Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Ilmu farmasi merupakan ilmu yang berkaitan erat dengan obat-obatan.
Mahasiswa farmasi mempelajari bagaimana hubungan antara struktur molekul
obat dengan efek yang diberikan kepada pasien yang mengkonsumsi obat tersebut
baik efek terapi maupun efek toksik dari obat tersebut. Efek toksik dari suatu obat
ditimbulkan oleh efek samping yang berasal dari obat itu sendiri. Namun efek
samping dari suatu molekul obat dapat diminimalkan, salah satunya dengan cara
memodifikasi struktur molekul obat tersebut atau dengan menemukan senyawa
baru yang strukturnya sama dan memberikan efek terapi yang sama dengan efek
samping yang minimum. Hal ini dipelajari oleh mahasiswa farmasi dalam mata
kuliah Kimia Medisinal.
Kimia medisinal adalah ilmu pengetahuan yang merupakan cabang ilmu
kimia dan biologi, digunakan umtuk memahami dan menjelaskan mekanisme
kerja obat pada tingkat molekul. Kimia Medisinal (Medicinal Chemistry) disebut
pula Kimia Farmasi (Pharmaceutical Chemistry), Farmakokimia (Farmacochemie,
Pharmacochemistry) dan kimia terapi (Chimie Therapeutique).
Dalam kimia medisinal, dipelajari bagaimana sifat-sifat dari suatu molekul
obat dan pengaruhnya terhadap tubuh atau reseptor biologis. Sifat-sifat fisika
kimia merupakan dasar yang sangat penting untuk menjelaskan aktivitas biologis
obat, oleh karena:
1. Sifat kimia fisika memegang peranan penting dalam pengangkutan obat untuk
mencapai reseptor.
2. Hanya obat yang mempunyai struktur dengan kekhasan tinggi saja yang dapat
berinteraksi dengan reseptor biologis.
Obat adalah senyawa kimia unik yang dapat berinteraksi secara selektif
dengan sistem biologi (reseptor). Obat dapat memicu suatu sistem dan
menghasilkan efek, dapat menekan suatu sistem, atau tidak berinteraksi secara
langsung dengan suatusistem tetapi dapat memodulasi efek dari obat lain.
Sementara reseptor didefinisikan sebagai suatu makromolekul seluler yang secara
spesifik dan langsung berikatan dengan ligan (obat, hormon, neurotransmiter)

untuk memicu proses biokimiawi antara dan di dalam sel yang akhirnya
menimbulkan efek.
Efek terapeutik obat dan efek toksik obat adalah hasil dari interaksi obat
tersebut dengan molekul di dalam tubuh pasien. Sebagian besar obat bekerja
melalui penggabungan dengan makromolekul khusus dengan cara mengubah
aktivitas biokimia dan biofisika makromolekul, hal ini dikenal dengan istilah
reseptor.
Kita sebagai seorang farmasis perlu mengetahui bagaimana interaksi yang
terjadi antara obat dengan reseptor biologis. Interaksi antara obat dengan reseptor
didukung oleh beberapa teori. Untuk lebih jelasnya akan dibahas secara lengkap
dalam makalah ini.
I.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah apa saja teori yang
terkait interaksi obat dengan reseptor?

I.3

Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk menjelaskan teori yang
berkaitan dengan interaksi obat dengan reseptor.

BAB II
ISI
Molekul obat dengan struktur tertentu harus dapat berinteraksi dengan target
aksi obat yang salah satunya yaitu reseptor, dimana reseptor merupakan suatu
makromolekul seluler yang secara spesifik dan langsung berikatan dengan ligan (obat,
hormon, neurotransmiter) untuk memicu signaling kimia antara dan dalam
sel menimbulkan efek.

