Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Distribusi adalah suatu proses penyampaian barang atau jasa dari produsen ke
konsumen dan para pemakai barang, sewaktu dan dimana barang atau jasa tersebut
diperlukan. Proses distribusi tersebut pada dasarnya menciptakan faedah waktu,
tempat, dan pengalihan hak milik. Saluran distribusi adalah serangkaian organisasi
yang saling tergantung dan terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu barang atau
jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi. Sistem distribusi yang baik akan
menjamin produk sampai ke konsumen lebih cepat sehingga mengurangi resiko
kerugian.
Penyajian makanan merupakan salah satu prinsip dari hygiene dan sanitasi
makanan. Penyajian makanan yang tidak baik tidak hanya dapat mengurangi selera
makan seseorang tapi dapat juga menjadi penyebab kontaminasi terhadap bakteri.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyajian makanan sesuai dengan
prisip hygiene dan sanitasi makanan akan kami bahas lebih lengkap pada tulisan kami
ini. Karena pentingnya peran distribusi dan penyajian makanan dalam berbagai
bidang industri maka dibutuhkan suatu prosedur yang digunakan sebagai acuan atau
nilai standar dalam kegiatan distribusi dan penyediaan bahan makanan yang akan
kami dibahas dalam tulisan ini.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah kami adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan distribusi makanan ?
2. Apa yang dimaksud dengan penyajian makanan ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat memahami apa yang dimaksud dengan distribusi makanan
2. Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan penyajian makanan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Distribusi Makanan
Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan sebagai kegiatan
pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan
jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang
diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan). Dengan kata lain,
proses distribusi merupakan aktivitas pemasaran yang mampu:
1. Menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi pemasaran yang dapat
merealisasikan kegunaan atau utilitas bentuk, tempat, waktu, dan kepemilikan.
2. Memperlancar arus saluran pemasaran (marketing channel flow) secara fisik
dan non-fisik. Yang dimaksud dengan arus pemasaran adalah aliran kegiatan
yang terjadi di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat di dalam
proses pemasaran. Arus pemasaran tersebut meliputi arus barang fisik, arus
kepemilikan, arus informasi, arus promosi, arus negosiasi, arus pembayaran,
arus pendanaan, arus penanggungan risiko, dan arus pemesanan.
Dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas distribusi, perusahaan kerap sekali harus
bekerja sama dengan berbagai perantara (middleman) dan saluran distribusi
(distribution channel) untuk menawarkan produknya.
Dalam menetapkan kebutuhan sarana fisik dan perlengkapan instalasi gizi,
salah satu faktor yang turut berperan adalah sistem distribusi dan macam pelayanan
yang ditetapkan institusi. Dengan penetapan sistem distribusi dan pelayanan, berarti
institusi telah pula memperhitungkan keuntungan dan kelemahan system, efisiensi
pekerjaan, kelancaran arus kerja serta keharmonisan dalam pelaksanaan pelayanan
bagi klien. Sistem distribusi ini hanya dibutuhkan bagi institusi yang melayani klien
ditempat-tempat yang cukup besar dibeberapa lokasi.
Dalam menerapkan prosedur distribusi, dikenal dua cara pendistribusian
makanan kepada klien atau konsumen, yaitu sebagai berikut:
1. Cara Sentralisasi
Dengan cara ini maka semua kegiatan pembagian makanan dipusatkan pada
suatu tempat (centralized). Sebelum memilih cara ini manajer atau penanggung jawab
penyediaan makanan sudah harus memperhitungkan konsekuensi yang harus

