Anda di halaman 1dari 31

LIABILITAS DAN EKUITAS

A. KEWAJIBAN
1. Pengertian Kewajiban
Menurut FASB kewajiban diartikan sebagai pengorbanan manfaat
ekonomik masa datang yang cukup pasti yang timbul dari keharusan
sekarang

suatu

kesatuan

usaha

untuk

menstransfer

aset

atau

menyediakan/menyerahkan jasa kepada kesatuan lain datang sebagai


akibat transaksi atau kejadian masa lalu.
Statement of Financial Concepts No. 3 mendefinisikan utang
sebagai pengorbanan manfaat ekonomis yang mungkin terjadi di masa
yang akan datang yang timbul dari kewajiban yang ada dari suatu
entitas tertentu untuk mentransfer aktiva atau memberikan jasa ke
entitas lainnya di masa yang akan datang sebagai akibat transaksi
atau kejadian di masa lalu.
Terdapat beberapa pengertian lain selain dari FASB yaitu seperti
pengertian menurut IASC, AASB, dan APB No. 4, tetapi pada umumnya
dijelaskan bahwa kewajiban memiliki tiga kharakteristik utama yang
terdiri atas pengorbanan manfaat ekonomik masa datang, keharusan
sekarang untuk menstransfer aset, dan timbul sebagai akibat transaksi
masa lalu.
1. Menjadi pengorbanan sumber ekonomik yang cukup pasti di masa
depan (probable future sacrifices of economic benefits).
2. Menjadi kewajiban saat ini atau periode ini (present obligation) untuk
menyerahkan kas, barang, atau jasa di masa datang.
3. Terjadi karena transaksi masa lalu.
Dasar pengukuran kewajiban yang paling objektif adalah cost
tunai atau cost tunai implisit. Karena kewajiban merupakan cerminan
dari aset, maka pengukurannya juga mengikuti pengukuran aset.
Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca berdasarkan urutan
kelancarannya sejalan dengan aset. PSAK No. 1 menggariskan bahwa
1

aset lancar disajikan menurut urutan likuiditas sedangkan kewajiban


disajikan menurut urutan jatuh tempo.
PSAK No. 1 menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak
memenuhi kriteria sebagai kewajiban jangka pendek diklasifikasikan
sebagai kewajiban jangka panjang. Kriteria tersebut adalah (a)
diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal
operasi perusahaan, atau (b) jatuh tempo dalam jangka waktu dua
belas bulan dari tanggal neraca.
2. Pengolongan Kewajiban
Kewajiban dimasukkan dalam laporan neraca dengan saldo normal
kredit, dan biasanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :

Kewajiban Lancar (current liabilities) kewajiban yang likuiditasnya


diperkirakan secara layak memerlukan penggunaan sumber daya yang
ada

yang

diklasifikasikan

sebagai

aktiva

lancar

atau

penciptaan

kewajiban lancar lainnya. Terdapat banyak jenis kewajiban lancar yang


berbeda, antara lain hutang usaha, wesel bayar, jatuh tempo berjalan
hutang jangka panjang, kewajiban jangka pendej yang diharapkan akan
didanai kembali, hutang dividen, deposito yang dapat dikembalikan,
pendapatan

diterima

dimuka,

hutang

pajak,

kewajiban

yang

berhubungan dengan karyawan. Hutang usaha atau hutang dagang


merupakan saldo yang terhutang kepada pihak lain atas barang,
perlengkapan, atau jasa yang dibeli dengan akun terbuka atau secara
kredit. Hutang usaha muncul karena adanya kesenjangan waktu antara
penerimaan jasa atau akuisisi hak aktiva dan pembayaran atasnya. Jika
hak telah beralih ke pembeli sebelum barang diterima, maka transaksi itu

harus dicatat pada saat hak beralih ke pembeli.


Hutang Jangka Panjang (long-trem debt) terdiri dari pengorbanan
manfaat ekonomi yang sangat mungkin dimasa depan akibat kewajiban
sekarang yang tidak dibayarkan dalam satu tahun atau satu siklus
operasi perusahaan. Jenis-jenis hutang jangka panjang antara lain hutang
obligasi, wesel bayar jangka panjang, hutang hipotik, kewajiban pensiun,
dan kewajiban leasen.
2

3. Pengakuan dan pengukuran


a. Pengakuan
Kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat
transaksi yang sebelumnya terjadi. Kewajiban dapat diakui atas
dasar kriteria pengakuan yaitu definisi, keterukuran, keterandalan,
dan keberpautan. Kam (hlm 119-120) mengajukan empat kaidah
pengakuan
ketersediaan

untuk

menandai

dasar

pengakuan

hukum,

kewajiban

keterterapan

konsep

yaitu
dasar

konservatisme, ketertentuan substansi ekonomik transaksi, dan


keterukuran

nilai

kewajiban.

Keempat

kaidah

tersebut

dapat

memberikan petunjuk tentang adanya bukti teknis untuk mengakui


kewajiban.
b. Pengukuran
Penentuan kos kewajiban pada saat terjadinya paralel dengan
pengukuran

aset,

dan

pengukur

yang

paling

objektif

untuk

menentukan kos kewajiban pada saat terjadinya adalah dengan


penghargaan

sepakatan

dalam

transaksi-transaksi

dan

bukan

jumlah rupiah pengorbanan ekonomik masa datang. Penghargaan


suau kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang
kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonomik
seandainya kewajiban dilunasi pada saat terjadinya.
Dasar pengukuran kewajiban yang paling objektif adalah kos
tunai atau kos tunai implisit. Karena kewajiban merupakan cerminan
dari aset, maka pengukurannya juga mengikuti pengukuran aset.
Nilai nominal atau jatuh tempo obligasi sering dianggap
sebagai jumlah rupiah kesepakatan pada saat penerbitan obligasi
baik bagi penerbit maupun bagi kreditor. Dasar pengukuran
demikian tidak tepat. Utang obligasi diukur dan diakui atas dasar
jumlah rupiah yang diterima dalam penerbitan obligasi, sedangkan

diskun dan premium obligasi merupakan jumlah rupiah penyesuaian


bunga nominal untuk mendapatkan bunga efektif.
Kewajiban dapat bersifat moneter dan nonmeneter. Kewajiban
moneter adalah kewajiban yang pengorbanan sumber ekonomik
masa datangnya berupa kas dengan jumlah rupiah dan saat saat
yang pasti. Kewajiban moneter ini dikukur atas dasar nilai diskunan
pembayaran kas masa datang (jangka panjang) dan atas dasar nilai
nominal (jangka pendek). Kewajiban nonmeneter adalah keharusan
untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah dan saat yang
cukup pasti yang biasanya timbul karena penerimaan pembayaran
dimuka untuk barang dan jasa tersebut. kewajiban nonmeneter
diukur atas dasar pembayaran tersebut yang menunjukkan harga
yang disepakati untuk barang dan jasa.
4. Penyajian dan pengungkapan
Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca berdasarkan
urutan kelancarannya sejalan dengan aset. PSAK No. 1 menggariskan
bahwa aset lancar disajikan menurut urutan likuiditas sedangkan
kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini berarti kewajiban
jangka pendek disajikan lebih dahulu daripada kewajiban jangka
panjang . Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembaca untuk
mengevaluasi likuiditas perusahaan. PSAK No. 1 menentukan bahwa
semua kewajiban yang tidak memenuhi kriteria sebagai kewajiban
jangka pendek diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Kriteria tersebut adalah (a) diperkirakan akan diselesaikan dalam
jangka waktu siklus normal operasi perusahaan, atau (b) jatuh tempo
dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca.
a) Penyajian kewajiban lancar
Dalam praktek, kewajiban lancar biasanya dicatat dalam catatan
akuntansi dan dilaporkan dalam laporan keuangan pada nilai
penuh jatuh temponya. Karena singkatnya priode waktu yang
terlibat, yang sering kali kurang dari satu tahun. Maka perbedaan
4