Reseptor merupakan suatu molekul yang jelas dan spesifik terdapat dalam
organisme, tempat molekul obat (agonis) berinteraksi membentuk suatu kompeks
yang reversibel sehingga pada akhirnya sehingga menimbulkan respon. Suatu
senyawa

yang

dapat

mengaktivasi

sehingga

menimbulkan

respon

disebut agonis.Selain itu senyawa yang dapat membentuk konleks dengan reseptor
tapi tidak dapat menimbulkan respons dinamakan antagonis. Sedangkan senyawa
yang mempunyai aktivitas diantara dua kelompok tersebut dinamakan antagonis
parsial. Pada suatu kejadian dimana tidak semua reseptor diduduki atau berinteraksi
dengan agonis untuk menghasilkan respons maksimum, sehingga seolah-olah
terdapat kelebihan reseptor, kejadian ini dinamakan reseptor cadangan.
Beberapa obat mengahasilkan suatau efek setelah berikatan atau berinteraksi
dengan komponen organisme yang spesifik. Komponen organisme tersebut biasanya
berupa suatu protein. Bebrapa obat beraksi secara subsrat yang salah atau sebagai
inhibitor untuk sistem transport enzim. Kebanyakan obat mengasilkan efek dengan
aksi pada molekul yang spesifik dalam organisme, biasanya pada membran sel
molekul tersebut berupa suatu protein yang dinamakan reseptor, dan secara normal

merespons senyawa kimia endogen dalam tubuh. Senyawa endogen tersebut adalah
substasi transmitter sinapsis (neurotrasmitter) atau hormon.

Sebagai concon

asetilkolin merupakan substasi yang dilepaskan yang dilepaskan dari ujung syaraf
otonom dan dapat mengaktivasi reseptor pada otot polos skelental, mengawali
serangkaian kejadian yang menghasilkan kontrasi otot polos.
Pada tahun 1970 farmakologi telah memasuki tahap baru yaitu penelitian
mengenai reseptor yang meliputi teori reseptor, mekanisme reseptor melibatkan
eksperimental labeling reseptor. Pendekatan pertama kali adalah pendekatan dengan
penelitian reseptor asetilkolin nikotinik. Racun ular cobra mengendung pilipeptida
yang berikatan sangat spesifik terhadap asetillkolin. Senyawa yang dikenal sebagai
-toksin dapat dilabel dan digunakan untuk esay pada jaringan atau ekstrak jaringan.
Senyawa yang termasuk golongan tersebut adalah -bungarotoksin, merupakan
komponen utama dari racun bunga bungarus multicinctus. Treatmen otot atau
jaringan dengan suatu detergen non-ionik memberikan suatu hasil suatu protein
reseptor terikat membran yang mudah larut. Denagn preparasi berikutnya dengan
mengunakan kromatokfafi afinitas dapat mengisolasi reseptor asetilkolin nikotinik.
Hal diatas merupakan suatu salah satu penelitian yang berkaitan dengan
spesifitas reseptor. Dari berbagai penelitian mengenail reseptor, terdapat tiga sifat
kerja reseptor terhadap agonis yaitu pertama adalah mempunyai potensi tinggi
(sensifitas tinggi). Pada umumnya, reseptor bekerja pada reseptor spesifik dangan
konsentrasi yang sangat kecil misalnya histamin berinteraksi dangan reseptor
histamin H-1 dan dapat menstimulasi kontraksi otot polos trakea marmut pada
konsentrasi 10 -6 M. Sifat yang kedua adalah spesifitas kimiawi.Stereoisomer suatu
obat dapat mempengaruhi aktivitas biologi dari obat yang bersangkutan.
Kloramfenikol mempunyai 4 isomer hanya mempunya aktivitas biologi pada struktur
D(-) treo. Bahkan beberapa obat seperti sotalol, warafarin dan siklofolsamid yang
mempunyai stereoisomer tidak hanya terapat pada efek farmakologi tetapi juga
berbeda pada jalur metabolismenya. Sifat ketiga adalahspesifitas biologi. Efek
suatu obat dapat berbeda pada beberapa jaringan, misalnya efinefrin menunjukan
efek yang kuat pada efek jantung, tetapi leme pada efek lurik.
Senyawa kimia (misalnya asetilkolin) atau obat yang mengaktivasi reseptor
dan menghasilkan efek yang dinamakan agonis. Beberapa obat dinamakan antagonis,

