Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM METODE MAGNETIK

Dosen Pengampu :
Dr. Sunaryo, S.Si,. M.Si.
PJ Asisten:
Rendi Pradila H
Oleh :
Hana Dwi Sussena
NIM. 125090701111003

PROGRAM STUDI GEOFISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkat, rahmat dan
karunia-Nya, yang mana telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada kami, sehingga
kami dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Metode Magnetik dengan baik. Dengan
adanya Laporan Akhir Praktikum Metode Magnetik ini kami berharap dapat membantu
memperbaiki nilai dan juga sebagai tugas. Kami menyadari bahwa dalam Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik ini masih banyak kekurangan yang dikarenakan keterbatasan
ilmu dan kemampuan yang kami miliki. Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang membantu tercapainya kesempurnaan dari laporan ini. Semoga dengan adanya laporan
ini dapat memberi ilmu pengetahuan maupun wawasan bagi para pembacanya.

Malang, 29 Maret 2015

Penulis

2 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.v
DAFTAR TABEL.vi
BAB

PENDAHULUAN...........................................................................................................1
1.1

Latar
Belakang.........................................................................................................1

1.2 Tujuan Praktikum....................................................................................................1


1.3

Manfaat

Praktikum...................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................2
2.1 Konsep Teori Magnetik2
2.1.1 Gaya Magnetik..3
2.1.2 Kuat Medan Magnetik..3
2.1.3 Intensitas Kemagnetan..3
2.1.4 Suseptibilitas Kemagnetan4
2.1.5 Induksi Magnetik..4
2.2 Kemagnetan Bumi4
2.2.1 Medan Magnet Bumi.4
2.2.2 Medan Magnet Utama Bumi.6
2.2.3 Medan Magnet Luar Bumi6
2.2.4 Medan Magnet Anomali ..7
2.3 Transformasi Medan Magnetik8
2.3.1 Kontinuasi ke Atas8
2.3.2 Reduksi ke Kutub Magnet Bumi..8
BAB III METODE PENELITIAN.......................................................................................11
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan.............................................................................11
3.2 Alat dan Bahan.......................................................................................................11
3 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

3.3 Alur Penelitian....................................................................12


3.3.1

Akuisisi

Data........

.12
3.3.2

Pengolahan Data...................................................................................13

3.3.3

Langkah-langkah Interpretasi...14
3.3.3.1 Interpretasi Kualitatif15
3.3.3.2 Interpretasi Kuantitatif..15

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................16
4.1 Data Hasil Pengukuran..16
4.2 Hasil Dan Pembahasan..18
4.2.1 Analisa Prosedur.18
4.2.2 Analisa Hasil..19
BAB V PENUTUP..................................................................................................................24
5.1 Kesimpulan............................................................................................................24
5.2 Saran......................................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................25
LAMPIRAN............................................................................................................................26

4 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Elemen magnetik bumi...5
Gambar 2.2 Elemen magnetik bumi...8
Gambar 2.3. Anomali magnetik dan anomali hasil reduksi ke kutub....9
Gambar 3.1 Desain survey akuisisi data....11
Gambar 3.2. Peralatan metode magnetik (PPM G-856, kompas, GPS)....12
Gambar 3.3 Diagram alir akuisisi data..13
Gambar 3.4 Diagram alir pengolahan data....14
Gambar 3.5 Diagram alir interpretasi data....14
Gambar 4.1 Kontur nilai magnteik total....17
Gambar 4.2 Kontur nilai magnteik yang telah di kontinuasi ke atas.....18
Gambar 4.3 Kontur nilai magnteik yang telah di reduksi ke kutub...18
Gambar 4.4 Hasil permodelan lapisan bawah permukaan.....18
Gambar 4.5 Hasil pengolahan data22
Gambar 4.6 Permodelan lapisan bawah permukaan..23

5 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Data hasil akuisisi hari Sabtu..16
Tabel 4.2 Data hasil akuisisi hari Minggu..16

6 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Geofisika merupakan salah satu cabang ilmu bumi (Geosains) yang mempelajari
tentang sifat-sifat fisis bumi,

seperti bentuk bumi, reaksi terhadap gaya, serta medan

potensial bumi (medan magnet dan gravitasi). Geofisika juga menyelidiki interior bumi
seperti inti, mantel bumi, dan kulit bumi serta kandungan-kandungan alaminya. Geofisika
bisa juga diartikan sebagai suatu metoda dimana akan dipelajari tentang bumi dan batuan
menggunakan pendekatan-pendekatan Fisika dan Matematika dan merupakan gabungan dari
konsep-konsep Ilmu Geologi dan Fisika. Dalam geofisika terdapat berbagai macam metode
yang sering digunakan diantaranya metode gravity, seismik dan lain sebagainya.

Metode magnetik merupakan metode yang memanfaatkan sifat kemagnetan batuan


yang ada di bawah permukaan bumi yang terpengaruhi oleh medan magnetik bumi. Metode
magentik ini dapat digunakan dalam eksplorasi mineral, survey potensi geothermal,
memperkirakan geologi secara regional dan lain sebagainya.
1.2.

