Anda di halaman 1dari 14

16

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil

4.1.1. Manajemen Pembenihan Clown Fish


a.

Media Pemeliharaan Induk


Pemeliharaan induk, pemijahan, dan pengeraman telur clown fish dipelihara

dalam wadah akuarium berukuran 50 x 50 x 40 cm3, berkapasitas 100 liter. Akuarium


dilengkapi dengan perangkat aerasi yang berasal dari blower. Sistem resirkulasi air
terdapat inlet dan outlet, pada akuarium juga diberi substrat berupa cobek yang
digunakan untuk menempelnya telur.
b.

Seleksi Induk
Induk clown fish yang dibudidayakan di BBPBL Lampung berasal dari

pemijahan di balai tersebut. Jumlah indukan clown fish yang dipelihara di


laboratorium basah sebanyak 10 pasang dalam akuarium berkapasitas 100 liter, setiap
akuarium digunakan untuk memelihara sepasang indukan. Seleksi induk pada proses
pembenihan clown fish merupakan tahapan perjodohan pada calon induk yang telah
berumur 6-12 bulan. Clown fish yang telah merasa cocok dengan pasangannya akan
berenang secara beriringan. Induk yang telah berpasangan kemudian diangkat dan
dimasukkan kedalam akuarium pemijahan.
c.

Pemberian Pakan
Feeding frequency induk clown fish yaitu 2 kali dalam sehari. Pemberian

pakan pertama pada pukul 08.00 sampai dengan 11.00 dan pemberian pakan kedua

17

diberikan pada kisaran pukul 14.00 sampai dengan 15.30. Pemberian pakan dilakukan
secara adlibitum. Selama pemeliharaan induk Amphiprion ocellaris diberikan pakan
pellet, udang rebon, dan cacing darah. Pakan formula lebih dahulu diberikan
kemudian dilanjutkan dengan memberikan udang rebon atau cacing darah, sedangkan
untuk pakan larva, pakan yang diberikan sesuai dengan bukaan mulut larva.
Jadwal pemberian pakan untuk larva clown fish disajikan dalam tabel dibawah
ini :
Tabel 3. Manajemen Pemberian Pakan pada Larva Amphiprion ocellaris
Jenis
Pakan
Fitoplankton

Rotifera
Artemia
Pellet

Umur Larva (hari)


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

18

4.1.2. Variabel Reproduksi, Pertumbuhan, dan SR Clown Fish


a.

Pertumbuhan Larva Clown Fish


Pertumbuhan larva clown fish disajikan pada tabel dibawah ini :

Tabel 4. Pertumbuhan Larva Amphiprion ocellaris


Umur Larva (hari)
Panjang (mm)
1
3
5
4
10
6
15
8
20
10
b.

Deskripsi Warna Larva Clown Fish


Deskripsi Warna larva clown fish disajikan pada tabel dibawah ini :

Tabel 5. Performa Larva Clown Fish (Amphiprion ocellaris)


Pengamatan
Umur (hari)
Performa
1
0
Hitam transparan
2
5
Hitam pekat
Warna orange dan sudah terdapat garis putih di
3
10
bagian kepala
Warna orange dan sudah terdapat garis putih
4
15
kedua di bagian tengah badan
Warna orange dan sudah terdapat garis putih
5
20
ketiga di pangkal ekor, namun ekor masih
berwarna transparan

19

c.

Kualitas Air
Kualitas air pada media pemeliharaan clown fish disajikan pada tabel dibawah

ini :
Tabel 6. Perbadingan Kualitas Air Selama Pemeliharaan Larva Clown Fish dengan
Nilai Juknis
Kisaran Nilai Juknis Budidaya
No
Parameter
Kisaran Nilai
Laut *)
1. Salinitas (ppt)
32-33
30-34
2. Suhu (oC)
26,2-27,3
26,5-29,5
3. DO (ppm)
4,2-5,32
4,0-5,0
4. pH
7,98-8,4
7,6-8,5
5. NO2 (mg/l)
0,06-0,07
< 0,05
6. NH3 (mg/l)
0,125-0,21
< 0,3
*) Sumber : Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor 51 Tahun 2004

4.2.

