Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ekonomi

Islam

yang

merupakan

rahmatan

lil

alamin,

kembali

bangkit

menorehkan Blue Print-nya. Keberadaannya sangat penting untuk memenuhi tuntutan


masyarakat akan kegagalan ekonomi konvensional. Bahkan, ekonomi Islam memiliki prinsip
dan karakteristik yang berbeda dengan sistem sekuler yang menguasai dunia saat ini.
Sebenarnya, ekonomi Islam adalah bagian dari sistem Islam yang bersifat umum yang
berlandaskan pada prinsip pertengahan dan keseimbangan yang adil (tawadzun). Islam,
menyeimbangkan

kehidupan

antara

dunia

dan

akhirat,

antara

individu

dan

masyarakat. Keseimbangan antara jasmani dan rohani, antara akal dan hati dan antara realita
dan fakta merupakan keseimbangan yang ada dalam individu. Sedangkan dalam bidang
ekonomi, islam menyeimbangkan antara modal dan aktivitas, antara produksi dan konsumsi,
dan sebagainya.
Adapun nilai pertengahan dan keseimbangan yang terpenting, yang merupakan karya
Islam dalam bidang ekonomi selain masalah harta adalahHak Kepemilikan (Ownership
Rights). Dalam memandang hak milik ini islam sangat moderat. Dan sangat bertolak
belakang dengan sistem kapitalis yang menyewakan hak milik pribadi, sistem sosialis yang
tidak mengakui hak milik individu1.
Meskipun demikian, Masalah hak milik merupakan sebuah kata yang amat peka, dan
bukan sesuatu yang amat khusus bagi seorang manusia. Oleh karena itu, Islam sangat
mengakui adanya kepemilkan pribadi disamping kepemilikan umum. Dan menjadikan hak
milik pribadi sebagai dasar bangunan ekonomi. Dan Itu pun akan terwujud apabila ia
berjalan sesuai dengan aturan Allah SWT, misalnya adalah memperoleh harta dengan jalan
yang halal. Islam melarang keras kepemilikan atas harta yang digunakan untuk membuat
kezaliman atau kerusakan di muka bumi.

1 http://eki-blogger.blogspot.com/2012/09/kepemilikan-dalam-islam.html [diakses pada 26


September 2014]

Karena begitu pentingnya aspek kepemilikan dalam bidang ekonomi, maka dalam
makalah ini saya mencoba membahas dan memaparkan tentang Kepemilikan dan sebabsebabnya sesuai dengan urgensinya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah yang diangkat oleh penulis disini adalah sebagai berikut.
1. Apakah pengertian dari kepemilikan dalam Islam?
2. Apa sajakah jenis-jenis kepemilikan dalam Islam?
3. Apakah sebab-sebab timbulnya kepemilikan dalam Islam?
4. Bagaimanakah cara kepemilikan harta dalam Islam (al-milkiyah)?
5. Bagaimanakah cara pengelolaan kepemilikan dalam Islam itu (at-tasharruf fi al milkiyah)?
6. Bagaimanakah proses pembagian harta dalam Islam itu?
7. Apakah maqashid syariah dalam kepemilikan harta itu?
8. Bagaimanakah kedudukan harta dalam Islam?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pengertian dari kepemilikan dalam Islam;
2. Mengetahui jenis-jenis kepemilikan dalam Islam;
3. Mengetahui sebab-sebab timbulnya kepemilikan dalam Islam;
4. Mengerti akan cara kepemilikan harta dalam Islam (al-milkiyah);
5. Mengerti akan cara pengelolaan kepemilikan dalam Islam itu (at-tasharruf fi al milkiyah);
6. Mengetahui tentang proses pembagian harta dalam Islam itu;
7. Mengetahui akan maqashid syariah dalam kepemilikan harta;
8. Mengetahui kedudukan harta dalam Islam.
1.4 MANFAAT
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Memperluas wawasan masyarakat tentang seluk beluk Ekonomi Syariah (Islam)
khususnya dalam hal kepemilikan dan harta dalam Islam;
2. Mengajak masyarakat agar mengerti dan tidak simpang siur akan kepemilikan dan
pembagian harta dalam Islam;

