Anda di halaman 1dari 11

Modul Laring

Suara Parau

BUKU MODUL UTAMA

MODUL LARING
SUARA PARAU

EDISI I

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH
KEPALA DAN LEHER
2008

Modul Laring
Suara Parau

MODUL NO. 8.4


LARING. :
SUARA PARAU
WAKTU
Mengembangkan Kompetensi
Sesi di dalam kelas
Sesi dengan fasilitasi Pembimbing
Sesi praktik dan pencapaian kompetensi

Hari :
Waktu:
1 X 60 menit (classroom session)
2 X 120 menit (coaching session)
2 minggu (facilitation and assessment)

PERSIAPAN SESI

Materi presentasi: Suara Parau


o LCD 1: Gejala dan Tanda Suara parau
o LCD 2: Anamnesis & Pemeriksaan Suara parau
o LCD 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
o LCD 4: Faktor Resiko Suara parau
o LCD 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa

Kasus : 1. Suara parau

Sarana dan Alat Bantu Latih :


o Model anatomi laring video
o Penuntun belajar (learning guide) terlampir
o Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar
bangsal perawatan pasca bedah THT.

operasi,

REFERENSI
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea &
Fabiger, 1993, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 1993, chapter 51-53, pp.599-626
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 26-28,32, pp. 2215-56, 2307-70.
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill,
8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92
5. Adam GL, Boies LR, Hilger PA, eds. Boies Fundamentalis of Otolaryngology.
Philadelphia : WB Sounders Co, 1989,chapter 18 & 19 ,pp. 557-606.
KOMPETENSI
Mampu membuat diagnosis suara parau berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan (misalnya pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-Ray). Dokter
dapat memutuskan dan terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus
gawat darurat).
Keterampilan
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
1. Mengenali gejala dan tanda suara parau
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik suara parau
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti foto leher
jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi langsung, laringoskopi serat optik.
1

Modul Laring
Suara Parau

4. Mengenali faktor resiko kejadian suara parau


5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika, anti radang,
analgesik-antipiretik, dan operasi.
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada
suara parau.
GAMBARAN UMUM
Suara parau bukan merupakan suatu penyakit, melainkan merupakan gejala penyaki. Keluhan
suara parau tidak jarang dijumpai dalam klinik. Dibedakan dari disfoni pada adanya kelainan
anatomi pada pita suara, sehingga suara yang dihasilkan adalah suara yang kasar.
CONTOH KASUS
Seorang anak laki2, 9 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau sudah 3 bulan..
Dari pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan nodul pita suara.
Diskusi: (tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir dibawah ini)
1. Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
2. Perlunya pemeriksaan penunjang lain
3. Rencana terapi penderita
Jawaban :
TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan,
keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang
diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana disfoni seperti yang telah disebutkan diatas,
yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda Suara parau
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik Suara parau
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti foto leher
jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung, laringoskopi serat
optik.
4. Mengenali faktor resiko kejadian Suara parau
5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika, anti radang,
analgesik antipiretik, dan operasi.
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi pada
Suara parau.
METODE PEMBELAJARAN
Tujuan 1. Mengenali gejala dan tanda suara parau
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:

Interactive lecture

Small group discussion.

Peer assisted learning (PAL).

Bedside teaching.

Task based medical education.


Harus diketahui : (khususnya untuk level Sp1)

Gejala dan tanda suara parau

Fisiologi laring dan patofisiologi suara parau

Modul Laring
Suara Parau

Tujuan 2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik


Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Peer assisted learning (PAL).
Bedside teaching.
Task based medical education.
Harus diketahui : (sedapat mungkin pilih specific features, signs & symptoms):
Etiologi dan faktor predisposisi
Gejala (keluhan pasien)
Tanda (temuan hasil pemeriksaan)
Pemeriksaan Laringoskopi tak langsung
Tujuan 3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti foto
leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi langsung, laringoskopi serat
optik.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case simulation and investigation exercise.
Equipment characteristics and operating instructions.
Harus diketahui :
Pemeriksaan Laringoskopi langsung
Pemeriksaan Laringoskopi serat optik
Tujuan 4. Mengenali faktor resiko kejadian suara parau
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Faktor resiko kejadian (umur, pekerjaan, kebiasaan merokok, dll)
Gejala klinis saat anamnesis
Pemeriksaan penunjang
Tujuan 5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika,
antiradang, analgesik antipiretik, dan operasi.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Morbidity and Mortality Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Operative Procedure Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Continuing Professional Development

