Anda di halaman 1dari 9

DIMENSI POHON DAN PENDUGAAN VOLUME POHON

Oleh : Muhdin (email : mhdnipb@gmail.com)


Abstrak
Determining the stem volume of a tree, both a standing or felled tree, has long
been a chronic problem for foresters, whereas, an accurate estimate of wood
volume is important in the management of forest. In this article, some tree
dimensions i.e. stem diameter, tree height and stem form factor, which decisive
to stem volume, will be described. The development of tree volume estimation,
from the conventional method to the modern method (centroid volume formula,
which combine the Newton formula and the integration of the taper function),
will be described as well.
Key words : tree volume, dbh, tree height, form factor, taper function,
importance sampling, centroid sampling.
Pendahuluan
Kayu sampai saat ini masih merupakan produk penting dalam kegiatan
pengusahaan hutan, karena itu dalam pendugaan volume pohon, pengukuran
dimensi pohon harus dilakukan dengan cermat agar dapat diperoleh taksiran
volume pohon yang akurat yaitu taksiran volume yang mendekati nilai volume
yang sebenarnya. Kualitas dugaan volume pohon ini tergantung dari beberapa
faktor, diantaranya : tingkat akurasi yang diinginkan, karakteristik pohon,
metode pengukuran, alat yang digunakan dan kondisi saat pengukuran dimensi
pohon, persamaan volume yang digunakan, dan lain-lain.
Untuk mendapatkan gambaran tentang karakteristik pohon sebagai penentu
volume pohon, dalam tulisan ini akan diuraikan beberapa macam dimensi
pohon yang meliputi diameter batang, tinggi pohon, dan faktor bentuk
batang. Di bagian akhir tulisan akan diuraikan sekilas perkembangan cara
pendugaan volume batang pohon.
Diameter Batang
Diameter adalah sebuah dimensi dasar dari sebuah lingkaran. Diameter batang
didefinisikan sebagai panjang garis antara dua buah titik pada lingkaran di
sekeliling batang yang melalui titik pusat (sumbu) batang.
Diameter batang adalah dimensi pohon yang paling mudah diperoleh/diukur
terutama pada pohon bagian bawah. Tetapi oleh karena bentuk batang yang
pada umumnya semakin mengecil ke ujung atas (taper), maka dari sebuah
pohon akan dapat diperoleh tak hingga banyaknya nilai diameter batang sesuai
banyaknya titik dari pangkal batang hingga ke ujung batang. Oleh karena itulah

perlu ditetapkan letak pengukuran diameter batang yang


akan menjadi ciri karakteristik sebuah pohon. Atas
dasar itu ditetapkanlah diameter setinggi dada

atau dbh (diameter at breast height) sebagai standar


pengukuran diameter batang. Sekurangnya ada tiga alasan mengapa
diameter diukur pada ketinggian setinggi dada, : (1) alasan kepraktisan dan
kenyamanan saat mengukur, yaitu pengukuran mudah dilakukan tanpa harus
membungkuk atau berjingkat ; (2) pada kebanyakan jenis pohon ketinggian
setinggi dada bebas dari pengaruh banir ; (3) dbh pada umumnya memiliki
hubungan yang cukup erat dengan peubah-peubah (dimensi) pohon lainnya.
Selain mudah diperoleh/diukur, dbh juga merupakan dimensi pohon yang
akurasi datanya paling mudah dikontrol. Oleh karena itulah dbh lebih sering
digunakan sebagai peubah penduga dimensi-dimensi pohon lainnya.
Dalam praktek pengukuran dbh, ketinggian setinggi dada ternyata terdapat
perbedaan di antara beberapa negara :
1. Negara dengan pengukuran sistem metrik, dbh = 1,30 m di atas permukaan
tanah (dat).
2. USA dan Kanada, dbh = 4 ft 6 in = 1,37 m dat.
3. Inggeris dan beberapa negara persemakmuran (pengukuran sistem British), dbh
= 4 ft 3 in = 1,29 m dat.
4. Jepang, dbh = 4 ft 1,2 in = 1,25 m dat.
Selain untuk keperluan pendugaan dimensi pohon lainnya, diameter setinggi
dada (dbh) biasanya diukur sebagai dasar untuk keperluan perhitungan lebih
lanjut, misalnya untuk menentukan luas bidang dasar, dan volume. Luas bidang
dasar pohon (B = lbds) adalah luas penampang lintang batang, sehingga dapat
dinyatakan sebagai : B = D ; di mana D = dbh. Selanjutnya perkalian
antara luas bidang dasar pohon dengan tinggi (T) pohonnya kemudian dikalikan
lagi dengan nilai faktor bentuk (f), maka akan diperoleh volume (V) batang
pohon tersebut, yang dapat diformulasikan sebagai : V = B.T.f.
Dari hasil penelitian dengan menggunakan empat jenis pohon (red
maple, yellow poplar, red oak dan white oak) di West Virginia, USA, Wiant
(1988) menunjukkan bahwa untuk keempat jenis pohon tersebut, ternyata dbh
bukanlah merupakan ukuran diameter terbaik di dalam menduga dimensi
volume. Hal itu ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi tertinggi
hubungan antara diameter dengan volume diperoleh pada saat diameter pada
bagian batang yang lebih tinggi dibanding dbh. Hasil penelitian tersebut,
tampaknya mengilhami pengembangan metode perhitungan/pendugaan volume
pohon baik pohon berdiri maupun yang sudah ditebang (rebah), dari yang
semula selalu tetap menggunakan dbh sebagai salah satu dimensi dasarnya
menjadi diameter bagian lain yang letaknya pada batang bervariasi sesuai
karakteristik dari masing-masing batang atau pohon tersebut. Hal ini akan di
bahas lebih lanjut pada bagian tentang volume.
Tinggi Pohon
Setelah diameter, tinggi pohon merupakan dimensi dasar penting lainnya.
Tinggi pohon didefinisikan sebagai jarak atau panjang garis terpendek antara

suatu titik pada pohon dengan proyeksinya pada bidang datar. Istilah tinggi
pohon hanya berlaku untuk pohon yang masih berdiri, sedangkan untuk pohon
rebah digunakan istilah panjang pohon.
Seperti sudah dijelaskan di muka, tinggi pohon adalah salah satu dimensi yang
harus diketahui untuk menghitung nilai volume pohon. Selain
itu, peninggi yang didefinisikan sebagai rata-rata 100 pohon tertinggi yang
tersebar merata dalam areal 1 hektar, dikaitkan dengan umur tegakan jenis
pohon tertentu adalah merupakan komponen informasi yang diperlukan untuk
menentukan indeks tempat tumbuh atau kualitas tempat tumbuh (bonita) yang
mencerminkan produktivitas lahan dalam memberikan hasil (potensi tegakan).
Pengukuran tinggi pohon pada umumnya menggunakan salah satu atau
kombinasi dari dua prinsip berikut :
1. Prinsip geometri atau prinsip segitiga sebangun.
2. Prinsip trigonometri atau prinsip pengukuran sudut.
Berdasarkan titik bagian atas yang diukur, tinggi pohon dibedakan atas : (1)
Tinggi total, yaitu tinggi pohon sampai ke puncak tajuk ; (2) Tinggi bebas
cabang, yaitu tinggi pohon sampai cabang pertama yang masih hidup. Cabang
yang dimaksud biasanya adalah cabang yang turut berperan dalam membentuk
tajuk utama ; (3) Tinggi kayu tebal, yaitu tinggi pohon sampai batas diameter
tertentu, biasanya sampai batas diameter 7 atau 10 cm.
Apabila terdapat hubungan yang erat antara dbh dengan tinggi pohon, maka
secara fungsional tinggi pohon dapat juga diduga oleh dbh. Cara ini dirasa lebih
mudah dan praktis dibanding harus mengukur langsung tinggi pohon.
Bentuk Batang
Selain diameter dan tinggi pohon, bentuk batang adalah salah satu komponen
penentu volume pohon. Bentuk batang diantaranya dapat digambarkan oleh
angka bentuk (form factor) dan taper.
Angka Bentuk Batang (f) didefinisikan sebagai perbandingan atau rasio antara
volume batang yang sebenarnya dengan volume silinder yang memiliki tinggi
atau panjang sama. Berdasarkan diameter yang digunakan untuk menghitung
volume silindernya, angka bentuk dibedakan atas : (1) angka bentuk mutlak ;
(2) angka bentuk buatan ; (3) angka bentuk normal. Angka bentuk mutlak
(absolute form factor) adalah angka bentuk di mana volume silindernya
menggunakan lbds berdasarkan diameter pada pangkal batang. Angka bentuk
buatan (artificial form factor) adalah angka bentuk di mana volume silindernya
menggunakan lbds berdasarkan dbh. Sedangkan angka bentuk normal (true
form factor/hohenadl form factor) adalah angka bentuk di mana volume
silindernya menggunakan lbds berdasarkan diameter pada ketinggian 1/10
tinggi pohon. Oleh karena dbh biasa digunakan sebagai ciri diameter pohon,
maka angka bentuk yang sering digunakanpun adalah angka bentuk buatan.
Taper adalah suatu istilah yang menggambarkan bentuk batang yang
meruncing. Dengan kata lain, taper menggambarkan pengurangan atau semakin
mengecilnya diameter batang dari pangkal hingga ke ujung. Chapman dan

Meyer (1949) menyatakan bahwa taper merupakan resultante dimensi pohon


yang disebabkan oleh pengaruh pertumbuhan tinggi dan diameter pohon.
Pertumbuhan tinggi pohon lebih dipengaruhi oleh kualitas tempat tumbuh,
sedangkan diameter pohon lebih dipengaruhi oleh kerapatan pohon. Philip
(1993) menyatakan taper sebagai laju perubahan diameter pada panjang atau
tinggi tertentu, yang secara matematis dapat dinyatakan sebagai : t = (dp
du)/l ; di mana : t = taper ; dp, du = diameter pangkal, ujung ; l = panjang
batang. Bentuk batang yang semakin mengecil ke ujung dapat juga dinyatakan
dalam sebuah persamaan fungsional hubungan antara diameter sepanjang
batang (di) pada berbagai ketinggian tempat diameter tersebut diukur (hi),
sehingga di = f(hi). Persamaan seperti itu disebut sebagai fungsi taper. Untuk
mengurangi keragaman absolut yang besar akibat adanya perbedaan ukuran
batang dalam hal ini diameter dan tinggi/panjang batang, sebaiknya digunakan
peubah-peubah relatif, sehingga fungsi tapernya menjadi : di/D = f(hi/H) atau
di/D = f(1 hi/H) ; di mana : D = dbh atau diameter pangkal ; H = tinggi bebas
cabang atau tinggi total. Penggunaan lebih lanjut dari fungsi taper ini adalah
untuk menduga volume batang dengan cara integrasi lbds pada panjang atau
selang ketinggian tertentu. Kelebihan cara pendugaan volume pohon melalui
fungsi taper ini adalah bahwa volume pohon dapat ditentukan pada berbagai
ketinggian atau panjang yang dikehendaki. Sedangkan kelemahannya adalah
dugaan volume pohon akan bias kalau fungsi taper yang digunakan tidak
berhasil menggambarkan pola bentuk batang yang sebenarnya.
Volume
Volume pohon adalah ukuran tiga dimensi, yang tergantung dari lbds (atau
diameter pangkal), tinggi atau panjang batang, dan faktor bentuk batang. Cara
penentuan volume batang dibedakan antara cara langsung dan cara tidak
langsung.
Penentuan volume cara langsung hanya bisa dilakukan untuk kayu dalam
bentuk sortimen (log), dengan menggunakan alat yang namanya xylometer,
yaitu berupa bak persegi yang diisi air. Sortimen yang akan diukur volumenya
dimasukkan ke dalam bak berisi air, volume kayu adalah pertambahan tinggi air
dalam bak dikalikan luas penampang bak. Kalau bak diisi penuh air, maka
volume air yang tumpah adalah sama dengan volume kayu yang dimasukkan.
Sedangkan penentuan volume cara tidak langsung, dilakukan dengan metode
grafis atau dengan menggunakan persamaan volume.
Penentuan volume metode grafis pada dasarnya adalah dengan cara
memplotkan pasangan data diameter atau lbds dan tinggi atau panjang masingmasing pada sumbu absis dan sumbu ordinat dari diagram cartesius, sehingga
dapat dibuat garis yang menghubungkan titik-titik koordinat yang berurutan
membentuk sebuah kurva yang menggambarkan pola bentuk batang. Kemudian
dihitung luas daerah dibawah kurva di atas sumbu absis. Volume batang adalah
luas daerah dikalikan dengan sebuah konstanta yang besarnya tergantung faktor
skala dan pengaruh satuan absis maupun ordinat.

Bentuk geometris yang paling mendekati bentuk pohon adalah silinder.


Sehingga rumus-rumus penentuan volume batang pada umumnya mengacu
kepada rumus volume silinder dengan berbagai macam penyesuaian. Rumus
volume silinder adalah : V = BH ; di mana : B = lbds ; H = tinggi atau panjang.
Untuk pohon di mana nilai diameternya bervariasi dari pangkal hingga ke ujung
batang, maka permasalahannya adalah menentukan diameter mana yang akan
digunakan untuk menghitung lbds-nya. Rumus volume silinder terkoreksi
menghitung volume dengan menggunakan dbh atau diameter pangkal untuk
menghitung lbds-nya, kemudian nilai volume yang diperoleh dikalikan lagi
dengan sebuah faktor koreksi yang merupakan faktor bentuk batang (f),
sehingga V = BHf.
Beberapa rumus empiris yang banyak dikenal, menentukan volume dengan
menggunakan rumus umum volume silinder : V = BH tetapi dengan
penyesuaian terhadap diameter yang digunakan untuk menghitung lbds-nya,
misalnya rumus Brereton mengggunakan diameter yang merupakan rata-rata
diameter pangkal dan ujung untuk menghitung lbds-nya ; rumus Smalian
menggunakan lbds yang merupakan rata-rata lbds pangkal dan ujung ; rumus
Huber menggunakan diameter tengah untuk menghitung lbds-nya ; sedangkan
rumus Newton menggunakan lbds yang merupakan rata-rata lbds pangkal,
tengah dan ujung di mana lbds tengah diberi bobot empat kali lbds lainnya ; dan
lain-lain. Wiant, Wood dan Furnival (1992) menyatakan bahwa rumus Newton
sudah sejak lama diakui sebagai rumus paling akurat untuk pendugaan volume
log, dibanding rumus-rumus empiris lainnya. Rumus Newton dapat digunakan
baik untuk bentuk silinder, paraboloid, konoid maupun neiloid.
Tabel 1. Beberapa rumus penduga volume log

Nama R u m u s
Brereton V = ((/4)((b+s)/2)2)L
Huber V = ML
Smalian V = ((B+S)/2)L
Newton V = ((B+4M+S)/6)L

di mana :
V = dugaan volume log (m3)
= nilai phi = 3,14159
b = diameter pangkal log (cm/100) ; s = diameter ujung log (cm/100)
B = lbds pangkal log (m2) ; M = lbds tengah-tengah log (m2)
S = lbds ujung log (m2) ; L = panjang log (m)
Dengan dasar pemikiran bahwa volume batang adalah merupakan bentuk benda
putar dari fungsi tapernya, dan volume batang pada hakekatnya adalah
merupakan penjumlahan dari lbds-lbds setiap titik dari pangkal hingga ke ujung
batang, maka volume batang dapat dihitung melalui integrasi fungsi tapernya.
Apabila fungsi tapernya adalah : d = f(h) maka :

Ve = d dh. Untuk mengoreksi adanya kemungkinan bias dugaan volume


akibat ketidaksesuaian fungi taper dalam menggambarkan pola bentuk batang
yang sesungguhnya Gregoire, Valentine dan Furnival (1986) mengembangkan
metode pendugaan volume batang yang disebut importance sampling, yaitu : V
= Ve x A/a ; di mana : A/a adalah sebuah faktor koreksi yang merupakan rasio
lbds ; A = lbds dengan menggunakan diameter yang sebenarnya pada titik
tertentu di batang yang ditentukan secara acak ; sedangkan a = lbds pada
ketinggian yang sama dengan A tapi menggunakan diameter yang diduga
melalui fungsi tapernya. Selanjutnya, Wood, Wiant, Loy dan Miles (1990)
mengemukakan bahwa berdasarkan simulasi yang dilakukannya apabila
pengacakan untuk menentukan ketinggian tempat diameter diukur dilakukan
secara berulang-ulang maka rata-rata ketinggian tempat diameter di ukur
tersebut akan terletak pada ketinggian setengah dari total volume batang. Titik
tersebut diperkenalkan sebagai titik centroid volume dan importance
sampling dimodifikasi menjadi centroid sampling. Wiant, Wood dan Furnival
(1992), mengkombinasikan metode centroid (centroid sampling) dengan rumus
Newton (catatan : rumus Newton diyakini sebagai rumus empiris terbaik dalam
menduga volume batang untuk berbagai bentuk batang, dibanding rumus-rumus
empiris penduga volume lainnya), sehingga pada akhirnya diperoleh rumus
penduga volume yang disebut rumus centroid :
V = SL + (b1L2)/2 + (b2L3)/3 di mana :
S = lbds ujung log (m2) ; L = panjang log (m)
b1 = (B-S-b2L2)/L ; b2 = (B-C(L/q)-S(1-L/q))/(L2-Lq)
B = lbds pangkal log (m2) ; C = lbds pada posisi centroid volume (m2)
q = (((b/s)4 + 1)0.5 20.5)/(20.5((b/s)2 1)) L (m)
s = diameter ujung log (m2) ; b = diameter pangkal log (m)
Latifah (1994), Krisnawati (1994) dan Elviadi (1994), masing-masing
menggunakan 120 log meranti (Shorea spp.), keruing (Dipterocarpusspp.)dan
ramin (Gonystylus spp.) di Propinsi Kalimantan Tengah untuk membandingkan
performansi tujuh buah rumus (Brereton, Smalian, Huber, Bruce, Patterson
Clark, Newton dan Centroid) dalam pendugaan volume log. Penelitian yang
sama dilakukan Muhdin (1997) dengan menggunakan 499 log meranti
(Shorea spp.) di Propinsi Riau. Secara umum rumus Newton dan Centroid
merupakan rumus terbaik untuk pendugaan volume log meranti maupun
keruing, sedangkan Patterson Clark terbaik untuk jenis ramin. Dari penelitian
Bustami (1995) yang menggunakan 157 log Pinus merkusii di Jawa juga
diperoleh kesimpulan bahwa rumus Newton dan Centroid merupakan rumus
terbaik untuk pendugaan volume log P. merkusii.
Cara penentuan volume pohon yang paling praktis adalah dengan menggunakan
tabel volume pohon. Tabel volume pohon adalah suatu tabel yang berisi nilainilai dugaan volume pohon pada ukuran diameter atau diameter dan tinggi
pohon tertentu. Berdasarkan peubah penduga yang digunakan, tabel volume

pohon dibedakan menjadi : tabel volume lokal, tabel volume baku dan tabel
volume dengan kelas bentuk. Tabel volume lokal atau dikenal juga dengan
istilah tariff volume adalah tabel volume dengan menggunakan dbh sebagai
penduganya. Tabel volume baku adalah tabel volume dengan menggunakan dbh
dan tinggi pohon sebagai peubah penduganya. Tabel volume dengan kelas
bentuk adalah semacam tabel volume baku yang dibuat untuk setiap kelas
bentuk batang.
Diantara ketiga macam tabel volume tersebut, yang paling praktis adalah tabel
volume lokal yang hanya menggunakan dbh sebagai peubah penduga, namun
secara teoritis memiliki ketelitian yang lebih rendah dibanding tabel volume
baku dan tabel volume dengan kelas bentuk. Tabel volume dibuat berdasarkan
persamaan volume yang disusun dengan persamaan regresi. Persamaan regresi
terbaik biasanya dipilih dari berbagai macam persamaan yang dicobakan
terhadap data yang dimiliki. Dari sekian banyak persamaan regresi yang dapat
dicoba, persamaan : V = aDb (di mana : V = volume pohon ; D = dbh ; a, b =
konstanta), adalah persamaan regresi yang paling banyak digunakan. Selain
alasan kesederhanaan model dan kepraktisan karena hanya menggunakan dbh
sebagai peubah penduga, juga model tersebut adalah model yang secara
matematis memiliki kerangka pemikiran (landasan teoritis) yang jelas.
Persamaan V = aDb dikenal juga sebagai persamaan Berkhout (Loetsch, Zohrer
dan Haller, 1973). Suhendang (1993) dalam Wood dan Wiant (1993),
menyatakan bahwa menurut Bruce dan Schumacher (1950), penurunan model
Berkhout tersebut adalah sebagai berikut :
1. Volume sebuah pohon dapat dinyatakan sebagai : V = (D/100)Hf ; di mana :
V = volume (m) ; D = dbh (cm) ; H = tinggi pohon (m) ; f = angka bentuk
2. Untuk jenis pohon tertentu yang memiliki angka bentuk tertentu, maka f adalah
konstanta, dan (/10000)f = a adalah konstanta juga. Sehingga persamaan
volume di atas menjadi : V = aDH
3. Apabila volume meningkat proporsional terhadap pangkat tertentu dari D dan H
(masing-masing selain 2 dan 1), maka persamaan volume menjadi : V = aDgHh
4. Apabila terdapat hubungan yang erat antara D dengan H, maka keragaman V
yang disebabkan oleh keragaman H dapat dijelaskan oleh keragaman D, atau
sebaliknya. Atas dasar itu maka V dapat diduga oleh D atau H saja, sehingga
persamaan volume menjadi : V = aDb atau V = aHc . Persamaan V = aDbbanyak
dipakai dan lebih disukai karena D = dbh lebih mudah diukur dari pada tinggi
pohon (H).
Asumsi yang mendasari berlakunya tabel volume lokal pada sebuah areal hutan
(tegakan) adalah bahwa pohon-pohon yang memiliki ukuran diameter sama
maka akan memiliki tinggi dan angka bentuk batang yang sama pula sehingga
dengan demikian akan memiliki volume pohon yang sama pula. Sedangkan
asumsi yang melandasi berlakunya tabel volume baku adalah bahwa pohonpohon yang memiliki dbh dan tinggi pohon yang sama maka akan memiliki

angka bentuk batang yang sama pula, sehingga akan memiliki volume pohon
yang sama juga.
Penutup
Berdasarkan uraian di atas dapat disarikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Dimensi pohon yang merupakan faktor-faktor penentu volume pohon adalah
diameter batang, tinggi pohon dan faktor bentuk batang.
2. Diameter yang biasa digunakan sebagai karakteristik dimensi pohon adalah dbh,
walaupun ternyata berdasarkan penelitian Wiant (1988) diameter yang paling
erat hubungannya dengan volume adalah diameter pada bagian batang selain
dbh.
3. Tinggi pohon dapat dibedakan atas tinggi total, tinggi bebas cabang, dan tinggi
kayu tebal.
4. Bentuk batang dapat dinyatakan oleh angka bentuk, kusen bentuk, taper dan
fungsi taper.
5. Cara penentuan volume batang pohon meliputi cara langsung (dengan
xylometer), dan cara tidak langsung (menggunakan rumus volume, integrasi
fungsi taper, dan menggunakan tabel volume pohon)
6. Rumus dasar volume pohon adalah : V = BHf (di mana : V = volume pohon
dalam m ; B = lbds pohon dalam m ; H = tinggi pohon dalam m ; B =
(D/100) ; D = dbh dalam cm ; f = angka bentuk batang).
7. Rumus volume pohon tanpa menggunakan faktor bentuk batang adalah : V = BH
(di mana : V = volume pohon dalam m ; B = lbds pohon dalam m ; H = tinggi
pohon dalam m), dalam hal ini diameter yang digunakan untuk menghitung
lbds-nya memperhitungkan satu atau lebih di antara diameter pangkal, tengah
dan/atau ujung batang. Misalnya pada rumus-rumus : Smalian, Brereton,
Huber, Newton dan lain-lain.
8. Penentuan volume pohon dengan cara integrasi fungsi taper kemudian
dikembangkan menjadi importance sampling, centroid sampling dan selanjutnya
diperoleh rumus volume centroid.
9. Tabel volume pohon dibedakan atas tabel volume lokal, tabel volume baku dan
tabel volume dengan kelas bentuk.
Daftar Pustaka
BUSTOMI, S. 1995. Penggunaan Centroid Volume dalam Menduga Volume Kayu
Bulat Pinus, Pinus merkusii Jungh. Et de Vries. Thesis pada Program
Pascasarjana IPB. Bogor. (unpublished).
CHAPMAN, H.H. and W.H. MEYER. 1949. Forest Mensuration. McGraw-Hill Book
Company Inc. New York.
ELVIADI, I. 1994. Perbandingan Ketepatan Hasil Pendugaan Volume Sortimen
Kelompok Ramin, Gonistylus spp., Berdasarkan Rumus Empiris Volume
Sortimennya. Studi Kasus di Areal HPH PT Inhutani III Sampit Kalimantan
Tengah. Skripsi pada Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. (unpublished).

