Anda di halaman 1dari 28

PEMERIKSAAN NERVUS FASIALIS ( N.

VII)
1. Pendahuluan
Nervus fasialis terlibat dalam berbagai kondisi patologis yang
mempengaruhi tulang temporal, mulai dari anomali kongenital sampai
gangguan degeneratif dan dari infeksius sampai kondisi neoplastik. Dalam
setiap kasus, pemahaman yang kuat tentang anatomi dan fisiologi yang
kompleks sangat penting untuk kemampuan dokter untuk mendiagnosa dan
mengobati gangguan nervus fasialis dengan kewaspadaan terhadap prognosis
ke depannya.[1]
2. Anatomi
Nervus fasialis merupakan salah satu nervus kranialis yang berfungsi
untuk motorik sensorik somatik, dan aferen eferen visceral. Gambar berikut
ini memperlihatkan cabang nervus fasialis beserta otot yang dipersarafinya.
Nervus fasialis memiliki dua subdivisi, yang pertama adalah yang
mempersarafi otot ekspresi wajah kemudian yang kedua memiliki serat yang
jauh lebih tipis yaitu intermediate yang membawa aferen otonom, somatik,
dan eferen otonom.[1]

Gambar 1. Nervus Fasialiss

Gambar 2. Otot yang dipersarafi nervus fasialis.[1]


Nervus fasialis memiliki 4 macam serabut, yaitu: [3-6]
1. Serabut somato-motorik, yang mensarafi otot-otot wajah (kecuali
m.levator palpebrae (N.III)), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian
posterior dan stapedius di telinga tengah.
2. Serabut visero-motorik (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivarius
superior. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum,
rongga hidung, sinus paranasal, dan glandula submaksilar serta sublingual
dan lakrimalis.
3. Serabut visero-sensorik yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua
pertiga bagian depan lidah.
4. Serabut somato-sensorik rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa
raba dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh
n.trigeminus. Daerah overlapping disarafi oleh lebih dari satu saraf
(tumpang tindih) ini terdapat di lidah, palatum, meatus akustikus eksterna
dan bagian luar gendang telinga.

Tabel 1. Nervus fasialis.[1]


Nama

Komponen

Saraf fasialis

Brankial eferen

Asal
Nukleus fasialis

Fungsi
Otot-otot ekspresi
wajah: M.platisma,
m.stilohioideus,

Saraf

Viseral eferen

intermediat

Viseral aferen

Nukleus

m.digastrikus
Nasal, lakrimal,

salivatorius

kelenjar liur

superior

(sublingual dan

Ganglion genikuli

submandibular)
Pengecapan 2/3

spesial
Somatik aferen

anterior lidah
Ganglion genikuli

Telinga luar,
bagian kanalis
auditorius,
permukaan luar
membran timpani
(sensibilitas)

A. Nervus Fasialis
Nukleus motorik terletak pada bagian ventrolateral tegmentum pontin
bawah dekat medula oblongata. Sewaktu di tegmentum pons, akson
pertama motorik berjalan dari arah sudut pontoserebelar dan muncul di
depan nervus vestibularis. Saraf intermediate muncul di antara saraf
fasialis motorik dengan vestibulokoklearis.[1]

Gambar 3. Letak nukleus nervus fasialis di batang otak dilihat dari dorsal.[1]

Gambar 4. Nukleus nervus fasialis dari samping.[1]


Nervus intermediate, nervus fasialis, dan nervus vestibulokoklearis
berjalan bersama ke lateral ke meatus akustikus internus.[1]

Gambar 5. Tempat keluarnya nervus fasialis dari kranium.[1]


Di dalam meatus akustikus internus, nervus fasialis dan intermediate
berpisah dengan nervus vestibulokoklearis.[1]

Gambar 6. Perjalanan beserta cabang dan efektor nervus fasialis.[7]


Nervus fasialis berjalan ke lateral ke dalam kanalis fasialis kemudian
ke ganglion geniculatum. Pada ujung kanalis tersebut, nervus fasialis
keluar kranium melalui foramen stilomastoideus.[1]

Gambar 7. Foramen stilomastoideus, tempat keluar nervus fasialis.[1]


Dari foramen tersebut, serat motorik menyebar ke wajah, beberapa
melewati glandula parotis. Nukleus motorik merupakan bagian dari arkus
refleks yakni refleks kornea dan refleks berkedip. Refleks kornea berasal
dari membran mukosa mata (aferen) dibawa melalui nervus V1
oftalmikus menuju ke nukleus sensorik trigeminus utama. Di nukleus
tersebut rangsang ditransmisikan ke neuron yang berhubungan dengan
nervus fasialis pada sisi yang sama. Bagian eferen dari refleks tersebut
berasal dari neuron eferen nervus fasialis.[1]
Refleks berkedip berasal dari mata (aferen) mengantarkan impuls
optiknya ke nukleus di tektobulbaris menyebabkan refleks berkedip jika
cahaya terang. Selain kedua refleks tersebut, impuls akustik yang berasal
dari

nervus

vestibulokoklearis

mencapai

nukleus

dorsalis

dan

menghasilkan arkus refleks berupa tegangan otot stapedius atau relaksasi.