Tujuan Praktikum Metode Magnetik

Praktikum metode magnetik ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi batuan


penyusun bawah permukaan area penelitian berdasarkan kontras suseptibilitas. Secara khusus
bagi praktikan, praktikum ini bertujuan untuk memberikan pengalaman di lapangan mengenai
metode magnetik mulai dari proses pengumpulan data, pengolahan dan interpretasi data.
1.3.

Manfaat Praktikum Metode Magnetik

Harapan dengan adanya praktikum metode magnetik adalah menambah pengalaman


praktikan dalam menerapkan teori dari metode magnetik secara real di lapangan. Sementara,
hasil praktikum metode magnetik sendiri berguna sebagai tambahan informasi dalam rangka
pendukung eksplorasi dari daerah telitian.

1 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori Magnetik

Metode magnetik dan gravitasi merupakan metode yang hampir sama, tetapi metode
magnetik secara umum lebih kompleks dan bervariasi dalam medan magnetik yang tidak
menentu dan terlokalisasi. Ini merupakan sebagian dari perbedaan antara medan magnetik
dipolar dan medan gravity monopolar, sebagian adalah variabel arah dalam medan magnetik,
mengingat medan gravity selalu dalam arah yang vertikal dan bagian pada waktu yang
bergantung dengan medan magnetik, mengingat medan gravity merupakan waktu invarian
(mengabaikan variasi tidal yang bernilai kecil). Mengingat peta gravity terkadang didominasi
oleh efek regional, peta magnetik secara umum menunjukkan banyak anomali lokal.
Perhitungan magnetik lebih muda dan lebih murah dibanding perhitungan geofisika yang
lainnya dan koreksi sebenarnya tidak perlu dilakukan. Variasi medan magnet sering kali
menunjukkan adanya struktur mineral yang sesuai dengan sruktur regional, dan metode
magnetik lebih serbaguna dalam prospek teknik geofisika. Bagaimanapun, seperti metode
potensial lainnya, metode magnetik tidak memiliki keunikan dalam interpretasi (Telford, dkk,
1990)
Dalam metode magnetik ini, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa dimana
medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan magnet jauh lebih
kecil daripada medan utama magnet yang dihasilkan bumi secara keseluruhan. Teramatinya
medan magnet pada bagian bumi tertentu, biasanya disebut anomali magnetik yang
dipengaruhi suseptibilitas batuan tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada
anomali magnetik batuan ini, pendugaan sebaran batuan yang dipetakan baik secara lateral
maupun vertikal.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang
diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya perbedaan sifat
2 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

kemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi tergantung dari suseptibilitas


magnetik masing-masing batuan. Harga suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian
benda anomali karena sifat yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam.
Harganya akan semakin besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan semakin
banyak.

2.1.1 Gaya Magnetik


Dasar dari metode magnetik adalah gaya Coulumb (Telford, dkk, 1990), antara dua
kutub magnetik m1 dan m2 (e.m.u) yang berjarak r (cm) dalam bentuk :
m m

F = 1 22 r
(2.1)
0 r
Konstanta 0 adalah permeabilitas medium dalam ruang hampa, tidak berdimensi dan
berharga satu yang besarnya dalam SI adalah 4 x 10-7 newton/ampere2.
2.1.2 Kuat Medan Magnetik

Kuat medan magnetik ( H

) ialah besarnya medan magnet pada suatu titik

dalam ruangan yang timbul sebagai akibat adanya kuat kutub yang berada sejauh r dari

titik m tersebut. Kuat medan magnet ( H

) didefinisikan sebagai gaya persatuan kuat

kutub magnet.
F = 1 r^1
H=
2 0 r 2

(2.2)

Satuan untuk kuat medan magnet H adalah Oersted ( 1 Oersted = 1 dyne / unit kutub )
(cgts) atau A/m (SI) (Telford, dkk, 1990).

2.1.3 Intensitas Kemagnetan


, maka besar intensitas magnetik
Jika suatu benda terinduksi oleh medan magnet H
yang dialami oleh benda tersebut adalah (Reynold, 1995),
=k H

M
3 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

(2.3)

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

dimana, M adalah intensitas magnetisasi, k adalah suseptibilitas magnetik.


Suseptibilitas dinyatakan sebagai tingkat termagnetisasinya suatu benda karena
pengaruh medan magnet utama, dimana hubungan (k) dalam satuan SI dan emu
dinyatakan sebagai berikut:
k =4 k '

(2.4)

dimana, k adalah suseptibilitas magnetik (emu), k adalah suseptibilitas magnetik.

2.1.4 Suseptibilitas Kemagnetan


Kemudahan suatu benda magnetik untuk dimagnetisasi ditentukan oleh
suseptibitas kemagnetan k yang dirumuskan dengan persamaan (Telford, dkk, 1990):
I =kH

(2.5)

Besaran yang tidak berdimensi ini merupakan parameter dasar yang digunakan
dalam metode magnetik. Nilai suseptibilitas magnetik dalam ruang hampa sama dengan
nol karena hanya benda berwujud yang dapat termagnetisasi. Suseptibilitas magnetik
dapat diartikan sebagai derajat kemagnetan suatu benda. Harga

pada batuan

semakin besar apabila dalam batuan semakin banyak dijumpai mineral-mineral yang
bersifat magnetik. Berdasarkan harga suseptibilitas

k , benda-benda magnetik dapat

dikategorikan sebagai diamagnetik, paramagnetik, ferromagnetik. Diamagnetik adalah


benda yang mempunyai nilai

kecil dan negatif. Paramagnetik adalah benda

magnetik yang mempunyai nilai

kecil dan positif. Sedangkan ferromagnetik adalah

benda magnetik yang mempunyai nilai k

positif dan besar.

2.1.5 Induksi Magnetik


Suatu bahan magnetik yang diletakkan dalam medan luar
medan tersendiri

akan menghasilkan

yang meningkatkan nilai total medan magnetik bahan tersebut.

4 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Induksi magnetik yang didefinisikan sebagai medan total bahan ditulis (Telford, dkk,
1990):
H
+ H '
B=
Hubungan medan sekunder

(2.6)
= 4 M
, Satuan
H

dalam cgs adalah gauss,

sedangkan dalam geofisika eksplorasi dipakai satuan gamma (g) dan dalam SI adalah
tesla (T) atau nanoTesla (nT).
2.2 Kemagnetan Bumi
2.2.1 Medan Magnet Bumi
Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga
elemen medan magnet bumi, yang dapat diukur yaitu meliputi arah dan intensitas
kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :

Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen horizontal

yang dihitung dari utara menuju timur

Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang horizontal

yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke bawah.

Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada bidang

horizontal.

Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.

5 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 2.1 Elemen magnetik bumi

Hubungan antar elemen medan magnet bumi yaitu:

H = F cos I

- Y = H sin D

Z = F sin I

- tan D = Y/X

tan = Z/H

- F2 = H2 + Z2 = X2 + Y2 + Z2

X = H cos D
Menurut Blakely (1995) nilai medan magnet total setiap lokasi di berbagai

belahan dunia tidak sama. Setiap lokasi yang mempunyai koordinat lintang dan bujur
yang berbeda akan mempunyai nilai intensitas yang berbeda pula. Sumber medan
magnet bumi secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu medan magnet utama bumi
(main field), medan luar (external field), dan medan anomali (anomaly field).

6 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

2.2.2 Medan Magnet Utama Bumi


Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil
pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan luas
lebih dari 106 km2.Secara teoritis medan magnet bumi disebabkan oleh sumber dari
dalam dan luar bumi. Medan magnet dari dalam bumi diduga dibangkitkan oleh
perputaran aliran arus dalam inti bagian luar bumi yang bersifat cair dan konduktif
(Sharma, 1997).
Karena medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu maka untuk
menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat standart nilai yang
disebut dengan International Geomagnetiks Reference Field (IGRF). Nilai medan
magnet utama ini ditentukan berdasarkan kesepakatan internasional di bawah
pengawasan International Association of Geomagnetik and Aeronomy (IAGA). IGRF
diperbaharui tiap 5 tahun sekali dan diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata pada
daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam batas waktu satu tahun
(Telford, dkk, 1990).
2.2.3 Medan Magnet Luar Bumi
Medan magnet bumi juga dipengaruhi oleh medan luar. Medan ini bersumber
dari luar bumi yang merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar
ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan dengan arus
listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan
ini terhadap waktu jauh lebih cepat.(Telford, dkk, 1990). Beberapa sumber medan
luar antara lain:
1. Perubahan konduktivitas listrik lapisan atmosfer dengan siklus 11 tahun.
2.

Variasi harian (diurnal variation) dengan periode 24 jam yang


berhubungan dengan pasang surut matahari dan mempunyai jangkau 30
nT.

7 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

3. Variasi harian (diurnal variation) 25 jam yang berhubungan dengan pasang


surut bulan dan mempunyai jangkau 2 nT.
4. Badai magnetik (magnetik storm) yang bersifat acak dan mempunyai
jangkau sampai dengan 1000 nT.
2.2.4 Medan Magnet Anomali
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal field).
Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung mineral bermagnet
seperti magnetite , titanomagnetite dan lain-lain yang berada di kerak bumi.
Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil gabungan dari keduanya,
bila arah medan magnet remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka
anomali nya bertambah besar, demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek
medan remanen akan diabaikan apabila anomali medan magnet kurang dari 25 %
medan magnet utama bumi (Telford dkk, 1990).
Adanya anomali magnetik menyebabkan perubahan dalam medan magnet total
bumi dan dapat dituliskan sebagai :
HT = HM + HA
dengan,

(2.7)

HT = medan magnetik total bumi


HM = medan magnetik utama bumi
HA = medan anomali magnetik

Jika HT menggambarkan medan magnet terukur pada suatu titik yang sudah
terkoreksi harian dan HM adalah medan magnet utama pada titik yang sama seperti
yang diperlihatkan pada gambar 2.2, maka anomaly medan magnet total diberikan
oleh:
T =|H T |+|H M|

8 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

(2.8)

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

T =|H M + H A||H M|

(2.9)

|H A|
Untuk |HM| |HA| dapat dipakai pendekatan
T |H M +H A||H M|
0.5

( H M . H M +2 H M . H A ) |H M|

( H M . H A ) /|H M|

(2.10)

HM . H A
Maka besaran anomaly medan magnetik total adalah :
T HM. HA

(2.11)

Dengan demikian T adalah proyeksi anomaly medan magnet total pada medan magnet
utama bumi.

