Anda di halaman 1dari 128

SKRIPSI

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG KONSEP


PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

Disusun Guna Memperoleh Gelar


Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Disusun Oleh:
MAY MUFLIHAH AR ROZI
NIM: 121 08 008

JURUSAN TARBIYAH
PROGAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2013

ii

KEMENTERIAN AGAMA RI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
Jl. Stadion 03 Telp. (0298) 323 706, 323 433 Salatiga 50721
Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : administrasi@stainsalatiga.ac.id

SKRIPSI
PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG KONSEP
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
DISUSUN OLEH:
MAY MUFLIHAH AR ROZI
NIM: 12108008

Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan


Tarbiyah Pendidikan Agama Islam (PAI), Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Salatiga, pada tanggal 03 April 2013 dan telah dinyatakan
memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana S1 Kependidikan Islam.
Susunan Panitia Penguji

Ketua Penguji

: Dr. M. Zulfa, M.Ag

Sekretaris Penguji

: Drs. Sumarno Widjadipa, M.Pd

Penguji I

: Drs. Bahrudin,M.Ag

Penguji II

: Drs. Kastolani, M. Ag

Penguji III

: Drs. Miftahuddin, M.Ag

Salatiga, 03 April 2013

Dr. Imam Sutomo, M.Ag


NIP: 19580827 198303 1002

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi Saudari:


Nama

: May Muflihah Ar Rozi

NIM

: 12108008

Jurusan

: Tarbiyah

Program Studi : Pendidikan Agama Islam


Judul

: PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA


TENTANG KONSEP PENDIDIKAN BUDI
PEKERTI

Telah kami setujui untuk dimunaqosyahkan.

Salatiga, 15 Maret 2013


Pembimbing

Drs. Miftahuddin, M.Ag.


NIP. 19700922 199403 1 002

iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama

: MAY MUFLIHAH AR ROZI

NIM

: 12108008

Jurusan

: Tarbiyah

Program Studi

: Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya
saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan
orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode
etik ilmiah.

Salatiga, 15 Maret 2013


Yang Menyatakan

May Muflihah Ar Rozi


12108008

MOTTO

(QS. Ali Imran: 104)

vi

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

Kedua orang tua Ibu Siti Saodah dan Bapak Fachrurrozi, yang senantiasa
membimbing, mendidik dengan sabar dan penuh kasih sayang, serta doa
yang tak pernah luput untuk penulis
Bapak Drs. Miftahudin, M.Ag yang telah membimbing penulis dalam
pembuatan skripsi ini penuh dengan kesabaran dan ketelatenan.
Untuk kakakku Mbak. Sofa yang selalu menjadi motifator agar adikadiknya selalu melakukan yang terbaik, adikku Udin yang tak pernah
putus menyemangati dan memberi doa.
Keluarga besar Ponpes. Annida Salatiga, Alm. Bpk. KH. Ali Asad, Alm.
Bpk. KH. Nuh Muslim, Bpk. KH. Syamsudin dan Ibu Nyai Siti Fatimah
selaku pengasuh. Ust. Abdul Ghoni, Ust. Sukedi, Ust. Dahlan, dan Ibu
Ngatiyah Terima kasih sebanyak-banyaknya atas ilmu yang beliau ajarkan
kepada penulis.
Keluarga Besar Ponpes. Al Hasan Banyuputih timur Salatiga, Bpk. KH.
Tafrikhan beserta isteri dan keluarga, Ibu Nyai Kamalah Ishom dan
keluarga, Terimakasih yang tiada terkira atas bimbingan, ajaran serta
kesabaranya kepada penulis selama menjadi santri.
Keluarga Besar lembaga Pendidikan Islam Al Azhar Kec. Wirosari Kab.
Grobogan.

vii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi robilalamin, segala curahan rasa syukur kami panjatkan
kepada Dzat yang menjadi Rabb Al samaawaati Wa Al Ardl Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan judul Pemikiran Ki Hajar Dewantar tentang Konsep Pendidikan Budi
Pekerti
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada uswah hasanah kita,
sang putera padang pasir yang membawa pedang kebenaran, mengubah gelapnya
kejahiliyahan menuju terangnya dinnul islam. Beliaulah Nabi Agung Muhammad
SAW,

serta kepada keluarga, sahabat-sahabatnya, serta para pengikut-

pengikutnya.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat dan tugas untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (SPd.I) di Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN) Salatiga. Skripsi ini berjudul Pemikiran Ki Hajar
Dewantar tentang Konsep Pendidikan Budi Pekerti
Peneliti skripsi ini pun tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dari
berbagai pihak yang telah berkenan membantu peneliti menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih yang sedalamdalamnya kepada:
1. Bapak. Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku Ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M. Pd, selaku Ketua Jurusan Tarbiyah.

viii

3. Ibu Dra. Siti Asdiqoh, M.Si selaku Ketua Progdi PAI STAIN Salatiga.
4. Bapak. Drs. Miftahuddin, M.Ag selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan bantuan dan bimbingan dengan penuh kesabaran sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan.
5. Bapak dan Ibu dosen STAIN Salatiga yang telah membekali berbagai ilmu
pengetahuan, sehingga peneliti mampu menyelesaikan penelitian skripsi
ini.
6. Karyawan-karyawati STAIN Salatiga yang telah memberikan layanan
serta bantuan.
7. Kedua orang tua penulis, Ibu Siti Saodah dan Bapak Fachrurrozi, yang
senantiasa membimbing, mendidik dengan sabar dan penuh kasih sayang,
serta doa yang tak pernah luput untuk penulis
8. Untuk kakakku Mbak. Sofa yang selalu menjadi motifasi agar adikadiknya selalu melakukan yang terbaik, adikku Udin yang tak pernah
putus menyemangati dan memberi doa.
9. Rekan-rekan seperjuangan di LDK Darul Amal (Lembaga Dakwah
Kampus), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Kota Salatiga yang
telah mewarnai kehidupan penulis.
10.

Sahabat-sahabat yang telah banyak melakukan hal terbaik kepada

penulis, sebagai teman dalam susah maupun senang, yang tidak akan
pernah bisa terbalaskan baik budinya untuk Mas. Ishlah, Maz. Imam,
Dedy, Ulya, Hida, Fina, Puz, Dek. Rozi dll

ix

Skripsi ini masih jauh dari sempurna, maka peneliti mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun dan semoga hasil penelitian ini dapat
berguna bagi peneliti khususnnya serta para pembaca pada umumnya.

Salatiga, 15 Maret 2013


Penulis

May Muflihah Ar Rozi


12108008

ABSTRAK
Muflihah Ar Rozi, May. 2013. Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Konsep
Pendidikan Budi Pekerti Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi
Pendidikan Agama Islam. Salatiga. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
Salatiga. Dosen Pembimbing Drs. Miftahuddin, M.Ag..
Kata kunci: Budi Pekerti, konsep pendidikan, Ki Hajar Dewantara
Di era globalisasi ini manusia diajak untuk tanggap segala informasi aktual
dengan segera melalui teknologi-teknologi modern. Kemajuan teknologi dan
Informasi menuntut persaingan bebas menjadikan manusia berusaha memenuhi
kebutuhannya sendiri, baik kebutuhan pokok ataupun kebutuhan yang sebenarnya
tidak perlu dalam rangka memenuhi persaingan global.Selain itu globalisasi juga
dapat menyebabkan ancaman moral dan budaya bangsa. Budaya global akan
muncul dan dapat mematikan budaya lokal. Hal ini sangat membahayakan sebab
budaya lokal akan hilang terggantikan dengan budaya global setelahnya identitasidentitas bangsa yang bermoral hanya tinggal cerita saja.Berdasarkan latar
belakang di atas, yakni begitu urgennya fungsi dan kedudukan budi pekerti yang
dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Adapun tujuan daripenelitian ini adalah
untuk mengetahui karir intelektual Ki Hajar Dewantara, status sosialnya,
karakteristik pemikiran, konseppemikiran beliau tentang pendidikan budi pekerti
dan relevansinya di masa kini.
Penelitian ini termasuk penelitian literer yang berfokus pada refrensi buku
dan sumber-sumber yang relevan. Pencarian data dicari dengan pendekatan
library research yaitu suatu penelitian kepustakaan murni, menggunakan metode
dokumentasi yang mencari data mengenai hal-hal atau variable-variabel yang
berupa catatan seperi buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen
harian, catatan rapat, dan sebagainya.
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan adalah Ki Hajar Dewantar
seorang pejuang yang di segani dan di hormati rakyat, Memiliki keunikan berfikir
dimana beliau memberikan nafas kebangsaan yang beraliran kebudayaan pada
konsep pendidikanya. Dalam menanamkan nilai-nilai budi pekerti memiliki
maksud dan tujuan, berusaha memberi nasehat-nasehat, anjuran-anjuran, materimateri yang dapat mengantarkan anak didik menjadi sadar untuk berbuat baik dan
terbentuk watak dan kepribadian dengan baik juga. Di ajarkan sesuai tingkatan
usia perkembangan anak, dari masa kecilnya hingga dewasa agar mencapai
kebahagiaan lahir dan batin. Dalam proses pendidikanya berdasarkan
pancadharma yaitu kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan dan
kemanusiaan. Menggunakan metode ngerti, ngrasa dan ngelakoni. Sebagaimana
disampaikan diatas, perlu kiranya penulis memberikan sumbangsih berupa saransaran antara lain, konsep pemikiran KI Hajar Dewantara memiliki konsep tujuan
yang bagus, serta teta[ re;evan hingga saat ini. Konsep tersebut sangat tepat di
terapkan kepada bangsa ini yang telah mengalami degradasi moral. Sebagai
seorang guru hendaknya dapat menjadi sosok yang patut dijadikan suri tauladan
digugu lan ditiru.

xi

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................

HALAMAN BERLOGO .................................................................................

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................

iii

PENGESAHAN PEMBIMBING ....................................................................

iv

MOTTO ............................................................................................................

PERSEMBAHAN ............................................................................................

vi

KATA PENGANTAR ......................................................................................

vii

ABSTRAK ........................................................................................................ viii


DAFTAR ISI.....................................................................................................

xi

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................

A. Latar Belakang Masalah ...............................................................

B. Rumusan Masalah ..........................................................................

C. Tujuan Penelitian ...........................................................................

D. Kegunaan Penelitian ......................................................................

E. Metode Penelitian ..........................................................................

F. Telaah Pustaka ............................................................................... 10


G. Sistematika Penulisan .................................................................... 14
BAB II RIWAYAT HIDUP KI HAJAR DEWANTARA ............................ 16
A. Biografi Ki Hajar Dewantara ......................................................... 17
B. Peran Sosial KI Hajar Dewantara .................................................. 21
a. Ki Hajar Dewantara sebagai Pejuang Bangsa.................... 22
b. Ki Hajar Dewantara Sebagai Pendidik .............................. 27
c. Ki Hajar Dewantara Sebagai Budayawan .......................... 31
d. Ki Hajar Dewantara Sebagai Pemimpin Rakyat ................ 32
C. Karya-Karya Ki Hajar
Dewantara...................................................................................... 33
BAB III PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG
KONSEP PENDIDIKAN BUDI PEKERTI ............................ 36
A. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti ........................................ 37
xii

B. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti .............................................. 39


C. Dasar Pendidikan Budi Pekerti ................................................ 40
a. Kodrat Alam ...................................................................... 42
b. Azas Kemerdekaan ............................................................ 44
c. Azas Kebudayaan .............................................................. 46
d. Azas Kebangsaan ............................................................... 47
e. Azas Kemanusiaan ............................................................. 48
D. Materi Pendidikan Bud Pekerti ............................................... 49
a. Taman Indria dan Taman Anak (5-8 tahun) ...................... 50
b. Taman Muda (umur 9-12 tahun ......................................... 51
c. Taman Dewasa (umur 14-16 tahun .................................... 51
d. Taman Madya dan Taman Guru (umur 17-20 tahun) ........ 52
E. Metode Pendidikan Budi Pekerti ............................................ 53
BAB IV Pemikiran Ki hajar Dewantara Tentang Konsep Pendidikan
Budi Pekerti Dalam Konteks Keknian .................................... 57
A. Implementasi ............................................................................ 57
B. Relevansi Pemikiran ................................................................ 59
C. Implikasi .................................................................................. 68
BAB V PENUTUP ......................................................................................... 109
A. Kesimpulan ................................................................................... 109
B. Satan-saran.................................................................................... 112
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 114

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Di era globalisasi ini manusia diajak untuk tanggap segala informasi
aktual dengan segera melalui teknologi-teknologi modern. Kemajuan
teknologi dan Informasi menuntut persaingan bebas menjadikan manusia
berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri, baik kebutuhan pokok ataupun
kebutuhan yang sebenarnya tidak perlu dalam rangka memenuhi persaingan
global.
Seperti yang dikatakan oleh Firedman maupun Kenich Ohmae,
globalisasi telah merubah cara hidup individu demikian pula negara dan
masyarakat, tidak ada seorangpun lagi yang dapat keluar dari arus globalisasi
dewasa ini. Setiap orang hanya ada dua pilihan yaitu dia memilih dan
menempatkan dalam arus perubahan globalisasi atau dia hanyut dibawa arus
gelombang globalisasi yang anonim. (H. A. R Tilaar, 2006: 143)
Gelombang arus globalisasi mempunyai aspek positif dan aspek
negatif. Aspek positif dari era ini antara lain adalah peserta didik diajak untuk
meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakat dunia,
mengetahui kemampuan dasar intelektual dan bertanggungjawab memasuki
dunia yang baru. (Nurani Soyomukti, 2010: 6). Kini setiap orang merasa
bertanggung jawab dengan keadaan lingkungan sekitarnya seperti menjaga

kelestarian planet bumi agar dapat meminimalisir global warming, illegal


logging, polusi udara, darat dan laut.
Aspek negatifnya menurut H. M Arifin bahwa teknologi modern telah
menampakan diri di depan mata kita, yang pada drinsipnya melemahkan daya
mental dan spiritual yang sedang tumbuh dan berkembang dengan segala
bentuk penampilannya. Kondisi inilah salah satu yang mengakibatkan
terjadinya penyimpangan para remaja ( Prof. H.Muzayyin Arifin, M.Ed.
2011: 10).
Selain itu globalisasi juga dapat menyebabkan ancaman moral dan
budaya bangsa. Budaya global akan muncul dan dapat mematikan budaya
lokal. Hal ini sangat membahayakan sebab budaya lokal akan hilang
terggantikan dengan budaya global setelahnya identitas-identitas bangsa yang
bermoral hanya tinggal cerita saja.
Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi
manusia cenderung bersikap individualis. Mereka menjadi gandrung
teknologi menyibukkan diri dengan penemuan-penemuan baru di bidang
IPTEK tanpa memperhatikan kesejahteraan dirinya sebagai manusia sosial.
Bahkan secara faktual di era globalisasi ini banyak merebak isu-isu
moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-ibatan
terlarang (narkoba), tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, merusak milik
orang lain, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, penganiyaan,
perjudian, pelacuran, pembunuhan dan lain-lain ( Dr. C. Asri Budiningsih,
2008 : 1).

Hal tersebut diatas tadi sudah menjadi masalah sosial yang sampai
saat ini belum bisa diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup
serius dan tidak bisa lagi disebut sebagai permasalahan yang sederhana.
Karena tindakan-tindakan tersebut sudah mengarah kepada tindakan kriminal
yang

harus

diproses

secara

hukum.

Kondisi

ini

tentunya

sangat

memprihatinkan di kalangan masyarakat, terutama orangtua, para guru


(pendidik), sebab para pelakunya beserta korban-korbanya adalah kaum
remaja, khususnya kaum pelajar dan mahasiswa.
Menurut Dr. C. Asri Budiningsih Kondisi demikian diduga bermula
dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikanlah yang
sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap kondisi ini.
Mereka yang telah melewati system pendidikan selama ini, mulai dari
pendidikan dalam keluarga,lingkungan sekitar, dan pendidikan sekolah,
kurang memiliki kemampuan mengelola konflik dan kekacauan tersebut (Dr.
C. Asri Budiningsih, 2008: 1).
Masih segar dalam ingatan kita bahwa Pendidikan Karakter Untuk
Membangun Keberadaban Bangsa adalah sebuah tema yang diusung oleh
kementrian pendidikan dalam memperingati hari pendidikan nasional tahun
2010. Sejak saat itu banyak sekali para ahli pendidikan, pengamat pendidikan
dan praktisi pendidikan mencoba menterjemahkan pendidikan karakter
menurut versinya masing-masing.
Isu pendidikan karakter mengedepan tidak hanya karena sebagai
peringatan hari pendidikan padatahun 2010, akan tetapi juga sebagai wujud

keprihatinan terhadap dunia pendidikan yang semakin hari semakin tidak


jelas arah dan hasilnya. Karena semakin hari pendidikan di Indonesia
semakin mengalami degradasi moral.
Apa yang salah dalam dunia pendidikan di Indonesia, setelah lebih
dari enam puluh tahun kita merdeka, pendidikan nasional belum mampu
berfungsi menunjang bangsa yang berkarakter.
Sebenarnya pendidikan agama telah mencakup aspek pendidikan
karakter yang menjadi pengendali dari setiap tindakan yanag akan dilakukan.
Orang yang pernah mendapatkan pendidikan agama setidaknya dapat
mengontrol dirinya agar tidak melakukan hal-hal yang mencoreng citra
pendidikan nasioa; dan dapat membantu kesuksesan tujuan pendidikan
nasional. Hal ini sesuai dengan risalah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad
SAW bahwa beliau bersabda dalam hadist nya aku diutus Allah untuk
menyempurnakan keluhuran akhlak (budi pekerti).
Ini menjadi rujukan agar kita semua para pendidik sadar untuk
memberikan Pendidikan akhlak (budi pekerti) kepada peserta didik agar ia
mampu

mengemban

tugasnya

sebagai

seorang

pelajar

dan

dapat

mengharumkan citra pendidikan.


Pendidikan agama merupakan pondasi kehidupan harusnya mencakup
keseluruhan hidup sebagai pengendali tindakan. Seseorang yang tidak pernah
mendapatkan pendidikan agama dia tidak mampu bertindak dengan sukarela
untuk norma yang harus ia patuhi dan norma yang harus ia tinggalkan.

Apabila agama masuk ke dalam pembinaan pribadi seseorang, maka


dengan sendirinya segala sikap, tindakan, perbuatan dan perkataanya akan
dikendalikan oleh pribadi, yang telah terbina di dalamnya pendidikan agama,
yang akan menjadi pengendali bagi moralnya ( Zakiyah Darajat, 1977 : 49 ).
Ungkapan-ungkapan di atas menegaskan urgensinya pendidikan akhlak yang
terdapat dalam pendidikan agama sebagai pengendali pribadi.
Selaras dengan pendidikan agama, bahwa kepentingan pendidikan
budi pekerti yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh
pendidikan nasional yang mempunyai andil yang sama dalam membentuk
kepribadian manusia.
Hal ini masih tetap abadi untuk disimak kembali sebagaimana yang
telah diungkapkan oleh Ki Hajar dewantara bahwa pengajaran budi pekerti
tidak lain adalah:
Menyokong perkembangan hidup anak-anak lahir dan batin, dari
sifat kodratnya menuju kearah peradaban dalam sifatnya yang
umum (Ki hajar Dewantara : 1977 : 485).
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
bab I Pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan
ketrampilan yang dipelukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.( Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional : 2003 : 4)
Namun pada kenyataanya banyak warga Negara yang tidak berakhlak
mulia seperti melakukan tindakan-tindakan kriminal yang telah disebut diatas
tadi, tidak mandiri karena bersifat komsumtif, tidak bertanggung jawab
5

terhadap hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya. Hal itu semua sangat
bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional.
Citra pendidikan bangsa Indonesia yang semakin tidak jelas arahnya.
Semakin banyak kaum yang dianggap terpelajar dan berpendidikan telah
bercitra seperti orang yang tidak mengenal pendidikan. Semakin maraknya
perkelahian pelajar, tindakan kriminal yang dilakukan pelajar, serta tindakantindakan asusila lainnya, mencerminkan gagalnya dunia pendidikan dalam
mencetak generasi yang beradab. Sekolah tidak berhasil melaksanakan
konsep mendidiknya.
Berdasarkan latar belakang di atas, yakni begitu urgennya fungsi dan
kedudukan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang
meliputi tujuan, materi pendidikan dan metode pendidikannya. Pemikiranpemikiran beliau tentang budi pekerti selaras dengan pendidikan karakter
yang sedang mengedepan dalam pendidikan nasional Indonesia. Maka
penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan penulisan skripsi yang
berjudul Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Konsep Pendidikan
Budi Pekerti.

B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dalam
penelitian ini rumusan masalahnya adalah Bagaimana konsep pendidikan
budi pekerti yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara ?. Rumusan masalah
tersebut akan dijawab dengan sub sub pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang kehidupan Ki Hajar Dewantara?


2. Bagaimana perjalanan karir intelektual Ki Hajar Dewantara?
3. Bagaimana peran sosial Ki Hajar Dewantara?
4. Bagaimana pokok-pokok pemikiran Ki Hajar Dewantara?
5. Bagaimana karakteristik pemikiran Ki Hajar dewantara?
6. Bagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan
budi pekeri?
7. Bagaimana relevansi konsep pemikiran budi pekerti Ki Hajar dewantara
dalam konteks kekinian ?

C. Tujuan Peneltian
Dengan sub-sub pertanyaan dalam rumusan masalah di atas

maka

tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Untuk mengetahui latar belakang kehidupan Ki Hajar Dewantara.
2. Untuk mengetahui perjalanan karir intelektual Ki Hajar Dewantara.
3. Untuk mengetahui peran sosial Ki Hajar Dewantara.
4. Untuk mendeskripsikan pokok-pokok pemikiran Ki Hajar Dewantara
5. Untuk mendiskripsikan karakteristik pemikiran Ki Hajar Dewantaraan
6. Untuk mendiskripsikan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep
pendidikan budi pekerti
7. Untuk mengetahui relevansi konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam
konteks kekinian.

D. Kegunaan Penelitian
Manfaat hasil penelitian yang penulis harapkan adalah:
1. Teoritis: Sebagai salah satu sumbangan pemikiran bagi khasanah keilmuan
pendidikan Indonesia secara umum dan pendidikan islam pada khususnya.
2. Praktis: memberikan Informasi ulang kepada praktisi pendidikan tentang
konsep budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara. Untuk dijadikan rujukan
dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah.

E. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa hal pokok yang mendasari
penelitian, antara lain: Jenis penelitian, sumber data, metode pengumpulan
data, dan analisis data.
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian literer yang berfokus pada
refrensi buku dan sumber-sumber yang relevan. Penelitian literer lebih di
fokuskan kepada studi kepustakaan. ( Tatang M. Amirin, 1995: 135)
2. Sumber data
Dalam penelitian ini untuk melengkpai sumber data-datanya
penulis menggunakan karya ilmiah Ki Hajar Dewantara berupa buku
dengan judul Bagian Pertama : Pendidikan terbitan tahun 1977 oleh
Majelis luhur persatuan taman siswa Yogjakarta. Buku ini merupakan
karya pertama Ki Hajar Dewantara Yang dibukukan, di dalamnya memuat
beberapa hal meliputi pedoman pendidikan,landasan pendidikan, alat

pendidikan, lembaga pendidikan, dan kajian tentang konsep pendidikan


budi pekerti.
Dalam buku ini fokus utama tentang pendidikan nasionalisme dan
budi pekerti. Ki Hajar Dewantara berargumentasi bahwa kondisi sosial
bangsa pada masa itu menghadapi penjajah, sehingga nasionalisme perlu
ditanamkan kepada anak didik di dunia pendidikan Indonesia. Sebagai
bukti konkrit penanaman nilai nasionalisme itu berupa pemakaian bahasa
Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan di sekolah. Adapun
konsep budi pekerti dijadikan landasan pendidikan bangsa Indonesia saat
itu, karena budi pekerti sebagai tiang penyangga akhlak bangsa Indonesia
untuk melawan penjajah.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pencarian data dicari dengan pendekatan library research yaitu
suatu penelitian kepustakaan murni. Dengan demikian pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah menggunakan metode dokumentasi yang
mencari data mengenai hal-hal atau variable-variabel yang berupa catatan
seperi buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen harian,
catatan rapat, dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2010: 202).
Dimana semua data-data atau variable-variabel tersebut berupa
karya Ki Hajar Dewantara atau karya-karya mengenai beliau baik tentang
sejarah kehidupanya maupun konsep pemikirannya.

4. Teknik analisis data


Teknik analisis data yang digunakan penulis dalam penulisan
skripsi ini adalah:
a. Deduktif
Metode deduktif adalah metode berfikir yang berdasarkan pada
pengetahuan umum dimana kita hendak menilai suatu kejadian yang
khusus. (Sutrisno Hadi, 1981: 42). Metode ini digunakan untuk
menjelaskan konsep pendidikan budi pekerti yang merupakan salah
satu sistem pendidikan karakter di Indonesia.
b. Induktif
Metode Induktif adalah metode berfikir yang berangkat dari
fakta-fakta

peristiwa

khusus

dan

konkret,

kemudian

ditarik

generalisasi-generalisasi yang bersifat umum.(Sutrisno Hadi, 1981:


42). Metode ini digunakan untuk membahas sejumlah data tentang
konsep budi pekerti menurut Ki hajar dewantara guna di tarik
kesimpulan di dalamnya dan dicari relevansinya dengan dunia
pendidikan nasional pada masa kini.

F. Telaah Pustaka
Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh yang penting di Indonesia. Ia
adalah tokoh yang mendapat gelar Bapak Pendidikan Indonesia dan menjadi
salah seorang yang mendapatkan gelar pahlawan di mata pemerintah.

10

Karena begitu besar pengaruh dan peranannya, maka ada beberapa yang
telaj mengkaji mengenai Ki Hajar Dewantara. Baik berupa karya, skripsi, tesis
dan buku.
Sejauh pengamatan penulis, ada beberapa penulusuran mengenai
pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan maupun konpes
pendidikan budi pekerti, baik berupa thesis maupun skripsi diantaranya yaitu:
1. Ratna Setyawati (PAI 2003) Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara
ditinjau dari Konsep Pendidikan Islam. Dengan kesimpulanya bahwa
pendidikan yang di gagas oleh Ki Hajar Dewantara mengedepankan nilanilai kemaslahatan umat dan memerangi kebodohan. Karena Ki Hajar
Dewantara memunculkan ide konsep pendidikan pada masa penjajahan
maka beliau mengedepankan nilai kebangsaan. Sedangkan pendidikan
islam selalu berkembang seiring dengan penenmuan-penemuan baru para
pakar Islam Yang menyesuaikan perkembangan zaman.
2. Cholifah Rodiyah (2011) Pendidikan Karakter dalam prespektif
pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dengan kesimpulanya disarankan tetap
mempertahankan ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara yang baik, sambil
menggapai strategi pembelajaran yang lebih baik. Andaikan menemukan
kejanggalan atau sesuatu yang kontradiktif dalam pembelajaran Ki Hajar
Dewantara, hendaknya dijadikan sebagai pijakan atau tantangan secara
ilmiah(sains) bagi intellektual dan para pakar pendidikan untuk
membuktikan kebenaran atau positif dan negatif dari konsep Ki Hajar
Dewantara tentang pendidikan karakter. Hasil penelitian ini belum bisa di

11

katakan final secara sempurna, untuk itu di harapkan terdapat penelitian


lebih lanjut yang mengkaji ulang hasil penelitian dengan topik yang
serumpun.
3. Nur Idlokh (2011) Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan
Keluarga dalam Perspektif Hadist-Hadist Nabi SAW tentang Pendidikan.
Dengan Kesinpulanya meliputi: Pertama Konsep pendidikan keluarga
yaitu, keluarga sebagai pusat pendidikan, yang berarti menuntut adanya
berbagai pendidikan baik pendidikan individual maupun pendidikan sosial
bagi anak dilakukan dalam lingkungan keluarga. Sedangkan lembaga
pendidikan lain berfungsi sebagai pelengkap dan pendorong bagi jalannya
pendidikan keluarga. Orang tua berperan penting dalam mendidik anakanaknya, karena pertumbuhan budi pekerti anak sangat dipengaruhi oleh
lingkungan keluarganya masingmasing. Alam keluarga merupakan tempat
terbaik untuk melangsungkan pendidikan, karena lingkungan keluarga
adalah tempat pendidikan permulaan bagi setiap individu sebab disitulah
pertama kalinya pendidikan yang diberikan oleh orangtua, yang
kedudukannya sebagai guru (penuntun), pengajar dan sebagai pemimpin
pekerjaan (pemberi contoh). Pendidikan dalam keluarga merupakan
pondasi

pembentuk

watak

kepribadian

anak.

Dalam

kehidupan

kesehariannya, anak banyak berkumpul dengan keluarga. Segala tingkah


laku orang tua terutama orang tuanya akan ditiru oleh anak, sebab anak
merupakan peniru yang ulung. Bila obyek peniruannya jelek, orang tua
tidak memberikan kasih sayang yang memadai dan tidak memberikan

12

teladan yang baik, serta jauh dari nuansa agama, maka jangan berharap
kedua orang tuanya akan menuai buah hasil yang baik. Namun apabila
kedua orang tuanya memberikan teladan yang baik, saling menghormati,
menyayangi, jalinan yang baik sesama anggota keluarganya, tidak bersifat
masa bodoh, selalu memberikan contoh yang bernuansa ajaran islami,
maka semua itu akan tercetak (terlukis) pada diri anak dan ia senantiasa
akan meniru segala perbuatan yang terekam mulai pagi hari sampai sore
hari. Kedua Sumbangan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan
adalah menanamkan jiwa merdeka bagi rakyat melalui bidang pendidikan.
Namun telah diakui dunia bahwa kecerdasan, keteladanan dan
kepemimpinannya telah menghantarkan dia sebagai seorang yang berhasil
meletakkan dasar pendidikan nasional Indonesia. Jika dikaitkan dengan
pendidikan Islam, maka dapat ditegaskan bahwa Ki Hajar Dewantara
mengajak masyarakat untuk meningkatkan pendidikan agar nantinya dapat
mendapatkan kecerdasan, keteladanan serta merasakan hidup bahagia di
dunia dan di akhirat. Penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan
informasi dan masukan bagi mahasiswa, orang tua, tenaga pengajar, para
peneliti, dan semua pihak yang membutuhkan.

Adapun buku buku yang telah terbit mengenai beliau diantaranya:


1. Ditulis oleh Banbang Dewantara yang merupakan putera beliau dengan
100 Tahun Ki hajar Dewantara, Buku inimembahas perjalanan hidup
beliau, mulai dari kehidupan keluarganya dan perjuangannya melawan
penjajah. Dan diterbitkan oleh Pustaka Kartini pada tahun 1989 di Jakarta.
13

2. Ditulis oleh H. A. H Harahap dan B. S Dewantara dengan judul Ki Hajar


Dewantara Dkk, diterbitkan oleh PT. Gunung Agung pada tahun 1980 di
Jakarta.
3. Ditulis oleh Abdurrachman Surjomihardjo dengan judul Ki Hajar
Dewantara Dan Taman siswa Dalam Sejarah Modern, diterbitkan oleh
penerbit sinar harapanpada tahun 1986 di Jakarta.
Dari beberapa tulisan tersebut diatas, sejauh pengamatan penulis
belum ada yang membahas secara murni pemikiran beliau tentang konsep
pendidikan budi pekerti. Harapan penulis konsep yang akan disampaikan ini
dapat melengkapi informasi yang ada sebelumnya dan menambah wacana
khasanah keilmuan.

G. Sistematika Penulisan
Agar mendapatkan pengetahuan secara menyeluruh dalam skripsi ini
terdapat lima bab untuk membahas Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang
Konsep Pendidikan Budi Pekerti, sebagaimana dijelaskan di bawah ini

BAB I: Pendahuluan
Dalam pendahuluan ini memuat tentang Latar Belakang Masalah,
Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Metode
Penelitian dan Sistematika Penulisan skripsi.

BAB II: Biografi Ki Hajar Dewantara

14

Sebelum melangkah jauh ke penelitian mengenai konsep pemikiran


beliau tentang pendidikan budi pekerti, penulis mengajak terlebih dahulu
untuk menganal sosok Ki Hajar Dewantara melalui Riwayat Hidup Ki Hajar
Dewantara, Setting-sosial Politik dan pengaruhnya terhadap pemikiran Ki
Hajar Dewantara, Karya Karya Ki Hajar Dewantara.

BAB III: Konsep Pendidikan Budi Pekerti Menurut Ki Hajar Dewantara


Untuk memaparkan pemikiran beliau yang merupakan inti dari skripsi
ini maka penulis mencoba memberikan penjelasan mengenai Pengertian dan
Dasar Pendidikan Budi Pekerti, Tujuan Pendidikan Budi Pekerti, Dasar
Pendidikan Budi Pekerti, Materi Pendidikan Budi Pekerti, Metode Pendidikan
Budi Pekerti.

BAB IV: PEMBAHASAN


Mengingat konsep beliau ini merupakan pengkajian ulang setelah
sekian lama terpendam, maka penulis mencoba merelavansikan dengan dunia
pendidikan nasional saat ini dengan memaparkan Signifikansi Pemikiran Ki
Hajar Dewantara, Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Implikasi
pemikiran Ki Hajar Dewantara.
BAB V: Penutup
Merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan, saran-saran dan
penutup.

15

BAB II
RIWAYAT HIDUP KI HAJAR DEWANTARA

Sosok Ki Hajar Dewantara sudah tidak asing lagi di mata penduduk


bangsa Indonesia. Beliau adalah tokoh yang mempunyai jiwa pejuang yang tidak
kenal kata menyerah, seorang pemimpin yang dapat menuntun anak buahnya,
seseorang yang kritis terhadap dunia pendidikan, yang telah menghasillkan
berbagai gagasan yang meliputi masalah politik dan budaya, sehingga beliau
dikenal sebagai seorang pejuang, pendidik sejati dan sekaligus menjadi
budayawan Indonesia.
Orang pertama di Indonesia seorang Ir. Soekarno bahkan sangat
menghormati dan memuliakan beliau, seperti yang disampaikan dalam pidatonya
bahwa saya datang di sini sebagai Presiden ataupun sebagai Bung Karno. Dalam
kedua duanya hal itu saya yakin, menjadi penyambung lidah rakyat, dan saya
datang disini ialah untuk menyatakan pangabekti kepada Ki Hajar Dewantara dan
Nyi Hajar Dewantara (Bambang S Dewantara, 1989: 11).
Ki Hajar Dewantara juga sangat disegani masyarakat luas karena
kesederhanaanya, beliau tidak segan bergaul dengan masyarakat awam di luar
termasuk dengan hamba sahaya nya meski beliau adalah seorang keturunan
berdarah biru.
Untuk mengetahui keseluruhan tentang Ki Hajar Dewantara maka penulis
mengajak pembacaa untuk membahas bersama mengenai beliau diantaranya yaitu:

16

A. Biografi Ki Hajar Dewantara


Ki Hajar Dewantara Lahir pada 2 Mei 1889 (Ensiklopedi Nasional
Indonesia Jilid 4, 1989: 330). Beliau adalah putera ke lima pangeran
Soeryaningrat putera dari Sri Paku alam III. Pada waktu dilahirkan diberi
nama Soewardi Soeryaningrat, karena beliau masih keturunan bangsawan
maka mendapat gelar Raden Mas (RM) yang kemudian nama lengkapnya
menjadi Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (Darsiti Soeratman, 1983/1984:
8-9). Alasan utama pergantian nama itu adalah keinginan Ki Hadjar
Dewantara untuk lebih merakyat atau mendekati rakyat. Dengan pergantian
nama tersebut, akhirnya dapat dengan leluasa bergaul dengan rakyat.
Sehingga dengan demikian perjuangannya menjadi lebih mudah diterima oleh
rakyat pada masa itu. Menurut silsilah susunan Bambang Sokawati
Dewantara, Ki Hadjar Dewantara masih mempunyai alur keturunan dengan
Sunan Kalijaga (Darsiti Soeratman, 1983/1984: 171).
Jadi Ki Hadjar Dewantara adalah keturunan bangsawan dan juga
keturunan ulama, karena merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga.
Sebagaimana seorang keturunan bangsawan dan ulama, Ki Hadjar Dewantara
dididik dan dibesarkan dalam lingkungan sosio kultural dan religius yang
tinggi serta kondusif. Pendidikan yang diperoleh Ki Hadjar Dewantara
dilingkungan keluarga sudah mengarah dan terarah ke penghayatan nilai-nilai
kultural sesuai dengan lingkungannya. Pendidikan keluarga yang tersalur
melalui pendidikan kesenian, adat sopan santun, dan pendidikan agama turut
mengukir jiwa kepribadiannya.

17

Pada tanggal 4 November 1907 dilangsungkan Nikah Gantung


antara R.M. Soewardi Soeryaningrat dengan R.A. Soetartinah. Keduanya
adalah cucu dari Sri Paku Alam III. Pada akhir Agustus 1913 beberapa hari
sebelum berangkat ke tempat pengasingan di negeri Belanda. Pernikahannya
diresmikan secara adat dan sederhana di Puri Suryaningratan Yogyakarta (H.
A. H. Harahap dan B. S. Dewantara, 1980: 12)
Jadi Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hadjar Dewantara adalah samasama cucu dari Paku Alam III atau satu garis keturunan. Sebagai tokoh
Nasional yang disegani dan dihormati baik oleh kawan maupun lawan, Ki
Hadjar Dewantara sangat kreatif, dinamis, jujur, sederhana, konsisten,
konsekuen dan berani. Wawasan beliau sangat luas dan tidak berhenti
berjuang untuk bangsanya hingga akhir hayat. Perjuangan beliau dilandasi
dengan rasa ikhlas yang mendalam, disertai rasa pengabdian dan pengorbanan
yang tinggi dalam mengantar bangsanya ke alam merdeka (Ki Hariadi, 1989:
39)
Karena pengabdiannya terhadap bangsa dan negara, pada tanggal 28
November 1959, Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai Pahlawan
Nasional. Dan pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan
tanggal lahir Ki Hajar Dewantara tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan
Nasional berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor: 316 tahun 1959 (Ki
Hajar Dewantara, 1977 : XIII).
Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959 di
rumahnya Mujamuju Yogyakarta. Dan pada tanggal 29 April, jenazah Ki

18

Hajar Dewantara dipindahkan ke pendopo Taman Siswa. Dari pendopo


Taman Siswa, kemudian diserahkan kepada Majlis Luhur Taman Siswa. Dari
pendopo Taman Siswa, jenazah diberangkatkan ke makam Wijaya Brata
Yogyakarta. Dalam upacara pemakaman Ki Hajar Dewantara dipimpin oleh
Panglima Kodam Diponegoro Kolonel Soeharto. Dalam lingkungan budaya
dan religius yang kondusif demikianlah Ki Hadjar Dewantara dibesarkan dan
dididik menjadi seorang muslim khas jawa yang lebih menekankan aspek
hakikat daripada syariat.
Dalam hal ini Pangeran Ki Hariyadi, Ki Hajar Dewantara sebagai
Pendidik, Budayawan, Pemimpin Rakyat, dalam Buku Ki Hajar Dewantara
dalam Pandangan Para Cantrik dan Mentriknya, Soeryaningrat pernah
mendapat pesan dari ayahnya: syariat tanpa hakikat adalah kosong, hakikat
tanpa syariat batal (Darsiti soeratman, 1981/1982 : 16).
Selain mendapat pendidikan formal di lingkungan Istana Paku Alam
tersebut. Ki Hadjar Dewantara juga mendapat pendidikan formal di luar
antara lain:
1. ELS (Europeesche Legere School). Sekolah Dasar Belanda III.
2. Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta.
3. STOVIA (School Tot Opvoeding Van Indische Artsen) yaitu sekolah
kedokteran yang berada di Jakarta. Pendidikan di STOVIA ini tak dapat
diselesaikannya, karena Ki Hadjar Dewantara sakit (Gunawan, 1992:
302-303).
4. Europeesche Akte, Belanda 1914.

19

Selain itu Ki Hajar Dewantara memiliki karir dalam dunia jurnalistik,


politik dan juga sebagai pendidik sebagai berikut, diantaranya:
a. Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia,
Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara (Bambang Sokawati
Dewantara, 1981 : 48).
b. Pendiri National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional
Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 Bambang Sokawati Dewantara, 1981 :
66).
c. Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.
d. Boedi Oetomo 1908
e. Syarekat Islam cabang Bandung 1912
f. Pendiri

Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran

nasionalisme Indonesia) 25 Desember 1912


Penghargaan penghargaan yang pernah diraih oleh beliau diantaranya
adalah:
a. Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari
Pendidikan Nasional Pahlawan Pergerakan Nasional (surat keputusan
Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)
b. Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957

20

B. Peran Sosial Ki hajar Dewantara


Mengangkat pemikiran seorang tokoh besar seperti Ki Hajar
Dewantara (Soewardi Soeryaningrat) tanpa terlebih dahulu memahami dan
mempertimbangkan kondisi sosio-kultural dan politik masa hidupnya yang
melingkari pertumbuhan ataupun mobilitas pemikirannya, boleh jadi akan
memberikan citra kurang baik, sebab pada dasarnya ia merupakan produk
sejarah masanya. Oleh karena itu situasi dan kondisi yang berkembang ikut
menentukan perkembangan dan corak pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Ki Hajar Dewantara terlahir dari keluarga kerajaan Paku Alaman
merupakan keturunan bangsawan, lahir di Yogyakarta pada hari kamis legi
tanggal 2 Puasa 1818 atau 2 Mei 1889 dengan nama R.M. Suwardi
Suryaningrat. Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Harjo Surjaningrat , putra
dari Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Harjo Surjosasraningrat yang bergelar
Sri Paku Alam III.
Ki Hajar Dewantara merupakan keturunan dari Paku Alam III. Beliau
mendapat pendidikan agama dari ayahnya yang tunanetra itu dengan
berpegang pada ajaran yang berbunyi syariat tanpa hakikat adalah kosong,
hakikat tanpa syariat adalah batal. (Darsini Soeratman, 1985 : 16) Beliau juga
mendapat pelajaran falsafah Hindu yang tersirat dari cerita wayang dan juga
satra jawa gending.
Di lingkungan keluarga sendiri, Ki Hajar Dewantara banyak
bersentuhan dengan iklim keluarga yang penuh dengan nuansa kerajaan yang
feodal. Walaupun ayahnya seorang keturunan dari peku alam III, namun

21

demikian, ia seorang yang sangat dekat dengan rakyat, karena pada masa
kecilnya ia suka bergaul dengan anak-anak kebanyakan di kampung-kampung,
sekitar puri tempat tinggalnya. Ia menolak adat foedal yang berkembang di
lingkungan kerajaan. Hal ini dirasakan olehnya bahwa adat yang demikian
menganggu kebebasan pergaulannya (Darsini Soeratman, 1985 : 19-20) Ia
juga cinta terhadap ilmu pengetahuan dan agama.
Pada masa itu pendidikan sangatlah langka, hanya orang-orang dari
kalangan Belanda, Tiong Hoa, dan para pembesar daerah saja yang dapat
mengenyam jenjang pendidikan yang diberikan oleh pemerintahan Belanda.
Ki Hajar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat) kecil mendapat pendidikan
formal pertama kali pada tahun 1896, akan tetapi ia kurang senang karena
teman sepermainannya tidak dapat bersekolah bersama karena hanya seorang
anak dari rakyat biasa. Hal ini yang kemudian mengilhami dan memberikan
kesan yang sangat mendalam di dalam hati nuraninya, dalam melakukan
perjuangannya baik dalam dunia politik sampai dengan pendidikan. Ia juga
menentang

kolonialisme

dan

foedalisme

yang

menurutnya

sangat

bertentangan dengan rasa kemanusiaan kemerdekaan dan tidak memajukan


hidup dan penghidupan manusia secara adil dan merata (Darsini Soeratman,
1985: 19-20).
a. Ki Hajar Dewantara sebagai Pejuang Bangsa
Kurang berhasilannya beliau dalam menempuh pendidikan tidaklah
menjadi hambatan untuk berkarya dan berjuang. Akhirnya perhatiannya
dalam

bidang

jurnalistik

inilah

yang

menyebabkan

Soewardi

22

Soeryaningrat diberhentikan oleh Rathkamp, kemudian pindah ke


Bandung untuk membantu Douwes Dekker dalam mengelola harian De
Expres. Melalui

De Expres inilah Soewardi Soeryaningrat mengasah

ketajaman penanya mengalirkan pemikirannya yang progesif dan


mencerminkan kekentalan semangat kebangsaannya. Tulisan demi tulisan
terus mengalir dari pena Soewardi Soeryaningrat dan puncaknya adalah
Sirkuler yang mengemparkan pemerintah Belanda yaitu Als Ik Eens
Nederlander Was! Andaikan aku seorang Belanda ! tulisan ini pula yang
mengantar Soewardi Soeryaningrat ke pintu penjara pemerintah Kolonial
Belanda, untuk kemudian bersama-sama dengan Cipto Mangun Kusumo
dan Douwes Dekker di asingkan ke negeri Belanda (Gunawan, 1992 :303).
Tulisan tersebut sebagai reaksi terhadap rencana pemerintah Belanda
untuk mengadakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari
penindasan Perancis yang akan dirayakan pada tanggal 15 November
1913, dengan memungut biaya secara paksa kepada rakyat Indonesia.
Dengan tersebarnya tulisan tersebut, pemerintah Belanda menjadi
marah. Kemudian Belanda memanggil panitia De Expres untuk diperiksa.
Dalam suasana seperti itu, Cipto Mangun Kusumo menulis dalam harian
De Expres 26 Juli 1913. Untuk menyerang Belanda, yang berjudul Kracht
of Vress (Kekuatan atau ketakutan). Selanjutnya Soewardi Soeryaningrat
kembali menulis dalam harian De Expres tanggal 28 Juli 1913 yang
berjudul Een Voor Allen, Maar Ook Allen Voor Een. (Satu buat semua,
tetapi juga semua buat satu) (Moch. Tauhid, 1963 : 21).

23

Pada tanggal 30 juli 1913 Soewardi Soeryaningrat dan Cipto


Mangunkusumo ditangkap, seakan-akan keduanya orang yang paling
berbahaya di wilayah Hindia Belanda. Setelah diadakan pemeriksaan
singkat keduanya secara resmi dikenakan tahanan sementara dalam sel
yang tepisah dengan seorang pengawal di depan pintu.
Douwes Dekker yang baru datang dari Belanda, menulis
pembelaannya terhadap kedua temannya melalui harian De Expres, 5
Agustus 1913 yang berjudul Onze Heiden: Tjipto Mangoenkoesoemo En
R.M.