[1]

Persarafan supranuklear dari nervus fasialis terletak pada kedua


hemisfer serebri untuk otot dahi, sedangkan otot wajah sisanya mendapat
persarafan dari girus presentralis kontralateral.[1]

Gambar 8. Jaras motorik nervus fasialis.[8]


B. Nervus Intermediate
Serat aferen gustatorius. Serat aferen pada gustatorik berasal dari
ganglion geniculatum yang berupa sel pseudounipolar dari ganglion
spinalis, sebagian lagi berasal dari papil lidah dua pertiga anterior. Serat
aferen tersebut berjalan bersama dengan nervus lingualis ( cabang nervus
mandibulari V3) menuju ke korda timpani kemudian ke ganglion
geniculatum menjadi nervus intermedius dan menuju ke nukleus solitarius.
Nukleus tersebut menerima impuls dari nervus glosofaringeal (sepertiga
posterior lidah) dan nervus vagus (dari epiglotis). Karena yang berperan
dalam sistem pengecapan terdiri dari 3 saraf yang berbeda maka
kehilangan pengecapan total (ageusia) jarang terjadi. Dari nukleus tersebut
impuls dikirim ke talamus kontralateral (nukleus ventroposteromedial)
menuju ke regio presentralis korteks area 43 dan insula area 52.[1]

Gambar 9. Jaras aferen gustatorik.[1]


Serat somatik aferen. Serat somatik aferen berasal dari pinna, meatus
akustikus eksternus, dan gendang timpani. Serat berjalan menuju ganglion
geniculatum menuju nukleus sensorik nervus trigeminus.[1]
Serat eferen sekretorik. Nervus intermedius terdiri dari serat
parasimpatis yang berasal dari nukleus salivatorius superior. Seratnya
meninggalkan nukleus menuju ganglion geniculatum lanjut ke ganglion
pterigopalatina dan menuju glandula lakrimal serta mukosa nasal.
Sebagian lagi menuju ganglion submandibula, lewat nervus lingualis.
Ganglion submandibula bertanggung jawab untuk sekresi glandula
submandibularis dan sublingualis berupa saliva. Aferen dari sistem ini
berasal dari sistem nervus olfaktorius. Glandula lakrimal menerima input
dari hipotalamus (emosi). Hal ini mengakibatkan jika mencium bau yang

enak akan terjadi sekresi saliva. Dan jika emosi meningkat atau sedih
maka akan terjadi lakrimasi.[1]

Gambar 10. Serat eferen sekretorik nervus intermedius.[1]


3. Pemeriksaan fisik neurologis
Tujuan pemeriksaan fungsi n. fasialis ialah untuk menentukan letak lesi
dan menentukan derajat kelumpuhan. Derajat kelumpuhan ditetapkan
berdasarkan hasil pemeriksaan fungsi motorik yang dihitung dalam persen.[4]
1) Fungsi Motorik
A. Pada saat diam perhatikan :[9]
a) Asimetris muka (lipatan nasolabial)
Bila asimetris (dari) muka jelas, maka hal ini disebabkan oleh
kelumpuhan jenis perifer. Dalam hal ini kerutan dahi menghilang,
mata kurang dipejamkan, plika nasolabialis mendatar dan sudut mulut
menjadi lebih rendah. Pada kelumpuhan jenis sentral (supranuklir)

muka dapat simetris waktu istirahat, kelumpuhan baru nyata bila


penderita disuruh melakukan gerakan misalnya ; menyeringai.
b) Gerakan-gerakan

abnormal

(tic

fasialis,

grimacing,

kejang

tetanus/rhisus sardonicus, tremor dan sebagainya)[3]


c) Ekspresi muka (Sedih, gembira, takut, seperti topeng).
Pada keadaan istirahat tanpa kontraksi maka tonus otot menentukan
terhadap kesempurnaan mimik/ekspresi muka. Freyss menganggap
penting akan fungsi tonus sehingga mengadakan penelitian pada setiap
tingkatan kelompok otot muka, bukan pada setiap otot. Cawthorne
mengemukakan bahwa tonus yang jelek memberikan gambaran prognosis
yang jelek. Penilaian tonus seluruhnya berjumlah lima belas (15) yaitu
seluruh terdapat lima tingkatan dikalikan 3 untuk setiap tingkatan. Apabila
terdapat hipotonus maka nilai tersebut dikurangi satu (-1) sampai minus
dua (-2) pada setiap tingkatan tergantung dari garis gradasinya.[4]
B. Atas perintah : [4]
Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk
terciptanya mimik dan ekspresi wajah seseorang. Adapun urutan kesepuluh
otot-otot tersebut secara berurutan dari sisi superior adalah sebagai
berikut :
a) m. frontalis: diperiksa dengan cara mengangkat alis ke atas
b) m. sourcilier: diperiksa degan cara mengerutkan alis
c) m. piramidalis: diperiksa degan cara mengangkat dan mengerutkan
hidung ke atas
d) m. orbikularis okuli: diperiksa dengan cara memejamkan kedua mata
dengan kuat
e) m. zigomatikus: diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil
memperlihatkan gigi
f) m. relever komunis: diperiksa degan cara memoncongkan mulut ke
depan sambil memperlihatkan gigi
g) m. businator: diperiksa dengan cara menggembungkan kedua pipi
h) m. orbikularis oris: diperiksa dengan cara menyuruh penderita bersiul

10

i) m. triangularis: diperiksa dengan cara menarik kedua bibir ke bawah


j) m. mentalis: diperiksa dengan cara memoncongkan mulut tertutup
rapat ke depan.

