Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi
baru lahir adalah terjadinya hiperbillirubinemia yang merupakan salah satu
kegawatan pada bayi baru lahir karena dapat menjadi penyebab gangguan tumbuh
kembang bayi. Kelainan ini tidak termasuk kelompok penyakit saluran
pencernaan makanan, namun karena kasusnya banyak dijumpai maka harus
dikemukakan. Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah
yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001). Hiperbilirubinemia atau
yang dikenal dengan istilah ikterus adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai
oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat peningkatan kadar bilirubin
serum. Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling
sering ditemukan pada neonatus terjadi pada minggu pertama kehidupan.
Sebagian besar kejadian ikterus neonatorum bersifat fisiologis, namun yang non
fisiologis harus diwaspadai sebab dapat menimbulkan komplikasi yang berat baik
gejala sisa bagi yang hidup maupun yang fatal jika pengobatan terlambat
(Cloherty,2004).
Sampai saat ini ikterus masih merupakan masalah bayi baru lahir yang
sering dihadapi tenaga kesehatan,terjadi pada sekitar 25-50% bayi cukup bulan
dan 80% pada neonatus kurang bulan. Oleh sebab itu memeriksa ikterus pada bayi
harus dilakukan pada waktu melakukan kunjungan neonatal atau pada saat
memeriksa di klinik (Departemen Kesehatan, 2006). Proyeksi pada tahun 2025
AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab
mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai
kernikterus).

Penelitian di dunia kedokteran menyebutkan bahwa 70% bayi

mengalami kuning/ikterus.Di Amerika Serikat,dari 4 juta bayi yang lahir setiap


tahunnya,sekitar 65% mengalami ikterus. Sensus yang dilakukan pemerintah
Malaysia pada tahun 1998 menemukan sekkitar 75% bayi baru lahir mengalami
ikterus pada minggu pertama (Sastromo, 2004) . Angka kematian bayi di Negaranegara ASEAN seperti Singapura 3 per 1000 kelahiran hidup,Vietnam 18 per
1000 kelahiran hidup dan Philipina 26 per 1000 kelahiran hidup,sedangkan angka
kematian bayi di Indonesia mempunyai angka kematian tertinggi 330 per 100.000

dan angka kematian perinatal 420 per 100.000 persalinan hidup dengan perkiraan
persalinan di Indonesia setiap tahunnya sekitar 5.000.000 jiwa (Manauba, 2008) .
Angka kejadian ikterus bayi di Indonesia sekitar 50% bayi cukup bulan
yang mengalami perubahan warna kulit,mukosa dan wajah mengalami
kekuningan (ikterus),dan pada bayi kurang bulan (premature) kejadiannya lebih
sering yaitu 75%. Di Indonesia didapatkan data dari beberapa rumah sakit
pendidikan. Insidens RSCM tahun 2003 menemukan prevalensi ikterus pada bayi
baru lahir sebesar 58%. RS. Dr. Sarditjo melaporkan sebanyak 85% bayi cukup
bulan sehat mempunyai kadar bilirubin diatas 5 mg/dl dan 23,8% memiliki kadar
bilirubin diatas 13 mg/dl. Data yang diperoleh dari RS.Dr.Kariadi Semarang agak
berbeda dimana insidens ikterus fisiologi dan sisanya ikterus patologis. Angka
kematian terkait hiperbilirubin sebesar 13,1%. Didapatkan juga data insidens
ikterus neonatorum di RS.Dr.soetomo Surabaya sebesar 13% pada tahun 2000 dan
30% pada tahun 2002,dan di RSUD pringadi medan didapatkan hasil yaitu pada
tahun 2006 bayi kurang bulan 10 orang pasien dan bayi cukup bulan 9 orang
pasien,sedangkan pada tahun 2007 bayi kurang bulan 18 orang pasien,dan bayi
cukup bulan 10 orang pasien. (Sastroasmoro, 2004)
Ikterus pada neonatus dapat dibedakan secara dua macam,yaitu fisiologis
dan patologis. Ikterus neonatorum fisiologis timbul akibat peningkatan dan
akumulasi bilirubin indirek <5 mg/dl/24 jam yaitu yang terjadi 24 jam pasca salin.
Hal ini karena metabolisme bilirubin neonatus belum sempurna yaitu masih dalam
masa transisi dari masa janin ke masa dewasa (Glasgow, 2000). Ikterus
neonatorum patologis pula adalah ikterus yang timbul dalam 24 jam pertama
pasca salin dimana peningkatan dan akumulasi bilirubin indirek > 5 mg/dl/24 jam
dan ikterus akan tetap menetap hingga 8 hari atau lebih pada bayi cukup
bulan(matur) sedangkan pada bayi kurang bulan (prematur) ikterus akan tetap ada
hingga hari ke-14 atau lebih. Ikterus neonatorum patologis dapat ditimbulkan
oleh beberapa penyakit seperti anemia hemolitik, polisitemia, ekstravasasi darah
(hematoma),

