Anda di halaman 1dari 14

Makalah Kelompok

PEMBANGUNAN TATA RUANG DAN EKONOMI: STUDI


PERBANDINGAN STRATEGI CITY BRANDING KOTA BANDUNG
DENGAN KOTA SURABAYA

Makalah Kekompok, Tahun Ajaran 2014/2015


PERBANDINGAN ADMINISTRASI NEGARA

Di Susun Oleh:
Kemal Ahmad Ridla (1206254605)
Tri Bagus Utama (1206273806)

DEPATEMEN ILMU ADMINISTRASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, MEI 2015

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Mendengar nama Paris, mungkin banyak orang akan langsung membayangkan
Menara Eiffel, Museum Louvre, atau Lukisan Monalisa yang sudah mendunia pesona
dan keindahannya. Itu semua adalah mahakarya yang begitu luar biasa dari Seniman
kelas dunia yang melegenda. Ada pula yang teringat tentang fashion dari berbagai
brand, seperti Louis Vuitton, Hermes, Chanel, atau Balenciaga yang mana tempat ini
adalah surganya (golden-rama.com). Selain itu, sebagian lagi mungkin berpikir tentang
budaya, kuliner, dan sastranya. Misalnya, makanan Crepe khas Prancis yang dengan
mudah dapat ditemukan di berbagai tempat di kota ini. Dengan bermacam balutan
budaya dan sastra yang indah, Kota Paris dikenal sebagai kota paling romantis di dunia.
Orang-orang yang tidak pernah datang ke kota ini pun juga dapat mengetahui hal-hal
tersebut, tanpa harus datang langsung ke kotanya.
Seperti halnya Paris, Bandung dan Surabaya juga merupakan kota besar di
Indonesia yang sudah banyak dikenal orang-orang, baik dalam skala regional, nasional,
maupun internasional. Bandung dan Surabaya memiliki keunggulan tersendiri yang
menjadi branding value dari kota tersebut dalam menarik perhatian masyarakat dan
pengunjung. Apabila Paris tercatat sebagai kota paling romantis, Bandung pun
mendapat julukan Paris Van Java; Paris versi Jawa. Surabaya yang memiliki
pengalaman sejarah tentang perjuangan juga memiliki julukan, yaitu Kota Pahlawan.
Ciri khas tersebut yang kemudian dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota untuk menjual
kotanya kepada masyarakat dan pengunjung dengan branding masing-masing.
Contoh di atas menunjukkan bahwa Image sebuah kota dapat tertanam dalam
benak masyarakat dengan sedemikian rupa, bahkan tanpa harus merasakan atau
menyaksikan langsung visualisasi dari kota tersebut. Kota yang memiliki branding yang
baik akan mampu menarik perhatian masyarakat untuk terus mengingat apa yang

menjadi ciri khas dari kota itu. Selain itu, citra kota yang dipersepsikan masyarakat juga
dapat

mencerminkan

bagaimana

kota

tersebut

memberikan

manfaat

kepada

stakeholders-nya. Terlebih lagi jika komunikasi yang dilakukan juga baik, itu dapat
menunjukkan identitas kota kepada masyarakat luas sebagai salah satu strategi untuk
meningkatkan ekonomi daerah dengan menjual keindahan kota itu sendiri.
Dalam studi administrasi pembangunan, salah satu domain pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah adalah pembangunan di bidang tata ruang dan ekonomi.
Pembangunan tata ruang dan ekonomi yang diselenggarakan oleh suatu daerah
bertujuan untuk meningkatkan kemajuan hidup dan pelayanan masyarakat daerahnya,
yang juga berimplikasi pada kemakmuran masyarakat nasional, yang dilakukan dengan
terencana, sistematis, dan berkelanjutan (Siagian, 2000). Sebagaimana disebutkan di
atas, dalam bahasan pembangunan tata ruang daerah perkotaan, salah satu strategi untuk
meningkatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi adalah dengan menjual kota itu sendiri.
Perangkat untuk melaksanakan manajemen perkotaan itulah yang disebut city branding
(Yananda & Salamah, 2014).
Pelaksanaan strategi city branding dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah
selaku aktor perancang utama pembangunan kota. Implementasi strategi city branding
ini membutuhkan perencanaan yang strategis. Semakin baik penerapannya, semakin
besar pula dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk dapat melakukan
implementasi yang baik, pemerintah mesti menerapkan administrasi pembangunan yang
berorientasi pertumbuhan ekonomi. Apabila pemerintah berhasil melaksanakan
pembangunan ekonomi tersebut, itu berarti administrasi pembangunan yang bertujuan
untuk kesejahteraan masyarakat juga telah dilakukan dengan baik.
Makalah ini mencoba melihat seperti apa strategi city branding yang dilakukan
Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kota Surabaya, dan kota mana yang lebih
unggul jika dibandingkan. City branding yang baik dan berhasil menunjukkan bahwa
pelaksanaan pengelolaan tata ruang dan pembangunan ekonomi dalam kerangka
administrasi pembangunan juga dilakukan dengan baik oleh pemerintah kota yang
bersangkutan.

