Anda di halaman 1dari 17

PENGENALAN TANAH DI LAPANGAN

I.PENDAHULLUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah adalah lapisan nisbi tipis pada permukaan kulit. Tanah bervariasi dari satu
tempat ke tempat yang lain, karena keaneka ragaman ini, maka tanah dapat
dipandang sebagai kumpulan individu-individu tanah. Pembentukan tanah dari
bongkahan bumi mulai dari proses-proses pemecahan atau penghancuran dimana
bahan induk berkeping-keping secara halus . Tiap tanah berkembang secara baik
dan masih dalam keadaan asli akan mempunyai sifat profil yang khas. Sifat-sifat ini
yang dipakai dalam klasifikasi dan penjarangan tanah yang sangat besar manfatnya
dalam menentukan pendapat tentang tanah dan sifat-sifat profil.
Tanah begitu berarti bagi manusia sebagai sumber penghidupan manusia sehingga
munculah istilah Soil Science atau ilmu tanah yaitu ilmu yang berhubungan dengan
tanah sebagai sumber penghidupan pada permukaan bumi yang mencakup
pembentukan tanah serta klasifikasi dan pemetaan berdasarkan sifat-sifat fisika,
kimia hayati dan kesuburan tanah dimana sifat-sifat ini berkaitan dengan
pengolahan bagi produksi tanaman.
Pengenalan tanah di lapangan dilakukan dengan mengamati menjelaskan sifat-sifat
profil tanah. Profil tanah adalah urutan-urutan horison tanah, yakni lapisan-lapisan
tanah yang dianggap sejajar permukaan bumi. Profil tanah dipelajari menggali
tanah dengan dinding lubang vertikal kelapisan yang lebih bawah.

1.2 Tujuan
Untuk memperoleh informasi secara sepintas tentang beberapa sifat tanah
seperti tekstur tanah, warna, kedalaman efektif (solum, konsistensi,ketebalan
horizon dan perubahan batuan di permukaan dalam tanah ).

II. TINJAUAN PUSTAKA


Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi tempat tumbuh
berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan
udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi ( senyawa porganik
dan anorganik sederhana dan unsure-unsur esensial seperti N, P,K,Ca, Mg, S, CU, Zn, Fe, Mn, B, Cl
dan lain-lain ), dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota ( organisme ) yang berpartisipasi
aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif ( pemacu tumbuh, proteksi ) bagi tanaman,
yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk mengehasilkan
biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industry perkebunan, maupun
kehutanan ( Kemas A.H. 2007 ).
Profil tanah merupakan suatu irisdan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat
lubang dengan ukuran panjang, dan lebar serta kedalam tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan
keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena
gaya-gaya alam ( natural forces ) Terhadap proses pembentukan mineral, serta pembentukan dan
pelapukan bahan-bahan koloid ( Hakim,dkk. 1982 ).
Hasil pelapukan batuan-batuan yang bercampur dengan sisa batuan dari organism yang hidup
diatasnya. Selain itu, terdapat pula udara dan air di dalam tanah. Air dalam tanah berasal dari air
hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ketempat lain, di samping pencampuran
bahan organic didalam proses pembentukan tanah, terbentuk pula lapisan-lapisan tanah,
( Hardjowigeno.1985 ).
Pengenalan profil tanah secara lengkap meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pengenalan ini
penting dalam hal mempelajari pembentukan dan klasifikasi tanah dengan pertumbuhan tanaman
serta kemungkinan pengolahan tanah yang lebih tepat. Adapun faktor-faktor pembentuk tanah,
maka potensi untuk membentuk berbagai jenis tanah yang berbeda amat besar, ( Foth. 1999 ).
Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang di sebut
tanah. Tiap tanah di cirikan oleh susunan horizon tertentu. Secara umum dapat di sebutkan bahwa
setiap profil tanah terdiri atas dua atau lebih horizon utama. Tiap horizon dapat dibedakan
berdasarkan warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis lainnya, ( Pairunan.1985 )

III. PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Alat Dan Bahan
Alat-alat yang digunakan :
-

Bor Tanah
Buku Munsell
Kantong Plastik
Spidol
Meteran
Pisau
pH teskit

Bahan bahan yang digunakan :


-

Aquades
HCl
H202

3.2 Cara Kerja


Halaman 4 di modul

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

4.2 Pembahasan
Tanah adalah lapisan nisbi tipis pada permukaan kulit bumi. Sedangkan profil tanah didefinisikan
sebagai irisan vertikal tanah dari lapisan atas hingga ke bahan induk tanah. Profil dari tanah mineral
yang telah berkembang lanjut biasanya memiliki horizon-horizon sebagai berikut ; O-A-E-B-C-R.
Horizon O
Horizon O merupakan horizon yang terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman ( Oi ) dan
bahan organik tanah hasil dekomposisi serasah ( Oa ).
Horizon A
Horizon A adalah horizon mineral berbahan organik tanah ( BOT ) tinggi sehingga berwarna agak
gelap.
Horizon E
Horizon E adalah bahan horizon mineral yang telah tereloviasi ( tercuci ) sehingga kadar BOT, liat
siikat, Fe dan Al rendah tetapi kadar pasir dan debu kuarsa ( seskuoksida ) dan mineral resisten
lainnya tinggi serta berwarna terang.
Horizon B
Horizon B adalah horizon eluviasi yaitu horizon akumulasi bahan eluvial dari horizon di atasnya.
Horizon C
Horizon C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum
terjadi perubahan secara kimiawi.
Horizon R
Horizon R adalah bahan induk tanah.
Dan tiap horizon pun dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis
lainnya. Sebelumnya kita harus mengetahui apa itu lapisan tanah. Lapisan tanah adalah formasi
yang dibentuk oleh berbagai lapisan dalam, yang secara spesifik dapat dibedakan secara geologi,
kimiawi, dan biologi, termasuk proses pembentukannya.
Horizon adalah lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan berbeda
dengan lapisan yang berdekatan. Biasanya setiap horizon dilambangkan dengan huruf-huruf dan
setiap horizon mempunyai cirri-ciri dan kekhasannya yang membedakan dengan horizon lain.
Berdasarkan dari hasil atau data pengamatan, terlihat bahwa setiap tanah mempunyai horizonhorizon yang berbeda. Pada lapisan 1 pada profil dalam mempunyai kedalaman 0-22 cm, dan warna
cokelat kehitaman, warna gelap tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh kandungan bahan organic
yang tinggi yang terdekomposisi karena didalamnya bahan organic terjadi peristiwa immobilisasi,
dimana ion Ee, al dan Mn berpengaruh besar dala perombakan bahan organic sehingga ion ion
tersebut mudah difiksasi oleh ion P. penyebab lainnya adalah adanya perbedaan nyata dari sifat
tetraktif ( aksi pembiasan cahaya ) kompojen padatan tanah dan udara.
Lapisan 2 atau lapisan yang dilihat berdasarkan struktur yaitu lapisan yang di beri symbol BT,
dengan kedalaman 22-32 cm dan memiliki warna cokelat yang sedkit gelap. Lapisan BT atau
lapisan utamanya B atau suatu horizon peralihan antara horizon B dan A1 atau antara horizon B