Soewardi

Soeryaningrat

(Dia

pahlawan

kita:

Tjipto

Mangoenkoesoemo dan R.M. Soewardi Soeryaningrat) (Gunawan, 1992 :


299). Untuk menguji keberanian dan kepahlawanan mereka berdua.
Atas putusan pemerintah Hindia Belanda tanggal 18 Agustus 1913
Nomor: 2, a, ketiga orang tersebut diinternir. Ki Hajar Dewantara ke
Bangka, Cipto Mangunkusuma ke Banda, dan Douwes Dekker ke Timur
Kupang. Namun ketiganya menolak dan mengajukan dieksternir ke
Belanda meski dengan biaya perjalanan sendiri. Dalam perjalanan menuju
pengasingan Ki Hajar Dewantara menulis pesan untuk saudara dan kawan
seperjuangan yang ditinggalkan dengan judul: Vrijheidsherdenking end
Vrijheidsberoowing.

(Peringatan

kemerdekaan

perampasan

kemerdekaan). Tulisan tersebut dikirim melalui kapal Bullow tanggal 14


September 1913 dari teluk Benggala Moch. Tauhid, 1963 : 22).
Di Belanda Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusuma, Douwes
Dekker langsung aktif dalam kegiatan politik. Di Denhaag Ki Hadjar

24

Dewantara mendirikan Indonesische Persbureau (IPB), yang merupakan


badan pemusatan penerangan dan propaganda pergerakan nasional
Indonesia.
Sekembalinya dari pengasingan, Ki Hajar Dewantara tetap aktif
dalam berjuang. Oleh partainya Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai
sekretaris kemudian sebagai pengurus besar NIP (National Indische Partij)
di Semarang. Ki Hajar Dewantara juga menjadi redaktur De Beweging,
majalah partainya yang berbahasa Belanda, dan Persatuan Hindia dalam
bahasa Indonesia. Kemudian juga memegang pimpinan harian De Expres
yang diterbitkan kembali. Karena ketajaman pembicaraan dan tulisannya
yang mengecam kekuasaan Belanda selama di Semarang, Ki Hajar
Dewantara dua kali masuk penjara Moch. Tauhid, 1963 : 27-28).
Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari
pengasingan di negeri Belanda. Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan
Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Melalui
bidang pendidikan inilah Ki Hajar Dewantara berjuang melawan penjajah
kolonial Belanda. Namun pihak kolonial Belanda juga mengadakan usaha
bagaimana cara melemahkan perjuangan gerakan politik yang dipelopori
oleh Taman Siswa. Tindakan Kolonial tersebut adalah Onderwijs
Ordonantie 1932 (Ordinansi Sekolah Liar) yang dicanangkan oleh
Gubernur Jendral tanggal 17 September 1932. pada tanggal 15-16 Oktober
1932 MLPTS mengadakan Sidang Istimewa di Tosari Jawa Timur untuk
merundingkan Ordinansi tersebut.

25

Hampir seluruh Mass Media Indonesia ikut menentang ordonansi


tersebut. Antara lain: Harian Perwata Deli, Harian Suara Surabaya, Harian
Suara Umum dan berbagai Organisasi Politik (PBI, Pengurus Besar
Muhamadiyyah, Perserikatan Ulama, Perserikatan Himpunan Istri
Indonesia, PI, PSII dan sebagainya. Dengan adanya aksi tersebut, maka
Gubernur Jendral pada tanggal 13 Februari 1933 mengeluarkan ordonansi
baru yaitu membatalkan OO 32 dan berlaku mulai tanggal 21 Februari
1933 (Sugiyono, 1989 :113-114).
Menjelang kemerdekaan RI, yakni pada pendudukan Jepang (19421945) Ki Hadjar Dewantara duduk sebagai anggota Empat Serangkai
yang terdiri dari Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Kyai
Mansur. Pada bulan Maret 1943, Empat Serangakai tersebut mendirikan
Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang bertujuan untuk memusatkan
tenaga untuk menyiapkan kemerdekaan RI. Akhirnya pada tanggal 17
Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia dapat diproklamasikan oleh Ir.
Soekarno dan Moh. Hatta. Pada hari minggu pon tanggal 17 Agustus 1945,
pemerintah RI terbentuk dengan Ir. Soekarno sebagai Presiden RI dan
Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden. Disamping itu juga mengangkat
Menteri-Menterinya. Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Bambang S Dewantara, 1989 : 111). Pada
tahun 1946 Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Ketua Panitia
Penyelidikan

Pendidikan

dan

Pengajaran

RI,

ketua

pembantu

pembentukan undang-undang pokok pengajaran dan menjadi Mahaguru di

26

Akademi Kepolisian. Tahun 1947, Ki Hadjar Dewantara menjadi Dosen


Akademi Pertanian. Tanggal 23 Maret 1947, Ki Hajar Dewantara diangkat
menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI dan menjadi anggota
Majlis Pertimbangan Pengajaran Agama Islam di Sekolah Rakyat
(Bambang S Dewantara, 1989 : 119).
Pada tahun 1948, Ki Hajar Dewantara dipilih sebagai ketua
peringatan 40 tahun Peringatan Kebangkitan Nasional, pada kesempatan
itu

Beliau

bersama

partai-partai

mencetuskan

pernyataan

untuk

menghadapi Belanda. Pada peringatan 20 tahun ikrar pemuda (28 Oktober


1948), Ki Hadjar Dewantara ditunjuk sebagai ketua pelaksana peringatan
Ikrar Pemuda. Setelah pengakuan kedaulatan di negeri Belanda Desember
1949 Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai anggota DPR RIS yang
selanjutnya berubah menjadi DPR RI. Pada tahun 1950, Ki Hadjar
Dewantara mengundurkan diri dari keanggotaan DPR RI dan kembali ke
Yogyakarta untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Taman Siswa
sampai akhir hayatnya.
b. Ki Hajar Dewantara sebagai pendidik
Seorang tokoh seperti Ivan Illich pernah berseru agar masyarakat bebas
dari sekolah. Niat deschooling tersebut berangkat dari anggapan Ivan Illich
bahwa sekolah tak ubahnya pabrik yang mencetak anak didik dalam paket-paket
yang sudah pasti. bagi banyak orang, hak belajar sudah digerus menjadi
kewajiban

menghadiri

sekolah,

kata

Illich.

Demikian

pula

halnya

dengan Rabindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah seakan-akan


sebuah penjara. Yang kemudian ia sebut sebagai siksaan yang tertahankan.

27

Sebagai tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara tidak seperti Ivan


Illich atau Rabrindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah

sebagai siksaan yang harus segera dihindari. Ki Hajar berpandangan


bahwa melalui pendidikan akan terbentuk kader yang berpikir,
berperasaan, dan berjasad merdeka serta percaya akan kemampuan sendiri.
Arah pendidikannya bernafaskan kebangsaan dan berlanggam kebudayaan
(http//:edukasi kompasiana.com).

Kepeloporan Ki Hajar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan


bangsa yang tetap berpijak pada budaya bangsanya diakui oleh bangsa
Indonesia. Perannya dalam mendobrak tatanan pendidikan kolonial yang
mendasarkan pada budaya asing untuk diganti dengan sistem pendidikan
nasional menempatkan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan
nasional yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Sistem pendidikan kolonial yang ada dan berdasarkan pada budaya
barat, jelas-jelas tidak sesuai dengan kodrat alam bangsa Indonesia. Oleh
karena itu, Ki Hajar Dewantara memberikan alternatif lain yaitu kembali
ke jalan Nasional Pendidikan untuk rakyat Indonesia harus berdasarkan
pada budaya bangsanya sendiri. Sistem pendidikan kolonial yang
menggunakan cara paksaan dan ancaman hukuman harus diganti dengan
jalan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada anak didik dengan tetap
memperhatikan tertib damainya hidup bersama (Ki Hariadi, 1989 : 42).
Reorientasi perjuangan Ki Hajar Dewantara dari dunia politik ke
dunia pendidikan mulai disadari sejak berada dalam pengasingan di negeri

28

Belanda. Ki Hajar Dewantara mulai tertarik pada masalah pendidikan,


terutama terhadap aliran yang dikembangkan oleh Maria Montessori dan
Robindranat Tagore. Kedua tokoh tersebut merupakan pembongkar dunia
pendidikan lama dan pembangunan dunia baru. Selain itu juga tertarik
pada ahli pendidikan yang bernama Freidrich Frobel. Frobel adalah
seorang pendidik dari Jerman. Ia mendirikan perguruan untuk anak-anak
yang bernama Kindergarten (Taman Kanak-kanak). Oleh Frobel diajarkan
menyanyi, bermain, dan melaksanakan pekerjaan anak-anak. Bagi Frobel
anak yang sehat badan dan jiwanya selalu bergerak. Maka ia menyediakan
alat-alat dengan maksud untuk menarik anak-anak kecil bermain dan
berfantasi. Berfantasi mengandung arti mendidik angan anak atau
mempelajari anak-anak berfikir (Darsini Soeratman, 1985 : 69).
Ki Hajar Dewantara juga menaruh perhatian pada metode
Montessori. Ia adalah sarjana wanita dari Italia, yang mendirikan taman
kanak-kanak dengan nama Case De Bambini. Dalam pendidikannya ia
mementingkan hidup jasmani anak-anak dan mengarahkannya pada
kecerdasan budi. Dasar utama dari pendidikan menurut dia adalah adanya
kebebasan dan spontanitas untuk mendapatkan kemerdekaan hidup yang
seluas-luasnya. Ini berarti bahwa anakanak itu sebenarnya dapat mendidik
dirinya sendiri menurut lingkungan masingmasing. Kewajiban pendidik
hanya mengarahkan saja. Lain pula dengan pendapat Tagore, seorang ahli
ilmu jiwa dari India. Pendidikan menurut Tagore adalah semata-mata
hanya merupakan alat dan syarat untuk memperkokoh hidup kemanusiaan

29

dalam arti yang sedalam dalamnya, yaitu menyangkut keagamaan. Kita


harus bebas dan merdeka. Bebas dari ikatan apapun kecuali terikat pada
alam serta zaman, dan merdeka untuk mewujudkan suatu ciptaan.
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa kemerdekaan nusa dan
bangsa untuk mengejar keselamatan dan kesejahteraan rakyat tidak hanya
dicapai melalui jalan politik, tetapi juga melalui pendidikan. Oleh
karenanya timbullah gagasan untuk mendirikan sekolah sendiri yang akan
dibina sesuai dengan cita-citanya.
Untuk merealisasikan tujuannya, Ki Hajar Dewantara mendirikan
perguruan Taman Siswa. Cita-cita perguruan tersebut adalah Saka
saka adalah singkatan dari Paguyuban Selasa Kliwonan di
Yogyakarta, dibawah pimpinan Ki Ageng Sutatmo Suryokusumo.
Paguyuban ini merupakan cikal bakal perguruan taman siswa yang
didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta(Darsiti Soeratman,
1985: 84-85). Yakni: mengayu-ayu sarira (membahagiakan diri),
mengayu-ayu bangsa (membahagiakan bangsa) dan mengayu-ayu
manungsa (membahagiakan manusia). Untuk mewujudkan gagasannya
tentang pendidikan yang dicitacitakan tersebut. Ki Hadjar Dewantara
menggunakan metode Among yaitu Tutwuri Handayani. (Among
berarti asuhan dan pemeliharaan dengan suka cita, dengan memberi
kebebasan anak asuh bergerak menurut kemauannya, berkembang menurut
kemampuannya. Tutwuri Handayani berarti pemimpin mengikuti dari
belakang,

memberi

kebebasan

dan

keleluasaan

bergerak

yang

30

dipimpinnya. Tetapi ia adalah handayani, mempengaruhi dengan daya


kekuatannya dengan pengaruh dan wibawanya (www.tamansiswa.org).
Metode Among merupakan metode pendidikan yang berjiwa kekeluargaan
dan dilandasi dua dasar, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan (Djumhur dan
Danasuparta, 1976 : 174). Metode among menempatkan anak didik
sebagai subyek dan sebagai obyek sekaligus dalam proses pendidikan.
Metode among mengandung pengertian bahwa seorang pamong/guru
dalam mendidik harus memiliki rasa cinta kasih terhadap anak didiknya
dengan memperhatikan bakat, minat, dan kemampuan anak didik dan
menumbuhkan daya inisiatif serta kreatifitas anak didiknya. Pamong tidak
dibenarkan bersifat otoriter terhadap anak didiknya dan bersikap Ing
Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani
(www.tamansiswa.org). .
c. Ki Hajar Dewantara sebagai Budayawan
Teori pendidikan taman siswa yang dikembangkan oleh Ki Hadjar
Dewantara sangat memperhatikan dimensi-dimensi kebudayaan serta nilainilai yang

terkandung dan digali dari masyarakat dilingkungannya.

Sebagaimana disampaikan oleh DJumhur dan Danasuparta bahwa


Trikon nya Ki Hadjar Dewantara adalah:
Bahwa dalam mengembangkan dan membina kebudayaan
nasional, harus merupakan kelanjutan dari budaya sendiri
(kontuinitas) menuju kearah kesatuan kebudayaan dunia
(konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian dalam
lingkungan kemanusian sedunia (konsentrisitas). Dengan demikian
jelas bagi kita bahwa terhadap pengaruh budaya asing, kita harus
terbuka, disertai sikap selektif adaptif dengan pancasila sebagai
tolak ukurnya (Djumhur dan Danasuparta, 1976 : 174-174)
31

Selektif adaptif berarti dalam mengambil nilai-nilai tersebut harus


memilih yang baik dalam rangka usaha memperkaya kebudayaan sendiri,
kemudian disesuikan dengan situasi dan kondisi bangsa dengan
menggunakan pancasila sebagai tolak ukurnya. Semua nilai budaya asing
perlu diamati secara selektif. Manakala ada unsur kebudayaan yang bisa
memperindah, memperhalus, dan meningkatkan kualitas kehidupan
hendaknya diambil, tetapi jika unsur budaya asing tersebut berpengaruh
sebaliknya, sebaiknya ditolak. Nilai kebudayaan yang sudah kita terima
kemudian perlu disesuaikan dengan kondisi dan psikologi rakyat kita, agar
masuknya unsur kebudayaan asing tersebut dapat menjadi penyambung
bagi kebudayaan nasional kita.
Demikian luas dan intensnya Ki Hadjar Dewantara dalam
memperjuangkan dan mengembangkan kebudayaan bangsanya, sehingga
karena jasanya itu, M Sarjito Rektor Universitas Gajah Mada
menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa (DR-Hc) dalam ilmu
kebudayaan kepada Ki Hadjar Dewantara pada saat Dies Natalis yang
ketujuh tanggal 19 Desember 1956 (Bambang Sokawati Dewantara, 1989 :
76). Pengukuhan tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Soekarno.
d. Ki Hajar Dewantara sebagai pemimpin Rakyat
Sebagai seorang pemimpin, Ki Hadjar Dewantara tidak diragukan
lagi. Dalam memimpin rakyat, Ki Hadjar Dewantara menggunakan teori
kepemimpinan yang dikenal dengan Trilogi Kepemimpinan yang telah
berkembang dalam masyarakat. Trilogi kepemimpinan tersebut adalah Ing
32

Ngharsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani: Di


depan seorang pemimpin harus dapat menjadi teladan dan contoh bagi
anak buahnya, ditengah (dalam masyarakatnya) seorang pemimpin harus
mampu membangkitkan semangat dan tekad anak buah. Dan dibelakang
harus mampu memberikan dorongan dan semangat anak buah.
Ki Hadjar Dewantara adalah seorang demokrat yang sejati, tidak
senang pada kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin yang
mengandalkan pada kekuasannya tanpa dilandasi oleh rasa cinta kasih.
Dalam hal ini, kita merasakan betapa demokratis dan manusiawinya Ki
Hadjar Dewantara memperlakukan orang lain.
Ki Hadjar Dewantara selalu bersikap menghargai dan menghormati
orang lain sesuai dengan harkat dan martabatnya. Dengan sikap yang arif
beliau menerima segala kekurangan dan kelebihan orang lain, untuk saling
mengisi, memberi dan menerima demi sebuah keharmonisan dari lembaga
yang dipimpinnya.

C. Karya Karya Ki Hajar Dewantara


Diantara karya-karya Ki Hajar Dewantara yaitu:
1. Ki Hadjar Dewantara, buku bagian pertama: tentang Pendidikan Buku ini
khusus membicarakan gagasan dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam
bidang pendidikan di antaranya tentang hal ihwal Pendidikan Nasional. Tri
Pusat Pendidikan, Pendidikan Kanak-Kanak, Pendidikan Sistem Pondok,
Adab dan Etika, Pendidikan dan Kesusilaan.

33

2. Ki Hadjar Dewantara, buku bagian kedua: tentang Kebudayaan Dalam


buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai kebudayaan dan kesenian di
antaranya: Asosiasi Antara Barat dan Timur, Pembangunan Kebudayaan
Nasional, Perkembangan Kebudayaan di Jaman Merdeka, Kebudayaan
nasional, Kebudayaan Sifat Pribadi Bangsa, Kesenian Daerah dalam
Persatuan Indonesia, Islam dan Kebudayaan, Ajaran Pancasila dan lainlain.
3. Ki Hadjar Dewantara, buku bagian ketiga: tentang Politik dan
Kemasyarakatan. Dalam buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai politik
antara tahun 1913-1922 yang menggegerkan dunia imperialis Belanda, dan
tulisan-tulisan mengenai wanita, pemuda dan perjuangannya.
4. Ki Hadjar Dewantara, buku bagian keempat: tentang Riwayat dan
Perjuangan Hidup Penulis: Ki Hadjar Dewantara Dalam buku ini
melukiskan kisah kehidupan dan perjuangan hidup perintis dan pahlawan
kemerdekaan Ki Hadjar Dewantara.
5. Tahun 1912 mendirikan Surat Kabar Harian De Ekspres (Bandung),
Harian

Sedya Tama

KaumMuda

(Bandung),

(Yogyakarta)
Utusan Hindia

Midden Java (Yogyakarta),


(Surabaya),

Cahya Timur

(Malang) ( Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 4, 1989 : 330).


6. Monumen Nasional Taman Siswa yang didirikan pada tanggal 3 Juli
1922( Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 4, 1989 : 331).
7. Pada tahun 1913 mendirikan Komite Bumi Putra bersama Cipto
Mangunkusumo,

untuk

memprotes

rencana

perayaan

100

tahun

34

kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis yang akan dilaksanakan


pada tanggal 15 November 1913 secara besar-besaran di Indonesia
(Bambang S. Dewantara, 1989 : 116).
8. Mendirikan IP (Indice Partij)tanggal 16 September 1912 bersama Dauwes
Dekker dan Cjipto Mangunkusumo ( Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid
4, 1989 : 330).
9. Tahun 1918 mendirikan Kantor Berita Indonesische Persbureau di
Nederland.
10. Tahun 1944 diangkat menjadi anggota Naimo Bun Kyiok Yoku Sanyo
(Kantor Urusan Pengajaran dan Pendidikan) (Bambang S. Dewantara,
1989 : 76).
11. Pada tanggal 8 Maret 1955 ditetapkan pemerintah sebagai

perintis

Kemerdekaan Nasional Indonesia.


12. Pada tanggal 19 Desember 1956 mendapat gelar kehormatan Honoris
Causa dalam ilmu kebudayaan dari Universitas Negeri Gajah Mada.
13. Pada tanggal 17 Agustus dianugerahi oleh Presiden/Panglima Tertinggi
Angkatan Perang RI bintang maha putera tinggat I
14. Pada tanggal 20 Mei 1961 menerima tanda kehormatan Satya Lantjana
Kemerdekaan (Irna HN dan Hadi Soewito, 1985 : 132).

35

BAB III
PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG
KONSEP PENDIDIKAN BUDI PEKERTI

Sebagaimana yang diwasiatkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa


pendidikan budi pekerti sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan
manusia. Perkembangan yang tidak hanya dilihat dari jasmaninya, karena
perkembangan jasmani tanpa diimbangi dengan budi pekerti dapat berdampak
buruk terhadap perkembangan manusia, yang pada akhirnya akan melahirkan
manusia yang sombong dan durjana.
Secara mendalam Ki Hajar Dewantara tidak sepakat dengan sistem
pendidikan yang diwariskan oleh kolonial belanda, orientasi pada pendidikan
warisan tersebut hanya pada segi kognitf (penalaran) tanpa melihat dari segi yang
lain, yaitu pendidikan budi pekerti (akhlak) sehingga produk yang di hasilkan oleh
sistem pendidikan tersebut adalah lahirnya manusia yang sombong, tidak
mempunyai perangai yang baik dan pembentukan moral yang baik merupakan
tugas dari pendidikan budi pekerti.
Dengan pendidikan budi pekerti, anak didik diharapkan mampu menjadi
manusia yang luhur dan berguna bagi masyarakat luas. Kecerdasan otak bukanlah
hal yang utama dalam pendidikan akan tetapi bagaimana peserta didik memilki
budi pekerti yang mulia merupakan tujuan utama dalam pendidikan.Sehingga
peserta didik yang nantinya menjadi orang yang cerdas dan tidak akan
menyalahgunakan kecerdasanya untuk menipu orang lain. Untuk menumbuhkan

36

perasaan dan kehalusan budi pekerti, Ki Hajar Dewantara mempunyai konsep


tentang pendidikan budi pekerti yang kemudian di kembangkan dalam Perguruan
Taman Siswa. Konsep tersebut adalah sebagai berikut:
A. Pengertian Pendidikan Budi Pekerti
Peranan pendidikan bagi manusia sangatlah penting karena manusia
telah menyadari tentang arti sebuah kehidupan sehingga pendidikan menjadi
perhatian tersendiri dalam rangka mencari eksistensi dirinya. Sebelum masuk
pada pembahasan definisi dari pendidikan budi pekerti menurut Ki Hajar
Dewantara, penulis akan membahas tentang definisi pendidikan secara umum
menurut Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara mengemukan beberapa
definisi tentang pendidikan.
Ki Hajar Dewantara menyebutkan bahwa pendidikan adalah:
Menuntun segala kekuatan kodrat jang ada pada anak-anak itu, agar
mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Ki
Hajar Dewantara, 1977 : 20).

Lebih jelas lagi Ki Hajar dewantara mengungkapkan pengertian


pendidikan adalah:
Pendidikan, umumnya berarti daya upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dank arakter), pikiran
(intellect) dan tubuh anak; dalam pengertian Taman siswa tidak boleh
dipisah-pisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita dapat memajukan
kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang
kita didik selaras dengan dunianya( Ki Hajar Dewantara, 1977 : 14-15).

