Anda di halaman 1dari 11

PERCOBAAN I

PEMISAHAN FRAKSI SENYAWA HUMAT


I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memisahkan fraksi
senyawa humat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik
yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses
dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya
yang

mengakibatkan

rendahnya

tingkta

perkembangan

biota

pengurai.

Pembentukan tanah gambut merupakan proses deposisi dan transportasi, berbeda


dengan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan
proses pedogenik (Winarso, 2005).
Tanah gambut di bagi dalam empat kategori berdasarkan ketebalan lapisan
bahan organiknya, yaitu gambut dangkal (50-100 cm), gambut tengahan (100-200
cm), gambut dalam (200-300 cm), dan gambut sangat dalam (>300 cm).
Kedalaman gambut dan tanah mineral yang ada dibawahnya sangat menentukan
komposisi kimia tanah-tanah gambut. Tingkat kesuburan lapisan atas dari gambut
adalah lebih miskin unsur hara essensial daripada lapisan atas dari gambut
dangkal (Syarief, 1986).
Kendala dari segi sifat kimia tanah gambut yang sering dijumpai adalah: (1)
reaksi tanah tergolong sangat masam yang berasal dari berbagai asam organic
yang terbentuk selama pelapukan, (2) kandungan hara makro dan mikro rendah,
(3) kapasitas tukar kation yang tinggi, sedangkan kejenuhan basa rendah sehingga
kation-kation Ca, Mg, dan K sukar tersedia bagi tanaman (Halim dan Soepardi,
1987), (4) kandungan asam-asam organik tanah tinggi yang berpengaruh langsung
dan dapat meracuni tanaman, terutama asam fenolat, (5) tata air yang buruk.
Sumber gambut adalah asam-asam organik (Winarso, 2005).
Keasaman pada tanah gambut berhubungan dengan konsentrasi ion H + dan
asam-asam organik. Nilai pH tanah gambut ideal adalah sekitar 5,5; pH lebih
tinggi menurunkan ketersediaan P, Mn, Bo, dan Zn, sedangkan tanah-tanah yang

sangat masam menyebabkan kekhahatan N, P, Ca, Bo, Cu dan Mo (Anonimus,


2007).
Gambut banyak mengandung senyawa organik yang mampu membentuk
senyawa kompleks dengan kation-kation logam. Gugus fungsi yang mengandung
oksigen seperti C=O, -OH, serta COOH merupakan tapak reaktif dalam
pengikatan ion. Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai
sumber ebergi. Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan sejumlah 4 triliun
m3, yang menutupi wilayah sebesar kurang-lebih 3 juta km atau sekitar 2% luas
daratan di dunia, dan mengandung potensi energy kira-kira 8 milyar terajoule
(Hardjowigeno, 1987).
Tanah gambut terbentuk dari timbunan bahan organik, sehingga kandungan
karbon pada tanah sangat besar. Fraksi organik tanah gambut di Indonesia lebih
dari 95% kuranf dari 5% sisanya adalah fraksi anorganik. Fraksi organic terdiri
atas senyawa-senyawa humat sekitar 10 hingga 20%, sebagian besar terdiri atas
senyawa-senyawa

non-humat

yang

meliputi

senyawa

lignin,

selulosa,

hemiselulosa, lilin, suberin, dan sejumlah kecil protein. Sedangkan senyawasenyawa humat terdiri atas asam humat, himatomelanat, dan humin. Tanah
gambut mempuunyai tingkat kemasaman yang relative tinggi dengan kisaran pH
3-4. Tingkat kemasaman tanah gambut berhubungan erat dengan kandungan
asam-asam organik, yaitu asam humat dan asam fulvat (Hartatik dkk, 2004).
Bahan organik yang telah mengalami dekomposisi mempunyai gugus reaktif
karboksil dan fenol yang bersifat sebagai asam lemah. Diperkirakan 85-95%
sumber kemasaman tanah gambut disebabkan karena kedua gugus karboksil dan
fenol tersebut. Kemasaman tanah gambut cenderung menurun seiring dengan
kedalaman gambut. Pada lapisan atas pada tanah gambut dangkal cenderung
mempunyai pH lebih tinggi dari gambut tebal. Pengapuran tanah gambut dengan
tujuan meningkatkan pH tidak terlalu efektif, karena kadar Al gambut yang
rendah. Umumnya pH gambut pantai lebih tinggi dan tanahnya lebih subur
dibandingkan dengan gambut pedalaman karena adanya pengayaan basa-basa dari
air pasang surut (Hartatik dkk, 2004).
Asam-asam fenolat tersebut berpengaruh menghambat perkembangan akar
tanaman dan penyediaan hara di dalam tanah. Asam-asam fenolat pada konsen-

