Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
I. 1.

Latar Belakang
Istilah farmakognosi pertama kali dicetuskan oleh C.A. Seydler (1815),

seorang peneliti kedokteran di Haalle Jerman, dalam disertasinya berjudul


Analecta Pharmacognostica. Farmakognosi berasal dari bahasa Yunani,
pharmakon yang artinya obat (ditulis dalam tanda petik karena obat disini
maksudnya adalah obat alam, bukan obat sintetis) dan gnosis yang artinya
pengetahuan. Jadi, farmakognosi adalah pengetahuan tentang obat-obatan
alamiah (Gunawan & Sri, 2004).
Farmakognosi sebenarnya menjadi mata pelajaran yang sangat spesifik
di bidang kesehatan dan farmasi. Masyarakat telah mengetahui khasiat dari
opium (candu), kina, kelembak, penisilin, digitalis, insulin, tiroid, vaksin
folio, dan sebagainya. Namun, mereka tidak sadar bahwa yang diketahui ini
adalah bidang dari farmakognosi. Mereka pun tidak mengetahui alau bahanbahan yang berbahaya, seperti minyak jarak, biji saga (sogok, telik), dan
tempe

bongkrek

(aflatoksin)

merupakan

bagian

dari

pembicaraan

farmakognosi. Pada hakekatnya, para pengobat herbalis itulah yang nyatanyata merupakan praktisi farmakognosi yang pertama (Gunawan & Sri,
2004).
Farmakognosi adalah pengetahuan obat-obat tentang tumbuhan yang
memiliki

keanekaragaman

senyawa

kimia,

kemungkinan

terkandung

didalamnya baik yang berupa metabolism primer (metabolit primer) seperti


protein, karbohidrat, dan lemak yang digunakan oleh tumbuhan itu sendiri
untuk pertumbuhannya ataupun senyawa kimia dari hasil metabolism
sekunder (metabolit sekunder) seperti terpenoid, steroid, kumarin, flavonoid,
dan alkaloid. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang
umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai

pelindung tumbuhan dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri
atau lingkungannya (Setiana, 2011).
I. 2.
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui dan memahami pengertian terpenoid
2. Menjelaskan sifat-sifat umum terpenoid
3. Mengetahui dan memahami sintesa terpenoid
4. Mengetahui kegunaan terpenoid
5. Mengetahui tanaman yang mengandung terpenoid

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Pengertian Terpenoid
Secara umum, terpenoid dapat didefinisikan sebagai produk-produk
alam yang strukturnya terbagi menjadi beberapa unit isoprena, karena itu
senyawa-senyawa ini disebut sebagai isoprena. Secara logis, akhiran oid
tampaknya lebih dapat titerima dan meyakinkan, karena akhiran ini terdapat
dengan cara yang sama untuk steroid, alkaloid, flavonoid, dan sebagainya.
Meskipun demikian, akhiran ena harus dibatasi hanya pada hidrokarbon
takjenuh yang merupakan anggota golongan senyawa spesifik ini (Kar, 2009).
Terpenoid merupakan senyawa yang diturunkan dari kombinasi dua
atau lebih senyawa isopren. Sesuai dengan aturan isopren yang diusulkan
oleh Leopold Ruzicka, terpenoid muncul dari kepala sampai ekor yang
menghubungkan satuan isopren

(Sarker & Nahar, 2009).


Tumbuhan biasanya memiliki senyawa hidrokarbon dan teroksigenasi
yang merupakan senyawa terpenoid. Kata terpenoid mencakup sejumlah besar
senyawa tumbuhan, dan istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa
secara biosintesis semua senyawa tumbuhan itu berasal dari senyawa yang
sama.

Jadi,

semua

terpenoid

CH2C(CH3)CHCH2

dan

berasal

kerangka

dari

molekul

karbonnya

isoprene

dibangun

oleh

penyambungan dua atau lebih satuan C5 ini ( Setiana, 2011).


Terpenoid dikelompokkan sesuai dengan banyaknya unit atau satuan
isopren yang terlibat pada pembentukan senyawa-senyawa ini
Jenis Terpenoid
Monoterpenoid
Seskuiterpen
Diterpen

Banyaknya atom

Banyaknya unit

karbon
10
15
20

isopren
2
3
4

Contoh
Limonen
Artimisinin
Forskolin

Triterpen

30

-amina

Tetraterpen

40

-karoten

banyak

banyak

Terpenoid polimerik
(Sarker & Nahar, 2009).