BAB II
KERANGKA TEORI

City branding merupakan praktik manajemen pengelolaan perkotaan yang


berorientasi pembangunan ekonomi. Sebagaimana sebuah produk atau jasa, kota juga
membutuhkan image yang baik dan menarik agar segala keunggulan kota dan nilai
tambahnya bisa dijual kepada pembeli. Praktik-praktik pemasaran kawasan perkotaan
tersebut juga diperlukan untuk memperluas informasi yang bisa digunakan untuk
menarik para pendatang. Dalam membangun brand sebuah kota, ada tiga komponen
utama yang penting; Identitas, Citra, dan Komunikasi.
Identitas Kota
Identitas berarti sebuah kesamaan. Makna identitas bisa dirasakan manakala
suatu hal yang memiliki identitas tersebut disandingkan dengan sesuatu yang lain
daripada dirinya. Keberadaan identitas mengharuskan adanya perbedaan terlebih
dahulu. Kota yang memiliki identitas adalah kota yang secara fungsional sama, namun
dari segi pemaknaanya berbeda. Kota pada umumnya adalah sama dengan kota lainnya,
namun kota juga mesti memiliki perbedaan dengan saingannya (Yananda & Salamah,
2014).
Citra Kota
Citra atau image merupakan gambaran suatu hal yang terdapat di benak
seseorang. Ketika mendengar nama suatu tempat, apa yang terlintas dibenak tentang
tempat itu menunjukkan seperti apa citra tempat tersebut menurut persepsi orang yang
membayangkannya. Citra merupakan akumulasi dari pengalaman, pengetahuan, dan
keterpaparan terhadap suatu objek; orang, benda, peristiwa, tempat.
Dalam hal melihat citra sebuah kota, akan lebih banyak dibahas citra yang
berhubungan dengan tempat, atau citra tempat. Philip Kotler (dalam Yananda &
Salamah, 2014) membagi citra berdasarkan situasi; citra positif, citra negatif, citra

lemah, dan citra campuran. Citra positif membuat sebuah tempat selalu terlihat indah di
mata orang lain tanpa harus melakukan perubahan tertentu. Citra negatif menyebabkan
sebuah tempat terkesan buruk dalam beberapa hal, dan menyebabkan hal lainnya juga
dipandang ke arah buruk; efek domino. Citra lemah biasanya ada pada tempat yang
tidak terlalu dikenal atau diketahui orang-orang, meskipun potensinya tinggi. Citra
campuran ada pada tempat yang memiliki sisi positif dan negatif secara bersamaan.
Komunikasi Citra Kota
Kavaratzis (dalam Yananda & Salamah, 2014) membagi komunikasi citra kota
menjadi tiga komponen; komunikasi primer, sekunder, dan tersier.
1. Komunikasi Primer: Efek komunikasi yang tidak disengaja (unintended),
misalnya lanskep strategis, proyek infrastruktur, struktur organisasi, dan perilaku
kota.
2. Komunikasi Sekunder: Aktivitas pemsaran yang disengaja, misalnya dengan
pemasangan iklan, slogan, logo, sampai public relation.
3. Komunikasi Tersier: pertukaran pesan yang tidak terkontrol (uncontrolled),
misalnya media dan word of mouth (WOM).
BAB III
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Kota Bandung
Bandung terletak pada koordinat 107 BT and 6 55 LS. Luas Kota Bandung
adalah 16.767 hektare. Kota ini secara geografis terletak di tengah- tengah provinsi
Jawa Barat, dengan demikian, sebagai ibu kota provinsi, Bandung mempunyai nilai
strategis terhadap daerah-daerah di sekitarnya. Kota Bandung terletak pada ketinggian
768 m di atas permukaan laut rata-rata (mean sea level), dengan di daerah utara pada
umumnya lebih tinggi daripada di bagian selatan. Ketinggian di sebelah utara adalah
1050 msl, sedangkan di bagian selatan adalah 675 msl. Bandung dikelilingi oleh
pegunungan, sehingga Bandung merupakan suatu cekungan (Bandung Basin). Wilayah