diadakan seperti luas tempat, peralatan, tenaga, dan kesiapan manajemen yang
menyeluruh. Dengan cara sentralisasi ini memang ada hal-hal yang menguntungkan
seperti:
a. Penghematan bangunan institusi karena hanya dibutuhkan satu tempat yang
cukup luas untuk pendistribusian makanan. Di tempat atau lokasi maka hanya
diperlukan dapur kecil yang sifatnya untuk pos pengecekan ulang. Kadang
dapur kecil (pantry) ini juga tidak dibutuhkan, bila pendistribusian langsung ke
klien atau konsumen (pengguanaa bon perjalanan ke lokasi). Penghematan ini
diasumsi sampai 50%.
b. Tidak dibutuhkan alat-alat makan yang berlebihan di pantry dan juga tidak
diperlukan ruang penyimpanan khusus. Alat ini akan langsung kembali ke
sentral pelayanan.
c. Masalah kelebihan makanan atau sisa makanan diruangan akan berkurang.
d. Pengawasan di pusat, pendistribusian dapat lebih intensif, dan lebih teliti,
sehingga pengawas di ruangan/pantry dapat dikurangi.
e. Tidak akan dijumpai suara keributan tenaga, alat ataupun bau makanan ke klien.
f. Makanan dapat langsung ke klien tanpa hambatan berarti, pelayanan cepat
hanya membutuhkan setengah dari cara sentralisasi.
Kelemahan dari pelaksanaan cara ini adalah :
a. Dibutuhkan ruang pendistribusian yang cukup luas untuk peralatan makanan
dan alat makan dalam kegiatan pelaksanaan dan pengawan. Investasi ini
menyangkut juga mengadaan bon belanja langsung ke klien/lokasi pembagian
makanan. Terkadang bon berjalan diganti dengan kereta makan yang di dorong
manusia. Cara ini cukup baik, tetapi kurang menjamin penyampaian makanan
kepada klien.
b. Dibutuhkan pegawai yang terampil dan terlatih untuk mampu bekerja dengan
teliti, cepat, benar dan rapi.
c. Sering ada hambatan atau kesulitan dalam pelaksanaan system bon belanja.
d. Ketidaksesuaian alat makan dan jenis hidangan yang tersedia.
e. Kepuasan klien perorangan sedikit terabaikan.
Walaupun demikian, sistem sentralisasi lebih sesuai untuk institusi besar yang
memiliki tenaga yang terbatas. Yang perlu dipikirkan adalah investasi dan instalasi

peralatan yang tepat, sehingga efisiensi dan efektifitas system ini akan jelas
dirasakan.
2. Cara Desentralisasi
Seperti halnya cara sentralisasi, maka cara pendistribusian desentralisasi juga
diterapkan di institusi yang memiliki ruang makan atau unit-unit pelayanan yang
berbeda pada lokasi yang berbeda. Dengan cara ini maka fokus kegiatan masih tetap
berada di unit pembagian utama, yang kemudian langkah selanjutnya adalah menata
makanan dalam alat-alat makan perorangan yang telah disediakan di pantry atau
dapur ruangan. Sistem ini jelas membutuhkan pantry atau pos pelayanan makan
sementara yang berfungsi untuk menghangatkan kembali makanan, membuat
minuman atau sejenisnya, menyiapkan peralatan makan bersih, menyajikan makanan
sesuai dengan porsi yang ditetapkan, meneliti macam dan jumlah makanan, serta
membawa hidangan kepada klien. Juga menilai kemampuan konsumsi makan klien.
Keuntungan cara desentralisasi adalah :
a. Mutu makanan dapat dipertahankan, karena makanan dihangatkan kembali.
b. Peralatan yang dibutuhkan relatif lebih sedikit dan macam peralatan lebih murah
dibandingkan cara sentralisasi.
Kelemahan cara desentralisasi adalah :
a. Memerlukan tempat distribusi yang luas, baik di unit pelayanan utama ataupun di
pantry, baik untuk perkakas besar, peralatan angkut makanan (dalam jumlah
besar), alat masak kecil di pantry, peralatan makan serta kereta pengangkut
makanan.
b. Kadang kualitas makanan dapat rusak. Pelayanan makanan lebih lambat. Biaya
untuk pantry cukup tinggi..
c. Pengawasan sukar, dan perlu tenaga dalam jumlah yang cukup terutama untuk
diet khusus.
d. Kesulitan menata peralatan makan dan inventarisasinya di pantry.
e. Sering menimbulkan kegaduhan dan bau makanan.
Terkadang di institusi dilakukan kedua sistem tersebut, setalah melakukan
ketetapan khusus. Contohnya : dengan terbatasnya tenaga pengawas di pantry, maka
makanan yang khusus dilakukan dengan cara sentralisasi, makanan biasa