Pembahasan

4.2.1. Manajemen Pembenihan Clown Fish


a.

Media Pemeliharaan Induk


Media pemeliharaan induk clown fish di BBPBL Lampung ini dilakukan di

dalam wadah akuarium berukuran 50 x 50 x 40 cm3, berkapasitas 100 liter. Akuarium


dilengkapi dengan perangkat aerasi yang berasal dari blower. Sistem resirkulasi air
terdapat inlet dan outlet, pada akuarium juga diberi substrat berupa cobek yang
digunakan untuk menempelnya telur. Menurut Ari et al. (2009), induk clown fish
yang produktif maupun pemula agar cepat memijah maka perlu adanya penambahan
anemon (Hiteractis sp.) sebagai tempat perlindungan, dan substrat yang terbuat dari
genteng sebagai tempat melekatkan telurnya.

20

Kualitas air yang baik berperan dalam pemeliharaan induk Amphiprion


ocellaris yang akan produksi agar terhindar dari hama dan penyakit ikan. Air yang
digunakan adalah air laut yang disedot 300 m dari bibir pantai dan ditampung dalam
tandon yang sebelumnya telah di filter. Tujuan dari filtering air yaitu sebagai
antisipasi untuk mengurangi sedimentasi dengan filter yang terdiri dari karbon aktif,
kain kasa, dan batu-batuan. Induk Amphiprion ocellaris dipelihara dengan
menggunakan sistem air mengalir agar kualitas air tetap terjaga. Penyiponan kotoran
dan sisa pakan dilakukan 2 kali dalam sehari, setelah itu air diganti baru dengan cara
membuka saluran outlet. Menurut Setiawati dan Daniar (2007), para penggemar ikan
hias di akuarium biasanya menggunakan karang mati maupun karang jae sebagai
bahan penyaringan air laut atau sebagai filter pada media pemeliharaan. Pemeliharaan
ikan dengan sistem air mengalir dan resirkulasi dapat menunjang kehidupan
Clownfish hingga 63% daripada sistem semi statis.
b.

Seleksi Induk
Induk clown fish yang dibudidayakan di BBPBL Lampung berasal dari

pemijahan di balai tersebut. Jumlah indukan clown fish yang dipelihara di


laboratorium basah sebanyak 10 pasang dalam akuarium berkapasitas 100 liter, setiap
akuarium digunakan untuk memelihara sepasang indukan. Seleksi induk pada proses
pembenihan clown fish merupakan tahapan perjodohan pada calon induk yang telah
berumur 6-12 bulan. Clown fish yang telah merasa cocok dengan pasangannya akan
berenang secara beriringan. Induk yang telah berpasangan kemudian diangkat dan
dimasukkan kedalam akuarium pemijahan. Menurut Ari et al. (2009), perjodohan
dilakukan pada akuarium kaca dengan satu tanaman Heteractis sp. dengan kepadatan

21

5 ekor dalam 100 liter air. Calon induk yang digunakan dalam kondisi sehat, tidak
cacat, performa bagus, dan ukuran memenuhi standar yaitu 4-6 cm (Ari et al, 2009).
Induk jantan dan betina dapat dibedakan dari ukuran tubuhnya. Induk betina
lebih besar dibandingkan dengan induk jantan. Kisaran panjang induk betina yang
ada di BBPBL Lampung ini antara 6.5-8.0 cm, sedangkan kisaran panjang induk
jantan 4.5-5.5 cm. Menurut Setiawati et al. (2012), ciri-ciri induk betina yang akan
memijah yaitu perutnya membesar, lubang urogenitalnya menonjol berwarna merah,
yang kemudian berubah menjadi putih, dan induk jantan agresif mengejar induk
betina. Kisaran panjang betina 6.6-8.5 cm dan untuk induk jantan kisaran panjangnya
4.8-5.4 cm.
c.