dengan A2, yang watak horizon ini di rajai oleh watak atau sifat horizon B2 di bawahnya.
Lapisan 3 dengan symbol BW yang merupaka horizon-horizon pelikan, terbentuk atauberdekatan
dengan permukaan tanah sebagai tempat pelonggokan bahan organic terhumufiksasi, yang terkait
erat dengan pelikan.
Lapisan 4 yaitu dengan symbol BC atau biasa di sebut sebagai lapisan transisi. Dapat merupakan
peralihan antara horizon B dan C, dimana watak penciri horizon B2 diatasnya terlihat jelas tetapi
berasosiasi dengan ciri watak horizon B2. Pada lapisan ke empat ini terletak diantara 60-120 cm,
dan mempunyai warna yang lebih terang daripada ketiga lapisan di atasnya.
Pada penentuan lapisan tanah atau horizon mengalami beberapa kendala, yaitu dari lahan yang
lembab karena basah dengan air hujan sehingga kesulitan dalam menentukan atau melihat sruktur
tanah. Namun sebelumnya pun lahan untuk pengamatan profil tanah yang seharusnya berada pada
kedalaman sekitar 180-200cm atau 2m, lahan tergenang air sehingga kedalaman hanya berada
pada kisaran 120cm.
Dari lahan yang lembab, ini mempersulit pengamatan pada praktikum kali ini. Walau ada beberapa
kendala pengamatan profil tanah, praktikum atau pengamatan tetap berjalan. Pisau digunakan untuk
menyegarkan tanah agar mempermudah praktikan mengetahui warna ataupun struktur tanah. Serta
ketika menentukan warna tanah seharusnya menggunakan kertas munsell soil colour chart agar
mempermudah kita menentukan warna tanah tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah yaitu, bahan induk organism,
topografi, iklim, dan waktu. Adanya beberapa tingkatan atau variasi faktor-faktor pembentuk tanah
maka untuk menentukan berbagai jenis tanah yang berbeda adalah amat besar ( foth, H.D. 1999 ).
1. Bahan induk
Keadaan alamin bahan induk akan mempunyain pengaruh terputus pada sifat-sifat tanah muda,
mereka dapat memakai satu pengaruh yang mendalam dalam perkembangan tanah termasuk
tekstur, komposisi mineral dan tingkat stratifikasi.
Pembentukan tanah dapat di mulai segera setelah penimbunan abu vulkanik tetapi harus menunggu
penghancuran batu an keras secara fisik, dimana granit dibuka. Penghancuran batuan dapat
membatasi lajudan kedalaman perkembangan tanah, dimana laju penghancuran melebihi laju
pemindahan bahan oleh erosi.
2. Iklim
Pengaruh iklim yang penting mempengaruhi pembentukan tanah adalah presipitasi dan
temperature. Iklim juga mempengaruhi pembantukan tanah secara tidak langsung yang menentukan
vegetasi alami. Tidaklah terlalu mengejutkan bahwa terdapat beberapa penyebaran iklim, vegetasi
dan tanah yang pararel di permukaan bumi. Setiap kenaikan 10c akan menaikkan laju reaksi kimia
dua sampai tiga kali. Meningkatnya pelapukan dan kandungan liat terjadi dengan meningkatnya
rata-rata temperature tanah. Rupanya hanya tanah-tanah yang sangat muda mempunyai tingkatan
pengaruh iklim yang konstan selama genesa tanah.
3. Organisme
Tanaman mengabsobsi unsure hara dari tanah dan mengangkut nutrient ke tajuk tanaman, bila tajuk
mati dan jatuh kepermukaan tanah perombakan bahan organic akan melepaskan unsure hara untuk
kesuburan dirinya sendiri.
Profil tanah rumput mengandung lebih banyak bahan organic terdistribusi lebih uniform di dalam
tanah daripada tanah hutan. Tanah dengan vegetasi hutan kira-kira separuh dari kadungan bahan
organic dan terdistribusi tidak merata dengan tingkat perkembangan profil tanah lebih sempurna.

