Anda di halaman 1dari 8

Padi, Arang, dan

Hutan yang Lebat



Tibo, Kiki, Ibu dan Ayah serta
Padi sedang berlibur! Waktu itu musim
panas, dan adik Ibu, Paman Ben,
mengundang mereka untuk menginap di
peternakannya, di pedesaan.

Kiki dan Tibo senang sekali
membantu Paman Ben dengan pekerjaan
di rumah. Mereka memerah sapi dan
sambil bermain, mengumpulkan telur dari
kandang ayam, siapa yang paling banyak
mengumpulkan telur.

Hari ini hari istimewa: Anjing jenis
labrador milik Paman Ben melahirkan,
dan sekarang anak-anak anjing itu sudah
cukup besar hingga bisa dijual.


Ayah, bolehkah kita memelihara
seekor anak anjing? tanya Kiki,
mengamati anak anjing yang Ayah
letakan di kotak.

Bagaimana dengan Padi? tanya
Ayah.

Padi kan punya Tibo, kata Kiki
sambil mengelus-elus anak anjing imut
yang berwarna hitam.

Ayah dan Ibu saling berpandangan
kemudian tersenyum. Baiklah,

Ibu menyetujui. Tetapi kamu harus
merawatnya dengan baik dan jangan
membiarkannya pergi ke hutan. Ia masih
kecil dan mudah tersesat.

Kiki segera memilih salah seekor
anak anjing itu dan menamakannya
Arang. Ia hitam seperti arang.

Aku akan merawat Arang dengan
baik! kata Kiki.

Dan aku juga bisa membantu, Tibo
menambahkan.


Ayah dan Paman Ben pergi ke kota
kecil, tak jauh dari situ untuk mencari
orang yang mau merawat anak-anak
anjing yang lainnya. Kiki dan Tibo bergegas menyelesaikan pekerjaan di rumah.
Setelah selesai, mereka boleh bermainmain dengan anak anjing yang baru itu di
luar.

Setelah menyelesaikan tugas,
Ibu memberi izin untuk bermain di
luar. Sewaktu lonceng makan malam
berbunyi, kalian harus pulang.

Dengan hati-hati Kiki menggendong
Arang. Tibo dan Padi mengikutinya.

Mereka melewati kandang ayam,
kandang domba, kandang kuda dan ke
tepian peternakan Paman Ben.

Mereka bermain-main dengan
Arang, melemparkan ranting kayu dan
mengajarkannya untuk membawa
ranting itu kembali supaya mereka bisa
melemparkannya lagi. Padi mengejar dan
berguling-guling bermain dengan Arang
juga. Kiki membawakan makanan kecil
untuk kedua ekor anjing itu.


Tanpa terasa waktu berjalan
dengan cepat dan mereka mendengar Ibu
membunyikan lonceng dari serambi. Ibu
bilang kita harus pulang sewaktu lonceng
berbunyi, kata Kiki.

Aduh. Kita baru saja mulai
bermain, kata Tibo.

Baiklah, mari kita bermain
beberapa menit lagi, Kiki menjawab
sambil mengambil ranting dan
melemparkannya sejauh mungkin. Arang
berlari mengejar ranting. Tetapi bukannya
mengambil dan membawanya kembali,
ia berlari ke dalam hutan dan tidak
berhenti. Kiki berseru agar Arang berhenti.
Tibo mengejar hingga tiba di tepi hutan.
Ia tidak dapat melihat Arang di manamana. Padi menyalak ke arah hutan yang
gelap itu.


Tibo mulai berlari lagi, ketika Kiki,
yang teringat apa kata Ayah tentang
hutan yang berbahaya, berseru, Jangan,
Tibo! Jangan mengikuti Arang ke hutan!

Tibo berjalan sedikit lebih jauh,
kemudian kembali lagi. Arang tidak
terlihat.

Harusnya kita pulang begitu
mendengar lonceng berbunyi, kata Kiki
dengan sedih.

Mereka menunggu dan melihat
lagi beberapa menit, tetapi Arang tidak
terlihat. Dengan sedih mereka pulang ke
rumah di mana Ibu sedang menantikan
mereka.

Dengan mata berkaca-kaca Kiki
menjelaskan bahwa Arang berlari
ke hutan dan tidak kembali. Mereka
menyesal tidak segera pulang ketika
waktunya sudah tiba.


Ketika sedang bersantap malam,
mereka mendengar bunyi gemuruh. Tak
lama kemudian hujan terlihat di jendela.

Sebelum pergi tidur malam itu, Kiki
berdoa, Tuhan Yesus, tolong menjaga
Arang. Tolonglah agar dia bisa pulang ke
rumah.

Amin, bisik Tibo.

Keesokan paginya, ayam jantan
berkokok, dan Tibo dan Kiki membantu
Paman Ben memerah sapi serta
mengumpulkan telur ayam. Tetapi kali
ini mereka tidak berlari dan bermainmain seperti biasanya. Bahkan Padi, yang
biasanya jenaka, kini pendiam.


Tibo dan Kiki memikirkan Arang yang
berada di hutan, dan hujan serta bagaimana
lain kali mereka akan segera mematuhi
apabila Ibu menyuruh mereka berbuat
sesuatu. Kemudian mereka mendengar Padi
membuat keonaran di kandang ayam.

Padi harusnya lebih tahu untuk
tidak mengganggu ayam-ayam itu, Kiki
berbicara sendiri sambil berjalan untuk
mencari tahu apa yang tengah terjadi.
Mengikuti suara Padi yang terdengar
gembira di sudut kandang ayam, Kiki
melihat ke bawah dan ada Arang di situ!
Ia terlihat basah, dingin, dan kotor, tetapi dia
hidup dan tidak terluka.

Arang pulang! seru Kiki kepada Tibo.
Arang sudah pulang!


Kiki mengangkat anak anjing itu dan
memeluknya erat-erat.

Tibo bergabung dengannya begitu
pula Ayah dan Ibu serta Paman Ben.

Yesus menjawab doa kita, kata
Tibo, sambil menepuk-nepuk kepala
Arang.

Kiki senang sekali. Dan sejak saat itu
apabila Ibu meminta agar Kiki dan Tibo
masuk ke rumah untuk makan malam,
Kiki, Tibo, Arang dan Padi saling berlomba
untuk tiba di rumah lebih dulu.

Selesai

Adapted by Aaliyah Smith, based on a story by Jess. Illustrations by Alvi. Design by Stefan Merour.
Published by My Wonder Studio. Copyright 2013 by The Family International