Gambar 2.2 Elemen magnetik bumi

2.3 Transformasi Medan Magnetik


2.3.1 Kontinuasi ke Atas
Tujuan dari dilakukannya kontinuasi ke atas adalah untuk mentransforasi
medan potensial yag diukur di permukaan tertentu ke medan potensial pada

9 | J u r u s a n Fi s i ka | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

permukaan lainnya yang lebih jauh dari sumber.

Hal ini sesuai dengan prinsip

kontinuasi ke atas bahwa suatu medan potensial dapat dihitung pada setiap titik di
dalam suatu daerah berdasarkan sifat medan pada permukaan yang melingkupi daerah
tersebut.

H ( x , , y , , z0 )
z
H ( x , y , z 0 z )=
d x ' d y ' , z> 0

2
2
2 3/ 2
4
[ ( xx ' ) + ( y y ' ) + z ]

(2.12)

Persamaan (2.12) disebut intergral kontinuasi ke atas, yang menunjukkan cara


bagaimana menhitung nilai dari sebuah medan potensial pada sembarang titik bidang
atas bidang horizontal dari suatu medan di permukaan.
2.3.2 Reduksi ke Kutub Magnet Bumi
Baranov dan Nauidy (1964) telah mengembangkan metode transformasi
reduksi ke kutub untuk meyederhanakan interpretasi data medan magnetik pada
daerah daerah berlintang rendah dan menengah.

Gambar 2.3. Anomali magnetik dan anomali hasil reduksi ke kutub

Metode reduksi ke kutub magnetik bumi dapat mengurangi salah satu tahap
yang rumit saat interpretasi data magnetik. Hal ini dikarenakan anomaly medan
magnetik menunjukkan langsung bendanya, seperti yang diperlihatkan pada Gambar
2.3. Proses transoformasi reduksi ke kutub dilakukan dengan mengubah arah
magnetisasi dan medan utama dalam arah vertikal.
=
10 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

(2.13)

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

(2.14)
Dengan |K| 0 dan
^
a1= m z f^ zm x ^f x

^
b1= m x ^f z m z ^f x

^
a2= m z f^ zm y f^ y

^
b2= m y ^f z mx f^ x

^
a3 =m y ^f x mx ^f y
()

adalah Transformasi Fourier reduksi ke kutub. []

Transformasi Fourier anomaly medan magnet yang diukur. []

adalah
adalah

Transformasi Fourier anomaly medan magnet yang diakibatkan oleh magnetisasi


sumbernya. K adalah bilangan gelomobang (wavenumber). m adalah fungsi
kompleks magnetisasinya. f adalah fungsi kompleks medan magnet utama. m(x,y,z)
adalah vector dalam arah magnetisasi (x,y,z), dan f(x,y,z) adaloah vector satuan
dalam arah medan utama (x,y,z).
Persamaan (2.14) mentransformasikan anomaly medan magnet total yang
diukur pada suatu lokasi dengan arah medan magnet utama tertentu menjadi bentuk
anomali yang berbeda. Perubahan bentuk anomali terjadi karena perubahan arah
vector magentisasi dan medan magnet utama, meskipun anomali tersebut masih
disebabkan oleh distribusi magnetisasi yang sama.

11 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu 28 Maret 2015 dan Minggu 29 Maret
2015, bertempat di lingkungan sekitar Universitas Brawijaya pada pukul 07.00 WIB. Desain
survey akuisisi datanya dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Desain survey akuisisi data

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini terdiri dari sebagai berikut:

12 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Proton Procession Magnetometer (PPM) Geometric

GPS

Kompas

Pencatat waktu

Peta lokasi

Alat tulis

PC (dengan software Ms. Excel 2010, Tidelongman dan Surfer)

Gambar 3.2. Peralatan metode magnetik (PPM G-856, kompas, GPS)

3.3 Alur Penelitian

13 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Dalam prosedur praktikum metode magnetik ini dilakukan tiga tahap yaitu tahap
akuisisi data, tahap pengolahan data dan tahap interpretasi data. Pada tahap interpretasi
terbagi menjadi dua langkah yaitu secara kuantitatif dan secara kualitatif. Tahapan-tahapan
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

3.3.1 Akusisi Data


Dalam proses pengambilan data dilapangan terdapat data-data yang dicatat dalam
survey metode magnetik antara lain:
1. Waktu (tanggal, hari, jam).
2. Data medan magnetik diambil sebanyak tiga kali.
3. Posisi titik pengukuran.
4. Keterangan kondisi cuaca dan lingkungan sekitar.
Pengumpulan data dilakukan bergantung pada target dan kondisi lapangan. Pada
praktikum ini dilakukan pengukuran medan magnet bumi dengan spasi rata-rata 50 meter.
Penentuan titik dalam mengambil data magnetik bumi ini dilakukan secara random dan
relative dilakukan di pinggir jalan. Tahapan akuisisi data magnetik ini dapat dilihat pada
gambar 3.3.