Pemberian Pakan
Feeding frequency induk clown fish yaitu 2 kali dalam sehari. Pemberian

pakan pertama pada pukul 08.00 sampai dengan 11.00 dan pemberian pakan kedua
diberikan pada kisaran pukul 14.00 sampai dengan 15.30. Feeding frequency di
BBPBL Lampung ini termasuk dalam kategori baik. Menurut Kusumawati dan
Setiawati (2010), Pemberian pakan sebaiknya dilakukan secara adlibitum, dengan
frekuensi 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari agar kebutuhan nutrisi ikan
tercukupi. Selama pemeliharaan induk Amphiprion ocellaris diberikan pakan pellet,
udang rebon, dan cacing darah. Pakan formula lebih dahulu diberikan kemudian
dilanjutkan dengan memberikan udang rebon atau cacing darah. Menurut
Kusumawati dan Setiawati (2010), pemberian pakan pada clown fish dapat
divariasikan dengan pakan tambahan yang berupa udang. Pengayaan pellet dengan

22

HUFA (High Unsaturated Fatty Acid) memberikan pengaruh yang baik dalam hal
daya tetas dan sintasan pada induk clown fish.
Pakan formula yang diberikan adalah bentuk pellet dengan cara dibasahkan
terlebih dahulu agar pakan tenggelam. Pakan alami yang diberikan untuk larva adalah
Rotifer, Artemia, dan Diaphanosoma, sedangkan pakan alami yang diberikan untuk
benih adalah Artemia, Diaphanosoma, cacing darah, dan jentik nyamuk. Menurut
Chumaidi dan Priyadi (2009), pakan alami mengandung asam amino bebas yang
dibutuhkan larva untuk pertumbuhan. Sumber energi utama bagi ikan laut untuk
pertumbuhan larva juga berasal dari pakan alami.
d.

Pemijahan
Pemijahan clown fish dilakukan secara alami tanpa adanya perlakuan khusus

atau pemberian hormon matang gonad. Sehari sebelum memijah, induk terlihat
membersihkan sarangnya. Pemijahan dilakukan dengan induk jantan terlihat
merangsang induk betina untuk mengeluarkan telur dengan cara meliukkan badannya
seperti melakukan tarian pemijahan dan saling berkejaran. Kedua induk akan lebih
aktif melakukan pembersihan cawan untuk tempat meletakkan telur. Induk betina
yang akan memijah dapat dilihat dari perutnya yang membuncit sedangkan induk
jantan agresif mengejar induk betina. Pemijahan ikan nemo terjadi secara eksternal
yaitu induk betina akan menempelkan telurnya pada substrat genteng lalu induk
jantan akan mengikuti dari belakang dan menyemprotkan spermanya. Induk betina
akan menggetarkan tubuhnya sambil menggoyangkan siripnya dan menempelkan
perutnya ke substrat genteng saat akan mengeluarkan telurnya. Telur tersebut melekat
pada substrat dan telur yang dibuahi ditata dengan rapi sehingga akan tersusun

23

berbentuk lingkaran. Menurut Ari dkk. (2009), pemijahan Amphiprion ocellaris


terjadi pada siang hari sekitar pukul 12.0014.30, induk betina akan meletakkan
telurnya secara bertahap disekitar tanaman anemon, selanjutnya induk jantan akan
berenang mengikuti induk betina, sambil melakukan pembuahan. Selama proses
pemijahan yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut, dianjurkan tidak melakukan
aktivitas apapun didalam akuarium dan sekitarnya. Pemijahan induk Amphiprion
ocellaris terjadi sepanjang tahun dalam satu bulan terjadi 3 kali pemijahan.
Jumlah telur yang dihasilkan pada pemijahan minggu pertama yaitu 572 butir,
sedangkan jumlah telur yang menetas sekitar 565 butir, sehingga diperoleh HR
sebesar 98.7%. Nilai HR di BBPBL Lampung ini termasuk dalam kategori baik, hal
ini sesuai dengan pendapat Wahyuni dan Jatmiko (2009), jumlah telur yang
dihasilkan Amphiprion ocellaris berkisar 100-600 butir/siklus pemijahan dan
hamparan telur yang baru dibuahi hari pertama sampai hari kedua berwarna putih,
pada hari ketiga mulai kehitaman, dan pada hari ketujuh terlihat ada titik melatik pada
ujung telur, itu adalah bintik mata, sedangkan produksi larva yang dihasilkan berkisar
300-500 ekor/siklus pemijahan.
e.