sirkulasi

enterohepatik

yang

berlebihan,

defek

konjugasi,

berkurangnya uptake bilirubin oleh hepar, gangguan transportasi bilirubin direk


yang keluar dari hepatosit atau oleh karena obstruksi aliran empedu. Faktor resiko
yang dianggap sebagai pemicu timbulnya ikterus neonatorum yaitu kehamilan
kurang bulan (prematur), bayi berat badan lahir rendah, persalinan patologis,

asfiksia, ketuban pecah dini, ketuban keruh dan inkompatibilitas golongan darah
ibu dan anak (Fx.Wikan I, Ekawaty LH, 1998).
Ikterus neonatorum perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik
sehingga menurunkan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate = IMR) yang
masih tinggi di Indonesia. Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia, pada tahun
1997 tercatat sebanyak 41,4 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab
mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin (lebih dikenal sebagai
kernikterus). Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi, kern icterus juga dapat
menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy, gangguan pendengaran, paralisis
dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Neonatus yang
mengalami ikterus dapat mengalami komplikasi akibat gejala sisa yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh sebab itu perlu kiranya
penanganan yang intensif untuk mencegah hal-hal yang berbahaya bagi
kehidupannya dikemudian hari. Perawat sebagai pemberi perawatan sekaligus
pendidik harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik dengan berdasar pada
ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Dari uraian di atas, sebagai perawat yang pemberi pelayanan asuhan
keperawatan secara profesional perlu kiranya untuk mengkaji secara sistemik
tentang asuhan keperawatan anak yang terkait dengan hiperbilirubin.
1.2 Rumusan masalah
Rumusan masalah yaitu bagaimanakah penerapan asuhan keperawatan anak
pada pasien By.Ny.N

dengan Hiperbilirubin di Ruang NICU RUMKITAL

dr.RAMELAN Surabaya?
1.3 Tujuan
1 Melakukan pengkajian pada keluarga pasien By.Ny.N dengan Hiperbilirubin
2

di Ruang NICU RUMKITAL dr.RAMELAN Surabaya.


Menentukan diagnosa keperawatan pada pasien By.Ny.N

Hiperbilirubin di Ruang NICU RUMKITAL dr.RAMELAN Surabaya..


Membuat rencana tindakan keperawatan pada pasien By.Ny.N dengan

Hiperbilirubin di Ruang NICU RUMKITAL dr.RAMELAN Surabaya.


Melakukan tindakan keperawatan pada pasien By.Ny.N
dengan

Hiperbilirubin di Ruang NICU RUMKITAL dr.RAMELAN Surabaya.


Melakukan evaluasi keperawatan pada By.Ny.N dengan Hiperbilirubin di
Ruang NICU RUMKITAL dr.RAMELAN Surabaya.

dengan

1.4 Manfaat
Asuhan keperawatan anak yang komprehensif pada pasien By.Ny.N dengan
Hiperbilirubin di Ruang NICU RUMKITAL dr.RAMELAN Surabaya dapat
membantu proses perbaikan keadaan pasien dengan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia.