Anda di halaman 1dari 25

1

RESUME KASUS ABORTUS DI PONEK RSUD dr. ABDOER RAHEM


SITUBONDO

Oleh
Akhmad Miftahul Huda
NIM 122310101061

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015
Kasus abortus

Ny K. Umur 41 tahun, Ny K memngatakan telat 2 bulan, HPHT 11 maret


2015, mengeluarkan darah dari vagina pada hari senin dan selasa pagi, tes urin
hari ini, hamil(+), dan merupakan kehamilan ke 2. Ny. K mengetakan darah
bercampur dengan gumpalan-gumpalan darah, merasa mulas, dan pusing. Saat
dilakukan pemeriksaan didapatkan data keadaan umum Ny K. TD ; 130/90, Nadi :
74 x/menit, RR: 22 x/menit, S : 360 c. Konjungtiva merah muda palp Ball (+).
Pengeluaran pervagina blood (+), VT :1 ujung jari(+), ekstremitas oedem (-).
Teori kasus
Pengertian Abortus
Pengguguran kandungan atau aborsi atau abortus adalah berakhirnya
kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan
penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya
telah mencapai lebih daripada 500 gram atau umur kehamilan lebih daripada
20 minggu (Sastrawinata, 2005).
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang
terkecil, yang dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat
badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang
dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka
abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai
berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Prawirohardjo S, 2009).
Etiologi
Menurut Prawirohardjo S (2009) penyebab abortus antara lain adalah :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat juga disebut factor ovovetral.
Faktor ovovetal yang menyebabkan abortus adalah kelainan pertumbuhan
janin dan kelainan pada plasenta. Kelainan hasil konsepsi dapat
menyebabkan

kematian janin atau cacat.kelainan

berat

biasanya

menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda.faktor-faktor yang


menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut.
a.
Kelainan kromosom. Kelainan yang sering digunakan pada abortus
spontan ialah risomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan
kromosom seks.

b.

Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan diendometrium


disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga penberian zat-

c.

zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.


Pengaruh dari luar.Radiasi, virus, obat-obat dan sebagainya dapat
mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya

dalam uterus.Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.


2. Kelainan pada plasenta
Endarteritis dapat terjadi dalam viliporeales dan menyebabkan oksigenasi
plasenta terganggu ,sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
kematian janin.keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya
karena hipertensi menahun.
3. Penyakit ibu
Penyakit mendadak,seperti pmeumonea,typis abdominalis, pielonefritis,
malaria dan lain-lain yang menyebabkan abortus.Toksin, bakteri, virus,
atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga
menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus. Anemia
berat, keracuanan, laparotomi, peritonitis umum dan penyakit menahun
seperti bruselosis, mononucleosis infeksiosa, toksosplamosis juga dapat
menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.
4. Kelainan traktus genitalis
Retriversio uteri, miomata uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus.tetapi, harus di ingat bahwa hanya retroversion uteri
gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan
penting. Sebab lain abortus dalam trimester II ialah serviksin kompeten
yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi
serviks berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang
tidak dijahit.
Secara umum abortus disebabkan oleh :
1. Infeksi akut : virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis. Infeksi bakteri,
misalnya streptokokus. Parasit, misalnya malaria. Infeksi kronis : Sifilis,
biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua. Tuberkulosis paru,
aktif, pneumonia.
2. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah,air raksa, dan lain-lain.
3. Penyakit kronis, misalnya : hipertensi, nephritis, diabetes, anemia berat
penyakit jantung : toxemia gravidarum.

4. Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dan lain-lain.


5. Trauma fisik. Penyebab yang bersifat lokal: Fibroid, inkompetensia
serviks. Radang pelvis kronis, endometrtis. Retroversi kronis. Hubungan
seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan
hiperemia dan abortus.
6. Kelainan alat kandungan.
7. Gangguan kelenjar tiroid.
8. Penyebab dari segi Janin / Plasenta Kematian janin akibat kelainan
bawaan.
9. Kelainan kromosom. Linkungan yang kurang sempurna.
10. Penyakit plasenta, misalnya inflamasi dan degenerasi.
Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan
nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu,
villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat
dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan
sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan
menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin
dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam
bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas
bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta,
fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