antara nilai sekarang kewajiban lancar dan nilai jatuh temponya


biasanya tidak besar. Akun kewajiban lancar biasanya disajikan
sebagai klasifikasi pertama dalam kelompok kewajiban dan
ekuitas pemegang saham di neraca. Dalam kelompok kewajiban
lancar

akun-akun

itu

dapat

dicantumkan

menurut

jatuh

temponya, dalam jumlah yang menurun, atau menurut prefensi


likuiditasnya.
b) Penyajian hutang jangka panjang
Perusahaan yang mempunyai banyak terbitan hutang jangka
panjang dalam jumlah besar seringkali hanya melaporkan satu
akun dalam neraca dan mendukungnya dengan komentar serta
skedul

dalam

catatan

yang

menyertainya.

Pengungkapan

catatan umumnya berisi dari kewajiban, tanggal jatuh tempo,


suku bunga, provisi penarikan, pembatasan yang dilakukan oleh
kreditor, dan aktiva yang disepakati atau digadaikan sebagai
jaminan.
B. KEWAJIBAN DIESTIMASI DAN KEWAJIBAN KONTIJENSI
1. Kewajiban diestimasi
Pengetian Kewajiban Diestimasi
Kewajiban diestimasi adalah kewajiban yang waktu dan
jumlahnya belum pasti. Kewajiban diestimasi dapat dibedakan dari
kewajiban lain, seperti utang dagang dan akrual, karena pada
kewajiban diestimasi terdapat ketidakpastian mengenai waktu atau
jumlah

yang

harus

dikeluarkan

pada

masa

datang

untuk

menyelesaikan kewajiban diestimasi tersebut.

Pengakua kewajiban diestimasi


Kewajiban diestimasi harus diakui apabila ketiga kondisi
berikut dipenuhi:
a) perusahaan

memiliki

kewajiban

kini

(baik

bersifat

hukum

maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu;


5

b) besar kemungkinan (probable) penyelesaian kewajiban tersebut


mengakibatkan arus keluar sumber daya; dan
c) estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat
dibuat.

Pengungkapan kewjiban diestimasi


Untuk

setiap

jenis

kewajiban

diestimasi,

entitas

harus

mengungkapkan:
a) nilai tercatat pada awal dan akhir periode;
b) kewajiban diestimasi tambahan yang dibuat dalam periode
bersangkutan, termasuk peningkatan jumlah pada kewajiban
diestimasi yang ada;
c) jumlah yang digunakan,
dibebankan

pada

yaitu

kewajiban

jumlah
diestimasi

yang

terjadi

selama

dan

periode

bersangkutan;
d) jumlah yang belum digunakan yang dibatalkan selama periode
bersangkutan; dan
e) peningkatan, selama periode yang bersangkutan, dalam nilai
kini yang timbul karena berlalunya waktu dan dampak dari
setiap perubahan tingkat diskonto.ormasi komparatif tidak
diharuskan.
2. Kewjiban Kontijensi
Pengetian Kewajiban Kontijensi
Kontijensi

adalah

suatu

keadaan

yang

masih

diliputi

ketidakpastian mengenai kemungkinan diperolehnya laba atau rugi


oleh suatu perusahaan, yang baru akan terselesaikan dengan
terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa dimasa yang
akan datang.

Kewajiban kontinjensi adalah:


kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu, dan
keberadaannya

menjadi

pasti

dengan

terjadi

atau

tidak

terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa depan yang

tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah; atau


kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu,
tetapi tidak diakui

(i)

Karena:

tidak terdapat kemungkinan besar (not probable ) pemerintah


mengeluarkan

sumber

daya

yang

mengandung

manfaat

ekonomis untuk menyelesaikan kewajibannya; atau


(ii) jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.

Keuntungan kontinjensi (gain contingencies) adalah klaim


atau hak untuk menerima aktiva (atau memiliki kewajiban yang
menurun) yang keberadaannya tidak pasti tetapi pada akhirnya
akan menjadi sah. Jenis keuntungan kontinjensi yang khas adalah :
1. Penerimaan yang mungkin atas uang dari hadia, sumbangan,
bonus, dan lain sebagainya.
2. Kemungkinan pengembalian
kelebihan pajak
3. Penundaan kasus

dana

pengadilan

dari

yang

pemerintah
hasilnya

atas

mungkin

menguntungkan
4. Kerugian pajak yang dikompensasi ke depan
Kerugian kontingensi (loss contiengencies) adalah situasi
yang melibatkan ketidakpastian atas kemungkinan terjadinya
kerugian. Kewajiban yang terjadi sebagai akibat dari kerugian
kontinjensi

menurut

defenisinya

disebut

sebagai

kewajiban

kontinjen. Kewajiban kontijen (contiegencies liabilities) adalah


kewajiban yang bergantung pada terjadinya atau tidak terjadinya
satu atau lebih kejadian di masa depan untuk mengkonfirmasi
jumlah hutang, pihak yang dibayar, tangal pembayaran, atau
keberadaannya.
Apabila terdapat kerugian kontinjensi, maka kemungkinan
bahwa kejadian di masa depan akan menguatkan terjadinya
7

kewajiban dapat berkisar dari sangat mungkin hingga kurang


mungkin.

Pengakuan kewajiban Kontijensi


Banyak peristiwa masa lalu

yang

dapat

menimbulkan

kewajiban kini. Walaupun demikian, dalam beberapa peristiwa


yang jarang terjadi, misalnya dalam tuntutan hukum, dapat timbul
perbedaan pendapat mengenai apakah peristiwa tertentu sudah
terjadi atau apakah peristiwa tersebut menimbulkan kewajiban kini.
Jika demikian halnya, perusahaan menentukan apakah kewajiban
kini telah ada pada tanggal neraca dengan mempertimbangkan
semua bukti yang tersedia, termasuk misalnya pendapat ahli. Bukti
yang dipertimbangkan mencakup, antara lain, bukti tambahan
yang diperoleh dari peristiwa setelah tanggal neraca. Atas dasar
bukti tersebut, apabila besar kemungkinan bahwa kewajiban kini
belum ada pada tanggal neraca, pemerintah mengungkapkan
adanya kewajiban kontingensi.
Pengungkapan tidak diperlukan jika kemungkinan arus keluar
sumber daya kecil. Kewajiban kontingensi dapat berkembang ke
arah yang tidak diperkirakan semula. Oleh karena itu, kewajiban
kontingensi harus terus-menerus dikaji ulang untuk menentukan
apakah tingkat kemungkinan arus keluar sumber daya bertambah
besar

(probable).

