Anda di halaman 1dari 10

KELAINAN

Penyakit Paru Obstruktif


Penyakit Paru obstruktif ditandai dgn berkurangnya aliran udara melalui pembuluh paru karena
diameter atau kehilangan integritas.

penyempitan

Penyebabnya:
1; kontraksi otot polos bronkus (Asma)
2; kehilangan traksi radial
kolaps udara (emfisema)
3; penebalan dinding bronkus (bronkus kronis)
4; infiktrasi dinding bronkus (tumor / granuloma)
5; kemasukan obyek secara mekanis menyumbat bronkus (benda asing)
ASMA
Ditandai dengan : - hambatan saluran nafas yg reversibel
- inflamasi saluran nafas
- kenaikan respon saluran nafas thdp berbagai stimuli
Patofisiologi :
1; Hiperaktivitas bronkus thdp stimuli fisik, kimia, dan farmakologis
2; Perubahan histologis: - penyempitan lumen
- udema pada membran dasar
- penyumbatan oleh mukus
- hipertropi otot polos
Beberapa senyawa atau keadaan yg dpt memicu timbulnya asma :
Pemicu
Mekanisme
Kerusakan epitel dan luka krn kepekaan
1; Infeksi pernafasan
thdp reseptor; virus penginduksi beta-bloker
- virus
- influensa
- pneumonia
Pelepasan mediator IgE, Hiperventilasi dan
2; Alergen: - serbuk sari
pelepasan mediator sel mast.
- debu, bulu hewan
- kutu, debu insek,
- spora jamur, dan
- makanan
Pelepasan mediator IgE, Kerusakan epitel,
3; Stimulasi dalam pekerjaan
Kenaikan permiabilitas, dan kepekaan
- pemeliharaan hewan
reseptor iritan
- pekerja pabrik AB
- pekerja rempah
- pelukis (gom arab)
- fabrik plastik dan kayu dll
Mekanisme tdk diketahui kerusakan epitel,
4; Lingkungan
infiltrasi neotropil
- udara dingin

ozon, sulfur dioksid, nitrogen dioksid


5; Emosi : ansietas (cemas)
Lelah, stres, tertawa
6. Obat

Stimulasi parasimpatis (vosokonstriktor)

Respirasi-1

PENGOBATAN
Tujuan Pengobatan Asma:
1; memlihara aktivitas normal
2; memlihara kecepatan fungsi paru
3; mencegah gejala penyebabnya ( misalnya batuk / tdk bisa bernafas pd malam hari, pagi hari atau setelah
melakukan latihan)
4; mencegah eksaserbasi asma
5; menghindari efek yg tak diinginkan dari pengobatan asma

* Penanganan non farmakologik


Dengan program penanganan sendiri yaitu ;
- mengajari pasien mengenal pemicu asma
- menghindari alergen
- pasen perokok dianjurkan utk berhenti merokok
** Penanganan Farmakologik
1. Beta2 agonis (bronkodilator)
Mengaktifkan
Adenil siklase

Na/K/ATPase

Menaikkan c-AMP

glukoneogenesis

Penurunan Ca
intrasel

sekresi insulin
Menstabilkan sel mast
Relaksasi otot polos
Stimulasi otot skelet

Mekanisme terjadinya kontraksi otot polos


SISTEM SIMPATIK

SISTEM PARASIMPATIK
Dirangsang oleh
Asetilkolin
-adrenoreseptor
dihambat oleh
agonis
antikolinergik
Reseptor -adrenoreseptor
Reseptor kolinergik
Adenil siklase
ATP

Guanil siklase

siklik 3-5 AMP

5AMP

GTP

GMPsiklik

5GMP

Fosfo diesterase
Dihambat oleh dimetilxantin
BRONKODILATASI

BRONKOKONSTRIKSI
Respirasi-2

2; Penghambat enzim fosfodiesterase :


Turunan xantin dgn mekanisme menghambat pelepasan Ca-intrasel, menurunkan permiabilitas vaskuler,
menambah klirens mukosiliari, dan menguatkan kontraksi diafragma yg lemah (teoflin, aminofili)