Penetasan Telur
Penetasan telur clown fish di BBPBL Lampung dilakukan dalam akuarium

pemijahan bersama dengan induk. Induk menyembulkan mulutnya dan mengibaskan


siripnya ke arah telur selama perawatan. Menurut Wahyuni dan Jatmiko (2009),
clown fish bersifat parental care yaitu merawat telurnya hingga menetas. Masa
perawatan telur selama 7-8 hari yang dilakukan oleh kedua induk. Telur menetas
kurang lebih selama 1 hari setelah masa pengeraman, dengan suhu media berkisar

24

26.5-28oC. Telur akan menetas pada malam hari sekitar pukul 21.00 hingga pagi hari
sekitar pukul 08.00.
Hasil selama praktek kerja lapangan yang telah dilakukan, jumlah telur yang
dihasilkan oleh sepasang induk dengan kode akuarium IOC1 (F1) sebanyak 572
butir, namun dari 572 butir tersebut yang menetas 565 ekor sehingga nilai HR 98%.
Nilai ini terbilang tinggi, karena menurut Setiawati dan Daniar (2007), Daya tetas
atau hatching rate dari telur clown fish berkisar antara 78.49%-98.9%. Hal ini diduga
karena dalam wadah pemeliharaan ditunjang oleh kualitas air yang sesuai dengan
kisaran untuk pemijahan clown fish, selain itu pemberian pakan yang mengandung
nutrisi yang dapat mencukupi kebutuhan nutrisi induk.
f.

Pemeliharaan Larva
(1) Persiapan wadah pemeliharaan larva
Sebelum larva diletakkan ke dalam bak pemeliharaan, perlu dilakukan

persiapan wadah. Kegiatan persiapan wadah meliputi pencucian bak, pembilasan,


pemberian kaporit, pengeringan, dan pengisian air. Proses pembersihan bak dilakukan
dengan cara mengelap dinding dan dasar bak dengan tujuan membersihkan lumut dan
kotoran yang menempel bak fiber tersebut. Setelah proses pencucian dilanjutkan
pembilasan dengan air laut. Kemudian dilanjutkan dengan proses sterilisasi wadah
dengan menggunakan kaporit yang dilarutkan dalam air dengan dosis 5-10 Mg/L
kemudian disiramkan pada bagian dinding dan dasar bak. Setelah diberikan kaporit
maka didiamkan selama 1 hari kemudian dibilas kembali dengan air tawar hingga
bersih.

25

(2) Pemanenan larva


Setelah telur menetas secepat mungkin dilakukan pemanenan larva dengan
menggunakan metode sipon. Cara pemanenannya dengan mengisi air sebanyak
dari volume ember, selang sipon yang digunakan berdiameter inchi dengan panjang
2 meter yang diikat pada kayu untuk memudahkan penyiponan. Larva dimasukkan ke
dalam ember melalui selang sipon dan dihitung jumlahnya. Larva ditebar ke dalam
bak fiber yang telah disiapkan lengkap dengan aerasi. Sebelum larva ditebar
dilakukan aklimatisasi, hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya stres pada larva
yang dapat menyebabkan kematian. Menurut Dhea (2010), apabila terdapat sisa telur
yang belum menetas saat pemanenan larva maka sisa telur tersebut akan dimakan
oleh induk jantan, hal ini karena induk stres pada saat dilakukan pemanenan larva
berlangsung.
(3) Pemberian pakan
Pakan yang diberikan pada larva cukup bervariasi tergantung umur dan
disesuaikan dengan bukaan mulutnya. Jenis pakan yang diberikan adalah pakan hidup
dan pakan buatan. Pakan hidup berupa rotifera, artemia, dan nannocloropsis. Pakan
hidup tersebut ditunjang dengan pemberian fitoplankton sebagai pakan rotifer,
sebagai stabilisator kualitas air dan mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke
dalam bak larva karena larva ikan nemo akan mudah stress pada suasana yang terlalu
terang. Menurut Rohaniawan (2007), pakan yang baik mempunyai kandungan
protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan
nutrisi ikan.

