Anda di halaman 1dari 7

MUZARO’AH DAN MUKHOBAROH

Disusun oleh :
LUKLUIL MAKNUNAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


(STAI) TUANKU TAMBUSAI
PASIR PENGARAIAN KAB. ROKANHULU
2009
PENDAHULUAN

Apabila kita perhatikan kehidupan masyarakat Indonesia yang agraris. Praktik pemberian
imbalan atAs jasa seseorang yang telah menggarap tanah orang lain masih banyak
dilaksanakan pemberian imbalan ada yang cenderung pada praktek muzara’ah dan ada
yang cenderung pada praktik mukhabarah. Hal tersebut banyak dilaksanakan oleh para
petani yang tidak memiliki lahan pertanian hanya sebagai petani penggarap.
Muzara’ah dan mukhabarah ada Hadits yang melarang seperti yang diriwayatkan oleh
(H.R Bukhari) dan ada yang membolehkan seperti yang diriwayatkan oleh (H.R Muslim).
Berdasarkan pada dua Hadits tersebut mudah – mudahan kedua belah pihak tidak ada
yang dirugikan oleh salah satu pihak, baik itu pemilik tanah maupun penggarap tanah
II. MUZARA’AH DAN MUKHABARAH

A. Pengertian Muzara’ah dan Mukhabarah


Muzara’ah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan
imbalan sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya
pengerjaan dan benihnya ditanggung pemilik tanah
Mukhabarah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan
imbalan sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya
pengerjaan dan benihnya ditanggung orang yang mengerjakan.
Munculnya pengertian muzara’ah dan mukhabarah dengan ta’rif yang berbeda tersebut
karena adanya ulama yang membedakan antara arti muzara’ah dan mukhabarah, yaitu
Imam Rafi’I berdasar dhahir nash Imam Syafi’i. Sedangkan ulama yang menyamakan
ta’rif muzara’ah dan mukhabarah diantaranya Nawawi, Qadhi Abu Thayyib, Imam
Jauhari, Al Bandaniji. Mengartikan sama dengan memberi ketetntuan: usaha
mengerjakan tanah (orang lain) yang hasilnya dibagi.

B. Dasar Hukum Muzara’ah Dan Mukhabaroh

‫ج َهِذِه‬
ْ ‫خِر‬
ْ ‫ت َهِذِه َوَلْم ُت‬
ْ ‫ج‬
َ ‫خَر‬
ْ ‫ن َلَنا َهِذِه َفُرَبَما َأ‬
ّ ‫عَلى َا‬
َ ‫ض‬
َ ‫لْر‬
َ ‫ل َفُكّنا ُنْكِرىْا‬
ً ‫حْق‬
َ ‫صاِر‬
َ ‫لْن‬
َ ‫ل ُكّناَاْكَثَرْا‬
َ ‫ج َقا‬
ِ ‫خِدْي‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ن َراِفِع ْب‬
ْ‫ع‬َ
َ ‫ن َذِل‬
‫ك‬ ْ‫ع‬َ ‫َفَنَهاَنا‬

‫ع )رواه‬
ٍ ‫ن َثَمٍر َاْوَزْر‬
ْ ‫ج ِمْنَها ِم‬
ُ ‫خُر‬
ْ ‫ط َماَي‬
ِ ‫شْر‬
َ ‫خْيَبَر ِب‬
َ ‫ل‬
َ ‫ل َأْه‬
َ ‫عاَم‬
َ ‫سّلَم‬
َ ‫عَلْيِه َو‬
َ ‫ل‬
ُ ‫صّلى ا‬
َ ‫ي‬
ّ ‫ن الّنِب‬
ّ ‫عَمَرَا‬
ُ ‫ن‬
ِ ‫ن ِاْب‬
ْ‫ع‬َ