Apabila

kemungkinan

itu

terjadi,

maka

manajemen akan mengakui kewajiban diestimasi dalam laporan


keuangan periode saat perubahan tingkat kemungkinan tersebut
terjadi, kecuali nilainya tidak dapat diestimasikan secara andal.
Pengukuran Besaran kewajiban kontingensi tidak dapat diukur
secara eksak. Untuk itu diperlukan pertimbangan profesional oleh
pihak yang berkompeten. Penyajian dan Pengungkapan Kewajiban
kontingensi

tidak

disajikan

pada

neraca

namun

demikian

perusahaan harus mengungkapkan kewajiban kontingensi pada


8

Catatan atas Laporan Keuangan untuk setiap jenis kewajiban


kontingensi pada tanggal neraca.

Pengukuran Kewajiban kontijensi


Besaran kewajiban kontingensi tidak dapat diukur secara
eksak. Untuk itu diperlukan pertimbangan profesional oleh pihak
yang berkompeten.

Penyajian dan pengungkapan kewjiban kontijensi


Kewajiban kontingensi tidak disajikan pada neraca, namun
demikian

harus

mengungkapkan

kewajiban kontingensi

pada

Catatan atas Laporan Keuangan untuk setiap jenis kewajiban


kontingensi pada tanggal neraca
Pengungkapan tersebut dapat meliputi:
1. karakteristik kewajiban kontingensi;
2. estimasi dari dampak finansial yang diukur;
3. indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah
atau waktu aruskeluar sumber daya;
4. kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga

C. EKUITAS
1. Pengertian ekuitas
Istilah ekuitas berasal dari kata equity atau equity of ownership
yang berarti kekayaan bersih perusahaan. Secara sederhana, ia
diformulasikan sebagai total aktiva dikurangi total pasiva. Ekuitas
merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yaitu selisih antara
aktiva dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan
ukuran nilai jual perusahaan tersebut.pada dasarnya ekuitas berasal
dari investasi pemilik dan hasil usaha perusahaan. Ekuitas akan
berkurang terutama dengan adanya penarikan kembali penyertaan
oleh pemilik, pembagian keuntungan atau karena kerugian.
Menurut FASB dlm SFAC No. 6
9

Hutang adalah pengorbanan manfaat ekonomi masa mendatang


yg mungkin timbul karena kewajiban sekarang suatu entitas untuk
menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain di
masa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu
Menurut IAI (1994)
kewajiban merupakan hutang perusahaan masa kini yg timbul
dari

peristiwa

masa

lalu,

penyelesaiannya

diharapkan

mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaa yang


mengandung manfaat ekonomi
2. Komponen Ekuitas untuk pemegang saham
Ekuitas pemilik tercermin dalam neraca terdiri dari:
1. Modal disetor, yaitu jumlah setoran pemilik ke perusahaan sebesar
nilai nominal saham. Setoran ini akan dilaporkan dalam bentuk
modal saham.
2. Tambahan modal disetor, yaitu selisih jumlah setoran yang melebihi
nilai nominal saham. Kelebihan jumlah setoran ini bisa juga disebut
dengan agio saham.
3. Laba ditahan yaitu

akumulasi

perolehan

laba

(rugi)

sejak

perusahaan berdiri sampai dengan periode terakhir.


Ekuitas pemegang saham mencerminkan kepentingan pemilik
atau pemegang saham pada perusahaan bisnis yang merupakan
kepentingan residu (residual interest) jumlah ekuitas pemegang saham
setiap periode merupakan kumulatif dari kontribusi bersih pemegang
saham ditambah (dikurangi) laba ditahan atau rugi perusahaan.
Dengan demikian dua sumber utama perubahan ekuitas adalah:
1. Kontribusi pemegang saham (modal disetor) dan
2. Laba (penghasilan) yang ditahan oleh perusahaan. Dua komponen
ini harus dihitungdan dilaporkan oleh setiap perusahaan pada setiap
akhir periode.
3. Perlakukan Akuntansi dan Pelaporan Saham

10

Jenis-jenis saham terdapat dua bentuk saham sebagai tanda hak milik pada
perusahaan yaitu:

1. Saham biasa (common stock) adalah saham dimana pemegangnya


memiliki

hak

perseroan

secara

umum

dan

pemegangnya

menanggung risiko terbatas atas kerugian dan menerima manfaat


bila terjadi keuntungan. Saham ini tidak dijamin akan menerima
dividen atau tidak dijamin atas pembagian aset bila perusahaan
dilikuidasi. Namun pemegang saham ini memiliki hak suara terkait
dengan penentuan kebijakan operasional perusahaan.
2. Saham preferen (preferred stock) adalah saham

dimana

pemegangnya memiliki hak-hak istimewa di perusahaan terutama


berkaitan dengan pembagian dividen dan pembagian aset saat
perusahaan dilikuidasi. Pemegang saham preferen akan selalu
mendapatkan dividen sebesar prosentase tertentu (tercantum
dalam lembar saham preferen) dari nilai pari atau nilai nominalnya.
Namun pemegang saham preferen ini tidak memiliki hak suara
dalam hal penentuan kebijakan operasi perusahaan.
4. Akuntansi untuk penerbitan Saham
a. Akuntansi penerbitan saham
Untuk memperlihatkan informasi penerbitan saham pada nilai
pari/nilai nominal, akun-akun berikut harus dipertahankan untuk
masing-masing saham sebagai berikut :
1. Saham preferen atau saham biasa
Akun ini memperlihatkan jenis saham yang diterbitkan dengan
nilai parinya.akun ini dikredit ketika saham pertama kali
diterbitkan, dan tidak ada penambahan ayat jurnal pada akun ini
kecuali ada penambahan saham yang diterbitkan atau adanya
penarikan saham.

11

2. Tambahan modal disetor akun ini menunjukkan kelebihan modal


disetor di atas nilai pari saham. Tambahan modal disetor ini
meliputi agio saham atau disagio saham.
b.

Akuntansi penerbitan saham atas dasar pesanan


Dua perkiraan baru digunakan apabila saham dijual atas
dasar pesanan, yaitu (1) saham biasa atau preferen yang dipesan
menunjukkan

kewajiban

perseroan

untuk

menerbitkan

saham

setelah pembayaran akhir saldo pesanan oleh mereka yang telah


memesan saham, (2) piutang pesanan, menunjukkan jumlah yang
harus ditagih sebelum saham pesanan akan diterbitkan.
Kontroversial terjadi sehubungan dengan penyajian piutang
pesanan saham dineraca. Beberapa orang mengemukakan bahwa
piutang pesanan sebaiknya dilaporkan pada seksi aset lancar.
Piutang dagang muncul dari transaksi penjualan pada kegiatan
bisnis seperti yang biasa sedangkan piutang pesanan berhubungan
dengan penerbitan saham sendiri dan merupakan kontribusi modal
yang belum dibayarkan kepada perseroan.

