Anda di halaman 1dari 5

Sulfur

Sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang


memiliki lambang S dan nomor atom 16. Bentuk sulfur adalah
non-metal yang tak berasa, tak berbau dan multivalent. Sulfur
dalam bentuk aslinya merupakan sebuah zat padat kristalin
kuning. Di alam belerang atau sulfur ini dapat ditemukan sebagai
unsur murni atau sebagai mineral-mineral sulfit dan sulfat. (Rezqi
Velyan S.K. 2009).
Sulfur (S) berada dalam bentuk organik dan anorganik.
Sulfur anorganik terutama terdapat dalam bentuk sulfat (SO42-),
yang merupakan bentuk sulfur utama di perairan dan tanah (Rao,
1992 dalam Effendi, 2003). Di perairan, sulfur berikatan dengan
ion hidrogen dan oksigen. Hasil akhir dari oksidasi sulfur adalah
sulfat (SO42-), sedangkan hasil akhir dari reduksi sulfat adalah H2S
(Madigan et al., 1996). Beberapa bentuk sulfur di perairan
adalah sulfida (S2), hidrogen sulfida (H2S), ferro sulfida (FeS),
sulfur dioksida (SO2), sulfit (SO32), dan sulfat (SO42-) (Effendi, 2003
dalamRezqi Velyan S.K. 2009).
Sulfida (S2-)
Sulfida merupakan gas asam belerang. Pada air limbah
sulfida merupakan hasil pembusukan zat organik berupa
hidrogen sulfida (H2S). hidrogen sulfida yang diproduksi oleh
mikroorganisme pembusuk dari zat-zat organik bersifat racun
terhadap ganggang dan mikroorganisme lainnya, tetapi
sebaliknya hidrogen sulfida dapat digunakan oleh bakteri
fotosintetik sebagai donor elektron/hidrogen untuk mereduksi
karbondioksida (CO2). Hasil pembusukan zat-zat organik tersebut
menimbulkan bau busuk yang tidak menyenangkan pada
lingkungan sekitarnya. (Margareth, 2009).
Dalam proses industri, keberadaan sulfida dalam bentuk
hidrogen sulfida sangat menganggu karena dapat menyebabkan

kerusakan pada beton-beton dan juga menyebabkan berkaratnya


logam-logam (pipa penyaluran). Penetapan sulfida bertujuan
untuk menganalisa gas asam belerang dalam air limbah yang
terjadi dari proses penguraian zat-zat organik (senyawa
belerang) penyebab timbulnya bau busuk pada perairan.
(Mahida, 1984 dalam Margareth, 2009).
Hidrogen Sulfida (H2S) adalah gas yang tidak berwarna,
beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini
dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai
bahan organik dalam keadaan oksigen (aktivitas anaerobic),
seperti dirawa dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga
muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung berapi dan
gas alam. Hidrogen sulfida juga dikenal dengan nama sulfana,
gas limbah. IUPAC menerima penamaan hidrogen sulfida dan
sulfana, kata terakhir digunakan lebih eksklusif ketika
menamakan campuran yang lebih kompleks. Kimiawi hidrogen
sulfida merupakan hidrida kovalen yang secara kimia terkait
dengan air (H2O) karena oksigen dan sulfur berada dalam
golongan yang sama. Hidrogen sulfida merupakan asam lemah,
terpisah dalam larutan yang mengandung air menjadi kation
hidrogen H+
H2S HS- + H+
Ka = 1,3 x 10-7 mol/L ; pKa = 6,89
Ion sulfida (S2-) dikenal dalam bentuk padatan tetapi tidak
didalam larutan oksida. Konstanta disosiasi kedua dari hidrogen
sulfida sering dinyatakan sekitar 10-13.
Toksisitas Sulfida
Efek fisik gas H2S terhadap manusia tergantung dari
beberapa faktor, diantaranya adalah :
a. Lamanya seseorang berada di lingkungan paparan H2S.
b. Frekuensi seseorang terpapar.
c. Besarnya konsentrasi H2S.

d. Daya tahan seseorang terhadap paparan H2S.


H2S secara natural di produksi di tubuh yaitu di usus besar,
tetapi enzim di tubuh manusia bisa menetralisir racun tsb
dengan oxidasi prosesnya yaitu dengan membentuk sulfat. Jadi
H2S dosis rendah dapat ditoleransi tanpa batas oleh tubuh. Tetapi
enzim oxidasi ini tidak akan mampu netralisir H2S dengan kadar
>300 - 350 ppm.
Berikut adalah efek H2S pada kesehatan menurut ANSI
(American National Standard Institute) :
a. 0,13 ppm
: bau minimal
b. 4,60 ppm
: mudah terdeteksi, bau sedang
c. 10 ppm
: mulai iritasi mata
d. 27 ppm
: bau tidak enak, sangat kuat, dapat
ditoleransi
e. 100 ppm

batuk, iritasi mata, kehilangan

sensasi bau setelah paparan 2 - 5 menit ( IDLH )


f. 200 - 300 ppm
: radang mata conjunctivitis, iritasi
saluran napas, setelah 1 jam paparan
g. 500 - 700 ppm
: hilang kesadaran, henti napas,
kematian dalam 30 - 60 menit
h. 1000 - 2000 ppm
: hilang kesadaran dengan segera,
henti napas dan kematian dalam beberapa menit.
Konsentrasi rendah
Bisa mengiritasi mata, hidung, tenggorokan dan sistem
pernapasan ( seperti mata perih dan terbakar, batuk, dan sesak
napas). Orang penderita asma bisa menjadi tambah berat
penyakitnya. Efek ini bisa tidak secara langsung dan baru terasa
beberapa jam atau hari kemudian. Pemaparan berulang ataupun
jangka panjang dapat menimbulkan gejala : mata merah, sakit
kepala,

fatigue,

mudah

marah,

susah

pencernaan, dan penurunan berat badan.


Konsentrasi Sedang

tidur,

gangguan

Bisa menyebabkan iritasi mata dan pernapasan yang


berat( batuk, susah bernapas, penumpukkan cairan di paru),
sakit kepala, pusing, mual, muntah, mudah marah.

Mekanisme Keracunan Sulfida


Rute utama masuk ke dalam tubuh adalah melalui jalan
napas yaitu inhalasi/hirupan. Dan gas ini secara cepat di serap
oleh paru-paru. Absorpsi melalui kulit bisa terjadi, walaupun
hanya sedikit saja.
Hidrogen sulfida dianggap sebagai racun dengan spektrum
yang luas, artinya bisa beberapa sistem racun yang berbeda
dalam tubuh, meskipun sistem saraf yang paling terpengaruh.
Toksisitas H2S sebanding dengan hidrogen sianida. yaitu
membentuk ikatan kompleks dengan zat besi dalam mitokondria
sitokrom enzim , sehingga menghalangi oksigen dan
menghentikan respirasi selular. Enzim sitokrom oksidase yang
terdiri dari sitokrom a-a3 komplek dan sistem transport elektron.
Bilaman sulfida mengikat enzim komplek tersebut, transport
elektron akan terhambat yaitu transport elektron dari sitokrom
a3 ke molekul oksigen di blok. Sebagai akibatnya akan
menurunkan penggunaan oksigen oleh sel.
Penaganan Keracunan Sulfida
Penanganan pertama adalah :
a. Memindahkan korban dari daerah terkontaminasi ke
tempat dengan udara segar.
b. Dalam kasus yang berat, perlu dilakukan intubasi, untuk
menjamin kelancaran udara.
c. Pasang IV line.
d. Periksa kantung baju korban, karena bila uang coin
berubah warna, merupakan suatu diagnosis.

e. Di UGD pemberian high flow oxygen 100% merupakan


hal yang terpenting.
f. Jika ada hipotensi bisa diberikan obat vaso pressor.
g. Jika ada sesak napas, bisa diberikan bronchodilator.
h. Koreksi asidosis berdasarkan pemeriksaan arterial blood
gas

dan

serum

penanganan

laktat.

Ada

persamaan

keracunan Cyanida,

yaitu

dengan
stimulasi

methemoglobinemia.
i. Berikan 10 ml 3% Sodium Nitrit dalam 2 - 4 menit
( dewasa).
j. Cek kadar methemobloginemia dalam 30 menit.
k. Bisa dirawat di ICU.
l. Jika korban tidak berespon dengan pengobatan nitrit IV
atau

punya

dipertimbangkan

gangguan

syaraf,

pengobatan

maka

Hyperbaric

harus
Oxygen

Therapy ( HBO)
m. Dengan pemberian antidotum. Yaitu dengan DMAP,
Natrium tiosulfat, EDTA ( terjadi pembentukan
methemoglobin/tiosianat/kompleks CN ).