Anda di halaman 1dari 7

Fibrosarkoma

2.1

Definisi
Fibrosarkoma adalah neoplasma ganas yang berasal dari sel mesenkim, dimana secara

histologi sel yang dominan adalah sel fibroblas. Pembelahan sel yang tidak terkontrol dapat
menginvasi jaringan lokal serta dapat bermetastase jauh ke bagian tubuh yang lain.1
2.2 Etiologi
Penyebab pasti dari fibrosarkoma belum diketahui, namun ada beberapa faktor yang sering
berkontribusi seperti faktor radiasi yang menyebabkan adanya perubahan genetik oleh karena
hilangnya alel, poin mutasi, dan translokasi kromosom. Selain beberapa penyebab di atas, fraktur
tulang, penyakit paget, dan operasi patah tulang juga dapat menimbulkan fibrosarkoma sekunder.
Fibrosarkoma merupakan keganasan yang sering terjadi terutama akibat paparan radiasi.
Sebagian besar kasus mengenai usia diantaran 30-50 tahun dengan proporsi jumlah laki-laki
yang lebih dominan terkena. Seseorang dengan riwayat infark tulang atau iradiasi merupakan
faktor risiko pada fibrosarkoma sekunder. Fibrosarkoma pada grade yang tinggi merupakan
faktor risiko yang signifikan untuk terjadi metastasis dan kekambuhan lokal.2
2.3 Patofisiologi
Fibrosarkoma dapat terjadi akibat pengaruh paparan radiasi dari lingkungan yang mengakibatkan
terjadinya

translokasi

kromosom

pada

sekitar

90%

kasus. x-radiation dangamma

radiation paling berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan. Ionisasi radiasi menyebabkan


terjadinya perubahan genetik yang meliputi mutasi gen, mutasi mini-satellit ( perubahan
jumlah DNA sequences), formasi mikronukleus ( tanda kehilangan atau kerusakan kromosom),
aberasi kromosomal (struktur dan jumlahnya), perubahan ploidi (jumlah dan susunan
kromosom), DNA stand breaks dan instabilitas kromosom. Ionisasi radiasi mempengaruhi semua
fase dalam siklus sel, namun fase G2 merupakan yang paling sensitif.
Sepanjang hidup sel pada sumsum tulang, mukosa usus, epitelium testikular seminuferus,
folikel ovarium rentan mengalami trauma dan sebagai akibatnya akan selalu mengalami proses
mitosis. Iradiasi selama proses mitosis mengakibatkan aberasi kromosomal. Tingkat kerusakan

bergantung pada intensitas, durasi, dan kumulatif dari radiasi. DNA dapat mengalami kerusakan
secara langsung maupun tidak langsung melalui interaksi dengan reactive products yang berupa
radikal bebas. Pengamatan terhadap kerusakan DNA diduga sebagai hasil perbaikan DNA atau
sebagai akibat dari replikasi yang salah. Perubahan ekspresi gen memicu timbulnya suatu tumor.
Sebagai akibat paparan x-radiation dan gamma radiation sangat kuat berkorelasi terhadap
timbulnya keganasan atau kanker. Kerusakan DNA yang dimanifestasikan dalam bentuk
translokasi kromosom gene COL1A1 pada kromosom 17 dan gen platelet-derived growth factor
Bpada kromosom 22 mengakibatkan terjadinya keganasan pada jaringan fibrous. Perubahan
fibrosarkoma dicirikan dengan pertumbuhan pola herringbone yang nampak pada klasik
fibrosarkoma.3,4
2.4 Tanda dan Gejala Klinis
Gejala pada fibrosarkoma pada awal mulanya sering tidak tampak atau tanpa dirasakan adanya
nyeri. Biasanya tumor baru tampak setelah timbul gejala dan teraba suatu benjolan. Pada lesi
yang besar terjadi peregangan pada kulit dan nampak mengkilat berwarna keunguan. Pada massa
yang sangat besar terjadi pelebaran pembuluh darah vena.5
Tanda dan gejala pada fibrosarkoma sulit dibedakan dari tumor lainnya sehingga diperlukan
pemerikasaan jaringan dengan mikroskop sehingga didapatkan grade dan staging dari
fibrosarkoma.
Tabel 1. Grading (Derajat Keganasan)
TNM two grade System
Low grade
High grade

Three grade System


Grade I

Four grade system


Grade I

Grade II

Grade II
Grade III

Grade III

Grade IV

Tabel 2. Stage Grouping


Stage IA
Stage IB

T1a

N0, Nx

M0

T1b

N0, Nx
N0, Nx

M0
M0

N0, Nx
N0, Nx

M0
M0

T2a
T2b

Stage IIA

T1a

Low grade

High Grade

Stage IIB
Stage IIIB
Stage IV

T1b
T2a
T2b
Any T

N0, Nx
N0, Nx
N0, Nx
N1

M0
M0
M0
M0

Any grade

Any T

Any N

M1

Any grade

Keterangan :
1
Tx
T0
T1
T1a
T1b
T2
T2a
T2b
N
Nx
N0
N1
M
Mx
M0
M1

Primary Tumor
Primary tumor canot be assessed
No evidence of primary tumor
Tumor 5 cm or less in greatest dimension
Superficial tumor
Deep tumor
Tumor more than 5 cm in greatest dimension
Superficial tumor
Deep tumor
Regional Lymph Nodes
Regional lymph nodes cannot be assessed
No regional lymph node metastasis
Regional lymph node metastasis
Distant metastasis
Distant metastasis cannot be assessed
No distant metastasis
Distant metastasis