trasi 250 M menurunkan sangat nyata serapan kalium oleh tanaman barley. Asam
salisilat dan ferulat menyebabkan terhambatnya serapan kalium dan fosfor oleh
tanaman gandum, serta asam ferulat pada konsentrasi 500-1.000M menurunkan
serapan fosfor pada tanaman kedelai. Konsentrasi asama fenolat sebesar 0,6-3,0
M dapat menghambat pertumbuhan akar padi sampai 50% sedangkan pada
konsentrasi 0,001 hingga 0,1 M dapat menggangu pertumbuhan beberapa
tanaman (Hartatik dkk, 2004).
Humin merupakan fraksi senyawa humat yang tidak larut dalam air pada
semua kondisi pH dan larutan alkali dengan warna hitam. Kompleks humin
merupakan senyawa dengan berat molekul yang tinggi jika dibandingkan dengan
kompleks karbohidrat. Humin dalam tanah lebih lama mengalami dekomposisi
jika dibandingkan dengan fraksi humat lainnya. Beberapa fungsi humin di dalam
tanah antara lain adalah untuk meningkatkan daya serap air tanah, menjaga
kestabilan tanah, dan meningkatkan kesuburan tanah. Berdasarkan fungsi tersebut
di atas maka humin dapat dikatakan sebagai komponen dalam kesuburan tanah
Humin sendiri adalah residu padat yang terbentuk setelah adanya proses ekstraksi
humus dalam alkali. Untuk memisahkan komponen organik humin dari komponen
anorganiknya maka humin didekstruksi dengan menggunakan campuran hidrogen
fluorida dan asam klorida dimana komponen anorganiknya akan mengalami
dekomposisi namun komponen organiknya sendiri juga akan mengalami
perubahan secara signifikan (Nurmasari dkk, 2014).
III.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas kimia, neraca
analitik, pengaduk kayu, pengaduk magnetik, toples plastik, dan kertas
saring.
B. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tanah gambut
(Kec. Gambut), indikator pH, akuades, HF, HCl, NaOH dan AgNO3.
IV.

CARA KERJA
1. Sebanyak 400 gram tanah gambut dimasukkan ke dalam wadah plastik

2. Sebanyak 4 L larutan NaOH 0,1 (1:10 kg/L) ditambahkan, sambil diaduk


dengan pengaduk kayu selama 30 menit. Kemudian didiamkan selama 24
jam.
3. Supernatan yang terbentuk didekantir dan ditambahkan dengan HNO3 6 N
hingga pH, setelah itu didiamkan selama 24 jam.
4. Supernatan yang terbentuk dibuang dengan cara didekantir, endapan asam
humat dimurnikan dengan HCl 0,1 N dan HF 0,1 N (1:1). Kemudian
didiamkan selama 24 jam.
5. Endapan yang dihasilkan dibilas dengan akuades agar bebas dari Cl-.
Endapan disaring menggunakan kertas saring whatman no.42, kemudian
dikeringkan dalam oven dengan suhu & 70oC.

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil dan Perhitungan
1 Data Hasil Pengamatan
No

Langkah Kerja

Hasil Percobaan

.
1.

Sebanyak 400 g tanah gambut dimasukkan

Massa asam humat kotor =

dalam wadah plastik

400 gram

2.

Sebanyak 4 L NaOH (1:10 kg/L) ditambahkan,


diaduk selama 30 menit, didiamkan selama 24
jam.

3.

Supernatan yang terbentuk didekantir.


ditambahkan dengan HNO3 6 N hingga pH 1,
didiamkan selama 24 jam.

4.

Supernatan yang terbentuk didekantir, endapan


asam humat dimurnikan dengan HCl 0,1 N dan
HF 0,1 N (1:1), didiamkan selama 24 jam.
Endapan yang dihasilkan dibilas dengan

5.

akuades.
Endapan disaring menggunakan kertas saring

6.
2

whatman no.42 dan dikeringkan dalam oven

dengan suhu & 70oC.


Perhitungan

Massa asam humat murni =


33,59 gram

Berat asam humat murni yang di dapat = 33,59 gram


Berat asam humat murni
Rendemen % = Berat asam humat kotor x 100%
33,59 gram
= 400 gram

x 100%

= 8,3975 %
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan diatas dapat diketahui bahwa analisa kimia
tanah itu dilakukan agar dapat mengetahui kadar pH. Pada percobaan ini, tanah
gambut yang diambil adalah tanah gambut di belakang RS Jiwa Sambanglihum.
Bentuknya halus dan berwarna cokelat pekat karena telah dikeringkan dan diayak.
Air tanah adalah air dibawah permukaan tanah dimana rongga-rongga
didalam tanah pada hakekatnya terisi oleh air. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kadar air tanah antara lain kedalaman lapisan tanah, semakin
dalam lapisan tanah maka ketersediaan kadar air juga semakin banyak. Kedua
adalah faktor iklim dan lingkungan tumbuhan mempunyai pengaruh berarti,
karena perubahan temperatur dan perubahan udara akan berpengaruh pada
efisiensi penggunaan air tanah. Faktor lain yang mempengaruhi adalah tekstur
tanah.
Larutan NaOH diketahui sangat efektif dalam mengekstrak senyawa humin,
dimana senyawa humin tidak larut dalam NaOH dan humin berada di fase
padatnya. Larutan 0,1 N NaOH lebih disukai karena sifat ekstraksinya tidak
terlalu kuat dibanding 0,5 N NaOH. Proses selanjutnya adalah pemurnian humin,
hal ini dilakukan dengan cara melarutkan humin hasil isolasi ke dalam larutan
campuran 0,1 N HCl dan 0,3 N HF. Kedua pereaksi tersebut berfungsi untuk
memisahkan kontaminan berupa bahan-bahan anorganik dari humin terutama
silika dan logam. Setelah itu baru endapan yang dihasilkan disaring dan dibilas
dengan akuades hingga endapan tersebut bebas dari Cl-. Endapan kemudian
dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 70oC. Endapan kering yang
dihasilkan merupakan humin murni. Dari hasil percobaan berat asam humat murni
adalah 33,59 gram dan rendemennya sebesar 6,718 %.
Pemurnian antara HF dan HCl bertujuan untuk membebaskan humin dari

pengotor bahan-bahan anorganik seperti lempung dan logam. pH tanah


menunjukkan sifat keasaman dan alkalinitas tanah, dengan menunjukkan
banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam tanah. Semakin tinggi kadar H+
dalam tanah semakin masam pula tanah tersebut. Bila tanah terlalu asam atau
terlalu basa maka tanaman akan tumbuh kurang sempurna sekalipun masih bisa
tumbuh dan menghasilkan buah. Apabila tanah tersebut berada dalam pH asam,
pH tersebut harus diturunkan yaitu dengan cara pemberian kapur serta
pemupukan. Dengan adanya peningkatan kejenuhan basa, maka pH akan naik dan
unsur hara tanah akan lebih mudah tersedia.
VI.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
1. Humin merupakan fraksi senyawa humat yang tidak larut dalam air pada
semua kondisi pH dan larutan alkali dengan warna hitam.
2. Dari hasil percobaan berat asam humat murni adalah 33,59 gram dan
rendemennya sebesar 6,718 %.
3. Pemurnian antara HF dan HCl bertujuan untuk membebaskan humin dari
pengotor bahan-bahan anorganik seperti lempung dan logam.

Anonimus. 2007. Menentukan keasaman pH meter dan tekanan kelembaban tanah


tensiometer.http://olovans.wordpress.com/2011/06/08/menentukan-tingkatderajat-keasamantanah-ph-meter-dan-tekanan-kelembaban-tanahtensiometer/Diakses 2 Desember 2014.
Berry , L.G and B.mason. 1959. Mineralogy. Concepta, Discription, Ditermination. W.
H. Freeman andco.san Francisco.
Buchman, Harry O. and Nyle C.Brady, 1969. Terjemahan Prof .Dr. Soegiman 1982.
Ilmu Tanah . Penerbit Bhratara Karya Aksara jakarta.
Grim , R. E, 1953. Clay Mineralogy, Mcgraw Hill Book co Inc. N. Y.
Hardjowigeno, Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Akademik Persindo ; Jakarta.
Driessen, P.M. and H. Suhardjo. 1976. On the defective grain formation of sawah rice
on peat. Soil Res. Inst. Bull. 3: 20 44. Bogor.
Endah, N. 2002. Tinjauan Teknis Tanah Gambut Dan Prospek PengembanganLahan
Gambut Yang Berkelanjutan. Pidato Pengukuhan Guru Besar ITSSurabaya.
Halim, A. 1987. Pengaruh pencampuran tanah mineral dan basa dengan tanah gambut
pedalaman Kalimantan Tengah dalam budidaya tanaman kedelai. Disertasi
Fakultas Pascasarjana, IPB. Bogor. 322p.
Hartatik, W., K. Idris, S. Sabiham, S. Djuniwati, dan J.S. Adiningsih. 2004. Pengaruh
pemberian fosfat alam dan SP-36 pada tanah gambut yang diberi bahan amelioran
tanah mineral terhadap serapan P dan efisiensi pemupukan P. Prosiding Kongres
Nasional VIII HITI. Universitas Andalas. Padang.
Khopkar, S.M. 2008.Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia (UIPress).

Notohadiprawiro. 1986. Pembentukan Tanah Mineral. Jakarta.


Muchsin, Yulianto. Fosfat. http://www.chem-is-try.com/ diakses 1 Desember 2014
Pasaribu.2007.

http://www.scribd.com/doc/13977716/Alfisol-Dan-Oxisol.

Diakses

tanggal 06 Desember 2014.


Salampak, 1999. Peningkatan produktivitas tanah gambut yang disawahkan dengan
pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar besi tinggi. Disertasi Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Subandi. 2007. Aldd dan Hdd pada tanah. http://www.googlebook.com// Diakses
tanggal 2 Desember 2014.
Syarief. 1986. Struktur dan Klasifikasi Tanah Mineral. Jakarta.
Wicaksono. 1952. Pengetahuan Ilmu Tanah. Jakarta.
Wiryawan, Adam. Spektrofotometer UV-VIS. http://www.chem-is-try.com/.diakses1
Desember 2014.
Winarso. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta.
Yulianti. 2007. Pertumbuhan Tanaman Pada Tanah Masam. Jakarta.