Gambar 11. Pemeriksaan nervus fasialis. a) dan b) pemeriksaan cabang


bawah, c) pemeriksaan cabang atas.[10]
Pada tiap gerakan dari kesepuluh otot tersebut, kita bandingkan antara
kanan dan kiri:[4]
a) untuk gerakan yang normal dan simetris di nilai angka tiga (3).
b) Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu (1).
c) Diantaranya dinilai dengan angka dua (2).
d) Tidak ada gerak sama sekali dinilai dengan angka nol (0).
Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan
mempunyai nilai tiga puluh (30).[4]

Gambar 12. Pemeriksaan kekuatan penutupan kelopak mata. a) respon normal


b) pemeriksaan pada pasien yang mengenai nukleus nervus fasialis.[10]
11

C. Sinkinesis
Sinkinesis menentukan suatu komplikasi dari paresis fasialis yang
sering kita jumpai. Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu
persatu atau tersendiri, selalu timbul gerakan bersama. Bila pasien disuruh
memejamkan mata, maka otot orbikularis oris pun ikut berkontraksi dan
sudut mulut terangkat. Bila ia disuruh menggembungkan pipi, kelopak
mata ikut merapat.5 cara mengetahui ada tidaknya sinkinesis adalah
sebagai berikut :[4]
a) Penderita diminta untuk memejamkan mata dengan kuat kemudian kita
melihat pergerakan otot-otot pada daerah sudut bibir atas. Kalau
pergerakan normal pada kedua sisi dinilai dengan angka dua (2).kalau
pergerakan pada sisi paresis lebih (hiper) dibandingkan dengan sisi
normal nilainya dikurangi satu (-1) atau dua (-2). Tergantung dari
gradasinya.
b) Penderita diminta untuk tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi,
kemudian kita melihat pergerakan otot-otot pada sudut mata bawah.
Penilaian seperti pada (a).
c) Sinkinesis juga dapat dilihat pada waktu penderita berbicara (gerakan
emosi) dengan memperlihatkan pergerakan otot-otot disekitar mulut.
Nilai satu kalau pergerkan normal. Nilai nol (0) kalau pergerakan tidak
simetris.
D. Hemispasme
Hemispasme merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada
penyembuhan paresis fasialis yang berat. Diperiksa dengan cara penderita
diminta untuk melakukan gerakan-gerakan bersahaya seperti mengedip
ngedipkan mata berulang-ulang maka akan tampak jelas gerakan otot-otot
pada sudut bibir bawah atau sudut mata bawah. Pada penderita yang berat
kadang-kadang otot-otot platisma di daerah leher juga ikut bergerak.
Untuk setiap gerakan hemispasme dinilai dengan angka minus satu (-1).[4]

12

E. Gejala Chvostek
Gejala Chvostek dibangkitkan dengan jalan mengetok N. VII.
Ketokan dilakukan dibagian depan telinga. Bila positif, ketokan ini
menyebabkan kontraksi otot yang disarafinya. Pada tetani didapatkan
gelaja Chvostek positif, tetapi ia dapat juga positif pada orang normal.
Dasar gejala Chvostek ialah bertambah pekanya nervus fasialis terhadap
rangsang mekanik.[9]

Gambar 11. Tanda Chvosteks positif.[9]


2) Fungsi pengecapan
Kerusakan nervus VII, sebelum percabangan khorda timpani, dapat
menyebabkan ageusi (hilangnya pengecapan) pada 2/3 lidah bagian depan.
Untuk memeriksanya penderita disuruh menjulurkan lidah, kemudian kita
taruh pada lidahnya bubuk gula, kina, asam sitrat atau garam (hal ini
dilakukan secra bergiliran dan diselingi istirahat). Bila bubuk ditaruh,
penderita tidak boleh menarik lidahnya kedalam mulut, sebab bila lidah
ditarik kedalam mulut, bubuk akan tersebar melalui ludah ke bagian
lainnya, yaitu kesisi lidah lainnya atau kebagian belakang lidah yang
persarafannya diurus oleh saraf lain. Penderita disuruh menyatakan
pengecapan yang dirasakan dengan isyarat, misalnya 1 untuk rasa manis, 2
untuk rasa pahit, 3 untuk rasa asin dan 4 untuk rasa asam.[9]