3; Antikolinergik (bronkodilator) ex.Atropin, Ipratropin, Oksitropin


4; Terapi Glukokortikoid (Anti-inflamasi, cegah udema)
- Hidrokortison
- Prednison, Prednisolon
- Metil prednisolon, Triamsinolon
- Betametason, Deksametason
Terapi glukokortikoid sistemik digunakan utk asma berat akut, dikombinasi dgn inheler beta -2 agonis.
Reaksi yg tdk diinginkan pada pemberian glukokortikoid sistemik yg kronik adalah :
- Supresi hipotelamik pituitari adrenal
- Kemunduran pertumbuhan
- Osteoporosis fraktur
- Pankreatitis
- Pseudotumor serebri

5;

Gangguan psiatri
Hipokalemia, hipertensi,
Gangguan pada kulit
Hambatan pd fungsi leukosit / monosit
Glaukoma
Muka bulan
Redistribusi lemak secara sentral
Kortikosteroid inhalasi :
- Beklometason dipropionat
- Budesonid, Flumisolid
- Triamsinolon asetonid
- Flutikason diprodionat
Mekanismenya berhubungan dgn metabolisme menjadi senyawa
Yg kurang aktif sesudah diabsorpsi di paru-paru.
Glukokortikoid dpt mempengaruhi metabolism tulang, termasuk penurunan pengendapat Ca dan menaikkan
resorpsi Ca
pada orang dewasa terjadi pengeroposan tulang.
Bronkodilator yg lain a.l.
1; Antihistamin (antagonis mediator)
Tidak dianjurkan krn berbahaya bagi pasien asma.(efek pengering mukus yg berbahaya).
2; AINS
Hanya menyembuhkan 25% penderita.
3; Gamma globulin (i.v.)
Dapat mengurangi gejala.
4; Heparin inhaler
Menginaktivasi histamin
Respirasi-3

5; Furosemid inhaler
6; Prostaglandin E
7; Antibiotik

Menghambat alergen .

Untuk penyakit dengan tanda-tanda sputum meningkat, viskositas sputum bertambah, adanya perubahan
warna.
- ampisilin
- amoksisilin
Berdasar efek yang ditimbulkan, obat simpatomimetik dapat dibagi atas 3 golongan :
1; yang bekerja selektif terhadap beta 2-adrenoseptor :
- salbutamol ( ventolin )
- terbutalin ( bricasma )
- heksoprenalin ( ipradol )
- orsiprenalin ( alupent )
- trimetokuinol ( inolin )
- prokaterol, fenoterol, iso-etarin dan rimiterol
2; yang bekerja terhadap adrenoseptor beta 1 dan beta 2
- isoprenalin ( aleudrin )
- isopreterenol ( isuprel )
3; yang bekerja terhadap reseptor beta-2, beta-1 dan alfa adrenoseptor termasuk : adrenalin dan efedrin

A. APNEA (henti nafas sejenak)


Dpt diinduksi oleh depresi SSP atau hambatan neuromuskuler
pernapasan.
Pemakaian benzodiazepin i.v. yg terlalu sering dpt menyebabkan
apnea.
Obat yang menginduksi apnea :
1; Depresi SSP
- analgetik narkotik
- sering
- barbiturat
- sda
- benzodiazepin
- sda
- hipnotik/sedatif lain
- jarang
- antidepresan trisiklit
- sda
- fenotiazen
- sda
- promazin
- sda

