Anda di halaman 1dari 11

Perkosaan merupakan

pelanggaran

Hak

Asasi

kejahatan yang

Manusia

(HAM).

serius

Tindakan

dan

bukti

perkosaan

menyebabkan trauma psikologis yang serius pada korban serta


keluarga.
dibuktikan

Perkosaan
walaupun

merupakan
pada

suatu

kasus

peristiwa

tersebut

telah

yang

sulit

dilakukan

pemeriksaan dan pengumpulan barang bukti yang lengkap. Dalam


upaya pembuktian hukum bahwa telah terjadi tindak pidana
perkosaan, maka dalam hal ini Ilmu Kedokteran Forensik sangat
berperan dalam melakukan pemeriksaan dan untuk memperoleh
penjelasan atas peristiwa yang terjadi secara medis.
Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana,
hendaknya dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua
bukti-bukti yang ditemukannya karena berbeda dengan di klinik. Ia tidak lagi
mempunyai kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih
banyak bukti tetapi dalam melaksanakan kewajiban itu, dokter jangan sampai
meletakkan kepentingan si korban di bawah kepentingan pemeriksaan, terutama bila
korban masih anak-anak.Dengan demikian, hendaknya pemeriksaan itu tidak sampai
menambah trauma psikis yang sudah dideritanya.
Visum et repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk
membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan
hukuman. Di Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan, yang diduga merupakan
tindak kejahatan seksual, umumnya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada dokter ahli demikian, dokter
umumlah yang harus melakukan pemeriksaan itu.

2.1 Perkosaan
2.1.1 Definisi Umum
Definisi

secara

umum

dari

perkosaan

adalah

perbuatan

bersenggama yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan,


menciptakan ketakutan, atau dengan cara memperdaya.
Pengertian perkosaan di Indonesia sesuai dengan Pasal 285
KUHP yang bunyinya :
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan
dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan
dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
Jadi tindak pidana perkosaan di Indonesia harus memenuhi
unsur-unsur sebagai berikut :
1. Unsur Pelaku, yaitu:
a. Harus orang laki-laki
b. Mampu melakukan persetubuhan
2. Unsur Korban, yaitu
a. Harus orang perempuan
b. Bukan isteri dari pelaku
3. Unsur perbuatan, terdiri atas
a. Persetubuhan dengan paksa
b. Pemaksaaan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan kekerasan
fisik atau ancaman kekerasan.5
Undang-Undang yang mengatur tindak pidana perkosaan di
Indonesia selain pasal 285 KUHP, yaitu:
Pasal 286 KUHP
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar
perkawinan padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan

pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara


paling lama sembilan tahun
Pasal 287 KUHP
Barang

siapa

perkawinan,

bersetubuh

padahal

dengan

diketahuinya

seorang
atau

wanita

diluar

sepatutnya

harus

diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau


umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 288 KUHP


Bersenggama didalam perkawinan yang mengakibatkan luka
atau kematian8
Pasal 285 sampai dengan 288 KUHP menjadi acuan aparat
penegak

hukum

dalam

menangani

kasus

perkosaan

dan

kejahatan persetubuhan. Dalam perkembangan selanjutnya,


beberapa undang-undang khusus di dalamnya juga mengatur
tentang perkosaan; Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM yang mengatur perkosaan sebagai salah satu
tindak kejahatan terhadap kemanusiaan; Undang-undang No. 23
Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak yang mengatur tentang
perkosaan terhadap anak.5
2.2.2 Pengertian Tindak Pidana Perkosaan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh


W.J.S. Poerwadarminta, pengertian perkosaan dilihat dari
etiologi/asal kata yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Perkosa : gagah; paksa; kekerasan; perkasa.
Memperkosa

1)

menundukkan

dan

sebagainya

dengan

kekerasan:2) melanggar (menyerang dsb) dengan kekerasan.


Perkosaan : 1) perbuatan memperkosa; penggagahan; paksaan;
2) pelanggaran dengan kekerasan9
Backs Law Dictionary, yang dikutip oleh Topo Santoso,
merumuskan perkosaan atau rape sebagai berikut: unlawfull
sexual intercourse with a female without her consent. The
unlawfull carnal knowledge of a woman by a man forcibly and
against her will. The act of sexual intercourse committed by a
man with a woman not his wife and without her consent,
committed when the womans resistance is overcome by force
of fear, or under prohibitive conditions
(hubungan seksual yang melawan hukum/tidak sah dengan
seorang perempuan tanpa persetujuannya. Persetubuhan secara
melawan hukum/tidak sah terhadap seorang perempuan oleh
seorang laki-laki dilakukan dengan paksaan dan bertentangan
dengan kehendaknya. Tindak persetubuhan yang dilakukan oleh
seorang laki-laki terhadap seorang perempuan bukan istrinya
dan

tanpa

persetujuannya,

dilakukan

ketika

perlawanan

perempuan tersebut diatasi dengan kekuatan dan ketakutan,


atau di bawah keadaan penghalang)

Dalam kamus tersebut dijelaskan bahwa: Seorang laki-laki yang


melakukan sexual intercourse dengan seorang perempuan
yang bukan istrinya dinyatakan bersalah jika;
1) Dia memaksa perempuan itu untuk tunduk/menyerah dengan
paksa atau dengan ancaman akan segera dibunuh, dilukai berat,
disakiti atau diculik, akan dibebankan pada orang lain; atau
2) Dia telah menghalangi kekuatan perempuan itu untuk menilai
atau mengontrol perbuatannya dengan memberikan obatobatan,
tanpa pengetahuannya, racun atau bahan-bahan lain dengan
tujuan untuk mencegah perlawanannya; atau
3) Perempuan itu dalam keadaan tidak sadar;
4) Perempuan itu di bawah usia 10 tahun.10
2.2.3 Karakteristik Tindak Pidana Perkosaaan
Adapun karakteristik utama (khusus) tindak pidana perkosaan
menurut Kadish yaitu bukan ekspresi agresivitas seksual (the
aggressive
agresivitas

axpression
(sexual

of

sexuality)

expression

of

tapi

ekspresi

aggression).

seksual
Artinya,

perwujudan keinginan seks yang dilakukan secara agresif,


bersifat menyerang atau memaksa lawan jenia (pihak) lain yang
dapat dan dianggap mampu memenuhi kepentingan nafsunya.
Karakteristik umum tindak pidana perkosaan:
a. Agresivitas, merupakan sifat yang melekat pada setiap
perkosaan;
b. Motivasi kekerasan lebih menonjol dibandingkan dengan
motivasi seksual semata-mata;

c. Secara psikologis, tindak pidana perkosaan lebih banyak


mengandung masalah kontrol dan kebencian dibandingkan
dengan hawa nafsu;
d. Tindak pidana perkosaan dapat dibedakan ke dalam tiga
bentuk, yaitu: anger rape, power rape dan sadistis rape. Dan ini
direduksi dari anger dan violation, control and domination,erotis;
e. Ciri pelaku perkosaan: mispersepsi pelaku atas korban,
mengalami pengalaman buruk khususnya dalam hubungan
personal (cinta), terasing dalam pergaulan sosial, rendah diri,
ada ketidakseimbangan emosional;
f. Korban perkosaan adalah partisipatif. Menurut Meier dan
Miethe, 4-19% tindak pidana perkosaan terjadi karena kelalaian
(partisipasi) korban;
g. Tindak pidana perkosaan secara yuridis sulit dibuktikan
Di antara karakteristik perkosaan itu, ciri kekerasan dan sulitnya
dilakukan pembuktian tampaknya perlu mendapatkan perhatian
utama.

Kekerasan

berdampak

yang

merugikan

menimpa

ketahanan

korban
fisikmya,

bukan
namun

hanya
juga

ketahanan psikologisnya. Kondisi buruk yang membuat korban


tidak berdaya ini berdampak buruk lebih lanjut pada persoalan
penegakan hukumnya.11
2.2.4 Jenis-Jenis Perkosaan
Perkosaan dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Sadistic Rape

Perkosaan sadistis, artinya pada tipe ini seksualitas dan agresif


berpadu dalam bentuk yang merusak. Pelaku perkosaan telah
nampak menikmati kesenangan erotik bukan melalui hubungan
seksnya, melainkan melalui serangan yang mengerikan atas alat
kelamin dan tubuh korban.
b. Anger Rape
Yakni penganiayaan seksual yang bercirikan seksualitas yang
menjadi sarana untuk menyatakan dan melampiaskan rasa
geram dan marah yang tertahan. Tubuh korban disini seakan
akan

merupakan

obyek

terhadap

siapa

pelaku

yang

memproyeksikan pemecahan atas frustasi-frustasi, kelemahan,


kesulitan dan kekecewaan hidupnya.
c. Domination Rape
Yaitu suatu perkosaan yang terjadi ketika pelaku mencoba untuk
gigih

atas

kekuasaan

dan

superioritas

terhadap

korban.

Tujuannya adalah penaklukan seksual, pelaku menyakiti korban,


namun tetap memiliki keinginan berhubungan seksual.
d. Seductive Rape
Suatu

perkosaan

yang

terjadi

pada

situasi-situasi

yang

merangsang yang tercipta oleh kedua belah pihak. Pada


mulanya korban memutuskan bahwa keintiman personal harus
dibatasi tidak sampai sejauh persenggamaan. Pelaku pada
umumnya mempunyai keyakinan membutuhkan paksaan, oleh
karena tanpa itu tidak mempunyai perasaan bersalah yang
menyangkut seks.

e. Victim Precipitated Rape


Yaitu

perkosaan

yang

terjadi

(berlangsung)

dengan

menempatkan korban sebagai pencetusnya.