5. Akuntansi Ekuitas Untuk Badan Usaha bukan PT


Akuntansi untuk ekuitas badan usaha bukan PT harus dilaporkan
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk badan
usaha tersebut dan standar akuntansi keuangan yang berlaku khusus
untuk industri yang bersangkutan, misalnya koperasi.
6. Akuntansi ekuitas untuk Badan usaha Berbentuk PT
Modal saham meliputi saham preferen, saham biasa dan akun
tambahan modal disetor . Pos modal lainnya seperti modal yang
berasal dari sumbangan dapat disajikan sebagai bagian dari tambahan
modal disetor. Akun tambahan modal disetor terdiri dari berbagai
macam unsure penambah modal seperti, agio saham, tambahan modal
12

dari perolehan kembali saham dengan harga yang lebih rendah


daripada jumlah yang diterima pada saat pengeluaran, tambahan
modal dari penjualan saham yang diperoleh kembali dengan harga di
atas jumlah yang dibayarkan pada saat perolehannya, tambahan
modal dari perbedaan kurs modal disetor. Akun tambahan modal
disetor tidak boleh didebit atau dikredit dengan pos laba rugi luar
biasa.
Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan:
1. Jumlah uang yang diterima
2. Setoran saham dalam bentuk uang, sesuai transaksi nyata.
3. Besarnya tagihan yang timbul atau hutang yang dikonversi menjadi
modal.
4. Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan harga wajar
saham.
5. Nilai wajar aktiva bukan kas yang diterima.
6. Setoran saham dalam bentuk barang, menggunakan nilai wajar
aktiva bukan kas yang diserahkan.
Pengurangan modal disetor lazimnya dicatat berdasarkan:
1. Jumlah uang yang dibayarkan
2. Besarnya hutang yang timbul
3. Nilai wajar aktiva bukan kas yag diserahkan

Pengeluaran

saham

dicatat

sebesar

nilai

nominal

yang

bersangkutan. Bila jumlah yang diterima dari pengeluaran saham


tersebut lebih besar dari nilai nominalnya, selisih yang terjadi
dibukukan pada akun Agio Saham. Bila ketentuan hukum yang ada
memungkinkan penarikan kembali saham yang telah dikeluarkan,
maka pencatatan transaksi ini dilakukan dengan mendebit akun Modal
Saham dan mengkredit Modal Saham yang diperoleh kembali sebesar
jumlah yang dibukukan pada saat perolehan kembali saham yang
bersangkutan.
13

7. Dividen PT
Kewajiban perusahaan untuk membagi dividen timbul pada saat
deklarasi dividen, dan saldo laba akan dibebani dengan jumlah dividen
yang dimaksud. Kewajiban yang timbul disajikan dalam kelompok
kewajiban lancar. Bila dividen dibagikan dalam bentuk aktiva bukan
kas, maka saldo laba akan didebit sebesar nilai wajar aktiva yang
diserahkan. Dasar pembagian dividen dalam bentuk aktiva bukan kas
harus diungkapkan pada catatan atas laporan keuangan.
Pembagian dividen termasuk dividen saham yang berasal dari
saldo laba. Pembagian dividen saham adalah pembagian saldo laba
kepada pemegang saham, yang diinvestasikan kembali oleh mereka
dalam bentuk modal disetor. Pembagian dividen saham dicatat
berdasarkan

nilai

wajar

saham.

Konversi

agio

menjadi

saham

digolongkan sebagai modal disetor sebesar nilai nominal, yang tidak


boleh digolongkan sebagai pembagian dividen.
D. KASUS PT . GREAT RIVER INTERNASIONAL TBK
PT

Great

River

International

Tbk.

(GRI)

didirikan

di

Indonesia

berdasarkan Akta Notaris Warda Sungkar Alurmei, SH No. 75 tanggal 22 Juli


1976 yang telah diubah dengan Akta Notaris Abdul Latief SH No. 117 tanggal
23 Nopember 1976. Akta Pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/3/5.Th.78 tanggal 15
Pebruari 1978 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.
21 Tambahan No. 124 tanggal 11 Maret 1980. Anggaran Dasar Perusahaan
telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris
Imas Fatimah, SH No. 2 tanggal 2 Desember 2003 antara lain mengenai
peningkatan modal disetor dan ditempatkan melalui pembagian saham
bonus. Perubahan Anggaran Dasar tersebut belum disetujui oleh Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

14

Bidang Usaha:
Sesuai

dengan

pasal

anggaran

dasar

Perusahaan,

kegiatan

Perusahaan antara lain meliputi industri pakaian jadi dan perdagangan.

Sejarah Singkat Perseroan


1976 - Didirikan oleh Sukanta Tanudjaja dan Sunjoto Tanudjaja dengan nama
PT Great River Garments Industries, dengan karyawan 150 orang
1977/78 - Memperoleh lisensi pertama berupa pakaian pria dan pakaian
dalam wanita
1987 - Berturut-turut setiap tahun memperoleh lisensi merek-merek
international terkemuka
1989 - Saham Perseroan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya
1991 - Meraih predikat Indonesia Best Managed Company dari majalah
Asiamoney
1992 - Berganti nama menjadi PT Great River Industries
1993 - Melaksanakan right issue yang pertama
1993 - Mendirikan anak perusahaan, PT Inti Fasindo Internasional untuk
menangani usaha distribusi dan retail
1991 - Menjalin kerjasama dengan Tomen Co. dari Jepang mendirikan
perusahaan patungan PT GT Utama Garments

15

1992-Menjalin kerjasama dengan Mitsui Corp.dan Itabashi Co. dari Jepang,


mendirikan

perusahaan

patungan

PT

Great

Iphock

International,

memproduksi knitwear
1992 - Menjalin kerjasama dengan Gunze Ltd. dari Jepang, mendirikan
perusahaan patungan PT Gunze Indonesia, memproduksi benang jahit
1994 - Menjalin kerjasama dengan Toyobo Co.dari Jepang mendirikan
perusahaan patungan PT Toyobo Knitting Indonesia, memproduksi knit,
dyeing & finishing
1994 - Menjalin kerjasama dengan Gunze Ltd. dari Jepang mendirikan
perusahaan patungan PT Gunze Sock Indonesia, memproduksi kaus kaki
1995 - Menjalin kerjasama dengan van Laack GmbH, dari Jerman mendirikan
perusahaan patungan Great River/ van Laack International, memproduksi
pakaian pria
1995 - Lisensi yang ditangani oleh Perseroan mencapai lebih dari 30 merek
internasional, terdiri dari pakaian dalam, kemeja, pakaian kasual, pakaian
anak-anak, household
1996 - Melaksanakan right issue yang kedua
1997 - Meraih sertifikasi ISO 9002 untuk quality management dan diperbarui
tahun 1999
1997 - Meraih predikat Indonesia Best Managed Company dari majalah
Asiamoney untuk kedua kali
2000 - Meraih kualifikasi Kecelakaan Kerja Nihil (Zero Accidents) dari
Departemen Tenaga Kerja
1996 - Berganti nama menjadi PT Great River International
2000 - Usaha ekspor Perseroan mencapai 69% dari total nilai penjualan