- anestetik
- antihistamin
- alkohol
- oksigen

- sda
- sda
- agak jarang
- sda
Respirasi-4

2. Disfungsi alat pernapasan


- antibiotik aminoglukosida
- AB polimiksin
- neuromuskuler blocher

- agak jarang
- sda
- sda

B. UDEMA PARU
Penyebab umum :
o kenaikan tekanan hidrostatik dalam kapiler
o adanya tekanan osmotik dalam pembuluh
o adanya keterpaduan epitel alveolar
o adanya tekanan intersitial
Cairan dalam udema paru kardionik mengandung kadar protein rendah sedang dalam udema paru nonkardionik mengandung protein tinggi.
Tanda-tanda klinik :
- batuk
- dispnea (susah bernapas)
- takipnea ( napas cepat )
- takikardia ( denyut nadi > 100 x)
- paru menjadi kaku/mengeras
Obat yang menginduksi udem paru
1; Udema paru kardionik
- cairan i.v berlebihan
- sering
- transfusi darah dlm plasma
- sda
- kortikosteroid
- sda
- fenilbutason
- jarang
- lar.garam intratekal hipertonik - jarang
-agonis beta-2 adrenergik
- agak sering
2. Udema paru non-kardionik
- heroin i.v
- sering
- metadon, morfin dan O2
- agak sering
- propoksifen
- jarang
Diduga udem paru yg diinduksi oleh narkotik disebabkan karena reaksi idiosinkratik (sangat rentan)
pada dosis sedang atau dosis tinggi
Gejala klinik bervariasi dari batuk sampai sianosis pemberian i.v, tetapi dapat sampai 2 jam terutama
pada pemakaian metadon oral.
Pengobatan terdiri dari pemberian naloksan dan bantuan oksigen.

C; EOSINOFILIA PARU
Gangguan yang terjadi ditandai dengan demam batuk,
dispnea, sianosis dan eosinofil dalam darah paru.
Respirasi-5
Obat yang menyebabkan paru kemasukan eosinofil (LOEFFLERS SYNDROME)
- nitrofuran
- sering
- PAS
- sda
- sulfonamid
- agak sering
- penisilin
- sda
- metotreksat
- sda
- impramin
- sda
- klorpropamid
- jarang
- tetresiklin,dll
- sda
Pengobatan dengan menghentikan obat tersebut.
D. KERACUNAN OKSIGEN/
- Keterbatasan seseorang untuk mentolerir oksigen
- Kadar < 50% masih dapat diteloransi
- Antara 50% - 100% resiko kerusakan paru
- Gejala : sakit pada bagian dada, batuk dan susah napas

- Mekanisme secara biokimia :


Kenaikan produksi metabolit oksigen yang sangat reaktif. Oksidan ini termasuk a.I. :
- Superoksid ( O2 ), Hidrogen peroksid ( H2O2),
- Radikal hidroksil ( OH ), Asam hipoklorid ( HOCL ).
Radikal bebas oksigen biasanya dibentuk dalam sel fagosit untuk membunuh mikroorganisme,
tetapi ia juga toksik
terhadap komponen sel normal.
- Oksigen menyebabkan keracunan melalui reaksi redoks yang
destruktif dengan ggs sulfhidril protein, membran lipid dan
asam nukleat.
- Obat yang menaikan produksi oksidan :
o Bleomisin
o Siklofosfamid
o Nitrofurantoin
o Penghambat sistem antioksidan

BEBERAPA OBAT ASMA


EPINEFRIN (adrenalin)
Farmakologi
1; relaksasi otot polos bronkus ( memacu produksi cAMP)
2; meningkatkan frekuensi napas ( merangsang reseptor alfa )
3; mengurangi kongesti mukosa bronkus
4; merupakan vasopresor kuat pada kulit, mukosa dan ginjal (beta-2)
5; mempunyai efek kronotropik & inotropik jantung positif (beta-1)
6; pemberian s.k dan i.m absorpsinya cepat
7; ekskresi berupa asam vanilil-mandelat (VMA)
respirasi-6
Indikasi
1; serangan asma akut.
2; mengatasi reaksi hipersensitivitas terhadap obat dan alergen lain
3; memperpanjang kerja anestesi infiltrasi
4; mengatasi pendarahan pada kulit
ES dan TOKSISITAS
- perangsangan reseptor adrenergik secara berlebihan menimbulkan ;
- ansietas
- tremor
- palpitasi
- takikardia
- sakit kepala
- diaforesis (berkeringat)
- palor (pucat)
Kontraindikasi
- dengan hipertensi
- hipertiroid
- penyakit jantung iskemik
- insufiensi kardiovaskuler
- pasien diatas 60 tahun
ISOPROTERENOL (isuprel)
Farmakologi
1; relaksasi hampir semua otot polos (rangsangan induksi CAMP oleh beta-1)
2; merupakan agonis reseptor beta yang kuat (hampir tidak memberi efek pada reseptor alfa)
3; menurunkan resistensi vaskuler perifer pada otot rangka,ginjal dan mesentrium.
4; metabolisme terutama dihati oleh COMT
5; absorsi kuat setelah pemberian inhalasi.
Indikasi
1; serangan asma berat
2; mengatasi blokade jantung
ES dan toksisitas
1; toksisitas akut