13

Sistem pengecapan pada 2/3 anterior lidah di persarafi oleh n. korda


timpani, salah satu cabang n. fasialis. Pada pemeriksaan fungsi n. korda
timpani adalah perbedaan ambang rangsang antara kanan dan kiri. Freyss
menetapkan bahwa beda 50% antara kedua sisi adalah patologis.[4]
3) Produksi Kelenjar ludah
Dengan anamnesis (mengunyah makanan di rongga mulut yang sehat)
atau palpasi dengan jari (selaput lendir rongga mulut yang terlibat
gangguan akan terasa lebih kering/ sedikit dari pada yang sehat).[9]
4) Schirmer Test atau Naso-Lacrymal Reflex
Dianggap sebagai pemeriksaan terbaik untuk mengetahui fungsi
serabut-serabut pada simpati dari n. fasialis yang disalurkan melalui
nervus petrosus superfisisalis mayor setinggi ganglion genikulatum.
Dengan pemeriksaan ini dapat dihitung berapa banyak sekresi kelenjar
lakrimalis. Cara pemeriksaan dengan meletakkan kertas hisap atau lakmus
lebar 0,5 cm, panjang 5-10 cm pada dasar konjungtiva. Freyss menyatakan
bahwa kalau ada beda kanan atau kiri lebih atau sama dengan 50% maka
dianggap patologis.[4]
5) Lainnya
a. Stapedial refleks
Pemeriksa menempatkan ujung kedua stetoskop masing-masing
pada telinga kanan dan kiri, kemudian dengan perlahan-lahan
diafragma stetoskop diketuk dengan ujung jari. Bila ada kelumpuhan
otot stapedius, maka penderita akan berusaha dengan cepat untuk
melepaskan ujung stetoskop pada telinga yang terganggu (karena
mendengar suara yang keras sekali). [9]

14

Gambar 12. Stapedial reflex. [9]


b. Tanda glabella
Ketukkan

dengan

refleks

hammer

pada

glabella

akan

menimbulkan refleks menutup mata (berkedip) secara terus menerus


(orang normal hanya berkedip 1-2 kali saja). Positif pada penderita
Parkinson. [9]

Gambar 13. Tanda Glabella. [11]


4. Etiologi Kelumpuhan N. Fasialis
Penyebab kelumpuhan n. fasialis mungkin kongenital, infeksi, tumor,
trauma, gangguan pembuluh darah dan idiopatik:[4]

15

1) Biasanya kelumpuhan yang didapat sejak lahir (kongenital) bersifat


irreversibel dan terdapat bersamaan dengan anomali pada telinga dan
tulang pendengaran.
2) Sebagai akibat proses infeksi di intrakranial atau infeksi telinga tengah,
dapat menyebabkan kelumpuhan n. fasialis. Infeksi intrakranial yang
menyebabkan kelumpuhan ini sindrom Ramsey-Hunt, herpes optikus, dan
infeksi telinga tengah ialah otitis media supuratif kronik yang telah
merusak kanal Fallopi.
3) Tumor

intrakranial

maupun

ekstrakranial

dapat

menyebabkan

menyebabkan kelumpuhan n.fasialis. dari tumor intrakranial dapat berupa


tumor serebelopontin, neuroma akustik, dan neuriloma yang terletak
intrakranial. Tumor ekstrakranial yang menyebabkan kelumpuhan n.VII
ialah tumor telinga dan tumor parotis.
4) Fraktur pars petrosa os temporal oleh karena trauma kepala dapat
menyebabkan kelumpuhan n. fasialis
5) Penyebab lain ialah gangguan pembuluh darah, misalnya trombosis arteri
karotis, arteri maksilaris, dan arteri serebri media.
6) Etiologi kelumpuhan n.VII kadang-kadang tidak jelas (idiopatik).
Kelumpuhan ini disebut juga Bells palsy.
Di Indonesia khususnya di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, urutan
penyebab yang terbanyak ialah idiopatik, radang dan trauma.[4]
Menurut Bailey faktor-faktor yang dapat menyebabkan paralisis akut
Nervus Fasialis adalah:[12]
1) Herpes Zoster Otikus
Virus Varicella zoster merupakan infeksi laten di ganglia saraf kranial
pada saat infeksi awal. Bertahun-tahun kemudian, virus laten diaktifkan
kembali oleh mekanisme yang tidak diketahui. Reaktivasi virus laten dalam
ganglion geniculate menghasilkan herpes zoster oticus atau sindrom
Ramsay Hunt. Pasien akan menampakkan kelumpuhan wajah dan nyeri
telinga berat dan erupsi vesikular dari kanalis auditori eksternal dan concha.
Jika vesikel tidak diketahui sejak awal atau jika bakteri menginfeksi

16

sekunder kanalis eksternal , kondisi ini dapat didiagnosis sebagai otitis


externa . Rasa sakit sering mendahului kelumpuhan wajah dalam beberapa
hari. Gejala yang berhubungan dengan gangguan pendengaran sensorineural
dan disfungsi vestibular ditemukan lebih dari 20 % pasien. Nyeri dan
penurunan lakrimasi juga lebih umum daripada di Bell palsy. Jackson et al
melaporkan temuan intraoperatif pada pasien dengan sindrom Ramsay
menunjukkan tidak ada pengembalian fungsi setelah 1 tahun. Biopsi eksisi
menunjukkan pembatasan yang tajam antara saraf normal dan lemah di
segmen labirin. Bagian proksimal dan distal dari saraf muncul terlalu
normal. Hal ini menunjukkan peningkatan kerentanan segmen labirin
inflamasi yang menginduksi degenerasi.[12, 13]
Prognosis untuk pemulihan spontan fungsi wajah normal lebih sedikit
dibanding pada kasus Bell palsy. Sekitar setengah dari pasien yang
terinfeksi akan memiliki gerakan wajah seperti semula yang memuaskan;
yang lain akan menderita kelemahan, synkinesis, kontraktur, dan kejang .
Tidak seperti Bell pals , dimana degenerasi berlangsung cepat dalam 2
minggu pertama setelah onset, degenerasi saraf wajah di herpes zoster oticus
mungkin berkembang lebih lambat selama 3 minggu. Seperti Bell palsy dan
banyak penyebab intratemporal palsy lain, ketika degenerasi total ,
regenerasi membutuhkan waktu 3 sampai 6 bulan sebelum terbukti pada
gerakan wajah pada pemeriksaan klinis. [12, 13]
Pengelolaan herpes zoster oticus termasuk intervensi diarahkan pada
infeksi virus yang mendasari dan komplikasi yang terkait. Seperti yang
dinyatakan sebelumnya, terapi antivirus harus dimulai segera untuk
efektivitas maksimal. Acyclovir telah terbukti bermanfaat dalam pengobatan
infeksi

herpes

zoster,

menunjukkan

pengurangan

rasa

sakit

dan

memperpendek waktu untuk resolusi lesi kulit. Virus Varicella zoster kurang
sensitif terhadap acyclovir dibandingkan HSV ; dengan demikian, dosis
yang lebih tinggi diperlukan. Penyerapan yang buruk dari acyclovir melalui
rute oral dapat dihindarkan dengan pemberian intravena atau dengan
menggantikan valacyclovir oral. Yang terakhir obat dimetabolisme menjadi

17

acyclovir, meningkatkan bioavailabilitas dari tiga kali lipat menjadi lima


kali lipat. Valacyclovir diberikan dengan dosis 1.000 mg tiga kali sehari
selama 7 hari. Steroid biasanya diberikan pada dosis yang sama seperti di
Bell palsy . Beberapa studi telah meneliti manfaat dari steroid dan terapi
antiviral pada herpes zoster otikus, laporan awal membeikan harapan. Peran
bedah dekompresi masih diteliti. Sulit untuk mengidentifikasi orang-orang
dengan prognosis yang buruk karena data uji elektrik kurang mapan
dibandingkan Bell palsy. [12, 13]
2) Otitis Media Dan Palsy Fasial
Fasial palsy dapat hadir sebagai komplikasi otitis media supuratif
akut, otitis media dengan efusi, otitis media kronis, dan mastoiditis . Infeksi
yang melibatkan saluran tuba menyebabkan peradangan dan edema saraf.
Pengobatan langsung harus diarahkan memberantas infeksi. Bila terdapat
efusi telinga tengah, myringotomy dilakukan segera untuk menguras ruang
telinga tengah. Kultur aspirasi langsung telinga tengah untuk terapi
antibiotik organisme penyebab. Insiden palsy wajah pada otitis media akut
adalah sekitar 1:20.000 kasus. Prognosis palsy wajah pada otitis media akut
sangat baik. Pemulihan fungsi wajah dimulai dengan cepat setelah resolusi
infeksi . Manajemen operasi biasanya terbatas pada myringotomy dan tube.
[12, 14]

Paralisis fasialis

berkaitan dengan otitis media kronis atau

kolesteatoma membawa prognosis yang kurang baik. Perkembangan


kelumpuhan sering lebih berbahaya . Toilet aural dan antibiotik segera
dimulai. Jika membran timpani utuh, myringotomy dilakukan. CT
dianjurkan untuk mengevaluasi saluran tuba sebelum operasi. Komplikasi
intrakranial patut dicurigai dalam hal ini. Operasi Tympanomastoid
diperlukan untuk menghilangkan jaringan yang terinfeksi dari telinga tengah
mastoid, menyediakan drainase mastoid, membangun ventilasi jangka
panjang yang lebih baik dari telinga tengah dan mastoid , mengembalikan
rantai tulang pendengaran , dan memperbaiki membran timpani. Saraf wajah
diperiksa dengan hati-hati. Jaringan granulasi, matriks kolesteatoma, dan

18

tulang yang terinfeksi akan dihilangkan.


mendekompresi

saraf.

Sayatan

dari

Hal Ini secara efektif

epineurium

tidak

disarankan.

Kelumpuhan wajah yang telah hadir selama beberapa minggu atau lebih
meskipun jarang namun meningkatkan manajemen agresif. [12, 14]
3) Trauma
Trauma pada tulang temporal merupakan suatu penyebab lazim
paralisis fasialis. Fraktur dapat transversal atau longitudinal. Sementara
fraktur longitudilal lebih umum terjadi, fraktur transversal lebih sering
mencederai saraf. Energi yang dibutuhkan untuk fraktur tulang temporal
harus cukup besar, paralisis seperti ini seringkali tidak diketahui sebelum
pasien sadar dari koma setelah suatu kecelakaaan kendaraan bermotor. [5, 12]
4) Neoplasma.
Tumor-tumor sudut serebelopontin, terutama neuroma akustik dan
meningioma, merupakan neoplasma tersering yang menyebabkan paralisis
fasialis. Neuroma saraf fasialis jelas amat jarang. Neoplasma telinga tengah
lainnya juga dapat menyebabkan paralisis fasialis. Antara lain penyebab
jinak seperti glomus jugulare, atau penyebab yang lebih ganas seperti
histiosis, rabdomiosarkoma, dan karsinoma sel skuamosa. [5, 12]
5) Fasial Palsi pada Newborn
Kategori diferensial untuk palsy wajah pada bayi baru lahir meliputi
etiologi trauma dan kongenital. Trauma mungkin terbukti dengan memar
wajah, ekimosis di atas mastoid atau jalur saraf ekstrakranial , atau
hemotympanuma . Mekanisme cedera diusulkan menjadi compressional
karena penekanan di bagian kepala melalui jalan lahir atau penggunaan
forsep. Dalam 3 hari pertama kehidupan, kelumpuhan lengkap harus
menjalani stimulasi listrik untuk menunjukkan kontraksi otot atau
menimbulkan potensi myogenic . Jika trauma tidak begitu jelas, informasi
yang diperoleh dari tes listrik memberikan bukti konklusif integritas
neuromuskuler. Untuk presentasi selanjutnya, NET , MST , dan ENOG
harus digunakan terlebih dahulu, diikuti oleh EMG jika respon myogenic
tidak ada. EMG dapat menunjukkan kegiatan insersional otot, unit motorik