14 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 3.3 Diagram alir akuisisi data

3.3.2 Pengolahan Data


Setelah dilakukan akuisisi data di lapangan dan diperoleh data maka selanjutnya akan
dilanjutkan dengan proses pengolahan data. Dalam proses pengolahan data tahapan yang
dilakukan dapat dilihat pada gambar 3.3.

15 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 3.4 Diagram alir pengolahan data

3.3.3 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan salah satu tahapan yang digunakan dalam praktikum
ini, tahapan dalam tahapan interpretasi ini dapat dilihta pada gambar 3.5. Tahapan ini
terbagi menjadi dua yaitu interpretasi kuantitatif dan interpretasi kualitatif.

16 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 3.5 Diagram alir interpretasi data

3.3.3.1 Interpretasi Kualitatif

Interpretasi kualitatif dilakukan dengan cara membaca hasil dari data


pengukuran tiap-tiap titik yang telah dilakukan koreksi diurnal (koreksi variasi
harian), dikurangi dengan harga total magnet bumi secara teoritis dari IGRF.
3.3.3.2 Interpretasi Kuantitatif

Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan menggunakan software tertentu


sehingga diperoleh bentuk penampang yang selanjutnya akan dianalisis untuk
mengetahui litologi bawah permukaan.

17 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengukuran

Dari hasil akuisisi data di lapangan diperoleh data yang berisikan titik ukur, waktu,
koordinat, ketinggian dan nilai magnetic pembacaan alat seperti yang ditunjukkan pada tabel
4.1 dan 4.2.

Tabel 4.1 Data hasil akuisisi hari Sabtu

Tabel 4.2 Data hasil akuisisi hari Minggu

18 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 4.1 Kontur nilai magnteik total

Gambar 4.2 Kontur nilai magnteik yang telah dilakukan kontinuasi ke atas

19 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 4.3 Kontur nilai magnteik yang telah di reduksi ke kutub

Gambar 4.4 Hasil permodelan lapisan bawa permukaan

20 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

21 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

4.2 Hasil Dan Pembahasan

4.2.1

Analisis Prosedur

Dalam melakukan penelitian ini dilakukan tiga tahapan yaitu akuisisi data,
pengolahan data dan interpretasi data. Pada tahap akuisisi data hal pertama yang
dilakukan adalah menentukan tempat penelitian beserta batasan wilayahnya. Selanjutnya
membuat desain survei penelitian dengan menentukan interval jarak antar titik
pengambilan data. Pada penelitian ini interval jarak yang digunakan lebih kurang 50 m.
Selanjutnya mempersiapkan alat yang akan digunakan, dalam penelitian ini alat yang
digunakan adalah magnetometer jenis PPM G-856. Dalam penggunaan alat PPm G-856,
hal pertama yang dilakukan adalah memasang battery pada Console, selanjutnya
memasang sensor di tiang penyangga. Hubungkan seluruh kabel konektor. Selanjutnya
dilakukan tunning dan menyetel konfigurasi waktu yang berisikan hari (Julian Day),
tanggal, jam, menit saat pengambilan data. Selanjutnya menyetel konfigurasi lintasan dan
interval waktu. Selanjutnya pengambilan data dengan dilakukannya operasi READ =>
STORE, arah sensor sesuai tanda anak panah (N), selanjutnya dibaca nilai magnetik yang
terbaca pada alat. Pengambilan nilai pada satu titik dilakukan sebanyak lima kali.

Setelah dilakukan akuisisi data selanjut dilakukan pengolahan data. Pada tahap
pengolahan data, data yang diperoleh dioalah dengan menggunakan Ms. Excel.
Pengolahan data di Ms. Excel akan menghasilkan nilai anomali total dari pengurangan
nilai magnetik IGRF dengan nilai magnetik yang terkoreksi diurnal. Nilai magnetik IGRF
dapat diketahui dari web resmi yaitu NOAA dengan memasukkan tanggal pengambilan
data, latitude, longitude dan data lainnya. Setelah diperoleh nilai magnetik total
selanjutnya dioalh dengan surfer untuk mengetahui kontur nilai magnetik totalnya.
Dilakukan juga kontinuasi ke atas dan reduksi ke kutub dengan software Magpick.

Tahap yang terakhir yaitu tahap interpretasi data. Pada tahap ini dilakukan
permodelan lapisan bawah permukaan wilayah penelitian dengan menggunakan software
22 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Mag2dc. Data yang diguanakan merupakan data nilai magnetik yang telah diolah hingga
reduksi ke kutub.