16

2001 - Menyelesaikan restrukturisasi tahap I dengan Termsheet melalui


Prakarsa Jakarta
2001 - Nilai penjualan ditargetkan meningkat 9,6%, dengan usaha ekspor
mencapai 65% dari total penjualan Fasilitas Produksi

Kendala-Kendala Internal :
1. Kepastian hukum, kondisi sosial, politik, keamanan kurang kondusif
2. Kurangnya kenyamanan dan ketenangan berusaha
3. Kenaikan UMR, TDL, BBM secara berturut-turut berdampak pada
meningkatnya biaya operasional
4. Daya beli pasar domestik masih lemah

Kendala-Kendala Eksternal :
1.
2.
3.
4.
5.

Sistem kuota
Menurunnya perekonomian dunia berpengaruh terhadap eksport
Dampak pasca tragedi 911
Tariff & non-tariff barriers
Proteksi dari negara industri seperti Uni Eropa (ISO, Eco-labeling, ILAC,
CSM-2000) dan Amerika Serikat (WRAP)

Potensi Pertumbuhan Perusahaan :


1. Great River
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

merupakan perusahaan pakaian jadi terkemuka

Indonesia, meliputi produksi, distribusi dan retail


Memiliki 6000 konsumen ritel dan 71 unit toko milik sendiri
Tetap konsisten pada bisnis inti (core bisnis)
Aliansi strategis dengan Dept Store nasional dan internasional
Negara tujuan ekspor melebihi 20 negara
kapasitas produksi mencapai 44 juta potong per tahun
Ekspansi melalui Direct Selling dengan 67,500 Fashion Dealers
Strategi operasional melalui usaha patungan

17

di

Keadaan Perseroaan Saat Ini :


Kegiatan

operasional

Perseroan

berjalan

normal,

pabrik

masih

berproduksi
Kondisi karyawan terkendali. Seluruh karyawan baik dari pabrik, kantor
pusat, maupun kantor cabang, masuk seperti biasa
Listrik di Gedung Plaza GRI Kantor Pusat dimatikan, sehingga kegiatan di
kantor pusat terhambat
Perseroan belum mampu untuk melakukan pembayaran terhadap
kewajiban yang harus dibayarkan

Latar Belakang Permasalahan :


Perseroan mengalami kekurangan modal kerja
Tidak tercapainya target penjualan domestic karena masuknya barang
berharga murah dari China dan Vietnam, sehingga menyebabkan
terjadinya penumpukan stok di toko-toko
Penjualan ekspor mengalami tekanan harga jual sehingga margin
keuntungan turun, karena persaingan yang berat
Biaya operasional yang tinggi dan meningkat secara signifikan setiap
tahun (kenaikan UMP dan biaya TDL, telpon dan bahan bakar)
Secara umum, perseroan tidak cukup fleksibel menghadapi perubahan
dan tantangan yang terjadi di pasar dengan tingkat persaingan yang
semakin ketat

Kondisi Hutang Perseroan :

Perseroan memiliki hutang obligasi senilai Rp 300 Miliar. Penggunaan


dana hasil obligasi tersebut adalah :
74% untuk melunasi hutang bank jangka panjang perseroan
26% untuk pembelian aset seperti penambahan mesin jahit dan modal

kerja Perseroan
Perseroan memiliki total kewajiban sebesar lebih dari Rp 300 Miliar
(Hutang Bank, Hutang Usaha, dan Kewajiban lainnya)
18

Kronologis Kasus
PT Great River International merupakan perusahaan pakaian jadi
berkualitas tinggi dan terkemuka di Indonesia. PT Great River International
Didirikan oleh Sukanta Tanudjaja dan Sunjoto Tanudjaja pada tahun 1976
dengan nama PT. Great River Garments Industries. Kemudian pada tahun
1996 Berganti nama menjadi PT Great River International. Pada awalnya, PT
Great River International mengalami perkembangan yang sangat pesat hal
ini ditandai dengan diperolehnya beberapa kali penghargaan dari majalah
Asiamoney dan berhasil lulus sertifikasi ISO 9002 untuk quality management.
Namun mulai tahun 2002, PT. Great River International mulai
mengalami kesulitan keuangan dengan mengajukan permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) ke Pengadilan Niaga. Permohonan
PKPU tersebut diajukan sehubungan dengan permohonan pailit yang
diajukan oleh Citibank atas utang senilai US $10 juta yang berasal dari US $
2 juta dari Revolving Credit Agreement pada 16 Februari 1994 dan US $ 8
juta dari Revolving Credit Agreement-Domestic Trade Payable Onshore
tanggal 16 November 1995..
PT Great River International memperkirakan jumlah kewajibannya yang
telah dan akan jatuh tempo, di luar utangnya kepada Citibank, adalah
sebesar US $179.291.292. Sedangkan total aset yang dimiliki diperkirakan
sebesar

Rp1.674.716.315.355.

Perusahaan

garmen

PT

Great

River

International Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 1,023 trilyun per


September 2002, melonjak dari periode yang sama tahun sebelumnya yang
masih membukukan rugi bersih Rp 11,298 milyar. Demikian dikemukakan
Dirut Great River Sunjoto Tanudjaja dalam laporan keuangan kepada Bursa
Efek Jakarta (BEJ).

19

Lonjakan laba bersih itu lebih disebabkan adanya pendapatan pos luar
biasa dari hasil restrukturisasi utang sebesar Rp 1,277 trilyun. Dari total
utang sebesar 172,5 juta dollar AS, Great River memperoleh potongan utang
(hair cut) sebesar 85 persen atau untuk setiap dollar utangnya, perseroan
hanya membayar 15 sen. Oleh karena itu, pos-pos yang tadinya untuk
membayar

utang,

karena

ada

koreksi

pembukuan,

berubah

menjadi

keuntungan. Secara langsung, pendapatan dari pos luar biasa tersebut tidak
mempengaruhi aliran dana tunai (cash flow) perusahaan, tetapi mengubah
struktur keuangan perseroan menjadi positif.
Sebagaimana dialami berbagai emiten lainnya, perusahaan garmen ini
mengalami kesulitan keuangan semenjak krisis ekonomi tahun 1998.
Melonjaknya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah membuat nilai utang
perseroan melejit ke atas. Proses restrukturisasi yang sudah dirintis
manajemen