3. Memberikan gambaran konsep tentang Ekonomi Syariah (Islam) guna sebagai acuan
referensi.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN KEPEMILIKAN
"Kepemilikan" berasal dari bahasa Arab dari akar kata "malaka" yang artinya
memiliki. Dalam bahasa Arab "milk" berarti kepenguasaan orang terhadap sesuatu (barang
atau harta) dan barang tersebut dalam genggamannya baik secara riil maupun secara hukum.
MILIK" adalah hubungan khusus seseorang dengan sesuatu (barang) di mana orang
lain terhalang untuk memasuki hubungan ini dan si empunya berkuasa untuk
memanfaatkannya selama tidak ada hambatan legal yang menghalanginya.
Batasan teknis ini dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika ada orang yang
mendapatkan suatu barang atau harta melalui cara-cara yang dibenarkan oleh syara', maka
terjadilah suatu hubungan khusus antara barang tersebut dengan orang yang memperolehnya.
Yaitu, yang memungkinkannya untuk menikmati manfaatnya dan mempergunakannya
sesuai dengan keinginannya selama ia tidak terhalang hambatan-hambatan syar'i.
Hambatan Syari Kepemilikan:
1. gila / sakit ingatan/ hilang akal;
2. masih terlalu kecil sehingga belum paham memanfaatkan barang (belum balig).
2.2 JENIS-JENIS KEPEMILIKAN
Para fukoha membagi jenis-jenis kepemilikan menjadi dua, yaitu:
1. Kepemilikan sempurna (tamm): Kepemilikan sempurna adalah kepemilikan
seseorang terhadap barang dan juga manfaatnya sekaligus
2. Kepemilikan kurang (naaqis): Sedangkan kepemilikan kurang adalah yang hanya
memiliki substansinya saja atau manfaatnya saja.
Dua jenis kepemilikan ini mengacu kepada kenyataan bahwa manusia dalam
kapasitasnya sebagai pemilik suatu barang dapat mempergunakan dan memanfaatkan
susbstansinya saja, atau nilai gunanya saja atau kedua-duanya. Kedua-dua jenis kepemilikan

ini akan memiliki konsekuensi syara yang berbeda-beda ketika memasuki kontrak muamalah
seperti jual beli, sewa, pinjam-meminjam dan lain-lain.
2.3 SEBAB-SEBAB TIMBULNYA KEPEMILIKAN DALAM ISLAM
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kepemilikan dalam syariah ada empat
macam yaitu:
1. Kepenguasaan terhadap barang-barang yang diperbolehkan;
2. Akad;
3. Penggantian;
4. Turunan dari sesuatu yang dimiliki.
Kepemilikan yang sah menurut Islam adalah kepemilikan yang terlahir dari proses
yang disahkan Islam dan menurut pandangan Fiqh Islam terjadi karena:
1. Menjaga hak Umum;
2. Transaksi Pemindahan Hak;
3. Penggantian Posisi Pemilikan.
Menurut Taqyudin an-Nabani dikatakan bahwa sebab-sebab kepemilikan seseorang
atas suatu barang dapat diperoleh melalui suatu lima sebab, yaitu:
1. Bekerja;
2. Warisan;
3. Kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup;
4. Harta pemberian Negara yang diberikan kepada rakyat;
5. Harta yang diperoleh seseorang tanpa mengeluarkan harta atau tenaga apapun.
Kepenguasaan terhadap barang-barang yang diperbolehkan. Yang dimaksud dengan barangbarang yang diperbolehkan di sini adalah barang (dapat juga berupa harta atau kekayaan)
yang belum dimiliki oleh seseorang dan tidak ada larangan syara untuk dimiliki seperti air di
sumbernya, rumput di padangnya, kayu dan pohon-pohon di belantara atau ikan di sungai dan
di laut.
Kepemilikan jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Kepenguasaan ini merupakan sebab yang menimbulkan kepemilikan terhadap suatu
barang yang sebelumnya tidak ada yang memilikinya;
b) Proses kepemilikan ini adalah karena aksi praktis dan bukan karena ucapan seperti
dalam akad.
Karena kepemilikan ini terjadi oleh sebab aksi praktis, maka dua persyaratan di
bawah ini mesti dipenuhi terlebih dahulu agar kepemilikan tersebut sah secara syari yaitu:

Belum ada orang lain yang mendahului ke tempat barang tersebut untuk
memperolehnya. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, Siapa yang lebih
dahulu mendapatkan (suatu barang mubah) sebelum saudara Muslim lainnya, maka
barang itu miliknya.
Orang yang lebih dahulu mendapatkan barang tersebut harus berniat untuk
memilikinya, kalau tidak, maka barang itu tidak menjadi miliknya. Hal ini
mengacu kepada sabda Rasulullah SAW bahwa segala perkara itu tergantung pada
niat yang dikandungnya.
Bentuk-bentuk kepenguasaan terhadap barang yang diperbolehkan ini ada empat
macam yaitu:
a) Kepemilikan karena menghidupkan tanah mati;
b) Kepemilikan karena berburu atau memancing;
c) Rumput atau kayu yang diambil dari padang penggembalaan atau hutan belantara yang
tidak ada pemiliknya;
d) Kepenguasaan atas barang tambang.
Khusus bentuk yang keempat ini banyak perbedaan di kalangan para fukoha terutama
antara madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Bagi Hanafiyah, hak kepemilikan barang
tambang ada pada pemilik tanah sedangkan bagi Malikiyah kepemilikan barang tambang ada
pada negara karena semua tambang, menurut madzhab ini, tidak dapat dimiliki oleh
seseorang dengan cara kepenguasaannya atas tanah atau tidak dapat dimiliki secara derivatif
dari kepemilikan atas tanah.
2.4 CARA KEPEMILIKAN HARTA DALAM ISLAM (AL-MILKIYAH)
Sistem Ekonomi Islam berbeda sama sekali dengan sistem ekonomi kufur buatan
manusia. Sistem ekonomi Islam adalah sempurna karena berasal dari wahyu, dan dari segi
kepemilikan, ia menerangkan kepada kita bahwa terdapat tiga jenis kepemilikan, yaitu:
1) Hak Milik Umum, meliputi mineral-mineral dalam bentuk padat, cair dan gas
termasuk petroleum, besi, tembaga, emas dan sebagainya yang didapati sama ada di
dalam perut bumi atau di atasnya, termasuk juga segala bentuk tenaga dan intensif
tenaga serta industri-industri berat. Semua ini merupakan hak milik umum dan wajib
diuruskan (dikelola) oleh Daulah Islamiyah (negara) manakala manfaatnya wajib
dikembalikan kepada rakyat.

Tipe pertama dari hak milik adalah pemilikan secara umum (kolektif).
Konsep hak milik umum pada mulanya digunakan dalam islam dan tidak terdapat
pada masa sebelumnya. Hak milik dalam islam tentu saja memiliki makna yang
sangat berbeda dan tidak memiliki persamaan langsung dengan dimasud oleh sistem
kapitalis, sosialis dan komunis. Maksudnya, tipe ini memiliki bentuk yang berbeda
beda.
Misalnya: semua harta milik masyarakat yang memberikan pemilikan atau
pemanfaatan atas berbagai macam benda yang berbeda-beda kepada warganya.
Sebagian dari benda yang memberikan manfaat besar pada masyarakat berada di
bawah pengawasan umum, sementara sebagian yang lain diserahkan kepada individu.
Pembagian mengenai harta yang menjadi milik masyarakat dengan milik individu
secara keseluruhan berdasarkan kepentingan umum.

Contoh lain, tentang pemilikan

harta kekayaan secara kolektif adalah wakaf.


2) Hak Milik Negara, meliputi segala bentuk bayaran yang dipungut oleh negara secara
syarie dari warganegara, bersama dengan perolehan dari pertanian, perdagangan dan
aktivitas industri, di luar dari lingkungan pemilikan umum di atas. Negara
membelanjakan perolehan tersebut untuk kemaslahatan negara dan rakyat.
Tipe kedua dari kepemilikan adalah hak milik oleh negara.

Negara

membutuhkan hak milik untuk memperoleh pendapatan, sumber penghasilan dan


kekuasaan

untuk

melaksanakan

kewajiban-kewajibannya.

Misal,

untuk

menyelenggarakan pendidikan, memelihara keadilan, regenerasi moral dan tatanan


masyarakat yang terjamin kesejahteraannya. Menurut Ibn taimiyah, sumber utama
kekayaan negara adalah zakat, barang rampasan perang (ghanimah). Selain itu,
negara juga meningkatkan sumber pengahsilan dengan mengenakan pajak kepada
warga negaranya, ketika dibutuhkan atau kebutuhannya meningkat. Demikian pula,
berlaku bagi kekayaan yang tak diketahui pemiliknya, wakaf, hibah dan pungutan
denda termasuk sumber kekayaan negara.
Kekayaan negara secara aktual merupakan kekayaan umum. Kepala negara
hanya bertindak sebagai pemegang amanah. Dan merupakan kewajiban negara untuk
mengeluarkan nya guna kepentingan umum. Oleh karena itu, sangat dilarang
penggunaan kekayaan negara yang berlebih-lebihan. Adalah merupakan kewajiban
negara melindungi hak fakirmiskin, bekerja keras bagi kemajuan ekonomi
masyarakat, mengembangkan sistem keamanan sosial dan mengurangi jurang
pemisah dalam hal distribusi pendapatan.

