Anda di halaman 1dari 8

Mata Kuliah : KAPITA SELEKTA

Tugas Resume : Pencemaran Sungai


Dosen Pengampu :
Nama : Taufik Dhany
NIM : 30000213410045
PENDAHULUAN
Sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang bersifat mengalir, sehingga
perlakuan air di hulu akan member dampak di hilir. Pencemaran di hulu akan
menyebabkan biaya social di hilir (extematily effect) dan pelestarian di hulu akan
bermanfaat di hilir. Sungai sangat bermanfaat bagi manusia dan juga bermanfaat bagi
biota air.
Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak
sehingga perlu dilindungi agar dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia
serta makhluk hidup lainnya. Perlu upaya pelestarian dan pengendalian air, untuk
menjaga kualitas air atau mencapai kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan secara
berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air yang dikehendaki. Pengelolaan kuaitas air
dilakukan dengan upaya pengendalian pencemaran air, yaitu dengan upaya memelihara
fungsi air sehingga kualitas air memenuhi baku mutu. Air yang relatif bersih sangat
didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, keperluan industri,
untuk kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya.
Saat ini air menjadi masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius. Karena
air telah tercemar oleh limbah limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia, sehingga
untuk memperoleh air yang baik sesuai dengan standar tertentu diperlukan biaya yang
cukup mahal. Secara kualitas, sumber daya air telah mengalami penurunan. Begitu pula
secara kuantitas yang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia yang terus
meningkat.
Makin banyak berita-berita mengenai pencemaran sungai dari hari kehari.
Pencemaran sungai ini terjadi dimana-mana. Krisis air juga tejadi di hampir seluruh
Pulau Jawa dan sebagian Pulau Sumatera, terutama di kota-kota besar baik akibat

pencemaran limbah cair industri, rumah tangga ataupun pertanian. Pencemaran sungai
di banyak wilayah di Indonesia telah mengakibatkan terjadinya krisis air bersih.
Kurangnya kesadaran warga sekitar serta lemahnya pengawasan pemerintah dan
keengganan mereka untuk melakukan penegakan hukum yang benar menjadikan
masalah pencemaran sungai menjadi hal yang kronis yang semakin lama semakin parah.
Pencemaran Air Sungai
Sungai sebagai sumber daya alam, merupakan kebutuhan yang sangat vital
terutama dalam hal penyediaan kebutuhan air bagi manusia. Namun, pesatnya
pembangunan pasca revolusi industri, tidak berbanding lurus dengan peningkatan
kualitas lingkungan. Udara semakin tercemar, begitupun dengan sungai, danau dan laut.
Degradasi sumber daya alam akibat eksploitasi berlebihan dan pelepasan limbah ke
alam, berdampak pada semakin menurunnya kualitas lingkungan hidup.
Menurut

Soemarwoto

(2009),

penggunaan

sumberdaya

alam

untuk

pembangunan selalu disertai dengan terjadinya pencemaran lingkungan. Suatu


lingkungan dikatakan tercemar jika dimasuki atau kemasukan bahan pencemar yang
dapat mengakibatkan gangguan pada makhluk hidup yang ada di dalamnya (Bahtiar,
2007). Salah satu pencemaran yang dapat terjadi adalah pencemaran terhadap
sumberdaya air.
Air sebagai komponen lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang sangat
vital bagi manusia. Perubahan pada kualitas air akan mempengaruhi komponen
lingkungan hidup lainnya. Air yang kualitasnya buruk akan mempengaruhi kondisi
kesehatan dan keselamatan manusia, serta makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan, dan
biota-biota air. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna,
produktivitas, daya dukung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan menurunkan
kekayaan sumberdaya alam (natural ressources depletion) (PP no 82 Tahun 2001).
Air permukaan, dalam hal ini sungai, sangat beragam fungsi dan manfaataya.
Sungai adalah sebagai tempat hidup berbagai makhluk akuatik seperti ikan, plankton
dan berbagai tumbuhan air. Selain itu, air sungai juga banyak digunakan juga sebagai
sarana transportasi, tangkapan air untuk pengendalian banjir, irigasi pertanian,
pengairan tambak, keperluan sehari hari (domestik) seperti mandi, mencuci, hingga

pemanfaatannya sebagai sumber air baku untuk air minum yang jika tercemar limbah
tentunya sangat membahayakan kesehatan.
Perubahan pola pemanfaatan lahan menjadi lahan pertanian, tegalan dan
permukiman, serta aktiivitas industri, akan memberi dampak terhadap kondisi
hidrologis dalam suatu daerah aliran sungai (Asdak, 2010). Meningkatnya berbagai
aktifitas tersebut, akan berdampak pada peningkatan koefisen air limpasan (run off)
yang membawa lapisan tanah yang dilaluinya. Selain itu, produksi limbah yang dilepas
ke badan sungai dari aktifitas industri, domestik dan aktifitas organik dari manusia dan
hewan, juga semakin meningkat dan berkontribusi pada penurunan kualitas air sungai.
Pencemaran air adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai
peruntukkannya (PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air).
Menurut Davis dan Cornwell (1991), Sumber pencemar yang masuk ke perairan
dapat berasal dari buangan yang diklasifikasikan menjadi:
1.