selama

tahun,

sejak

tahun

1998

tersebut

akhirnya

membuahkan hasil dengan penandatanganan scheme buy back (skema


pembelian kembali) utang pada bulan Agustus 2002.
Pada tahun 2005, salah satu pemegang saham PT. Great River
International Tbk mengajukan diadakannya Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa (RUPSLB) untuk menindaklanjuti hasil audit investigasi Akuntan
Publik Amir Abadi Jusuf dan Mawar. Dalam RUPLSB tersebut, akan dimintakan
persetujuan pelaksanaan kuasi reorganisasi terhadap hasil audit investigasi
terhadap perseroan yang dilakukan oleh KAP Amir Abadi Jusuf & Mawar pada
November 2005. Selain itu, RUPLSB juga akan meminta persetujuan soal
restrukturisasi seluruh utang perseroan yakni mengkonversi sebagian atau
seluruh utang menjadi saham perseroan. Termasuk pula persetujuan soal
penambahan modal sehubungan dengan konversi sebagian atau seluruh
utang perseroan menjadi saham perseroan.
Akuntan publik Justinus Aditya Sidharta diindikasi melakukan kesalahan
dalam mengaudit laporan keuangan PT. Great River Internasional, Tbk. Kasus
tersebut muncul setelah adanya temuan auditor investigasi dari Bapepam
20

yang menemukan indikasi penggelembungan account penjualan, piutang


dan asset hingga ratusan milyar rupiah pada laporan keuangan Great River
yang mengakibatkan perusahaan tersebut akhirnya kesulitan arus kas dan
gagal dalam membayar utang. Berdasarkan investigasi tersebut Bapepam
menyatakan bahwa akuntan publik yang memeriksa laporan keuangan Great
River ikut menjadi tersangka. Oleh karenanya Menteri Keuangan RI terhitung
sejak tanggal 28 November 2006 telah membekukan izin akuntan publik
Justinus Aditya Sidharta selama dua tahun karena terbukti melakukan
pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) berkaitan
dengan laporan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Great River
tahun 2003.
Dalam konteks skandal keuangan di atas, muncullah pertanyaan
apakah trik-trik rekayasa tersebut mampu terdeteksi oleh akuntan publik
yang

mengaudit

laporan

keuangan

tersebut

atau

sebenarnya

telah

terdeteksi namun auditor justru ikut mengamankan praktik kejahatan


tersebut.

Tentu

saja

jika

yang terjadi

adalah auditor tidak

mampu

mendeteksi trik rekayasa laporan keuangan maka yang menjadi inti


permasalahannya adalah kompetensi atau keahlian auditor tersebut. Namun
jika yang terjadi justru akuntan publik ikut mengamankan praktik rekayasa
tersebut, seperti yang terungkap juga pada skandal yang menimpa Enron,
Andersen, Xerox, WorldCom, Tyco, Global Crossing, Adelphia dan Walt Disney
(Sunarsip 2002 dalam Christiawan 2003:83) maka inti permasalahannya
adalah independensi auditor tersebut.
Terkait dengan konteks inilah, muncul pertanyaan seberapa tinggi
tingkat

kompetensi

dan

independensi

auditor

saat

ini

dan

apakah

kompetensi dan independensi auditor tersebut berpengaruh terhadap


kualitas audit yang dihasilkan oleh akuntan publik. Kualitas audit ini penting
karena dengan kualitas audit yang tinggi maka akan dihasilkan laporan
keuangan yang dapat dipercaya sebagai dasar pengambilan keputusan.

21

Auditor yang berpengalaman mempunyai pemahaman yang lebih baik


atas laporan keuangan. Mereka juga lebih mampu memberi penjelasan yang
masuk akal atas kesalahan-kesalahan dalam laporan keuangan dan dapat
mengelompokkan kesalahan berdasarkan pada tujuan audit dan struktur dari
sistem akuntansi yang mendasari. Namun sesuai dengan tanggungjawabnya
untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan suatu perusahaan,
maka akuntan publik tidak hanya perlu memiliki kompetensi atau keahlian
saja tetapi juga harus independen dalam mengaudit. Tanpa adanya
independensi, auditor tidak berarti apa-apa. Masyarakat tidak percaya akan
hasil audit dari auditor sehingga masyarakat tidak akan meminta jasa
pengauditan dari auditor. Atau dengan kata lain, keberadaan auditor
ditentukan oleh independensinya (Supriyono, 1988).
Standar umum kedua (SA seksi 220 dalam SPAP, 2001) menyebutkan
bahwa

Dalam

semua

hal

yang

berhubungan

dengan

perikatan,

independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh audito . Standar


ini mengharuskan bahwa auditor harus bersikap independen (tidak mudah
dipengaruhi), karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan
umum. Dengan demikian ia tidak dibenarkan untuk memihak. Auditor harus
melaksanakan

kewajiban

untuk

bersikap

jujur

tidak

hanya

kepada

manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditor dan pihak
lain yang meletakkan kepercayaan atas laporan keuangan audited.
Selama izinnya dibekukan, Justinus dilarang memberikan jasa
atestasi

(pernyataan

pendapat

atau

pertimbangan

akuntan

publik)

termasuk audit umum, review, audit kerja dan audit khusus. Dia juga
dilarang menjadi Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang Kantor Akuntan
Publik (KAP). Namun yang bersangkutan tetap bertanggung jawab atas
jasa-jasa yang telah diberikan serta wajib memenuhi ketentuan untuk
mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL). Pembekuan izin oleh
Menkeu ini merupakan tindak lanjut atas Surat Keputusan Badan Peradilan
Profesi Akuntan Publik (BPPAP) Nomor 002/VI/SK-BPPAP/VI/2006 tanggal 15
22

Juni 2006 yang membekukan Justinus dari keanggotaan Ikatan Akuntan


Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP). Hal ini sesuai dengan
Keputusan Menkeu Nomor 423/KMK.06/2006 tentang Jasa Akuntan Publik
sebagaimana

telah

359/KMK.06/2003
pembekuan

izin

diubah

yang

dengan

menyatakan

apabila

AP

yang

Peraturan

Menkeu

Nomor

AP

dikenakan

sanksi

bersangkutan

mendapat

sanksi

bahwa

pembekuan keanggotaan dari IAI dan atau IAI-KAP.


Menurut Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, pihaknya sedang
melakukan penyidikan terhadap AP yang memeriksa laporan keuangan
Great River. Kalau ditemukan unsur pidana dalam penyidikan itu, maka AP
tersebut bisa dijadikan sebagai tersangka. Kita sedang proses penyidikan
terhadap AP yang bersangkutan. Kalau memang nanti ditemukan ada
unsur pidana, maka dia akan kita laporkan juga Kejaksaan, ujar Fuad.
Seperti diketahui, sejak Agustus lalu, Bapepam menyidik akuntan
publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003.
Fuad menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam
penyajian laporan keuangan Great River. Sayangnya, dia tidak bersedia
menjelaskan secara detail praktek konspirasi dalam penyajian laporan
keuangan emiten berkode saham GRIV itu. Fuad juga menjelaskan tugas
akuntan adalah hanya memberikan opini atas laporan perusahaan.
Akuntan, menurutnya, tidak boleh melakukan segala macam rekayasa
dalam tugasnya. Dia bisa dikenakan sanksi berat untuk rekayasa itu,
katanya untuk menghindari sanksi pajak.Menanggapi tudingan itu, Kantor
akuntan publik Johan Malonda & Rekan membantah telah melakukan
konspirasi dalam mengaudit laporan keuangan tahunan Great River.
Deputy

Managing

Director

Johan

Malonda,

Justinus

A.

