel didinginkan yaitu 25 0C.

Prosedur Percobaan
1.

Periksa pemegang jarum, pastikan dapat berfungsi dengan baik, lalu diolesi
jarum penetrasi dengan gliserin dan bedak talcum, selanjutnya letakan pada pemegang
jarum.

2.

Tempatkan pemberat jarum.

3.

Letakan benda uji pada posisi persis di bawah jarum penetrasi.

4.

Dial dinolkan kemudian turunkan jarum penetrasi sampai menyentuh


permukaan aspal.

5.

Lepaskan pemegang jarum dengan cara menekan tombol secara


bersamaan, tombol stopwacth dijalankan hingga mencapai waktu 5 0.01 detik,
kemudian pemegang jarum dikunci kembali.

6.

Penetrasi yang terjadi dicatat dengan membaca penetrometer, dilakukan


hingga 0.1 mm terdekat.

7.

Lepaskan jarum penetrasi dan bersihkan untuk percobaan berikutnya.

8.

Percobaan dilakukan 3 kali berturut turut terhadap 1 benda uji titik


percobaan berjarak > 1 cm satu sama yang lain terhadap dinding cawan.

IX.7.

Analisa Data
Pembebanan Benda Uji 100 gr
Jumlah percobaan
sampel

penetrasi (x)

(fi.x)^2

Xrata

(fi)
I

II

III

68

70

62

70

68

66

72

fx 2
fi

4.624
4.356
5.184

68

4.356

608

41144

fx

ft

41144 2 608

9
9

100 % SD
X

100 % 13713.169
67.56

= 20297.764 %

P(100 gr) = (X + SD) 0,1 mm


= (67.56 + 13713.169) 0,1 mm
= 1378.073 mm

4.900
68

66

= 13713.169

CV

3.844

4.900

66

~ Untuk 100 gram pembebanan

66.67

=9

SD =

4.624

4.356

67.56

pembebanan benda uji 200 gr


Jumlah percobaan
sampel

penetrasi (x)

(fi.x)^2

Xrata

(fi)
1
I

II

III

150

22.500
148.67

148

148

21.904

152

23.104

149

148

21.904

135

18.225

149

147

21.609

1326

195.552

=9

149.67

143.67

~ Untuk 200 gram pembebanan


SD

fx

ft

fx 2

fi

195552 2 1326

9
9

= 65183.685

CV

100 % SD
X

100 % 65183.685
147.3

= 44241.527 %

P(200 gr) = (X + SD) 0,1 mm


= (147.3 + 65183.685) 0,1 mm
= 6532.983 mm

IX.8.

Kesimpulan
1. Besar penetrasi beban 100 gr

= (X + SD) 0,1 mm

21.904

22.201

22.201

147.3

= (67.56 + 13713.169) 0,1 mm


= 1378.073 Tidak memenuhi

2. Besar penetrasi beban 200 gr

= (X + SD) 0,1 mm
= (147.3 + 65183.685) 0,1 mm
= 6532.983 Tidak memenuhi

IX.9.

Saran
Diharapkan peralatan laboratorium diperbaiki.