Definisi pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara,


menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai
suatu yang proses yang dinamis dan berkesinambungan. Disini tersirat pula
37

wawasan kemajuan, karena sebagai proses pendidikan harus mampu


menyesuaikan diri dengan tuntunan kemajuan zaman. Keseimbangan unsur
cipta, rasa dan karsa yang tidak dapat dipisah-pisahkan ini memperlihatkan
bahwa Ki Hajar Dewantara tidak memandang pendidikan hanya sebagai
proses penulasan atau transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowladge)
saja. Hal ini sesuai dengan kondisi yang dihadapi oleh Ki Hajar Dewantara
bahwa pendidikan pada masa itu (kolonial Belanda) penuh dengan semangat
keduniawian (materialism), penalaran (intellektualism) serta individualism
(Ki Hajar Dewantara, 1977 : 139).
Jadi secara simultan menurut beliau pendidikan juga merupakan
proses penularan nilai dan norma serta penularan keahlian dan ketrampilan.
Pendapat Ki Hajar Dewantara di atas dapat diambil kesimpulan sementara
yaitu pendidikan merupakan usaha secara sadar dalam rangka menumbuh
kembangkan segala potensi yang terdapat pada peserta didik. Hal ini sejalan
dengan pendapat Langeveld seperti yang dikutip Zahara Idris dalam bukunya,
bahwa pendidikan merupakan proses mempengaruhi anak dalam usaha
membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing merupakan
usaha yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja (Zahara Idris dan
Lisma Jamal, 1992 : 3).
Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan nasional,

Ki Hajar

Dewantara juga mengembangkan pendidikan budi pekerti yang merupakan


salah satu pendukung utama dalam melaksanakan tujuan pendidikan nasional.
Menurut Ki Hajar Dewantara, budi pekerti berarti pikiran, perasaan,

38

kemauan. Sedangkan pekerti berarti tenaga. Budi pekerti itu sifatnya jiwa
manusia, mulai angan-angan sampai terjelma sebagai tenaga. Jadi yang
dimaksud budi pekerti menurut Ki Hajar Dewantara adalah bersatunya gerak
pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang akhirnya menimbulkan
tenaga (Ki Hajar Dewantara, 1977 :25).
Ki Hajar Dewantara meringkaskan tentang pengertian pendidikan budi
pekerti adalah Segala usaha dari orang tua terhadap anak-anak dengan
maksud

menyokong

kemajuan

hidupnya,

dalam

arti

memperbaiki

bertumbuhnya segala kekuatan rohani dan jasmani yang ada pada anak-anak
karena kodrat irodatnya sendiri.

B. Tujuan Pendidikan Budi Pekerti


Pendidikan merupakan sebuah proses sehingga pengukuran dari
proses pendidikan tersebut adalah bagaimana tujuan pendidikan itu tercapai.
Tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya merupakan
sebuah perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam diri pribadi
manusia. Terbentuknya nilai-nilai tersebnut dapat diaplikasikan dalam
perencanaan kurikulum pendidikan sebagai landasan dasar operasional
pelaksanaan itu sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan
dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhya anak-anak.
Adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia
dan sebagai anggauta masyarakat dapatlah mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. (Ki Hajar Dewantara,
1977 :20).
39

Jika dilihat dari tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara di


atas dapat diketahui bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam
kehidupan

manusia

yang

mempunyai

fungsi

untuk

membantu

perkembangan manusia untuk mencapai manusia yang seutuhnya. Hal ini


sejalan dengan pendapat Zahara Idris, bahwa tujuan pendidikan adalah
memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya. Dalam arti,
supaya dapat mengembangkan potensi fisik, emosi, sikap, moral,
pengetahuan dan keterampilan semaksimal mungkin agar menjadi manusia
dewasa.
Sejalan

dengan tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara, Undang-

undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan


pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha
esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hadjar
Dewantara dijelaskan bahwa tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk
menyokong perkembangan hidup anak-anak lahir dan batin dari sifat kodrati
menuju keperadapan sifatnya yang lebih umum (Ki Hajar Dewantara, 1977 :
485).
C. Dasar Pendidikan Budi Pekerti
Semakin merosotnya akhlak warga negara telah menjadi salah satu
keprihatinan kita semua, kemerosotan akhlak (budi pekerti) itu agaknya

40

terjadi pada semua lapisan masyarakat. Sebagai akibatnya banyak keluarga


yang kehilangaan kebahagiaan dan ketentraman, bahkan banyak para pejabat
yang tak berakhlak dan berhati nurani. Untuk itu dalam Islam dianjurkan
bahwa sebuah keluaraga itu haruslah dijaga dengan sebaik-baiknya Karen
anak adalah titipan dari Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat AtTahrim ayat 6:


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamum dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia
dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka Dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Dalam menjalankan pendidikannya Ki Hajar Dewantara menggunakan
azas atau dasar yang dicetuskan beliau pada juli 1922 sebagai berikut :
1. Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingsrecht)
dengan mengikuti tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum
(maatschappelijk saamhoorigheid), itulah azas kita yang pertama. Tertib
dan damai (tata lan tentrem, orde en vrede) itulah tujuan kita yang
setinggi-tingginya. Tidak adalah ketertiban terdapat, kalau tak
bersandar pada perdamaian. Sebaliknja tak akan ada orang hidup
damai, jika ia dirintangi dalam segala syarat kehidupannya. Bertumbuh
menurut kodrat (natuurlijke groi) itulah perlu sekali untuk segala
kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluasnya. Maka dari itu
pendidikan yang beralaskan syarat paksaan-hukuman-ketertiban
(regering-tucht en orde, ini perkataan dalam ilmu pendidikan) kita
anggap memperkosa hidup kebatinan anak. yang kita pakai sebagai alat
pendidikan ialah pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat
tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sedikit. Inilah
kita namakanAmong methode; 2. dalam systeem ini maka pengajaran
berarti mendidik anak akan menjadi manusia merdeka batinnya, merdeka
fikirannya dan merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberi
pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus djuga mendidik
si murid akan dapat mecjari sendiri pengetahuan itu dan memakainya
guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang
manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama; 3. tentang
41

zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada didalam kebingungan.
Seringkali kita tertipu oleh keadaan, yang kita pandang perlu dan harus
untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing, yang sukar
didapatnya dengan alat penghidupan kita sendiri. Demikianlah acapkali
kita merusak sendiri kedamaian hidup kita; 4. oleh karena pengajaran
yang hanya terdapat oleh sebagian kecil dari pada rakyat kita itu tidak
berfaedah untuk bangsa, maka haruslah golongan rakjat yang terbesar
dapat pengajaran secukupnja. Kekuatan bangsa dan negeri itu jumlahnya
kekuatan orang-orangnya. Maka dari itu lebih baik memajukan
pengajaran untuk rakyat umum dari pada mempertinggi pengajaran kalau
usaha mempertinggi ini seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran;
5. untuk dapat berusaha menurut azas dengan bebas dan laluasa, maka
kita harus bekedja menurut kekuatan sendiri. Walaupun kita tidak
menolak bantuan dari orang lain, akan tetapi kalau bantuan itu akan
mengurangi kemerdekaan kita lahir atau batin haruslah ditolak. Itulah
jalannya orang yang tak mau terikat atau terperintah pada kekuasan,
karena berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri; 6. oleh karena
kita bersandar pada kekuatan kita sendiri, maka haruslah segala belanja
dari usaha kita itu di pikul sendiri dengan uang pendapatan biasa. Inilah
yang kita namakan zalfbedruipingsysteem, yang jadi alatnya semua
perusahaan yang hendak hidup tetap dengan berdiri sendiri; dan 7.
dengan tidak terikat lahir atau batin, serta kesucian hati, berniatlah kita
berdekatan dengan sang anak. Kita tidak meminta hak, akan tetapi
menyerahkan diri untuk berhamba kepada sang anak. (Ki Hajar
Dewantara, 1977: 48-49).
Apa yang telah dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara tentang azas
pendidikannya pada tahun 1947 diadakan perbaikan yang tidak jauh berbeda
dari rumusan awal. Seperti yang disampaikan oleh Djumhur dan Danusuparta
Azas tersebut yang meliputi :
a. Kodrat Alam
Dasar pendidikan budi pekerti yang pertama yaitu azaz kodrat alam
yaitu azaz yang dimanfaatkan untuk dapt mengembangkan segenap bakat,
potensi dan kemungkinan
kodrati.

Menurut

yang terdapat dalam diri manusia secara

azas kodrat alam manusia itu terlahir sama dan

merdeka.

42

Jadi Ki Hadjar Dewantara selalu menganggap bahwa semua orang


itu sama dan merdeka. Ki Hajar Dewantara tidak setuju dan menentang
sikap rasis dan foedalisme walaupun beliau adalah keturunan bangsawan.
Sesuai dengan kodrat alam semua orang dilahirkan sama. Tidak ada yang
tinngi dan tidak ada yang lebih rendah.
Menurut Ki Hadjar Dewantara harga atau nilai seseorang bukan
karena bangsawan, bukan pula karena ia seorang yang kaya raya, nilai
atau harga sesorang ditentukan oleh jasa dan perbuatannya terhadap
masyarakat.

Mulia tidaknya sesorang tergantung pada perbuatannya.

Islam mempunyai konsep kodrat alam dapat diartikan dengan fitrah..


Pemaknaan fitrah berarti ciptaan, kodrat jiwa, dan budi nurani.
Sebagaimana disampaikan dalam surat Al Rum ayat 30:


Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah.
Sebagaimana diketahui bahwa secara eksplisit Ki Hajar Dewantara
adalah alur keturunan bangsawan dan ulama. Ki Hajar Dewantara dididik
dan dibesarkan dalam lingkungan sosiokultural dan religius yang tinggi
serta kondusif. Dia dididik dan dibesarkan menjadi seorang muslim yang
lebih menekankan aspek hakekat dari pada syariat.
Dengan azasnya kodrat alam, penulis dapat memahami bahwa
sesungguhnya Ki Hadjar Dewantara juga mengakui adanya kekuasaan
Tuhan karena yang dimaksud kodrat alam adalah kekuasaan Tuhan.
43

Meskipun beliau seorang yang agamis, tetapi beliau lebih suka


menggunakan bahasa-bahasa budaya untuk mencurahkan pemikiranpemikirannya dari pada bahasa-bahasa Islami. Tetapi semua itu tidak
bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
b. Azas Kemerdekaan
Kemerdekaan merupakan sebuah anugerah yang diberikan oleh
Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap makhluknya, termasuk juga manusia,
setiap manusia mempunyai hak unruk

merdeka dan bebas mengatur

dirinya. Dalam mencapai kebahagiaan hidupnya, setiap orang mempunyai


kebebasan untuk berpikir dan berbuat. Semua orang berhak hidup bahagia.
Akan tetapi kebebasan di sini bukan berarti kebebasan berbuat
semaunya. Sunguhpun setiap orang bebas berpikir dan berbuat, namun ia
harus memperhatikan ketertiban masyarakat. Kebebasan seseorang jangan
sampai mengganggu dan merusak ketertiban masyarakat.
Ki Hajar

Dewantara menjunjung tinggi kemerdekaan. beliau

menolak penjajahan. Dari ketidaksetujuanya mengenai hal itu bahkan


beliau menolak bantuan subsidi yang ditawarkan oleh pemerintah HindiaBelanda kepada Taman Siswa. Dapat dikatakan azas kemerdekaan dapat
dimaknai dengan independensi dari seseorang atau organisasi. Tidak
adanya keterikatan dengan apapun yang dapat mengurangi rasa
kemerdekaan yang ada pada tiap-tiap individu maupun masyarakat, akan
tetapi dalam kebebesan ada nilai-nilai yang mengatur.

44

Didalam prinsip sistem among yang dikembangkan oleh Ki Hadjar


Dewantara, kemerdekaan merupakan syarat untuk menghidupkan dan
menggerakkan kekuatan lahir dan batin sehingga bisa hidup merdeka,
tidak berada

dalam kekuasaan golongan apapun. Kemerdekaan ini

diinternalisasi dengan sedemikian rupa dalam kehidupan praksis anak


didik sehingga mereka merasa sudah berada dalam kehidupannya, bukan
kehidupan yang lain yang diupayakan masuk dalam kehidupannya (Moh
Yamin, 2009 :174). Hal tersebut merupakan Cita-cita pendidikan Ki Hajar
Dewantara lewat Taman Siswanya yaitu denagan cara membina manusia
yang merdeka lahir dan batin. Ki Hajar Dewantara, mendidik orang agar
berpikir merdeka dan bertenaga merdeka. Dalam pandangan Ki Hajar
Dewantara manusia merdeka ialah manusia yang tidak terikat lahir dan
batinnya, orang yang merdeka ialah orang yang tidak tergantung pada
orang lain (mandiri). Kemerdekaan manusia dibatasi oleh potensi yang ada
pada dirinya. Kemerdekaan manusia ada 3 macam: berdiri sendiri
(zelfstanding), tidak tergantung kepada orang lain (anafhankelijk) dan
dapat mengatur dirinya sendiri (zelfsbeschikking) (Ki Hajar Dewantara,
1977 :4).
Dari uraiaan di atas dapat dipemahami bahwa kemerdekaan yang
sejati tidak hanya dalam arti kebebasan, akan tetapi keharusan memelihara
tertib damainya diri dan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup
bersama, berdasarkan harmonisasi kehidupan secara individuil dan
masyarakat.

45

c. Azas Kebudayaan
Azas kebudayaan merupakan landasan yang memiliki peran penting dalam
kemajuan pendidikan budi pekerti. Azas ini digunakan untuk membimbing
anak agar tetap mennghargai serta mengembangkan kebudayaan sendiri.
Hal ini bertujuan untuk menjaga keaslihan budaya lokal, sehingga Ki
Hadjar

Dewantara

mempunyai

konsentrasi

tersendiri

dalam

mengembangkan pendidikan nasional yang berlandaskan atas kebudayaan


murni

indonesia.

Azas

kebudayaan.

Perlunya

memlihara,

mengembangakan dan melestarikan nilai-nilai dan bentuk kebudayaan


nasional. Menurut Ki Hajar Dewantara kebudayaan Indonesia harus
berpangkal pada kebudayaan sendiri. Namun Ki Hadjar Dewantara selalu
bersikap terbuka dan tidak menolak unsur-unsur kebudayaan dari luar
yang dapat mengembangkan khazanah kebudayaan Indonesia.
Menurut Ki Hajar Dewantara kebudayan Indonesia merupakan segala
puncak dari sari kebudayaan bernilai di seluruh kepulauan Indonesia.
Puncak-puncak kebudayaan dari suatu suku bangsa merupakan usur-unsur
budaya lokal yang dapat memperkuat solidaritas nasional (H. A.R Tilaar,
2007: 90).
Jadi, menurut Ki Hajar Dewantara Kebudayaan nasional Indonesia
didukung oleh kebudayan-kebudayaan daerah yang tinggi mutunya, baik
yang lama maupun yang ciptaan baru. Kebudayaan nasional Indonesia
bersumber pada kebudayaan kita sendiri. Kebudayaan Indonseia harus
bersambungan (kontuinitas) dengan kebudayaan lama. Kebudayaan

46

nasional Indonesia harus mengumpul menuju ke arah kebudayaan


universal ((konvergensi) degan memiliki kepribadian nasional sendiri
(konsentrisitas). Tujuan semua ini adalah untuk mengenal budaya dan jati
diri tanpa harus meniru dan menjiplak budaya asing yang dapat merusak
kebudayaan sendiri.
d. Azas Kebangsaan
Azas kebangsaan menurut Ki Hajar Dewatara harus pula
menghargai kebangsaan orang lain. Azas kebangsaan yang dicita-citakan
oleh Ki Hajar Dewantara kebangsaan yang menghargai dan menghormati
kebangsaan oranglain. Hal ini sesuai dengan dalam al-Quran Qs. alHujurat :13 :


Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat diatas dijadikan dasar pendidikan budi pekerti yang
dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara, dengan maksud bahwa
pendidikan budi pekerti dapat di berikan dengan cara memberikan
pengertian-pengertian dan nasihat-nasihat bagaimana sikap seorang
mukmin dengan orang mukmin lainnya dan sikap dengan orang selain
Islam. Sehingga harapan beliau dapat tercapai yaitu terciptanya

47

masyarakat yang mempunyai jiwa toleransi yang tinggi, dan memiliki


keagungan akhlak.
Azas kebangsaan ini, tidak berarti bahwa bangsa Indonesia harus
mengasingkan diri dari pergaulan internasional (dengan bangsa-bangsa
lain). Ki Hajar Dewantara menganjurkan jika hendak maju bangsa
Indonesia tidak boleh mengucilkan diri, bahkan harus bergaul dan
menjalin hubungan dengan bangsa lain dan tidak boleh membenci bangsabangsa yang lain (Sagimun MD, 1983 : 37).
Azas kebangsaan ini tidak boleh bertentangan dengan azas
kemanusiaan.Azas kebangsaan dan azas kemerdekaan yang dianut oleh Ki
Hajar Dewantara memberi nyala api perjuangan rakyat Indonesia. Azas
kebangsaan memberi kepercayan pada diri sendiri untuk secara sadar
memiliki jiwa kebangsaanya.
e. Azas kemanusiaan
Azas kemanusiaan dapat dilihat pada adanya rasa cinta kasih
terhadap sesama manusia dan terhadap sesama makhluk Tuhan. Azas ini
menimbulkan rasa cinta kasih dan menghindarkan orang untuk berbuat
kejam terhadap sesamanya dan sesama makhluk Tuhan.
Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah
dengan sebaik-baiknya, sebagaiman firman-Nya dalam surat Al Tin ayat 4:


Artinya: Sesungguhnya kami Telah
bentuk yang sebaik-baiknya.

menciptakan manusia dalam

48

Azas kemanusiaan yang dimaksudkan disini bahwa darma tiaptiap manusia itu adalah mewujudkan kemanusiaan, yang harus terlihat
pada kesucian hatinya dan adanya cinta kasih sesame manusia dan
terhadap makhluk Tuhan seluruhnya.
D. Materi Pendidikan Budi Pekerti
Materi pendidikan merupakan perencanaan yang dihubungkan dengan
kegiatan pendidikan ( belajar mengajar ) untuk mencapai sejumlah tujuan (M.
Ahmad Dkk, 1998: 10). Oleh karena itu materi pendidikan budi pekerti harus
mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan sehingga materi pendidikan budi
pekerti tidak boleh berdiri sendiri dan terlepas dari kontrol tujuannya. Di
samping itu materi pendidikan budi pekerti harus terorganisir secara rapi dan
sistematis, sehingga dapat memudahkan tujuan yang dicitacitakan.
Dalam pelaksanaan pendidikan budi pekerti menurut Ki Hajar
Dewantara haruslah sesuai dengan tingkatan umur para peserta didik. Hal ini
dikarenakan seorang guru harus memahami tentang kondisi psikis dari peserta
didik dengan tujuan bahwa ketika materi pendidikan disampaikan harus dapat
dipahami dan dicerna secara utuh. Sehingga Ki Hajar membagi empat
tingkatan dalam pengajaran pendidikan budi pekerti, adapun materi
pendidikan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Taman Indria dan taman anak (5-8tahun)


Pada tingkatan ini materi atau isi pendidikan budi pekerti berupa
pengajaran pembiasaan yang bersifat global dan spontan atau occasional
49

(Ki Hajar Dewantara, 1977: 487). Artinya materi yang disampaikan bukan
teori yang berhubungan dengan kebaikan dan keburukan melaikan.
Bagaiamana peserta didik dapat mengetahui kebaiakan dan keburukan
melalui tingkahlaku dari peserta didik itu sendiri. materi pengajaran budi
pekerti bagi anak yang masih di sekolah ini berupa, latihan mengarah pada
kebaikan yang memenuhi syarat bebas yaitu sesuai kodrat hidup anak.
Materi ini dapat dilaksanakan melaui peran pendidik dalam membimbing,
membina dan mengoreksi tingkah-laku dari masing-masing peserta
didiknya. Sebagai contoh dalam pengajaran budi pekerti tersebut, yaitu
berupa anjuran atau perintah antara lain: ayo, duduk yang baik, jangan
ramai-ramai, dengarkan suaraku, bersihkan tempatku, jangan mengganggu
temanmu, dan sebagainya, yang terpenting dalam penyampaiannya harus
diberikan secara tiba-tiba pada saat-saat yang diperlukan (Ki Hajar
Dewantara, 1977: 487-488).
Untuk menetapkan daripada pengajaran budi-pekerti bagi anak-anak
kecil cukuplah apabila sip among memilih hal-hal yang memenuhi
syarat-syarat: bebas (sesuai dengan kodratnya hidup kanak-kanak)
namun tidak menyalahi adat tertib-damai, demi kepentingan diri
sendiri atau anak-anak lain. Dengan begitu kita dapat menyokong
perkembangan rasa dan fikiran individuil dan sosial dengan cara
pembiasaan. Lain daripada itu janganlah dilupakan, bahwa sebenarnya
segala bentuk latihan wirama dan latihan panca indria itu tak bukan
dan tak lain ialah pembiasaan berbuat dan berlaku tertib, guna

50

menyempurnakan perkembangan jiwa dan raga kanak kanak kea rah


kecerdasan budi-pekerti kelaknya (Ki Hajar Dewantara, 1977 : 488).
b. Taman Muda (umur 9-12 tahun)
Menurut Ki Hadjar Dewantara pada anak-anak usia 9-12 tahun
sudah masuk pada periode hakikat, yakni anak-anak sudah dapat
mengetahui tentang hal baik dan buruk. Sehingga pengajaran budi pekerti
dapat di ajarkan melalui pemberian penertian tentang segala tingkah-laku
kebaikan dalam hidupnya sehari-hari (Ki Hajar Dewantara, 1977 :488).
Didalam penyampainnya masih menggunakan metode occasional
yaitu melalui pembiasaan dan divariasikan dengan metode hakikat dalam
artian setiap anjuran atau perintah perelu di jelaskan mengenai maksud
dan tujuan pendidikan budi pekerti, yang pokok tujuannnya adalah
mencapai rasa damai dalam hidup batinya, baik yang yang mengenai
hidup dirinya sendiri maupun hidup masyarakatnya. Yang perlu
diperhatikan dalam pengajaran ini menurut Ki Hadjar Dewantara bahwa
anak-anak dalam periode hakikat masih juga perlu melakukan pembiasaan
seperti dalam periode syariat (Ki Hajar Dewantara, 1977: 485).
c. Taman Dewasa (umur 14-16 tahun)
Periode ini merupakan awal dimulainya materi yang lebih berat
karena pada priode inilah anak-anak isamping meneruskan pencarian
pengertian, mulai melatih diri terhadap segala laku yang sukar dan berat
dengan niat yang disengaja (Ki Hajar Dewantara, 1977 : 488). Pada priode
ini juga, anak telah masuk pada periode tarikat (Ki Hajar Dewantara,

51

1977 : 486). Yang dapat di wujudkan melalui kegiatan sosial, seperti


pemberantasan buta huruf, pengumpulan uang, pakaian, makanan, bacabacaan dan sebagainya untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin
atau orang-orang korban bencana alam dan sebagainya. Dan ketika
Periode syariat dapat diartikan periode anak kecil yaqng masih
menggunakan metode pembiasaan dalam setiap pengajaran(Lihat Ki Hajar
Dewantara, Bagian I Pendidikan,, hlm. 485). Tarekat disini merupakan
tingkatan ketiga dalam system pemberian pengajaran yang mempunyai arti
Laku yakni perbjuatan yang dengan sengaja kita lakukan dengan maksud
supaya kita melatih diri pribadi (Ki Hajar Dewantara, 1977: 486).
Pendidikan ini dilaksanakan di lingkungan perguruan muda (sekolah
menengah atas) maka dapat dilaksanakan melalui pendidikan kesenian dan
olah raga. Dan inti dari pengajaran pendidikan pada periode ini adalah
semua laku (tidakan) yang disengaja yang memerlukan kekuatan kehendak
(usaha) dan kekuatan tenaga (aplikasi) (Ki Hajar Dewantara, 1977 : 489).
d. Taman Madya dan Taman Guru (umur 17-20)
Yaitu tempat pendidikan bagi anak-anak yang sudah benar-benar
dewasa, pada periode inilah anank-anak telah memasuki periode marifat
yang artinya mereka telah dalam tingkatan pemahaman. Yaitu biasa
melakukan kebaikan, menginsyafi (menyadari) apa yang menjadi maksud
dan tujuan (Ki Hajar Dewantara, 1977 : 489). Pengajaran budi pekerti
yang harus diberikan pada periode ini adalah berupa ilmu atau
pengetahuan yang agak mendalam dan halus. Yaitu materi yang bekaitan

52

dengan ethik dan hukum kesusilaan. Jadi bukan hanya berkenaan dengan
kesusilaan

saja

melainkan

juga

tentang dasar-dasar

kebangsaan,

kemanusiaan, keagamaan, kebudayaan, adat istiadat dan sebagainya.