Sidharta,

menyatakan, selama mengaudit buku Great River, pihaknya

tidak

menemukan

atau

adanya

penggelembungan

account

penjualan

penyimpangan dana obligasi. Namun dia mengakui metode pencatatan


akuntansi yang diterapkan Great River berbeda dengan ketentuan yang

23

ada. Kami mengaudit berdasarkan data yang diberikan klien, kata


Justinus.
Menurut Justinus, Great River banyak menerima order pembuatan
pakaian dari luar negeri dengan bahan baku dari pihak pemesan. Jadi
Great River hanya mengeluarkan ongkos operasi pembuatan pakaian. Tapi
saat pesanan dikirimkan ke luar negeri, nilai ekspornya dicantumkan
dengan menjumlahkan harga bahan baku, aksesori, ongkos kerja, dan laba
perusahaan. Justinus menyatakan model pencatatan seperti itu bertujuan
menghindari dugaan dumping dan sanksi perpajakan. Sebab, katanya,
saldo laba bersih tak berbeda dengan yang diterima perusahaan. Dia
menduga

hal

itulah

yang

menjadi

pemicu

dugaan

adanya

penggelembungan nilai penjualan. Sehingga diinterpretasikan sebagai


menyembunyikan informasi secara sengaja. Johan Malonda & Rekan mulai
menjadi auditor Great River sejak 2001. Saat itu perusahaan masih
kesulitan membayar utang US$ 150 Juta kepada Deutsche Bank. Pada
2002, Great River mendapat potongan pokok utang 85 persen dan sisa
utang dibayar menggunakan pinjaman dari Bank Danamon. Setahun
kemudian Great River menerbitkan obligasi Rp 300 miliar untuk membayar
pinjaman tersebut. Kami hanya tahu kondisi perusahaan pada rentang
2001-2003, kata Justinus.
Sebelumnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Bapepam-LK) telah melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan
konsolidasi Great River ke Kejaksaan Agung pada tanggal 20 Desember
2006. Dalam laporan tersebut, empat anggota direksi perusahaan tekstil
itu ditetapkan menjadi tersangka, termasuk pemiliknya, Sunjoto Tanudjaja.
Kasus tersebut muncul setelah adanya temuan auditor investigasi
Aryanto,

Amir

Jusuf,

dan

Mawar,

yang

menemukan

indikasi

penggelembungan account penjualan, piutang, dan aset hingga ratusan


miliar rupiah di Great River. Akibatnya, Great River mengalami kesulitan
arus kas dan gagal membayar utang.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Bapepam terdapat indikasi penipuan
dalam penyajian laporan keuangan. Pasalnya, Bapepam menemukan
24

kelebihan pencatatan atau overstatement penyajian account penjualan


dan piutang dalam laporan tersebut. Kelebihan itu berupa penambahan
aktiva tetap dan penggunaan dana hasil emisi obligasi yang tanpa
pembuktian. Akibatnya, Great River kesulitan arus kas. Perusahaan tidak
mampu membayar utang Rp 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal
membayar obligasi senilai Rp 300 miliar.

Identifikasi Kasus PT Grear River International Tbk :


1. Tahun 2002 PT. Great River International mulai mengalami kesulitan
keuangan

dengan

mengajukan

permohonan

Penundaan

Kewajiban

Pembayaran Utang (PKPU) ke Pengadilan Niaga.


2. Selain itu, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) juga akan
meminta persetujuan soal restrukturisasi seluruh utang perseroan yakni
mengkonversi sebagian atau seluruh utang menjadi saham perseroan.
3. Bapepam menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi
dalam penyajian laporan keuangan PT. Great River International Tbk
khususnya dalam penyajian laporan keuangan pada tahun 2003 untuk
penerbitan obligasi perseroan yang gagal bayar .
4. Adanya metode pencatatan akuntasi yang berbeda dengan ketentuan
yang ada. Terdapat keterkaitan kesalahan pencatatan atas laporan
keuangan dengan kesulitan perusahaan dalam membayar utangnya.
Sehingga mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar hutang
Rp. 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar obligasi senilai
300 miliar.
5. Terhitung sejak tanggal 28 November 2006, Mentri Keuangan RI telah
membekukan izin akuntan publik Justinus Aditya Sidharta selama 2 tahun,
sanksi tersebut diberikan karena Justinus terbukti telah melakukan
pelanggaran

terhadap

Standar

Profesional

Akuntan

Publik

(SPAP)

berkaitan dengan laporan audit atas laporan keuangan konsolidasi PT


Great River International Tbk tahun 2003.

25

Pembahasan Kasus PT. Great River International Tbk :


1. PT. Great River melakukan restrukturisasi hutang pada tahun 2002.
Restrukturisasi hutang merupakan suatu proses untuk merestruktur
hutang bermasalah dengan tujuan untuk memperbaiki posisi keuangan
debitur, (Darmadji, 2001:69). Menurut IAI dalam PSAK No.54 (1999:1),
restrukturisasi

hutang

bermasalah

terjadi

jika

berdasarkan

pertimbangan ekonomi atau hukum, kreditur memberikan konsesi


khusus kepada debitur yaitu konsesi yang tidak akan diberikan dalam
keadaan tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. Konsesi ini
dapat berasal dari perjanjian antara kreditur dan debitur, atau dari
keputusan pengadilan, atau dari peraturan hukum. Restrukturisasi
hutang bermasalah dapat terjadi sebelum, pada, atau sesudah tanggal
jatuh tempo hutang yang tercantum dalam perjanjian, dan akan
terdapat

rentang

waktu

diantara

saat

perjanjian,

keputusan

pengadilan, dan sebagainya. Dengan tanggal efektif persyaratan baru


atau

terjadinya

peristiwa

lain

yang

merupakan

pelaksanaan

restrukturisasi, yang dimaksud dengan ini yaitu tanggal efektif


pelaksanaan merupakan saat restrukturisasi.
2. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) juga akan
meminta persetujuan soal restrukturisasi seluruh utang perseroan
yakni mengkonversi sebagian atau seluruh utang menjadi saham
perseroan. Menurut PSAK No. 54 Restrukturisasi hutang bermasalah
dapat berupa penyelesaian sebagian hutang dengan pengalihan aset
debitur atau pemberian saham (atau keduanya) kepada kreditur dan
modifikasi persyaratan hutang yang masih tersisa.
3. Berdasarkan investigasi yang dilakukan, Bapepam telah menemukan
adanya:
a) Overstatement atas penyajian akun penjualan dan piutang
dalam Laporan Keuangan PT. Great River Inetrnational Tbk
per 31 Desember 2003; dan