f. Exploitation Rape
Perkosaan yang menunjukkan bahwa pada setiap kesempatan
melakukan hubungan seksual yang diperoleh oleh laki-laki
dengan mengambil keuntungan yang berlawanan dengan posisi
perempuan yang bergantung padanya secara ekonomis dan
sosial. Misalnya istri yang diperkosa oleh suaminya atau
pembantu rumah tangga yang diperkosa oleh majikannya,
sedangkan

pembantunya

tidak

mempersoalkan

mengadukan kasusnya ini kepada pihak yang berwajib11

atau

Pemeriksaan korban perkosaan


Berdasarkan pasal 133 KUHAP penyidik berwenang minta bantuan dokter untuk
memeriksa korban perkosaan. Disini diperlukan pemeriksaan yang teliti untuk
menemukan beberapa hal yang benjadi unsur tindak pidana, yakni unsur persetubuhan
dan kekerasan. Bukti-bukti medik dapat digunakan untuk menyimpulkan adanya
unsur kekerasan sebab pada ancaman kekerasan tidak ditemukan bukti-bukti medik.
Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap korban perkosaan perlu memperhatikan
hal-hal berikut:
1. Harus ada surat permintaan Visun Et Repertum dari polisi dan keterangan
mengenai kejadiannya.
2. Harus ada persetujuan secara tertulis dari korba atau orang tua / wali korban
yang menyatakan tidak keberatan untuk diperiksa seorang dokter.
3. Harus ada seorang perawat wanita atau polisi wanita yang mendampingi
dokter selama melakukan pemeriksaan.
Tujuan pemeriksaan korban perkosaan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mencari keterangan tentang korban


Mencari keterangan tentang peristiwa pemerkosaan
Mencari adanya bekas-bekas kekerasan
Mencari adanya perubahan-perubahan pada alat kelamin korban
Mencari adanya spermatozoa
Mencari akibat dari perkosaan

Pemeriksaan medis untuk korban perkosaan pada umumnya dilakukan secara


berurutan yaitu:

Anamnesa
Pemeriksaan fisik
laboraturium

Anamnesa
Anamnesa korban perkosaan ditujukan :
1. Mencari keterangan tentang diri korban
a) Nama, umur, alamat dan pekerjaan korban
b) Status perkawinan korban
c) Persetubuhan yang pernah dialami korban sebelum terjadi peristiwa
perkosaan
d) Tanggal menstrusi terakhir
e) Kehamilan, riwayat persalinan atau keguguran
f) Penyakit dan operasi yang perna dialami korban
g) Kebiasaan korban terhadap alkohol atau obat-obatan
2. Mencari keterangan tentang peristiwa perkosaan
a) Tanggal , jam tempat terjadinya
b) Keadaan korban saat sebelum kejadian
c) Posisi korban pada waktu kejadian
d) Persetubuhan yang dilakukan terhadap korban
e) Cara perlawanan korban
Pemeriksaan fisik :
1. Pemeriksaan baju korban
Ada yang hilang
Ada robekan-robekan
Ada kancing yang hilang
Ada bekas-bekas tanah,pasir,lumpur
Ada noda darah
Ada noda sperma
2. Pemeriksaan tubuh korban
a. Pemeriksaan tubuh korban secara umum
Tanda-tanda kekerasan : dicari tanda-tanda bekas kekerasan
pada tubuh korban berupa : goresan,garukan,gigitan serta luka
lecet maupun luka memar
b. Pemeriksaan tubuh korban secara khusus
Tanda tanda persetubuhan
Tanda langsung
- Robeknya selaput darah akibat penetrasi penis
- Lecet atau memar akibat gesekan-gesekan penis
- Adanya sperma akibat ejakulasi
Tanda tidak langsung
- Terjadinya kehamilan

Terjadi penularan penyakit kelamin

Pemeriksaan penunjang
Pada

kasus

kekerasan

seksual,

perlu

dilakukan

pemeriksaan

penunjang sesuai indikasi untuk mencari bukti-bukti yang terdapat


pada tubuh korban. Sampel untuk pemeriksaan penunjang dapat
diperoleh dari, antara lain:12
o Pakaian yang dipakai korban saat kejadian, diperiksa lapis demi lapis untuk
mencari adanya trace evidence yang mungkin berasal dari pelaku, seperti
darah dan bercak mani, atau dari tempat kejadian, misalnya bercak tanah atau
daun-daun kering
o Rambut pubis, yaitu dengan menggunting rambut pubis yang menggumpal
atau mengambil rambut pubis yang terlepas pada penyisiran
o Kerokan kuku, apabila korban melakukan perlawanan dengan mencakar
pelaku maka mungkin terdapat sel epitel atau darah pelaku di bawah kuku
korban
o Swab, dapat diambil dari bercak yang diduga bercak mani atau air liur dari
kulit sekitar vulva, vulva, vestibulum, vagina, forniks posterior, kulit bekas
gigitan atau ciuman, rongga mulut (pada seks oral), atau lipatan-lipatan anus
(pada sodomi),atau untuk pemeriksaan penyakit menular seksual.
o Darah, sebagai sampel pembanding untuk identifikasi dan untuk mencari
tanda-tanda intoksikasi NAPZA.
o Urin, untuk mencari tanda kehamilan dan intoksikasi NAPZA.