19

utuh, potensi fibrilasi, atau unit polifasik motorik indikasi cedera inkomplit.
Prognosis untuk spontan regenerasi sangat baik dan eksplorasi bedah tidak
dianjurkan kecuali saraf memiliki sedikit kesempatan untuk pemulihan. [12]
Palsy kongenital paling sering muncul sebagai kelemahan unilateral
bibir bawah dan dapat dikaitkan dengan anomali lainnya. Kobayashi
menemukan tidak ada hubungan batasan bentuk palsy dengan penggunaan
obat teratogenik, rubella, trauma kelahiran, atau faktor keturunan.
Kelumpuhan bawaan lengkap jarang dan telah digambarkan sebagai akibat
bawaan dari tidak adanya bagian motorik dari saraf wajah dan otot-otot
wajah atau agenesis inti motorik wajah. Temuan terkait di Mbius sindrom
termasuk kelemahan unilateral atau bilateral dan lengkap atau tidak lengkap
wajah, unilateral atau bilateral palsi saraf abducens , dan deformitas
ekstremitas; orang-orang dari thalidomide embriopati termasuk anggota
badan dan anomali telinga dan kelumpuhan saraf abducens. Kelumpuhan
bawaan sebaiknya diobati sampai akhir masa kanak-kanak, seperti transfer
otot dan fascial slings sering dibutuhkan untuk memperbaiki cosmetis.
Karena turgor kulit baik, mata jarang membutuhkan tindakan perlindungan
untuk mencegah paparan keratitis pada anak. [12]
6)

Komplikasi Pembedahan Mastoid


Tulang temporal berisi dan dikelilingi oleh sejumlah besar struktur
penting yang berdekatan dan dikaburkan oleh tulang; dengan demikian,
potensi untuk cedera iatrogenik signifikan. Mikroskop operasi telah secara
dramatis mengurangi risiko, tetapi ahli bedah harus memiliki kesadaran
yang tinggi untuk meminimalkan terjadinya komplikasi ini. Perjalanan
nervus fasialis yang berliku-liku melalui tulang temporal , bersama-sama
dengan bidang dehisensi tulang dan kemungkinan anomali letak, adalah hal
berisiko, seperti yang dibahas sebelumnya. Panas yang dihasilkan oleh
diamond burr dapat melukai saraf wajah bahkan tanpa trauma mekanik
langsung ke saraf. Kerusakan akibat panas dapat diminimalkan dengan
menggunakan suction konstan dan irigasi selama diseksi dengan diamond
burrs. [12]

20

Dalam operasi primer dari tulang temporal, penanda yang dibahas


sebelumnya menyediakan peta jalan untuk lokalisasi dan perlindungan saraf.
Namun, dalam telinga reoperated atau pada anomali tulang temporal seperti
pada atresia kongenital, penanda yang normal mungkin tidak ada atau
menyesatkan. Selain itu, deposisi tulang sklerotik baru bisa mendistorsi
anatomi normal. Pemantauan saraf wajah elektromiografi intraoperatif dapat
membantu dalam situasi ini.[12]
Jika saraf wajah trauma selama operasi, sejauh mana cedera harus
dinilai melalui pengamatan langsung dan pengujian listrik. Wilayah yang
dicurigai cedera harus diperiksa dengan mengekspos saraf di atas dan di
bawah lokasi cedera 5 sampai 10 mm, menggunakan diamond burr dan
suction konstan dan irigasi untuk removal tulang. Jika kontraksi otot wajah
dapat ditimbulkan oleh stimulasi ( 0,5 mA ) dari saraf di atas dan di bawah
daerah luka, perawatan lebih lanjut tidak diperlukan. Kortikosteroid
sistemik dapat membantu pada periode pasca operasi untuk meminimalkan
pembengkakan. Jika pergerakan wajah dapat ditimbulkan oleh stimulasi
saraf distal tetapi tidak pada proksimal daerah cedera, paparan yang lebih
menyeluruh dari saraf terluka harus dilakukan dengan membuang tulang
lebih pada segmen terluka lebih lateral 180 derajat. Jika hanya beberapa
serat rusak, dapat dikembalikan ke posisi anatominya; recovery dengan
synkinesis mungkin. [12]
Jika saraf yang terluka parah atau benar-benar terputus ,
reanastomosis diperlukan. Jika cukup panjang dapat dengan mobilisasi
saraf, reanastomosis primer harus dilakukan. Reapproximation dalam alur
kanal falopi biasanya cukup; dukungan jahitan dengan dua atau tiga jahitan
nilon 8-0 dapat digunakan untuk menstabilkan anastomosis. Dalam
kebanyakan kasus cedera parah pada saraf wajah dalam tulang temporal,
reanastomosis langsung tidak mungkin. Dalam kasus tersebut, segmen
trauma akan membutuhkan cable grafting. Saraf auricularis besar (dari C2 3 ) dapat menjadi sumber yang sangat baik untuk cable grafting. Nerve graft
auricular