4.2.2

Analisis Hasil

Daerah Malang merupakan daerah pegunungan selatan, yang dimaksud dengan


Pegunungan Selatan adalah pegunungan yang terletak pada bagian selatan Jawa Tengah,
mulai dari bagian tenggara dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memanjang ke arah
timur sepanjang pantai selatan Jawa Timur.
Secara morfologis daerah Pegunungan Selatan merupakan pegunungan yang dapat
dibedakan menjadi 3 satuan morfologi utama, yaitu:
1. Satuan morfologi perbukitan berrelief sedang sampai kuat, yaitu daerah yang
ditempati oleh batupasir dan breksi vulkanik dan batuan beku dari Formasi Semilir,
Nglanggran atau Wuni dan Besole. Daerah ini terdapat mulai dari daerah sekitar
Imogiri di bagian barat, memanjang ke utara hingga Prambanan, membelok ke timur
(Pegunungan Baturagung) dan terus ke arah timur melewati Perbukitan Panggung,
Plopoh, Kambengan hingga di kawasan yang terpotong oleh jalan raya antara PacitanSlahung.
2. Satuan dataran tinggi terdapat di daerah Gading, Wonosari, Playen hingga Semanu.
Daerah ini rata-rata berketinggian 400 m di atas muka laut, dengan topografi yang
hampir rata dan pada umumnya ditempati oleh batugamping.
3. Satuan perbukitan kerucut, meliputi daerah dari sebelah timur Parangtritis
memanjang ke timur melewati daerah Baron, Sadang terus ke timur melewati Punung
hingga ke daearh sekitar Pacitan. Daerah ini tersusun oleh bukit-bukit kecil maupun
berbentuk kerucut, tersusun oleh batugamping klastik maupun jenis batugamping yang
lain.
Diantara ketiga satuan morfologi tersebut diatas di sebelah selatan terdapat suatu
dataran rendah luas, mulai Wonogiri di utara hingga Giritrontro-Pracimantoro di selatan.
Dataran lini dikelilingi oleh unsur-unsur geologis Pegunungan Selatan, sedangkan bagian
bawah dialasi oleh batugamping Formasi Kepek yang tertutup oleh endapan Kuarter. Dataran
23 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

rendah ini disebut sebagai Depresi Wonogiri-Baturetno, yang saat ini sebagian besar
merupakan daerah genangan Waduk Gajahmungkur. Jika dilihat pada peta geologi lembar
Malang, daerah malang merupakan daerah yang memiliki lapisan permukaan yang berupa
lapisan batuan tuff. Litologi batuan ini mempengaruhi nilai magnetik yang diukur karena
setiap jenis batuan memiliki nilai suseptibilitas yang berbeda.

Salah satu metode yang digunakan dalam menentukan nilai magnetik bumi adalah
dengan menggunakan metode magnetik. Metode magnetik merupakan metode pasif
karena memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang ada di bawah permukaan bumi yang
terpengaruhi oleh medan magnetik bumi. Dalam melakukan metode ini terdapat tahapan
yang perlu dilakukan. Tahapan tersebut meliputi tahap akuisisi data, tahap pengolahan
data dan tahap interpretasi data. Pada tahap akuisisi data yang merupakan tahapan untuk
memperoleh data nilai magnetik di lapangan dilakukan persiapan terlebih dahulu sebelum
ke lapangan. Persiapan tersebut meliputi menentukan lokasi yang akan digunakan sebagi
tempat penelitian berdasarkan studi literature yang telah dilakukan, membuat desain
survei, membuat grid wilayah penelitian dan menentukan berapa titik yang akan diambil
serta interval antar titik satu dengan titik yang lain. Selanjutnya pada saat di lapangan alat
yang digunakan merupakan magnetometer PPM G-856. Alat tersebut dilakukan
pengecekkan terlebih dahulu dan memasang sensor yang di arahkan ke arah utara.
Pengaturan alat yang pertama dilakukan adalah tunning dan menyetel konfigurasi waktu
yang berisikan hari (Julian Day), tanggal, jam, menit saat pengambilan data. Selanjutnya
menyetel konfigurasi lintasan dan interval waktu. Selanjutnya pengambilan data dengan
dilakukannya operasi READ => STORE, arah sensor sesuai tanda anak panah (N),
selanjutnya dibaca nilai magnetik yang terbaca pada alat. Pengambilan nilai pada satu
titik dilakukan sebanyak lima kali. Data yang diperoleh dalam pengambilan data ini
adalah nama titik, waktu pengambilan (jam, menit dan detik), koordinat, ketinggian dan
nilai magnetik.

Tahap pengolahan data dilakukan setelah diperolehnya data dari lapangan diolah
menggunakan Ms. Excel. Pada Ms. Excel dilakukan pengolahan untuk diperolehnya nilai
koreksi diurnal dan koreksi IGRF. Pada mulanya data yang berasal dari lapangan sebagian
24 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

ada yang dikonversi ke bentuk lain, misalnya koordinat yang diubah kedalam bentuk
UTM dan waktu yang disamakan. Perumusan yang digunakan dalam memperoleh nilai
koreksi diurnal yaitu:

H D=

t nt aw
(H ak H aw )
t ak t aw

Untuk mengetahui nilai koreksi IGRF digunakan website NOAA untuk mengetahui nilai
magnetik pada hari diambilnya data. Selanjutnya nilai koreksi IGRF tersebut
dikurangkan dengan nilai koreksi diurnal sehingga diperoleh nilai magnetik totalnya.
Setelah diperoleh nilai magnetik total, selanjutnya diolah menggunakan software surfer
untuk mengetahui bentuk kontur nilai magnetik totalnya. Setelah diketahui bentuk
kontur nilai magnetik totalnya dilanjutkan dengan melakukan reduksi bidang datar.
Reduksi bidang datar merupakan koreksi untuk mereduksi perbedaan ketinggian yang
bervariasi. Koreksi ini dapat tidak dilakukan jika bentuk topografi wilayah penelitian
cenderung datar. Selanjutnya dilakukan kontinuasi ke atas dan reduksi ke kutub dengan
software Magpict. Kontinuasi ke atas dilakukan untuk mesmisahkan nilai anomali
regional dengan nilai anomali lockl. Reduksi kekutub dilakukan dengan cara membuat
sudut inklinasi benda menjadi 90o dan deklinasi 0o. Perbedaan bentuk kontur nilai
magnetik dari beberapa tahapan pengolahan yang telah dilakukan dapat dilihat pada
gambar 4.5.

25 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Gambar 4.5 Hasil pengolahan data (a) kontur nilai magnetik total, (b) kontur nilai anomali magnetik
total yang telah di kontinuasi ke atas, (c) kontur nilai magnetik total yang telah di reduksi ke kutub.

Dari hasil reduksi ke kutub selanjutnya dapat dilakukan slicing untuk dilanjutkan
ketahap interpretasi yaitu memodelkan bentuk bawah permukaan. Penentuaan bagian
slicing dilihat dari nilai yang tertinggi dan nilai yang terendah. Diusahakan dalam
melakukan slicing sudah meliputi nilai tertinggi dan nilai terendah nilai magnetik pada
peta kontur tersebut.
Tahap interpretasi dilakukan dengan mengolah data yang telah di slicing kedalam
software Mag2DC. Dalam software ini akan dilakukan permodelan lapisan bawah
permukaan sehingga dapat diperkirakan jenis lapisan yang ada di bawah permukaan
dengan melihat nilai suseptibilitas batuan.

26 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
Gambar 4.6 Permodelan lapisan bawa permukaan

Pada gambar di atas merupakan hasil permodelan yag telah dilakukan dengan
menggunakan software Mag2DC. Dari hasil permodelan tersebut telihat ada empat jenis
lapisan batuan yang diperkirakan ada di bawah permukaan daerah penelitian. jika
dicocokkan dengan tabel nilai suseptibilitas batuan, lapisan penyusunnya terdiri atas
dolorite dan dolomit. Dimana pada lapisan pertama merupakan lapisan dolomit dan pada
bagian bawah terdapat batuan dolorite. Dilihat dari permodelan yang dilakukan terlihat
jika lapisan bawah permukaan di Universitas Brawijaya memiliki nilai suseptibilitas
batuan yang sama atau hampir seragam sehingga dapat diidentifikasikan lapisan bawah
permukaannya memiliki jenis lapisan batuan yang sama. Namun jika dilihat pada peta
geologi lembar Malang lapisan penyusun pada wilayah penelitian merupakan lapisan
tuff. Perbedaan ini dapat terjadi karena pada data hasil akuisisi data di lapangan terdapat
banyak noise yang dapat mengganggu hasil akuisisi salah satunya adalah banyaknya
benda logam di wilayah penelitian.

27 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Metode magnetik merupakan salah satu metode geofisika yang metode yang
memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang ada di bawah permukaan bumi yang
terpengaruhi oleh medan magnetik bumi. Pada metode magnetik ini terdapat tiga tahapan
yang perlu dilakukan yaitu tahap akuisisi data, pengolahan data dan interpretasi data. Dalam
tahapan pengolahan data akan diperoleh nilai anomali total. Dalam tahap interpretasi
dilakukan analisis kontras suseptibilitas yang diperoleh sehingga dapat diidentifikasikan jenis
batuan berdasarkan sifat kemagnetannya.

5.2 Saran

Sebaiknya persiapan praktikum dan proses pengambilan data dipersiapkan lebih


matang dan dalam proses pengolahan data diperlukan ketelitian untuk mendapatkan hasil
yang maksimal.

28 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

DAFTAR PUSTAKA
Blakley, Richard J. (1996). Potential Theory in Gravity and Magnetik Application. UK:
Cambridge University Press.
Tellford, W. M., Geldart C. P., & Sheriff R. E. (1990). Applied Geophysics. United States of
America: Cambridge University Press.