26

b) Penambahan aktiva tetap perseroan, khususnya yang


terkait dengan penggunaan dana hasil emisi obligasi, yang
tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Sehingga perusahaan tekstil tersebut mengalami kelebihan
pendapatan (overstatement) yang seharusnya justru merugi.
4. Overstatement dalam arti lain penggelembungan atas penyajian akun
penjualan dan piutang dalam Laporan Keuangan PT. Great River
Inetrnational Tbk per 31 Desember 2003 telah diakukan dalam
pencatatan

akuntasi

yang

berbeda

dengan

ketentuan

yang

mengakibatkan perusahaan tidak mampu membayar hutang Rp. 250


miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar obligasi senilai 300
miliar. PT. Great River International Tbk, jelas melakukan pelanggaran
terhadap laporan keuangan konsolidasinya. Sesuai dengan PSAK No.4
menyebutkan

Laporan

keuangan

menggunakan

kebijakan

akuntansi

konsolidasi
yang

sama

disusun
untuk

dengan
transaksi,

peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis. Apabila tidak mungkin
digunakan kebijakan akuntansi yang sama dalam menyusun laporan
keuangan konsolidasi, maka harus diungkapkan penggunaan kebijakan
akuntansi yang berbeda tersebut dan proporsi unsur yang terkait
dengan kebijakan akuntansi tersebut terhadap unsur sejenis dalam
laporan keuangan konsolidasi.
5. Pembekuan izin oleh Menkeu ini merupakan tindak lanjut atas Surat
Keputusan Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BPPAP) Nomor
002/VI/SK-BPPAP/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang membekukan
Justinus dari keanggotaan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen
Akuntan Publik (IAI-KAP). Hal ini sesuai dengan Keputusan Menkeu
Nomor 423/KMK.06/2006 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menkeu Nomor 359/KMK.06/2003 yang
menyatakan bahwa Akuntan Publik dikenakan sanksi pembekuan izin
apabila

Akuntan

Publik

yang

bersangkutan

pembekuan keanggotaan dari IAI dan atau IAI-KAP.

27

mendapat

sanksi

Kasus PT Great River International, Tbk di atas, yang melibatkan


akuntan publik Justinus Aditya Sidharta, dianggap telah menyalahi
aturan mengenai kode etik profesi akuntan, terutama yang berkaitan
dengan integritas dan objektivitas. Akuntan publik Justinus Aditya
Sidharta dianggap telah melakukan tindak kebohongan publik,
dimana dia tidak melaporkan kondisi keuangan PT Great River
International, Tbk secara jujur.
Menurut pengertiannya, integritas dapat berarti kepatuhan
terhadap nilai-nilai moral, prinsip-prinsip, serta nilai-nilai lainnya yang
terdapat dalam masyarakat pada umumnya. Pelanggaran integritas
berarti seseorang telah melanggar aturan-aturan yang telah disepakati
secara umum. Sedangkan objektivitas merupakan pernyataan jujur dan
apa adanya terhadap suatu hal. Pelanggaran objektivitas menunjukkan
bahwa seseorang telah berani melakukan tindak kebohongan /
kecurangan dalam melakukan suatu hal. Kedua nilai ini, bersama
dengan independensi, merupakan nilai dasar yang harus
dimiliki oleh seorang akuntan publik agar seorang akuntan
publik dapat menghasilkan suatu laporan yang sifatnya akurat
dan dapat dipercaya. Tanpa adanya nilai-nilai dasar tersebut,
seorang akuntan publik tidak ada bedanya dengan seorang penjahat
yang tidak bermoral.
Standar umum kedua (SA seksi 220 dalam SPAP, 2001)
menyebutkan bahwa Dalam semua hal yang berhubungan dengan
perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh
audito. Standar ini mengharuskan bahwa auditor harus bersikap
independen (tidak mudah dipengaruhi), karena ia melaksanakan
pekerjaannya untuk kepentingan umum. Dengan demikian ia tidak
dibenarkan untuk memihak. Auditor harus melaksanakan kewajiban
untuk bersikap jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik
perusahaan, namun juga kepada kreditor dan pihak lain yang
meletakkan kepercayaan atas laporan keuangan audited.
28

Salah satu hal yang ditekankan pasca skandal ini adalah


perlunya etika profesi. Selama ini bukan berarti etika profesi tidak
penting bahkan sejak awal profesi akuntan sudah memiliki dan terus
menerus memperbaiki Kode Etik Professinya baik di USA maupun di
Indonesia. Etika adalah aturan tentang baik dan buruk. Kode etik
mengatur anggotanya dan menjelaskan hal apa yang baik dan tidak
baik dan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai anggota
professi

baik

dalam

berhubungan

dengan

kolega,

langganan,

masyarakat dan pegawai. Kenyataannya konsep etika yang selama ini


dijadikan penopang untuk menegakkan praktik yang sehat yang bebas
dari kecurangan tampaknya tidak cukup kuat menghadapi sifat sifat
selfish dan egois, kerakusan ekonomi yang dimiliki setiap pelaku
pasar modal, dan manajemen yang bermoral rendah yang hanya ingin
mementingkan keuntungan ekonomis pribadinya.
Profesi akuntan publik bisa dikatakan sebagai salah satu profesi
kunci di era globalisasi untuk mewujudkan era transparansi bisnis yang
fair, oleh karena itu kesiapan yang menyangkut profesionalisme
mensyaratkan hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota
profesi yaitu: keahlian, berpengetahuan dan berkarakter. Dalam
kenyataannya, banyak akuntan yang tidak memahami kode etik
profesinya sehingga dalam prakteknya mereka banyak melanggar
kode etik. Hal ini menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan
publik terhadap profesi akuntansi. Kondisi ini diperburuk dengan
adanya perilaku beberapa akuntan yang sengaja melanggar kode etik
profesinya demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.
Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia
diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan
Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan
tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada
akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan
juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga
29

merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan


atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa
yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika
sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi.
KESIMPULAN
Terdapat tiga karakteristik liabilitas menurut FASB yaitu:
1. Pengorbanan manfaat ekonomi masa datang
2. Keharusan sekarang untuk mentransfer asset
3. Timbul akibat transaksi masa lalu
Sedangkan menurut IASB, definisi kewajiban mengandung dua elemen yaitu:
1. Keberadaan kewajiban sekarang, membutuhkan penyerahan di masa
mendatang
2. Hasil dari transaksi masa lampau atau kegiatan lain yang lewat.

Ekuitas didefinisikan sebagai hak residual atas aset perusahaan setelah


dikurangi semua kewajiban. Ekuitas mengandung makna pemilikan. Oleh
karena itu, untuk organisasi nonbisnis ekuitas sering disebut sebagai aset
bersih.

30

DAFTAR PUSTAKA
IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Kieso, Donald E., et all. 2008. Akuntansi Intermediate Jilid 1. Jakarta: Penerbit
Erlangga
Godfrey, Jayne, Allan Hodgson, Ann Tarca, Jane Hamilton, and Scott Holmes.
2010, Accounting Theory, 7th., Australia: John Wiley & Sons, Inc.
Suwardjono. 2010, Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi
ketiga, BPFE.

31