Melihat dari meteri pendidikan budi pekerti di atas dapat kita pahami
bahwa Ki Hajar Dewantara menghendaki bahwa dalam penyampaian
pendidikan budi pekerti haruslah disesuaikan dengan umur si peserta didik.
Tahapan tersebut disesuaikan dengan tingkatan psikologis methodis yang
dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara. Menurut penulis dari materi
pendidikan budi pekerti di atas merupakan materi pendidikan operasional.
Dengan kata lain materi tersebut merupakan cara untuk meninternalisasikan
nilai-nilai budi pekerti. materi yang sesungguhnya masih membutuhkan materi
yang bersentuhan lansung dengan peserta didik.

E. Metode Pendidikan Budi Pekerti


Dalam pendidikan telah dikenal beberapa aspek yang penting dan
berpengaruh terhadap kesuksesan dalam mewujudkan tujuan pendidikan, salah
satunya adalah aspek metode pengajaran. Hal ini dikarenakan metode
pengajaran terkait dengan proses interaksi dan komunikasi antara pendidik
dengan peserta didik. Menurut Ki Hajar Dewantara secara umum metode
pendidikan dan pengajaran telah terangkum dalam satu sistem yang dikenal
dengan among methode atau sistem among. sebagaimana dikutip oleh Ki
Priyo Dwiarso dapat Among memilki arti menjaga, membina, dan
mendidik,anak dengan kasih sayang (www.tamansiswa.org). Hal ini

53

ditemukan dalam 7 azas taman siswa yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara
dan menurut kondisi saat itu yang berisikan:
Bertumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu sekali
untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan
seluasluasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan hukumanketertiban (regeering-tuch en orde) kita anggap memperkosa hidup
kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu
pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnja
hidup anak, lahir dan batin menurut kodratya sendiri. Itulah yang kita
namakan among methode. (Ki Hajar Dewantara, 1977: 48)
Selanjutnya dalam butir ke dua dilanjutkan bahwa:
Pengajaran berarti mendidik anak-anak akan mendjadi manusia
jang merdeka batinnja, merdeka fikirannya dan merdeka tenaganya
(Ki Hajar Dewantara, 1977: 48).
Among methode adalah Pemeliharaan dengan sebesar perhatian
untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya
sendiri (Djumhur dan danusapatra, 1976: 174). Sistem among mengemukkan
dua dasar yaitu:
a. Kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan
kekuatan lahir dan batin, hingga dapat hidup merdeka (dapat berdiri
sendiri).
b. Kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan
dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.
Dalam lingkup pendidikan budi pekerti Ki Hajar Dewantara memilki
metode pengajaran dan pendidikan tersendiri yang terdiri atas tiga macam
metode yang didasrkan pada urutan pengambilan keputusan berbuat, yang
artinya ketika kita bertindak haruslah melihat dan mencermati urutan-urutan
yang benar sehingga tidak terdapat penyesalan di kemudian hari. Metode
54

tersebut antara lain adalah: ngerti (mengerti), ngrasa (merasakan)dan


ngelakoni (melaksanakan) (Moch. Tauhid, 1963 : 57).
Dari tiga macam metode pengajaran budi pekerti yang dikembangkan
oleh Ki Hadjar Dewantara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Metode Ngerti
Metode Ngerti dalam pendidikan budi pekerti yang dikembangkan
oleh Ki Hajar Dewantara, mempunyai maksud memberikan pengertian
yang sebanyak-banyaknya kepada anak. Didalam pendidikan budi pekerti
anak diberikan pengertian tentang baik dan buruk. Berkaitan dengan budi
pekerti ini seorang pamong (guru) ataupun orang tua harus berusaha
menanamkan pengetahuan tentang tingkah-laku yang baik, sopan-santun
dan tata krama yang baik kepada peserta didiknya. Dengan harapan
peserta didik akan mengetahui tentang nilai-nilai kebaikan dan dapat
memahami apa yang dimaksud dengan tingkah- laku yang buruk yang
dapat merugikan mereka dan membawa penyesalan pada akhirnya. Selain
itu pamong juga memiliki tugas untuk mengajarkan tentang hakikat hidup
bermasyarakat, berbangsa dsan bernegara serta beragama. Dengan tujuan
akhir peserta didik dirahkan untuk mampu menjadi manusia yang merdeka
dan memahami pengetahuan tentang perilaku baik dan buruk serta
memliki budi pekerti (akhlak) yang luhur (mulia).
2. Metode Ngrasa
Metode yang kedua adalah metode Ngrasa yang merupakan
kelanjutan dari metode Ngerti, metode pendidikan budi pekerti merupakan

55

metode yang bertahap yang merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat


dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.yang dimaksud dengan
metode Ngrasa adalah berusaha semaksimal mungkin memahami dan
merasakan tentang pengetahuan yang diperolehnya. Dalam hal ini peserta
didik akan dididik untuk dapt memperhitungkan dan membedakan antara
yang benar dan yang salah.
3. Metode Nglakoni
Metode Nglakoni merupakan tahapan terakhir dalam metode
pengajaran budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara,
yang dimaksud dengan metode Ngelakoni adalah mengerjakan setiap
tindakan, tanggung jawab telah dipikirkan akibatnya berdasarkan
pengetahuan yang telah didapatnya. Jika tindakan telah dirasakan
mempunyai tanggungg jawab, tidak mengganggu hak orang lain, tidak
menyakiti orang lain maka dia harus melakukan tindakan tersebut.Dari
metode pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki Hajar
Dewantara tersebut di atas menurut penulis merupakan metode pengajaran
yang menekankan kepada penyadaran diri dari masing-masing peserta
didik. Hal ini dapat dilihat dari tahapan-tahapan yang disampaikan oleh Ki
Hajar Dewantara yang melihatkan pentingnya sebuah tindakan.

56

BAB IV
PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG KONSEP
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DALAM KONTEKS KEKINIAN

A. Implementasi
Pada masa berdirinya taman siswa keadaan pendidikan dan
pengajaran pada waktu itu sangat kurang dan sangat mengecewakan.
Seperti kita ketahui sesdudah pemerintahan kolonial melaksanakan politik
etis, jumlah sekolah yang didirikan bertambah banyak. Akan tetapi
walaupun demikian jumlah sekolah dibandingkan dengan jumlah anak usia
sekolah masih sangat jauh dari cukup. Lagipula sekolah-sekolah tersebut
dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan kolonial, baik kepentingan
dalam bidang politik, ekonomi maupun administrasi. Jadi sama sekali
tidak ada kepentingan rakyat Indonesia.
Taman siswa merupakan badan perjuangan yang berjiwa nasional
suatu pergerakan sosial yang menggunakan kebudayaan sendiri sebagai
dasar

perjuangannya.

Taman

siswa

tidak

hanya

menghendaki

pembentukan intelek, tetapi juga dan terutama pendidikan dalam arti


pemeliharaan dan latihan susila. Dengan menggunakan dasar kekluargaan
dengan sistem among dapatlah terwujud dengan baik pendidikan budi
pekerti terhadap anak bangsa (Darsiti Soeratman, 1981/1982:89).
Selain berdasarkan kekeluargaan, pendidikan di taman siswa
menggunakan Tri Pusat. Pusat-pusat pendidikan ini masing-masing harus

57

tahu kewajibannya sendiri-sendiridan mengakui haknya pusat-pusat


lainya, yaitu:
1. Pusat keluarga: buat mendidik budi pekerti dan laku sosial.
2. Pusat perguruan:sebagai balai wiyata, yaitu untuk usaha
mencari dan memberikan ilmu pengetahuan, di samping
pendidikan intelek.
3. Pusat pergerakan pemuda: sebagai daerah merdekanya kaum
pemuda atau Kerajaan Pemuda untuk melakukan penguasaan
diri, yang amat penting untuk pembentukan watak (Darsiti
Soeratman, 1981/1982: 95-96).
Dalam hal ini perguruan berdiri sebagai titik pusat dari ketiga pusat
tersebut an menjadi perantara keluarga dan anak-anaknya dengan
masyarakat. Antara orang tua, murid dengan guru yang menjadi
penasihatnya, Di sini guru harus melaksanakan metode Among.
Di kalangan Taman siswa anak-anak yang besar mendirikan
P.P.T.S (Persatuan Pemuda Taman Siawa), yang mempunyai bermacammacam kegiatan: olah raga, debat, sandiwara, pengajaran (mengajar untuk
masyarakat yang buta huruf), melakukan kegiatan sosial seperti
mengumpulkan baju bekas untuk diberikan kepada masyarakat yang
kurang mampu pada masa itu(Darsiti Soeratman, 1981/1982: 95-96).
.Suatu rangkaian penilaian tentang perkembangan Taman Siswa
sejak awal kelahiran sampai masa kini memusat kepada komentar dan
kritik atas gagasan dasar Ki Hajar Dewantara dan peranannya melalui

58

ciptaanya dalam proses nasionalisasi pengajaran

di Indonesia,

sumbangannya dalam masa kebangunan nasional, sebagai pranata


tandingan dalam masyarakat kolonial, masa awal perkembangan dalam
konteks kebudayaan jawa, kedudukannya dalam mengisi kemerdekaan
sesudah melampui revolusi Indonesia dan sumbangannya di bidang
falsafat kebudayaan. Penilaian lain menempatkan Ki Hajar Dewantara
ssebgai tradisionalis, yang mewakili citra banyak orang tentang tukang
kebun pelajar yang mendambakan keserasian dalam hidup. Segala
penilaian kritis dan ilmiah itu banyak membuka pola ideal dan sikap laku
yang dialami Ki Hajar Dewantara dan taman siswanya yang tercipta dalam
sejarah Indonesia moderen sehingga menjadi pola dan gaya hidup yang
menjadi ciri khas kebudayaan tersendiri.
B. Relevansi Pemikiran
Definisi mengenai budi pekerti memang cukup beragam sesuai
dengan versi dan sudut pandang keilmuan tertentu. Budi pekerti
merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkan, kedua kata tersebut
adalah bagian integral yang saling terkait. Sebagaimana di sampaikan oleh
Dodit wijanarko bahwa budi pekerti berasal dari kata budi dan pekerti.
Budi berarti paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk.
Pekerti berarti perangai, ingkah laku, akhlak. (Tim Penyusun Pusat Bahasa
Indonsia cet1, 2001: 170) Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata akhlak
biasanya diterjemahkan dengan budi pekerti atau sopan santun atau
kesusilaan. Dalam bahasa Inggris, kata akhlak disamakan dengan

59

moral atau ethic, yang berasal dari bahasa Yunani, yang berarti adat
kebiasaan.(Tamyiz Burhanudin cet1, 2001 :39) Akhlak berasal dari Bahasa
Arab yakni bentuk jamak dari kata khulk yang berarti budi pekerti,
perangai tingkah laku atau tabiat. (Abudin Nata cet 2, 1997:3)
Budi pekerti berarti merupakan perpaduan dari dan rasa yang
bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia. Akhlak identik
dengan moral karena memiliki makna yang sama dan hanya sumber
bahasanya yang berbeda. Keduanya memiliki wacana yang sama, yakni
tentang baik dan buruknya perbuatan manusia. Jadi istilah budi pekerti,
akhlak, moral dan etika memiliki makna etimologis yang sama, yakni adat
kebiasaan, perangai dan watak. Hanya saja keempat istilah tersebut berasal
dari bahasa yang berbeda.
Budi pekerti berasal dari bahasa Indonesia. Akhlak berasal dari
bahasa Arab. Sedangkan kata moral berasal dari bahasa Latin, dan etika
berasal dari bahasa Yunani. Akhlak adalah istilah yang tepat dalam bahasa
Arab untuk arti moral dan etika. Seperti halnya akhlak, secara etimologis
etika juga memiliki makna yang sama dengan moral. Etika adalah ilmu
yang menjelaskan arti baik dan buruk.
Mengingat konsep pemikiran budi pekerti seorang Ki Hajar
Dewantara adalah sebuah pemikiran yang disampaikan pada masa sebelum
Indonesia merdeka, maka penulis mencoba merelevansikan konsep
pemikiran beliau dengan konsep kekinian. Konsep pemikiran beliau pada

60

masa kini telah berkembang dengan bermacam-macam hasil pemikiran


beberapa tokoh pendidikan diantaranya:
1. Pendidikan Budi pekerti di era globalisasi
Pengertian pendidikan budi pekerti mengacu pada pengertian
dalam bahasa inggris, yang diterjemahkan sebagai moralitas. Moralitas
mengandung beberapa pengertia antara lain, Adat istiadat, Sopan
santun dan Perilaku.
Sebagaimana di kutip oleh Nurul zuriah (2011: 17) pengertian
budi pekerti secara hakiki adalah perilaku. Sementara itu menurut draft
kurikulum berbasis kompetensi (2001), budi pekerti berisi nilai-nilai
perilaku

manusia

yang

akan

diukur

menurut

kebaikan

dan

keburukannya melalui norma agama, norma norma hukum, tata krama


dan sopan santun. (Nurul zuriah, 2011 : 17)
Pembahasan filosofis tentang sebagaimana pendapat kilpatrick
yang dikutip oleh Nurul Zuhriah (2011: 1) terus berkembang dengan
berbagai pendapat atau aspek budi pekerti itu sendiri. Ajaran budi
pekerti di sekolah yang di tempuh melalui proses panjang itu dapat
menghasilkan semangat pada diri siswa untuk memberontak atau
melawan tatanan budi pekerti. Salah satu sebabnya adalah siswa
mencampakkan norma moral atau budi pekerti yang diajarkan dalam
bentuk himpunan perintah dan larangan. Keadaan ini menjadikan
siswa melawan norma yang disebabkan oleh hal mendasar, yaitu siswa
tidak percaya lagi kepada norma moral, yang ternyata tidak mengatasi

61

masalah kemasyarakatan yang terus berkembang, bahkan kenyataan di


masyarakat malahan menjadi hal yang sebaliknya.
Berbagai usulan tentang perlunya pendidikan budi pekerti
dalam pembangunan karakter dan pembentukan moralitas bangsa,
bukanlah suatu hal yang baru. Sebagaimana pendapat Azyumardi Azra
(2000) yang disampaikan oleh Nurul Zuhriah bahkan sebelum
pelajaran agama menjadi mata pelajaran wajib, dalam rencana
pelajaran pada tahub 1947, yang ada hanyalah mata pelajaran didikan
budi pekerti yang bersumber dari nilai-nilai traditional, khususnya
yang terdapat dalam cerita pewayangan. (Nurul Zuhriah, 2011 : 117)
Setelah melalui perdebatan panjang antara pihak Diknas dan
Kemenag, akhirnya sejak tahun 1975 pendidikan budi pekerti
diintregasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan
(Civics), yang kemudian menjadi mata pelajaran Pendidikan Moral
Pancasila

(PMP).

Dalam

kurikulum

1984,

Moral

pancasila

diintregasikan ke dalam empat mata pelajaran, yaitu PMP, Pendidikan


Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), P4 dan Sejarah
Nasional. Dalam kurikulum 1994 pelajaran ini tercakup dalam mata
pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Dan
pada kurikulum terakhir tercakup dalam mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn).
Sejalan dengan menghilangnya mata pelajaran budi pekerti
masalah bangsa yang kian kompleks juga memunculkan masalah

62

akhlak dan moral di kalangan peserta didik pada berbagai level atau
tingkatan. Sekali lagi , pikiran dan logika yang sedikit simplisit
menganggap masalah ini disebabkan lenyapnya pendidikan budi
pekerti dan kegagalan pendidikan agama.
Dalam kajian budaya nilai merupakan inti dari setiap
kebudayaan. Lebih-lebih dalam era globalisasi ini yang berada di
duniayang

terbuka,

ikatan

nilai-nilai

moral

mulai

melemah.

Masyarakat mengalami multikrisis yang dimensional, dan krisis yang


dirasakan sangat parah adalah krosos nilai-nilai moral.
Analisis di atas menjadikan pendidikan di Indonesia mengkaji
dan membangkitkan pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti
atau pendidikan karakter. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh bangsa
dan masyarakat Indonesia saja sebenarnya, akan tetapi juga oleh
negara-negara maju. Bahkan di negara-negara Industri dimana ikatan
moral menjadi semakin longgar, masyarakatnya mulai merasakan
perlunya revival dari pendidikan moral yang pada akhir-akhir ini mulai
di telantarkan. (Nurul Zuhriah, 2011: 10)
Sebagai rekomendasi penting dari pernyataan di atas adalah:
a. Pendidikan budi pekerti bukan hanya tanggung jawab sekolah,
tetapi juga tanggung jawab keluarga dan lingkungan sosial yang
lebih luas. Jadi meskipun sekolah misalnya menyelenggarakan
pendidikan budi pekerti, tetapi lingkungan masyarakatnya tidak

63

atau kurang baik maka pendidikan budi pekerti di sekolah tidak ada
artinya.
b. Pendidikan budi pekerti sesungguhnya telah terkandung dalam
pendidikan agama dan mata pelajaran lain. Akan tetapi, kandungan
budi pekerti tersebut tidak bisa teraktualisasi karena adanya
kelemahan mata pelajaran agama dalam segi metode maupun
muatan yang lebih menekankan pengisian aspek kognitif daripada
aspek afektif.
Dalam perkembangan selanjutnya, berkaitan dengan krisis
ekonomi dan politik indonesia yang juga memicu peninjauan ulang
terhadap pendidikan nasional, maka perdebatan tentang pendidikan
budi pekerti kembali menjadi wacana publik. Akan tetapi, hasil
perumusan Depdiknas (2000) dan Depag (2000) menyimpulkan bahwa
pendidikan

budi

pekerti

bukan

menjadi

pelajaran

tersendiri

(monolitik), tetapi merupakan program pendidikanterpadu yang


memerlukan perilaku, keteladanan, pembiasaan, bimbingan dan
penciptaan lingkungan yang kondusif. Dengan demikian pendidikan
budi pekerti diintregasikan ke dalam semua mata pelajaran dan
program pendidikan, seperti pendidikan agama dan PPKn. (Nurul
Zuhriah, 2011: 118)
Seperti terlihat rincian nilai-nilai budi pekerti yang diberikan
Depdiknas dan Depag pada intinya merupakan nilai-nilai keagamaan

64

dan akhlak, yang secara sosial dan kultural dipandang dan diakui
sebagai nilai-nilai luhur bangsa.
2. Perkembangan moral
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma
moral yang terdapat dalam sekolompok manusia. Adapun nilai moral
adalah kebaikan manusia sebagai manusia. (A. Qadry A. Azizy, 2003:
34) Norma moral adalah memandang bagaimana manusia harus hidup
agar menjadi baik sebagai manusia.Moral berkaitan dengan moralitas.
Moralitas adalah segala hal yang berhubungan dengan sopan santun,
segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket. Moralitas bisa berasal
dari sumber tradisi ataupun adat, agama ataupun ideology, atau
gabungan dari beberapa sumber.

Perkembangan moral sebenarnya

melibatkan tiga komponen dasar.


Kohlberg menyebutkan ketiga komponen itu ialah

moral

behavior (yaitu bagaimana seseorang bertingkah laku), moral emotion


(yaitu apa yang dirasakan oleh seseorang setelah melakukan sesuatu),
moral judgement (alasan yang dipakai orang dalam mengambil
keputusan). Kohlberg membagi perkembangan moral seseorang dalam
tiga tingkat, yaitu tingkat prakonvesional, tingkat konvesional, dan
tingkat pasca konvesional. Dari ketiga tingkat tersebut Kohlberg
membagi menjadi enam tahap yaitu sebagai berikut (Nurul Zuhriah,
2011: 35):

65

a. Orientasi pada hukuman dan ketaatan (Punishment-obedience


orientation).
Tahap ini penekananya pada akibat fisik suatu perbuatan
menentukan baik dan buruknya, tanpa menghiraukan arti dan nilai
manusiawi dari akibat tersebut. Anak menghindari hukuman lebih
dikarenakan rasa takut, bukan karena rasa hormat.
b. Tahap orientasi hedonis (Instrumental-relativist orientation).
Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang memuaskan
kebutuhan

individu

memperhatikan

sendiri,

kebutuhan

tetapi
orang

juga
lain.

kadang

mulai

Hubungan

lebih

menekankan unsur timbal balik dan kewajaran.


c. Orientas anak manis (Interpersonal concordance orientation).
Pada tahap ini anak memenuhi harapan keluarga dan
lingkungan sosialnya yang dianggap bernilai pada dirinya sendiri,
sudah ada loyalitas. Unsur pujian menjadi penting dalam tahap ini
karena yang ditangkap anak adalah orang dipuji karena berlaku
baik. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan atau
membantu orang lain, dan yang disetujui oleh mereka.
d. Orientasi terhadap hukum dan ketertiban (Law and Order
orientation/Social-order Maintaining).
Menjalankan tugas dan rasa hormat terhadap otoritas adalah
tindakan yang benar. Orang mendapatkan rasa hormat dengan
berperilaku menurut kewajiban.

66

e. Orientasi kontrak sosial legalitas (Social contract orientation).


Tindakan yang benar pada tahap ini cenderung di tafsirkan
sebagai tindakan yang sesuai dengan kesepakatan umum. Dengan
demikian, orang ini menyadari relativitas nilai-nilai pribadi dan
pendapat-pendapat pribadi.
f. Orientasi suara hati (Universal ethical principle orientation).
Pada tahap ini orang tidak hanya memandang dirinya sebagai
subyek hukum, tetapi juga sebagai pribadi yang harus dihormat.
Respect for person adalah nilai pada tahap ini. Tindakan yang
benar adalah tindakan yang berdasarkan keputusan yang sesuai
dengan suara hati dan prinsip moral universal.
Tahap-tahap

perkembangan

moral

menurut

Kohlberg

berkaitan dengan penalaran (moral thinking) bukan tindakan


(moral action). Orang yang mempunyai penalaran moral tingkat
tinggi belum tentu berperilaku demikian pula, sehingga korelasi
yang sempurna dari penalaran moral dan tingkah laku moral tidak
dapat diharapkan.
Hasil

penelitian

Kohlberg menemukan bahwa faktor

intelegensi, status sosial ekonomi, kelompok sosial dan faktor


pribadi

dianggap

sebagai

hal-hal

yang

mempengaruhi

perkembangan moral. Di samping itu faktor situasi, motivasi, dan


emosi juga dianggap mempengaruhi perilaku individu, sehingga

67

sering terjadi ketidaksesuaian antara moral judgement dan moral


behavior.
Melihat tahap-tahap dan orientasi tiap tahap tersebut tampak bahwa
seseorang tetap mengarahkan dirinya pada prinsip moral universal, yaitu
keadilan dan kesalingan, hanya saja konkretisasinya berbeda-beda sesuai
dengan perkembangan kognitif orang yang bersangkutan pada masingmasing tahap. (Dr. C. Asri Budiningsih, 2008: 32)
Wacana yang tertulis di atas terjadi pada masa kini, tentunya telah
mengkaji kembali pemikiran beliau Ki Hajar Dewantara

sebagai

sumbangsih pertimbangan para pakar pemdidikan. Pada kenyataanya


pemikiran Ki Hajar Dewantara terdahulu telah mencakup seluruh aspek
yang saat ini sedang mengalami degradasi yang tengah diresahkan dalam
dunia pendidikan Indonesia.