2.1 Pathway
Factor kromosom
(genetik)

Factor endometrium

Endometrium belum
siap menerima hasil
konsepsi

Pendeknyajarak
jarak
Pendeknya
kehamilan
kehamilan

Radiasi, rokok,
alcohol, obat-obatan

Rahim belum
pulih dengan baik

Kehamilan usia dini


(<20th)

Belum matur

Kehamilan usia
tua (>30th)
Fungssi
Fungssi organ
organ
menurun
menurun

System transfer
plasenta belum efisien

Kelainan pertumbuhan
hasil konsepsi

Penyakit kronik

Factor ibu: anemia berat, infeksi


toxoplasmosis, diabetes

Gg. pembentukan pembuluh


darah pada plasenta

Kelainan plasenta

Perdarahan dalam desidua basalis (plasenta) dan nekrosis jaringan sekitar


Hasil konsepsi sebagian atau seluruhnya terlepas

Uterus berkontraksi

Nyeri akut

Isi rahim keluar

Abortus

Abortus iminens

Hasil konsepsi masih


di dalam uterus tanpa
dilatasi serviks

Abortus insipien

Hasil konsepsi masih


di dalam uterus disertai
dilatasi serviks

Ansietas

Abortus inkomplet

Pengeluaran sebagian
hasil konsepsi

Perdarahan per vaginam

Kekurangan volume cairan

Abortus komplet

Semua hasil konsepsi


dikeluarkan

Manifestasi Klinis
1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang
akibat kontraksi uterus.
Jenis-Jenis Abortus
1. Abortus Provokatus : Disengaja, digugurkan.
a. Abortus Provokatus artifisial atau abortus therapeutic : Pengguran
kehamilan biasanya menggunakan alat-alat dengan

alasan, bahwa

kehamilan membahayakan bagi ibunya sebelum usia kandungan 28


minggu.
b. Abortus provocatus criminalis : Pengguran kehamilan tanpa adanya
alasan medis yang sah dan dilarang oleh hukum.
2. Abortus Spontan : Terjadi dengan sendirinya, keguguran. Biasanya
abortus spontan dikarenakan kurang baiknya kualitas sel telur dan sel
sperma.
Jenis abortus berdasarkan gejalanya dapat dibagi menjadi 8, yaitu:
a. Abortus Iminens. Ditandai dengan perdarahan pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu, ibu mungkin mengalami mulas atau tidak sama
sekali. Pada abortus jenis ini, hasil konsepsi atau janin masih berada di
dalam, dan tidak disertai pembukaan (dilatasi serviks)
b. Abortus Insipiens. Terjadi perdarahan pada usia kehamilan kurang dari
20 minggu dan disertai mulas yang sering dan kuat. Pada abortus jenis
ini terjadi pembukaan atau dilatasi serviks tetapi hasil konsepsi masih di
dalam rahim.
c. Abortus Inkomplet. Terjadi pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
usia kehamilan kurang dari 20 minggu, sementara sebagian masih
berada di dalam rahim. Terjadi dilatasi serviks atau pembukaan,
jaringan janin dapat diraba dalam rongga uterus atau sudah menonjol
dari os uteri eksternum. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa
hasil konsepsi dikeluarkan, sehingga harus dikuret.

d. Abortus komplet. Pada abortus jenis ini, semua hasil konsepsi


dikeluarkan sehingga rahim kosong. Biasanya terjadi pada awal
kehamilan saat plasenta belum terbentuk. Perdarahan mungkin sedikit
dan os uteri menutup dan rahim mengecil. Pada wanita yang mengalami
abortus ini, umumnya tidak dilakukan tindakan apa-apa, kecuali jika
datang ke rumah sakit masih mengalami perdarahan dan masih ada sisa
jaringan yang tertinggal, harus dikeluarkan dengan cara dikuret.
e. Abortus Servikalis. Pengeluaran hasil konsepsi terhalang oleh os uteri
eksternum yang tidak membuka, sehingga mengumpul di dalam kanalis
servikalis (rongga serviks) dan uterus membesar, berbentuk bundar, dan
dindingnya menipis.
f. Missed Abortion. Keguguran tertunda. Ialah keadaan dimana janin telah
mati sebelum minggu ke-22, tetapi bertahan di dalam rahim selama 2
bulan atau lebih setelah janin mati.
g. Abortus Habitualis. Keguguran berulang-ulang. Ialah abortus yang
telah berulang dan berturut-turut terjadi, sekurang-kurangnya 3x
berturut-turut.
h. Abortus Mengancam. Gejalanya adalah perdarahan ringan yang terjadi
beberapa hari hingga beberapa minggu di awal kehamilan, namun mulut
rahim masih menutup. Jika perdarahan berhenti biasanya kehamilan
akan dapat terus berlanjut, walaupun ada risiko terjadi kelahiran
prematur, atau berat lahir bayi rendah. Namun perdarahan seperti ini
tidak menyebabkan kecacatan pada janin.

Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah
mati
2. pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup
3. Pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion Data
laboratorium tes urine, hemoglobin dan hematokrit, menghitung trombosit
4. kultur darah dan urine

5. Pemeriksaan Ginekologi:
a. Inspeksi vulva
1) Perdarahan pervaginam sedikit atau banyak
2) Adakah disertai bekuan darah
3) Adakah jaringan yang keluar utuh atau sebagian
4) Adakah tercium bau busuk dari vulva
b. Pemeriksaan dalam speculum
1) Apakah perdarahan berasal dari cavum uteri
2) Apakah ostium uteri masih tertutup / sudah terbuka
3) Apakah tampak jaringan keluar ostium
4) Adakah cairan/jaringan yang berbau busuk dari ostium.
c. Pemeriksaan dalam/ Colok vagina
1) Apakah portio masih terbuka atau sudah tertutup
2) Apakah teraba jaringan dalam cavum uteri
3) Apakah besar uterus sesuai, lebih besar atau lebih kecil dari usia
4)
5)
6)
7)

kehamilan
Adakah nyeri pada saat porsio digoyang
Adakah rasa nyeri pada perabaan adneksa
Adakah terasa tumor atau tidak
Apakah cavum douglasi menonjol, nyeri atau tidak

Penatalaksanaan
1. Abortus iminens.
a. Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang
b.

mekanik berkurang.
Periksa denyut nadi dan suhu badan 2 kali sehari bila pasien tidak

c.

panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.


Tes kehamilan dapat dilakukan, bila hasil negatif mungkin jaringan

sudah mati.
d. Tentang pemberian hormon progesteron pada abortus imminens
belum

pada

persesuaian

faham.

Sebagian

besar

ahli

tidak

menyetujuinya, dan mereka yang menyetujui bahwa harus ditentukan


dahulu adanya kekurangan hormone progesteron. Apabila difikirkan
bahwa sebagian besar abortus didahului oleh kematian hasil konsepsi
dan kematian ini dapat disebabkan oleh banyak factor, maka
pemberian hormon progesteron memang tidak banyak manfaatnya.

10

e.

Pemeriksaan ultrasonografi penting di lakukan untuk menentukan

f.

apakah masih janin hidup.


Berikan obat penenang, biasanya Fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan

preprat hematinik misalnya, sulfas ferosus 600-1000 mg.


g. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
h. Membersihkan vulva minimal 2 kali sehari dengan cairan antiseptik.
2. Abortus insipiens.
a. Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan
tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
b. Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai
perdarahan, ditangani dengan penosongan uterus memakai kuret
vacum atau cunam abortus disusul kerokan memakai kuret tajam.
Suntikan ergometrin 0,5 mg IM.
c. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU
dalam dekstrose 5%, 500ml dimulai 8 per menit dan naikan sesuai
kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
d. Bila janin sudah keluar, tapi plasenta masih tertinggal, lakukan
pengeluaran plasenta secara manual.
3. Abortus incomplit
a. Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus NaCl fisiologis
b.

atau Ringer Laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.


Setelah syok diatasi, dikerok dengan kuret tajam lalu suntikkan

c.

ergometrin 0,2 mg IM.


Bila janin sudah keluar, tapi plasenta masih tertinggal, lakukan

pengeluaran plasenta secara manual.


d. Berikan antibiotic.
4. Abortus komplit
a. Bila pasien baik, berikan ergometri 3 x 1 tablet selama 3-5 hari.
b. Pasien anemi, berikan sufas ferosus atau transfusi darah.
c. Berikan antibiotik.
d. Diet tinggi protein, vitamin, dan mineral.
5. Missed abortion
a. Bila keadaan fibrinogen normal segera keluarkan jaringan kinsepsi
dengan cunam ovum lalu kuret tajam.
b. Bila fibrinogen rendah berikan fibrinogen kering atau segar sesaat
sebelum mengeluarkan konsepsi.
c. Kehamilan kurang dari 12 minggu, pembukaan serviks dengan
gagang laminaria selama 12 jam lalu dilatasi serviks dengan dilatator

11

hegar kemudian ambil hasil konsepsi dengan cunam ovum dan kuret
tajam.
d. Kehamilan lebih dari 12 minggu berikan dietilstilbestrol 3 x 5 mg
infus oksitosin 10 IU dalam Dekstrose 5%sebanyak 500 ml dan 20
tetes permenit kemudian naikkan dosis sampai uterus berkontrasi
e. Bila tinggi fundus uteri ebih dari 2 dari bawah pusat, hasil konsepsi
keluarkan dengan menyuntikkan larutan garam 20% dalam cavum
uteri dinding perut.
6. Abortus serfikalis
Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kerokan
untuk mengeluarkan hasi konsepsi dari kanalis servikalis.
7. Abortus habitualis
penangannya terdiri atas; memperbaiki keadaan umum, pemberian
makanan yang sempurna, anjuran istirahat sangat banyak, larangan koitus
dan olah raga, terapi dengan hormone progesteron, vitamin, hormone
tiroid dan lainnya mungkin mempunyai pengaruh psikologis karena
penderita mendapat kesan bahwa ia diobati.
8. Abortus infeksiosus (Septik)
a. Kepada penderita dengan abortus infeksiosus yang telah mengalami
banyak perdarahan hendaknya diberikan infuse dan tranfusi darah.
b. Pasien segera diberi antibiotika
c. Kuretase dilakukan dalam 6 jam dan penanganan demikian dapat
dipertanggungjawabkan

karena

pengeluaran

sisa-sisa

abortus

mencegah perdarahan dan menghilangkan jaringan yang nekrotis.


Yang bertindak sebagai medium pembiakan bagi jasad renik.
Pemberian antibiotika diteruskan sampai febris tidak ada lagi selama
2 hari atau ditukar bila tidak ada perubahan dalam 2 hari.
d. Pada abortus septic diperlukan pemberian antibiotika dalam dosis
yang lebih tinggi.
Komplikasi
Ada pun komplikasi medis yang dapat timbul pada ibu :
1. Perforasi
Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu
ada kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus

12

ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau ke kandung kencing.


Oleh sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama
pada awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh digunakan
tekanan berlebihan. Kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan
tetapi penarikan kuret ke luar dapat dilakukan dengan tekanan yang lebih
besar. Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila terjadi
perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan
seksama dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan
suhu, turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan
meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi
percobaan dengan segera.
2. Luka pada serviks uteri
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat
timbul sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka
pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah
perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan
vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent
cerviks.
3. Pelekatan pada kavum uteri
Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan
miometrium jangan sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan
terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya
kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut
dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi.
4. Perdarahan
Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola
hidatidosa terdapat bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu
hendaknya dilakukan transfusi darah dan sesudah itu, dimasukkan tampon
kasa ke dalam uterus dan vagina.
5. Infeksi
Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka
bahaya infeksi sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat

13

menyebar ke seluruh peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian.


Bahaya lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain infeksi pada
saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.
6. Lain-lain
Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl
hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga
peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejala-gejala
konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan, atau
hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan pada
pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY K. DENGAN ABORTUS


A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
No. RM
: 209599
Nama
: Ny. K

14

Umur
: 41 tahun
Alamat
: Curah Jeru
Tanggal
: 26 Mei 2015
Tanggal MRS/Jam : 26 mei 2015/16.35 WIB
2. Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan perdarahan
3. Riwayat Kesehatan, terdiri dari:
a. Kesehatan sekarang
Pasien datang ke rumah sakit dengan sendiri. Pasien mengatakan
datang ke RS karena perdarahan vagian tadi malam (senin, 25 Mei
2015) dan tadi pagi (selasa, 26 Mei 2015) dan ini kehamilan kedua.
Perdarahan bercampur gumpalan-gumpalan darah, mulas (+), pusing
(+)
b. Kesehatan masa lalu
Bidan pasien dan pasien mengatakan bahwa kehamilan ini kehamilan
ke 2. Pasien pernah mengalami keguguran.
4. Riwayat Antenatal
Pasien mengatakan sudah melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 6
kali ke bidan.
5. Riwayat Pembedahan
Pasien mengatakan tidak pernah mengalami proses pembedahan dalam
persalinan.
6. Riwayat penyakit yang pernah dialami
Pasien mengatakan tidak memiliki penyakit menurun, menular, dan
menahun.
7. Riwayat kesehatan keluarga
Pasien mengatakan bahwa keluarga ada yang pernah mengalami
hipertensi dan asma.
8. Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas
G4P50004
Persalinan 1: Intra Uterin Fetal Death (IUFD), usia kehamilan 9 bulan
Persalinan 2: Kehamilan ini, keguguran.
9. Riwayat seksual
Pasien mengatakan pernah menggunakan KB pil 6 tahun.
10. Riwayat pemakaian obat
Pasien mengatakan bahwa mengggunakan pil KB.
11. Pola aktivitas sehari-hari
a. Pola Nutrisi : tidak terkaji
b. Pola Istirahat : tidak terkaji
c. Pola Eliminasi : tidak terkaji
d. Pola Seksual : tidak terkaji
e. Pola Kebersihan : pasien terlihat bersih dan rapi

15

f. Pola Psikososial
1) Psikologis : cemas dengan keadaannya saat ini
2) Sosial : tidak terkaji
g. Latar belakang budaya : tidak terkaji
12. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
cukup
b. Tanda-tanda vital
TD: 130/90 mmHg
N: 74 x/menit keras, reguler
RR: 22 x/menit
Suhu: 360 derajat celcius
TBJ : 3410gr
Usia kehamilan: 41-42 minggu
c. Inspeksi
Wajah tidak pucat, konjungtiva merah muda, tidak ada perdarahan
pervagina, ada oedem.
d. Palpasi
Dilakukan vagina toucher dengan hasil buka 3 cm.
Leopold I
: ball (+)
Leopold II
:
Leopold III
:
Leopold IV
:
Perkusi
e. Auskultasi
DJJ:
13. Pemeriksaan psikososial
a. Respon dan persepsi keluarga
tidak terkaji
b. Status psikologis ayah, respon keluarga terhadap bayi
tidak terkaji

NO DATA

ETIOLOGI

PROBLEM

16

S :

pasien

mengatakan Perdarahan Hipovolemik Resiko

telat

syok

hemorrhagic

bulan,mengeluarkan darah

syok

dan nyeri perut.


O:
360C , TD: 130/90,N:
74 x/mnt.RR: 22 x/mnt.

Pasien mengeluarkan

darah.

S:

Perdarahan

Intoleransi aktivitas

Biasanya pasien
Anemia

merasa lemas
O:

Biasanya nadi lemah

(50 x/menit) dan pasien

Kelemahan

terlihat pucat
Intoleransi aktivitas
3

S:

Keguguran janin
pasien

nyeri

mengeluh
diperut dan

pasien merintih kesakitan

Rangsangan

O:
P = Aborsi

uterus

Q = Severe pain
R = Abdomen
S = (skala 8)
T = Current

Prostaglandin

pada

Nyeri

17

Dilatasi serviks

Nyeri
4

S:

Keguguran janin
px

Cemas

biasanya

mengatakan
ketakutan tidak

bisa

Terganggunya
psikologis ibu

memberi keturunan
O:

px

gelisah

terlihat Kecemasan

akan
dan

akralnya

dingin

C.

Diagnosa Keperawatan
1.

Resiko

syok

hemorrhagic

b.d

perdarahan
2.

Intoleransi aktivitas b.d kelemahan,


penurunan sirkulasi

3.

Nyeri

b.d

kerusakan

jaringan

intrauteri
4.

Cemas b.d kurang pengetahuan

18

D.

Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan


Intervensi
1
Resiko
syok Tidak terjadi devisit Mandiri :
hemorrhagic
Perdarahan

b.d volume

cairan, 1.

Kaji Airway, Breathing, and 1.

seimbang

antara Circulation

intake

output 2.

dan

Rasional
Sebagai pertolongan pertama pada

keadaan syok

Posisikan pasien trendelenburg, 2.

Mencegah

gangguan

perfusi

baik jumlah maupun yaitu posisi telentang biasa dengan serebral dan untuk auto Lransfuse
kualitas

kaki sedikit tinggi 30 derajat


3.

Monitor kondisi TTV tiap 2

jam
4.

3.

Pengeluaran

Monitor input dan output cairan sebagai

akibat

cairan

pervaginal

abortus

memiliki

karekteristik bervariasi
Kolaborasi :
1.

4.

Berikan

sejumlah

Jumlah

cairan jumlah

pengganti harian(NaCl 0.9%, RL, dengan


Dekstran),

plasma

dan

cairan

kebutuhan
jumlah

ditentukan
harian

cairan

dari

ditambah

yang

hilang

transfusi pervaginal

darah
2.

Evaluasi status hemodinamika

1.

Tranfusi mungkin diperlukan pada

kondisi perdarahan massif

19

3.

Berikan oksigen 100% kira-

kira 5 liter pm melalui jalan nafas


dan bila perlu penderita diberi cairan 2.
bikarbonat natricus

Penilaian dapat dilakukan secara

harian melalui pemeriksaan fisik


3.

Untuk

mencegah

atau

menanggulangi asidosis
2

Intoleransi Aktivitas b.d Klien


kelemahan,
sirkulasi

dapat Mandiri :

penurunan melakukan aktivitas 1.


tanpa
komplikasi

Pantau

tingkat

kemampuan 1.

adanya klien untuk beraktivitas


2.

Monitor

pengaruh

perubahan
aktivitas Lransf

terhadap kondisi uterus/kandungan


3.

perlu

tetapi

perdarahan

diwaspadai

untuk

Aktivitas merangsang peningkatan

vaskularisasi

dan

pulsasi

organ

klilen

secara

kondisi

klien,

Bantu klien untuk melakukan reproduksi

tindakan sesuai dengan kemampuan / 3.


kondisi klien
5.

berarti,

menccegah kondisi klien lebih buruk.

Bantu klien untuk memenuhi 2.

kebutuhan aktivitas sehari-hari


4.

Mungkin klien tidak mengalami

optimal

Evaluasi

kemampuan
aktivitas

Mengistiratkan

perkembangan
klien

melakukan 4.

Mengoptimalkan

pada abortus imminens, istirahat mutlak

20

sangat diperlukan
5.
3

Nyeri

b.d

Kerusakan Klien

jaringan intrauteri

beradaptasi

Menilai kondisi umum klien

dapat Mandiri :
dengan 1.

nyeri yang dialami

Monitor kondisi nyeri yang 1.

dialami klien

Pengukuran nilai ambang nyeri

dapat dilakukan dengan skala maupun

2. Ajarkan teknik relaksasi tarik deskripsi


nafas dalam
2.
Edukasi:
2.

Meningkatkan koping klien dalam

melakukan guidance mengatasi nyeri

Jelaskan nyeri yang diderita

klien dan penyebabnya


3.
Kolaborasi :
3.
4

Cemas

b.d

pengetahuan

kurang Tidak
kecemasan,
pengetahuan
dan

Kolaborasi

analgetika
terjadi Mandiri :
1.

dapat

Mengurangi onset terjadinya nyeri


dilakukan

dengan

pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam


spectrum luas/spesifik

Monitor tingkat pengetahuan/ 1.

Ketidaktahuan dapat menjadi dasar

klien persepsi klien dan keluarga terhadap peningkatan rasa cemas


keluarga penyakit.

pemberian

21

terhadap
meningkat

penyakit 2.

Monitor

derajat

kecemasan 2.

yang dialami klien.

Kecemasan

menyebabkan

yang

tinggi

penurunan

dapat

penialaian

objektif klien tentang penyakit.


3.
3.

Kelibatan klien secara aktif dalam

Bantu klien mengidentifikasi tindakan keperawatan merupakan support

penyebab kecemasan

yang mungkin berguna bagi klien dan


meningkatkan kesadaran diri klien.
4.

Peningkatan nilai objektif terhadap

masalah
4.

Asistensi

klien

berkontibusi

menurunkan

menentukan kecemasan.

tujuan perawatan bersama.


1.
Edukasi :
1.

Konseling

diperlukan

Jelaskan aborsi yang perlu meningkatkan

diketahui oleh klien dan keluarga

bagi
bagi

klien
klien

pengetahuan

sangat
untuk
dan

membangun support system keluarga;


untuk mengurangi kecemasan klien dan
keluarga

22

Diagnosa
Resiko syok hemorrhagic 1.

Implementasi
Mengkaji Airway, Breathing, and Circulation

b.d Perdarahan

Memposisikan

2.

pasien

trendelenburg,

yaitu

Evaluasi
S: Pasien mengatakan masih lemas
posisi O: Turgor elastik , membran mukosa

telentang biasa dengan kaki sedikit tinggi 30 derajat

kering, mata tidak cowong

3.

Memonitor kondisi TTV tiap 2 jam

A: Masalah teratasi sebagian

4.

Memonitor input dan output cairan

P: Intervensi dilanjutkan

Kolaborasi :
1.

Memberikan sejumlah cairan pengganti harian(NaCl

0.9%, RL, Dekstran), plasma dan Lransfuse darah


2.

Mengevaluasi status hemodinamika

3.

Memberikan oksigen 100% kira- kira 5 liter pm melalui

jalan nafas dan bila perlu penderita diberi cairan bikarbonat


natricus

Intoleransi Aktivitas b.d Mandiri :


kelemahan,
sirkulasi

penurunan 1.
2.

S
: Pasien mengatakan
kondisi melakukan aktivitas ringan

Memantau tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas


Memonitor

pengaruh

aktivitas

terhadap

uterus/kandungan
3.

Membantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas

mampu

O : Mampu mengerjakan aktivitasnya

23

sehari-hari
4.

Membantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan tanpa bantuan

kemampuan / kondisi klien


5.

Mengevaluasi

perkembangan

kemampuan

klien

melakukan aktivitas

Nyeri

b.d

Kerusakan Mandiri :

jaringan intrauteri

1.

Memonitor kondisi nyeri yang dialami klien

2. Mengajarkan teknik relaksasi tarik nafas dalam

A: Masalah teratasi sebagian


P: Intervensi dilanjutkan

S: Pasien mengatakan mengerti cara


mngurangi nyeri dan nyeri nya berkurang
O: Skala nyeri berkurang dari 8 ke 6,
pasien tidak meringis kesakitan

Edukasi:

A: Masalah teratasi

2.

P: Intervensi dihentikan

Menjelaskan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Kolaborasi :
Cemas

b.d

pengetahuan

3.
Mengkolaborasikan pemberian analgetika
kurang Mandiri :
1.

S: Pasien mengatakan masih khawatir

Memonitor tingkat pengetahuan/ persepsi klien dan dengan proses persalinan

keluarga terhadap penyakit.

O: pasien terlihat tegang

24

2.

Memonitor derajat kecemasan yang dialami klien.

A: Masalah belum teratasi


P: Intervensi dilanjutkan

3.

Membantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan

4.

Mengasistensi

klien

menentukan

tujuan

perawatan

bersama.
Edukasi :
1.

Menjalaskan aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan

keluarga

25

DAFTAR PUSTAKA

Anonym .2011. Kejadian abortus spontan dengan usia ibu

di ambil di

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31675/4/chapter
%20ii.pdf pada tanggal 21 maret 2013 jam 16.00 wita
Herdman, TH. 2012. NANDA International Diagnosa Keperawatan. EGC :
Jakarta.
Hidayat, A.A. 2006. Kebutuhan dasar manusia 1. salemba medika: Jakarta
Nursalam. 2001. Proses & dokumentasi keperawatan. salemba medika: Jakarta

Prawirohardjo, S. (2009). Ilmu kebidanan. Penerbit yayasan bina pustaka sarwono


prawirohardjo: jakarta.
Ralph c, benson (2009) buku saku obstetri dan ginekologi edisi 9. Egc: jakarta

Sastrawinata, s. 2005. Obstetri patologi ilmu kesehatan reproduksi. 2nd ed. Egc :
Jakarta
Wilkinson, judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan intervensi
NIC dan Kriteria Hasil NOC. EGC : Jakarta