Anda di halaman 1dari 10

Sari Pustaka

IMUNOLOGI INFEKSI

Oleh:
Christy Efiyanti

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM FKUI / RUMAH


SAKIT CIPTO MANGUNKUSUMO
JAKARTA
2014
IMUNOLOGI INFEKSI
0

Hampir semua patogen mempunyai fase ekstraseluler yang dapat diserang oleh
antibodi. Di permukaan sel epitel dapat diserang IgA dan sel inflamasi nonspesifik, di rongga
interstitial, darah atau limfe, melibatkan makrofag dan antibodi.
I.

IMUNOLOGI BAKTERI
Bakteri dari luar tubuh : diserang sistem imun nonspesifik (fagosit, komplemen, APP)
atau dinetralkan antibodi spesifik yang sudah ada dalam darah. Antibodi dan komplemen
dapat juga berperan sebagai opsonin oleh karena fagosit memiliki Fc-R dan reseptor
komplemen. Sel PMN maupun makrofag memiliki Fc-R untuk IgA. Sitokin inflamasi
seperti

IFN-

dapat

Beberapabakteri

meningkatkna

intraseluler

(dalam

ekspresi
monosit,

reseptor

tersebut

makrofag)

dengan

seperti

cepat.

mikobkateri,

L.monositogenes, S.tifi dan spesies brusela dapat menghindari pengawasan sistem imun
seperti antibodi. Dalam hal ini tubuh akan mengaktifkan sistem imun seluler seperti
respons CMI (CD4+, CD8+ dan sel NK).

A. Struktur bakteri
Menurut sifat patologik dinding sel, dibagi menjadi negatif-gram, positifgram, mikobakterium dan spirochaet. Protein dan polisakarida kapsul dapat
merangsang sistem imun humoral membentuk antibodi. Di luar membran plasama,
dinding sel bakteri terdiri atas mukopeptide yang disebut peptidoglikan merupakan
sasaran lisozim

Streptokok dibagi menurut sifat hemolisis eksotoksin (,,)dan menurut


antigen luar dinding sel (golongan A-Q). Golongan A hemolitik yang paling
patogen, tahan terhadap fagositosis. Protein M pada kapsul dapat menimbulkan
reaksi selular berat. Antigen bereaksi silang dengan otot jantung (demam reuma) dan
membentuk kompleks imun yang merusak ginjal. Protein M dapat dinetralkan oleh
antibodi.
Streptokok A (S.piogenes) patogen terpenting dalam klinik yang menyebabkan
infeksi farings, demam reuma akut, penyakit jantung dan sendi (non supuratif),
glomerulonefritis dan menimbulkan scarlet fever dengan toksin pirogenik yang
menimbulkan ruam khas. Salah satu toksin pirogenik merupakan superantigen.
Toksin lain bila dilepas menimbulkan edem dan miositis dengan nekrosis dan fasiitis.
Eksotoksin disekresi bakteri positif-gram (sigela dan kolera), bersifat
sitotoksik, dapat mengganggu fungsi normal sel tanpa membunuhnya dan
merangsang produksi sitokin yang menimbulkan penyakit, merusak fagosit, jaringan
setempat, SSP dan sebagainya yang dapat menimbulkan kematian. Protein-protein
tersebut disebut agresin yang membantu penyebaran bakteri dan menghancurkan
jaringan.
Mikroorganisme

yang

mengandung

lipid

pada

permukaan

seperti

N.meningitidis negatif-gram, dapat dihancurkan oleh imunoglobulin dengan batuan


aktivasi komplemen. Pada akhir respon imun semua bakteri dihancurkan fagosit.
Stafilokok merupakan penyebab penyakit oportunistik penyebab pneumonia,
osteomielitis, artritis septik, bakteremia, endokarditis dan infeksi kulit.
B. Imunologi bakteri ekstraseluler
Penyakit yang ditimbulkan dapat berupa inflamasi yang menimbulkan destruksi
jaringan dengan membentuk nanah/infeksi supuratif.

1. Imunitas nonspesifik
Utama adalah komplemen, fagositosis dan respons inflamasi. Bakteri yang
mengekspresikan manosa dapat diikat lektin yang homolog dengan C1q
mengaktifkan komplemen melalui jalur lektin, meningkatkan opsonisasi dan
fagositosis, MAC menghancurkan membran bakteri. Produk sampingan aktivasi
kkomplemen berperan dalam mengerahkan dan mengaktifkan leukosit. Fagosit
juga mengikat bakteri melalui berbagai reseptor permukaan lain seperti Toll-like
receptor yang meningkatkan aktivasi leukosit dan fagositosis. Fagosit yang
diaktifkan juga melepas sitokin yang menginduksi infiltrasi leukosit ke tempat
infeksi. Sitokin juga menginduksi panas dan sintesis APP.
2. Imunitas spesifik
a. Humoral
Th2 memproduksi sitokin yang merangsang respon sel B, aktivasi makrofag
dan inflamasi. Komplikasi lambat respon imun humoral dapat berupa
penyakit yang ditimbulkan antibodi, contoh demam reuma, karditis,
glomerulonefritis.
b. Sitokin
3

Toksin seperti superantigen mampu mengaktifkan banyak sel T sehingga


menimbulkan produksi sitokin dalam jumlah besar dan kelainan seperti pada
syok septik.
C. Imunologi bakteri intraseluler
Ciri utama kemampuan hidup dan berkembang biak dalam fagosit.
1. Imunitas nonspesifik
Efektor utama adalah fagosit dan sel NK. Bakteri intraseluler dapat mengaktifkan
NK secara direk atau melalui aktivasi makrofag yang memproduksi IL-12, sitokin
poten yang mengaktifkan sel NK. Sel NK memproduksi IFN- yang kembali
mengaktifkan makrofag.
2. Imunitas spesifik
Produksi utama berupa imunitas seluler, terdiri atas 2 tipe reaksi yaitu sel CD4 +,
Th1 yang mengaktifkan makrofag (DTH) yang memproduksi IFN- dan sel
CD8+/CTL, yang memacu pembunuhan mikroba serta lisis sel terinfeksi. Bakteri
intraseluler seperti Listeria monositogenes dapat hidup dalam fagosom dan
masuk ke sitoplasma. CD4+ memberi respon terhhadap peptida antigen-MHC-II
asal bakteri intravesikuler, memproduksi IFN- yang mengaktifkan makrofag
untuk menghancurkan mikroba dalam fagosom. Sel CD4+ naif dapat
berdiferensiasi menjadi sel Th1yang mengaktifkan fagosit untuk membunuh
mikroba yang dimakan dan sel Th2 yang mencegah aktivasi makrofag.
II. IMUNOLOGI VIRUS
A. Struktur virus
Terdiri atas kapsid yang melindungi bahan genetik, keduanya disebut nukleokapsel.
Antigen envelop virus dapat dijadikan sasaran antibodi yang dapat mencegah infeksi
pejamu, memacu pembunuhan virus bebas dengan bantuan komplemen. Beberapa
protein virus tersebut diproses dan dipresentasikan ke sel Tc/CTC (Cytotoxic T cell)
melalui MHC-1. Infeksi dapat juga mneginduksi produksi berlebihan protein pejamu
seperti protein respon stres atau mengubah produksi atau peptide yang diikat MHC-1
mengakibatkan matinya sel terinfeksi oleh sel Tc atau NK. Akhirnya protein envelop

virus diekspresikan pada membran sel yang terinfeksi sehingga sel menjadi sasaran
ADCC atau dihancurkan melalui bantuan komplemen.

B. Respons imun terhadap virus


Respon imun terhadap protein virus melibatkan sel T dan B. Antigen virus yang
menginduksi antibodi dapat menetralkan virus dan sel T sitotoksik yang spesifik
merupakan imunitas paling efisien pada imunitas proteksi terhadap virus.
1. Imunitas nonspesifik humoral dan seluler
Efektor yang berperan adalan IFN tipe I dan sel NK yang membunuh sel
terinfeksi. Infeksi banyak virus disertai produksi RNA yang merangsang sel
terinfeksi untuk sekresi IFN tipe 1, mungkin melalui ikatan dengan TLR. IFN tipe
1 mencegah replikasi virus dalam sel terinfeksi dan sel sekitarnya yang
menginduksi lingkungan anti-viral. IFN- dan IFN- mencegah replikasi virus
dalam sel yang terinfeksi. Sel NK mengenal sel terinfeksi tanpa memerlukan
bantuan molekul MHC-1.
2. Imunitas spesifik
a. Imunitas spesifik humoral
Antibodi merupakan efektor dalam imunitas spesifik humoral terhadap infeksi
virus, diproduksi dan hanya efektif dalam fase ekstraseluler. Dapat berperan
sebagai

opsonin

fagosit.Aktivasi

yang

meningkatkan

komplemen

juga

eliminasi

partikel

meningkatkan

virus

oleh

fagositosis

dan

menghancurkan virus dengan envelop lipid secara langsung. IgA yang


5

disekresi mukosa berperan terhadap virus yang masuk melalui mukosa


saluran nafas dan cerna.
b. Imunitas spesifik seluler
Tergantung dari sel CD8+/CTL (Cytotoxic T lymphocyte) yang membunuh sel
terinfeksi. Fungsi CTL utama pemantauan terhadap infeksi virus. CTL
mengenal

antigen

virus

yang

sudah

dicerna

dalam

sitosol,

berhubungandengan MHC-1 dalam setiap sel yang bernukleus. CD8+


memerlukan sitokin yang diproduksi sel CD4+ Th dan kostimulator yang
diekspresikan pada sel terinfeksi untuk diferensiasi penuh. Sel jaringan yang
terinfeksi (bukan APC) dapat dimakan oleh APC profesional seperti sel
dendritik

yang

selanjutnya

memproses

antigen

virus

dan

mempresentasikannya bersama molekul MHC-1 ke sel CD8+ naif di KGB.


Sel CD8+ naif yang diaktifkan berdiferensiasi menjadi sel CTL efektor yang
dapat membunuh semua sel bernukleus yang terinfeksi.
C. CTL sebagai efektor
Hati penderita dengan hepatitis akut dan kronik aktif mengandung sejumlah besar sel
CD8+/CTL yang MHC-1 dependen dan virus hepatitis spesifik
D. Mekanisme virus menghindari respons imun
1. Virus mengubah antigen (mutasi)
2. Beberapa virus menghambat presentasi antigen protein sitosolik yang
berhubungan dengan molekul MHC-1.
3. Beberapa jenis virus memproduksi molekul yang mencegah imunitas nonspesifik
dan spesifik
4. Virus dapat menginfeksi, membunuh atau mengaktifkan sel imunokompeten
5. HIV dapat tetap hidup dengan menginfeksi dan mengeliminasi sel T CD4+
III. IMUNOLOGI JAMUR
A. Sel efektor pada infeksi jamur
Neutrofil merupakan sel terefktif, jamur merangsang produksi sitokin seperti IL-1
dan TNF- infiltrasi neutrofil ke tempat infeksi membuynuh jamur oksigen

dependen dan independen yang toksik. Makrofag alveolar sel pertahanan pertama
terhadap spora jamur yang terhirup. Bila gagal makrofag mengaktivasi sel Th1
granuloma. Sel NK melepaskan granul yang mengandung sitolisin, juga dapat
membunuh langsung dengan memproduksi sitokin seperti TNF dan IFN- yang
mengaktifkan sel NK.
B. Imunitas nonspesifik
Sawar kulit dan membran mukosa, faktor kimiawi dalam serum dan sekresi kulit
berperan dalam imunitas nonspesifik. Efektor utama neutrofil dan makrofag.
Neutrofil melepas bahan fungisidal seperti ROI dan enzim lisosom serta memakan
jamur untuk dibunuh intraseluler.
C. Imunitas spesifik
CMI merupakan efektor imunitas spesifik utama terhadap infeksi jamur, CD4+ dan
CD8+bekerja sama untuk menyingkirkan bentuk K.neoformans.
IV. IMUNOLOGI PARASIT
A. Imunitas nonspesifik
Utama fagositosis, meski banyak parasit resisten terhadap efek lisis komplemen.
B. Imunitas spesifik
Antigen yang dilepas parasit berfungsi sebagai mitogen poliklonal sel B yang T
independen. Pertahanan terhadap infeksi cacing dengan aktivasi sel Th2 sel CD4+
yang melepas IL-4 dan IL-5, IL-4 merangsang produksi IgE, IL-5 merangsang
perkembangan dan aktivasi eosinofil. Eosinofil diaktifkan sekresi granul enzim
yang menghancurkan parasit. Parasit yang masuk ke lumen saluran cerna, pertama
dirusak oleh IgG, IgE dan juga dibantu ADCC. Degranulasi sel mast/basofil yang IgE
dependen histamin spasme usus tempat cacing hidup. Eosinofil menempel pada
cacing melalui IgG/IgA dan melepas protein kationik, MBP dan neurotoksin. PMN
dan makrofag menempel melalui IgA/IgG dan melepas superoksida, oksida nitrit dan
enzim yang membunuh cacing.

C. Mekamisme parasit menghindar sistem imun


1. Pengaruh lokasi, secara anatomis tidak terpajan sistem imun
2. Parasit mengubah antigen
3. Supresi sistem imun pejamu
4. Resistensi
5. Hidup dalam sel pejamu
D. Malaria
Sel CD8+ dapat menghancurkan parasit yang sudah ada dalam hati, IFN- oleh sel
CD8+ dan CD4+ lebih berperan untuk mengontrol replikasi parasit dibanding
aktivasi lisis direk. Sel Th1 memproduksi sitokin proinflamasi yang memacu aktivasi
makrofag dan destruksi sel darah merah terinfeksi.
E. Skistosomiasis
IgE dan eosinofil tinggi merupakan gambaran kunci skistosoma manusia dan hewan,
peran dalam imunitas masih belum jelas.
F. Sel mast pada infeksi cacing
Sel mast mukosa diperlukan untuk pengeluaran bebrapa spesies. Sel mast mengikat
IgE pada permukaan parasit melalui Fc-R dengan afinitas tinggi. Peningkatan IgE
merupakan bagian penting dari degranulasi sel mast yang terarah untuk melepas

mediator atau merupakan epifenomen yang merupakan sebagian dari peningkatan


masif yang diinduksi IL-4 yang diproduksi CD4+.
G. Eosinofil pada imunitas cacing
Eosinofil diperlukan untuk menghancurkan larva yang masuk jaringan.
H. Makrofag dan nitrit untuk membunuh parasit
Makrofag memproduksi sitokin untuk mengontrol dan menyingkirkan parasit
memproduksi NO yang sitotoksik atau sitostatik. IFN- bekerja sinergis dengan IFN meningkatkan produksi NO dengan menginduksi sintase oksida nitrit (NOS).
Sitokin TGF- dan IL-10 menghambat produksi NO oleh makrofag.
I. Sel CD8+ membunuh parasit protozoa intrasitoplasmik
Melalui jalur presentasi antigen endogen, merupakan sasaran untuk sel CD8+.