Horizon-horizon pada solum lebih asam dan persentase jenuh basa yang rendah dan lebih banyak
liat yang akan dipindahkan dari horizon A ke horizon B.
4. Topografi
Topografi mengubah perkembangan profil tanah dalam tiga cara, yaitu :
a. Mempengaruhi jumlah presipitasi yang di absorpsi dan di tahan dalam tanah, sehingga
mempengarui kelembaban
b. Mempengaruhi kecepatan perpindahan tanah oleh erosi
c. Mengarahkan gerakan bahan-bahan dalam suspense atau larutan dari daerah yang satu ke
daerah yang lain.
5. Waktu
Tanah sebagai hasil evolusi berubah secara tetap seperti perubahan bentuk bui. Mereka mempunyai
siklus hidup dengan keadaan yang sama dimana bentuk muka bumi lambat laun menembus suatu
siklus. Siklus hidup tanah teristimewa termasuk bahan induk, tanah muda, tanah matang dan tanah
tua. Pada tanah-tanah muda, kandungan bahan organic meningkat dengan cepat sebab laju
pertambahan melebihi laju dekomposisi.
Kematangan dicirikan oleh kandungan bahan organic yang konstan sebagai penambah di imbangi
oleh yang hilanh. Unsure yang tua dicirikan oleh kandungan bahan organic yang rendah dan
menurun yang menunjukkan bahwa laju pertambahan susut dari tanah menjadi lebih mudah
dilapukkan.

V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
a. Warna pada lapisan 1 cokelat kehitaman, lapisan 2 cokelat agak gelap, lapisan 3 cokelat, lapisan
4 cokelat yang lebih terang dari ketiga lapisan diatasnya dan memiliki struktur yang remah dan
granular.
b. Lapisan tanah yang terdapat pada lahan praktikum adalah lapisan A, BT,BW, dan BC
c. Profil tanah yaitu suatu irisan melintang pada tubuh tanah yang memperlihatkan lapisan-lapisan
tanah.
d. Kedalam efektif untuk profil tanah dapat ditentukan dengan melihat batasan perakaran tumbuh.

5.2 Saran

Sebaiknya

DAFTAR PUSTAKA

Foth,HD dan L.N.Turk .1999.Fundamental of soils science. New York:fifth Ed.John.waley&soil.


Harjowigeno,S.1985.Ilmu Tanah.Jakarta:Akademik Persindo
Hakim,N.M.Y, dkk.1982.Dasar-dasar Ilmu Tanah.Lampung:Universitas Lampung.
Kemas.2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah.Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Pairunan.A.K.dkk.1985.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Ujung Pandang:BKPT INTIM

PENETAPAN TEKSTUR TANAH

I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tekstur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menunjukkan komposisi
partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi tanah
fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur tanah sangat menentukan tingkat pertumbuhan
tanaman dan penyerapan air serta mineral. Untuk mengetahui lahan pertanian
terdapat kelas-kelas tekstur, sehingga pentingnya dilakukan praktikum ini.
Di dalam penetapan tekstur tanah terdapat dua metode yaitu menurut metode
perasaan di lapangan atau uji kualitatif. Metode ini dimulai dengan masa tanah
kering atau lembab dibasahi secukupnya kemudian dipijat diantara ibu jari dan
telunjuk sehingga membentuk bola lembab. Hal yang dirasakan adalah kasar atau
licin. Kemudian ditentukan tekstur berdasarkan tabel. Metode lain yang digunakan
yaitu secara kuantitatif. Pada metode ini terdapat tiga tahapan yaitu analisis ukuran
partikel, yaitu menghilangkan bahan-bahan pengikat tanah.
Tekstur tanah berpengaruh terhadap ketersediaan air yang ada di dalam tanah,
semakin besar maka akan semakin porus. Semakin akar akan mudah melakukan
penetrasi. Untuk mengetahui peranan tekstur tanah bagi ketersediaan air, untuk
hara dan pertumbuhan tanaman, maka pentingnya dilakukan pengamatan tekstur
tanah ini. Sehingga jika kita bisa memahami dan mengetahui berbagai macam
tekstur tanah itu sendiri, sehingga akan menjadi optimal (Praharyanto, 2012).

1.2.Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui jenis tekstur suatu jenis tanah yaitu pembagian fraksi atau butir
tanah yang berbeda beda kedalam persentase tertentu.