26

Hari pertama menetas (D1) larva langsung diberi paka rotifer sampai D14,
selain itu juga diberi pakan fitoplankton yang berfungsi sebagai makanan bagi rotifer
yang tidak termakan oleh larva dan sebagai grend water system sehingga air tampak
biru sebagaimana suasana aslinya di alam. Menurut Chumaidi dan Priyadi (2009),
pakan alami atau pakan hidup yang diperkaya dapat meningkatkan sintasan dan
pertumbuhan larva. Larva yang baru menetas memiliki cadangan telur dan butiran
minyak yang akan terserap habis pada umur 2 hari.
Larva pada usia D8 sudah diajarkan untuk mengkonsumsi artemia dan pellet
jenis love larva nomor 2 serta pada hari ke-15 larva sudah diberikan pakan artemia
dan pellet secara total, sehingga rotifer dan fitoplankton tidak lagi diberikan. Menurut
Rohaniawan (2007), pemberian pakan disesuaikan dengan perkembangan organ dan
fisiologi tubuh larva, bukaan mulut, dan kecernaan larva.
(4) Perkembangan larva
Telur yang dipijahkan akan menetas setelah diinkubasi selama 7-8 hari dengan
rata-rata panjang awal larva 0.3 cm. Awal penetasan larva Amphiprion ocellaris akan
berwarna putih kehitaman, berbeda dengan Amphiprion percula yang berwarna
orange muda. Perkembangan warna dimulai dari usia 10-12 hari dengan terlihatnya
motif garis putih pertama yang muncul pada bagian kepala. Motif garis putih kedua
akan muncul di bagian badan pada usia 15-17 hari. Motif garis putih ketiga akan
muncul dibagian pangkal ekor pada umur 20 hari. Menurut Ari et al. (2007), setelah
berusia lebih dari 70 hari clown fish akan terlihat sempurna dengan warna orange dan
dihiasi 3 garis putih yang melingkar dibagian kepala, badan, dan ekornya, namun
sirip dan ekor masih terlihat transparan.

27

Pada tabel 4 menunjukkan bahwa larva terus bertambah panjang seiring


dengan bertambahnya umur pemeliharaan, dapat dilihat bahwa selama selang waktu 5
hari larva clown fish bertambah panjang sebesar 2 mm. Perkembangan panjang
larva ini termasuk dalam kategori sangat baik, karena menurut Kusumawati dan
Setiawati (2010), laju pertumbuhan panjang clown fish relatif lambat yaitu hanya
sekitar 1.6%/hari.
g.

Grading dan Pemanenan


Grading yang dilakukan selama pemeliharaan Amphiprion ocellaris meliputi

grading warna, grading ukuran, grading jenis, dan grading penyakit. Grading warna
dilakukan untuk mendapatkan ikan yang memiliki corak warna menarik untuk dijual
atau calon induk. Grading ukuran dilakukan untuk mendapatkan ukuran yang
seragam. Grading jenis dilakukan apabila bak pemeliharaan dicampur dengan spesies
lain dan pada umur 20 hari telah tampak perbedaan dari tiap spesiesnya, sedangkan
grading penyakit dilakukan untuk memisahkan ikan yang terserang penyakit dengan
ikan yang sehat, hal ini dilakukan untuk menghindari penularan penyakit yang
beresiko kematian ikan secara masal. Menurut Panjaitan (2004), grading adalah suatu
kegiatan dalam budidaya ikan dalam hal pemilahan yang sesuai dengan karakterisasi
tiap individu agar seragam.