menggunakan cara desentralisasi. Penerapan sistem sentralisasi sering juga tidak


menyeluruh sehingga kegunaannya dan efisiensinya kurang dirasakan.
Contoh Distribusi Makanan di Rumah Sakit
Pendistribusian makanan adalah kegiatan menyalurkan makanan yang telah
diproduksi dan telah diporsikan berdasarkan jumlah dan jenis diet pasien. Tujuan
pendistribusian makanan adalah agar makanan yang telah diproduksi dapat disalurkan
ke pasien dan pegawai.
a. Sistem Distribusi Makanan
Rumah Sakit biasanya menggunakan sistem sentralisasi karena semua
kegiatan produksi hingga pemorsian dilakukan di dapur. Makanan yang telah
diolah oleh juru masak kemudian diporsikan sesuai dengan jenis diet dan
kelas

perawatan.

Sebelum

dan

saat

pendistribusian

dilakukan

pemeriksaan kembali oleh petugas distribusi


agar tidak terjadi kesalahan pemberian makan.
Saat

pemorsian,

petugas

pemorsian

menyesuaikan jenis diet dengan label yang


ada.

Pelabelan

dilakukan

untuk

mengurangi kesalahan dalam pemberian jenis diet dan kegiatan distribusi


kepada pasien.
b. Waktu dan Petugas Distribusi Makan Sore
Waktu distribusi dari makan sore antara pukul 16.30 17.00 dengan dua
orang petugas distribusi. Makan sore memerlukan petugas distibusi yang lebih
banyak agar makanan dapat lebih cepat sampai pada pasien. Dalam hal distribusi
makanan yang menjadi kendala adalah hilangnya pelabelan makanan pasien.
Pelabelan makanan untuk pasien dilakukan agar bagian pemorsian dan distribusi
tidak mengalami kesulitan pada waktu memorsikan makanan dan mendistribusikan
makanan ke pasien.
c. Peralatan Distribusi Makanan

Peralatan distribusi makanan adalah semua peralatan yang dapat membantu


kelancaran kegiatan distribusi. Peralatan yang digunakan untuk mendistribusikan
makan adalah piring, mangkok, gelas, sendok, garpu, plato, nampan dan kereta
dorong (trolley).
B. Penyajian Makanan
Penyajian makanan merupakan suatu cara untuk menyuguhkan makanan kepada
orang atau para tamu untuk di santap secara keseluruhan yang berisikan komposisi
yang di atur dan telah disesuaikan dengan permainan warna yang di susun secara
menarik agar dapat menambah nafsu makan. Penyajian makanan merupakan salah
satu prinsip dari sanitasi dan hygiene makanan. Penyajian makanan yang tidak baik
dan etis bukan saja dapat mengurangi selera makan seseorang tetapi dapat juga
menjadi penyebab kontaminasi terhadap bakteri.
Dalam penyediaan makanan, sudah wajar bila setiap orang yang bekerja
bertujuan untuk mencapai suatu tujuan. Semua fungsi-fungsi seperti pembelian bahan
makanan, penerimaan, penyimpanan, persiapan, pemasakan, penyajian yang
dirancang untuk menyediakan makan yang berkualitas tinggi, memuaskan konsumen,
aman dan harganya layak. Khusus tentang penyajian makanan, bagian ini memberi
arti khusus bagi penapilan makanan. Seni penyajian ini ada beberapa jenis, tergantung
dari asal tempat metode tersebut diperkenalkan, yaitu sebagai berikut :
1. Pelayanan Meja Gaya Amerika
Konsep dasar pelayanan penyajian makanan yaitu menyajikan hidangan pada
piring di dapur. Biasanya ada piring roti, mentega, daun salad (lalap). Bagian kiri
disediakan hidangan cair, tetapi air/jeruk berada di sebelah kanan. Bila ada piring
kotor, langsung harus diangkat.
2. Pelayanan Meja Gaya Prancis
Makanan sebagian sudah disajikan pada piring dan sisanya diperagakan dimuka
tamu. Bagian kanan dari piring diletakkan pisau, sendok sup, dan bagian kiri garpu,
mentega dan pisau mentega, gelas minum disebelah kanan.
3. Pelayanan Menggunakan Baki atau Alat Makan Bersekat