dapat berikatan denga reseptor, tetapi tidak menghasilkan suatu efek. Antagonis
menurunkan kemungkinan substansi trassmitter (atau agonis yang lain) untuk
berinterak dengan reseptor sehingga lebih lanjut dapat menurunkan atau mengeblok
aksi agonis tersebut. Aktivasi reseptor oleh suatu agonis atau hoemon desertai
dengan respons biokimia atau fisiologi oleh mekanisme trasduksi yang sering
melibatkan molekul-molekul, yang dinamakan pembawa pesan kedua (second
messengers).
Fungsi reseptor adalah: 1). Merangsang perubahan permeabilitas membran
sel, 2). Pembentukan pembawa kedua (secon messenger) misalnya cAMP,
diasilgliserol, inositol trifosfat, dan 3). Mempengaruhi transkripsi gen atau DNA.
Dari fungsi tersebut, reseptor terlibat dalam komunikasi antar sel. Reseptor
menerima rangsang dengan berikatan dengan pembawa pesan pertama (first
messenger) yaitu agonis yang kemudian menyampaikan informasi yang diterima
kedalam sel dengan langsung menimbulkan efek seluler melalui perubahan
petmeabilitas membran, pembentukan pembawa pesan kedua atau mempengaruhi
transkripsi gen.
Interaksi antara obat dengan sisi ikatan pada reseptornya tergantung dari
kesesuaian/keterpaduan dari dua molekul tersebut. Molekul yang paling sesuai
denga reseptor dan mempunyai jumlah ikatan yang banyak ( biasanya non-kovalen),
yang terkuat akan mengalahkan senyawa yang lain dalam berinteraksi dengan sisi
aktif reseptornya. Oleh karenanya, senyawa tersebut mempunya afinitas terbesar
terhadap reseptornya. Secara definitif, afinitas adalah kemampuan suatu senyawa
atau obat dalam berinteraksi dengan reseptor. Kemampuan obat untuk berinteraksi
dengan suatu tipe tertentu dari reseptor dinamakan spesifitas. Tidak ada spesifik
yang sesungguhnya, tetapi beberapa mempunyai aksi selektif yang relatif pada satu
tipe dari reseptor.
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu
organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi
dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut Reseptor obat
merupakan komponen makromolekul fungsional yang kencakup dua fungsi penting.
Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa

obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah
ada( Nugroho, 2012 )
Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat
tertentu,

juga

berperan

sebagai

reseptor

untuk

ligand

endogen

(hormon,

neurotransmitor) Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis.


Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsic tetapi menghambat
secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonit binding site ) disebut
antagonis ( Nugroho, 2012 )
Efek terapeutik obat dan efek toksik obat adalah hasil dari interaksi obat tersebut
dengan molekul di dalam tubuh pasien. Sebagian besar obat bekerja melalui
penggabungan dengan makromolekul khusus dengan cara mengubah aktivitas biokimia
dan biofisika makromolekul, hal ini dikenal dengan istilah reseptor(Mycek, 2001)
Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor
obat, tetapi sekelompok reseptor obat berperan sebagai reseptor fisiologis untuk ligand
endogen (hormone, neurotransmitter). Obat yang efeknya menyerupai senyawa endogen
disebut agonis. Sebaliknya, obat yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik sehingga
sehingga menimbulkan efek dengan menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis.
Disamping itu, ada obat yang jika berikatan dengan reseptor fisiologik akan
menimbulkan efek intrinsik yang berlawanan dengan efek agonis, yang disebut agonis
negative( http://arimjie.blogspot.com)
Protein merupakan reseptor obat yang paling penting (misalnya reseptor,
fisiologis, asetilkolinesterase, Na+, K+-ATPase, tubulin, dsb). Asam nukleat juga dapat
merupakan reseptor obat yang penting. Misalnya untuk sitostatik. Ikatan obat reseptor
dapat berupa ikatan ion, hydrogen, hidrofobik, van der walls, atau kovalen, tetapi
umumnya, merupakan campuran berbagai ikatan kovalen diatas. Perlu diperhatikan
bahwa ikatan yang kuat sehingga lama kerja obat seringkali, tetapi tidak selalu, panjang.
Walaupun demikian, ikatan nonkovalen yang afinitasnya tinggi juga dapat bersifat
permanen( http://arimjie.blogspot.com).
Hubungan Sturuktur-Aktivitas. Struktur kimia suatu obat berhubungan erat
dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktitivas intrinsiknya. Sehingga perubahan
kecil dalam molekul obat. Misalnya perubahan stereoisomer, dapat menimbulkan
perubahan besar pada sifat farmakologinya. Pengetahuan mengenai struktur aktivitas

bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya
lebih baik, atau sintesisi obat yang selektif terhadap jaringan tertentu. Reseptor
Fisiologik. telah disebutkan bahwa reseptor obat adalah mikromolekul seluler tempat
obat terikat untuk menimbulkan efeknya. Sedangkan reseptor fisiologik adalah protein
seluler yang secara normal berfungsi sebagai reseptor bagi ligand endogen, terutama
hormoin neurotransmitter, growth factor dan autakoid. Fungsi reseptor ini meliputi
peningkatan ligant yang sesuai (oleh ligand binding domain) dan penghantar sinyal
(oleh effector domain) yang dapat secara langsung menimbulkan efek intrasel atau
secara tidak langsung memulai sintesis atau penglepasan molekul intrasel lain yang
dikenal sebagai second messenger( http://arimjie.blogspot.com).
Secara umum, hebatnya reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya
dosis.dengan mengurangi dosis, efek dapat dikurangi pula. Salah satu efek toksis yang
terkenal yaitu efek teratogen yaitu obat yang pada dosis terapeutik untuk ibu,
mengakibatkan cacat pada janin. Yang terkenal adalah kasus Thalidomide.
Selain efek toksis dan efek samping yang telah disebut diatas, dikenal juga beberapa
istilah yang digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi didalam tubuh
sebagai respon dari pemberian obat - obatan kedalam tubuh yaitu sebagai berikut :
A.

Toleransi
Toleransi adalah peristiwa dimana dosis obat harus dinaikkan terus menerus
untuk mencapai efek terapeutik yang sama. Macam - macam toleransi yaitu:
a.
b.
c.

Toleransi primer (bawaan), terdapat pada sebagian orang dan binatang tertentu
misalnya kelinci sangat toleran dengan atropin.
Toleransi sekunder, yang bisa timbul setelah menggunakan suatu obat selama
beberapa waktu. Organisme menjadi kurang peka terhadap obat tersebut. Hal ini

disebut juga dengan habituasi atau kebiasaan.


d. Toleransi silang, dapat terjadi antara zat - zat dengan struktur kimia serupa
(fenobarbital dan butobarbital), atau kadang - kadang antara zat - zat yang
berlainan misalnya alkohol dan barbital.
e. Tachyphylaxis, adalah toleransi yang timbul dengan pesat sekali bila obat
diulangi dalam waktu singkat. Mekanisme ini dipengaruhi oleh peningkatan
biotranformasi dan adaptasi reseptor. Proses ini dapat dikarakteristikkan sebagai
reseptor down regulation (pengurangan jumlah atau afinitas reseptor) atau
reseptor upregulation (peningkatan jumlah atau afinitas reseptor .
B. Habituasi atau Kebiasaan

Habituasi atau kebiasaan adalah suatu peristiwa dimana organisme menjadi


kurang peka terhadap suatu tertentu yang disebkan karna terlalu sering
mengkonsumsi suatu obat. Habituasi dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu
dengan induksi enzym, reseptor sekunder, dan penghambatan resorpsi. Dengan
meningkatkan dosis obat secara terus menerus maka pasien dapat menderita
keracunan, karena efek sampingnya menjadi lebih kuat pula. Habituasi dapat diatasi
dengan menghentikan pemberian obat dan pada umumnya tidak menimbulkan gejala
C.