C. Implikasi
1. Pendidikan budi pekerti dan pembangunan moral bangsa
Sebagaimana disampaikan oleh Nurul Zuhriah bahwa menurut
Azyumardi Azra (2000), merebaknya tuntutan dan gagasan tentang
pentingnya pendidikan budi pekerti di lingkungan persekolahan,
haruslah diakui ertar kaitanya dengan semakin berkembangnya
pandangan dalam masyarakat luas bahwa pendidikan nasional dalam
berbagai jenjang, khususnya jenjang menengah dan tinggi dalam
membentuk peserta didik

yang memiliki akhlak, moral, dan budi

68

pekerti yang lebih baik. Lebih jauh lagi, banyak peserta didik sering
dinilai tidak hanya kurang memiliki kesantunan baik di sekolah, di
rumah, dan lingkungan masyarakat, tetapi juga sering terlibat dalam
tindak kekerasan massal seperti tawuran dan sebagainya. (Nurul
zuhriah, 2011:111-112)
Pandangan simplitis menganggap bahwa kemerosotan akhlak,
moral dan etika peserta didik di sebabkan gagalnya pendidikan agama
di sekolah. Dr. C. Asri Budiningsih menyampaikan bahwa segala
kekalutan yang dihadapi anak bangsa saat ini merupakan akibat
kumulatif dari kesalahan-kesalahan dalam mengambil keputusan
politik oleh generasi-generasi yang telah lalu. Karena kesalahankesalahan tadi tidak segera terkoreksi, maka akhirnya menumpuk
menjadi

rangkaian

persoalan

yang

tidak

terselesaikan

dan

menimbulkan krisis. (Buchori, 2002)


Meski demikian, dalam pendidikan budi pekerti peserta didik,
dan akhirnya, pembentukan karakter anak-anak bangsa, seolah-olah
dapat dan harus melakukan sesuatu, sebagaimana disarankan oleh
Nurul Zuhriah berikut ini:
Pertama, menerapkan pendekatan modelling dan exemplary.
Yaitu mencoba dan membiasakan peserta didik dan lingkungan
pendidikan secara keseluruhan untuk menghidupkan dan menegakkan
nilai-nilai yang benar dengan memberikan model atau teladan. Dalam
hal ini, setiap guru, tenaga administrasi, dan lain-lain di lingkungan

69

sekolah harus menjadi teladan yang hidup bagi para peserta didik.
Dengan demikian terjadi proses internalisasi intelektual bagi peserta
didik.
Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasikan secara terus
menerus tentang berbagai nilai yang baik atau buruk. Hal ini bisa
dilakukan dengan langkah-langkah berikut.
1. Memberi ganjaran (prizing) dan menumbuh suburkan (cherising)
nilai-nilai baik.
2. Secara terbuka dan kontinu menegaskan nilai-nilai yang baik dan
buruk; memberikankesempatan kepada peserta didik untuk
memeilih berbagai alternatif sikap dan tindakan.
3. Melakukan pilihan secara bebas setelah menimbang berbagai
konsekuensi dan setiap pilihan sikap dan tindakan.
4. Senantiasa membiasakan bersikap dan bertindak atas niat baik, dan
tujuan-tujuan ideal.
5. Membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik,
diulangi terus-menerus, dan konsisiten.
Ketiga,

Menerapkan

pendidikan

berdasarkan

karakter

(character based education). Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan
sebisa mungkin memasukan character basic approach ke dalam setiap
mata pelajaran yang ada. Kemudian melakukan reorientasi baru, baik
dari segi isi dan pendekatan terhadap mata pelajaran yang relevan atau
berkaitan, seperti mata pelajaran pendidikan agama dan PPKn..

70

Bahkan dalam rumusan Diknas (2000), bisa pula mencakup mata


pelajaran bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Penjaskes, KTK
dan mata pelajaran muatan lokal. Beberapa poin yang ditawarkan
diatas tidaklah exhaustive, banyak yang bisa ditambahkan. Akan tetapi,
poin-poin tersebut bukanlah instant solution atau solusi yang siap
pakai dan siap saji, serta masih banyak cara lain yang bisa di tempuh
untuk memperbaiki moralitas dan mentalitas bangsa ini.
Berdasarkan beberapa asumsi diatas, dengan memperkaya
dimensi nilai moral, dan norma pada aktifitas pendidikan di sekolah,
akan memberi pegangan hidup yang kokoh bagi anak-anak dalam
menghadapi perubahan sosial .
Kematangan secara moral akan menjadikan seorang anak
mampu memperjelas dan menentukan sikap terhadap substansi nilai
dan norma baru yang muncul dalam proses perubahan atau
transformasi sosial yang sangat cepat ini. Demikian juga, dengan bekal
pendidikan budi pekerti secara memadai, akan memperkuat konstruksi
moralitas peserta didik sehingga mereka tidak gampang goyah dalam
menghadapi aneka macam godaan dan pengaruh negatif.
2. Penanaman nilai budi pekerti pada jenjang pendidikan formal
Budi pekerti adalah nilai-nilai manusia yang sungguh-sungguh
dilaksanakan bukan sekedar kebiasaan, tetapi berdasar pemahaman dan
kesadaran diri untuk menjadi lebih baik. Nilai-nilai yang disadari dan
dilaksanakan sebagai budi pekerti hanya dapat diperoleh melalui

71

proses sepanjang hidup manusia. Budi pekerti didapat melalui pross


internalisasi dari apa yang diketahui, yang membutuhkan waktu
sehingga terbentuklah pekerti yang baik dalam kehidupan umat
manusia. (Nurul Zuhriah, 2011: 38)
Pembelajaran budi pekerti didekati dari aspek kognitif sebagai
unsur pemahaman moral atau penalaran moral, yaitu jenis kemampuan
kognitif yang dimiliki setiap orang untuk mempertimbangkan, menilai,
dan memutuskan suatu perbuatan berdasarkan prinsip-prinsip moral
seperti baik atau buruk, etis atau tidak etis,benar atau salah. (Dr. C Asri
Budiningsih, 2008:72)
Selain

itu

pembelajaran

budi

pekerti

juga

untuk

mengembangkan aspek afektif sebagai unsur perasaan moral, terwujud


dalam salah satu kemampuan untuk mengadakan interaksi sosial dalam
mengambil peran sosial serta menyelesaikan konflik peran yang
berurusan dengan nilai-nilai moral seperti keadilan, resiprositas, dan
bentuk-bentuk perilaku moral lainya.
Mengingat bahwa penanaman sikap dan nilai hidup merupakan
proses, maka hal ini dapat diberikan pada pendidikan formal yang
direncanakan dan dirancang secara matang.
Pada tahap awal proses penanaman nilai, anak diperkenalkan
pada tatanan hidup bersama. Tatanan hidup dalam masyarakat tidak
selalu sering dengan tatanan yang ada dalam keluarga. Anak
diperkenalkan tahap demi tahap. Semakin tinggi tingkat pendidikan

72

anak, maka semakin mendalam unsur pemahaman,argumentasi, dan


penalaranya.
Berikut ini adalah gagasan Nurul zuhriah dalam menerapkan
beberapa nilai yang kiranya dapat dipilih dan ditawarkan kepada anak
melalui jenjang pendidikan formal. Nilai-nilai yang coba ditawarkan
ini dipretimbangkan berdasarkan pemahaman akan kebutuhan dan
permasalahan yang ada dalam masyarakat dewasa ini. Jenjang
pendidikan formal yang kita kenal dalam dunia pendidiakn nasional
dari taman kanak-kanak sampai dengan Sekolah menengah.
a. Penanaman Nilai di Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK)
Pada jenjang Taman Kanak-Kanak, anak lebih diperkenalkan
pada realitas hidup bersama yang mempunyai aturan dan nilai
hidup. Proses ini di laksanakan melalui berbagai bentuk kegiatan
yag membuat anak senang dalam bentuk berbagai kegiatan yang
membuat anak senang dan merasakan kebaikan dan tatanan serta
nilai hidup tersebut
1. Reigiusitas
Siswa dengan berbagai macam

latar belakang hidup

keluarga membawa dampak pada kebiasaan yang berbeda satu


sama lain. Membiasakan diri untuk berterima kasih dan
bersyukur akan membawa pengaruh pada suasana hidup yang
menyenangkan, ceria, dan penuh warna yang sehat dan
seimbang. Untuk melatih hal ini sehingga dapat menjadi suatu

73

kebiasaan yang dapat dilakukan sedini mungkin pada masa


pendidikan yaitu dengan membiasakan berdoa. Doa sebagai
ungkapan syukur dan terima kasih atas hidup, atas teman-teman
dan atas apapun yang terjadi dalam hidup. Memperkenalkan
berdoa sebelum dan sesudah selesai pelajaran, sebelum dan
sesudah makan, serta sebelum dan sesudah bangun tidur.
Selain berdoa, nilai religiusitas juga dapat ditanamkan
melalui kegiatan menyanyi yang sederhana dan mempunyai
nilai hidup. Kegiatan menyanyi akan juga memperkenalkan dan
mengajarakan kepada anak untuk bersyukurdan berterima kasih.
Lagu yang diperkenalkan akan lebih berarti apabila merupakan
lagu-lagu sederhana yang mempunyai makna dan kaitan dengan
kehidupan manusia, bukan hanya sekesar nyanyian yang sedang
populer. Misalnya lagu AT. Mahmud yang berjudul Pelangi
yang selengkapnya sebagai berikut.
Pelangi-pelangi,Alangkah indahmu, Merah kuning hijau
Dilangit yang biru, Pelukismu agung, Siapa gerangan
Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan
Anak dapat diajak untuk membahas arti syair nyanyian
dan diperkenalkan kepada keagungan Tuhan melalui berbagai
macam ciptaan dalam lingkungan hidup yang termuat dalam
syair lagu tersebut. Lagu kanak-kanak yang berkaitan dengan
keindahan alam dan hidup manusia akan menadi wahana paling

74

baik untuk memperkenalkan akan kebesaran dan keagungan


Tuhan bagi hidup manusia.
2. Sosialitas
Arman menangis di sekolah karena ia tidak dapat main
dengan ainan yang diinginkan. Mainan itu sekarang
dipakai Anissa. Anissa berusaha mempertahankan mainan
yang telah ia pilih dan tidak mau berbagi denga Arman.
Situasi seperti ini akan sering terjadi di lingkungan
sekolah maupun di lingkunayan masyarakat dan kehidupan
sehari-hari. Anak-anak merasa kesal, marah, dan akhirnya hanya
dapat menangis dan merengek karena keinginannya tidak dapat
terwujud. Sikap tersebut, tidak mau berbagi atau antre
bergantian, mau menang sendiri sering dijumpai dalam
masyarakat. Kondisi yang demikian, juga banyak terjadi pada
dunia anak yang baru masuk dalam pendidikan formal. Mereka
biasanya mulai dalam lingkup keluarga yang pendampingan,
pengawasan, dan fasilitasnya cukup berada, bahkan mungkin
berlebih. Situasi dalam kehidupan masyarakat berbeda dengan
situasi dalam keluarga. Sikap hidup mau berbagi, saling
memerhatikan, saling menyadari, dan saling melengkapi satu
sama lain perlu ditanamkan dari kecil. Pujian perlu diberikan
pada anak-anak yang mau berbagi, mau memerhatikan dan
saling memberi dan menerima dari teman-teman bermainnya,

75

bahwa apa yang dilakukan adalah baik dan perlu dilakukan


secara terus-menerus dalam kehidupan ini. Sebaliknya, sikap
egois dan mau menang sendiri harus ditinggalkan dan dijauhi
agar kondisi masyarakat tertib, aman, dan terkendali.
Untuk

mencapai

kondisi

di

atas,

sekolah

dapat

mewujudkannya dengan menyediakan mainan yang jumlahnya


terbatas pada anak-anak dalam satu kelas. Selanjutnya, guru
mengajak siswa untuk mulai memerhatikan sesamanya, mau
berbagi dan menyadari bahwa dalam kehidupan bersama dalam
masyarakat perlu ada aturan, ada suasana saling memerhatikan
dan mendukung. Anak diajak untuk lebih bersikap terbuka,
rendah hati, saling menerima dan memberi, tidak bersikap egois
dan mau menang sendiri. Sebagai langkah awal yang bisa
dilakukan berupa sikap dan perilaku mau berbagi mainan denga
teman, mau bergantian denga teman, tidak asik dengna
kepentingan dirinya sendiri.
3. Gender
Rahma

merasa

jengkel

dan

marah

karena

tidak

diperbolehkan ikut bermain sepak bola. Alasan yang


dikemukakan teman-temannya ialah bahwa permainan
sepak bola hanya boleh dilakukan aleh anak laki-laki.
Anak perempuan cocoknya bermain boneka.

76

Berdasarkan alasan tersebut tersirat bahwa telah ada


pembedaan sejak dini antara perempeun dan laki-laki, yaitu
dibedakan dari bentuk permainan, perilaku, serta sikap feminin
dan maskulin. Selain itu, pada lingkungan masyarakat (dewasa)
keterlibatannya

dalam

kegiatan

dibedakan

secara

ketat.

Misalnya dalam hal kerja bakti, yang melakukan bapak-bapak,


sedangkan ibu-ibu betugas memasak unutk konsumsinya.
Sikap, kondisi, situasi, serta nuansa yang dibentuk dan
dikondisikan sejak dini yang membedakan secara tajam antara
laki-laki dan perempuan terus berlangsung dan diterima secara
turun-temurun dalam sebagian besar masyarakat Indonesia yang
kental denga ideologi patriarki. Pembedaan yang ada bukanlah
menunjukkan pembedaan yang esensial, tetapi pembedaan
berdasarkan kebiasaan belaka. Secara esensial perempuan
sebenarnya bukanlah makhluk yang lemah dan perlu dikasihani,
melainkan sebaliknya ia adalah makhluk yang juat dan memiliki
potemsi yang bisa dioptimalkan eksistensinya. Main set dan
pandangan yang demikian harus ditanamkan pada diri anakanak didik di sekolah. Begitu juga laki-laki, bukanlah identik
denga kasar dan hanya mengandalkan otot. Hal ini pun harus
disosialisasikan sejak kecil melalui permainan dan kegiatan
bersama yang tidak membedakan antara laki-laki dengan
perempuan.

77

4. Keadilan
Nilai keadilan dapat ditanamkan dalam pandidikan di
tingkat Taman Kanak-Kanak, dengan cara memberi kesempatan
kepada

semua

siswa,

laki-laki

dan

perembuan

untuk

mengerjakan tugas yang diberikan guru, baik melalui kegiatan


menyanyi, permainan, maupun tugas-tugas lainnya. Apabila ada
anak yang mendominasi, dapat diberi pemahaman dan
pengertian sederhana untuk bergantian dengan yang lain. Dalam
hal ini guru dituntut untuk bersungguh-sungguh memerhatikan
murid, satu per satu. Guru perlu lebih dekat dengan anak dan
selalu memerhatikan siapa yang sudah mendapatka kesempatan
dan siapa yang belum; siapa yan menonjol dan siapa yang
membutuhkan perhatian dan dorongan untuk maju dan lebih
berani tampil.
5. Demokrasi
Nilai demokrasi bisa ditanamkan sejak dini melalui
kegiatan menghargai perbedaan yang tahap demi tahap harus
diarahkan pada pertanggungjawaban yang benar sesuai dengan
nalar. Untuk memulainya di lingkungan sekolah Taman KanakKanak dapat dilakukan melalui kegiatan menggambar. Biarkan
imajinasi dan kreatifitas anak muncul dengan leluasa. Apa pun
yang dihasilkan anak perlu diberikan pujian, sekaligus ditanya
untuk mendapat penjelasan dan kesempatan untuk memahami

78

cara berpikirnya, seperti iklan bedak Ponds di mana ada anak


TK menggambar wajah gurunya dengan wajah yang memerah,
gurunya bertanya: ini siapa? Si murid lalu menjawab: Ibu
guru! Melalui interaksi dan dialog kecil tersebut anak-anak
dilatih unutk berani menceritakan imajinasinya kepada orang
lain. Apa pun yang dihasilkan anak, perlu mendapat apresiasi
dari guru. Apresiasi yang diberikan guru tersebut merupakan
bagian dari penghargaan akan perbedaan.
6. Kejujuran
Penanaman nilai kejujuran dapat dolakukan melalui
kegiatan keseharian yang sederhana dan sebagai suatu
kebiasaan, yaitu perilaku yang dapat membedakan milik pribadi
dan milik orang lain. kemampuan dasar untuk membedakan
merupakan dasar unruk bersikap jujur. Oleh karena itu, dapat
dikombinasikan dengan kebiasaan dan sopan santun dalam hal
pinjam-meminjam. Apabila mau menggunakan barang hak milik
orang

lain,

selalu

memohon

izin

dan

setelah

selesai

mengembalikannya dan selalu mengucapkian terima kasih atas


budi baiknya.
Begitu juga apabila menemukan barang milik orang lain
selalu mengumumkannya atau menyerahkannya kepada guru
untuk diumumkan kepada teman-teman lain pada kesempatan
lain. Kemudian sebagai kompensasi dan bentuk perhatian guru

79

atas perilaku dan sikap baik dan benar darri siswa tadi, guru
memberikan pujian secara terbuka di hadapan teman-temannya
bahwa sikap dan tindakan yang dilakukan siswa tadi adalah
benar dan baik, serta [pelu dilakukan juga oleh teman-temannya
yan lain, jika nanti mengalami peristiwa atau kegiatan yang
serupa. Melalui pujian dan pengumuman dari guru tersebut,
maka anak merasa dikukuhkan bahwa tindakan yang dilakukan
adalah baik dan benar, dan ini akan berdampak pada sikap dan
perilakunya di masyarakat kelak.
7. Kemandirian
Pada awal pertama kali masuk sekolah Taman KanakKanak, anak-anak biasanya tidak mau ditinggalkan oleh orang
tua atau pengasuhnya. Melalui kegiatan bermain bersama, anak
diajak untuk terbiasa dan senang bermain dengan taman
sebayanya. Dengan perasaan senag bermain dengan teman
sebayanya, setahap demi setahap anak-anak mulai siap untuk
sekolah tanpa harus ditunggui. Pada tahap berikutnya yang perlu
dilakukan oleh guru adalah membaisakan anak megurus
permainan

yang

digunakan,

diajar

dan

diajak

untuk

membereskan dan mengembalikan permainan ke tempat yang


sudah ditentukan. Kemandirian yang sederhana ini juga
membawa anak pada sikap memiliki atas barang-barang yang
dipakainya, serta tidak membiarkan tergeletak dan acak-acakan

80

serta meninggalkan dalam kondisi yang berantakan. Anak


dibiasakan hidup tertib dan teratur serta bertanggung jawab
terhadap kegiatan yang telah dilakukan.
Namun demikian, ada satu permasalahan yang sering
muncul berkaitan dengan nilai-nilai kemandirian ini, khususnya
mereka yang hidup di kota besar, banyak anak mempunya
pengasuh khusus yang menjaganya setiap waktu sejak datang ke
sekolah hingga pulang. hal ini berdampak tidak baik bagi anak,
karena jika anak-anak mengalami kesulitan, akan mudah lari
dan mencari perlindungan pada yang menunggui tanpa ada
usaha untuk mengatasinya sendiri. Untuk itu, diperlukan adanya
kesadaran serta kerja sama dari orang tua dan para pengasuhnya
agar anak dapat diajar mendiri sejak dini, tanpa mengurangu
rasa kasih sayang da antara mereka.
8. Daya juang
Penanaman nilai daya juang di lingkungan Taman KanakKanak terlihat pada kegiatan secara berkala, anak diajak jalanjalan dalam jarak yang wajar, tidak terlalu jauh dan tidak terlalu
dekat. Kemampuan menempuh jarak tertentu menjadi dasar
untuk mengembangkan da juang anak. untuk itu, pujian dan
dukungan dari guru amat membantu mengembangkan daya
juang anak. melalui kegiatan jalan-jalan ini, anak juga diajar
unutk mengnal lingkunagn sekitar dan cara hidup bersama di

81

jalan umum: disiplin, tertib, dan hati-haati untuk keselamatan


diri dan sesama, keterpimpinan serta menghargai kebersihan dan
tidak membuang sampah sembarangan di jalanan. Di samping
itu,anak-anak juga diajak untuk mencintai dan mengakui
kebesaran AllaH SWT dengan menciptakan keindahan alam
semesta ini, den berusaha mensyukuroi nikmat yang diberikan
dengan menjaga kelestariannya.
9. Tanggung jawab
Nilai tanggung jawab di sekolah Taman Kanak-Kanak
dapat dilakukan melalui permainan atau tugas-tugas yang
menggunakan alat. Hal ini dapat menjadi sarana unutk
memperkenalkan dan melatia tanggung jawab pada diri anak.
Menjaga agar alat mainan tidak mudah rusak, berani
melaporkan apabila alat permainan rusak merupakan awal
pembentukan sikap dan perilaku bertanggung jawab. Melalui
kegiatan dan kebiasaan yang seperti itu, anak-anak diajari untuk
tau bagaimana menjaga dan memelihara permainan dan
peralatan yang digunakannya.
10. Penghargaan terhadap lingkungan alam
Pengahargaan terhadap lingkungan alam dapat dilakukan
dengan cara mengajak dan mengajari anak memelihara tanaman
di sekolah. Anak diajak berkebun, dan jika memungkinkan
setiap anak diberi tanggung jawab terhadap satu tanaman,

82

sekaligus saling membantu dan mengingatkan satu sama lain


apabila ada yang lupa mengerjakan tugas. Menjaga dan
memelihara

tanaman

merupakan

awal

untuk

mencintai

lingkungan alam yang lebih luas lagi di jagat semesta ini.


Melalui tugas ini, anak-anak sekaligus diajak untuk
mencintai keindahan yang dihasilkan dari peliharaan kebun atau
taman tersebut. bunga yang tumbuh dan berkembang, serta
rumput yang menghijau membawa keindahan dan kesejukan,
lingkungan hidup manusia menjadi lebih segar, asri, indah, dan
tidak gersang. Dengan aneka ragam tanaman bunga yang ada di
sekolah, anak juga diajak mengenal dan merawat berbagai
tanaman hias, yang sering dijumpai di lingkungan rumah
maupun masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, anak-anak
diajarkan untuk lebih peka dan peduli terhadap kelestarian dan
keindahan alam semesta.
b. Penanaman Nilai di Sekolah Dasar
1. Religiusitas
Dalam menanamkan nilai-nilai religiusitas pada jenjang
pendidikan Sekolah Dasar, kebiasaan berdoa yang telah
ditanamkan mulai TK harus tetap dijaga. Selain itu, anak-anak
mulai diperkenalkan dengan hari-hari besar agama, dan diajak
untuk menjalankannya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan
ajaran agamanya masing-masing. Melalui kegiatan mendongeng

83

dan bercerita dapat diperkenalkan nilai-nilai agama yang ada di


negara Indonesia tercinta ini. Anak-anak diajak untuk mengenal
bermacam-macam

agama

dan

ditumbuhkan

sikap

saling

menghormati satu sama lain antarpemeluk agama yang berbeda.