besar

dapat

diambil

saat

menyusuri

sepanjang

otot

21

sternokleidomastoid di leher bagian atas. Hasil cangkokan dapat


ditempatkan ke dalam alur dari saluran tuba setelah nervus fasialis terluka
telah dikeluarkan seperti yang dijelaskan sebelumnya. [12]
Kelumpuhan wajah pada masa pasca operasi cedera ketika tidak
dicurigai membutuhkan perhatian segera. Lidocaine yang diberikan pada
suntikan pra operasi mungkin bertanggung jawab atas beberapa kasus
langsung palsy wajah pasca operasi ; akibatnya, reexploration bedah harus
ditunda selama beberapa jam dan pasien dinilai ulang pada waktu itu. Jika
kelumpuhan lengkap hadir, reexploration awal diindikasikan. Pada
eksplorasi, dekompresi setiap wilayah trauma harus dilakukan dan
anastomosis langsung atau cable grafting saraf dilakukan jika robekan
diidentifikasi. Jika, di sisi lain, palsy wajah tertunda atau paretic,
manajemen konservatif diindikasikan dan akan mencakup tapering steroid
sistemik. [12]
5. Klinis Patologis Lesi Nervus Fasialis
Gangguan kontralateral dari traktus kortikonuklearis seperti infark
mengakibatkan otot dahi tetap utuh yang disebut dengan paralisis sentral.
Tetapi jika lesi terjadi di nukleus nervus fasialis maka semua otot fasial
ipsilateral lesi akan mengalami paralisis perifer. [9]
Berikut ini perbedaan lesi nervus fasialis perifer dan sentral, gambar:

Gambar 14. Perbedaan lesi perifer dan sentral nervus fasialis. [1]

22

Gambar 15. Perbedaan terjadinya lesi perifer dan sentral nervus fasialis.[15]
Lesi pada nukleus fasialis biasanya terjadi karena stroke atau tumor.
Serabut di serebelopontin dapat rusak akibat meningitis basalis, neuroma
akustik, meningioma, kelainan A.basilaris.[6]
Nukleus fasialis juga menerima impuls dari talamus yang mengarahkan
gerakan ekspresi emosional otot wajah. Selain itu juga berhubungan dengan
ganglia basalis. Jika bagian dari sistem piramidal ini yang terkena lesi maka
akan terjadi penurunan ekspresi wajah (hipomimia atau amimia) seperti pada
penyakit Parkinson, atau reaksi hiperkinetik yang menyebabkan spasme
mimetik fasial atau blefarospasme. Hubungan dengan talamus dan ganglia
basalis tersebut tidak diketahui secara terperinci.[1]
Bells palsi merupakan lesi idiopatik pada nervus fasialis yang terjadi
pada 25 dari 100.000 orang per tahunnya. Karakteristiknya berupa paresis
flasid dari semua otot wajah (termasuk otot dahi), tergantung lokasi lesinya.[1]

23

Gambar 16. Bells palsi tidak dapat menutup mata pada sisi yang sakit.[15]
Pemberian prednisolon 1mg/kg/ hari selama 5 hari menunjukkan
perbaikan klinis pada Bells palsi. Beberapa kasus penyembuhan sempurna
tanpa defisit neurologis. Beberapa di antaranya mengalami kontraktur pada
wajah atau gerakan abnormal asesorius (sinkinesia). Sinkinesia adalah otot
otot tidak dapat digerakkan satu persatu, selalu timbul gerakan bersama,
misalnya jika disuruh menutup mata maka sudut mulut pun terangkat, jika
disuruh menggembungkan pipi mata ikut merapat. Fenomena crocodile tears
merupakan fenomena unik yang terjadi di mana terjadinya lakrimasi
involunter ketika pasien makan. Hal ini dapat terjadi karena serat saraf yang
tadinya menuju ke glandula salivatorius mengalami degenerasi dan
mengakibatkan berubahnya haluannya menuju ke glandula lakrimal, sehingga
impuls yang menginduksi saliva mengakibatkan terjadinya lakrimasi.
Kontraktur pada wajah dapat dilihat dengan plika nasolabial yang lebih jelas
pada sisi yang sakit akibat tertariknya otot. [1, 6]

24

Gambar 17. Lokasi lesi nervus fasialis beserta klinisnya.[1]


Lesi herpes zoster kutaneus otikus merupakan gangguan yang terjadi
pada serat somatik aferen nervus fasialis. Lesi herpes zoster juga dapat
menyerang ganglion geniculatum sehingga terjadi nyeri di telinga dan muka,
serta paresis fasialis (sindrom Ramsay Hunt).[1, 6]

Gambar 18. Ramsay Hunt syndrome.[16]

25

Lesi nervus fasialis dapat pula terjadi pada kanalis fasialis berupa otitis
media, mastoiditis, kolesteatom, fraktur tulang temporal. Tic fasialis
disebabkan oleh spasme otot fasialis. [6]
6. Penatalaksanaan
Pengobatan terhadap kasus parese N.VII kita kelompokkan menjadi
2 bagian: [4]
1. Pada kasus dengan gangguan hantaran ringan dan fungsi motor masih
baik pengobatan ditujukan untuk menghilangkan edema saraf dengan
memakai obat-obat anti edem, vasodilatansia, dan neurotronika.
2. Pada kasus dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi denervasi
total, tindakan operatif segera dengan tekhnik dekompresi N.VII
transmastoid.

26

7. Kesimpulan
Nervus fasialis merupakan salah satu nervus kranialis yang berfungsi
untuk motorik sensorik somatik, dan aferen eferen visceral. Nervus fasialis
memiliki dua subdivisi, yang pertama adalah yang mempersarafi otot ekspresi
wajah kemudian yang kedua memiliki serat yang jauh lebih tipis yaitu
intermediate yang membawa aferen otonom, somatik, dan eferen otonom. Nervus
fasialis memiliki 4 macam serabut yaitu: serabut somato-motorik, serabut viseromotorik, serabut visero-sensorik dan serabut somato-sensorik.
Pemeriksaan nervus fasialis bertujuan untuk menentukan letak lesi dan
menentukan derajat kelumpuhan. Derajat kelumpuhan ditetapkan berdasarkan
hasil pemeriksaan fungsi motorik yang dihitung dalam persen. Pemeriksaan
nervus fasialis terdiri dari pemeriksaan fungsi motorik, fungsi pengecapan,
produksi kelenjar ludah, naso-lacrymal reflex dan lainnya.
Kelumpuhan n. fasialis dapat disebabkan oleh herpes zoster otikus, otitis
media, trauma, neoplasma, kongenital, komplikasi pembedahan mastoid, dan
idiopatik.
Pengobatan terhadap kelumpuhan nervus fasialis tergantung pada beratnya
gangguan atau kerusakan nervus yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
27

1.

Baehr and Frotscher, Topical Diagnosis in Neurology: Anatomy, Fisiology,


Sign, Simptom. 4 ed. 2005, New York: Mc-Graw Hill companies.
2.
Putz, R. and R. Pabst, Atlas Anatomi Manusia Sobotta Kepala, Leher,
Ekstremitas Atas. 22 ed. Vol. 1. 2007, Jakarta: EGC.
3.
Mardjono, M. and P. Sidartha, Neurologi Klinis Dasar. 2010, Jakarta: Dian
Rakyat.
4.
Soepardi, E.A., et al., eds. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 6 ed.
Kelumpuhan Nervus Fasialis Perifer, ed. Sjarifuddin, J. Bashiruddin, and B.
Bramantyo. 2007, FKUI: jakarta. 114-117.
5.
Adams, Boies, and Highler, Buku Ajar Penyakit THT. 6 ed. Robert H.
Maisel Samuel C Levine. 1997, Jakarta: EGC.
6. Jones, O. The Facial Nerve (CN VII). teachmeanatomy 2014 [cited; Available
from: http://teachmeanatomy.info/neuro/pathways/descending-tracts-motor/.
7.
Netter, F.H., J.A. craig, and J. Perkins, Atlas of Neuroanatomy and
Neurophysiology. 2002, ICON: USA.
8.
Jones, O. The Descending Tracts. teachmeanatomy 2014 [cited; Available
from: http://teachmeanatomy.info/neuro/pathways/descending-tracts-motor/.
9.
Juwono, Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek. 1996, Jakarta:
FKUI.
10. Swartz, M.H., Buku Ajar Diagnostik Fisik. 1 ed. 1995, Jakarta: EGC.
11. Roberti, J. Myersons sign is a medical condition where a patient is unable
to resist blinking when tapped on the glabella (forehead), the area above the
nose and between the eyebrows.
2011
[cited; Available from:
http://glutacure.com/myersons-sign-is-a-good-test-you-can-do-at-home-and/
12. Bailey, B.J., et al., Head and Neck Surgery Otolaryngology. 3 ed. Vol. 2.
2001, Spain: Lippincott Williams & Wilkins.
13. Flint, P.W., et al., Cummings Otolaryngology Head & Neck Surgery. 5 ed.
2010, Philadelphia: Mosby.
14. Snow, J.B. and J.J. Ballenger, Ballenger's Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. 16 ed. 2003, Spain: Williams and Wilkins.
15. Jonas. Mosby's Dictionary of Complementary and Alternative Medicine.
2005
[cited;
Available
from:http://medicaldictionary.thefreedictionary.com/Bell%27s+palsy.
16. Howshealth. Ramsay Hunt Syndrome 2012 [cited; Available from:
http://howshealth.com/ramsay-hunt-syndrome/.

28