3) Hak Milik Individu, selain dari kedua jenis pemilikan di atas, harta-harta lain boleh
dimiliki oleh individu secara syari dan setiap individu itu perlu membelanjakannya
secara syari juga. Proses kepemilikan harus didapatkan melalui cara yang sah
menurut agama Islam.
Islam mengakui adanya hak milik pribadi, dan menghargai pemiliknya, selama
harta itu diperoleh dengan jalur yang sah menurut agama islam. Dan Islam tidak
melindungi kepemilikan harta benda yang diperoleh dengan jalan haram.
Sehingga Imam Al-Ghazali membagi menjadi 6 jenis harta yang dilindungi oleh
Islam (sah menurut agama islam):
a. Diambil dari suatu sumber tanpa ada pemiliknya, misal: barang tambang,
menggarap lahan yang mati, berburu, mencari kayu bakar, mengambil air
sungai, dll.
b. Diambil dari pemiliknya secara paksa karena adanya unsur halal, misal: harta
rampasan.
c. Diambil secara paksa dari pemiliknya karena ia tidak melaksanakan kewajiban,
misal: zakat.
d. Diambil secara sah dari pemiliknya dan diganti, misal: jual beli dan ikatan
perjanjian dengan menjauhi syarat-syarat yang tidak sesuai syariat.
e. Diambil tanpa diminta, misal: harta warisan setelah dilunasi hutang-hutangnya.
Penggunaan benda-benda milik pribadi tidak boleh berdampak negatif/ mudharat
pada orang lain, tapi memperhatikan masalah umat. Islam membenarkan hak milik
pribadi, karena islam memelihara keseimbangan antara pemuasan beragam watak
manusia dan kebaikan umum dimasyarakat. Dalam hubungan ini, ada syarat yang
harus dipenuhi untuk mencapai kekuasaan individu dalam mengakui keberadaan
hak milik pribadi yaitu memperhatikan masalah umat.
Islam

mendorong

pemilik

harta

untuk

menyerahkan

kelebihan

kekayaannya kepada masyarakat/umat setelah mememnuhi kepuasan untuk diri


sendiri dan keluarga (zakat). Tetapi, membatasi hak untuk menggunakan harta itu
menurut kesukaannya sendiri. Hal ini dilakukan untuk perlindungan kebaikan
umum dan agar hak milik pribadi tidak memberikan dampak negatif pada orang
lain. Inilah paham islam yang moderat dalam mengakui hak pribadi. Ia
mengambil sikap moderat antara mereka yang mendewakan hak miik dan mereka
yang secara mutlak menafikan hak milik.