Pada umumnya, pada penyelenggaraan makanan banyak digunakan alat makan


bersekat yang terbuat dari plastic, aluminium ataupun stainleel, dengan kedalaman
yang cukup untuk porsi hidangan yang ditetapkan.
4. Pelayanan Cafetaria
Ada beberapa tipe pelayanan cafetaria. Pelayanan ini biasanya dilakukan di
pabrik, rumah sakit, lembaga penyediaan makanan banyak, sekolah ataupun di pasar
atau tempat umum. Prinsip pelayanan cafetaria ini cukup stabil bertahun-tahun, dan
selalu lebih ditingkatkan pelayanannya.
Prinsip dasar pelayanan adalah menggabungkan fungsi yang sama seperti alat
makan diatur dari sendok garpu, serbet, lalu baki, piring. Kemudian hidangan dimulai
dengan penyegar, sup, hidangan panas, hidangan dingin, minuman panas, dingin,
terakhir makanan penutup, bagian akhir adalah loket pembayaran. Semua jenis
hidangan dalam porsi tertentu dan harga yang pasti, sehingga konsumen dapat
memperhitungkan biaya makanannya.
5. Pelayanan Makan Kapal Terbang.
Ada tiga cara penanganan makanan bagi klien di pesawat terbang. Sistem
pertama adalah penyediaan makanan panas, tepat saat sebelum pesawat terbang
diberangkatkan. Sebelum dikirimkan, makanan harus tetap berada dalam alat
pemanas.

Sistem

kedua

makanan

didinginkan

selama

72

jam

sebelum

diberangkatkan. Kemudian makanan dipanaskan di pesawat terbang sebelum


diberikan pada klien. Sistem ketiga menggunakan makanan beku, makanan ini
dipanaskan sebelum diberikan pada klien.
6. Penyajian makanan melalui kemasan
Dengan cara ini makanan masukkan atau dikemas semuanya dalam satu tempat.
Biasanya kotak karton digunakan sebagai pengemas. Makanan yang dikemas dapat
berupa makanan dan juga berupa makanan selingan.
Teknik Penyajian Makanan Indonesia
Adapun teknik penyajian makanan Indonesia, yaitu sebagai berikut :
1. Tradisional

Lesehan adalah suatu budaya dalam hal menyajikan makanan sambil duduk di
tikar atau lantai. Makanan yang disajikan biasanya di atas meja pendek atau rendah
dengan menu lengkap baik minuman ataupun makanan utama dan dinikmati secara
bersama-sama. Lesehan ini membuat suasana makan menjadi lebih santai, sehingga
perasaan nyaman dapat dinikmati oleh semua orang. Dalam budaya lesehan tata cara
makan yang kaku sering diabaikan sehingga suasananya tidak sekaku saat makan di
meja makan yg menggunakan cuterelies yg lengkap dan makanan yang telah disusun
atau diatur sebelumnya. Budaya lesehan yang sangat terkenal di Indonesia adalah di
daerah, hal ini yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik dari
dalam maupun luar negeri.
Alat yang biasanya digunakan pada saat makan di lesehan ini adalah piring
makan, mangkuk kecil untuk cuci tsngan, gelas minum, piring-piring penyajian
untuk lauk pauk.
2. Modern
a. Prasmanan atau Buffet, merupakan
tata cara makan yang disajikan
secara berurutan dan disajikan
dalam meja besar dengan menu
yang lengkap, mulai dari pembuka
sampai

penutup.

Di

dalam

prasmanan modern Indonesia ini biasanya antara meja penyajian dan tempat
duduk jaraknya agak jauh dan menu yang disajikan tidak sebanyak atau
selengkap sajian internasional. Contoh hidangan yang biasanya ada di buffet
Indonesia adalah nasi, bistik daging, sambal goreng ati, gurame pesmol, sup
atau tekwan (sup palembang), selada padang atau gado-gado, dengan
minuman es doger, aneka buah, pudding.
b. Rijsttafel ("risttafel") merupakan cara penyajian makanan ala raja-raja
Nusantara jaman dulu. Awalnya rijsttafel berkembang di kalangan budaya
keluarga Jawa. Rijstaffel ala Jawa merupakan cara penyajian makanan yang
menyediakan semua lauk-pauk di atas meja. Namun ketika Belanda berada di
Indonesia selama 350 tahun, budaya ini dibawa ke negara tersebut dan ternyata