Melalui kegiatan berdoa, sebelum melaksanakan suatu
kegiatan, anak-anak dibiasakan dan diperkenalkan akan adanya
kekuatan dan kekuasaan yang melebih manusia dan ini semua
ada pada Tuhan Yang Mahakuasa yaitu Allah SWT. Di samping
itu, juga perlu ditanamkan pada anak didik, keyakinan dan
kepercayaan bahwa Tuhan adalah maha baik dan maha
segalanya, karena segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup
ada dalam alam semesta dan itu berasal dari Tuhan. Tersedianya
segala kebutuhan dasar menusia dalam kehidupan, tanah yang
subur dan indah, kekayaan alam yang melimpah ruah, dan
berguna bagi kehidupan ini harus selalu dijaga dengan baik, dan
senua berasal dari Tuhan Yang Mahakuasa, Tuhan Yang
Mahapangasih dan Tuhan Yang Maha pemurah.
2. Sosialitas
Nilai sosialitas dapat ditanamkan pada anak-anak SD
melalui kegiatan baris-berbaris untuk masuk kelas. Ada beberapa
anak yang tidak tertib, tidak mau berbaris, dan tidak mau masuk
sesuai urutan, tetapi nyelonong masuk begitu saja.

84

Untuk membantu membiasakan hidup bersama dengan baik


dapat dipilih berbagai macam kegiatan yang dapat dilaksanakan
bersama. masalnya dengan tugas kertakes bersama, olah raga
bersama dan tugas-tugas kelompok yang menjunjung tinggi nilainilai kerja sama dan sosialitas yang tinggi. Dengan aktifitas den
kegiatan semacam ini, anak dapat diperkenalkan kepada sikap
saling menghargai, saling membantu, saling memerhatikan dan
saling menghormati satu sama lain. Melalui semangat kerja
sama, komitmen yang dibutuhkan dalam hidup bersama dapat
semakin ditingkatkan.
3. Gender
Pendidikan jasmani dan kesehatan yang dilakukan melalui
kegiatan olah raga di Sekolah Dasar, pada umumnya masih
berupa olah raga dasar. Hal ini merupakan peluang dan
kesempatan terbuka untuk memberi kesempatan kepada anak
perempuan untuk mengikuti setiap kegiatan olah raga yang
dilaksanakan di sekolah. Selain untuk pertumbuhan fisik, olah
raga dapat digunakan untuk membentuk gambaran bahwa
perempuan pun dapat mengikuti berbagai macam kegiatan olah
raga, termasuk kegiatan sepak bola sekalipun.
Anak perempuan bermain sepak bola bukanlah sebuah
pantangan atau kendala yang perlu ditabukan keberadaanya.
Melalui olah raga anak perempuan dibentuk untuk tidak

85

mengkristalkan pandangan bahwa perempuan adalah makhluk


lemah, lembek, dan hanya bisa melakukan kegiatan yang ringanringan belaka. Pandangan yang berkembang dalam masyarakat
dapat diubah dengan menanamkan nilai-nilai kesetaraan gender
dengan baik dan benar sejak dini. Laki-laki dan perempuan
memang beda dalam hal jenis kelamin (seks), tetapi dalam hal
peran gender jangan dibeda-bedakan, yang membedakan satu
sama lain adalah soal kemampuan saja. oleh karena itu, semangat
kesetaraan gender harus dilakukan sejak dini dan dimulai dari
lingkungan yang paling kecil, yakni keluarga, sekolah, dan
masyarakat secara terus menerus dan berkesinambungan.
4. Keadilan
Pada kelas bawah (kelas 1, 2, dan 3)jenjang pendidikan
dasar, pengertian keadilan sebaiknya lebih ditekankan pada halhal yang sifatnya fisik lahiriahdan kasat mata (konkret), belum
pada konsep yang luas dan mendalam. Dorongan dan pemberian
kesempatan untuk maju berpartisipasi di depankelas, menjawab
soal, menjalankan tugas merupakan bagian dari keadilan awal
yang perlun ditanamkan pada diri siswa pada jenjang ini.
Keadilan dalam kondisi dan konteks seperti ini perlu dipertegas
dengan sikap guru yang menjauhkan diri dari sikap den penilaian
senang (like) dan tidak senang (dislike) atau pilih kasih terhadap
seseorang atau sekelompok siswa.

86

Pada kelas tinggi (kelas 4, 5, dan 6) jenjang pendidikan


dasar, pengertian keadilan sudah mulai pada perbedaan hakiki
antara laki-laki dan

perempuan. Budaya dan kebiasaan

berpakaian dan berperilaku yang pantas dan baik bagi laki-laki


dan perempaun yang mempunyhai perbedaan fisik dan fungsi
fisik yang berbeda mulai ditanamkan dalam konsep yang luas
dan rinci.Perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan yang
menyebabkan perlakuarn lahiriah yang berbeda dipahamkan pada
anak didik di jenjang kelas ini. Namun demikian, juga perlu
diimbangipada sikap dasar dan prinsip hidup bahwa keadilan
tetap berlaku pada semua orang tanpa membedakan jenis
kelamin.
Perlakuan dan pemberian kesempatan serta hak dan
kewajiban yang sama bagi laki-laki dan perempuan secara wajar
merupakan bagian dari pendidikan keadilan pada anak. Pada
jenjang pendidikan dasar ini anak belum dijak unutk mengkaji
konsep keadilan secara mendalam, namun lebih rinci dibanding
konsep pada kelas rendah.
5. Demokrasi
Melalui pendidikan IPS dan PKn, nilai-nilai demokrasi
dapat ditanamkan secara tepat dan akurat. Melalui wahana
bidang studisosial tersebut penanaman jiwa dan nilai demokrasi
dapat ditumbuhkan sejak dini pada anak didik. Sikap menghargai

87

adanya perbedaan pendapat secara wajar, jujur, dan terbuka


merupakan dasar sikap demokraris yang perlu ditanamkan pada
anak didik di jenjang pendidikan dasar. Disamping itu, anak
didik juga perlu diajak dan didik untuk membuat kesepahaman
den

kesepakatan

bersama

secara

terbuka

dan

saling

menghormati.
Sikap demokratis berarti juga mengkui keberagaman dan
perbedaan satu sama lain. Melalui sikap demokratis anak didik
diajak untuk terbuka dan berani menerima dan mengakui bahwa
pendapatnya belum tentu atau tidak dapat digunakan pada saat
itu, atau dengan kata lain anak didik dalam forum demokrasi
tidak dapat memaksakan kehendak satu sama lain. Masingmasing pihak harus menjalin komunikasi yang baik dan mencari
win-win solution serta kesepakatan bersama demi tujuan bersama
yang telah dicita-citakan. Kesepakatan dalam konteks ini bukan
berarti jumlah yang besar (pihak mayoritas) yang menang atau
yang kuat bersuara yang menang tetapi juga menghargai suara
minoritaas dan lebih menjunjung tinggi prinsip kebenaran dan
keadilan serta kebaikan bersama.
Prinsip-prinsip diatas dapat diterapkan pada saat pemilihan
pengurus

kelas,

memilih

regu

pramuka,

dan

kegiatan

ekstrakurikuler lainnya. Pemilihan yang digelar bukan berdasar


senang atau tidak senang, namun berdasar pada prinsip mana

88

yang terbaik untuk perkembangan kelas dan kelompok-kelompok


di masa depan. Dalam alam demokrasi berarti juga masyarakat
mempunyai tujuan bersama, harapan bersama, dan keprihatinan
bersama. Prinsip dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa perlu
dijunjung tinggi dan ditegakkan dalam kelas-kelas yang
demokratis.
6. Kejujuran
Nilai dan prinsip kejujuran dapat ditanamkan pada diri
siswa di jenjang pendidikan dasar melalui kegiatan mengoreksi
hasil ulangan secara silang dalam kelas. Dalam konteks ini
peranan guru sangat penting dalam mencermati proses koreksi
tersebut. Cara koreksi ini bukan semata-mata untuk meringankan
tugas guru atau memenfaatkan anak untuk membantu tugas guru,
melainkan

bertujuan

secara

sungguh-sungguh

untuk

menanamkan kejujuran dan tanggung jawab pada diri siswa.


Setelah kegiatan koreksi yang dilakukan pleh siswa selesai, guru
perlu melakukan koreksi ulang pekerjaan siswa satu per satu.
Berdasarkan coretan dan hasil tulisan yang tertera dalam lembar
jawaban anak, akan terlihat kejujuran dari anak. setelah itu
berdasarkan hasil pengamatan guru dapat menyampaikan nilai
kejujuran dan tanggung jawab pada anak dan dampaknya bagi
kehidupan kelak.
7. Kemandirian

89

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan sarana dan wadah


yang tepat untuk melatih kemandirian siswa. Melalui kegiatan ini
siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk mengeksplorasi
kemampuan yang dimiliki dan mengembangkannya seoptimal
mungkin. Kegiatan ekstrakurikuler sangat membantu proses
pengembangan ini. Untuk anak yang berbakat diberikesempatan
unutk mengembangkannya, baik dari sisi akademis maupun
nonakademis. Kegiatan nonakademis yang cukup menarik dan
dikenali secara universal adalah kegiatan pramuka dan kegiatan
kepanduan lainnya seperti Hizbul Wathon.
Kegiatan pramuka atau HW yang terencana akan membuat
anak sengan dan terlatih untuk dapat menyelesaikan persoalan,
baik secara pribadi maupun bersama. Kemandirian bukan berarti
tidak butuh orang lain, namun justru dalam kebersamaan dengan
orang lain.
8. Daya Juang
Melalui kegiatan olah raga, nilai daya juang anak dapat
ditumbuhkan secara konkret. Pertumbuhan fisik merupakan
perkembangan proses tahap demi tahap dan unutk mencapai
perkembangan yang optimal dibutuhkan daya dan semangat
juang. selain menumbuhkan semangat dan daya juang yang
tinggi, kegiatan olah raga dapat merupakan wahana untuk
mengembangkan sikap sportivitas (kujujuran) yang tinggi pada

90

anak. Berani bersaing secara wajar, namun juga berani untuk


menerima kekalahan dan mengakui kemenangan orang lain
dengan setulus hati.
9. Tanggung Jawab
Pembagian tugas piket kelas secara bergiliran merupakan
wahana penanaman nilai akan tanggung jawab di lingkungan
kelas atau persekolahan. Kebersihan dan kenyamanan kelas
bukan hanya tugas keryawan kebersihan sekolah, tetapi juga
memnjadi tanggung jawab bersama. Untuk ke[erluan kelas maka
keterlibatan anggota kelas sangat penting. Dalam proses
pengembangan tanggung jawab ini perhatian dan pendampingan
guru sangat penting agar apabila anak yang tidak mau bertugas
segera mendapat perhatian. Demikian juga apabila ada anak yang
sulau menjadi korban kemalasan temannya dapat dilindungi
sehingga tanggung jawab dan kebersamaan dalam kelas dapat
terjalin dengan baik.
10. Penghargaan terhadap Lingkungan Alam.
Pelaksanaan tugas kerja bakti mengandung kegiatan proses
pembelajaran yang sangat baik di lingkungan persekolahan.
Melalui kegiatan kerja bakti terkandung proses penanaman nilai
yang berkaitan dengan semangat kerja sama atau gotong royong
dan penghargaan terhadap lingkungan alam. Dalam kerja bakti
tidak hanya berbicara tentang menyapu dan membersihkan

91

halaman, tetapi juga menjaga tanaman dan tumbuh-tumbuhan


yang ada di lingkungan sekolah agar tetap asri dan terjaga
dengan baik. Lingkungan alam yang hijau dan asri sangat
membantu kesehatan dan kenyamanan hidup manusia, membuat
seluruh siswa kerasan dan nyaman berada dan belajar di sekolah.
Pelaksanaan kerja bakti membutuhkan perencanaan yang
baik karena ada unsur penanaman nilai yang akan disampaikan
terutama berkaitan dengan tanggung jawab, kerja sama, gotong
royong, kecintaan, serta penghargaan terhadap lingkungan alam.
Selain perencanaan yang baik, juga dibutuhkan pengamatan
dalam proses pelaksanaanya yang akan menjadi titik pijak
pendampingan selanjutnya, baik secara personal, maupun
klasikal di lingkungan sekolah dasar.
c. Penanaman Nilai di Sekolah Menengah Pertama (SMP)
1. Religiusitas
Siswa diajak untuk mengenal bahwa dalam masyarakat
ada berbagai macam agama. Setiap agama ada tokoh (Nabi dan
Rasul) yang mendasarinya. Anak diperkenalkan pada tokoh
(Nabi dan Rasul) pemberi dasar agama dengan nilai-nilai dasar
yang diajarkan. Secara khusus anak juga diminta untuk
mengumpulkan informasi tentang tokoh pemberi dasar agama
yang

dianutnya.

Dengan

demikian

anak-anak

semakin

92

mendalami ajaran agama sekaligus dapat persikap toleran dan


menghargai agama lain secara wajar.
Pemberian tugas kepada masing-masing anak untuk
mencari informasi tentang tokoh pemberi dasar agama akan
memberi masukan tentang tokoh agama yang dianutnya
tersebut. Kemudian secara kelompok dijak untuk saling
memperkenalkan secara informatif, bukan mendiskusikannya.
mengenal tokoh dan ajaran merupakan jalan untuk mendalami
ajaran agama yang dianutnya. Diharapkan pola ini menjadi jalan
untuk pendalaman agama setiap pribadi tanpa meninggalkan
sikap toleran yang sejati.
2. Sosialitas
Pada jenjang pendidkan SMP, anak sudah mulai
mempunya wilayah pergaulan pergaulan yang lebih luas
dibanding jenjang pendidikan sebelumnya. Melihat dan
mengingat realitas perkembangan anak yang demikian, baik
secara fisik maupun psikologis maka proses pertumbuhan perlu
diperhatikan dan dikratisi bersama dengan anak. Anak pada usia
ini membutuhkan kedekatan dengan teman-teman sebaya.
Kedekatan dan persahabatan ini perlu diperhatikan dan
diarahkan secara positif dan konstruktif. Kedekatan dan
persahabatan dapat membawa dampak positif maupun negatif,
hal

ini

perlu

diperkenalkan

kepada

anak-anak

dengan

93

konsekuensi yang mungkin muncul terhadap suatu pilihan


dalam bentuk apapun.
Tata krama, sopan santun yang telah diajarkan dan
dikenal oleh anak mulai dikupas dasar dan tujuannya. Sopan
santun bukanlah demi sopan santu atau tata cara itu sendiri,
namun memiliki suatu nilai di dalamnya. Misalnya cerita Malin
Kundang, bukan hanya cerita yang menjadi imajinasi dan
khayalan mereka belaka, namun mempunyai tujuan bagaimana
seorang anak harus bersikap hormat kepada seorang Ibu dan
apabila tidak dilaksanakan akan membawa petaka dan
ketidakbahagiaan dlam menjalani hidupnya. Sikap anak yang
tidak hormat kepada Ibu yang telah mengandungnya dan
melahirkannya akan dipertanyakan apakah dia juga dapat
menghormati orang lain. Kebahagiaan akan muncul dalam relasi
antar manusia dan yang paling besar adalah relasi dalam
kehidupan keluarga.
3. Gender
Pada usia sekolah lanjutan, mulai berkembang sikap
chauvinisme laki-laki. Melalui acara-acara yang dikoordinasikan
oleh wakil kepala sekolah bagian kesiswaan perlu dirancang
kegiatan bersama yang mengarah pada sikap menghargai
antarmanusia tanpa memandang jenis kelamin. Kegiatan ini juga
perlu diperhatikan agar ridak menimbulkan sikap salling

94

mengalahkan

antara

laki-laki

dengan

perempuan.

Kepemimpinan oleh perempuan dalam kegiatan ataupun


kepengurusan

klelas

harus

mulai

dikembangkan

dan

disosialisasikan karena perempuan pun memiliki kemungkinan


unutk berkembang dan menjadi pemimpin. Kegiatan untuk anak
perempuan perlu diperluas dan diperhatikan, terutama kegiatan
ekstrakurikuler.
Selain pengembangan kegiatan bagi anak perempuan,
kesadaran akan kesetaraan juga harus dibangkitkan dalam diri
anak-anak. Laki-laki dan perempuan memang beda, tapi jangan
dibeda-bedakan harus ditanamkan pada diri anak. Kesadaran
diri masing-masing pribadi ditambah dengan kesadaran dan
dorongan dari lingkungan akan semakin menguatkan secara
pandang dan keterlibatan perempuan dalam seluruh aspek
kehidupan secara selaras, serasi, dan seimbang sesuai dengan
kodrat dan martabatnya.
4. Keadilan
Kegiatan

yang

dilakukan

guru

dalam

proses

pembelajaran, dengan mengembalikan kertas ulangan siswa


pada waktunya merupakan teladan nyata tentang keadilan.
Masing-masing pihak melaksanakan kewajibannya dan setiap
pihak juga mendapatkan haknya. Dengan demikian, sikap saling
menghormati dan saling menghormati sungguh-sungguh terjalin

95

dan menghargai hak masing-masing pihak juga terlaksana.


Secar sederhana pelaksanaan kewajiban dan penerimaan hak
merupakan bagian dari keadilan yang nyata dalam kehidupan,
paling tidak yang paling dasar.
5. Demokrasi
Melalui pelajaran sejarah dan PKn, anak-anak diajak
untuk melihat bentuk-bentuk negara yang ada dalam pelajaran
sejarah negara dan umat manusia. Salah satu pelaksanaan
kehidupan bernegara adalah demokrasi. Dari sini anak diajak
untuk melihat secara garis besar apa dan bagaimana negara yang
menganut paham demokrasi. Ada bermacam-macam paham
tentang demokrasi. Dalam konteks ini demokrasi dimaknai
sebagai sikap saling menghargai kendati sikap satu sama lain
berbeda bahkan bertentangan. Sikap demokratis sejati adalah
sikap mau menghargai pihak manapun dalam kehidupan
bersama. Berani mengakui kekurangan dan kekalahan serta
mengakui pihak lain lebih unggul jega merupakan sikap
demokratis.
Di sekolah anak dapat diajak untuk belajar bersikap
demokratis, yaitu dalam pemilihan pengurus kelas atau dalam
pemilihan pengurus OSIS di sekolah. Dalam kehidupan
bersama, sikap demokratis ini tercermin dari pemahaman akan
adanya struktur dalam organisasi dan kehidupan masyarakat.

96

Demokrasi berarti juga menghargai kepemimpinan dan siap


untuk dipimpin.
6. Kejujuran
Kegiatan olah raga dapat menjadi sarana dan wahana
yang baik untuk menumbuhkan sikap sportivitas dan kejujuran.
Sikap fair play dalam sebuah pertandingan olah raga perlu
dijunjung tinggi. Perilaku jujur perlu mendapat apresiaasi dan
penghargaan yang tinggi serta penghargaan yang tulus pada
setiap anak yang melakukannya.
Dalam pelaksanaanya anak perlu diberi pemahaman dan
penjelasan tentang arti dan manfaat kejujuran dalam kehidupan
bersama. Di samping itu, juga diajak berpikir dan bersikap atas
pernyataan: bagaimana jika kondisi ketidakjujuran ada di tengah
masyarakat. Melalui kegiatan-kagiatan yang kasat mata,
sederhana, serta ada di sekitar sekolah dan keseharian siswa,
anak diajak untuk mengambil sikap yang benar dalam masalah
kejujuran. Nilai dan sikap kejujuran sangat terkait dengan nilai
keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab pada diri manusia.
7. Kemandirian
Kegiatan kelompok yang dilaksanakan di luar sekolah
merupakan wahana untuk menumbuhkan kemandirian pada diri
siswa. Unuk menumbuhkan kemandirian siswa melelui kegiatan
di luar sekolah memerlukan kerja sama dan keterlibatan seluruh

97

civitas sekolah dan orang tua serta masyarakat sekitarnya.


Kegiatan harus direncanakan termasuk dinamika yang akan
dilakukan. Diharapkan orang tua dan wali siswa dapat menahan
untuk tidak mendatangi lokasi kegiatan anak-anak, agar anakanak merasa senang dan dapat melaksanakan tugas dalam
kelompok atau secara pribadi sesuai dengan tugas yang
diberikan.
8. Daya Juang
Daya juang tidak hanya bisa dilihat dari kemempuan
motorik dan fisik semata, melainkan juga dapat dilihat dari
unsur semangat dan kemampuan psikis. Oleh karena itu,
menjalankan tuguas

yang membutuhkan ketekunan dan

ketelitian dalam waktu yang cukup lama dan panjang


merupakan wahana untuk mengukur daya juang seorang anak
dari aspek nonfisik. Namun delikian, lazimnya daya juang psikis
akan berpengaruh terhadap daya juan fisik
9. Tanggung Jawab
Kegiatan class meeting merupakan satu kemungkinan
untuk melatih sikap bertanggung jawab. Anak didik diajak
untuk bersikap tekun dari mulai persiapan sampaidengan selesai
proses evaluasi. Kegiatan mengajak dan membimbing anak
untuk mempersiapkan suatu kegiatan dengan baik agar
pelaksanaanya dapat berjalan dengan lancar. Pelaksanaan yang

98

diusahakan sebaik mungkin agar sumua pihak merasa senang


dan terlayani, sedangkan evaluasi yang dilaksanakan dengan
baik adalah bagian proses belajar bertanggung jawab. Tanggung
jawab terhadap suatu kegiatan tidak hanya pada sebagian proses,
tetapi pada keseluruhan proses yang terjadi.
10. Penghargaan Terhadap Lingkungan Alam
Kegiatan kepramukaan dapat mengembangkan akan
lingkungan amat terbuka. Kegiatan pramuka dengan tema
mengusahakan penghijauan lingkungan dapat menjadi wahana
untuk mencintai lingkungan alam. Penghijauan tidak hanya
sekedar menanam sesuatu, tetapi dengan penalaran dan
pertimbangan jenis pohon. Selain menjaga kelestarian alam,
juga menambah pengetahuan tentang sifat-sifat tanaman. Ada
tanaman yang mengisao banyak air, ada tanaman yang dapat
menyimpan air untuk lingkungannya. Tidak semua pepohonan
baik dan dapat digunakan untuk penghijauan. Demikian juga,
penghijauan di daerah berkapur, daerah berbatu, dan daerah
subur menuntut tanaman atau jenis pohon yang berbbeda satu
sama lain.
d. Penanaman Nilai di Sekolah Menengan Atas (SMA)
1.

Religiusitas
Keterlibatan dan kepekaan sosial dapat menjadi sarana
untuk mengembangkan sikap religiusitas. melihat keprihatinan

99

dan penderitaan hidup manusia, ajaran agama manapun akan


mengajak dan mendesak penganutnya untuk bertindak baik.
Kegiatan

sosial

kemanusiaan

menjadi

tempat

untuk

mewujudkan religiusitas anak secara bersama deri berbagai


macam agama dan keperceyaan yang ada. Kepekaan dan
keterlabatan untuk membantu orang yang menderita merupakan
panggilan bersama umat beragama.
2.