II.TINJAUAN PUSTAKA
Fungsi utama tanah sebagai media tumbuh adalah sebagai tempat akar mencari
ruang untuk berpenetrasi baik secara lateral atau horizontal dan vertikal. Hal ini
tergantung pada ruang pori-pori yang terbentuk diantara partikel-partikel tanah.
Tesktur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan
sebagai perbandingan proporsi relatif antara fraksi pasir (diameter 0,20 - 2,00 mm),
debu (0,002 0,20 mm) dan liat (diameter < 2,00 mm). Di dalam pengklasifikasian
tekstur tanah terdapat sistem USDA dan sistem internasional (Hanafiah, 2007).
Tekstur tana mempunyai hubungan yang dekat dengan kemampuan tanah
mengikat lengas, udara tanah dan hara tanah. Tekstur tanah juga mempengaruhi
ruang pergerakan tanaman konsistensi dan keterolahan tanah. Selain tu, juga
berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah, yaitu pada:
a. Tanaman Pasiran : laju peresapan air baik, kapasitas menahan air tinggi,
aerasi kurang baik, kapasitas adsorbsi rendah baik dalam
akar dan mudah diolah.
b. Tanah Lempungan: drainase buruk, kapasitas mengikat air tinggi, kandungan
hara tinggi, penyerapan air tinggi, kurang baik untuk sistem perakaran dan sistem
olahan.
c. Tanah Debuan

: mempunyai sifat antara lempung dan pasir

(Rasliman, 2009).
Sasaran pokok cara kerja dalam penetapan tekstur tanah adalah dengan penentuan
agihan ukuran dan jarak penyusun fase padat tanah, yaitu dengan menguji suatu
media utuh tanah diantara muka ibu jari dan telunjuk, serta memperhatikan rasa
tanah dan sifat yang murni (Purwowidodo, 2006).
Faktor-faktor fisik tanah yang dipengaruhi oleh tekstur tanah adalah konsistensi,
kadar air, organisme, perakaran, dan pengolahan (Indra, 2007).
Teksur tanah menunjukkan kasar halusnya suatu tanah, terutama tekstur
merupakan perbandingan relative pasir, debu dan liat atau kelompok partikel
dengan ukuran lebih kecil dari kerikil (diameter kurang dari 2 mm). Pada beberapa
tanah kerikil, batu dan batuan induk dari batu-batuan tanah yang ada juga
mempengaruhi tekstur dan penggunaan lahan (Foth, 1998).

III.PROSEDUR PERCOBAAN
3.1.Alat Dan Bahan
Alat-Alat:
-ayakan 2mm
-silinder 1000ml
-gelas arloji
-gelas piala 600ml 1000ml
-lampu pritus
-cawan alumunium
-botol kocok
-batang pengaduk

Bahan-Bahan
-h2o2 10% dan 30%
-natrium pirofosfat (na4p2o7.10h2o)
-Aquades
3.2Cara Kerja
Di modul halaman 24 ya ki ahahahahahha

IV.Hasil dan pembahasan


4.1 Hasil

4.2Pembahasan

V.KESIMPULAN
5.1.kesimpulan

5.2.saran

DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah, Kemas Ali. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Baja Grafindo Persada.
Jakarta.
Praharyanto. 2012. Tekstur Tanah. www.praharyantozone.blogspot.com/2012/Tekstur_Tanah/xhiaoau89 diakses pada tanggal24
November 2012 pukul 21.22 WIB
Purwowidodo. 2006. Ganesa Tanah. Institute Petanian Bogor Press. Bogor.
Sutanto, Rachman. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Konsep dan Kenyataan.
Kanisius. Yogyakarta.
Syahwal, Indra. 2007. Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta.
Foth, D.H. 1998. Principles of Soil Science. John Willey and son Inc, Michigan.