Dalam penggunaan hak milik pribadi untuk kepentingan pribadi dibatasi oleh
ketentuan syariat. Setiap individu memiiki kebebasan untuk menikmati hak
miliknya, menggunakannya secara produktif, memindahkannya, melindunginya
dari penyia-nyiaan harta. Tetapi, haknya itu dibatasi oleh sejumlah limitasi
tertentu yang sesuai syariat, tentunya. Ia tidak boleh menggunakannya semenamena, juga tak boleh menggunakannya untuk tujuan bermewah-mewahan. Dalam
bertransaksi pun tidak boleh melakukan cara-cara yang terlarang.
Karena manusia hanya sebagai pemegang amanah, maka sudah selayaknya
ia harus sanggup menerima batasan-batasan yang dibebankan oleh masyarakat
terhadap penggunaan harta benda tersebut. Batasan tersebut semata-mata untuk
mencegah kecenderungan sebagian pemilik harta benda yang bertindak sewenangwenang (ekspolitasi) dalam masyarakat. Pemilik harta yang baik adalah yang
bertenggang rasa dalam menikmati hak mereka denganbebas tanpa dibatasi dan
dipengaruhi oleh kecenderungan diatas sehingga dapat mencapai keadilan sosial
di dalam masyarakat.
2.5 CARA PENGELOLAAN KEPEMILIKAN (AT-TASHARRUF FI AL MILKIYAH)
Secara dasarnya, pengelolaan kepemilikan harta kekayaan yang telah dimiliki
mencakup dua kegiatan, yaitu:
a) Pembelanjaan Harta (Infaqul Mal)
Pembelanjaan harta (Infaqul Mal) adalah pemberian harta kekayaan yang
telah dimiliki. Dalam pembelanjaan harta milik individu yang ada, Islam
memberikan tuntunan bahawa harta tersebut haruslah dimanfaatkan untuk
nafkah wajib seperti nafkah keluarga, infaq fi sabilillah, membayar zakat, dan
lain-lain. Kemudian nafkah sunnah seperti sedekah, hadiah dan lain-lain. Baru
kemudian dimanfaatkan untuk hal-hal yang mubah (harus). Dan hendaknya harta
tersebut tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang terlarang seperti untuk membeli
barang-barang yang haram seperti minuman keras, babi, dan lain-lain.
b) Pengembangan Harta (Tanmiyatul Mal)
Pengembangan harta (Tanmiyatul Mal) adalah kegiatan memperbanyak
jumlah harta yang telah dimiliki. Seorang muslim yang ingin mengembangkan
harta yang telah dimiliki, wajib terikat dengan ketentuan Islam berkaitan dengan
pengembangan harta. Secara umum Islam telah memberikan tuntunan

pengembangan harta melalui cara-cara yang sah seperti jual-beli, kerja sama
syirkah yang Islami dalam bidang pertanian, perindustrian, maupun perdagangan.
Selain Islam juga melarang pengembangan harta yang terlarang seperti dengan
jalan aktivitas riba, judi, serta aktivitas terlarang lainnya.
Pengelolaan kepemilikan yang berhubungan dengan kepemilikan umum itu adalah
hak negara (Daulah Islamiyah), kerana negara (Daulah Islamiyah) adalah wakil ummat.
Meskipun menyerahkan kepada negara (Daulah Islamiyah) untuk mengelolanya, namun
Allah SWT telah melarang negara (Daulah Islamiyah) untuk mengelola kepemilikan umum
tersebut dengan jalan menyerahkan penguasaannya kepada orang tertentu. Sementara
mengelola dengan selain dengan cara tersebut diperbolehkan, asal tetap berpijak kepada
hukum-hukum yang telah dijelaskan oleh syara'.
Adapun pengelolaan kepemilikan yang berhubungan dengan kepemilikan negara
(Daulah Islamiyah) dan kepemilikan individu, nampak jelas dalam hukum-hukum baitul mal
serta hukum-hukum muamalah, seperti jual-beli, gadai (rahn), dan sebagainya. As Syari' juga
telah memperbolehkan negara (Daulah Islamiyah) dan individu untuk mengelola masingmasing kepemilikannya, dengan cara tukar menukar (mubadalah) atau diberikan untuk orang
tertentu ataupun dengan cara lain, asal tetap berpijak kepada hukum-hukum yang telah
dijelaskan oleh syara.
2.7 MAQASHID SYARIAH DALAM KEPEMILIKAN HARTA
Memelihara harta atau kepemilikan harta secara individu, umum dan kepemilikan
Negara merupakan salah satu dari lima unsur kemaslahatan dalam maqashid syariah (tujuan
syariah). Dilihat dari segi kepentingannya, memelihara harta dapat dibedakan menjadi tiga
peringkat:
1. Memelihara harta dalam peringkat daruriyyat, seperti Syariat tentang tatacara
pemilikan harta dan larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak
sah, apabila aturan itu dilanggar, maka berakibat terancamnya eksistensi harta.
2. Memelihara harta dalam peringkat hajiyyat seperti syariat tentang jual beli
dengan cara salam. Apabila cara ini tidak dipakai, maka tidak akan terancam
eksistensi harta, melainkan akan mempersulit orang yang memerlukan modal.
3. Memelihara harta dalam peringkat tahsiniyyat, seperti ketentuan tentang
menghindarkan diri dari pengecohan atau penipuan. Hal ini erat kaitannya dengan
etika bermuamalah atau etika bisnis. Hal ini juga akan mempengaruhi kepada sah

tidaknya jual beli itu, sebab peringkat yang ketiga ini juga merupakan syarat
adanya peringkat yang kedua dan pertama.
4. Hak milik individu, dalam mendapatkannya harus sesuai dengan syariat Islam
yaitu dengan cara bekerja ataupun warisan dan tidak boleh memakan harta orang
lain dengan cara yang bathil atau memakan hasil riba. Menggunakannya pun harus
sesuai dengan syariat Islam, tidak digunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh
agama dan tidak digunakan untuk hal-hal yang bersifat mubazir atau pemborosan.
Selain itu, harus mengeluarkan zakat dan infaq guna membersihkan harta sesuai
dengan harta yang dimiliki.
5. Hak milik sosial ataupun umum, karena kepemilikan benda-benda ini secara umum
(air, rumput dan api) yang merupakan sumber daya alam manusia yang tidak dapat
dimiliki perorangan kecuali dalam keadaan tertentu, maka cara menjaganya harus
dilestarikan dan tidak digunakan dengan semena-mena. Misalnya, air sungai
dijaga kejernihanya dengan cara tidak membuang sampah atau limbah ke sungai.
Hutan dijaga kelestarian tumbuhannya, tidak boleh ada penebangan liar.
6. Hak milik Negara, pada dasarnya kekayaan Negara merupakan kekayaan umum,
namun pemerintah diamanahkan untuk mengelolanya dengan baik. Dengan begitu
suatu Negara dituntut mengelola kekayaan Negara dengan cara menjaga dan
mengelola sumber daya alam dan sumber pendapatan Negara jangan sampai
diambil alih oleh Negara lain dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan
pribadi (korupsi). Dan hasilnya digunakan untuk kepentingan umum juga, seperti
penyelenggaraan pendidikan, regenerasi moral, membangun sarana dan prasarana
umum, dan menyejahterakan masyarakat.
BAB 3
PENUTUP
3.1 SIMPULAN
Islam mengakui adanya hak milik pribadi (individu) dan memperbolehkan usahausaha serta inisiatif individu di dalam menggunakan dan mengelola harta pribadinya. Islam
juga telah memberikan batasan-batasan tertentu yang sesuai syariat sehingga seseorang dapat
menggunakan harta pribadinya tanpa merugikan kepentingan umum. Sebenarnya kerangka
sistem Islam secara keseluruhan ini dibentuk berdasarkan kebebasan individu di dalam

mencari dan memiliki harta benda dan campur tangan pemerintah (intervensi) yang sangat
terbatas hanya terhadap harta yang sangat diperlukan oleh masyarakat, selain itu tidak.
Namun, ada beberapa kepentingan umum yang tidak bisa di kelola dan dimiliki secara
perorangan (KA, pos, listrik, air, dsb), tapi semua itu menjadi milik dan dikelola oleh negara
untuk kepentingan umum. Kemudian terdapat perbedaan sifat hak milik, baik itu pribadi
maupun umum, yang terdapat dalam Islam dengan kapitalis dan komunis. Di dalam kapitalis,
hak milik individu adalah mutlak tak terbatas. Dalam komunis, hak milik diabaikan sama
sekali. Sedangkan di dalam Islam, hak individu itu berada dalam keadaan norma, bukan tak
terbatas seperti yang terdapat dalam kapitalis, ataupun ditekan sama sekali seperti yang
terdapat dalam komunis. Inilah sisi kemoderatan Islam dalam memandang hak milik.
3.2 SARAN
Ekonomi Syariah Islam telah terbukti dalam membangun ekonomi nasional jadi
pemerintah harus segera mempergunakan sistem ekonomi Islam untuk mencapai keadilan dan
kemakmuran bagi rakyat. Pemerintah jangan menghilangkan sistem ekonomi Islam pada era
sekarang ini melainkan harus terus menjaga ekonomi Syariah Islam.
Mengenai pembelanjaan harta, Islam mengajarkan agar membelanjakn hartanya mulamula untuk mencukupkan kebutuhan dirinya sendiri, lalu untuk memenuhi kebutuhan
keluarga yang menjadi tanggungannya, barulah memenuhi kebutuhan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Hakim, Lukman. 2012. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam. Jakarta: Erlangga
Rivai, Veitzhal dan Andi Buchari. 2009. Islamic Economics Ekonomi Syariah bukan Opsi.
Tapi SOLUSI!. Jakarta: Bumi Aksara