2.5 Diagnosis Banding


a. Mallignant fibrous histiocytoma
Malignant fibrous histiocytoma (MFH) merupakan sarkoma jaringan lunak yang banyak
ditemukan terutama pada ekstremitas, yaitu 70%-75%. MFH berupa massa kelenjar tumor
jaringan lunak, besar, dan tidak nyeri. 6
b. Giant cell tumor
Giant cell tumor merupakan tumor yang agresif tetapi merupakan tumor jinak pada metafisis
atau epifisis pada tulang panjang.
c.

Osteolytic osteosarcoma
Osteolytic osteosarcoma adalah keganasan yang paling umum dari tulang belakang multiple
myeloma, kasusnya terjadi sekitar 50% di sekitar lutut.

2.6 Penegakan Diagnosis

a.

Anamnesis
Pasien biasanya datang dengan keluhan terdapat benjolan. Hal-hal yang perlu digali adalah:

Kapan benjolan tersebut mulai muncul?

Bagaimana sifat pertumbuhannya, apakah cepat atau lambat?

Keluhan penekanan pada jaringan sekitar

b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang perlu dicari adalah:
-

Lokasi tumor

Deskripsi tumor, meliputi:

Batas tegas atau tidak

Ukurannya

Permukaannya

Konsistensinya

Nyeri tekan atau tidak

Kelejar getah bening regional apakah teraba atau tidak5

c.

Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Rontgen
Pada foto rontgen biasanya tampak massa isodens berlatar belakang bayangan otot.
Selain itu juga bisa menunjukkan reaksi tulang akibat invasi tumor jaringan lunak seperti
destruksi, reaksi periosteal atau remodeling tulang.7

2. Ultrasonografi
Pada pemeriksaan tumor jaringan lunak, ultrasonografi memiliki dua peran utama yaitu dapat
membedakan tumor kistik atau padat dan mengukur besarnya tumor.7
3. CT-scan
Pada kasus fibrosarkoma pemeriksaan CT-scan biasanya digunakan untuk mendeteksi klasifikasi
dan osifikasi serta melihat metastase tumor di tempat lain.
4. MRI

MRI merupakan modalitas diagnostik terbaik untuk mendeteksi, karakterisasi, dan menentukan
stadium tumor. MRI mampu membedakan jaringan tumor dengan otot di sekitarnya dan dapat
menilai bagian yang terkena pada komponen neurovaskuler yang penting dalam limb salvage
surgery. MRI juga bisa digunakan untuk mengarahkan biopsi, merencanakan teknik operasi,
mengevaluasi respon kemoterapi, penentuan ulang stadium, dan evaluasi jang ka panjang
terjadinya kekambuhan lokal.7
5. Histopatologi
Pemerikaan histopatologi dilakukan dengan melakukan biopsi. Biopsi terbuka meliputi incisi dan
eksisi. Incisi dilakukan bila ukuran tumor lebih dari 3cm sementara pemeriksaan eksisi dilakukan
jika ukuran tumor kurang dari 3cm. Biopsi tertutup meliputi core biopsy / Tru-cut biopsy dan
biopsi aspirasi jarum halus.7
Pada gambaran histologi fibrosarkoma memiliki pola pertumbuhan fascicula sel berbentuk
fusiform ataupun spindle. Batas antar sel nampak tidak jelas dengan sedikit sitoplasma dan
serabut kolagen membentuk anyaman paralel. Histologi grading terutama berdasarkan derajat
selularitas, diferensiasi sel, gambaran mitotik dan jumlah kolagen yang dihasilkan oleh sel
nekrosisnya.4
Pada grade rendah nampak sel spindle yang beraturan dalam fasikula dengan selularitas
rendah sampai sedang dan nampak seperti herringbone. Terdapat nuklear pleomorfisme derajat
rendah dan jarang bermitosis dan nampak stroma kolagen. Pada grade tinggi terlihat nuclear
pleomorfisme yang tajam, selularitas lebih luas, dan mitosis atypical. Nukleus dapat berbentuk
spindle, oval atau bulat. Penampilan histologi fibrosarkoma grade tinggi mirip dengan tumor
lainnya seperti malignant fibrous histiocytoma, liposarcoma atau synovial sarcoma.
2.7 Penatalaksanaan
Surgical resection dengan wide margins adalah penatalaksanaan yang biasa dilakukan. Pada
fibrosarkoma dengan low grade operasi biasanya adekuat, meskipun kekambuhan lokal terjadi
dalam 11% pada pasien. Sedangkan pada fibrosarkoma dengan high gradesering membutuhkan
preoperatif atau anjuvant chemotherapi setelah operasi untuk memenuhi kelangsungan hidup.
Kemoterapi merupakan hal yang kontroversial namun kemoterapi baik digunakan dalam lesi
tulang.

Dalam penatalaksanaan fibrosarkoma pada ekstremitas kadang diperlukan amputasi untuk


menciptakan margin yang aman tetapi dengan pertimbangan berupa :
a.

Massa jaringan lunak luas dan atau dengan adanya keterlibatan kulit

b. Keterlibatan arteri atau nervus utama


c.

Keterlibatan tulang yang luas yang mengharuskan whole bone resection

d. Rekuren tumor yang sebelumnya sudah di radiasi adjuvant.


Pendekatan baru pada fibrosarkoma yaitu pengangkatan dengan pembedahan dengan
mengisolasi dan disambung ke sirkuit ekstrakorporal dengan pengaturan suhu dan oksigenasi.
Dalam hal ini toksisitas dapat dihindari karena adanya isolasi.8,9
2.8 Pencegahan
Mengingat belum pastinya penyebab dari fibrosarkoma maka pencegahannya pun sulit
dilakukan. Salah satu yang bisa dilakukan yaitu dengan menghindari faktor risiko sepertiradiasi
yang menyebabkan adanya perubahan genetik.
2.9 Prognosis
Pada penderita fibrosarkoma dengan lesi medula high grade harapan hidup selama 5
tahun mendekati 30% sedangkan pada penderita fibrosarkoma di permukaaan tubuh dan derajat
rendah harapan hidup selama 5 tahun ke depan 50-80%.1
Faktor lain yang berhubungan dengan usia harapan hidup yang buruk adalah usia >40
tahun, tumor primer di axial skeleton, lesi eksentris, dan stadium penyakit saat ditemukan. Tidak
ada data kondusif yang dapat membedakan antara tumor primer dan tumor skunder.1
Sumber :
1. Krygier, Jeffrey. E, Valerae Lewis. 2009. Fibrosarcoma of Bone: Review of A Rare Primary
Malignancy

of

Bone. San

Jose.

Available

from:

http://terryhealey.com/wp-

content/Fibrosarkoma.pdf. accessed on 16 March 2013.


2.

Cance,

L.

Mc.

Kathrya,

Sue

E.

Huether,

Valentina

L.

Brashers,
th

et

al.

2010.

Fibrosarcoma. Pathophysiology The Biologic for Disease in Adultd and Children.6 Edition. Canada: Mosby
Elsevier. pp : 1591.

3.

Cance, L.Mc. Kathrya, Sue E. Huether, Valentina L. Brashers, et al. 2010. Ionizing

Radiation. Pathophysiology The Biologic for Disease in Adultd and Children. 6thEdition. Canada:
Mosby Elsevier. pp : 73-75.
4. Wong,

Sandra

L.

2008.

Diagnosis

and

Management

of

Desmoid

Tumors

and

Fibrosarcoma. Journal of Surgical Oncology. Vol 97. University of Michigan. pp : 554-558.


Available from :http://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/58551/20981_ftp.pdf?
sequence=1. Accessed on 16 March 2013
5. Sriwibowo, Kun. 2005. Akurasi Biopsi Aspirasi Jarum Halus sebagai Sarana dalam Menegakkan
diagnosa Neoplasma Ganas Jaringan Lunak. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran
Universitas

Diponegoro.

Semarang.

pp

5-10

Available

from: http://eprints.undip.ac.id/12551/1/2005PPDS3637.pdf. Accessed on 8 April 2013


6. Devita, Vincent T, Samuel Hellman, Steven A. Rosenberg. 1987. Malignant Bone
Tumor. Cancer Principles & Practice of Oncology. 5th Edition. United State of America:
Lippincott-Raven Publishers. pp: 1816-1844.
7. R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2007. Tumor Jaringan Lunak. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:
EGC. pp : 1034-1036
8. Meyers, Steven. P. 2008. Fibrosarcoma, MRI of Bone and Soft Tissue Tumors and Tumorlik
Lessions: Differential Diagnosis and Atlas. Germany: Thieme. pp : 436 available
from

: http://books.google.co.id/books?

id=V7y1nNatmoC&pg=PA436&dq=fibrosarcoma+of+bone+surgical+resection+with+wide+mar
gins+is+the+usual+treatment&hl=en&sa=X&ei=Xh9FUaLiKoaSrgfwtoHwAg&redir_esc=y#v=
onepage&q&f=false. accesed on 6 April 2013
9.

W.

Moreland,

Larry.

2004.

Fibrosarcoma. Reumatology

Theraphy.Newyork: Sprinser. pp :331. available from :

&

Immunology

http://books.google.co.id/books?

id=GiR493YLsgsC&pg=PA331&dq=risk+fibrosarcoma&hl=en&sa=X&ei=8D5FUZfJJDRrQf44oHwCA&redir_esc=y#v=onepage&q=risk%20fibrosarcoma&f=false. accessed on 6
April 2013

http://sayabudipranata.blogspot.com/2013/08/fibrosarkoma_31.html