Modul Laring
Suara Parau

Harus diketahui :
Indikasi dan prosedur konservatif yaitu pemberian antibiotika, antiradang,
analgesik-antipiretik
Indikasi dan prosedur operasi
Tujuan 6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada suara parau.
Untuk mencapai tujuan ini maka dipilih metode pembelajaran berikut ini:
Interactive lecture
Journal reading and review.
Case study
Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
Demonstration and Coaching
Practice with Real Clients.
Harus diketahui :
Pengenalan gejala dan tanda dini
Pengenalan penyulit
Kondisi atau situasi penting untuk membuat keputusan untuk merujuk
EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat
masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan
untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
- Anatomi dan fisiologi laring
- Penegakan diagnosa
- Penatalaksanaan
- Follow up
2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas
kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun
belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan
langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role play dan temantemannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat
tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun
belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted
Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah
pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan evaluator melakukan
pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terdahulu lama atau
kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan
dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi
masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar.
6. Pendidik/ fasilitas :
- pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
- penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
- Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
4

Modul Laring
Suara Parau

7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat
memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
- Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT dasar oleh kolegium I. THT
- Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan.THT lanjut oleh kolegium ilmu THT.
- Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT lanjut oleh
kolegium ilmu THT.

INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Kuesioner meliputi :
1.

Kuesioner Sebelum Pembelajaran


Soal :
Jawaban :

2.

Kuesioner Tengah Pembelajaran


Soal :
Jawaban :

3.

Essay/Ujian Lisan/Uji Sumatif


Soal :
Jawaban :

Modul Laring
Suara Parau

INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
1

Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya atau
urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)

Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika harus berurutan).
Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi di luar normal

Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang sangat efisien

T/D

Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

NAMA PESERTA: ......................................


NAMA PASIEN

TANGGAL: .................................
NO. REKAM MEDIK

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG


NO

KEGIATAN/LANGKAH KLINIK

KESEMPATAN KE
1
2
3
4
5

PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1

Informed Consent

Pemeriksaan Penunjang

Penderita Puasa

Memeriksa Dan Melengkapi Alat

Persiapan Tindakan

Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala


TINDAKAN

Memasukkan Laringoskop

Memasukkan Teleskop

Evaluasi Laring

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL)


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1
2
3
4
5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1

Informed Consent

Pemeriksaan Penunjang

Memeriksa Dan Melengkapi Alat

Persiapan Tindakan

Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala


6

Modul Laring
Suara Parau

TINDAKAN
1

Memasukkan Fibre Optic

Evaluasi Rongga Hidung

Evaluasi Nasofaring

Evaluasi Laring

Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)


DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh
peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang
diuraikan dibawah ini:
:
Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
:
Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh
peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA: _____________________________
KEGIATAN

TANGGAL :______________
NILAI

Pemeriksaan Laringoskopi Langsung


1. Persiapan tindakan
2.Tindakan
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan

MATERI PRESENTASI
LCD 1: Gejala dan Tanda Suara parau
LCD 2: Anamnesis & Pemeriksaan Suara parau
LCD 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
LCD 4: Faktor Resiko Suara parau
LCD 5: Clinical Decision Making and Medicamentosa
MATERI BAKU
7

Modul Laring
Suara Parau

Suara Parau
Definisi
Yang disebut suara parau ialah suara kasar, tidak nyaring (hoarseness). Parau yang berat hanya
berbisik: aphoni. Kelainan disebabkan adanya perubahan struktural pita suara.
Frekuensi
Terjadi pada penderita usia anak2 sampai dewasa.
Ruang Lingkup
Pasien mengeluh suara parau. Bila kelainan tersebut menutup rima glotis dapat menimbulkan
obstruksi jalan nafas atas, terutama pada bayi.
Faktor Resiko
Pasien trauma leher, infeksi, tumor ganas maupun jinak. Dapat terjadi pada pasien kelainan
sistemik lain.
Etiologi
Sebagian besar disebabkan infeksi, proses radang (inflamasi) yg kronis, keganasan, trauma
daerah leher dan kelainan kongenital.
Kelainan Kongenital: Laringomalasia, Stenosis subglotis, Laryngeal web, Laryngeal atresia,
Hemangioma subglotis, kista laring, laryngocele dan kelainan trakea ( trakeomalasi,
stenosis trakea)
Trauma: eksternal (Terbuka atau tertutup): bisa mengenai jaringan lunak, tulang hyoid, kartilago
tiroid, kartilago krikoid dan trakea. Intubasi
Infeksi: Laringitis akut (virus, bakteri dan diphteri) dan kronis ( Tbc, kusta, syphilis, jamur).
Nonspesifik: gastrointestinal disease, inhalasi dan radiasi, granuloma intubasi, laryngeal edema,
gangguan endokrin, pemphigus, sarcoidosis, amyloidosis, proses autoimun.
Tumor jinak: nodule, kista, polip, granuloma, chondroma, hemangioma, lipoma
Tumor ganas: papiloma laring, Karsinoma laring
Pemeriksaan
Anamnesis:
Suara parau dapat kita dengar walaupun penderita tidak mengeluh, Bahkan ketika masih diluar
kamar praktek suaranya yang hilang, hanya berbisik=aphoni sudah terdengar
Aphoni hanya pada tiga penyakit :Tumor yang lanjut, Paresis aduktor dan TBC.laring.
Dapat ditanyakan:
1.Berapa lama paraunya:untuk mengetahui khronis atau akut
2,Mendadak setelah operasi struma: paresis
3.Sifat progresivitasnya: suatu pertumbuhan, makin parau
4.Kumat-kumatan: sore parau, pagi baik: vokal nodule.
5.Kumat beberapa hari, membaik,kumat lagi: laryngitis khronik: alergi?
Pemeriksaan:
1.Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
2.Laringoskopia indirekta
3.Laringoskopia direkta
4.Flexible laryngoscope
Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan Stoboscope, Ro Thorak, pemeriksaan laboratorium.
Terapi
1.
2.
3.
4.