dapat berkembang lebih pesat di sana. Pada acara-acara khusus, hotel-hotel


mewah menyajikan rijsttafel dalam skala besar dengan cara mereka sendiri. Para
pelayan hotel selalu datang secara
bergantian untuk melayani tamu dengan
berbagai jenis makanan dan setiap
hidangan berisi makanan dari rasa
yang berbeda.
Penyajian Makanan Sesuai Hygine
dan Sanitasi
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyajian makanan sesuai dengan
prinsip hygiene dan sanitasi makanan adalah sebagai berikut:
1. Prinsip wadah artinya setiap jenis makanan ditempatkan dalam wadah terpisah
dan diusahakan tertutup. Tujuannya adalah :
Makanan tidak terkontaminasi silang
Bila satu tercemar yang lain dapat diamankan
2. Memperpanjang masa saji makanan sesuai dengan tingkat kerawanan makanan.
3. Prinsip kadar air artinya penempatan makanan yang mengandung kadar air tinggi
(kuah, susu) baru dicampur pada saat menjelang dihidangkan untuk mencegah
makanan cepat rusak. Makanan yang disiapkan dalam kadar air tinggi (dalam
kuah) lebih mudah menjadi rusak (basi).
4. Prinsip edible part artinya setiap bahan yang disajikan dalam penyajian adalah
merupakan bahan makanan yang dapat dimakan. Hindari pemakaian bahan yang
membahayakan kesehatan seperti steples besi, tusuk gigi atau bunga plastik.
5. Prinsip pemisahan artinya makanan yang tidak ditempatkan dalam wadah seperti
makanan dalam kotak (dus) atau rantang harus dipisahkan setiap jenis makanan
agar tidak saling bercampur. Tujuannya agar tidak terjadi kontaminasi silang.
6. Prinsip panas yaitu setiap penyajian yang disajikan panas, diusahakan tetap
dalam keadaan panas seperti soup, gulai, dan sebagainya. Untuk mengatur suhu
perlu diperhatikan suhu makanan sebelum ditempatkan dalam food warmer harus
masih berada diatas 600 C. Alat terbaik untuk mempertahankan suhu penyajian
adalah dengan bean merry (bak penyaji panas).

7. Prinsip alat bersih artinya setiap peralatan yang digunakan sepeti wadah dan
tutupnya, dus, piring, gelas, mangkuk harus bersih dan dalam kondisi baik.
Bersih artinya sudah dicuci dengan cara yang hygienis. Baik artinya utuh, tidak
rusak atau cacat dan bekas pakai. Tujuannya untuk mencegah penularan penyakit
dan memberikan penampilan yang estetis.
8. Prinsip handling artinya setiap penanganan makanan maupun alat makan tidak
kontak langsung dengan anggota tubuh terutama tangan dan bibir. Tujuannya
adalah mencegah pencemaran dari tubuh.
9. Memberi penampilan yang sopan, baik dan rapi.
Penyajian Makanan di Rumah Sakit
Penyelenggaraan makanan di rumah sakit sangat bergantung dari hygiene dan
sanitasi agar makanan tersebut tidak menjadi sumber penularan penyakit bagi
manusia yang mengkonsumsi makanan tersebut. Pada kegiatan sanitasi makanan
misalnya kebersihan bahan makanan yang diolah sebagai makanan untuk pasien
rawat inap yang ada di rumah sakit.
a. Pengadaan Bahan Makanan
Kesehatan makanan selain ditentukan oleh proses pembuatan dan orang yang
membuat makanan, juga dipengaruhi oleh bahan makanannya sendiri. Dalam
pembuatan makanan dan pada penyelenggaraan makanan pada rumah sakit yang
harus di perhatikan adalah bahan makanan harus dalam kondisi yang baik, tidak
rusak, dan tidak membusuk. Setiap bahan makanan yang mengalami kerusakan,
terutama kerusakan disebabkan mikrobiologis akan memberikan ciri-ciri menurut
jenis bahannya. Meskipun demikian terdapat ciri-ciri umum yang mencirikan
perubahan komponen utama penyusun bahan makanan. Dengan demikian, bahan
makanan yang tinggi kandungan proteinnya akan memiliki tanda kerusakan yang
berbeda dengan bahan makanan yang tinggi kandungan lemak atau karbohidratnya.
b. Penyajian Makanan
Penyajian makanan harus memenuhi persyaratan sanitasi, yaitu bebas dari
kontaminasi, bersih dan tertutup, serta dapat memenuhi kebutuhan diet pasien di