Kota Bandung dibagi menjadi 30 kecamatan dan 153 kelurahan. Populasi penduduknya
adalah 2.536.649 juta jiwa
Gambaran Umum Kota Surabaya
Secara klimatologis kota Surabaya terletak diantara 07.12o 07.21o LS dan
112.36o 112.54o BT. Wilayah Surabaya berada di bawah ketinggian 50m dari
permukaan. Ditinjau secara topografis, Surabaya merupakan kawasan yang mengalami
perkembangan tata ruang kota yang sangat dimanis. Pergeseran wilayah terus terjadi
sampai abad ke-18 ke bagian utara yaitu daerah Krembangan, Sukodono (Ampel) dan
Sima sampai menjadi sebuah kota besar seperti saat ini. Total luas wilayah kota
surabaya adalah 52.087 Ha dengan luas daratan 33.048 Ha dan luas laut sebesar 19.039
Ha. Pemerintahan kota Surabaya (Pemkot) dikepalai oleh walikota yang membawahi
koordinasi atas wilayah administrasi kecamatan sebanyak 31 kecamatan, 163 kelurahan
yang dibagi dalam 5 wilayah. Populasi penduduknya adalah 2.885.385 juta jiwa.
Analisis Kota Bandung
Identitas
Kota

Bandung

mempunyai

minimal

dua identitas

kota yang

bertaraf

internasional, yaitu Gedung Sate dan Kawasan Braga. Kawasan ini sudah dikenal para
wisatawan asing sejak masa Hindia Belanda dan merupakan salah satu unsur yang
menjadikan Kota Bandung mendapat julukan Paris van Java (bandung.edu, 2011).
Orang-orang yang mendengar kedua tempat tersebut otomatis akan berpikir tentang kota
Bandung karena identitas keduanya yang melekat sejak lama. Kota Bandung di masa
kini pun mempunyai tempat-tempat yang juga menjadi ciri khas dari Kota Bandung,
misalnya Institut Teknologi Bandung, atau tempat hiburan seperti Trans Studio.
Pemimpin Kota Bandung saat ini, Ridwan Kamil, sedang berusaha memperkuat
kembali identitas kotanya. Misalnya, adanya peraturan mengenai bangunan baru yang
harus menggunakan arsitektur Belanda. Selain itu, pembangunan taman-taman yang
dapat digunakan untuk banyak kegiatan (multifungsi) juga sedang digencarkan. Pada
komponen komunikasi primer, infrastruktur (monorel) dan perilaku (penggunaan

sepeda) termasuk ke dalam rencana Pemerintah Kota Bandung untuk mengembalikan


identitas Kota Bandung tersebut (Yananda & Salamah, 2014).
Bandung dikenal dengan kreativitasnya yang tinggi disebabkan terdapatnya
tempat pendidikan tinggi di Kota ini, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), STT
Telkom, NHI, dll.). Dalam hal ekonomi, Bandung juga dikenal sebagai kota yang
menjadi tujuan wisata orang asing. Sektor pariwisata Bandung mampu menarik orangorang untuk datang ke kota tersebut sehingga orang-orang yang datang meyakini
keindahannya dan membuat citra kota menjadi competitive kembali.
Selain itu, kehadiran sosok Pemimpin yang banyak melakukan terobosan positif
juga menjadi nilai tambah yang signifikan bagi perbaikan citra Kota Belanda ini.
Pasalnya, Pemkot Bandung (Ridwan Kamil) disukai banyak orang karena
kepemimpinannya

