Anda di halaman 1dari 1

PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk sosial yang pasti tidak selalu hidup berdampingdampingan. Sebagai makhluk sosial, manusia terkadang memiliki ego yang bertentangan
dengan milik orang lain, misalnya persepsi berbeda dengan pendapat orang lain tentang suatu
objek. Terkadang konflik diperlukan untuk mencegah terjadinya kejenuhan pada suatu
struktur atau kelompok. Biasanya konflik terjadi antara dua pihak atau lebih, atau bahkan
dalam diri seseorang tersebut. Contoh konflik antaralain misalnya tawuran antar siswa,
peperangan, dan lain-lain. Konflik dapat terjadi pada sesama anggota organisasi, dengan
atasan, dengan bawahan, atau bahkan pada diri sendiri. Saat terjadi konflik, diperlukan
beberapa penyelesaian agar konflik tidak berkepanjangan atau semakin parah. Menurut Ross
(1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau
pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin
atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau
tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif.
Manajemen konflik dapat melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan
masalah (dengan atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak
ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada
pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi
kepentingan dan penafsiran terhadap konflik. Beberapa ciri-ciri konflik, strategi dan
manajemen konflik akan dibahas pada diskusi PBL kali ini, selain itu cara untuk mencegah
terjadinya konflik akan ikut dibahas.