- gejala penghentian (abstinensi) seperti halnya pada adiksi.


Adiksi atau Ketagihan
Adiksi atau ketagihan berbeda dengan habituasi dalam dua hal yakni adanya
ketergantungan jasmaniah dan rohaniah dan bila pengobatannya dihentikan maka

dapat menimbulkan efek hebat secara fisik dan mental.


D. Resistensi Bakteri
Resistensi bakteri adalah suatu keadaan dimana bakteri telah menjadi kebal
terhadap obat karena memiliki daya tahan yang lebih kuat. Resistensi dapat dihindari
dengan menggunakan dosis obat yang lebih tinggi dibanding dengan dosis minimal
dalam waktu pendek dan menggunakan kombinasi dari dua macam obat atau lebih.
E. Dosis
Dosis yang diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diinginkan
tergantung dari banyak faktor antara lain : usia, dan berat badan. Takaran pemakaian
obat umumnya tercantum dalam Farmakope. Sebenarnya yang umum dipakai
sekarang adalah dosis lazim (usual dosis).Anak - anak kecil terutama bayi yang baru
lahir menunjukkan kepekaan yang lebih besar terhadap obat, karena fungsi hati,
ginjal serta enzim - enzimnya belum lengkap perkembangannya. Demikian juga
terjadi pada orang tua diatas 65 tahun.
F. Waktu menelan obat
Bagi kebanyakan obat waktu ditelannya tidak begitu penting, yaitu sebelum atau
sesudah makan. Tetapi ada pula obat dengan sifat atau maksud pengobatan khusus
guna menghasilkan efek maksimal atau menghindarkan efek samping tertentu.
Agar berinteraksi dengan reseptor dan menimbulkan respons biologis, molekul
obat harus mempunyai struktur dengan derajat spesifitas tinggi.
Interaksi obat-reseptor dipengaruhi oleh :
a.
b.

Distribusi muatan elektronik dalam obat dan reseptor


Bentuk konformasi obat dan reseptor.

Interaksi obat dan reseptor dapat membentuk komplek obat-reseptor yang


merangsang timbulnya respon biologis, baik respon antagonis maupun agonis.
Mekanisme timbulnya respon biologis dapat dijelaskan dengan teori obat reseptor. Ada
beberapa teori interaksi obat reseptor, antara lain yaitu teori klasik, teori pendudukan,
dan teori kecepatan.
a. Teori Klasik
1) Crum, Brown dan Fraser (1869), mengaktakan bahwa aktivitas biologis suatu
senyawa merupakan fungsi dari struktur kimianya dan tempat obat berinteraksi
pada sistem biologis mempunyai sifat karakteristik.
2) Langley (1878), dalam studi efek antagonis dari atropin dan pilokarpin,
memperkenalkan konsep reseptor yang pertama kali, kemudian dikembangkan
oleh Ehrlich.
3) Ehrlich (1907), memperkenalkan istilah reseptor dan membuat konsep sederhana
tentang interaksi obat reseptor yaitu corpora non agunt nisi fixate atau obat tidak
dapat menimbulkan efek tanpa mengikat reseptor. Reseptor biologis timbul bila
ada interaksi antara tempat dan struktur dalam tubuh yang karakteristik atau sisi
reseptor, dengan molekul asing yang sesuai atau obat, yang satu sama yang
lainnya merupakan stuktur yang saling mengisi.Reseptor obat digambarkan
seperti permukaan logam yang halus dan mirip dengan struktur molekul obat
b. Teori Pendudukan
1) Clark (1926) memperkirakan bahwa satu molekul obat akan menempati sati sisi
reseptor dan obat harus diberikan dalam jumlah yang berlebihan agar tetap efektif
selama proses pembentukan kompleks. Besarnya efek biologis yang dihasilkan
secara langsung sesuai dengan jumlah reseptor khas yang diduduki molekul
obat. Clark hanya meninjau dari segi agonis saja yang kemudian dilengkapi
oleh Gaddum (1937), yang meninjau dari sisi antagonis. Jadi respons biologis
yang terjadi setelah pengikatan obat-reseptor dapat berupa rangsangan aktivitas
(efek agonis) dan pengurangan aktivitas (efek antagonis)
2) Ariens (1954) dan Stephenson (1959), memodifikasi dan membagi interaksi
obat-reseptor menjadi dua tahap yaitu pembentukan komplek obat-reseptor dan
menghasilkan respon biologis
Setiap struktur molekul obat harus mengandung bagian yang secara bebas
dapat menunjang afinitas interaksi obat reseptor dan memiliki efisiensi untuk

menimbulkan respon biologis sebagai akibat pembentukan komplek. Proses


interaksinya adalah sebagai berikut:
Afinitas
O + R <===> komplek OR respon biologis
Afinitas merupakan ukuran kemampuan obat untuk mengikat reseptor. Afinitas sangat
bergantung dari struktur molekul obat dan sisi reseptor.
-

Efikasi (aktivitas instrinsik) adalah ukuran kemampuan obat untuk memulai timbulnya
respon biologis.
O + R <===> O-R respon (+): senyawa agonis
(afinitas besar dan aktivitas instrinsik =1)
O + R <===> O-R respon (-): senyawa antagonis
(afinitas besar dan aktivitas instrinsik = 0)
c.

Teori Kecepatan
Croxatto dan Huidobro (1956) memberikan postulat bahwa obat hanya efisien

1)

pada saat berinteraksi dengan reseptor.


2) Paton (1961) mengatakan bahwa efek biologis obat setara dengan kecepatan
kombinasi obat-reseptor dan bukan jumlah reseptor yang didudukinya.Di sini, tipe
kerja obat ditentukan oleh kecepatan penggabungan (asosiasi) dan peruraian
(disosiasi) komplek obat-reseptor dan bukan dari pembentukan komplek obatreseptor yang stabil.
Asosiasi dissolusi
O + R <===> komplek (OR) > respon biologis
Senyawa dikatakan agonis jika memiliki kecepatan asosiasi (mengikat reseptor ) dan
dissolusi yang besar. Senyawa dikatakan antagonis jika memiliki kecepatan asosiasi
(mengikat reseptor) dan dissolusi kecil. Di sini, pendudukan reseptor tidak efektif
karena menghalangi asosiasi senyawa agonis yang produktif.
Senyawa dikatakan agonis parsial jika kecepatan asosiasi dan dissolusinya tidak
maksimal. Konsep di atas ditunjang oleh fakta bahwa banyak senyawa antagonis
menunjukkan efek rangsangan singkat sebelum menunjukkan efek pemblokiran. Pada
permulaan kontak obat-reseptor, jumlah reseptor yang diduduki oleh molekul obat
masih relatif sedikit, kecepatan penggabungan obat-reseptor maksimal sehingga timbul
efek rangsangan yang singkat. Bila jumlah reseptor yang diduduki molekul obat cukup