Konservatif: Terapi bicara.


Pemberian neurotropika.
Terapi faktor resiko, misal; kelainan paru, jantung, DM
Operasi Trakeotomi bila mengakibatkan obstruksi jalan nafas atas.

Modul Laring
Suara Parau

5. Terapi operasi dikerjakan, bila terapi konservatif tidak didapatkan kemajuan setelah
lebih dari 6 bulan. Jenis operasi: aritenoidektomi dan thiroplasty.
Tindak Lanjut
Tergantung dari jenis kelainannya.
Prosedur Pemeriksaan Laring
1.
Butir-2 Penting
a.
Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan persiapan puasa dan
dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan
dapat dilakukan dengan baik.
b.
Pada pemeriksaan Fibre Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan
penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
2.

Teknik Pemeriksaan:

Laringoskopi Langsung :
No Langkah-Langkah
1
Premedikasi

Bagaimana
Luminal/atropin

Mengapa
Tidak valium, karena
depresi pernapasan
Biar air liur sedikit

Anestesi lokal

Spray xylocain, pd
epiglottis

Epiglottis dikait, perlu


anestesi

Atur posisi kepala

Posisi high: fleksi


leher/dada, ekstensi
occipito atlanto

Mudah mengait epiglottis


keatas

4.

Mengait epiglottis

Selalu digaris tengah

Akan terlihat uvulaepiglotis sebagai pedoman

Epiglotis dikait sedikit


saja

Kalau terlalu banyak,


aritenoid terkait
Kalau terlalu sedikit: lepas

Dengan bantuan
teleskop (0o,30o)

Mudah melihatnya,
Kalau telescope harus
mengait epiglottis,bisa
basah-buram

Melihat pita suara

Laringoskopi Serat Optik (FOL):


No
Langkah-langkah
Bagaimana
1
Anaestesi lokal
Kapas xylocain
ephedrin1 % di cavum
nasi d/s
Spray xylocain pd
faring/epiglotis
2
Atur duduk penderita
Duduk tegak

Mengapa
Tidak nyeri,tidak trauma

Memudahkan alat masuk

Memasukkan alat FOL

Melalui dasar cavum


nasi

Tempat terlebar

Melihat nasofaring

Lurus kebelakang

Tampak naso faring dulu

FOL diarahkan ke laring

Dgn membengkokkan
kebawah

Modul Laring
Suara Parau

Memeriksa laring

FOL diarahkan mulamula tampak dari jauh,


lalu makin mendekat
Kalau tak ada tumor
dilihat pergerakan pita
suara

3.

Instrumen yang diperlukan:


Laringoscope dewasa
Laringoscope anak-anak
Laringoscope bayi
Telescope 00 , 300 , 900
Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
Forcep lurus dan upturn
Pompa Penyedot (Sucktion pump)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas
KEPUSTAKAAN MATERI BAKU
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia, Lea & Fabiger,
1993, chapter 34&35, pp.569-619
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery Otolaryngology. Philadelphia, JB
Lippincott Co, 1993, chapter 49&51, pp.620-57
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology. Philadelphia.
WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw Hill, 8 th Ed,
Chapter 31, pp. 724-92
5. Adam GL, Boies LR, Hilger PA, eds. Boies Fundamentalis of Otolaryngology. Philadelphia :
WB Sounders Co, 1989,chapter 18 & 19 ,pp. 557-606.

10

Anda mungkin juga menyukai