PENETAPAN REAKSI TANAH (pH)

I.Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Penentuan reaksi tanah sangat diperlukan dalam klasifikasi dan pemetaan tanah.
Selain itu untuk menasir lanjut tidaknya usia perkembangan tanah dan juga
diperlukan dalam penggunaan tanah yang berhubunhan dengan kesesuaian atau
kecocokan tanaman. Reaksi tanah merupakan sifat kimia tanah yang penting untuk
diamati karena berpengaruh terhadap serangkaian proses-proses kimiawi dalam
tanah, antara lain proses pembentukan mineral lempung, reaksi kimia dan
biokomiawi tanah, serta penentuan status hara dalam tanah. Reaksi tanah
menunjukkan perimbangan konsentrasi asam-basa dalam tanah dan kemasaman
atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan
banyaknya konsentrasi ion hydrogen (H+) di dalam tanah. pH sangat penting untuk
diamati, sebab dapat digunakan untuk menentukan mudah tidaknya unsur-unsur
hara diserap tanaman, dapat menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur
beracun, dan mempengaruhi keragaman pH tanah yaitu bahan induk, iklim, bahan
organik, dan perlakuan manusia.
Reaksi tanah menunjukkan kemasaman atau alkalinits tanah yang dinyatakan
dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H)
dalam tanah. Nilai pH tanah sebenarnya dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah yang
komplit sekali, yang diantaranya adalah kejenuhan basa, sifat isel dan macam
kation yang diserap.
Reaksi tanah yang dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu: masam, netral,
dan basa. Tanah pertanian yang masam jauh lebih luas masalahnya dari pada tanah
yang memiliki sifat alkalinitas. Tanah masam terjadi akibat tingkat pelapukan yang
lanjut dan curah hujan yang tinggi serta akibat bahan induk yang masam pada
tanah podsolik yang banyak terdapat di Indonesia, mempunyai aspek kesuburan
keracunan ion-ion terutama keracunan H+.
Nilai pH berkisar antara 0-14. Makin tinggi kepekatan / konsentrasi (H+)
dalam tanah, makin rendah pH tanah dan sebaliknya, makin rendah konsentrasi
(H+) maka makin tinggi pH tanah. Sehubungan dengan nilai pH dijumpai 3
kemungkinan, yaitu : masam, netral dan basa (alkali). Kemasaman tanah dibedakan
atas kemasaman aktif dan kemasaman potensial. Kemasaman aktif disababkan oleh
ion H+ dan Al3+yang terjerap pada kompleks jerapan.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu untuk mengetahui gambaran
mengenai tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman, maka diperlukan adanya
pengetahuan tentang pH suatu tanah.
1.2. Tujuan

Untuk menentukan reaksi atau derajat kemasaman tanah atau kebasahan, sehingga
kita dapat merencanakan pengolahan yang sesuai untuk tanah tersebut

II. TINJAUAN PUSTAKA

Reaksi tanah merupakan salah satu sifat kimia dari tanah yang mencakup berbagai
unsur-unsur dan senyawa-senyawa kimia yang lengkap. Reaksi tanah menunjukkan
tentang keadaan atau status kimia tanah dimana status kimia tanah merupakan
suatu faktor yang mempengaruhi proses-proses biologis seperti pada pertumbuhan
tanaman. Reaksi atau pH yang ekstrim berarti menunjukkan keadaan kimia tanah
yang dapat disebutkan proses biologis terganggu (Pairunan,dkk, 1985).
Larutan tanah adalah air tanah yang mengandung ion-ion terlarut yang merupakan
hara bagi tanaman. Konsentrasi ion-ion terlalu sangat beragam dan tergantung
pada jumlah ion yang terlarut dan jumlah bahan pelarut. Pada musim kemarau
atau kering dimana air banyak yang menguap, maka konsentrasi garam akan
berubah drastis yang akan mempengaruhi pertumbuhan dari suatu tanaman
(Hakim,dkk, 1982).
pH tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung berupa ion
hidrogen sedangkan pengaruh tidak langsung yaitu tersedianya unsur-unsur hara
tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran pH tanah mineral biasanya antara 3,5
10 atau lebih. Sebaliknya untuk tanah gembur, pH tanah dapat kurang dari 3,0.
Alkalis dapat menunjukkan pH lebih dari 3,6. Kebanyakan pH tanah toleran pada
yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan tanah mempunyai persediaan hara yang
cukup bagi pertumbuhan suatu tanaman (Sarwono, 2003).
Reaksi tanah menunjukkan reaksi asam dan basa di dalam tanah. Reaksi tanah
tersebut akan mempengaruhi proses-proses di dalam tanah, seperti laju
dekomposisi bahan organic, mineral, pembentukan mineral lempung, dan secara
tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman lewat pengaruhnya terhadap
ketersediaan unsur hara. Suatu tanah dapat bereaksi asam atau alkalis tergantung
pada konsentrasi ion H dan OH. Reaksi pertama akan terjadi bila kadar ion H lebih
besar disbanding ion OH dan sebaliknya. Untuk mencirikan reaksi tanah tersebut
dipakai istilah pH yang diartikan sebagai nilai logaritma negative dari konsentrasi
ion H (Mass, 1996).
Keasaman tanah biasa terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi sehingga
cukup banyak basa dapat tertukar, terlindih dari lapisan permukaan tanah. Hal ini
terjadi sangat luas dan pengaruhnya begitu nyata pada tanaman, sehingga
kemasaman tanah merupakan salah satu sifat yang penting. Sedangkan kebasaan