yang

kharismatik

dan

program-programnya

yang

mampu

menghadirkan sesuatu yang baru sehingga masyarakat semakin ingin menikmati


keindahan Kota Bandung melalui Ridwan Kamil.
Citra
Kota Bandung dapat dikatakan sebagai kota yang kaya citranya. Berdasarkan
star model, Bandung mencapai 26 topik pemberitaan tertinggi, meskipun tidak ada yang
doninan diantaranya. Tiga kategori yang menonjol dengan jumlah berita yang relatif
masih sedikit adalah berita soal transportasi, tata ruang, dan ekonomi perdagangan.
Akan tetapi, pemberitaan tersebut belum cukup kuat untuk membangun citra yang baik.
Belum lagi berita-berita negatif yang juga muncul dapat menggeser citra positif yang
sedang dibangun (Yananda & Salamah, 2014).
Identitas Bandung yang semakin membaik membuat citra terhadap kota tersebut
juga bagus. Meskipun demikian, pemberitaan yang buruk juga sering kali terjadi dan
membuat citra di masyarakat menjadi buruk. Bandung termasuk gagal dalam menjaga
pemberitaan buruk di media massa beredar. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya
peristiwa-peristiwa negatif yang masih terjadi di Kota Bandung ini, misalnya
kemacetan, kebakaran, kekerasan gang motor, dll.

Citra yang lemah juga terdapat pada beberapa tempat di Kota Bandung yang
mestinya memiliki potensi yang besar untuk peningkatan sektor ekonomi. Misalnya,
daerah Lembang dan tempat wisata Boscha. Kedua tempat ini tercatat ramai dikunjungi
setiap tahunnya karena daerahnya yang dingin dan sejuk serta mudah untuk dijangkau
dari berbagai daerah. Akan tetapi, upaya untuk membuat daerah ini menjadi tempat
destinasi (wisata) yang tertata belum begitu terlihat. Padahal, jika tata ruang daerah
tersebut dapat dilakukan dengan baik, implikasinya adalah pada pertumbuhan sektor
ekonomi yang cukup besar dari bidang pariwisata.
Komunikasi
Komunkasi primer yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung adalah
melalui kualitas pelayanan publiknya. Pada tahun 2014, Kota Bandung menerima
penghargaan predikat kepatuhan standar pelayanan publik dari Ombudsman atas
prestasinya membenahi pelayanan publik di Kota Bandung. Penghargaan yang diterima
Kota Bandung ini disebabkan Kota Bandung dinilai sukses memperbaiki 29 satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) menjadi kategori hijau, hal ini berarti Kota Bandung memiliki
kualitas pelayanan publik yang baik (inilah.com, 2014).
Komunikasi sekunder yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung adalah dengan
membuat slogan dan logo sebagai aktivitas pemasaran Kota Bandung. Slogan Kota
Bandung adalah Bandung The Inspiring City dengan logo sebagai berikut:

Gambar 1: Logo Brand Kota Bandung. Sumber: bandung.go.id

Komunikasi tersier, yaitu berupa obrolan dari mulut ke mulut yang merupakan
rantai informasi yang sulit dikendalikan. Banyaknya pemberitaan di media cetak
maupun elektronik mengenai keadaan dan kondisi yang ada menciptakan framing di
benak masyarakat terkait isu yang beredar. Berita yang tersebar tidak selalu positif dan
tidak selalu negatif. Media sendiri mempunyai agenda dalam menyampaikan informasi
kepada publik sehingga tidak terlalu memikirkan bagaimana citra dari kota yang
diberitakan.
Ketika pemberitaan negatif muncul, sering kali Ridwan Kamil selaku Walikota
Bandung dapat bersikap dengan bijak dan tenang sehingga pemberitaan negatif yang
muncul dapat diatasi. Image yang muncul dibenak masyarakat akan selalu baik ketika
pengalaman Walikota selama ini selalu baik dihadapan masyarakat. Bahkan, ketika
muncul penberitaan yang tidak baik, dengan sendirinya masyarakat akan menepis berita
tersebut dan turut membantu membersihkan citra sang Walikota Bandung tersebut.
Analsis Kota Surabaya
Identitas
Kota Surabaya memiliki identitas sebagai kota pahlawan. Identitas Surabaya
sebagai Kota Pahlawan didasarkan pada SK Penetapan Pemerintah No. 9/UM/1946.
Identitas ini dilandasi oleh rangkaian peristiwa 10 November 1945 yang menjadi
peristiwa penting dan paling menentukan kelangsungan sejarah perjuangan bangsa
Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Sekalipun kejadian tersebut di
Surabaya, pada hakekatnya peristiwa kepahlawanan ini menjadi tonggak pertama
perjuangan semesta kesatuan bangsa Indonesia melawan kolonialisme imperialisme
barat (Arsip Kota, 2008: 1). Melalui SK Walikota tertanggal 1 Maret 1973 No. 0/100/6
disebut sebagai salah satu usaha untuk mengidentifikasi identitas kota Surabaya disebut
kota Pahlawan. Seiring berjalannya waktu kota Surabaya berkembang menjadi kota
metropolis bahkan menjadi kota terbesar kedua setelah Jakarta. Kemajuan perdagangan
dan perekonomian di Kota ini menyebabkan berkembangnya pembangunan dan
infrastruktur kota yang sangat pesat. Dimana sekrang dapat dilihat proyek-proyek

bangunan tinggi seperti apartemen, hotel, dan pusat perbelanjaan menjamur diseluruh
bagian kota.
Untuk menjaga identitas Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan, Walikota
Surabaya Tri Rismaharini, baru-baru ini mengumpulkan benda-benda bernilai sejarah
dalam sebuah wadah yang dikenal sebagai Museum Kota Surabaya. Ada sekitar 1.000
benda-benda yang menceritakan Surabaya tempo dulu dipajang di Museum Kota
Surabaya yang bertepat di Gedung Cagar Budaya lantai I Siola Jalan Tunjungan.
Museum yang berada di jantung Kota Surabaya itu diresmikan Wali Kota Surabaya Tri
Rismaharini pada 3 Mei 2015 (monitorday.com, 2015). Selain itu, adanya pemimpin
seperti Tri Rismaharini yang dikenal sebagai sosok pemimpin yang selalu menjalankan
tugasnya dengan baik. Hal ini membuat identitas dari Kota Surabaya sendiri menjadi
lebih positif. Salah satu buktinya adalah Kota Surabaya memenangkan Piala Adipura
untuk kategori kota Metropolitan (2011, 2012, 2013 dan 2014). Kebersihan Kota
Surabaya menjadi salah satu prestasi dari kepemimpinan Tri Rismaharini, yang akan
lebih menarik wisatawan untuk berwisata ke Kota Surabaya.
Citra
Kota Surabaya sebelum dipimpin oleh Walikotanya saat ini yaitu Tri
Rismaharini tidak selalu memiliki citra yang baik dimata publik. Salah satu citra buruk
Kota Surabaya sebelum dipimpin Tri Rismaharini adalah adanya lokalisasi terbesar di
kawasan Asia Tenggara. Tetapi setelah dipimpin oleh Walikota saat ini, lokalisasi
tersebut ditutup, karena sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun
1999 tentang Larangan Menggunakan Bangunan/Tempat untuk Perbuatan Asusila serta
Pemikatan untuk Melakukan Perbuatan Asusila. Hal ini mebuat citra negatif dari Kota
Surabaya berkurang
Citra positifnya adalah Kota Surabaya sebagai kota yang bersih, hal ini bisa
dilhat dari Piala Adipura yang dimenangkan oleh Kota Surabaya selama 4 tahun terkahir
yaitu pada tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014. Hal ini merupakan sukses masyarakat
Surabaya dan peran serta lembaga swadaya masyarakat serta Pemerintah Kota Surabaya
dalam menjaga kebersihan Kota. Selain itu menurut Tri Rismaharini pendidikan tentang