Sosialitas
Pembinaan kelas bersama dapat menjadi sarana untuk
mengembangkan sosialitas anak secara sehat, terdampingi, dan
terarah. Kegiatan semacam ini sebaiknya diselenggarakan di
rumah salah seorang siswa anggota kelas yang kira-kira mampu
menampung anggota kelas. Dari sisi etika dan sopan santun
hidup bersama, dapat disampaikan bagaimana sopan santun
minta izin kepada orang tua teman sebagai pemilik rumah,
pemberitahuan kepada RTt atau lingjungan temoat kegiatan
dilaksanakan. Dengan ini anak diajak untuk bersikap sopan dan
menghargai apabila datang ke tempat orang lain atau ke
lingkungan lain. secara organisatoris anak diajak untuk terlibat
mulai dari fase perencanaan, pelaksanaan, dan persiapan tempat
sampai kegiatan membereskan kembali tempat yang digunakan
supaya tidak merepotkan keluarga yang ketempatan kegiatan,
serta pengevaluasiannya.

100

3. Gender
Dalam skope ilmu sosial kemasyarakatan, tuntutan akan
kesadaran dan kesetaraan gender menjadi lebih mengemuka dan
terbuka untuk diperbincangkan. Kasus ini muncul dan
mengemuka di tengah-tengah masyarakat sangat banyak dan
bervariasi

serta

dapat

digunakan

untuk

membicarakan

bagaimana penghargaan terhadap perempuan di masyarakat


dalam kultur yang sangat patriarkis masih sangat rendah.
Kesadaran untuk menghargai perempuan harus tumbuh pada diri
setiap menusia, baik laki-laki maupun perempuan.
4.

Keadilan
Konsep keadilan secara lebih luas dan konseptual perlu
mulai diperkenalkan pada diri siswa. Prinsip adil bekan sekedar
sama rata dan sama raasa. Keadilan pada kenyataan bersifat
multi dimensional. Namun demikian, pada dasarnya keadilan
tujuan dan dasar nilai-nilai hidupnya, yaitu untuk perkembangan
dan kesejahteraan hidup manusia. Adil dalam pengertian hukum
tidak selalu sejalan dengan rasa keadilan dalam masyarakat
luas. Banyak kasus keadilan yang dapat menjadi contoh di
dalam republik ini. Siswa diajak untuk memperluas wawasan
tentang keadilan, tetapa dasar semua hal itu ada dalam hati
nurani manusia. Mendiskusikan kasus yang hangat dan
mengajak anak untuk mengasah hati nurani guna menyikapi

101

realitas yang ada adalah kesempatan yang kuat untuk


menanamkan nilai keadilan secara mendasar dan manusiawi
5. Demokrasi
Kasus keributan yang sering terjadi di lembaga DPR
maupun DPRD berkaitan dengan pembukaan sidang meupun
pembahasan terdapat suatu aturan atau perundang-undangan
yang terjadi akhir-akhir ini, yang bisa dilihat secara kasat mata
dan transparan melalui media massa baik TV, radio maupun
koran emnjadi sebuah contoh yang menarik dan cocok untuk
diperkenalkan kepada siswa akan makna sebuah demokrasi dan
tidak

mudahnnya

mewujudkan

nilai

demokrasi

yang

sesungguhnya. Siswa dibuka pemikiran dan kesadarannya


bahwa perbedaan yang mendasar antara demokrasi dalam teori
ilmiah dengan demokrasi dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai kasus penyimpangan dan contoh yang tidak benar
tersubut, dapat menjadi wahana yang tepat untuk membimbing
anak mengenal demokrasi yang sebenarnya. Anak dapat diajak
untuk besikap secara baik dan benar di masa yang akan datang
apabila mereka berperan dalam hidup bermasyarakat kelak.
6. Kejujuran
Salah satu mata pelajaran yang dapat dijadikan salahsatu
wahana dan sarana mengajarkan nilai-nilai kejujuran mada mata
pelajaran akuntansi. Mata pelajaran ini dapat dijadikan sarana

102

bagi anak didik dalam bidang keuangan untuk menyampaikan


laporan pertanggungjawaban secara benar dan transparan.
Laporan keuangan ini dapat dijadikan alat untuk menilai apakah
seseorang bertindak jujur atau tidak. Pembukuan dapat juga
digunakan untuk mencari keuntungan yang berarti mengingkari
kebenaran yang seharusnya diungkapkan dalam pembukuan
tersebut.
7. Kemandirian
Kegiatan ekskul (ekstrakurikuler) merupakan ajang dan
sarana tang tepat untuk melatih kemandirian anak. Bukan karena
faktor kegiatan itu tidak diawasi dan dinilai oleh guru secara
cermat, tetapi lebih kepada faktor keberanian siswa mengambil
pilihan jegiatan, kemampuan mengorganisasi waktu pribadi,
mengenal kemampuan diri, dan kemauan untuk setia pada
pilihan. Proses ini akan membawa siswa pada penggalian
potensi kemandirian berdasarkan sikap pribadi secara optimal.
8. Daya Juang
Mengenal bakat dan kemampuan diri untuk dipilih dan
dikembangkan seoptimal mungkin tanpa meninggalkan dan
membunuh potensi yang lain perlu dilakukan pada siswa usia
ini. Sikap optimalisasi juga akan menumbuhkan daya juang
untuk berkembang secara terus-menerus. Siswa tidak hanya
merasa puas akan apa yang sudah dicapai, tetapi juga merasa

103

ingin terus berkembang khususnya pada kemampuan potensial


yang ada dalam dirinya.
9. Tanggung Jawab
Kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) dan non akademik
yang beraneka ragam merupakan wahana dan sarana yang tepat
untuk dapat membantu menumbuhkembangkan rasa tanggung
jawab siswa. Kegiatan yang dipilih pasti memiliki konsekuensi,
paling tidak dalam masalah pembagian waktu berkaitan dengan
multi peran yang disandang setiap orang. Apabila ia terlalu
bersemangat untuk mengikuti banyak kegiatan maka ada
konsekuensi

yang

dipikul,

yaitu

waktu

untuk

belajar,

mempersiapkan ulangan, menjalankan peran dan tugas di


rumah, dan lain sebagainya. Tanggung jawab tentu berkaitan
dengan pelaksanaan kewajiban yang diemban seseorang. Guru
dapat mengajak siswa untuk mengevaluasi dan mengkritisi
kegiatan yang telah dipilihnya.
10. Penghargaan terhadap Lingkungan Alam
Kelompok den kegiatan pecinta alam merupakan wadah
yang cocok untuk mengembangkan sikap mencintai lingkungan
alam. Namun demikian, perlu ada penjernihan dan pelurusan
pengertian pecinta alam. Dalam banyak versi pecinta alam
sering

dimaknai

dan

dikonotasikan

sebagai

kegiatan

petualangan belaka, kegiatan untuk menaklukkan tantangan

104

alam,

petualangan

unutk

menunjukkan

ciri

kejantanan,

kegagahan, dan keberanian.


Penjernihan dan pelurusan pemahaman perlu dilakukan
yaitu bahwa pen-cinta alam adalah suatu kegiatan sungguhsungguh mencintai alam dalam berbagai bentuk kemungkinan.
Untuk mendukung kecintaan pada alam maka dibutuhkan sikap
berani berpetualang hingga dapat mengenali kehidupan secara
luas. Namun demikian, mencintai alam pada dasarnya adalah
kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam, maka
mencintai alam semesta berarti mencintai kehidupan manusia.
Berbagai kegiatan yang bersifat dan berbau petualangan
adalah langkah pendukung untuk bisa mengenal dan memahami
lingkungan dan perkembangannya secara dekat dan menyatu
dalam kehidupan. Organisasi Green Peace misalnya, adalah
sebuah organisasi yang kegiatannya penuh dengan petualangan
dan tantangan yang selalu diarahkan pada upaya pelestarian
alam

dan

lingkungan

kehidupan.

Mencintai

alam

dan

lingkungan hidup haruslah diarahkan agar ada sikap untuk


mencintai kehidupan secara berimbang. Tidak ada gunanya
mencinta alam tanpa mencintai kehidupan sesama manusia
Nurul ZUhriah, 2011: 40-60).

105

Apabila konsep menurut Nurul Zuhriah diatas di buat skema maka


akan terbentuk seperti di bawah ini:
Nilai
TK
SD
ALTP/SMP
SLTA/SMA
1. Religiusitas Membiasakan Mengenal hari- Mengenal
Melihatr realita
anak berdoa .
hari besar
lebih dalam
sosial dan
agama.
tokoh/nabi
menanggapinya
Membiasakan
dan rasul
sebagai realisasi
anak
Nilai-nilai hidup
pemberi
ajaran agama.
bersyukur.
agama-agama.
dasar agama. Sadar akan
Saling
Saling
kebutuhan
menghormati
menghargai
sesama.
antar agama.
antarumat
beragama.
2. Sosialitas

Membiasakan Tatanan hidup


Solidaritas
Melatih
anak hidup
bersama untuk
yang benar.
organisasi.
bersama
keteraturan dan Persahabatan Melatih sopan
saling
kebersamaan.
yang sejati.
santun dalam
memerhatika
membuat acara
Penghormatan
n
bersama.
kepada orang
tua.
Aktivitas yang
baik dan
berguna.

3. Gender

Kesetaraan
dalam
permainan.

Perempuan
Kepemimpina Kesadaran akan
bukan makhluk
n perempuan.
kasus-kasus
lemah.
pelecehan dalam
Kegiatan
masyarakat.
yang lebih
luas bagi
perempuan.

4. Keadilan

Anak
mendapat
kesempatan
yang sama.

Kesempatan
Mengembalik Kosep keadilan
yang sama bagi
an hasil
berkaitan dengan
semua.
ulangan pada
hati nurani.
waktunya.
Perlakuan
terhadap fisik
yang berbeda.

5. Demokrasi

Imajinasi
Mengahargai
anak dihargai
perbedaan
dan
pendapat.
diarahkan
Berani
menerima
realita.

Arti
demokrasi.
Pemilihan
OSIS.

Pemahaman
demokrasi: kasus
konkret dalam
masyarakat.

6. Kejujuran

Menghargai
milik orang
lain

Menyatakan
kebenaran.

Kejujuran dan
akibatnya dalam
kehidupan
bermasyarakat.

Nilai

TK

Mengoreksi
dengan benar.

SD

ALTP/SMP

SLTA/SMA

106

Week end
pembinaan
kelas.

Keberanian untuk
menentukan
pilihan.
Ketekunan akan
pilihan.
Keseimbangan
hak den
kewajiban.

8. Daya juang Kegiatan fisik Daya tahan


jalan-jalan.
fisik.
Sikap berani
dan sportif.

Daya taha
psikis.

Optimalisasi diri.
Mengenali dan
bangga pada
potensi diri.

9. Tanggung Memakai dan Menjalankan


jawab
membersihka
kewajiban
n alat
bersama secara
permainan
bertanggung
sendiri.
jawab.
Melaporkan
bila
merusakkan
barang.

Menjalankan Keseimbangan
kewajiban
antara hak dan
secara
kewajiban.
pribadi
maupun
bersama.
Menumbuhka
n
kepercayaan
diri.

7.
Kemandirian

10.
Pengharg
aan
terhadap
lingkunga
n alam

Sekolah tidak Eksplorasi


ditunggui
kemampuan.
Dapat
mengambil
keputusan.

Memelihara
tanaman/bun
ga.

Kebersihan
Menjaga
lingkungan
hidup.
Membantu
kesehatan
lingkungan.

Mengenali
Mencintai alam
karakter
pada prinsipnya
lingkungan
mencintai
dan tanaman.
kehidupan.

Penanaman nilai-nilai kehidupan untuk membentuk budi pekerti


yang baik dalam kehidupan manusia dapat dilakukan melalui jenjang
pendidikan formal. Wahana untuk menanamkan nilai dalam pendidikan
formal dapat dilakukan melalui berbagai bidang studi, baik secara
integrated maupun secara separated, tidak melulu menjadi beban dan
dilakukan oleh Pendidikan Agama dan PPKn. Setiap bidang studi dapat
berperan dalam proses penanaman nilai untuk membentuk budi pekerti yang

107

baik tersebut. Selain itu, kegiatan di luar bidang studi seperti kegiatan
ekstrakurikuler (ekskul) juga terbuka untuk proses penanaman nilai.
Pembentukan dan penanaman nilai-nilai kehidupan dalam kegiatan
pembelajaran, dituntut untuk keterlibatan dan kerja sama dari semua pihak.
Khususnya bagi seorang guru atau pendidik untuk proses penanaman
nilaiini dituntut adanya keteladanan. Keteladanan dalam konsistensi berpikir
dan bersikap dalam kehiduoan sehari-hari. Tuntutan ini bukan berarti
seorang guru atau pendidik harus menjadi malaikat atau manusia yang
sempurna, melainkan manusia yang memiliki sikap yang konsisten dalam
sikap hidupnya, artinya terbuka untuk perbaikan, terbuka untuk menerima
kritik dan masukan keteladanan untuk mau berkembang.
Berkaitan dengan materi dan isi dari nilai-nilai yang akan
ditanamkan, seorang guru yang sekaligus berperan sebagai pendidik
dituntut

untuk

kreatif.

Kreatif

menemukan

kemungkinan

untuk

menawarkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Kreatif dan berinisiatif


untuk tekun mengolah perkembangan dan tuntutan yang ada tanpa
meninggalkan inti ajaran hidup. Hal ini berarti juga bahwa seorang guru
harus terus-menerus belajar tentang makna hidup itu sendiri.

108

BAB V
PENUTUP

Pada bagian akhir dari pembahasan ini, penulis mengambil kesimpulan


berdasarkan analisis yang disesuaikan dengan tujuan pembahasan skripsi ini.
Penulis juga memberikan saran-saran yang dirasa relevan dan perlu, dengan
harapan dapat menjadi sebuah kontribusi pikiran yang berharga bagi dunia
pendidikan umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya.
A. Kesimpulan
Dari apa yang telah diuraikan

tersebut di atas, penulis dapat

menyimpulkan bahwa:
1. Ki Hajar dewantara adalah seorang keturunan bangsawan sehingga
mendapatkan gelar Raden Mas (RM). Raden Mas Soewardi Soeryaningrat
adalah nama asli beliau ketika lahir. Karena keinginan beliau untuk lebih
dekat dengan rakyat maka nama beliau diganti menjadi Ki Hajar
Dewantara. Selain keturunan bangsawan beliau juga masih mempunyai
alur keturunan dengan Sunan Kali Jaga. Sebagaimana seorang yang
dilahirkan sebagai keturunan bangsawan dan ulama, beliau dididik dan
dibesarkan dalam lingkungan sosio kultural yang religius serta kondusif.
2. Ki Hajar Dewantara adalah seorang revolusioner dalam bidang pendidikan
Indonesia. Perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan menjadi salah
salah satu bukti kiprahnya dalam dunia pendidikan. Beliau juga sangat
berperan dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dengan bergabung

109

dibeberapa warta cetak pada masa itu seperti Midden Java, De Express,
Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Lewat
tulisan-tulisanya beliau

memperjuangkan kaum

yang

lemah dan

mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya. Beliau adalah orang


yang sangat gigih berjuang terbukti dengan diikutinya secara aktif
organisasi-organisasi nasional pada masa itu seperti Boedi Oetomo,
Syarekat Islam Cabang Bandung, Pendiri Indische Partij. Selain menjadi
menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan untuk pertama kalinya
beliau juga mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas
Gajah Mada pada tahun 1957. Sebagai penghormatan bangsa Indonesia
atas perjuangan beliau selama ini maka tanggal lahir beliau 2 mei
dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional dan hingga saat ini beliau
tetap abadi dikenang sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.
3. Sebagai seorang bangsawan beliau memiliki wawasan yang luas dan
cerdas. Karena beberapa permasalahan di kerajaan membuat beliau hidup
di luar istana sehingga dapat memiliki rasa kepedulian yang tinggi
terhadap rakyatnya yang jelata.
4. Pokok-pokok pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagaiman tertuang dalam
karya-karyanya

meliputi

pendidikan,

kebudayaan

politik

dan

kemasyarakatan.
5. Karakteristik pemikiran beliau cenderung kalem namun gigih dan tegas.
Sehinggan banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang lugas dan tepat
sasaran. Arah pendidikan yang beliau ajarkan bernafaskan kebangsaan dan

110

berlanggam jawa. Tetap berpegang teguh pada tujuan pendidikan secara


nasional dengan mengiramakan pendidikanya dengan kebudayaan sesuai
dengan latar belakang budaya yang dimiliki.
6. Konsep Pendidikan Budi Pekerti menurut Ki Hajar Dewantara dalam
menanamkan moral ada beberapa komponen yaitu:
Pertama,

maksud dan tujuan pendidikan budi pekerti adalah

berusaha memberikan nasehat-nasehat, materi-materi, anjuran-anjuran


yang dapat mengarahkan anak pada keinsyafan dan kesadaran akan
perbuatan baik yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, mulai dari
masa kecilnya sampai pada masa dewasanya agar terbentuk watak dan
kepribadian yang baik untuk mencapaikebahagiaan lahir dan batin.Dalam
proses pendidikan tersebut harus ada pendidik dan anak didik.
Kedua, Pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki
Hadjar Dewantara berdasarkan pada asas pancadharma, yang terdiri dari
kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan dan kemanusiaan.
Ketiga, Dalam penyampaian pendidikan budi pekerti, Ki Hadjar
Dewantara

menggunakan

metode

yang

disesuaikan

urutan-urutan

pengambilan keputusan berbuat, yaitu metode ngerti, ngrasa dan nglakoni.


Keempat, materi pendidikan budi pekerti dapat diambil dari cerita
rakyat, lakon, babad dan sejarah, buku karangan pada pujangga, kitab suci
agama dan adat istiadat.
Kelima, Lingkungan pendidikan budi pekerti yaitu: keluarga,
sekolah dan masyarakat.

111

7. Pemikiran Ki Hajar Dewantara sampai saat ini tetap relevan terbukti


dengan adanya beberapa tokoh pendidikan yang masih menggunakan
konsep beliau. Hanya saja berbeda dalam penyajian pemikiran dan kasus
yang dihadapi. Seperti Halnya Ki Hajar dewantara yang membagi sistem
pendidikan budi pekerti sesuai jenjang usia anak didik Nurul Zuhriah juga
menyajikan pendidikan budi pekerti dalam pendidikan formal sesuai
dengan jenjang pendidikan nasional.

B. Saran-saran
Dari hasil kesimpulan di atas, perlu kiranya penulis memberikan
saran konstruktif bagi dunia pendidikan, baik bagi pendidik maupun
instansi yang menangani pendidikan.
Petama, Pendidikan budi pekerti menurut Ki Hadjar Dewantara
memiliki maksud dan tujuan yang bagus, serta tetap relevan hingga saat
ini, di tengah degradasi moral yang melanda bangsa ini. Di tengah orangorang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk kepentingan pribadi
dan kelompok, di tengah orang-orang yang mementingkan material dari
pada moral, konsep pendidikan budi pekerti yang dikembangkan oleh Ki
Hadjar Dewantara perlu diterapkan dalam usaha penanaman moral
negerasi muda saat ini.
Kedua, Sebagai seorang guru hendaknya dapat menjadi teladan
yang baik bagi anak didiknya, sehingga seorang guru harus dapat digugu
dan ditiru oleh anak didiknya.

112

Ketiga, perlunya sosialisasi terhadap para pendidik ataupun


masyarakat luas bahwa kekerasan, penindasan, serta penekanan-penekanan
terhadap peserta didik dalam proses belajar akan berimplikasi terhadap
kondisi perkembangan psikisnya dan hanya akan melahirkan pribadipribadi yang tidak percaya diri, keras dan kasar, yang menyebabkan
semakin jauh dari nilai-nilai luhur agama (Islam) yang sangat
mengagungkan rasa cinta dan kasih sayang sebagai cerminan akhlak yang
mulia.

113

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Muzazzin, Prof. H., M.Ed. 2008. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bumi
Aksara : Jakarta.
Arikunto, Suharsimi, Prof. Dr. 2010. Prosedur penelitian suatu pendekatan
praktik. Rineka Cipta : Jakarta.
Budiningsih, C. Asri, Dr. 2008. Pembelajaran Moral Berpijak pada Karakteristik
Siswa dan Budayanya. Rineka Cipta : Jakarta.
Darajat, Zakiyah, Dr. 1977. Membina Nilai-Nilai Moral Indonesia. Bulan Bintang
: Jakarta.
Dewantara, Bambang S. 1989. 100 Tahun Ki Hajar Dewantara. Garuda
Metropolitan pers : Jakarta.
_______. 1989. Ki Hajar Dewantara Ayahku. Pustaka Harapan : Jakarta.
Dewantara, Ki Hajar. 1977. Bagian Pertama Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan
Taman Siswa : Yogyakarta.
Djumhur dan Drs. Danu Saputra. 1976. Sejarah Pendidikan. CV. ILMU :
Bandung.
Gunawan. 1992. Berjuang Tanpa Henti Dan Tak Kenal Lelah Dalam Buku
Peringatan 70 Tahun Taman Siswa. MLPTS : Yogyakarta.
H. A. R. Tilaar. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional. Rineka Cipta : Jakarta.
_______. 2007. Mengindonesia Etnitas dan Identitas Bangsa. Rineka Cipta :
Jakarta.
H.A.H. Harahap dan B.S. Dewantara. 1898. Ki Hajar Dewantara dkk. Gunung
Agung : Jakarta.
Hadi, Sutrisno, Prof. Drs., M.A.1987. Metodologi Research. Yayasan Penerbitan
Fakultas Psikologi UGM Jogjakarta : Yogyakarta.
Idris, Zahra dan Lisma. 1992. Pengantar Pendidikan 1. PT. Gasindo : Jakarta.
Irna NH dan Hadi Suwito. 1985. Soewardi Soeryaningrat Dalam Pengasingan.
Balai Pustaka : Jakarta.
Ki Hariadi dan Sugiono 1989. Ki Hajar Dewantara Dalam Pandangan Cantrik
dan Mancantriknya. MLTS : Yogyakarta.
M. Ahmad dkk. 1998. Pengembangan Kurikulum. Pustaka Setia : Bandung.
M.Amirin, Tatang, Drs. 1995. Menyusun Rencana Penelitian. Raja Grafindo
Persada : Jakarta.
M.Arifin, Prof. H., M.Ed. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara : Jakarta.
Nata, Abudin, Dr. H., MA. 2003. Pemikiran Para Tokog Pendidikan Islam.
Rajawali press : Jakarta.
Sagimun MD. 1983. Mengenal Pahlawan-Pahlawan Kita. Brathara Karya Aksara
: Jakarta.
Soeratman, Darsiti. 1984. Ki Hajar Dewantara. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan : Jakarta.
Sokawati Dewantara, Bambang. 1981. Mereka Yang Selalu Hidup Ki Hajar
Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara. Roda Pengetahuan : Jakarta.
Surjo Miharjo, Abdurrachman. 1986. Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa
dalam Sejarah Indonesia Modern. Sinar Harapan : Jakarta.

114

Tauhid, Moch. 1963. Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hajar Dewantara.


MLPTS : Yogyakarta.
Yamin, Moh. 2009. Menggugat Pendidikan Indonesia. Ar Ruzz Media :
Yogyakarta.
Zuriah, Nurul, Drs., M.Si. 2011. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam
Perspektif Perubahan. Bumi Aksara : Jakarta.

115