tanah terjadi jika derajat kejenuhan basa relatif tinggi, terdapat garam-garam
karbonat terutama Kalsium, magnesium, dan Natrium juga memberikan ion OH
lebih besar dari ion H dalam larutan tanah. Tanah basa merupakan cirri daerah
kering atau setengahkering (Buckman and Brady, 1982).

III. PROSEDUR PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan
Alat-alat :
- botol kocok
-pH meter
- gelas ukur

Bahan-bahan :
-Aquades
- KCl 1 N

3.2. Cara Kerja


Di modul halaman 28

IV. Hasil dan Pembahasan


4.1 Hasil
4.2 Pembahasan

V.Kesimpulan
5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan mengenai reaksi (pH) tanah dapat disimpulkan
bahwa :
1.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pH tanah antara lain adalah perbandingan
air dengan tanah, kandungan garam-garam dalam larutan tanah, dan
keseimbangan CO2 udara dan CO2 tanah.
2.
Penetapan pH tanah dengan digital pH hasilnya lebih akurat dibandingkan
menggunakan indikator universal yang sifatnya kualitatif.
3.
Metode penetapan pH dengan cara elektrometrik dapat dengan menggunakan
H2O atau pun KCl.
4.
Fungsi dari penambahan H2O adalah untuk mengetahui kemasaman aktif,
sedangkan fungsi dari penambahan KCl adalah untuk mengetahui kemasaman
potensialnya.
5.
pH tanah ultisol lebih tinggi daripada pH oxizol, baik pada penembahan
dengan H2O maunpun KCl.
6.
Berdasarkan penentuan dengan H2O, tanah ultisol tersebut bersifat sangat
masam, dan oxisol cukup masam.
7.
Pengukuran pH tanah ultisol dan oxisol dengan larutan pengekstraksi KCl
memberikan nilai pH lebih rendah, yaitu 0,15-0,89 dibanding dengan yang
menggunakan H2O.
8.
tingkat kemasaman tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui
pengaruh ion H dan pengaruh tak langsung, yaitu tidak tersedianya unsur hara
tertentu dan adanya unsur yang beracun.

5.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Pairunan.A.K.dkk.1985.Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Ujung Pandang:BKPT INTIM
Hakim,N.M.Y, dkk.1982.Dasar-dasar Ilmu Tanah.Lampung:Universitas Lampung.

Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. The Nature and Properties osf Soils. The
Macmillan Company, New York.
Mass, A. 1996. Ilmu Tanah dan Pupuk. Akademi Penyuluh Pertanian (APP),
Yogyakarta.
Sarwono. 2003. Pengaruh pelindian dan ameliorasi terhadap pertumbuhan padi
(Oryza sativa) di tanah sulfat masam kalimantan. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
5: 38-54.