kesadaran kebersihan kepada masyarakat jauh lebih penting daripada gelar penghargaan
Adipura Kencana. Citra positif Kota Surabaya hanya berkutat pada manajemen kota
yang baik, hal ini melupakan identitas asli Kota Surabaya yaitu Kota Pahlawan. Pemkot
Surabaya sendiri seakan lebih fokus pada pengembangan kota moderen dan terkesan
mengabaikan peristiwa besar perjuangan di Indonesia. Bahkan tak jarang, pembangunan
di Surabaya banyak merusak dan kian meminggirkan tempat-tempat bersejarah yang
bisa menjadi penguat citra Kota Pahlawan itu sendiri.
Komunikasi
Pada kategori komunikasi, dimensi komunkasi primer yang dilakukan oleh
Pemerintah Kota Surabaya adalah melalui kualitas pelayanan publiknya, Kota Surabaya
raih predikat kepatuhan pelayanan publik. Berdasar surat Ombudsman RI nomor
710/ORI-Srt/VII/2014 disebutkan, ada 14 SKPD di Kota Surabaya yang masuk dalam
zona hijau. Artinya, SKPD-SKPD tersebut dinilai memiliki standar kepatuhan tinggi
terhadap UU 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik. Sebagaimana tertuang dalam
pasal 15 dan bab V UU tersebut, bahwa sebuah unit layanan harus menyampaikan
informasi, di antaranya mengenai kejelasan waktu, prosedur, persyaratan dan biaya
layanan (lensaindonesia.com, 2014). Hal ini berarti Kota Surabaya sudah memiliki
kualitas pelayanan publik yang baik, dan dalam hal ini komunikasi primer dalam
komunikasi citra dan identitas sudah tercapai.
Dimensi selajutnya yaitu komunikasi sekunder yaitu terkait dengan pemasaran
kota secara disengaja dan terencana. Pemerintah Kota Surabaya saat ini berupaya untuk
mem-branding Surabaya dilakukan dengan konsep Sparkling Surabaya. Sparkling
Surabaya adalah suatu konsep promosi Surabaya untuk mengkomunikasikan bahwa
Surabaya berkilau, baik karena gemerlap kota yang menuju kota metropolitan,
maupun pertimbangan bahwa kota Surabaya menjadi kota pusat perhiasan.

Gambar 3: Logo Sparkling Surabaya

Konsep ini masih diperdebatkan efektifitasnya, mengingat konsep yang tidak


mengakar pada kekayaan potensi budaya Surabaya menyebabkan masyarakat Surabaya
kurang merasa terwakili konsep tersebut. Pada kenyataannya, Industri kreatif Surabaya
bukanlah hal yang baru. Arus perdagangan dan industri non kreatif tersebut
sesungguhnya secara implisit menawarkan sebuah kebudayaan yang unik, hal tersebut
dikarenakan percampuran budaya pedagang-pedagang yang heterogen tersebut
menghasilkan hasil-hasil industri kreatif yang dapat dimanfaatkan sebagai kunci
pengembangan city branding Surabaya. Konsep Sparkling Surabaya adalah bukan
gagasan yang berdasar pada refleksi dari keadaan kota Surabaya itu (Indrojarwo et al,
2010).
Tabel Perbandingan

Bandung
Identitas
Citra
Komunikas
i

Surabaya

KESIMPULAN

REFERENSI
Buku
Siagian, Sondang P. (2000). Administrasi Pembangunan; Konsep, Dimensi, dan
Strateginya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Yananda, Muhammad Rahmat,. Salamah, Ummi. (2014). Branding Tempat:
Membangun Kota, Kabupaten, dan Provinsi Berbasis Identitas. Jakarta: Makna
Informasi.
Website
Bandung

Raih

Kepatuhan

Standar

Pelayanan

Publik,

2014.

http://m.inilah.com/news/detail/2120708/bandung-raih-kepatuhan-standar-pelayananpublik

IDENTITAS

KOTA

BANDUNG

(LANDMARK),

2011.

http://www.bandung.eu/2011/05/identitas-kota-bandung-landmark.html
Kota

Surabaya

raih

predikat

kepatuhan

pelayanan

public,

2014.

http://www.lensaindonesia.com/2014/07/19/kota-surabaya-raih-predikat-kepatuhanpelayanan-publik.html