Anda di halaman 1dari 9

BAB II

DASAR TEORI
2.1. Motor Asinkron 3 Fase
Motor asinkron adalah suatu mesin listrik yang merubah energi listrik menjadi energi gerak
dengan menggunakan gandengan medan listrik dan mempunyai slip antara medan stator dan
medan rotor sehingga menimbulkan medan magnet. Medan magnet yang berputar dihasilkan
oleh pasokan tiga fase yang seimbang. Motor asinkron 3 fase ini memiliki kemampuan daya
yang tinggi, serta memiliki gulungan rotor dan penyalaan sendiri. Sekitar 70% motor di industri
menggunakan jenis ini, sebagai contoh, pompa, kompresor, belt conveyor, jaringan listrik , dan
grinder.
Semua jenis motor listrik yang ada memiliki 2 bagian utama yaitu stator dan rotor, stator
adalah bagian motor listrik yang diam dan rotor adalah bagian motor listrik yang bergerak
(berputar). Pada dasarnya motor listrik dibedakan dari jenis sumber tegangan kerja yang
digunakan. Berdasarkan sumber tegangan kerjanya motor listrik dapat dibedakan menjadi 2 jenis
yaitu motor listrik AC dan DC.
Kelebihan dan Keurangan Motor Asinkron 3 Phase
Kelebihan:
Konstruksinya lebih sederhana
Harga relatif lebih murah
Menghasilkan putaran yang konstan
Mudah perawatannya
Kekurangan:
Putarannya sulit diatur
Membutuhkan arus untuk start yang tinggi, yaitu sebesar 5-6 kali arus
nominal
Motor asinkron sendiri dibedakan menjadi 2 jenis yaitu motor asinkron 1 fase dan 3 fase.
Adapun perbedaan antara kedua motor ini adalah sebagai berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Motor 1 Fase
Sistem dengan 1 kabel Fase dan 1 kabel
netral.
Diperlukan penambahan komponen
Kapasitor.
Tegangan 1 phase 220 Volt (L-N)
Digunakan untuk perangkat listrik satu
fasa,
Tidak
bisa
digunakan
menggerakan motor tiga fasa
Memiliki 1 lilitan

Motor 3 Fase
Terdiri dari 3 arus positif dan satu netral
dengan simbol (R,S,T,N).
Tidak diperlukan penambahan komponen
Kapasitor.
Tegangan 3 phase 380 Volt (L-L)
Selain digunakan untuk perangkat listrik tiga
fasa, bisa digunakan untuk perangkat listrik
satu fasa
untuk Bisa digunakan untuk menggerakan motor
satu fasa
Memiliki 3 lilitan

Tabel 3. Perbedaan antara motor asinkron 1 fase dan 3 fase


Motor induksi tiga fasa memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan rotor, bagian rotor
dipisahkan dengan bagian stator oleh celah udara yang sempit (air gap) dengan jarak antara 0,4
mm sampai 4 mm. Berikut adalah gambar dari stator dan rotor pada motor asinkron 3 fase :

Gambar 2. Konstruksi motor 3 fasa


Sumber : http://kuliahelektro.blogspot.com/2011/01/motor-induksi-3-fasa_30.html

Stator adalah bagian dari mesin yang tidak berputar dan terletak pada bagian luar. Dibuat
dari besi bundar berlaminasi dan mempunyai alur alur sebagai tempat meletakkan
kumparan. Secara detail ditunjukkan pada gambar berikut:

Gambar 3. Konstruksi Stator Dengan Alur-alurnya


Sumber : http://kuliahelektro.blogspot.com/2011/01/motor-induksi-3-fasa_30.html

Rotor adalah bagian dari mesin yang berputar bebas dan letaknya bagian dalam. Terbuat
dari besi laminasi yang mempunayi slot dengan batang alumunium / tembaga yang
dihubungkan singkat pada ujungnya. Menurut jenis rotor pada motor induksi dibagi
menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
a. Rotor Sangkar
Rotor yang terdiri dari sejumlah lilitan yang berbentuk Batang tembaga yang
dihubungkan singkat pada setiap ujungnya kemudian disatukan (di cor) menjadi satu
kesatuan.

Gambar 4. Rotor Sangkar


Sumber : http://kuliahelektro.blogspot.com/2011/01/motor-induksi-3-fasa_30.html

b. Rotor Belitan
Rotor yang terbuat dari laminasi-laminasi besi dengan Alur-alur sebagai tempat
meletakkan belitan (kumparan) dengan ujung-ujung belitan yang juga terhubung.

Gambar 5. Rotor Belitan


Sumber : http://kuliahelektro.blogspot.com/2011/01/motor-induksi-3-fasa_30.html

2.2. Prinsip Kerja


Prinsip kerja dari motor asinkron 3 fase ini dapat dijelaskan melalui gambar berikut.
Dimana tampak stator dengan dua kutub, dapat diterangkan dengan empat kondisi.

Gambar 6. Timbulnya medan putar pada stator motor induksi


Sumber : http://blogs.itb.ac.id/el2244k0112211015madelanamahendra/
1. Saat sudut 0, arus I1 bernilai positif sedangkan arus I2 dan arus I3 bernilai negatif,
dalam hal ini belitan V2, U1 dan W2 bertanda silang (arus masuk), dan belitan V1, U2
dan W1 bertanda titik (arus keluar). Terbentuk fluks magnet pada garis horizontal sudut 0
kutub S (South = selatan) dan kutub N (North = utara).
2. Saat sudut 120 , arus I2 bernilai positif, sedangkan arus I1 dan arus I3 bernilai negatif,
dalam hal ini belitan W2, V1, dan U2 bertanda silang (arus masuk), dan belitan W1, V2,
dan U1 bertanda titik (arus keluar). Garis fluks magnet kutub S dan N bergeser 120 dari
posisi awal.
3. Saat sudut 240, arus I3 bernilai positif, sedangkan arus I1 dan arus I2 bernilai negatif,
dalam hal ini belitan U2, W1 dan V2 bertanda silang (arus masuk), dan belitan U1, W2
dan V1 bertanda titik (arus keluar). Garis fluks magnet kutub S dan N bergeser 120 dari
posisi kedua.
4. Saat sudut 360. posisi ini sama dengan saat sudut 0, di mana kutub S dan N kembali
keposisi awal sekali.

Dari keempat kondisi di atas saat sudut 0, 120, 240, dan 360, dapat dijelaskan
terbentuknya medan putar pada stator, medan magnet putar stator akan memotong belitan rotor.
Kecepatan medan putar stator ini sering disebut kecepatan sinkron, tidak dapat diamati dengan
alat ukur tetapi dapat dihitung secara teoritis besarnya,
Ns

Ns
f
p

120 f
p

: kecepatan putaran sinkron


: frekuensi tegangan stator
: jumlah kutub motor

Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor. Akibatnya pada
batang konduktor dari rotor akan timbul GGL induksi. Karena batang konduktor merupakan
rangkaian yang tertutup maka GGL akan menghasilkan arus (I). Adanya arus (I) di d alam medan
magnet akan menimbulkan gaya (F) pada rotor. Bila kopel mula yan g dihasilkan oleh gaya (F)
pada rotor cukup besar untuk memikul kopel beban, rotor akan berputar searah dengan medan
putar stator. GGL induksi timbul karena terpoton gn ya batang konduktor (rotor) oleh medan
putar stator. Artinya agar GGL induksi tersebut timbul, diperlukan adanya perbedaan relatif
antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan berputar rotor (nr). Perbedaan
kecepatan antara nr dan ns disebut slip (s), dinyatakan dengan

S akan selalu ada pada operasi motor asinkron.


Bila nr = ns, GGL induksi tidak akan timbul dan arus tidak mengalir pada batang
konduktor (rotor), dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Dilihat dari cara kerjanya, motor
induksi disebut juga sebagai motor tak serempak atau asinkron.
2.3 Pengaturan Putaran Motor
Pengaturan arah putaran pada motor AC 3 Phase dilakukan dengan menukar urutan dua
dari tiga phase yang masuk ke motor. Maksudnya adalah, misalnya urutan phase yang masuk
adalah R-S-T, untuk merubah arah putarannya phase masukan diubah menjadi T-S-R atau S-R-T
atau R-T-S.

Gambar 7 : Pengaturan arah putar motor AC 3 phase


Sumber : http://www.aank123.files.wordpress.com
Pada gambar di atas, jika MC1 yang bekerja maka phase yang masuk ke motor adalah RS-T maka motor akan berputar searah jarum jam (Clockwise) akan tetapi jika MC2 yang bekerja
maka urutan phase yang masuk ke motor adalah R-T-S perubahan urutan phase ini akan
menyebabkan perubahan arah putaran motor dari Clockwise menjadi Counter Clockwise
(Berlawanan arah jarum jam). Jadi dengan merubah urutan phase yang masuk ke motor maka
arah putaran motor dapat diubah.
2.4 Mengatur kecepatan putar
Kecepatan putar motor AC dapat dihitung dengan rumus :
dimana:
Ns = Kecepatan Putar
f = Frekuensi Sumber
P = Kutub motor
Dari persamaan di atas maka untuk mengubah-ubah nilai Ns dapat dilakukan dengan
mengubah nilai frekuensi (f) atau mengubah jumlah kutub motor (p), selain itu juga dapat
dengan cara mengatur tegangan yang masuk ke motor akan tetapi cara ini jarang dilakukan
karena jika tegangan berkurang maka torsinya juga berkurang jika dalam kondisi berbeban. Cara
yang paling banyak digunakan adalah dengan mengubah-ubah nilai frekuensi arus AC yang
masuk, hal ini semakin mudah dilakukan dengan bantuan alat inferter yang mampu
memanipulasi frekuensi dan tersedia untuk beragam daya motor.

4.3 Grafik
4.3.1 Grafik Perbandingan Arus Rata-rata dengan RPM

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa nilai arus rata-rata dan RPM selalu berubah
dengan tidak pasti. Semakin tinggi arus rata-rata putaran yang dihasilkan akan
semakin tinggi.
4.3.2

Grafik Perbandingan Daya dengan Arus Eksitasi

Untuk perbandingan daya dengan arus eksitasi tampak juga nilai yang berubahubah, semakin besar arus eksitasi maka daya yang dihasilkan juga semakin besar
4.3.3

Grafik Perbandingan Arus Eksitasi dengan Efisiensi

Garik di atas menunjukkan besarnya efisiensi yang cenderung naik apabila arus
eksitasi semakin besar. Dikarenakan efesiensi berhubungan dengan daya yang
dikeluarkan, semakin besar arus eksitasi daya yang dikeluarkan semakin besar dan
semakin besar pula nilai efisiensinya
4.3.4

Grafik Perbandingan Arus eksitasi dengan Slip

Untuk perbandingan slip dengan arus eksitasi grafik cenderung naik, hal ini
dikarenakan besarrnya arus penguat juga akan mempengaruhi putaran (nr). Semakin
besar arus eksitasi semakin besar pula slip yang terjadi.

4.4 Pembahasan
1. Motor Asinkron Beban Nol
Arus yang mengalir memiliki perbedaan, tetapi untuk tengangan memiliki nilai yang
sama. Perbedaan nilai arus tersebut dikarenakan alat yang digunakan untuk mengukur
arus (tang ampere) tidak akurat
2. Motor Asinkron Beban Nol dengan Kapasitor
Penambahan kapasitor menyebabkab kebutuhan arus menjadi lebih kecil. Namun pada
praktikum ini penambahan kapasitor justru meningkatkan kebutuhan daya, yang berarti
kebutuhan arusnya juga semakin besar karena nilai tegangannya tetap. Hal ini terjadi
dikarenakan pengukuran arus yang tidak teliti.
3. Motor Asinkron Berbeban Tanpa Kapasitor
Putaran motor cenderung menurun karena ditambah beban. Karena untuk mengatasi
beban tersebut dibutuhkan daya yang besar.
4. Motor Asinkron Berbeban dengan Kapasitor
Putaran motor dan daya yang dibutuhkan relatif sama, karena walaupun ditambah dengan
beban, tapi masih ada kapasitor yang meningkatkan arus.
BAB 5
KESIMPULAN
1. Besarnya arus yang mengalir dipengaruhi oleh tegangan

2.
3.
4.
5.

Besarnya putaran diprngruhi oleh arus yang mengalir


Menentukan besarnya daya yang dihasilkan dipengaruhi oleh tegangan jala dan arus
Besarnya slip ditentukan oleh besarnya arus dan tegangan
Efisiensi motor berbanding lurus dengan daya yang dihasilkan

DAFTAR PUSTAKA
http://kuliahelektro.blogspot.com/2011/01/motor-induksi-3-fasa_30.html
http://blogs.itb.ac.id/el2244k0112211015madelanamahendra/
http://www.aank123.files.wordpress.com
http://qtussama.wordpress.com/materi-ajar-x-tkr/kompresor-udara/
www.popaymini.blogspot.com
http://en.wikipedia.org
www.pelabuhanku.wordpress.com