Anda di halaman 1dari 6

Pengukuran Tinggi Pohon di Departemen Hasil Hutan1)

(Trees Height Measurement in Department of Forest Product Technology)


Dwi Setia Agusti Putri/E341300282)
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor
2015
ABSTRAK
Dalam kegiatan pengelolaan hutan, data tinggi pohon diperlukan untuk penentuan volume
pohon dan tegakan serta penentuan kualitas tempat tumbuh. Tinggi pohon adalah jarak tegak antara
puncak pohon terhadap permukaan tanah. Pengukuran tinggi pohon dapat dilakukan terhadap
berbagai hal, yaitu tinggi total (Tt), tinggi bebas cabang (Tbc) dan tinggi pada ketinggian tertentu .
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran menggunakan 5 macam alat ukur tinggi pohon
terhadap 10 individu pohon dan masing-masing dilakukan ulangan sebanyak dua kali dari setiap alat
ukur.
Kata kunci: alat ukur tinggi pohon, pengelolaan hutan, tinggi bebas cabang, tinggi pohon, tinggi total
pohon
Pendahuluan
Salah satu bahan dasar bagi penyusunan rencana pengusahaan hutan ialah keterangan
mengenai potensi masa tegakan dalam kawasan yang dikelola. Inventarisasi masa tegakan hutan pada
dasarnya ditunjang oleh dua elemen, yaitu besarnya diameter dan tinggi pohon. Kesalahan
pengukuran dari salah satu elemen dapat mengakibatkan dugaan masa tegakan yang dihasilkan
cenderung akan bias. Pengukuran tinggi pohon dapat dilakukan terhadap pohon berdiri dan pohon
yang telah rebah (Subrata 1978).
Pengertian tinggi pohon berbeda dengan pengertian panjang pohon. Tinggi pohon adalah
jarak tegak antara puncak pohon terhadap permukaan tanah. Sedangkan panjang pohon merupakan
hasil pengukuran dari pangkal pohon menyusuri batang sampai ujung tajuk. Pengukuran tinggi pohon
dapat dilakukan pada ketinggian tertentu dari batang. Pengukuran yang baik dilakukan pada pohon
pohon yang masih berdiri.
Pengukuran tinggi pohon dapat dilakukan terhadap berbagai hal, yaitu tinggi total (Tt), tinggi
bebas cabang (Tbc) dan tinggi pada ketinggian tertentu. Tinggi total merupakan tinggi yang diukur
dari titik pucuk tajuk dengan titik proyeksinya pada permukaan tanah. Tinggi bebas cabang (lepas
cabang atau batas tajuk) yakni tinggi yang diukur titik lepas cabang atau batas tajuk dengan titik
proyeksinya pada permukaan tanah. Tinggi bebas cabang dalam prakteknya tidak mudah untuk
ditentukan karena setiap orang mempunyai interpretasi yang berbeda. Tinggi pada ketinggian tertentu,
yaitu tinggi yang diukur dengan tujuan dan kegunaan pengukuran tinggi tersebut.
Karakteristik pada pohon yang diukur dapat mempengaruhi hasil pengukuran. Bentuk tajuk
pohon dari jenis kayu daun lebar cenderung memperbesar kesalahan pengukuran dibandingkan
dengan kesalahan yang disebabkan oleh kayu daun jarum (Subrata 1978).

Pengukuran tinggi pohon dilakukan pada pohon yang masih berdiri dan menggunakan lima
macam alat ukur tinggi pohon. Kemudian hasil pengukuran dibandingkan dari kelima macam alat
ukur tersebut.
Adapun alat ukur tinggi pohon yang dapat digunakan untuk pengukuran tinggi pohon
berdasarakan cara kerjanya menurut Benyard (1973), yaitu:
a. Berdasarkan geometri, yakni Walking stick, Christen meter, Weise Merrit, JAL (FAO).
b. Berdasarkan trigonometri, yakni Haga Hypsometer, Blumeleiss, Suunto Clinometer, Abney
level, dan Spiegel Relascop Bitterlich.
Sedangkan alat ukur yang digunakan pada praktikum pengukuran tinggi pohon meliputi Walking
Stick, SRB (Spiegel Relascop Bitterlich), Haga Hypsometer, Suunto Clinometer, Christen meter.
Menurut Wolf (1928), Christen meter merupakan alat ukur tinggi pohon yang paling sering digunakan
karena susunan alatnya sederhana, mudah dibawa kemana-mana, serta mudah dalam penggunaannya..
Menurut Banyard (1973), Haga Hypsometer merupakan alat ukur yang praktis, memiliki skala yang
terperinci dengan tingkat ketelitian pembacaan mencapai 0,1 m, serta mudah dan cepat dalam
penggunaannya. Haga hypsometer dan Suunto clinometer memiliki ketelitian yang lebih tinggi dari
alat ukur tinggi pohon yang lain karena dua alat ukur tersebut menggunakan prinsip trigonometris
(Rahlan 2004). Kelebihan Walking stick adalah penggunaannya mudah dan alatnya ringan. Namun,
kelemahan Walking stick adalah hasil pengukurannya subyektif dan sulit digunakan dalam tegakan
(Malamassam 2009).
Suharian dan Sudiono (1975) dan juga Benyard (1973) menguraikan mengenai kesalahan
pengukuran tinggi pohon berdasarkan sumber penyebabnya. Pertama, kesalahan yang diakibatkan
oleh alat. Kesalahan alat disebabkan oleh pembagian skala yang kurang teliti dan kurang lengkap
misalnya interval skala terlalu besar dan tingkat ketelitian alat. Kedua, kesalahan yang diakibatkan
oleh keadaan pohonnya sendiri. Tajuk terlalu lebar dan lebat dapat menimbulkan kesalahan dalam
menentukan puncak pohon, sehingga sering terjadi overestimate. Selain itu, kedudukan pohon yang
miring juga mempengaruhi. Kesalahan yang terjadi dapat overestimate (hasil lebih besar daripada
aslinya) dan underestimate (hasil lebih kecil daripada aslinya). Tinggi pohon juga dapat
mempengaruhi hasil pengukuran. Wolff (1928) menjelaskan bahwa kesalahan pengukuran semakin
rendah sebanding dengan bertambah rendahnya pohon yang diukur. Atau semakin tinggi pohon yang
diukur, maka kesalahan pengukuran semakin besar pula. Ketiga, kesalahan pengukuran diakibatkan
oleh faktor lingkungan yaitu kondisi fisik areal seperti kemiringan lapangan tempat pohon berdiri.
Kesalahan diakibatkan karena terpengaruhnya kedudukan alat di saat pengukuran. Keempat,
kemampuan pembaca alat. Kemampuan pembaca alat juga mempengaruhi hasil pengukuran yang
didapatkan.
Ada berbagai macam alat ukur yang digunakan untuk mengukur tinggi pohon. Alat ukur yang
dapat digunakan adalah haga hypsometer, suunto clinometer, walking stick, spiegel relascop bitterlich,
dan christeenmeter. Alat alat tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan dalam penggunaannya.
Metodologi
Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 2015 di tegakan pohon Departemen
Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah alat ukur dimensi tinggi pohon yaitu Walking
Stick, SRB (Spiegel Relascop Bitterlich), Haga Hypsometer, Suunto Clinometer, Christen Meter, tally
sheet dan alat tulis serta Pita Ukur untuk mengukur jarak titik pengukuran dari objek.. Sedangkan

bahan yang digunakan berupa tegakan 10 pohon di tegakan pohon Departemen Hasil Hutan, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran menggunakan alat ukur tinggi pohon.
Penentuan pohon contoh dilakukan secara acak dengan ketentuan pengukuran tinggi pohon dilakukan
terhadap 6 pohon daun lebar dan 4 pohon daun jarum. Data yang dikumpulkan meliputi data tinggi
total dan data tinggi bebas cabang menggunakan alat ukur tinggi pohon dengan jarak antara alat dan
pohon sebesar 20 meter. Pengukuran tinggi pohon dilakukan dengan cara mengukur masing-masing
pohon sebanyak 2 kali dengan menggunakan kelima alat ukur secara bergantian.
Semua data yang dikumpulkan diolah untuk membandingkan pengukuran tinggi pohon
menggunakan alat ukur tinggi pohon. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif
dan disajikan dalam tabel dan grafik.
Tujuan
Praktikum pengukuran tinggi pohon bertujuan agar prsktikan dapat menggunakan alat ukur
tinggi pohon dengan benar dan dapat memperoleh gambaran hasil pengukuran dengan menggunakan
alat ukur tinggi pohon yang berbeda.
Hasil
Kegiatan pengukuran tinggi pohon menggunakan berbagai alat ukur dimensi tinggi dilakukan
untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan serta ketelitian masing-masing alat ukur. Data yang
diambil dilapangan meliputi tinggi total pohon dan tinggi bebas cabang pohon (untuk pohon daun
lebar) atau tinggi sampai kayu tebal (10 cm) untuk pohon daun jarum. Berdasarkan hasil pengukuran
di lapangan didapatkan hasil seperti berikut:
Tabel 1. Hasil pengukuran tinggi pohon contoh dengan Christen meter, walking stick, suunto
clinometer, SRB, dan haga hypsometer.

No.

1.
2.
3.
4.

Nama
Pohon
Schima
wallichii
Pinus
caribaea
Swietenia
macrophyll
a
Gaharu

7.

Pinus
caribaea
Gmelina
arborea
Flamboyan

8.

Cemara aru

5.
6.

9.
10.

Pinus
caribaea
Sterculia
foetida

Christen
meter
Tt
Tbc
(m)
(m)

Walking
stick
Tt
Tbc
(m)
(m)

Suunto
clinometer
Tbc
Tt (m)
(m)

Tt
(m)

Tbc
(m)

Haga
hypsometer
Tt
Tbc
(m)
(m)

SRB

23,34

18,65

24

16

18,2

2,80

21,5

1,5

27

3,75

21,32

10,12

16

12

16,00

13,62

15,2
5

9,5

17,5

13

14,01

6,13

15

13,09

5,13

13

13

23,54

9,75

16

41,47

3,00

15,5

2,25

16,5

27,5

11,25

15,2

13,6

42,59

15,07

19

12,75

16,5

18,67

17,23

15

16,32

8,28

16

5,75

24,5

15,5

20,91

16,07

37

14,8

18,68

5,85

16

6,5

16,5

19,76

4,47

12

10

16,70

9,39

12

7,75

13,5

10

21,54

10,62

16,3

6,3

26,48

15,11

18

12,5

19

13

17,14

10,8

12,6
4

11,06

4,20

10,12

16,2
5

3,25

16,5

Gambar 1. Perbandingan relatif hasil pengukuran tinggi total pohon contoh


45
40
35
30
25
20

Christen meter

15

Walking stick

10

Suunto clinometer

SRB

Haga Hypsometer

Gambar 2. Perbandingan relatif hasil pengukuran tinggi bebas cabang pohon contoh
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Christen meter
Walking stick
Suunto clinometer
SRB
Haga Hypsometer

Pembahasan
Hasil pengukuran tinggi total pohon menunjukkan bahwa pengukuran tertinggi dimiliki oleh
alat ukur Suunto clinometer dan Christen meter, sedangkan hasil pengukuran terendah dimiliki oleh
alat ukur walking stick. Sesuai dengan pernyataan (Rahlan 2004), Suunto clinometer memiliki

ketelitian yang lebih tinggi dari alat ukur tinggi pohon yang lain. Christen meter memiliki hasil
pengukuran lebih tinggi karena penggunaan alat yang mudah Wulfing (1928). Walking stick memiliki
hasil pengukuran terkecil karena alat ini sulit digunakan dalam tegakan, sehingga hasil
pengukurannya subyektif (Malamassam 2009).
Hasil pengukuran tinggi bebas cabang menunjukkan bahwa hasil pengukuran tertinggi dan
terendah dimililiki oleh Christen meter dan Haga hypsometer. Namun hal ini tidak sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa Haga hypsometer dan Suunto clinometer memiliki ketelitian yang
lebih tinggi dari alat ukur tinggi pohon yang lain karena dua alat ukur tersebut menggunakan prinsip
trigonometris (Rahlan 2004). Seharusnya Haga hypsometer memiliki hasil lebih tinggi dibandingkan
dengan christen meter. Hal ini berarti terdapat kesalahan pengukuran saat praktikum. Christen meter
memiliki hasil pengukuran lebih tinggi karena alat ini mudah dalam penggunaannya. Haga
hypsometer memiliki hasil pengukuran terkecil karena kepekaannya terhadap cuaca. Cuaca yang tidak
baik, yaitu pencahayaan yang kurang dapat mempengaruhi penglihatan praktikan saat membaca hasil
pengukuran.
Sesuai dengan literatur, hal yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan pengukuran tinggi
yaitu kesalahan alat, keadaan pohon, kedudukan pohon, tinggi pohon, dan tempat pohon berdiri.
Kesalahan alat disebabkan oleh skala yang kurang teliti dan kurang lengkap, sehingga mempengaruhi
pengukuran tinggi pohon. Keadaan pohon maksudnya apabila suatu pohon memiliki tajuk yang terlalu
besar dan lebat menimbulkan kesalahan dalam menentukan puncak pohon sehingga menyebabkan
overestimate. Kedudukan pohon yang miring juga menyebabkan overestimate dan underestimate.
Tinggi pohon juga mempengaruhi, artinya semakin tinggi pohon yang diukur, maka kesalahan
pengukuran semakin besar pula.
Pada pengukuran tinggi total pohon, alat ukur yang memiliki hasil pengukuran tertinggi dan
terendah dimiliki oleh Suunto clinometer. Pada pengukuran tinggi bebas cabang, hasil pengukuran
tertinggi dimiliki oleh Cristen meter dibandingankan dengan alat ukur lainnya, sedangkan hasil
pengukuran terendah dimiliki oleh SRB. Pada pengukuran tinggi pohon menggunakan Haga
hypsometer, Suunto clinometer, Walking stick, Spiegel Relascop Bitterlich (SRB), dan Cristen meter
sering terjadi kesalahan pengukuran. Kesalahan dapat berasal dari kelelahan alat dan kemampuan
praktikan dalam menggunakan alat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wolf (1928) bahwa kemampuan
pembaca alat juga mempengaruhi hasil pengukuran yang didapatkan.
Alat ukur tinggi pohon yang digunakan dalam praktikum adalah Christen meter, walking
stick, suunto clinometer, SRB, dan haga hypsometer. Alat ukur tersebut memiliki kelebihan dan
kekurangan. Pertama, kelebihan Spiegel Relascop Bitterlich (SRB) yaitu penggunaan alatnya mudah
dan memiliki akurasi yang tinggi, sedangkan kekurangannya adalah hrganya yang relatif mahal .
Kedua, kelebihan dari Cristen meter yaitu harganya murah, dapat dibuat sendiri, penggunaannya yang
mudah dan alatnya yang ringan serta mudah dibawa. Kekurangannya adalah kurang akurat dalam
pengukuran tinggi pohon serta sulit digunakan dalam tegakan. Ketiga yaitu Suunto clinometer.
Kelebihan Suunto clinometer yaitu memiliki ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan alat
ukur tinggi pohon lainnya serta praktis. Kelemahannya yaitu peka terhadap cuaca, harganya relati
mahal, memerlukan waktu yang lama saat pengukuran dan penggunaannya membutuhkan keahlian.
Keempat yaitu Haga hypsometer. Alat ukur tinggi Haga merupakan alat ukur sudut yang
menggunakan prinsip segitiga siku-siku, dan untuk penggunannya diperlukan informasi tentang jarak
antara pengukur dengan pohon yang diukur. Kelebihannya adalah penggunaannya mudah, cukup
teliti, dan praktis. Kelemahannya adalah peka terhadap cuaca, memerlukan waktu yang lama saat
pengukuran dan harganya yang relatif mahal (Rahlan 2004). Kelima yaitu walking stick. Kelebihan
walking stick yaitu penggunaanya mudah serta alatnya ringan. Kekurangannya yaitu hasil
pengukurannya subyektif dan sulit digunakan dalam tegakan (Sutrisno 2011).

Kesimpulan
Alat ukur tinggi pohon yang digunakan dalam praktikum adalah Haga hypsometer, Suunto
clinometer, Walking stick, Spiegel Relascop Bitterlich (SRB), dan Cristen meter. Kelima alat ukur
tinggi pohon tersebut memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Berdasarkan hasil,
pengukuran tinggi total pohon tertinggi dimiliki oleh Suunto clinometer dan Christen meter,
sedangkan hasil pengukuran terendah dimiliki oleh Walking stick. Hasil pengukuran tinggi bebas
cabang menunjukkan pengukuran tertinggi dan terendah dimililiki oleh Christen meter dan Haga
hypsometer. Berdasarkan literatur, hasil tertinggi seharusnya dimiliki oleh Haga hypsometer dan
Suunto clinometer. Ketidaksesuaian tersebut karena terdapat kesalahan pada saat praktikum. Hal
yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan pengukuran tinggi yaitu kesalahan alat, keadaan
pohon, kedudukan pohon, tinggi pohon, dan tempat pohon berdiri.
Daftar Pustaka
Banyard S. 1973. Forest Mensuration: Fundamentals International Institute For Aerial and Earth
Science Ensohede. Ensohede.
Malamassam D. 2009. Inventarisasi Hutan. Makassar (ID) : Universitas Hasanuddin.
Rahlan EN. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Bogor (ID): IPB Press.
Subrata J. 1978. Koreksi pengukuran tinggi pohon untuk alat ukur christen dan haga pada jarak bidik
yang berbeda di Hutan Tropika Basah Pasir Putih Bakaro Manokwari Irian Jaya [skripsi].
Manokwari (ID) : Universitas Negeri Cenderawasih.
Suharlan A dan Sudiono Y. 1975. Ilmu Ukur Kayu. Lembaga Penelitian Hutan Bogor.
Sutrisno L. 2011. Alat Ukur Dimensi Pohon. Riau (ID): Universitas Riau.
Wolff V W. 1928. Beberapa pemerikasaan tentang ketelitian pengukuran tinggi pohon dengan alat
ukur tinggi Christen. Tectona Jilid XXI.