Karet

II. 2. Sifat-sifat Umum


Sifat fisika dari terpenoid adalah:

a) Dalam keadaan segar merupakan cairan tidak berwarna, tetapi jika


teroksidasi warna akan berubah menjadi gelap
b) Mempunyai bau yang khas
c) Indeks bias tinggi
d) Kebanyakan optic aktif
e) Kerapatan lebih kecil dari air
f) Larut dalam pelarut organik yakni, eter dan alcohol
Sifat kimia dari terpenoid adalah:
a) Senyawa tidak jenuh (rantai terbuka ataupun siklik)
b) Isoprenoid kebanyakan bentuknya khilar dan terjadi dalam dua bentuk
enantiomer
(Indriani dkk, 2013).
II. 3. Sintesa Terpenoid

Secara umum biosintesa terpenoid terjadinya 3 reaksi dasar, yaitu:


1. Pembentukan isoprena aktif berasal dari asam asetat melalui asam
mevalonat.
2. Penggabungan kepala dan ekor unit isoprene akan membentuk mono-,
seskui-, di-, sester-, dan poli-terpenoid.
3. Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan
triterpenoid dan steroid.
Asam asetat setelah diaktifkan oleh koenzim A melakukan kondensasi
jenis Claisen menghasilkan asam asetoasetat. Senyawa yang dihasilkan ini
dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi jenis aldol menghasilkan
rantai karbon bercabang sebagaimana ditemukan pada asam mevanolat.
Reaksi-reaksi berikutnya ialah fosforilasi, eliminasi asam fosfat dan
dekarboksilasi menghasilkan IPP yang selanjutnya berisomerisasi menjadi
DMAPP oleh enzim isomerase. IPP sebagai unit isopren aktif bergabung
secara kepada ke-ekor dengan DMAPP dan penggabungan ini merupakan
langkah pertama dari polimerisasi isopren untuk menghasilkan terpenoid.
Penggabungan ini terjadi karena serangan elektron dari ikatan rangkap IPP
terhadap atom karbon dari DMAPP yang kekurangan elektron diikuti oleh
penyingkiran ison pirofosfat. Serangan ini menghasilkan geranil pirofosfat
(GPP) yakni senyawa antara bagi semua senyawa monoterpen.
Penggabungan selanjutnya antara satu unit IPP dan GPP, dengan
mekanisme yang sama seperti antara IPP dan DMAPP, menghasilkan farnesil
pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawa antara bagi semua senyawa
seskuiterpen. Senyawa-senyawa diterpen diturunkan dari geranil-geranil
pirofosfat (GGPP) yang berasal dari kondensasi antara atau satu unit IPP dan
GPP dengan mekanisme yang sama pula.

Bila reaksi organik sebagaimana tercantum dalam Gambar 2 ditelaah


lebih mendalam, ternyata bahwa sintesa terpenoid oleh organisme adalah
sangat sederhan a sifatnya. Ditinjau dari segi teori reaksi organik sintesa ini
hanya menggunakan beberapa jenis reaksi dasar. Reaksi-reaksi selanjutnya
dari senyawa antara GPP, FPP dan GGPP untuk menghasilkan senyawasenyawa terpenoid satu persatu hanya melibatkan beberapa jenis reaksi
sekunder pula. Reaksi-reaksi sekunder ini lazimnya ialah hidrolisa, siklisasi,
oksidasi, reduksi dan reaksi-reaksi spontan yang dapat berlangsung dengan
mudah dalam suasana netral dan pada suhu kamar, seperti isomerisasi,
dehidrasi, dekarboksilasi dan sebagainya.

Dari persamaan reaksi di atas terlihat bahwa pembentukan senyawasenyawa monoterpen dan senyawa terpenoida berasal dari penggabungan 3,3
dimetil allil pirofosfat dengan isopentenil pirofosfat. Secara umum terpenoid
terdiri dari unsur-unsur C dan H dengan rumus molekul umum (C5H8)n.
II. 4. Kegunaan Terpenoid
Kegunaan terpenoid bagi tumbuhan antara lain :
a) Fitoaleksin
Fitoaleksin adalah suatu senyawa anti-mikrobial yang dibiosintesis
(dibuat) dan diakumulasikan oleh tanaman setelah terjadi infeksi dari
mikroorganisme patogen atau terpapar senyawa kimia tertentu dan radiasi
dengan sinar UV.
b) Insect antifectan, repellant
c) Pertahanan tubuh dari herbivora
d) Feromon hormon tumbuhan
Feromon adalah sejenis zat kimia yang berfungsi untuk merangsang dan
memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina.
(Setiana, 2011).
Selain kegunaan diatas juga mempunyai manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai pengatur pertumbuhan (seskuiterpenoid absisin dan diterpenoid
giberellin)
2. Sebagai bahan pemberi aroma makan dan farfum (monoterpenoid)
3. Sebagai tumbuhan obat untuk penyakit diabetes, gangguan menstruasi,
patukan ular, gangguan kulit, kerusakan hati, dan malaria (triterpenoid).
4. Sebagai hormone pertumbuhan tanaman, podolakton inhibitor
pertumbuhan tanaman, antifeedan serangg, inhibitor tumor, senyawa
pemanis, antifailing dan anti karsinogen (diterpenoid).
5. Sebagai antifeedant, hormon, anti mikroba, anti biotic dan toksin serta
regulator pertumbuhan tanaman dan pemanis (seskuiterpenoid)
6. Penghasil karet (politerpenoid)
7. Karotenoid memberikan sumbangan terhadap warna tumbuhan dan juga
diketahui sebagai pigmen dalam fotosintesis
8. Monoterven dan siskuiterpen juga memberikan bau tertentu pada
tumbuhan.

9. Terpenoid memegang peranan dalam interaksi tumbuhan dan hewan,


misalnya sebagai alat komunikasi dan pertahanan pada serangga.
10. Beberapa terpenoid tertentu yang tidak menguap juga diduga berperan
sebagai hormone seks pada fungus.
(Indriani dkk, 2013).
II. 5. Contoh Tanaman yang Mengandung Terpenoid
1. Ganoderma lucidum
Ganoderma lucidum, spesies jamur yang termasuk kelas
Basidiomycetes, tubuh buahnya telah lama digunakan oleh bangsa Cina,
Jepang, dan Korea sebagai obat untuk berbagai macam penyakit. Dari
banyak penelitian yang telah dilakukan, senyawa-senyawa yang memiliki
efek fisiologis yang berasal dari jamur Ganoderma termasuk dalam
golongan polisakarida yang merupakan metabolit primer dan terpenoid
yang termasuk metabolit sekunder. Polisakarida yang berasal dari jamur
Ganoderma lucidum menujukkan aktivitas penghambatan yang tinggi
terhadap pertumbuhan kanker sarkoma-180 dan juga menunjukkan efek
hipoglikemia. Demikian pula halnya dengan terpenoid yang dihasilkan
oleh jamur Ganoderma, terpenoid tersebut memperlihatkan efek
penghambatan terhadap sel Raji (Purwantiningsih dkk, 2000).
2. Herba meniran
Herba meniran mengandung metabolit sekunder plavonoid,
terpenoid, alkaloid dan steroid. Beberapa hasil penelitian menunjukkan
senyawa

terpenoid

memiliki

aktivitas

sebagai

antibakteri

yaitu

monoterpenoid, linalool, diterpenoid (-), hardwicklic acid, phytol,


triterpenoid saponin dan triterpenoid glikosida (Gunawan dkk, 2008).
3. Buah pare
Buah pare dalam bahasa latin disebut Momordica charantia L
berasal dari kawasan Asia Tropis. Buahnya mengandung albiminoid,
karbohidrat, dan zat warna, daunnya mengandung momordisina,
momordina, karantina, resin, dan minyak lemak. Bijinya mengandung
saponin, alkaloid, triterprenoid, dan asam momordial. Manfaat buah ini
dapat merangsang nafsu makan, menyembuhkan batuk, memperlancar
8

pencernaan, membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan,


dapat menyembuhkan penyakit kuning, juga cocok untuk menyembuhkan
mencret pada bayi (Setiana dkk, 2011).
4. Kayu keng
Kayu keng memiliki nama latin Bischofia javanica Blume berasal
dari famili Staphyleaceae. Kayu keng

mengandung senyawa kimia

tanin, flavonoid, saponim dan terpenoid. Daun mengandung tanin,


flavonoid, steroid dan alkaloid Daun yang masih muda digunakan
sebagai obat batuk tidak berdahak/batuk kering. Daun yang masih muda
bisa langsung dimakan atau dengan cara ditumbuk terlebih dahulu
kemudian peras airnya, diminum setiap pagi dan sore hari (Kinho dkk,
2011)
5. Akar kuning
Akar kuning memiliki nama latin Arcangelesia flava (L) Merr
berasal dari famili Menispermaceae. Akar tumbuhan ini mengandung
alkaloid dan terpenoid berdasarkan uji fitokimia. Daun, batang, tangkai
dan akar tumbuhan ini mengandung bahan kimia berupa barberin dan
alkaloid lainnya. Daging buahnya mengandung zat lendir dan bijinya
mengandung saponin yang merupakan racun keras untuk ikan. Efek
farmakologis yang dimiliki diantaranya antiinflamasi, mengobati luka
dan anti demam. Kegunaan lainnya : 1. Sariawan/demam : rebus 10 g
tangkai muda dalam 3 gelas air sampai tersisa 2 gelas. Setelah dingin,
saring air rebusan, lalu minum 2 kali sehari masing-masing 1 gelas
(Kinho dkk, 2011).
6. Meandanginan
Meandanginan memiliki nama latin Tetracera indica Merr berasal
dari famili Dilleniaceae. Daun mengandung tanin, flavonoid dan steroid.
Batang mengandung tanin, flavonoid dan terpenoid Batang : obat sakit
urat. Caranya adalah dengan batang meandanginan ini dicampur dengan
akar kuning (Arcangelisia flava), tanduk rusa dan telapak kaki sapi
hutan (Centella asiatica), kemudian direbus dan minum airnya. Jika
penderita sakit memiliki tekanan darah rendah maka jumlah batang

meandanginan yang ditambahkan harus lebih banyak, yaitu dengan


perbandingan 3 : 1 (mean danginan : akar kuning), tapi jika penderita
memiliki tekanan darah tinggi maka perbandingannya adalah 1 : 1
(Kinho dkk, 2011).
7. Pidai ular
Pidai ular memiliki nama latin Stomphacanthus dichotoma Lindn.
berasal dari famili Acanthaceae. Daun mengandung flavonoid dan
steroid yang digunakan sebagai obat penyakit gondok. Cara meramu
daun pidai ular (Stomphacanthus dichotoma) ditambahkan dengan
yantan (Blumea chinensis), ditumbuk lalu dikukus didalam dandang
setelah panas diangkat lalu dibiarkan hingga hangat kemudian
ditempelkan di tempat gondok. Batang : untuk obat luka dalam dan luka
luar. Cara meramu batang kayu ular (Stomphacanthus dichotoma)
kemudian ditumbuk dan ditempelkan atau digosokkan di tempat luka
(Kinho dkk, 2011).
8. Pandan jawa
Pandan Jawa memiliki nama latin Dracaena angustifolia Roxb
berasal dari famili Liliaceae. Daun soji mengandung flavonoid dan
terpenoid. Efek farmakologis akar daun suji diantaranya nyeri lambung
dan penawar racun, sedangkan daun untuk anti-inflamasi serta anti
disentri. Obat disentri dan beri-beri, cuci bersih 20 gr daun suji segar,
rebus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, lalu
minum sekaligus 1 kali sehari. Kencing nanah, cuci 20 gr daun suji
segar dengan 1 gelas air sampai airnya tersisa gelas. Dinginkan,
saring, lalu minum sekaligus. Lakukan 2 kali sehari masingmasing
gelas. Obat nyeri haid : cuci bersih 20 gr daun suji segar lalu rebus
dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring, lalu
minum sekaligus 1 gelas sehari (Kinho dkk, 2011).
9. Daun Nasi
Daun Nasi memiliki nama latin Phrynium pubinerve Blume
berasal dari famili Maranthaceae. Batang tumbuhan ini mengandung
10