KRISNAWATI, H. 1994. Perbandingan Ketepatan Hasil Pendugaan Volume Sortimen


Kelompok Keruing, Dipterocarpus spp., Berdasarkan Rumus Empiris Volume
Sortimennya. Studi kasus di HPH PT Inhutani III Sampit Kalimantan Tengah.
Skripsi pada Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. (unpublished).
LAAR, A. van and AKA, A. 1997. Forest Mensuration. Cuvillier Verlag. Gttingen.
LATIFAH, S. 1994. Perbandingan Ketepatan Hasil Pendugaan Volume Sortimen
Kelompok Meranti Merah, Shorea spp., Berdasarkan Rumus Empiris Volume
Sortimennya. Studi Kasus di Areal HPH PT Inhutani III Sampit Kalimantan
Tengah. Skripsi pada Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. (unpublished).
LOETCSH, F., F. ZOHRER and K.E. HALLER. 1973. Forest Inventory. Volume II.
Translated into English by K.F. Panzer. BLV Verlagsgesellschaft mbH.
Munchen.
MUHDIN. 1997. Analyzing Some Formulae of Log Volume Estimation on Log of
Meranti. Post Graduate Thesis. Faculty of Forestry and Ecological Sciences.
Georg-August-University Gottingen.Germany. (unpublished)
PATTERSON, D.W., H.V. WIANT, Jr., and G.B. WOOD. 1993. Log Volume
Estimations. The Centroid Method and Standard Formulas. J. of Forestry. 91(8):
39-41.
PHILIP, M.S. 1994. Measuring Trees and Forests. Second Edition. CAB International.
SUHENDANG, E. 1997. Estimating Standing Tree Volume of Some Commercial
Trees of the Tropical Rain Forest in Indonesia. In : Modern Methods of
Estimating Tree and Log Volume (Edited by Wood and Wiant). West
Virginia University Publications Services.Morgantown. USA.
WIANT, Jr. 1988. Where is the Optimum Height for Measuring Tree Diameter ?.
North J. Appl. For. 5 : 184-185.
WIANT, Jr., H.V., G.B. WOOD and G.M. FURNIVAL. 1992. Estimating Log Volume
Using the Centroid Position. For. Sci., 38(10): 187-191.
WOOD, G.B. and H.V. WIANT, Jr. 1990. Estimating the Volume of Australian
Hardwoods Using Centroid Sampling. Aust. For. 53 : 271-274.
WOOD, G.B., H.V. WIANT, Jr., R.J. LOY and J.A. MILES. 1990. Centroid
Sampling : A Variant of Importance Sampling for Estimation the Volume of
Sample Trees of Radiata Pine. For. Ecol. Manage., 36 : 233-243. Elsevier Sci.
Pub. BV. Amsterdam.