2;
-

efek samping
takikardia
sakit kepala
kulit terasa terbakar
mual, pusing dan diforesis
dapat terjadi angina atau aritmia.
Respirasi-7

EFEDRIN
Farmakologi
1; efek mirip epinefrin,durasi lebih lama dan potensi lebih rendah
2; merupakan reseptor alfa dan beta adrenergik
3; relaksasi otot polos lebih lamah dan berlangsung lebih lama
4; menaikan tekanan darah krn vasokonstriksi dan stimulan jantung
5; lokal pada mata midriasis
6; pada uterus aktivitas berkurang
7; stimulan SSP
8; absorpsi cepat pada pemberian oral.
Indikasi

1; asma kronis yang butuh obat terus menerus


2; nasal kongestan
3; sebagai midriatik dalam tetes mata
Efek samping
1; stimulasi SSP cemas, insomnia
2; tek. Darah naik,karna naiknya resistensi perifer
METAPROTERENOL (alupent)
Farmakologi
1; kimiawi mirip isoproterenol;tapi resisten terhadap metilasi COMT
2; menurunkan tahanan jalan napas
3; relaksasi otot polos bronkus, uterus dan vaskular otot rangka
4; dapat per oral atau inhalasi
5; durasi lebih dari 4 jam
6; efek stimulasi jantung kurang dari isoproterenol
Indikasi
- Bronkodilator pada asma bronkial
- Bronkospasme yg reversibel
Efek Samping dan Toksisitas
Stimulasi reseptor adrenergik alfa dan beta-1 menimbulkan :
- takikardia
- hipertensi
- gugup, tremor, palpitasi
- mual dan muntah
Kontraindikasi
1; dengan hipertensi berat
2; penyakit arteri koroner berat
3; gagal jantung bendungan
4; hipertiroidisme
Toleransi
- Pada pemberian metaproterenol inhalasi < dari isoproterenol
Respirasi-8
TERBUTALIN (BRICASMA)
Farmakologi
1; preparat oral dengan kdr puncak yang lebih tinggi dicapai 1 jam setelah pemberian
2; durasi 7-8 jam

3; secara s.k dapat memperbaiki aliran udara paru dalam 5 menit masa kerja 4 jam
4; secara s.k menimbulkan efek pada kardiovaskuler mirip isoproterenol
Indikasi

- bronkodilator pada asma bronkial


ES dan toksisitas
- pada pemberian oral :
- tremor
- jarang menimbulkan pusing,gugup, lelah, tinitus dan
palpitasi
pada pemberian s.k
- mirip epinefrin
ISO-ETARIN
1; efek samping terhadap jantung < isopreterenol tapi,metaproterenol dan albuterol
2; mula kerja cepat dan durasi 2 jam
3; pemberian per-inhalasi
4; preparat komersil mengandung metabolit sulfat yang dapat menyebabkan eksaserbasi atau pencetus
serangan asma pada pasien yang sensitif
ALBUTEROL
Farmakologi
1. agonis beta-2 relatif selektif
2. Sediaan : oral dan aerosol
3. Kadar puncak dicapai 30-40 menit.
4. durasi 3-6 jam setelah inhalasi
Indikasi
-bronkodilator pada penyakit sal.napas obstruktif tidak menetap.
Efek samping
- gugup,tremor,sakit kepala.,insomnia,lemah,pusing,takikardia dan palpitasi
Kontraindikasi
- Insufisiensi arteri koroner
- Hipertensi
- Hipertiroid
- Diabetes melitus
- Pasien yg mendpt penghambat MAO dan antidepresan trisiklik
Respirasi-9
TEOFILIN
Farmakologi.
1; Perangsang SSP yg kuat
2; Merangsang pusat nafas di medula oblongata
3; Memperbaiki kontraktilitas diafragma
4; Mempunyai efek inotropik pada jantung
5; Relaksasi otot polos bronkus
naiknya kapasitas vital.
6; Meningkatkan ekskresi air dan elektrolit = tiazid
Indikasi
1; Untuk asma dan Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM)
2; memperbaiki fungsi diafragma pada PPOM
3; Untuk mengatasi apne yg lama pada bayi yang sulit lahir.
Efek Samping
1; Peroral :
- Sakit kepala, gugup, mual, muntah, nyeri epugastrum dan kejang
2; Intra-vena :
Aritmia jantung, hipotensi, dan henti jantung serta kejang ( pemberian harus pelan-pelan)
3; Pada anak-anak :
- Perangsangan SSP
- Diuresis dan demam
Interaksi Obat
1. Bersama pemicu enzim sitokrom p-450 seperti barbiturat, fenitoin

dan perokok
metabolisme meningkat.
1. Bersama alupurinol, propanolol, simetidin, eritromisin, vaksin
influensa
metabolisme menurun.

spirasi-10

Fisiologi Batuk
Batuk adalah suatu refleks fisiologis pada keadaan sehat maupun sakit dan dapat ditimbulkan oleh berbagai
sebab.
Refleks umumnya terjadi krn rangsangan dari selaput lendir pernafasan yang terletak di bbp bgn dari
tenggorokan (epiglotis, larynx, trachea) dan cabang tenggorokan (bronchi). Selaput lendir memiliki reseptor yg peka
terhadap zat perangsang dan dapat menimbulkan batuk
Rfleks batuk berfungsi mengeluarkan dan membersihkan jalannya pernapasan dari zat-zat perangsang
asing dan zat-zat infeksi, sehingga merupakan mekanisme perlindungan.
Sebab-sebab Batuk:
a; Radang (infeksi sal.pernafasan dan alergi)
b; Mekanis ( Asap rokok, debu, tumor)
c; Perubahan suhu yang mendadak
d; Rangsangan kimia ( gas, bau-bauan)
Batuk (penyakit) terutama disebabkan oleh virus dan bakteri misalnya: Virus selesma (Common cold), V.
Influensa, Bakteri Pneumococci dan haemophillus).
Batuk juga merupakan gejala yang lazim utk penyakit tifus, radang paru, tumor sal.pernapasan,
dekompensasi jantung, asma atau merupakan kebiasaan(tic). Ada batuk yang tdk sembuh-sembuh dan batuk
darah (hemoptysis) terutama pada anak-anak dapat disebabkan oleh penyakit cacing (ex. Ascaris lum.)
PENGOBATAN
a; Terapi kausal (penyebab) ex. Antimikroba untuk infeksi sal. pernapasan.
b; Terapi simtomatik utk mengurani / meniadakan gejala batuk dimana harus dibedak batuk produktif dan yang
tdk produktif.
a; Batuk produktif merupakan suatu perlindungan dgn fungsi mengeluarkan zat asing ( kuman, debu dsb) dan
dahak dari tenggorokan. Sehingga batuk ini tdk boleh ditekan. Namun dlm praktek batuk yang hebat dpt
mengganggu tidur dan melelahkan pasien, dan berbahaya bagi yg sudah operasi, sehingga perlu
diringankan dgn terapi simtomatis.
Batuk 01
Selain dilarang merokok, sering dilakukan pengobatan sbb:
Uap air (mendidih) yang disedot (inhalasi) guna memperbanyak sekrek yang diproduksi ditenggorokan. Cara
ini efektif dan murah.
Emolliensia utk memperlunak rangsangan batuk. Ex. Sirup thymi dan altheae, zat-zat _ender ( infus
carrageen), dan gula-gula seperti drop, pepermen, dsb.
Ekspektoransia utk mencairkan dahak yg kental dan mempemudah pengeluarannya dgn batuk. Ex. Iodida,
NH4Cl dan kreasot
Mukolitika utk mencairkan dahak ex. Asetil sistein dan bromheksin

b; Batuk tdk produktif yaitu batuk yg tdk berguna bersifat kering seperti batuk rejang (pertussis, kinkhoest)
dan tumor, sehingga harus ditekan.
Untuk menekan rangsangan batuk antara lain:
- Zat-zat perada dgn kerja sentral ex. Kodein, noskapin dan dekstromtorfan atau tanpa kerja sentral ex.
Benzonatat dan dibunat

Antihistaminika dimana efek sedetifnya memegang perannan penting. Banyak dikombinasikan dgn obat
batuk lain dalam bentuk sirup. Ex. Prometasin (Phenergan exp), difenhidramin (Benadryl exp) dan dklorfeniramin (Polaramin exp)
Anestetika lokal yang menghambat penerusan rangsangan batuk
ex. Benzonatat dan pentoksiverin

Penggolongan Obat batuk


1; Antitusiva dapat dibagi menurut titik kerjanya :
a; Zat-zat sentral; zat yang menekan rangsangan batuk dipusat batuk yang terletak di sumsum sambungan
(medula) dan mungkin juga menekan pusat saraf lebih tinggi (otak) dgn efek trangquilizer. Sehingga
dibedakan
- Zat-zat adiktif ; Candu (Pulv. Opii, P.Doveri), Kodein, Hidrokodon dan normetadon. Krn dapat menyebabkan
adiksi, maka harus hati-hati dangan waktu yang singkat
- Zat-zat non adiktif; Zat ini mempertinggi ambang pusat batuk terhadap rangsangan batuk, tanpa memiliki
efek adiktif. Ex. Noskapin, dektrometorfan, Pentoksiverin dan Isoaminil.
Antihistaminika dpt dianggap termasuk kelompok ini.
b; Zat-zat perifer berkhasiat menghambat reseptor sensibel di saluran napas sehingga rangsangan batuk
berkurang. Ex. Benzonatat, Dibunat dan Oksolamin
Batuk - o2

2; Ekspektoransia
Yaitu zat yang berkhasiat mempertinggi sekresi saluran pernafasan dan atau mencairkan dahak sehingga
mudah dikeluarkannya. Terutama pada radang saluran pernafasan.
Ekspektoransia dpt dibagi :
- Bronchial secretolytic (zat pencair dahak) ex. NH4Cl, Kreosot, Minyak kayu putik dan Guaiakol
- Bronchial secretomotoric (zat pengeluaran dahak).
ex. Kamfer, Liquiritiae radix.
- Mukolitika; Ex. Asetilsistein, Karboksisistein dan bromheksin. Zat ini mempunyai daya membuka ikatan disulfida
(S-S) dari mukoprotein dahak sehingga viskositasnya menurun (encer). Ini efektif utk dahak yang kental
sekali ex. Pasien Cystic fibrosis
Obat-obat tersendiri
1; Kodein, Metilmorfin
* Hidrokodon
* Normetadon
2; Zat-zat pereda Sentral
a; Noskapin
b; Dekstrometorpfan
c; Pentoksiverin
3; Zat-zat pereda perifer
a; Benzonatat
b; Dibunat
c; Oksolamin
4; Ekspektoransia
a; Kalium Iodida
b; Ammoniumklorida
c; Kreasot
* Guaifenesin(GG)
d; Minyak-minyak terbang
e; Ipecacuanhae radix
f; Succus Liquiritae
5; Mukolitik.
a; Asetilsistein
* Karbosistein
b. Bromheksin
Batuk - 03
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF

1. Hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit paru obstruktif adalah, kecuali :


a. Asma
b. Filtrasi dinding bronkus c. Emfisema
d. Benda asing yang menyumbat
2. Mekanisme kerja dari turunan xantin pada penghambat enzim fosfodiesterase, kecuali :
a; menghambat pelepasan ca-intrasel c. menurunkan permebilitas vaskuler
b; mencegah udema
d. menguatkan kontraksi diafragma
3. Reaksi yang tidak diinginkan pada pemberian glukokortikoid sistemik yang kronik adalah, kecuali :. . . .
a. anuria
b. osteoporosis fraktur
c. glaukoma
d. pankreatitis
4. Obat Bronkodilator yang digunakan untuk menghambat alergan adalah :
a.furosenad inhaler
b. prostagandin E
c. heparin inhaler
d.gamma globulin (i.v)
5. Obat simpatomimetik yang bekerja selektif terhadap beta-2 adrenoreseptor adalah, kecuali :
a. alendrin
b. bricasma
c. ventolin
d. alupent
6. Sedangkan yang bekerja terhadap adrenoreseptor beta-1 dan beta-2 adalah :
a. alupent
b. inolin
c. isuprel
d. ipradol
7. Tanda-tanda klinik dari udema paru adalah, kecuali :
a.batuk
b. brakhikardia
c. dispnea
d. takipnea
8. Obat yang jarang menginduksi udema paru kardionik adalah :
a. kortikosteroid
b. propoksifen c. heroin
d. fenilbutason
9. Obat yang sering menyebabkan paru kemasukan eosinofil adalah, kecuali :
a. nitrofuran b. tetrasiklin
c. klorpropamid
d. sulfonamid
10. Efek samping akibat penggunaan epinefrin adalah, kecuali :
a. ansietas
b. palpitasi
c. brakhikardia
d. diaforesis
11. Indikasi dari isoproteronal (isuprel) adalah :. . . . . a. mengatasi pendarahan dikulit
b. mengatasi blokade jantung
c. serangan asma akut
d. nasal kongestan
12. Isi zat berkhasiat dari alupent adalah . . . . a.befedrin b. metaproterenal c. Albuterol d. iso-etarin
13. Efek samping teofilin yang digunakan peroral adalah, kecuali :
a. sakit kepala
b. mual dan muntah
c. pusing
d. hipotensi
14. Obat asma yang mempunyai kontra indikasi terhadap hipertiroidisme adalah :
a. terbutalin
b. metaproterenal
c. efedrin
d. iso-etarin
15. Preparat yang indikasinya memperpanjang kerja anestesi infiltrasi adalah :
a. terbutalin
b. metaproterenal
c. isoproterenal
d. Epinefrin

PERTEMUAN II.

SOAL ANTITUSIF

1. Antitusif narkotik yang digunakan sebagai obat standar adalah :


a. morfin
b. dihidromorfin
c. metil morfin
d. dihidrokodeinon
2. Efek samping penggunaan codein dosis lebih tinggi (60 80 mg) adalah, kecuali :
a. gelisah
b. vertigo
c. hipotensi ortostik
d. adiksi
3. Derivat benzilisoklorolin yang diperoleh dari alkaloid opium yang mempunyai efek antitusif saja adalah :
a. noskapin
b. levopropoksifen
c. dekstromeforfan
d. klafedanol
4. Zat-zat yang termasuk demulcent adalah, kecuali :. . . . a. madu
b. kayu manis
c. gliserin
d. ipekak
5. Untuk penekanan batuk kering dan berdarah harus digunakan, kecuali :
a; kodein
b. metadon
c. falkodin
d. bromheksin
6. Batuk yang berasal dari daerah diatas laring dapat digunakan :
a; mukolitik
b. demulcent
c. ekspektoran
d. emetin
7. Obat batuk putih selain sirupus simpleks juga mengandung :
a. minyak pipermin
b. kayu manis
c. amonium klorida
d. amonium sitrat
8. Antitusif yang bekerja perifer adalah, kecuali :. a. lidokain
b. demulcent
c. lignokain
d. noskapin
9. Efek penggunaan utama dari pholcodine adalah :. . . . a. eforia
b. analgesik
c. antitusif
d. adiksi
10. Dosis berlebihan pada penggunaan DMP adalah, kecuali : ..
a. diplopia
b. depresi pernafasan
c. sakit kepala
d. Muntah
Uraian.
1; Jelaskan sebab-sebab terjadinya batuk
2; Jelaskan penggolongan obat batuk dan contoh masing-masing?