alkaloid dan terpenoid. Digunakan sebagai obat penawar racun akibat


gigitan ular atau serangga. Bagian yang digunakan adalah batang daun
yang masih muda (tersimpan di dalam tanah). Caranya ambil tangkai
batang yang masih muda tumbuh dan tempelkan pada luka (Kinho dkk,
2011).
10. Lalangusan
Lalangusan memiliki nama latin Ficus tonsa Miq berasal dari
famili Moraceae. Uji fitokimia daun tumbuhan ini mengandung alkaloid
flavonoid dan terpenoid Bagian yang digunakan adalah daun untuk
mengobati penyakit kulit seperti kudis. Cara pengobatannya, ambil
pucuk daun muda, tumbuk halus dan digosokkan pada badan yang
terserang (Kinho dkk, 2011).
11. Lire
Lire memiliki nama latin Hemigaphis repanda Hall.f. berasal dari
famili Acanthaceae. Hasil uji fitokimia tumbuhan ini batang
mengandung alkaloid, daun mengandung alkaloid dan terpenoid. Bagian
yang digunakan adalah seluruh bagian tumbuhan. Digunakan sebagai
obat panas (bintik-bintik merah). Caranya ambil beberapa daun lire
lengkap dengan akar dan tambahkan daun kapasan yang masih muda
rebus bersama-sama kemudian diminumkan. Ramuan ini biasanya
banyak digunakan untuk anak-anak (Kinho dkk, 2011).
12. Umbi utan
Umbi utan memiliki nama latin Homalomena propinqua Schott.
berasal dari famili Araceae. Hasil analisis fitokimia, umbi atau rimpang
tumbuhan ini mengandung alkaloid, flavonid, tanin, terpenoid. Obat
luka. Batang yang ada di dalam tanah dibersihkan kemudian dikupas
dan ditumbuk setelah itu ditempelkan pada bagian luka (Kinho dkk,
2011).

11

BAB III
PENUTUP
III. 1.

Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah yang kami buat adalah
1. Terpenoid adalah produk-produk alam yang strukturnya terbagi menjadi
beberapa unit isoprena
2. Terpenoid terdari dari dua sifat umum yaitu sifat fisika (fisik ) dan sifat
kimia
4. Terpenoid terdiri dari tiga biosintesis yaitu, pertama pembentukan
isoprena aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat. Kedua
penggabungan kepala dan ekor unit isoprene akan membentuk mono-,
seskui-, di-, sester-, dan poli-terpenoid. Ketiga penggabungan ekor dan
ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan steroid.
5. Kegunaan terpenoid ialah senyawa anti-mikrobial, Sebagai tumbuhan obat
untuk penyakit diabetes, gangguan menstruasi, patukan ular, gangguan
kulit, kerusakan hati, dan malaria dan lain sebagainya.
6. Tumbuhan yang mengandung terpenoid adalah Ganoderma lucidum,
herba meniran, buah pare dan masih banyak lagi.

III. 2.
Saran
Makalah yang dibuat ini diharapkan mampu membantu dalam memahami
materi tentang terenoid dan dapat menjelaskan stuktur terpenoid berasal dari
beberapa unit isopren.

DAFTAR PUSTAKA

12

Gunawan, D dan Sri Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I.
Swadaya. Jakarta.
Gunawan, I W.G. 2008. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Terpenoid yang Aktif
Antibakteri dan Herba Meniran (Phyllathus niruri Linn). Jurnal Kimia 2 (1).
31-39.
Indriani, A. Dkk. 2013. Terpenoid. Akademi Analisis Farmasi dan Makanan. Malang.
Kar, Ashutosh. 2009. Farmakognosi & Farmakobioteknologi Edisi 2. EGC. Jakarta
Kinho, dkk. 2011. Tumbuhan Obat Tradisional di Sulawesi Utara Jilid II. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Manado.
Purwantiningsih,. Dkk. 2000.Isolasi dan Karakterisasi Terpenoid dari Medium
Kultur Jaringan Ganoderma sp. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 2 (2).
8-15.
Sarker, Satyajid D. & Lutfun Nahar. 2009. Kimia Untuk Mahasiswa Farmasi. Pustaka
Belajar. Yogyakarta
Setiani, A. Dkk. 2011. Pembentukan Senyawa Alkaloid dan Terpenoid. FKIP
Universitas Muhammadiyah. Sukabumi.

13