‫مسلم‬ )
Artinya:
Dari Ibnu Umar: “Sesungguhna Nabi SAW. Telah memberikan kebun kepada penduduk
khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari
penghasilan, baik dari buah – buahan maupun dari hasil pertahun (palawija)” (H.R
Muslim)
C. Pandangan Ulama Terhadap Hukum Muzara’ah Dan Mukhabarah
Dua Hadits di atas yang dijadikan pijakan ulama untuk menuaikan kebolehan dan
katidakbolehan melakukan muzara’ah dan mukhabarah. Setengah ulama melarang paroan
tanah ataupun ladang beralasan pada Hadits yang diriwayatkan oleh bukhari tersebut di
atas
Ulama yang lain berpendapat tidak ada larangan untuk melakukan muzara’ah ataupun
mukhabarah. Pendapat ini dikuatkan oleh Nawawi, Ibnu Mundzir, dan Khatabbi, mereka
mengambil alsan Hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas
Adapun Hadits yang melarang tadi maksudnya hanya apabila ditentukan penghasilan dari
sebagian tanah, mesti kepunyaan salah seorang diantara mereka. Karena memang
kejadian di masa dahulu, mereka memarohkan tanah dengan syarat dia akan mengambil
penghasilan dari sebagian tanah yang lebih subur keadaan inilah yang dilarang oleh Nabi
Muhammad SAW. Dalam Hadits yang melarang itu, karena pekerjaan demikian bukanlah
dengan cara adil dan insaf. Juga pendapat ini dikuatkan orang banyak.

D. Zakat Muzara’ah Dan Mukhabarah


Zakat hasil paroan sawah atau ladang ini diwajibkan atas orang yang punya benih, jadi
pada muzara’ah, zakatnya wajib atas petani yang bekerja, karena pada hakekatnya dialah
yang bertanam, yang punya tanah seolah – olah mengambil sewa tanahnya, sedangkan
penghasilan sewaan tidak wajib dikeluarkan zakatnya
Sedangkan pada mukhabarah, zakat diwajibkan atas yang punya tanah karena pada
hakekatnya dialah yang bertanam, petani hanya mengambil upah bekerja. Penghasilan
yang didapat dari upah tidak wajib dibayar zakatnya. Kalau benih dari keduanya, maka
zakat wajib atas keduanya, diambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi

E. Syarat – Syarat Muzara’ah

Menurut jumhur ulama’ adalah:

1. harus baligh dan berakal

2. Jelas dan menghasilkan


3. menurut adat dan batas lahan itu jelas

4. pembagian hasil harus jelas dan memang benar – benar milik bersama.

F. Musaaqah

Merupakan transaksi antara pemilik kebun /tanaman dan pengolah/penggarap untuk


memelihara dan merawat kebun pada masa tertentu sampai pada masa tertentu sampai
tanaman itu berbuah.

Rukun dan syarat musaaqah

1. ada dua orang yang beraqad

2. ada lahan yang dijadikan objek

3. bentuk/jenis usa yang dilakukan

4. ada ketentuan bagian masing – masing

5. ada perjanjian

III. KESIMPULAN
Mukhabarah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan
imbalan sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya
pengerjaan dan benihnya ditanggung orang yang mengerjakan.
Dengan adanya praktek mukahbarah sangat menguntungkan kedua belah pihak. Baik
pihak pemilik sawah atau ladang maupun pihak penggarap tanah.
Pemilik tanah lahannya dapat digarap, sedangkan petani dapat meningkatkan tarap
hidupnya

DAFTAR PUSTAKA

H. Sulaeman Rasyid, Fiqih Islam, PT. Sinar Baru Algensindo, Bnandung, 1994
Drs. Suparta dkk. Materi Pokok Fiqih I, Universitas terbuka, 1992
DR. (He) Drs. H.S Sholahuddin, Fiqhul Islam, Biro Penerbit Jurusan Syariah STAIN
Cirebon, 2000

Dr. H Hendi suhadi,Msi. 1997.Fiqih Mualamalah, Pustaka rajawali Pers

H.M.Suparta.2004.Fiqih Madrasah Aliyah,Semarang:Toha Putra.