banyak, maka kecepatan penggabungan obat-reseptor akan turun sampai di bawah kadar
yang diperlukan untuk menimbulkan respon biologis sehingga terjadi efek pemblokiran.
Antagonisme adalah peristiwa manakala suatu senyawa menurunkan aksi suatu
agonis atau ligan dalam menghasilkan efek Senyawa tersebut dinamakan sebagai
antagonis. Jenis antagonisme berdasarkan mekanisme tehadap makromolekul reseptor
agonis adalah antagonisme tanpa melibatkan makromolekul reseptor agonis dan
antagonisme melibatkan makromolekul reseptor agonis
Mekanisme antagonisme yang tidak melibatkan makro molekul reseptor:
a. Antagonisme kimiawi
Antagonisme yang terjadi pada dua senyawa mengalami reaksi kimia pada suatu
larutan atau media sehingga mengakibatkan efek obat berkurang.
Contoh: tetrasiklin mengikat secara kelat logam-logam bervalensi 2 dan 3 (Ca,
Mg, Al) efek obat berkurang.
b. Antagonisme farmakokinetika
Antagonisme ini terjadi jika suatu senyawa secara efektif menurunkan
konsentrasi obat dalam bentuk aktifnya pada sisi aktif reseptor.
Contoh: fenobarbital induksi enzim pemetabolisme warfarin, konsentrasi
warfarin berkurang efek berkurang.
c. Antagonisme fungsional atau fisiologi
Antagonisme akibat dua agonis bekerja pada dua macam reseptor yang berbeda
dan menghasilkan efek saling berlawanan pada fungsi fisiologik yang sama,
Antagonisme fungsional jika dua macam reseptor yang berbeda tersebut berada
dalam sistem sel yang sama.
Contoh: antagonisme antara senyawa histamin dengan obat 1-adrenergik
(fenilefrin) pada pembuluh darah vasodilatasi vs vasokonstriksi
Antagonisme fisiologi jika dua macam reseptor tersebut berada pada sistem yang
berbeda.
Contoh : antagonisme glikosida jantung (kenaikan TD) dengan dihidralazin
(penurunan TD)
Mekanisme Antagonisme Yang Melibatkan Makro Molekul Reseptor
a. Antagonis kompetitif
1) Agonis dan antagonis memperebutkan kedudukannya pada reseptor pada sisi
ikatan yang sama dengan agonis

2) Sisi agonis dan antagonis pada reseptor berdekatan, ikatan antagonis pada sisi
aktifnya mengganggu secara fisik interaksi agonis dengan sisi aktif
3) Sisi agonis dan antagonis berbeda, namun ikatan antagonis pada sisi aktifnya
mempengaruhi reseptor agonis sehingga memungkinkan agonis dan antagonis
tidak dapat secara bersamaan berinteraksi dengan reseptor.
Tipe antagonisme ini ada dua yaitu
1) Antagonis kompetitif terbalikkan (reversibel)
2) Antagonis kompetitif tak-terbalikkan (irreversibel)
b. Antagonis non-kompetitif
1) Agonis dan antagonis berikatan pada waktu yang bersamaan pada daerah selain
reseptor
2) Sebagian proses antagonisme non-kompetitif bersifat tak-terbalikkan oleh
agonis, meskipun beberapa ada yang bersifat terbalikkan. Contoh adalah aksi
papaverin terhadap histamin pada reseptor histamin-1 otot polos trakea

BAB III
PENUTUP
III.1

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa interaksi antara obat
dengan reseptor biologis didukung oleh beberapa teori, diantaranya adalah teori
klasik, teori kependudukan dan teori kecepatan.

III.2

Saran
Disarankan kepada mahasiswa farmasi agar lebih mengetahui dengan
jelas bagaimana interaksi yang seringkalo terjadi antara suatu molekul obat
dengan reseptor biologisnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ganiswara, S.G., Setiabudi, R., Suyatna, F.D., Purwantyastuti, Nafrialdi (Editor).1995.
Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.. Bagian Farmakologi FK UI: Jakarta
Katzung. 1989. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 3. EGC: Jakarta
Lamid, S. Farmakologi Umum I. EGC: Jakarta
Mycek. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Widya Medika : Jakarta
Nugroho, E.A. 2012. Prinsip Aksi dan Nasib Obat dalam tubuh. Pustaka Pelajar :
Yogyakarta
Siswandono dan Bambang, S. 2000. Kimia Medisinal.Airlangga University
Surabaya.

Press: