Anda di halaman 1dari 8

Dinamika Kelompok

1. Tujuan Kelompok
Penetapan tujuan harus dilaksanakan ketika awalan pembentukan kelompok, agar
bisa tercapai. Dan apabila ingin dirubah, maka perlu persetujuan dari para anggota kelompok.
Modroy (2013) menjelaskan bahwa tujuan ialah langkah awal dalam proses mencapai tujuan
untuk memperoleh kesuksesan bagi organisasi. Wibowo (2013) menyatakan bahwa normanorma yang terstruktur dalam mencapai kesepakatan bersama adalah tujuan. Tanpa adanya
itu, maka kegiatan dalam organisasi atau kelompok akan terbengkalai.
2. Jenjang Sosial
Sulastri (2010) menyatakanbahwa jenjang sosial adalah kondisi dimana
seseorang berada pada posisi yang mencerminkan status sosialnya di masyarakat yang
memiliki tingkatan-tingkatan berdasarkan kelas sosial di masyarakat yang sedang
diraihnya. Sehingga jenjang sosial akan senantiasa berubah seiring dengan pencapaian
dan keberhasilan seseorang dalam kelas sosialnya. Abu Hurairah (2010) menyatakan
bahwa jenjang sosial sama seperti struktur kelompok, yakni kesesuaian pola-pola hubungan
kerja atau tugas diantara para pengisi posisi tertentu dan anggota dalam suatu susunan
kelompok.
Rambu pemberian jenjang sosial dijelaskan oleh Widha (2013), bahwa pembagian
kelas sosial pada masyarakat atau kelompok dapat memicu anggota untuk menaikkan atau
meninggikan strata sosialnya, pada suatu hal yang lebih baik.
3. Peran Kedudukan
Beberapa faktor yang mempengaruhi kedudukan tersebut adalah kepentingan yang
akan di miliki oleh orang-orang tertentu sehingga penempatan bisa maksimal kinerja dalam

kelompok. Salah satu faktor penting adalah status sosial yang dimiliki tiap-tiap anggota
(Lisiana, 2006). Dalam pelaksanaannya peran dan kedudukan tidak dapat dipisahkan lagi.
Tidak ada peran tanpa statusnya di masyarakat ataupun sebaliknya. Menurut Wahid
(2008) peran bersifat sangatdinamisdankedu-bersifat statis. Peran dianggap sangat
penting karena mengatur perilaku seseorang berdasarkan norma yang berlaku di
masyarakat. Dalam hal ini
4. Kekuasaan
Tri Rahayu (2010) menyatakan bahwa lamanya seseorang menjabat sebagai ketua
juga ditentukan oleh gaya kepemimpinannya. Dalam hal ini terdapat dua bentuk
kepemimpinan,

yaitu

kepemimpinan

karismatik

dan

kepemimpinan

popularitas.

Kepemimpinan karismatik yaitu bentuk kepemimpinan yang datang dari kepercayaan


lingkungan. Kepemimpinan popularitas adalah bentuk dimana pimpinannya diangkat atas
dasar populer / popularitas.
Keleluasaan erat kaitanya dengan kekuasaan yang akan dimiliki oleh tiap-tiap
anggota. Namun, tentunya organisasi atau kelompok tidak bisa memberikan kebebasan yang
sebesar-besarnya kepada anggota. Akan tetapi, ada organisasi memberikan keleluasaan atau
kekuasaaan pada anggota dalam berkreatifitas, maka akan mendorong maksimalnya sistem
informasi yang berjalan di dalam organisasi tersebut (Jumaili, 2005).
Terdapat perbedaan antara wewenang dan kekuasaan, ditinjau dari hak dan
kemampuan individu. Wewenang dapat dikatakan sebagai hak untuk melakukan sesuatu atau
memerintah orang lain. Sementara kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan

pengaruh pada orang lain, artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku
individu kelompok (Azizah, 2012).
5. Kepercayaan
Kepercayaan adalah hal yang diperlukan bagi pemakai sistem informasi yang pesat
untuk dapat meningkatkan kinerja individu dalam menjalankan kegiatan di dalam
kelompoknya (Jumaili, 2005). Selain itu kepercayaan diri yang dimiliki oleh masing-masing
individu dalam organisasi penting untuk dijalankan di laksanakan. Hal itu menjadi penting
sebab apabila kepercayaan diri kurang, maka individu dalam kelompok akan sulit untuk
memecahkan masalah yang ada.
Kepercayaan dalam hal ini adalah kepercayaan anggota terhadap pengurus
dalam mengelola kelompok. Anggota kelompok yang tidak memiliki kepercayaan pada
kelompok dengan sendirinya akan keluar dari kelompok tersebut. Kepercayaan akan
cepat hilang jika didorong oleh kurangnya komunikasi yang baik antar anggota maupun
pengurus kelompoknya. Wahid (2008) menyatakan bahwa lamanya menjabat seorang
pemimpin (ketua) kelompok tani sebagai seorang pemimpin juga dipengaruhi oleh faktor
kepercayaan dari kelompoknya atau dari lingkungannya tersebut.
6. Sanksi
Sanksi merupakan suatu bentuk penghargaan atau apresiasi kepada yang berprestasi
dan hukuman bagi yang bersalah dengan tujuan perilaku anggota terkontrol. Sulastri
(2013), adasanksi yang tertulis dan sanksi tidak tertulis namun terus diwariskan secara
turun temurun. Akan tetapi dibeberapa kelompok tidak ditemukan adanya peraturan
maupun norma atau sanksi-sanksi yang dibuat secara tertulis. Ditambahkan oleh Kusai
(2013) menyatakansanksi sifatnya membuat anggota bersemangat dalam mengembangkan
usahanya. Sanksi merupakan penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang
bersalah. Sanksi juga digunakan sebagai kontrol.
7. Norma

Norma dalam pendekatan sosiologi adalah seluruh kaidah dan peraturan yang
diterapkan melalui lingkungan sosialnya. MenurutMusyatakdan Ibrahim (2005) norma
yang berlaku di masyarakat diantaranya norma agama, norma kesusilaan, norma
kesopanan, dan norma hukum. Salah satu hal yang harus ditaati dalam pembagian adalah
kebijakan publik oleh pemerintah kepada kelompok sosial yang memiliki kebudayaan
tertentu. Kebijakan publik berada pada komunitas tertentu dan dipengaruhi oleh lingkungan
sosial kemunitas itu. Interaksi dalam komunitas tersebut melahirkan nilai-nilai sosial
budaya dalam kepercayaan sosial, norma-norma, kelompok dan struktur harus terlebih
dahulu disesuaikan dengan kebijakan publik oleh pemerintah (Saam,2009). Hasan (2009),
menyatakan bahwa norma sama hal nya seperti kode etik antara anggora dengan anggota
maupun anggota kelompok dengan pihak luar kelompok.
8. Perasaan
Suatu tanggapan emosional dari anggota kepada kelompoknya. MenurutWahyuni
(2008) faktorpengikat yang paling umum dan penting adalah keterbukaan antara anggota
dengan pengurus dan antar anggota sehingga tercipta keakraban dalam kehidupan
berkelompok. Salah satu faktor yang dapat memperkuat sifat in group menurut Wahid
(2008) yaitu keterbukaan antar kelompok. Keterbukaan antar kelompok merupakan
kekuatan setiap anggota dalam menyatakan keinginan dan kebutuhan secara terus terang.
Terkait kepuasaan dalam bekerja dalam memperoleh hasi, perasaan memegang
peranan penting. Karena kepuasaan akan membentuk keja yang dinamis di dalam kelompok.
Kepuasaan adalah perasaan yang dialami seseorang, dimana apa yang diharapkan telah
terpenuhi atau bahkan yang telah melebihi. Maka, perasaan individu penting dalam
pengembangan kelompok (Koesworo, 2005).
9. Fasilitas

Sarana prasarana yang dibutuhkan suatu kelompok untuk kelangsungan kegiatanya


supaya bisa mencapai tujuan. Penambahan fasilitas yang menunjang kelompok tentunya
perlu penerapan teknologi modern dalam efisiensi kinerja. Namun, perlu adaptasi yang
dilakukan oleh operator. Sesuai apa yang dinyatakan oleh Nasution dan Nandia (2012) bahwa
adanya perancangan fasilitas kerja yang baru, operator masih harus menyesuaikan diri
(memerlukan proses pembelajaran) dalam proses penggunaan awal mesin sehingga masih
memiliki kemungkinan error.
10. Pembinaan dan Pemeliharaan Kelompok
Suatu kelompok yang sudah terbentuk perlu adanya pembinaan dan pemeliharaan
kelompok dengan berbagai metode supaya tetap ada keberadaanya ditengah-tengah
masyarakat karena keberlangsungan kegiatan yang didukung oleh pembinaan-pembinaan.
Lestari (2011) menyatakan bahwa salah satunya dengan menumbuhkembangkan
pembinaan kelompok masyarakat sebagai media peningkatan taraf dan kualitas hidup
anggota kelompok. Melalui kelompok akan dibina solidaritas, kerjasama, rasa aman,
musyawarah dan percaya pada diri sendiri.
Efektifnya pembinaan dan pemeliharaan kelompok apabila peran anggota mampu
hadir di tiap kesempatan. Namun, terkadang dalam pembinaan kelompok, banyaknya
aktivitas dan kesibukan menjadikan sebagian responden tidak memiliki waktu yang cukup
untuk berpastisipasi dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan kelompok
(Badri, dkk, 2008).

11. Keefektifan Kelompok


Keefektifan kelompok bisa dilihat dimana kelompok itu dikatakan dinamis apabila
tujuanya tercapai. Walgito (2007) menyatakanbahwa keefektifan kelompok merupakan
kemampuan kelompok dalam mencari sumber dan memanfaatkannya secara efisien untuk
mencapai tujuan tertentu.
Menurut Hartinah (2009) keefektifankelompok dapat diukur melalui dua pendekatan
yaitu (1) pendekatan sasaran (goal approach) yaitu mengukur keberhasilan dalam usaha
mencapai output yang direncanakan, (2) pendekatan sumber (system resources approach)
yaitu dengan mengukur keberhasilan kelompok dalam usaha memperoleh dalam usaha
mencapai beberapa sumber yang dibutuhkan.
12. Agenda Terselubung
Merupakan suatu tujuan yang diketahui anggota tetapi tidak terselubung. Maksud
tersembunyi, saling mempengaruhi dan sama pentingnya dengan maksud-maksud dari tujuantujuan terbuka dan kadangkala hal tersebut merupakan motivasi yang kuat untuk mencapai
tujuan. Maksud tersebut, tidak pernah dibicarakan secara terbuka, tetapi ada (Slamet, 2008).
terselubung seharusnya sesuai dengan kepentingan kelompok. Apabila tidak ada kesesuaian
antara tujuan anggota dengan maksud kelompok, meskipun itu maksud terselubung. Maka
bisa dipastikan akan terjadi gangguan dalam kelompok tersebut (Sari, dkk, 2014).
13. Tegangan dan tekanan
Adanya tekana dalam anggota kelompok, dapat diciptakan oleh kekuasaan yang dimiliki
oleh pemimpin kelompok. Anggota maupun bawahan yang mengalami tekanan ketaatan dari
atasan akan megalami perubahan psikologis dari seseorang yang berperilaku otonomis

menjadi agen. Sehingga, apabila berlebihan maka akan membuat anggota cenderung lepas
dari tanggung jawab (Grediani dan Sugin, 2010)
Tujuan akhir adanya tekanan kepada kelompok adalah penguatan dan dorongan untuk
bisa mempertahankan tujuan kelompok. Tekanan kelompok yang cermat dan terukur akan
mendinamiskan kelompok, bila tidak maka akan berkebalikan dengan hasil yang ingin dicapai
(Kemenpan, 2010).

Sulastri. 2013. Dinamika Kelompok Mandiri Perempuan Terhadap Program Pemberdayaan


Ekonomi SimpanPinjampadaDampingan LSM Rumpun di Dusun Jatimulyo,
DesaJatiguwi, KecamatanSumberPucung. Kabupaten Malang. Skripsi. Malang.
Wahid, A. 2008. Dinamika Kelompok Tani Pada Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan di
Das BitaWalanaeDesaLasilawaKab. Sidarep. Jurnal Hutan dan Masyarakat. Vol.3
No. 2.
Walgito, Bimo. 2007. Psikologi Sosial. Yogyakarta : Andi.
Lestari, Sri. 2011. Dukungan Kelembagaan Masyarakat dalam Pembelajaran Petani untuk
Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Jurnal Penyuluhan. Vol.8 No.2.
Kusai, L.B. dan Juhana. 2013. Dinamika Kelompok Pembudidaya Ikan Mawas di
Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Berkala
Perikanan Terubuk. Vol.4. No.1.
Ibrahim T.M. Musyafak, A. 2005. Strategi Percepatan Adopsi dan Difusi Inovasi Pertanian
Mendukung Prima Tani. Analisis Kebijakan Pertanian. Vol.3 No.1.
Leilani. 2006. Kinerja Penyuluh Pertanian di Beberapa Daerah. Institut Pertanian Bogor :
Bogor.
Saam, Zulfan. 2009. Implementasi Kebijakan Program Peternakan Rakyat Sebagai Wahana
Pengembangan Modal Sosial di Kabupaten Kuantan Singigi. Jurnal Ilmu Administrasi
Negara, Vol. 9 No.2
Slamet. 2012. Kumpulan Bahan Kuliah : Kelompok, Organisasi dan Kepemimpinan. (tidak
dipublikasikan). Insitut Pertanian Bogor : Bogor.