Anda di halaman 1dari 15

TUGAS PENGOLAHAN DATA NON

SEISMIK
MATCHING CURVE

Nama : Septiwiandari
NIM : 125090707111007

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Ada beberapa macam metoda yang digunakan untuk menginterpretasi data resistivitas. Salah
satu cara yang cukup sederhana adalah dengan metoda pencocokan kurva (curve matching).
Metoda pencocokan kurva ini bisa dilakukan karena :
Dari pengukuran dilapangan kita akan mendapatkan harga-harga resistivitas semu sebagai
fungsi dari spasi elektroda

as =f (

AB
)
2

atau

log as =log f (

AB
)
. Persamaan ini sama
2

dengan persamaan logaritmis yang telah diturunkan terdahulu, kecuali bahwa untuk kurva
yang pertama telah mengalami pergeseran sejajar dengan sumbu-sumbu koordinatnya
Teknik Curve Matching adalah mencocokkan kurva tahanan jenis semu hasil pengukuran
lapangan dengan kurva tahanan jenis semu yang dihitung secara teoritis. Struktur berlapis
mempunyai tahanan jenis dan ketebalan lapisan yang sangat banyak variasinya, sehingga kita
perlu kurva tahanan jenis semu teoritis ( standar atau baku ) struktur berlapis yang
mempunyai variasi yang sangat banyak juga. Pemilihan kurva bantu yang paling cocok
dengan kurva tahanan jenis yang diperoleh di lapangan, memerlukan waktu yang lama karena
variasi kurva baku yang banyak tersebut. Dua hal itulah yang merupakan kendala kendala
dalam penggunaan Curve Matching.
Untuk menghindari kendala kendala tersebut, digunakan teknik Curve Matching struktur
medium 2 lapis yang terdiri 2 kurva baku dan 4 kurva bantu. Hal ini dapat dilakukan karena
struktur banyak lapis dapat dianggap sebagai struktur 2 lapis yang setiap lapisannya dapat
diwakili oleh 1 atau kombinasi banyak lapis. Terdapat 2 jenis kurva baku, yaitu kurva baku
2 < 1
2 > 1
struktur 2 lapis yang menurun
dan naik
. Sedangkan 4 tipe kurva bantu
tersebut adalah ( Mooney, 1966 ) :
a. Kurva Bantu Tipe H
Tipe ini lengkungnya berbentuk pinggan ( minimum di tengah ). Dibentuk oleh 2
lengkung baku, yaitu depan menurun dan belakang naik. Dan terjadi seperti ada 3
1 > 2 < 3
lapisan dengan
. Dalam struktur 2 lapis, dianggap lapisan bawah lebih
resistan, sehingga arus mengalir paada lapisan semu rapat arus berbanding terbalik
terhadap tahanan jenisnya. Sehingga total konduktansinya sama dengan jumlah dari
masing masing konduktan.

b. Kurva Bantu Tipe A

Kurva ini mencerminkan harga yang selalu naik. Dibentuk oleh 2 kurva baku, yaitu
depan naik dan belakang turun. Sama seperti kurva bantu tipe H, tipe A ini terjadi

seperti ada 3 lapisan dengan

1 < 2 < 3

. Dan dengan cara yang sama seperti pada

kurva tipe H pula, kurva bantu tipe A dapat diperoleh dari rumusan :

c. Kurva Bantu Tipe K

Lengkung kurva ini berbentuk bell (maksimum di tengah ). Dibentuk 2 lengkung


1 < 2 > 3
baku, yaitu depan naik dan belakang turun. Seperti 3 lapisan dengan
.
Kurva bantu tipe K diperoleh dari rumusan :

Dimana

adalah angka banding ketidak isotropan.

d. Kurva Bantu Tipe Q

Kurva ini mempunyai harga selalu turun. Dibentuk oleh 2 kurva baku, yaitu depan
1 > 2 > 3
turun dan belakang juga turun. Seperti 3 lapis dengan
. Kurva Bantu tipe
Q diperoleh dari rumusan :

adalah faktor kemerosotan atau penurunan yang bergantung pada kontras

tahanan jenis antara lapisan pertama dan kedua yang tergantung pada perbandingan
ketebalannya.

Berikut adalah contoh penggambaran Mtaching Curve :

Interpretasi Matching Curve pada konfigurasi Schlumberger


Adapun langkah langkah interpretasi dengan kurva matching konfigurasi Schlumberger
adalah ( Waluyo, 2004 ):

a. Plot data lapangan pada kertas transparan dengan skala log log dengan absis AB/2
(setengah jarak elektroda arus ) dan ordinat a ( tahanan jenis semu ).
b. Matchingkan lengkung data lapangan dengan lengkung baku. Cari lengkung baku
yang paling cocok ( 2/1 ).
c. Plot titik silang P1 ( titik potong garis a /1 =1 dan AB/2 =1 ) pada kertas data
lapangan. Titik P1 mempunyai arti yang penting karena ordinatnya adalah harga
tahanan jenis lapisan pertama dan absisnya adalah kedalaman lapisan pertama.
d. Tentukan tahanan jenis lapisan kedua yaitu 2 = 1 x 2/1.
e. Pilih lengkung bantu yang cocok dengan pola lengkung data. Lalu letakkan pusat
lengkung bantu berhimpit dengan titik silang P1 lalu pilih harga sama dengan 2/1.
f. Plot lengkung bantu diatas lembar data lapangan dengan garis putus putus.
g. Ganti lengkung bantu dengan lengkung baku. Telusurkan pusat lengkung baku diatas
garis putus putus yang telah dibuat sampai match dengan data di belakang data yang
telah di interpretasi.
h. Setelah cocok catat harga 3/2 , plot titik kedua P2 pada kertas data (letak pusat
lengkung baku).
i. Koordinat titik P2 memberikan harga kedalaman lapisan kedua (absis) dan tahanan
jenis 2 (ordinat).
j. Tentukan tahanan jenis lapisan ketiga 3 = 2 x 3/2.
k. Bila masih ada data yang belum diinterpretasi, langkah selanjutnya sama seperti 10
poin diatas. Diteruskan hingga data terakhir yang merupakan kedalaman lapisan
terakhir (dasar).
Perlu diketahui bahwa diantara keempat jenis tipe lengkung bantu yang ada, lengkung
bantu tipe H merupakan lengkung bantu yang paling mudah penggunaannya, karena harga
h2/h1 dapat diperoleh langsung dengan menarik garis sejajar sumbu ordinatnya, dan harga h
tidak perlu dikoreksi. Sedangkan tipe A, K dan Q memerlukan koreksi untuk menentukan
ketebalannya. Harga ketebalan merupakan harga h dikalikan dengan faktor koreksi.
Berdasarkan jurnal dari Surdaryo Broto dan Rohima Sera Afifah dari Teknik Geologi
Fakultas Teknik Universitas Dipenogoro dengan judul jurnalnya Pengolahan Data Geolistrik
Dengan Metode Schlumberger. Dalam jurnalnya disebutkan bahwa pengolahan data
geolistrik dengan metode Schlumberger dapat dilakukan melalui 2 tahap pengerjaan yaitu :
a. Pekerjaan Pra-Survei
Tahapan dalam pelaksanaan pra survey adalah :
1. Mencatat Posisi dan ketinggian lokasi.
2. Pemetaan geologi jenis batuan dan penyebarannya (urutan stratigrafi).
3. Mendeskripsikan jenis batuan (struktur, tekstur, komposisi mineral).
b. Survei Lapangan
Tahapaan dalam pelaksaaan survey lapangan adalah :
1. Mengukur kedalaman sumur-sumur gali (lubang bor) guna untuk mengamati
mineral yang khas dan penghantar listrik.
2. Mengukur resistivitas sebaiknya menghindari tiang listrik, aliran air permukaan,
rentangannya tegak lurus aliran air permukaan atau tisng listrik.
3. Mendeskripsikan jenis batuan (struktur, tekstur, komposisi mineral).

Analisis data dilakukan dengan 2 cara yaitu Matching Curve dan Software IPI2WIN
berdasarkan Sharma, P.V., (1997), teknik matching curve merupakan suatu bagian dari proses
penginterpretasian secara Vertical Electric Sounding (VES) yang diperoleh data berupa
horisontal. Metode ini melibatkan suatu perbandingan dari pengukuran kurva a dengan
beberapa kurva induk. Teknik kurva penafsiran untuk interpretasi Schlumberger kurva VES
menggunakan Ebert Garp dan dua lapisan kurva induk sebagai berikut :
1. Masing-masing kurva tahanan jenis didekati atau disamakan dengan salah satu jenis
lapisan untuk 2 lapisan.
2. Koordinat tegak pada kurva dua lapisan dipertimbngkan untuk penentuan ketebalan
dan tahanan jenis suatu lapangan menggantikan urutan lapisan.
3. Untuk mendapatkan beberapa parameter untuk lapisan yang sama, digunakan satuan
grafik pada koordinat grafik menjadi perbandingan dari ketebalan lapisan yang
menggantikan untuk lapisan dasar. Parameter tahanan jenis adallah perbandingan.
Perbandingan antara ketebalan dengan diplotkan di double-log.
4. Empat stuan alat bantu titik tabel seperti yang tersedia untuk tipe H, A, K, dan Q.
Interpretasi Matching Curve pada konfigurasi Wenner
Berdasarkan jurnal dari Subardjo, M. Nordin, Siamet Sudarto, Setya Darmono dengan judul
Pengukuran Geolistrik Tahanan Jenis Untuk Pencarian Sumber Air Tanah di Cipanas Jawa
Barat. Tata kerja pada jurnal ini adalah untuk mendapatkan data kedalaman dan keberadaan
lapisan yang mengandung air, dilakukan langkah-Iangkah sebagai berikut :
1. Mempelajari geologi sekitar daerah penelitian
2. Menentukan titik-titik pengukuran dengan spasi (a) 200 m menggunakan konfigurasi
Wenner. Sebagai contoh untuk mendapatkan kedalaman i: 100 m maka bentangan
kabel mencapai C1-C2/2 = 300m.
3. Memilih lintasan yang mempunyai kemiringan< 20
4. Pengamatan air sumur penduduk di sekitar daerah penelitian(Wisma BATAN)
Pengolahan dan evaluasi data yang diperoleh dilaksanakan dengan cara sebagai
berikut :
1. Kurva lengkung clan kurva bantu secara "matching" basil pengukuran geolistrik
dengan konfigurasi Wenner berupa harga tahanan jenis semu (pa) ini dituangkan
diatas kertas log - log sebagai ordinal, sedangkan kedalaman sebagai absis. Dari
pertemuan titik-titik ini dihubungkan dan menghasilkan kurva, kemudiandicocokkan
dengan kurva standar clankurva bantu akan didapatkan harga ketebalan dan tahanan
jenis sebenamya masing-masinglapisan.
2. Grafik Barnes
Harga tahanan jenis semu (a) dicari harga 1/R, kemudian harga 1/RL =
1
R 4 ( NH )

1/ R(RN )

hasilnya

L=

2 . A
1/ RL

, merupakan tahanan jenis sebenamya.

Hasil

ini dibuat hubungan antara tahanan jenis semu dan kedalaman akan

menghasilkan kurva secara vertikal, dari perubahan-perubahan puncak ini ( peak )


dapat diinterpretasikan sebagai batas lapisan.
3. Kumulatif Moore
Hasil harga tahanan jenis semu dalam ohm - m dijumlahkan disesuaikan dengan
keloID kedalaman pada label, kemudian menghubungkan titik menjadi garis yang
diperoleh dari harga tahanan jenis (absis) dan kedalaman (ordinat). Dari garis ini akan
didapatkan perpotongan-perpotongan yang merupakan batas lapisan.
Dari pengambilan data serta pengolahan data telah dilakukan maka menghasilkan :
Dari hasil pengukuran geolistrik dengan konfigurasi Wenner didapatkan tahanan jenis semu,
untuk mendapatkan tahanan jenis sebenarnya dan kedalaman lapisan yang mengandung air
( aquifer) dilakukan dengan tiga cara pengolahan data antara lain Wenner, Barnes dan Moore.
Cara Wenner harga tahanan jenis semu ini dituangkan pada kertas log-log,tahanan jenis semu
pada ordinat clan kedalaman (a) pada absis, hasil pertemuan akan didapatkan titik-titik dalam
bentuk kurva. Dengan menggunakan kurva standar dan kurva bantu maka akan didapatkan
harga tahanan' jenis sebenarnya dan ketebalannya, dari harga ini dibuat titik penampang titik
duga tegak lurus ke bawah permukaan tanah sesuai dengan besaran ketebalan dan tahanan
jenis (Gambar 4).
Cara Barnes dengan rumus 1/R,
1
1/ RL=
1/ R(RN)
R 4 ( NH )

L=

2 . A
1/ RL

akan didapatkan harga tahanan jenis sebenarnya dengan cara membuat hubungan
tahanan jenis dan kedalaman akan didapatkan kurva (Gambar 4).
Cara Moore harga tahanan jenis semu dihitung secara kumulatif sesuai dengan kedalaman
pada tabel, dengan cara membuat hubungan kedalaman dan tahanan jenis akan didapatkan
titik, titik ini dihubungkan akan menghasilkan garis perpotongan.