rumah sakit. Adapun persyaratan penyajian makanan (PERMENKES No.1204 tahun


2004) adalah :
a.
b.
c.
d.
e.

Makanan harus terhindar dari bahan pencemar.


Peralatan yang digunakan untuk menyajian harus terjaga kebersihannya.
Makanan jadi yang siap saji harus ditempatkan pada peralatan yang bersih.
Penyajian dilakukan dengan prilaku yang sehat dan prilaku yang bersih.
Makanan yang disajikan dalam keadaan hangat di tempatkan pada fasilitas
penghangat makanan dengan suhu minimal 60 C.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Distribusi adalah suatu proses penyampaian barang atau jasa dari produsen ke
konsumen

dan para pemakai, sewaktu dan dimana barang atau jasa tersebut

diperlukan. Dimana didalam distribusi terdapat 2 cara pendistribusian yaitu cara


Sentralisasi dan cara Dsesentralisasi. Dengan kata lain, proses distribusi merupakan
aktivitas pemasaran yang mampu:
a. Menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi pemasaran yang dapat
merealisasikan kegunaan atau utilitas bentuk, tempat, waktu, dan kepemilikan.
b. Memperlancar arus saluran pemasaran (marketing channel flow) secara fisik
dan non-fisik. Yang dimaksud dengan arus pemasaran adalah aliran kegiatan
yang terjadi di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat di dalam proses
pemasaran. Arus pemasaran tersebut meliputi arus barang fisik, arus

kepemilikan, arus informasi, arus promosi, arus negosiasi, arus pembayaran,


arus pendanaan, arus penanggungan risiko, dan arus pemesanan.
Penyajian makanan merupakan suatu cara untuk menyuguhkan makanan kepada
orang atau para tamu untuk di santap secara keseluruhan yang berisikan komposisi
yang di atur dan telah disesuaikan dengan permainan warna yang di susun secara
menarik agar dapat menambah nafsu makan. Penyajian makanan merupakan salah
satu prinsip dari sanitasi dan hygiene makanan.

DAFTAR PUSTAKA
Padmiari, Eka dkk. 2014. Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan Dasar
(MSPM Dasar). Denpasar Politeknik Kesehatan Denpasar Jurusan Gizi.
Nuramauliza. 2015. Manajemen Sistem Penyelenggaraan. Tersedia pada :
http://nuramauliza.blogspot.com/2015/01/manajemen-sistempenyelenggaraan.html Diakses pada : selasa 3 maret 2015
Anonim.

2011.

Distribusi

Dan

http://websitehamdin.

Penyajian

Bahan

Makanan.

Tersedia

pada

com/2011/11/distribusi-dan-penyajian-bahan-makanan.html

Diakses pada : selasa 3 maret 2015


Anonim. 2012. Produksi Distribusi Dan Pelayanan. Tersedia pada : http://esgezetpunyablog.
com/2012/03/produksi-distribusi-dan-pelayanan.html Diakses pada : selasa 3 maret

2015
Anonim.

2014.

Perencanaan

Saluran

Pemasaran

Distribusi.

Tersedia

pada

https://pemasaransmkn1udanawu.wordpress.com/2014/05/23/perencanaan-saluranpemasaran-distribusi/ Diakses pada : selasa 3 maret 2015

Anonim.

2014.

Praktek

Penyajian

Makanan.

Tersedia

pada

http://pelajarantatabogasmp5clp..com/2014/01/praktek-penyajian-makanan_22.html

Diakses pada : selasa 3 maret 2015