4.2.2. Analisis Kegiatan Pembenihan Clown Fish di BBPBL Lampung


a.

Fekunditas
Hasil selama praktek kerja lapangan yang telah dilakukan, jumlah telur yang

dihasilkan oleh sepasang induk dengan kode akuarium IOC1 (F1) sebanyak 572

28

butir. Jumlah diatas termasuk dalam kategori baik, hal ini diduga karena kualitas
indukan yang baik dan pengaruh dari nutrisi deposit yang cukup, sehingga
menghasilkan telur dengan kualitas dan kuantitas yang baik pula. Menurut Wahyuni
dan Jatmiko (2009), jumlah telur yang dihasilkan Amphiprion ocellaris berkisar 100600 butir/siklus pemijahan dan hamparan telur yang baru dibuahi hari pertama sampai
hari kedua berwarna putih, pada hari ketiga mulai kehitaman, dan pada hari ketujuh
terlihat ada titik melatik pada ujung telur, itu adalah bintik mata, sedangkan produksi
larva yang dihasilkan berkisar 300-500 ekor/siklus pemijahan.
b.

Fertilitation Rate
Fertilitation rate selama kegiatan Praktek Kerja Lapangan di BBPBL

Lampung sebesar 100%. Hal ini membuktikan bahwa nilai fertilitation rate clown
fish sangat bagus, karena semua telur terbuahi. Fertilitation rate ini dipengaruhi oleh
kualitas induk dan kualitas pakan induk, serta kondisi lingkungan pemeliharaan yang
sesuai. Menurut Setiawati dan Daniar (2007), hampir seluruh telur clown fish pada
umumnya terbuahi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah
kualitas pakan induk.
c.

Hatching Rate
Hatching rate clown fish selama pemeliharaan yaitu sebesar 98.7%. Angka

tersebut menunjukkan bahwa di BBPBL Lampung memiliki nilai hatching rate yang
baik. Nilai hatching rate ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan, misalnya kualitas air
dan media pemeliharaan. Menurut Setiawati dan Sembiring (2005), telur dan larva
yang dihasilkan oleh pasangan induk yang baru belajar memijah jumlahnya sedikit,
namun seiring bertambahnya ukuran induk dan perbaikan nutrisi, maka jumlah telur

29

dan larva akan bertambah banyak. Daya tetas atau hatching rate rata-rata dari telur
clown fish berkisar antara 78.49%-98.9%.
d.

Survival Rate
Survival rate hingga larva umur 20 hari yaitu sebesar 78%. Hasil tersebut

kurang baik, diduga disebabkan oleh kualitas air dalam wadah pemeliharaan larva
yang tidak pernah mengalami pergantian, sehingga terjadi penumpukan sisa pakan
pada dasar kolam. Menurut Ari et al (2007), survival rate clown fish bisa mencapai
90% apabila dalam pemeliharaan larva keadaan

lingkungan optimal dan nutrisi

pakan sesuai dengan kebutuhan larva.


e.

Pertumbuhan
Pertumbuhan mutlak clown fish hingga larva umur 20 hari yaitu 7 mm.

Pertumbuhan ini termasuk dalam kategori baik, hal ini karena pemberian pakan yang
dilakukan 2 kali sehari secara adlibitum yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan
nutrisi larva. Menurut Kusumawati dan Setiawati (2010), laju pertumbuhan clown
fish relative lambat yaitu sekitar 1.6%/hari.
Berdasarkan ke-5 variabel pengamatan diatas, dapat dilihat bahwa manajemen
pembenihan clown fish

di BBPBL Lampung mengalami permasalahan pada

kelulushidupan larva umur 20 hari. Hal ini diduga disebabkan pengelolaan kualitas
air yang kurang optimal dalam wadah pemeliharaan, sehingga terjadi penumpukan
sisa pakan yang menyebabkan kondisi lingkungan kurang optimal.