29 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
LAMPIRAN
Tabel hasil pengolahan data hari Sabtu

Tabel hasil pengolahan data hari Minggu

30 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
Hasil nilai magnetik IGRF pada hari Sabtu

Hasil nilai magnetik IGRF pada hari Minggu

Tampilan awal pada Surfer

31 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Memasukkan data northing dan easting pada worksheet

Menyimpan data worksheet

32 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Menyimpan data worksheet

Cara grid data


33 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Memilih file yang akan digrid

Grid Data

34 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Grid data report

Cara membuat peta kontur

35 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Membuka file hasil grid data

Hasil kontur nilai magnetik total

36 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Tampilan awal pada Magpick

Membuka file yang akan dilakukan kontinuasi ke atas

37 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Memasukkan nilai besarnya kontinuasi yang diinginkan

Sebelum kontinuasi ke
atas

Kontinuasai ke atas
(200)

Perbandingan hasil kontur sebelum dilakukan kontinuasi ke atas dan yang sesudah

38 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Memasukkan data untuk pengolahan reduksi ke kutub

Hasil kontur reduksi ke kutub


39 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Memilih bagian untuk dilakukan slicing

Cara digitize

40 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Pilih titik dengan nilai tertinggi dan terendah

Cara slicing data

41 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Membuka file grd yang akan di slice

Membuka file hasil digitize dalam format bln

42 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Jendela grid slice

Tampilan awal pada Mag2dc

43 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Memasukkan data awal pada Mag2dc

Membuka file yang telah dislicing

44 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Pengaturan kolom pada Mag2dc

Proses permodelan

45 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Foto akuisisi data 1

Foto akusisis data 2

46 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Peta geologi lembar Malang

47 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Tabel nilai suseptibilitas batuan

48 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

49 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

50 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

Script MATLAB reduksi bidang datar


load('dataxyzg.txt');
tic;x=dataxyzg(:,1);
y=dataxyzg(:,2);
z=-dataxyzg(:,3);
g=dataxyzg(:,4);
dx=input('interva1 grid : ');
G=6.673e-11;
hminzl=2.5*dx;
hmaxz=5*dx;
hek2=min(-z)+hminzl;

51 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
hek3=max(-z)+hmaxz;
disp('peraturan dampney, untuk menghindari a1iasing');
disp('---------------------------------------------');
batas=['---> {' num2str(hek2) '<h_ek < ' num2str(hek3) ' }'];
disp(batas);disp('---------------------------------');
h=input('keda1aman bidang ekiva1en : ');
if and(h<hminzl,h>hmaxz)
disp('ingat peraturan dampney')
else
end;
up=input('ketinggian bidang ekiva1en : ')
upw=-up;
mau=input('mau pake konjugat gradien(kg)atau invers matriks biasa (im) ?');
switch('mau')
case{'im'}
alfa=x;
beta=y;
q=waitbar(0,'wait');
N=length(x);

52 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
for i=1:N;
waitbar(i/N)
for j=1:N;
a(i,j)=G*(h-z(i))/((x(i)-a1fa(j))^2+(y(i)-beta(j))^2+(z(i)h)^2)^1.5;
end;
104
close(q)
meq=a\g
deter=det(a);
gp=a*meq;
ero=sum(abs(gp-g))/N;
for i=1:N;
waitbar(i/N);
for j=1:N;
a1(i,j)=G*(h-upw)/((x(i)-a1fa(j))^2+(y(i)-beta(j))^2+
(upw-h)^2)^1.5;
end;
end;
end;

53 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
close(p);
gupw=a1*meq;
save('E:\DAMPNEY\IMUTM','gupw','-ASCTI')
case{'kg'}
tol=input('Toleransi : '); max_itera-input('Max_itera : ');
disp('sedang proses');
a1fa=x;
beta=y;
s=waitbar(0,'Wait for a moment');
N=length(x);
for i=1:N;
waitbar(i/N)
for j=1:N;
a(i,j)=G*(h-z(i))/((x(i)-a1fa(j))^2+(y(i)beta(j))^2+(z(i)-h)^2)^1.5;
end;
close(s)
[meq,flag,rr,iter]=lsqr(a,g,tol,max_itera);
gp=a*meq;

54 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
ero=sum(abs(gp-g))/N;
u=waitbar(0,'wait sebentar lagi');
for i=1:N;
waitbar(i/N);
for j=1:N;
a1(i,j)=G*(h-upw)/((x(i)-a1fa(j))^2+(y(i)beta(j))^2+(upw-h)^2)^1.5;
end;
end;
close(u)
qupw=a1*meq;
save('E:\DAMPNEY\KGUTM','newl','-ASCTI')
disp('===============================================')
disp('laporan : ')
disp('==========')
105

menggunakan')

disp('Metode dampney dengan solusi matriks

if mau=='kg'
disp('konjugat graden')

55 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015
it=['#iterasi = ' num2str(max_itera)];
disp(it)
disp(['Waktu pengerjaan : ' num2str(toc/60) '

menit'])
else

disp('Inverse matriks biasa.')


disp(['Determinan Matriks A : ' num2str(deter)]);
disp(['Waktu pengerjaan : ' num2str(toc) ' detik'])
end;
end;
end;
ked=['Keda1aman bidang ekiva1en : ' num2str(h)];
disp(ked)
upw=['Ketinggian bidang upward : ' num2str(up)];
disp(up)
eror=['Dengan eror (Beda antara data dengan A*meq) : '
num2str('eror') ' mgal'];
disp(eror)
disp('===============================================')
load handel

56 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a

Laporan Akhir
Praktikum Metode Magnetik
2015

57 | J u r u s a n F i s i k a | U n i v e r s i t a s B r a w i j a y a