Point source adalah sumber titik atau pencemar yang diketahui secara pasti dapat
berupa lokasi air limbah industri, domestik, ataupun saluran drainase.

2.

Non point source,

berasal dari sumber yang tidak dikatahui secara pasti.

Pencemar masuk ke badaan air dapat berasal dari aktifitas alamiah maupun dari
sumber yang tidak diketahui secara pasti. Misalnya, limpasan hujan, erosi,
buangan kegiatan pertanian yang mengandung pupuk dan pestisida serta dari
limbah cair kegiatan domestik yaitu permukiman, perdagangan, dan perkantoran.
Pencemaran yang terjadi dalam air sungai dapat disebabkan oleh pencemar
organik maupun pencemar anorganik. Pencemar organik dapat meningkatkan
kandungan BOD dalam air sungai yang mengindikasikan telah terjadi penurunan
kualitas air. Pencemar organik sebagian besar berasal dari buang kegiatan pertanian dan
limbah cair kegiatan domestik. Sedangkan pencemar anorganik sebagian besar berasal
dari buangan kegiatan industri.

Pencemaran juga dapat dikategorikan berdasarkan sumbernya yaitu sumber


pencemar yang berasal dari pencemar alamiah (dari alam) dan pencemar antropogenik
(kegiatan manusia). Pencemar antropogenik adalah polutan yang masuk ke perairan
akibat aktivitas manusia seperti kegiatan domestik (rumah tangga), perkotaan dan
industri. Intensitas polutan antropogenik dapat dikendalikan dengan mengontrol
aktivitas yang menyebabkan timbulnya pencemar tersebut (Effendi, 2003).
Faktor kegiatan manusia seperti rumah tangga (permukiman), Industri dan
pertanian yang menyumbang bahan pencemar dan mengakibatkan menurunnya kualitas
air sungai merupakan faktor penyebab utama terjadinya pencemaran air. Wardhana
(2004) mengelompokkan komponen pencemaran air yang disebabkan oleh kegiatan
manusia yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Limbah padat
Bahan buangan organik dan olahan bahan makanan
Bahan buangan organik
Bahan buangan cairan berminyak
Bahan buangan berupa panas
Bahan buangan zat kimia, yaitu sabum, insektisida dan zat pewarna

Komposisi air limbah yang masuk ke badan air sungai sangat bervariasi sesuai
dengan sumber asalnya. Secara umum zat-zat yang terdapat dalam air limbah
dikelompokkan :

Gambar : Zat yang terdapat dalam air limbah

Pada dasarnya pencemaran sungai itu sendiri dibagi menjadi dua berdasarkan
sifat pencemarnya, yaitu tingkat atau kemampuan pencemar untuk berubah secara
kimiawi dalam badan air atau sungai.
a. Pencemar Konservatif
Pencemar konservatif adalah pencemar air sungai yang sifatnya relatif stabil
secara kimiawi dalam badan air, dan tidak berubah menjadi bentuk kimia lainnya. Sifat
ini dapat berubah atau berkurang konsentrasinya dengan adanya pengendapan dibagian
dasar sungai ataupun adanya pemurnian (purification) air sungai. Unsur-unsur yang
termasuk dalam kelompok pencemar konservatif ini misalnya adalah logam-logam berat
seperti Hg, Cr, logam lainnya yang terlarut pada aliran sungai yang tidak dapat
diuraikan melalui proses hidrologi sungai maupun oleh mikroorganisme.
b. Pencemar Non Konservatif
Pencemar non konservatif adalah pencemar yang bisa diuraikan oleh
mikroorganisme, misal BOD, dan COD. Pencemar ini dapat berubah bentuk menjadi
bentuk baru dengan laju reaksi yang nyata.
Baku Mutu Air Sungai
Sebagai suatu ekosistem yang sangat strategis bagi kelangsungan kehidupan
manusia, sungai memerlukan suatu sistem pengelolaan yang holistik dan berkelanjutan
dan tentunya disesuaikan dengan peruntukan atau fungsi sungai tersebut. Apabila sungai
tersebut difungsikan sebagai pengendali banjir, maka harus dibuat suatu model
pengaliran sungai sebagai pengendali banjir. Namun apabila sungai tersebut berfungsi
sebagai sumber air bagi masyarakat sekitarnya, maka kualitas air sungai harus dijaga
dari pencemaran, antara lain melalui upaya pembagian kelas air, pengurangan beban
limbah yang masuk ke dalam sungai dengan memperketat aturan baku mutu limbah, dan
penegakan hukum yang konsisten, serta peningkatan partisipasi masyarakat.
Penetapan peruntukan air pada sumber air diatur secara tegas dalam UndangUndang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, bahwa penetapan peruntukan
air dilakukan dengan memperhatikan daya dukung sumber air; jumlah dan penyebaran
penduduk serta proyeksi pertumbuhannya, perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber
daya air dan pemanfaatan air yang sudah ada.

Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhuk hidup, zat, energi atau
komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya di dalam air (PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air
dan Pengendalian Pencemaran Air). Sedangkan Kelas air adalah peringkat kualitas air
yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi peruntukan tertentu.
Klasifikasi dan kriteria mutu air mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air,
klasifikasi mutu air digolongkan menjadi 4 (empat) kelas dimana pembagian kelas ini
didasarkan pada tingkatan baiknya mutu air dan kemungkinan kegunaannya bagi suatu
peruntukkan (designated beneficial water uses). Klasifikasi mutu air tersebut
diantaranya :
1. Kelas Satu : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum dan
atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan
tersebut.
2. Kelas Dua : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana
rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman dan atau peruntukkan lain yang sama dengan kegunaan tersebut.
3. Kelas Tiga : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaaan ikan
air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukkan lain yang
sama dengan kegunaan tersebut.
4. Kelas Empat : Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman
dan atau peruntukkan lain yang sama dengan kegunaan tersebut.

Kriteria mutu air sungai berdasarkan Kelas.


Sumber : PP No 82 Tahun 2001
Baku Mutu Air Limbah
Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar atau jumlah unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau
dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan atau kegiatan. Batas atau kadar ini
mengacu pada peraturan daerah Jawa Tengah No. 10 Tahun 2004 tentang Baku Mutu
Air Limbah yang disesuaikan dengan jenis industri masing-masing (deazy,2011).
Kualitas Air Sungai
Keadaan geografis sungai yang berada paling rendah dalam lanskap bumi,
menjadikan kualitas air sungai sangat dipengaruhi pemasokan air yang berasal dari
sekitar daerah tangkapan airnya. Kualitas pasokan air yang berasal dari daerah
tangkapan dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang ada di dalamnya (Wiwoho, 2005).
Daerah hulu dengan pola pemanfaatan lahan yang relatif seragam, mempunyai kualitas
air yang lebih baik dari daerah hilir dengan pola penggunaan lahan yang beragam.
Semakin kecil tutupan hutan dalam sub DAS serta semakin beragamnya jenis
penggunaan lahan dalam sub DAS menyebabkan kondisi kualitas air sungai yang
semakin buruk, terutama akibat adanya aktivitas pertanian dan pemukiman (Supangat,
2008).
Kualitas air sungai merupakan kondisi kualitatif yang diukur berdasarkan
parameter tertentu dan dengan metode tertentu sesuai peraturan perundangan yang
berlaku. Kualitas air sungai dapat dinyatakan dengan parameter yang menggambarkan

kualitas air tersebut. Parameter tersebut meliputi parameter fisika, kimia dan biologi
(Asdak, 2010). Parameter fisika kualitas air yang dapat menggambarkan kondisi yang
dapat dilihat secara visual/kasat mata, meliputi kekeruhan, suhu, kandungan padatan
terlarut, rasa, bau, warna dan sebagainya. Parameter kimia meliputi derajat keasaman
(pH), oksigen terlarut DO, BOD, COD, kandungan logam, kesadahan dan sebagainya.
Parameter biologi meliputi kandungan mikroorganisme dalam air (Asdak, 2010).
Parameter-parameter kualitas air sungai dapat berubah berdasarkan kondisi
alami

maupun

adanya

aktivitas

antropogenik.

Aktivitas

antropogenik

yang

mempengaruhi kualitas air sungai berasal dari perubahan pola pemanfaatan lahan,
kegiatan pertanian, permukiman serta industri. Kegiatan pertanian dan permukiman
pada dasarnya merubah bentang alam melalui pengolahan tanah, sehingga akan
mempengaruhi kualitas air sungai (Asdak, 2010).