Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KASUS

TB PARU DAN TB EKSTRAPARU

Oleh
Okta Rosaria Dolu
1008012043

Pembimbing : dr. Kamilus Karangora, Sp.PD

SMF ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis, yang sebagian besar (80%) menyerang paru-paru. Umumnya Mycobacterium
tuberculosis menyerang paru dan sebagian kecil organ tubuh lain. Kuman ini mempunyai sifat
khusus, yakni tahan terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak
secara mikroskopis. Sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Sumber penularan
adalah penderita TB BTA positif pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke
udara dalam bentuk droplet (percikan dahak).1
Pada tahun 2005, World Health Organizatio (WHO) memperkirakan bahwa jumlah kasus
TB baru terbesar terdapat di Asia Tenggara (34 persen insiden TB secara global) termasuk
Indonesia. Jumlah penderita diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya
jumlah penderita acquired immunodefi ciency syndrome (AIDS) oleh infeksi human immunodefi
ciency virus (HIV). Satu hingga lima persen penderita TB, mengalami TB osteoartikular.
Separuh dari TB osteoartikular adalah Spondilitis TB.2
Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan China sebagai negara dengan
populasi penderita TB terbanyak. Setidaknya hingga 20 persen penderita TB paru akan
mengalami penyebaran TB ekstraparu. TB ekstraparu dapat berupa TB otak, gastrointestinal,
ginjal, genital, kulit, getah bening, osteoartikular, dan endometrial. Sebelas persen dari TB
ekstraparu adalah TB osteoartikular, dan kurang lebih setengah penderita TB osteoartikular
mengalami infeksi TB tulang belakang.2 Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000
kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000
penduduk.3 Prevalensi nasional Tuberkulosis paru tahun 2007 adalah 0,99%. Sebanyak 17
provinsi mempunyai prevalensi Tuberkulosis paru di atas prevalensi nasional dan Provinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT) menduduki peringkat ke-2 dengan prevalensi 2,05% setelah papua barat
dengan prevalensi 2,55% sebagai propinsi dengan prevalensi TB tertinggi di Indonesia.
Prevalensi TB cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur, dan prevalensi tertinggi pada
usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan
perempuan, tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi
pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi.4 Di Provinsi NTT tahun 2007, TB
2

terdeteksi dengan prevalensi 18 per 1000 tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota. Prevalensi
kasus TB di kota kupang tahun 2007 adalah 0,2%.5
Pada kasus-kasus pasien dengan tuberkulosa, keterlibatan tulang dan sendi terjadi pada
kurang lebih 10% kasus. Walaupun setiap tulang atau sendi dapat terkena, akan tetapi tulang
yang mempunyai fungsi untuk menahan beban (weight bearing) dan mempunyai pergerakan
yang cukup besar (mobile) lebih sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain. Dari
seluruh kasus tersebut, tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena
tuberkulosa tulang (kurang lebih 50% kasus)(Gorse et al. 1983), diikuti kemudian oleh tulang
panggul, lutut dan tulang-tulang lain di kaki, sedangkan tulang di lengan dan tangan jarang
terkena. Area torako-lumbal terutama torakal bagian bawah (umumnya T 10) dan lumbal bagian
atas merupakan tempat yang paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan
dari weight bearing mencapai maksimum, lalu dikuti dengan area servikal dan sakral. Defisit
neurologis muncul pada 10-47% kasus pasien dengan spondilitis tuberkulosa. Di negara yang
sedang berkembang penyakit ini merupakan penyebab paling sering untuk kondisi paraplegia
non traumatik. Insidensi paraplegia, terjadi lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan dengan
anak-anak. Hal ini berhubungan dengan insidensi usia terjadinya infeksi tuberkulosa pada tulang
belakang, kecuali pada dekade pertama dimana sangat jarang ditemukan keadaan ini. 6 Oleh
karena itu laporan ini, membahas tentang TB paru dan TB ekstraparu.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. JN

Jenis Kelamin

: Laki - Laki

Umur

: 34 Tahun

Alamat

: Sikumana, Maulafa-Kupang Kodya

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: Sekolah Dasar

Pekerjaan

: Swasta

Status

: Belum Menikah

MRS

: 07 Mei 2013

Dikasuskan

: 09 Mei 2013

Dirawat Menggunakan: JAMKESMAS


2.2

ANAMNESIS (Autoanamnesis dan Alloanamnesis : Pasien dan Ibu pasien )

KELUHAN UTAMA: kelemahan pada kaki kiri 1 bulan SMRS


RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien mengeluh kelemahan pada kaki kiri 1 bulan SMRS, yang kejadiannya mendadak
pada saat berbaring. sebelumnya pasien merasakan ada benjolan pada tulang belakang yang
dialaminya pada bulan Maret 2013, benjolan tersebut menetap dan tidak berubah pada posisi
tidur maupun beraktivitas, benjolan yang dirasakan pasien keras dan nyeri , namun nyeri tersebut
lama-kelamaan mulai menghilang pada bulan desember 2013. Pada bulan Januari 2014 pasien
mulai merasakan nyeri didaerah perut kiri, dan pada bulan April 2014 nyeri yang dirasakan
menjalar dari perut kiri sampai pada paha kiri. Nyeri yang dirasakan seperti tertusuk, nyeri lebih
berat dengan aktivitas dan lebih ringan pada saat istirahat.
Berat badan dirasakan mulai menurun perlahan-lahan sejak bulan Maret 2013. 2 minggu
SMRS, pasien merasakan perubahan warna kulit yang ditandai dengan timbulnya bercak-bercak
warna putih pada kedua tangan dan dada. Demam hilang timbul 1 bulan SMRS, disertai
4

keringat banyak pada malam harinya. Mual (-), muntah (-), makan dan minum baik, BAK dan
BAB lancar.
Status present : MRS dengan Kelemahan kaki kiri disertai nyeri
Demam yang hilang
timbul 1 bulan
SMRS disertai
keringat banyak pada
malam hari. 2 minggu
SMRS tampak bercak
putih pada kulit

Tabel 2.1 Kronologis Perjalanan Penyakit


Bulan Maret
2013 : benjolan
pada tulang
belakang disertai
nyeri dan
penurunan BB

Bulan Desember
2013 : nyeri pada
tulang belakang
mulai menhilang

Bulan Juni 2013 :


penurunan BB
yang nyata

Bulan Januari 2014 :


nyeri pada perut kiri
dan pada bulan April
2014 : nyeri menjalar
sampai paha kiri

Status present
tanggal 09 Mei
2014 :
kelemahan
kaki kiri
disertai nyeri

MRS tanggal 07
Mei 2014
dengan
kelemahan pada
kaki kiri

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :


Riwayat darah tinggi (-), riwayat Gula (Diabetes) (-), maag (-), TBC (-).
RIWAYAT KEBIASAAN :
Merokok (-), Alkoholik (-).
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA : tidak ada anggota keluarga yang menderita TBC
RIWAYAT SOSIAL EKONOMI : Pekerjaan pasien adalah sopir truck, perawatan dengan
JAMKESMAS/BPJS : lunas.

RIWAYAT PENGOBATAN SEBELUM DIKASUSKAN :


IVFD RL 20 tpm
Paracetamol 3x500 mg
KTC 3% 1 ampIV
2.3

PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal : 09 Mei 2013)

Keadaan Umum

: Pasien tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis (E4V5M6)

Tanda Vital

TD
N
RR
S

: 120/80 mmHg
: 100x/menit, reguler.
: 20x/menit.
: 36,6oC (aksiller)

Habitus

: Astenikus

Kulit

: tampak hipopigmentesi pada daerah ekstremitas atas dan thoraks,rasa

normal, hipestesi (-), anestesi (-)


Kepala

: Bentuk normal, rambut tidak mudah dicabut, warna : hitam

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor 3mm/3mm,


refleks cahaya langsung dan tidak langsung (+/+)

Telinga

: Deformitas daun telinga (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-)

Hidung

: Deviasi septum (-), sekret (-/-), epistaksis (-/-)

Mulut

: Sianosis (-), bibir kering (-), perdarahan gusi (-), plak putih (-),trismus (-)

Leher

: tidak ada pembesaran KGB (-), struma (-), JVP R-2 cm H2O

Thoraks
Bentuk

: Nomal, pelebaran vena (-), luka ataupun scar (-).

Pulmo Anterior

Inspeksi

: Simetris saat statis dan dinamis, otot bantu pernapasan (-), pelebaran sela

iga (-)

Palpasi

: Vocal Fremitus D=S normal, Nyeri tekan (-)

Perkusi

: Sonor (+/+)

Auskultasi

: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)

Pulmo Posterior

Inspeksi

: Simetris saat statis dan dinamis, pelebaran sela iga (-)

Palpasi

: Vocal Fremitus D=S normal, nyeri tekan (-)

Perkusi

: Sonor +/+

Auskultasi

: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)

Inspeksi

: Iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus cordis tidak teraba pada ICS 5 midklavikula sinistra

Perkusi

: Batas atas : ICS 2 linea Parasternal sinistra

Cor

Batas bawah: ICS 5 linea midklavikula sinistra


Batas kanan : ICS 2-4 linea Parasternal dextra
Batas kiri : ICS 3-ICS 5 linea midklavikula sinistra

Auskultasi

: S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: Perut datar, pelebaran vena (-)

Auskultasi

: Bising Usus (+) (8x/ menit)

Palpasi

: kesan datar, NT (-)


Liver span : 10 cm, Hepar: tidak ada pembesaran
lien: tidak ada pembesaran
Ballotement: (-/-)

Perkusi

: Timpani pada seluruh lapangan abdomen

Punggung

Inspeksi

Vertebra

Thorakal

10-Vertebra

Lumbalis

terdapat

penonjolan

(gibbus)kifosis, tepi tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang 7 cm dan lebar 2 cm.

Palpasi

: Nyeri tekan (-)

Ekstremitas
Edema
Sianosis
Akral

Superior
-/-/Hangat

Inferior
-/-/Hangat

Motorik

5/5

4/1nyeri S

Tonus
Refleks fisiologis

BPR

+2/+2

TPR

+2/+2

KPR

+2/+1

APR
Refleks patologis

+2/+2

Hoffman tromner

(-/-)

Babinski

(-/-)

Chaddock

(-/-)

Oppenheim

(-/-)

Gordon

(-/-)

Schaefer

(-/-)

Stransky

(-/-)

Gonda

(-/-)

Bing

(-/-)

Rossolimo

(-/-)

Mendel bechterew

(-/-)

Sistem Autonom : Normal


Sistem sensorik : Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah

2.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium Tanggal : 07 Mei 2014


Laboratorium
Darah Lengkap :

Hasil Pemeriksaan

Interpretasi

WBC (103/ul)

6,67

Dalam batas normal

LYMPH# (103/ul)

0,56

Menurun sedikit

MONO# (103/ul)

0,62

Dalam batas normal

EO# (103/ul)

0,10

Dalam batas normal

BASO# (103/ul)

0,01

Dalam batas normal

NEUT# (103/ul)

5,38

Dalam batas normal

LYMPH(%)

8,4

Menurun

MONO(%)

9,3

Meningkat

EO(%)

1,5

Dalam batas normal

BASO(%)

0,1

Dalam batas normal

NEUT(%)

80,7

Meningkat

RBC

5,03

Dalam batas normal

HGB (gr/dl)

11,3

Menurun sedikit

HCT (%)

35,3

Menurun sedikit

MCV (fl)

70,2

Menurun

MCH (pg)

22,5

Dalam batas normal

MCHC (gr/dl)

32,0

Dalam batas normal

PLT (103/ul)
Glukosa (GDS) (mg/dl)

350
148

Dalam batas normal


Meningkat sedikit

Ureum (mg/dl)

17,6

Normal

Creatinin (mg/dl)
Elektrolit :

0,7

Normal

Na (mmol/L)

138

Normal

K (mmol/L)

3-4

Normal

Cl (mmol/L)

100

Normal

Laboratorium tanggal 10 Mei 2014


9

Laboratorium
SGOT (U/l)

Hasil Pemeriksaan
14

Interpretasi
Normal

SGPT (U/l)

Normal

Asam Urat

5,2

Normal

Foto Thoraks
Gambar 2.1 Tanggal 09-05-2014

Keterangan Gambar A : kesan KP aktif.


2.5

DAFTAR MASALAH DAN RENCANA PEMECAHAN MASALAH

Clue dan Cue (1)


Laki-laki, 34 tahun
Berat badan menurun
Demam hilang timbul 1 bulan SMRS
Pembesaran KGB pada submandibula sinistra
Keringat banyak terutama pada malam
Problem List

: TB paru Rontgen (+)

Differensial Diagnosa

: Pneumonia, Bronchiektasis, PPOK

Planning Diagnosa

: Tes spirometri
10

BTA 3x
Konsul VCT
Planning Terapi

:
-

IVFD RL 20 tpm
PCT 3x500 mg (k/p)

Planning Monitoring

: Keluhan pasien

Planning Edukasi

: Apabila batuk pasien harus menggunakan masker

Clue dan Cue (2)


Laki-laki, 34 tahun
kelemahan pada kaki kiri 1 bulan SMRS disertai nyeri
Berat badan menurun
Demam hilang timbul 1 bulan SMRS
Keringat banyak terutama pada malam
Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan (gibbus)kifosis, tepi tumpul,
konsistensi keras, ukuran panjang 7 cm dan lebar 2 cm, nyeri tekan (-)
Kekuatan otot
5
4

5
1

Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah


Problem List

: Paraparese e.c suspek Spondilitis TB

Differensial Diagnosa

: Spondilitis Piogenik dan Tumor metastatik spinal

Planning Diagnosa

: Foto Thoraks V. thoracolumbalis

Planning Terapi

:
-

IVFD RL 20 tpm
PCT 3x500 mg (k/p)
B complex 3x1 tab
KTC 3% 1 ampIV

Planning Monitoring

: Keluhan pasien (kelemahan pada kaki kiri) dan defisit neurologis

Planning Edukasi

: Tirah baring dan pemakaian korset/bidai untuk imobilisasi

11

Clue dan Cue (3)


Laki-laki, 34 tahun
Hipopigmentasi pada kulit 2 minggu SMRS
Problem List

: Pityriasis vesicolor

Differensial Diagnosa

:-

Planning Diagnosa

:
-

Fluoresensi
Lampu wood
Pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH

Planning Terapi

: Co/ Sp.KK

Planning Monitoring

: Keluhan pasien (bercak-bercak putih pada kulit)

Planning Edukasi

: kebersihan diri, mandi 3x sehari.

2.6 FOLLOW UP
Tanggal 10 Mei 2014
S

: Kelemahan pada kaki kiri disertai nyeri, keringat banyak pada malam hari (+)

: KU : pasien tampak sakit sedang


TD :120/70; N:88x/mnt; S:36,7oC; RR:20x/mnt;
Mata: anemis -/-, Ikterik -/Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Pulmo: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)
Cor : S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : kesan datar, bising usus (+) (8x/ menit), NT (-), liver span : 10 cm,
Hepar: tidak ada pembesaran,

lien:

tidak ada pembesaran,

ballotement: (-/-), timpani pada seluruh lapangan abdomen.


Punggung : Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan
(gibbus)kifosis, tepi tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang 7
cm dan lebar 2 cm nyeri tekan (-).
Ekstremitas :
5
4

5
1

Sistem sensorik : Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah


12

Sistem Autonom : Normal


A

: TB Paru Rontgen (+)


Suspec Spondilitis TB

RDx : Sputum BTA 3x


Konsul VCT
P

:
-

IVFD RL 20 tpm
PCT 3x500 mg (k/p)
B complex 3x1 tab
KTC 3% 1 ampIV (k/p)

Tanggal 13 Mei 2014


S

: Kelemahan pada kaki kiri disertai nyeri, keringat banyak pada malam hari (+),
batuk berdahak hilang timbul.

: KU : pasien tampak sakit sedang


TD :110/70; N:82x/mnt; S:36,0oC; RR:16x/mnt;
Mata: anemis -/-, Ikterik -/Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Pulmo: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)
Cor : S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : kesan datar, bising usus (+) (8x/ menit), NT (-), liver span : 10 cm,
Hepar: tidak ada pembesaran, lien : tidak ada pembesaran,
ballotement: (-/-), timpani pada seluruh lapangan abdomen.
Punggung : Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan
(gibbus)kifosis, tepi tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang 7
cm dan lebar 2 cm nyeri tekan (-).
Ekstremitas :
5
4

5
1

Sistem sensorik : Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah


Sistem Autonom : Normal
Gambar 2.2 Foto Rontgen Lumbosacral 13 Mei 2014
13

Keterangan : kesan destruksi pada V.Th 10, diskus intervetebralis tidak nampak.
A

: TB Paru Rontgen (+)


Suspec Spondilitis TB

RDx : Sputum BTA 3x, Co/SP.S


P

:
-

IVFD RL 20 tpm
PCT 3x500 mg (k/p)
B complex 3x1 tab
KTC 3% 1 ampIV (k/p)

Hasil konsul VCT : HIV non reaktif


Tanggal 16 Mei 2014
S

: Kelemahan pada kaki kiri disertai nyeri, keringat banyak pada malam hari(+),
batuk berdahak hilang timbul

: KU : pasien tampak sakit sedang


TD :130/80; N:80x/mnt; S:36,3oC; RR:24x/mnt;
Mata: anemis -/-, Ikterik -/Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Pulmo: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)
Cor : S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)

14

Abdomen : kesan datar, bising usus (+) (8x/ menit), NT (-), liver span : 10 cm,
Hepar: tidak ada pembesaran,

lien:

tidak ada pembesaran,

ballotement: (-/-), timpani pada seluruh lapangan abdomen.


Punggung : Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan
(gibbus)kifosis, tepi tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang 7
cm dan lebar 2 cm, nyeri tekan (-).
Ekstremitas :
5
4

5
2

Sistem sensorik : Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah


Sistem Autonom : Normal
Lab:
Hasil pemeriksaan sputum BTA (S-P-S) tanggal 16 Mei 2014 :
BTA I : Negatif
BTA II : positif
BTA III : Positif

Gambar 2.3 Foto Rontgen Pelvis tanggal 16 Mei 2014

15

Keterangan : kesan Caput femoris sinistra : osteoblastic & destruksi


A

: TB Paru Rontgen (+), BTA (+)


Suspec Spondilitis TB

Co/ Sp.S

: Suspec Spondilitis TB

RDx : Foto Rontgen Pelvis


P

:
-

IVFD RL 20 tpm
PCT 3x500 mg (k/p)
B complex 3x1 tab
KTC 3% 1 ampIV (k/p)
OAT kat. 1
Inj. Methylprednisolon 4x62,5 mg/IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp/IV

Tanggal 19 Mei 2014


S

: Kelemahan pada kaki kiri disertai nyeri, keringat banyak pada malam hari(+),
batuk (-)

: KU : pasien tampak sakit sedang


TD : 120/70; N : 80x/mnt; S : 36,5oC; RR : 22x/mnt;
16

Mata: anemis -/-, Ikterik -/Leher : Tidak ada pembesaran KGB


Pulmo: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)
Cor : S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : kesan datar, bising usus (+) (8x/ menit), NT (-), liver span : 10 cm,
Hepar: tidak ada pembesaran,

lien :

tidak ada pembesaran,

ballotement: (-/-), timpani pada seluruh lapangan abdomen.


Punggung : Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan
(gibbus)kifosis, tepi tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang 7
cm dan lebar 2 cm, nyeri tekan (-).
Ekstremitas :
5
5

5
3

Sistem sensorik : Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah


Sistem Autonom : Normal

Gambar 2.4 Foto Rontgen Thoraks ulang tanggal 19 Mei 2014

17

Keterangan : kesan Kp Aktif


Kesimpulan: Suspec Spondilitis TB pada foto vertebra
A

: TB Paru Rontgen (+), BTA (+)


Spondilitis TB oleh Sp.S

RDx : Foto Rontgen Thoraks ulang


P

:
-

IVFD RL 500 cc/24 jam 20 tpm


PCT 3x500 mg (k/p)
B complex 3x1 tab
KTC 3% 1 amp (k/p)
OAT kat. 1
Inj. Methylprednisolon 4x62,5 mg/IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp/IV

Tanggal 21 Mei 2014


S

: Kelemahan pada kaki kiri disertai nyeri, keringat banyak pada malam hari(+),
batuk (-)

: KU : pasien tampak sakit sedang


TD :140/70; N:88x/mnt; S:36,5oC; RR:26x/mnt;
Mata: anemis -/-, Ikterik -/Leher : Tidak ada pembesaran KGB
18

Pulmo: Vesikular (+/+), Ronkhi (-/-)


Cor : S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : kesan datar, bising usus (+) (8x/ menit), NT (-), liver span : 10 cm,
Hepar: tidak ada pembesaran,

lien:

tidak ada pembesaran,

ballotement: (-/-), timpani pada seluruh lapangan abdomen.


Punggung : Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan
(gibbus)kifosis, tepi tumpul, konsistensi keras, ukuran panjang 7
cm dan lebar 2 cm, nyeri tekan (-).
Ekstremitas :
5
5

5
4

Sistem sensorik : Hipestesi Sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah


Sistem Autonom : Normal
A

: TB Paru Rontgen (+), BTA (+)


Spondilitis TB

:
-

IVFD RL 500 cc/24 jam 20 tpm


PCT 3x500 mg (k/p)
B complex 3x1 tab
KTC 3% 1 amp (k/p)
OAT kat. 1
Inj. Methylprednisolon 4x62,5 mg/IV
Inj. Ranitidine 2x1 amp/IV
Diet tinggi protein dan karbohidrat

Tanggal 22 Mei 2014 : Pasien pulang paksa.


BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Gejala Klinis

3.1.1 Gejala klinis pasien TB

19

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk
dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas,
badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari
tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. 7 pada pasien ini terdapat gejala klinis
berupa penurunan berat badan, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam yang hilang
timbul 1 bulan.
3.1.2 Gejala klinis pasien TB ekstra paru dengan spondilitis TB
Manifestasi klinis spondilitis TB relatif indolen (tanpa nyeri). Pasien biasanya
mengeluhkan nyeri lokal tidak spesifik pada daerah vertebra yang terinfeksi. Demam subfebril,
menggigil, malaise, berkurangnya berat badan merupakan gejala klasik TB paru juga terjadi pada
pasien dengan spondilitis TB. Apabila sudah ditemukan deformitas berupa lordosis, maka
patogenesis TB umumnya spinal sudah berjalan selama kurang lebih tiga sampai empat bulan.8,9
Defisit neurologis terjadi pada 12 50 persen penderita. Defisit yang mungkin antara lain:
paraplegia, paresis, hipestesia, nyeri radikular dan/ atau sindrom kauda equina. Nyeri radikuler
menandakan adanya gangguan pada radiks (radikulopati). Nyeri lokal dan nyeri radikular disertai
gangguan motorik, sensorik dan sfi ngter distal dari lesi vertebra akan memburuk jika penyakit
tidak segera ditangani. Insiden paraplegia pada spondilitis TB (Potts paraplegia), sebagai
komplikasi yang paling berbahaya, hanya terjadi pada 4 38 persen penderita. Potts paraplegia
dibagi menjadi dua jenis: paraplegia onset cepat (early-onset) dan paraplegia onset lambat (lateonset). Paraplegia onset cepat terjadi saat akut, biasanya dalam dua tahun pertama. Paraplegia
onset cepat disebabkan oleh kompresi medula spinalis oleh abses atau proses infeksi. Sedangkan
paraplegia onset lambat terjadi saat penyakit sedang tenang, tanpa adanya tanda-tanda reaktifasi
spondilitis, umumnya disebabkan oleh tekanan jaringan fibrosa/parut atau tonjolan-tonjolan
tulang akibat destruksi tulang sebelumnya. Gejala motorik biasanya yang lebih dahulu muncul
karena patologi terjadi dari anterior, sesuai dengan posisi motoneuron di kornu anterior medula
spinalis, kecuali jika ada keterlibatan bagian posterior medula spinalis, keluhan sensorik bisa
lebih dahulu muncul.2
Pada vertebra servikal bawah dan torakal atas, ditemukan gejala lokal, misalnya kekakuan
kifosis angular sampai gibbus, nyeri sepanjang pleksus brakialis. Abses retrofaringeal,
supraklavikular dan mediastinal jarang menyebabkan gangguan saraf spinal. Bila terjadi
penekanan saraf simpatis, akan timbul sindrom Horner dan kaku leher. Pada daerah torakal dan
20

lumbal dapat ditemukan kifosis angular sampai gibbus, nyeri pada daerah tersebut dapat
menyebar ke ekstrimitas bawah, khususnya daerah lateral paha. Juga dapat ditemukan abses
iliaka atau abses psoas. Pada daerah lumbosakral dapat dijumpai gejala lokal misalnya
deformitas, nyeri yang menyebar ke ekstrimitas bawah, abses psoas, dan gangguan gerak pada
sendi panggul.8
Tabel 3.1 Klasifi kasi Potts paraplegia10
Stadium Gambaran Klinis

Stadium

I. Tidak terdeteksi/
terabaikan
(negligible)

II.

Ringan

III. Moderat

IV.

Berat

Gambaran Klinis

Pasien tidak sadar akan gangguan neurologis, klinisi


menemukan adanya klonus pada ekstensor plantaris
dan pergelangan kaki.

Pasien menyadari adanya gangguan neurologis, tetapi


masih mampu berjalan dengan bantuan.
Tidak dapat berpindah tempat (non-ambulatorik)
karena kelumpuhan (dalam posisi ekstensi) dan defisit
sensorik di bawah 50%
Stadium III + kelumpuhan dalam posisi fleksi, defisit
sensorik di atas 50% dan gangguan sfingter.

Pasien ini terdapat gambaran klinis yang sesuai pada pasien dengan spondilitis TB yaitu terjadi
penurunan BB, keringat malam, demam, defisit neurologis berupa paraplegia, hipestesi dan nyeri
radikular. Dilihat dari klafikasi potts paraplegia yang disesuaikan dengan gambaran klinis,
pasien tersebut berada pada stadium moderat.
3.2 Patogenesis
Patogenesis tuberculosis pada imunokompeten yang belum pernah terpajan berpusat pada
pembentukan imunitas seluler yang menimbulkan resistensi terhadap organisme dan
menyebabkan terjadinya hipersensitivitas jaringan terhadap antigen tubercular. Pasien ini
mengaku belum pernah menderita batuk lama sebelum tahun 2014, sehingga riwayat pernah
terpajan dengan kuman TB tidak dapat dipastikan. M. tuberculosis masuk bersama udara
pernapasan yang mengandung kuman M. tuberculosis melalui saluran pernapasan ke dalam paru.
21

Setelah strain virulen mikobacteri masuk ke dalam endosom makrofag (suatu proses yang
diperantarai oleh reseptor manosa makrofag yang mengenali glikolipid berselubung manosa di
dinding sel tubercular), kuman ini mampu menghambat respons mikrobisida normal dengan
memanipulasi pH endosom dan menghentikan pematangan endosom. Hasil akhir dari
pematangan endosom adalah gangguan pembentukan fagolisosom efektif sehingga mikobakteri
berproliferasi tanpa terhambat. Suatu gen yang disebut NRAMP1 (Natural resistance-associated
macrophage protein 1) diperkirakan berperan dalam aktivitas mikrobisida awal dan gen ini
mungkin berperan dalam perkembangan tuberculosis manusia. Polimorfisme tertentu pada alel
NRAMP1 telah dibuktikan berkaitan dengan peningkatan insiden tuberculosis dan dipostulasikan
bahwa variasi genotype NRAMP1 ini yang mungkin menyebabkan penurunan fungsi
mikrobisida.11
Fase terdini pada tuberculosis primer (3 minggu) pada orang yang belum tersensititasi
ditandai dengan proliferasi basil tanpa hambatan di dalam makrofag alveolus dan rongga udara,
sehingga terjadi bakterimia dan penyemaian di banyak tempat. Meskipun terjadi bakterimia,
sebagian besar pasien pada tahap ini asimptomatik atau mengalami gejala yang mirip flu.
Timbulnya imunitas seluler dalam 3 minggu setelah pajanan. Antigen mikobakterium yang telah
diproses mencapai kelenjar getah bening regional dan disajikan oleh histokompatibilitas mayor
kelas II (MHC kelas II) oleh makrofag ke sel TH0 CD4+ uncommitted yang memiliki reseptor sel
T . Di bawah pengaruh IL-12 yang dikeluarkan oleh makrofag, sel T 0 ini mengalami
H
pematangan menjadi sel T CD4+ subtype TH1 yang mampu mengeluarkan IFN- .IFN-
yang dikeluarkan oleh sel T CD4+ sangat penting untuk mengaktifkan makrofag. Makrofag yang
telah aktif mengeluarkan berbagai mediator :
- TNF berperan merekrut monosit yang pada gilirannya mengalami pengaktifan dan difererensiasi
menjadi histiosit epiteloid yang menandai respons granulomatosa.
- IFN- bersama TNF mengaktifkan gen inducible nitric oxide synthase (iNOS), yang
menyebabkan meningkatnya kadar nitrat oksida di tempat infeksi. Nitrat oksida adalah
oksidator yang kuat dan menyebabkan terbentuknya zat antara nitrogen reaktif dan radikal
bebas lain yang mampu menimbulkan kerusakan oksidatif pada beberapa konstituen
mikobakteri dari dinding sel hingga DNA.

22

Selain mengaktifkan makrofag, sel T CD 4+ juga mempermudah terbentuknya sel T sitotoksik


CD8+, yang dapat mematikan makrofag yang terinfeksi oleh tuberculosis. Pada akhirnya
perekrutan monosit bergabung dengan sel T yang telah tersensititasi membentuk nekrosis
perkejuan dan granuloma epitheloid.12 Granuloma epitheloid ini merupakan sarang primer atau
focus Ghon.Sarang primer ini dapat terjadi di setiap bagian dari jaringan paru, jika menjalar
sampai ke pleura maka terjadilah efusi pleura. Dari sarang primer akan timbul peradangan
saluran getah bening menuju hilus (limfangitis local) dan juga diikuti oleh pembesaran kelenjar
getah bening hilus (limfadenitis regional). Sarang primer limfangitis local + limfangitis regional
membentuk kompleks primer (ranke). Semua proses ini membutuhkan waktu 3-8 minggu.
Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi :
-Sembuh sama sekali tanpa menimbulkan cacat. Ini yang banyak terjadi.
-Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik.
-Berkomplikasi dan menyebar secara : a) Perkontinuitatum yaitu menyebar ke sekitarnya, b)
Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru yang di sebelahnya. Kuman
juga dapat tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus, c) Secara limfogen
ke organ tubuh lain-lainnya, d) Secara hematogen ke organ tubuh lainnya.11
Sedangkan Infeksi Mycobacterium tuberculosis pada tulang selalu merupakan infeksi
sekunder. Berkembangnya kuman dalam tubuh tergantung pada keganasan kuman dan ketahanan
tubuh penderita. Reaksi tubuh setelah terserang kuman tuberkulosis dibagi menjadi lima stadium,
yaitu:13
1. Stadium I (Implantasi)
Stadium ini terjadi awal, bila keganasan kuman lebih kuat dari daya tahan tubuh. Pada
umumnya terjadi pada daerah torakal atau torakolumbal soliter atau beberapa level.
2. Stadium II (Destruksi awal)
Terjadi 3 6 minggu setelah implantasi. Mengenai diskus intervertebralis.
3. Stadium III (Destruksi lanjut dan Kolaps)
Terjadi setelah 8-12 minggu dari stadium II. Bila stadium ini tidak diterapi maka akan
terjadi destruksi yang hebat dan kolaps dengan pembentukan bahan-bahan pengejuan dan
pus (cold abscess).
4. Stadium IV (Gangguan Neurologis)
Terjadinya komplikasi neurologis, dapat berupa gangguan motoris, sensoris dan otonom.
5. Stadium V (Deformitas dan Akibat)
23

Biasanya terjadi 3-5 tahun setelah stadium I. Kiposis atau gibus tetap ada, bahkan setelah
terapi.
Gambar 3.1

Gambar 3.2

Gambar 3.1 Spondilitis tuberkulosis. A) Gibus thorakolumbar dengan hipertonus erektor trunkus. Penderita
menyandarkan diri pada ekstremitas atas; B) 1. rarefaksi bagian anterior vertebra mulai nampak penyempitan diskus
intervertebralis, 2. rarefaksi meluas, penyempitan jelas, 3. kompresi vertebra bagian ventral, terjadinya gibus,
kompresi medulla spinalis
Gambar 3.2 Pasien dengan gibus pada V.Th 10-V.Lumbalis.

Daerah yang biasanya terkena bagian anterior korpus vertebra. Destruksi tulang yang
progresif mengakibatkan kolaps vertebra dan kifosis. Kanal spinalis menyempit karena adanya
abses atau jaringan granulasi. Ini mengakibatkan kompresi spinal cord dan defisit neurologis.
Pasien ini sudah samapai pada stadium V, dan daerah yang terkena adalah vertebra thorakal 10vertebra lumbalis.

3.3 Diagnosis
3.3.1 Diagnosis TB Paru.7

Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu -pagi

-sewaktu (SPS).
Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB
(BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak
mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan
dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan
indikasinya.
24

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto
toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering

terjadi overdiagnosis.
Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.
Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.

Pada pasien ini didapatkan foto Rontgen (+) dan BTA (-++) didiagnosa TB paru Rontgen (+),
BTA (+).
3.3.2 Diagnosis TB Ekstra Paru.7

Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis
TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada
limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-

lainnya.
Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan
berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan
penyakit lain. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan
pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi
anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain.

Pada pasien ini sesuai dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
didiagnosa dengan Spondilitis TB.

3.1 Bagan Alur Diagnosa TB Paru7

25

Catatan :

Pada keadaan-keadaan tertentu dengan pertimbangan kegawatan dan medis spesialistik, alur
tersebut dapat digunakan secara lebih fleksibel.
3.3

Diagnosis Diferensial2
26

Pasien ini didiagnosa sebagai TB Paru Rontgen (+), BTA (+)


Tabel 3.2. Diferential diagnosis TB paru pada pasien ini adalah14 :
Hal
TB Paru
Pneumonia
Bronchiectasis
pembanding
Anamnesis

Pemeriksaan

fisik

Flulike illness
Batuk kering
Hemoptisis
Sesak
Demam samarsamar
malam
hari,
lamanya
bermingguminggu
Sakit dada
Malaise
Nafsu
makan
menurun
Anemia
Demam
subfebris
Ronki
basah
pada apeks paru
Berat
badan
kurang/kurus
Retraksi dada

Pemeriksaan Foto thorax PA


Sputum BTA
penunjang

PPOK

Demam,

menggigil
Batuk
dengan
sputum purulen
Sakit dada
Berat
badan
menurun

Batuk
produktif Batuk
kronis,
berupa
berdahak
nanah/darah
Sesak napas
terutama
pukul Perokok
2.00-3.00 dini hari
(Maulvolle
Expectoration)
Ada
panas,
anoreksia, malaise,
palpitasi, gelisah,
hemoptisis

Takikardi

Demam
Pernapasan cepat
Tanda
konsolidasi : suara
napas
bronchial,vocal
fremitus

meningkat,
perkusi
redup,
Ronki basah halus
di basal paru

Sputum & napas


berbau tidak enak
Ronki
basah
sedang
sampai
kasar di daerah
yang terkena
Ronki kering &
bunyi mengi
Jantung & trakea
tertarik ke tempat
yang terkena
Jari tabuh

Ronchi
kering/basah
Suara
napas
melemah
Ekspirasi
memanjang
Udara pernapasan
kurang

Leukositosis
Sputum ditampung Foto thorax PA
dalam gelas bila
Kultur sputum :
didiamkan akan
ditemukan kuman
membentuk
3
penyebabnya
lapisan
:
buih,
Foto dada tampak
jernih
(lendir),
infiltrat
keruh (nanah &
darah)
Foto
thoraks
Honeycomb
appearance
(gambaran
sarang tawon)

27

Pasien ini juga didiagnosa sebagai Spondilitis TB sehingga hal yang perlu digarisbawahi
pada spondilitis TB adalah nyeri punggung nonspesifik, deformitas lordosis, defisit
neurologis berupa kelemahan pada kaki kiri yang menjadi alasan penderita untuk datang
berobat. Karena itu, pemikirian kemungkinan diagnosis banding harus didasarkan pada hal
ini. Sangat penting untuk membedakan spondilitis TB dari penyakit lainnya, karena terapi
dini yang tepat dan akurat dapat mengurangi angka disabilitas dan morbiditas pasien.
1. Spondilitis piogenik
Spondilitis piogenik adalah salah satu penyakit dengan presentasi gejala yang serupa dengan
spondilitis TB dan tidak mudah untuk membedakan keduanya tanpa pemeriksaan penunjang
yang adekuat. Spondilitis piogenik umumnya disebabkan oleh Staphylococcus aureus,
Streptococcus, dan Pneumococcus. Secara epidemiologi, spondilitis piogenik lebih sering
menyerang usia produktif, sekitar usia 3050 tahun. Hingga saat ini, prevalensi spondilitis
piogenik dilaporkan meningkat diakibatkan banyaknya penyalahgunaan antibiotik, tindakan
invasif spinal, pembedahan spinal. Di lain pihak, jumlah kasus baru spondilitis TB semakin
berkurang dengan penggunaan OAT. Spondilitis piogenik memiliki perjalanan yang lebih
akut dengan gejala yang hampir sama dengan spondilitis TB. Vertebra servikal dan lumbal
lebih sering terlibat, dibandingkan dengan spondilitis TB yang lebih sering menyerang
vertebra torakolumbal lebih dari satu vertebra. Dari segi hematologis, CRP, laju endap darah
(LED), jumlah leukosit, dan hitung jenis dapat membantu diagnosis. Pada spondilitis
piogenik, peningkatan CRP lebih bermakna dibandingkan peningkatan LED, meskipun pada
beberapa kasus dapat normal. Telah dilakukan studi untuk membedakan kedua penyakit
melalui MRI. Jung dkk 2 menjabarkan beberapa perbedaan temuan MRI secara rinci yang
mengarahkan pada infeksi TB: 1) sinyal abnormal paraspinal berbatas tegas. 2) dinding
abses tipis dan halus. 3) adanya abses paraspinal dan intraoseus. 4) penyebaran subligamen
lebih dari 2 vertebra. 5) keterlibatan vertebra torakal. 6) lesi multipel. Bila ada temuan
radiologis selain yang disebutkan di atas, tampaknya diagnosis infeksi piogenik lebih
mungkin. Penelitian oleh Harada dkk2 menambahkan bahwa adanya sinyal abnormal pada

28

sendi faset merupakan karakteristik infeksi piogenik. Kultur dan pewarnaan Gram spesimen
tulang yang diambil melalui biopsi perkutan/terbuka dapat memastikan diagnosis, namun
tindakan ini termasuk tindakan invasif.
2. Tumor metastatik spinal
mencakup 85 persen bagian dari semua tumor tulang belakang yang mengakibatkan
kompresi medula spinalis. Insiden tertinggi kasus tumor metastasik spinal pada usia di atas
50 tahun. Urutan segmen yang sering terlibat yaitu torakal, lumbar dan servikal. Neoplasma
dengan kecenderungan bermetastasis ke medula spinalis meliputi tumor payudara, prostat,
paru, limfoma, sarkoma, dan mieloma multipel. Metastasis keganasan saluran cerna dan
rongga pelvis relatif melibatkan vertebra lumbosakral, sedangkan keganasan paru dan
mamae lebih sering melibatkan vertebra torakal.
3.5 Penatalaksanaan2
1.

Medikamentosa
Berdasarkan panduan pengobatan standar yang direkomendasikan WHO (Treatment of

Tuberculosis : Guideline for National Program WHO, 2003) yaitu :15


Tabel 3.3. Panduan Pengobatan Standar yang direkomendasikan WHO (Treatment Of
Tuberculosis : Guideline For National Program WHO, 2003)
Panduan OAT
Kategori
Pasien TB
Tahap Awal (harian
Tahap Lanjutan (harian
Diagnosis TB
atau 3x seminggu)
atau 3x seminggu)
I

II

TB paru kasus baru


TB paru BTA negative
kasus baru dengan lesi
luas
TB berat + HIV atau TB
ekstraparu berat
TB paru BTA positif
dengan pengobatan
terdahulu :
Kasus sembuh
Kasus putus berobat
Kasus gagal

III

2 HRZE

4H3R3 atau 4 HR

2 HRZES/1 HRZE

5 H3R3E3 atau 5 HRE

2 HRZE

4 H3R3 atau 4 HR atau

TB paru BTA negative


29

kasus baru (selain


kategori I)

6 H3E3 atau 6 HE

TB ekstraparu ringan
IV

Kasus kronik atau MDR


(BTA masih positif
setelah pengobatan ulang
yang diawasi)

pasien dalam kasus ini termasuk dalam kategori diagnosis TB kategori I yaitu : TB paru kasus
baru sehingga untuk pengobatannya mengikuti panduan OAT kategori I tahap awal 2 HRZE dan
tahap lanjutan 4 (HR)3. Tujuan pengobatan TB adalah untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan, mencegah terjadinya
kekebalan terhadap OAT dan mengurangi dampak sosial dan ekonomi. Pengobatan TB paru pada
pasien ini mengikuti prinsip Pengobatan TB yaitu :15

OAT diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup
dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Pengobatan menggunakan OAT-

Kombinasi Dosis Tetap (KDT).


Untuk menjamin kepatuhan pasien dalam menelan obat, pengobatan dilakukan dengan
pengawasan langsung (DOT=Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas

Menelan Obat (PMO) yaitu perawat di ruangan Tulip dan suami pasien.
Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap,yaitu tahap awal dan lanjutan.

Tahap Awal
-

Pada tahap awal pasien mendapat obat setiap hari dan diawasi secara langsung untuk
mencegah terjadinya kekebalan obat. Diharapkan bila pengobatan tahap awal tersebut
diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun

waktu 2 minggu.
Diharapkan dalam 2 bulan, pasien TB BTA positif menjadi BTA negative (konversi).

Tahap Lanjutan
-

Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu

yang lebih lama.


Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.

30

Tabel 3.4. OAT yang digunakan program penanggulangan TB adalah :15


Dosis yang
direkomendasikan
Dosis
(mg/kg)
Maksima
Jenis OAT
Sifat
l (mg per
3x
Haria
hari)
semingg
n
u

Efek samping

Isoniazid
(H)

Bakterisid

10

300

Hepatitis, neuritis perifer,


hipersensitivitas

Rifampisin
(R)

Bakterisid

10

10

600

Gastrointestinal, reaksi
kulit, hepatitis,
trombositopenia, enzim
hati, cairan tubuh berwarna
orange kemerahan

Pirazinamid
(Z)

Bakterisid

25

35

2000

Toksisitas hati,
athralgia,gastrointestinal

Etambutol
(E)

Bakteriostati
k

15

1250

Neuritis optik, ketajaman


mata berkurang, buta warna
merah hijau, penyempitan
lapang pandang,
hipersensitivitas,
gastrointestinal

Streptomici
n (S)

Bakterisid

15

1000

Ototoksik, nefrotoksik

30

Untuk pasien dalam kasus ini diberikan OAT dalam bentuk obat KDT (Kombinasi Dosis Tetap).
Pemberian obat KDT disesuaikan dengan berat badan pasien sebagai berikut :
Tabel. 3.5. Pemberian Obat KDT Disesuaikan Dengan Berat Badan Pasien
Berat Badan

Tahap Awal tiap hari (56 dosis)

Tahap Lanjutan 3 kali


seminggu selama 16 minggu
(48 dosis)

30-37 kg

2 kaplet 4KDT

2 tablet 2KDT

38-54 kg

3 kaplet 4KDT

3 tablet 2KDT
31

55-70 kg

4 Kaplet 4KDT

4 tablet 2KDT

71 kg

5 Kaplet 4KDT

5 tablet 2KDT

Berat badan pasien 38-54 kg sehingga pada tahap awal pasien mendapat 3 kaplet 4KDT
dimana tiap kaplet mengandung 4 macam obat yaitu 75mg Isoniazid, 150mg Rifampisin, 400mg
Pirazinamid, 275mg Etambutol. Dan pada tahap lanjutan mendapat 3 tablet 2KDT dimana tiap
tablet mengandung 2 macam obat yaitu 150mg Isoniazid, dan 150mg Rifampisin.
2. Pembedahan2
Dengan berkembangnya penggunaan OAT yang efektif, terapi pembedahan relatif ditinggalkan
sebagai penatalaksanaan utama pada spondilitis TB. Pilihan teknik bedah tulang belakang pada
spondilitis sangat bervariasi, namun pendekatan tindakan bedah yang baku dan empiris masih
belum ada. Setiap kasus harus dinilai keadaanya secara individual. Pada pasien yang
direncanakan dioperasi, kemoterapi tetap harus diberikan, minimal 10 hari sebelum operasi OAT
harus sudah diberikan. Kategori regimen OAT yang diberikan disesuaikan jenis kasus yang ada
dan dilanjutkan sesuai kategori masing-masing. Tindakan bedah yang dapat dilakukan pada
spondilitis TB meliputi drainase abses; debridemen radikal; penyisipan tandur tulang;
artrodesis/fusi; penyisipan tandur tulang; dengan atau tanpa instrumentasi/fiksasi, baik secara
anterior maupun posterior; dan osteotomi.

32

Tabel 3.6 Klasifi kasi Gulhane Askeri Tip Akademisi (GATA) untuk spondilitis TB2penya
Tipe
IA

Lesi
Lesi vertebra dan degenerasi
diskus 1 segmen, tanpa kolaps,
abses, ataupun defisit neurologis.

Penatalaksanaan
Biopsi perkutan dan
kemoterapi

IB

Adanya cold abscess, degenerasi


diskus 1 atau lebih, tanpa kolaps
ataupun defisit neurologis.

Drainase abses dan


debridemen anterior/
posterior

II

Kolaps vertebra
Cold abscess
Kifosis
Deformitas stabil, dengan/ tanpa
defi sit neurologis
Angulasi sagital < 20

33

debridemen dan
fusi anterior
dekompresi jika
terdapat defisit
neurologis
tandur strut
kortikal untuk
fusi

Contoh

III

Kolaps vertebra berat


Cold abscess
Kifosis berat
Deformitas tidak stabil, dengan/
tanpa defi sit neurologis
Angulasi sagital 20

Penatalaksaan no II
+ instrumentasi
anterior/
Posterior

3. Imobilisasi Pasca-operasi6
Imobilisasi yang singkat akan mengurangi morbiditas pasien. Dengan instrumentasi, kebutuhan
imobilisasi semakin berkurang sehingga pasien dapat cepat mencapai status ambulatorik. Jenis
imobilisasi spinal tergantung pada tingkat lesi. Pada daerah servikal dapat diimobilisasi dengan
jaket Minerva; pada daerah vertebra torakal, torakolumbal dan lumbal bagian atas dapat
diimobilisasi menggunakan body cast jacket. Sedangkan pada lumbal bawah, lumbosakral, dan
sakral dilakukan imobilisasi dengan body jacket atau korset dari gips yang disertai dengan fiksasi
salah satu sisi panggul.

34

BAB IV
KESIMPULAN
Telah dilaporkan sebuah kasus TB Paru Rontgen (+) dan BTA (+) dengan TB ekstraparu
(Spondilitis TB) pada laki-laki usia 34 tahun. Laki-laki ini didiagnosa TB Paru Rontgen (+) dan
BTA (+) berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan Rontgen (+) dan pemeriksaan sputum BTA (+) sedangkan diagnosa Spondilitis TB
berdasarkan anamnesis yaitu adanya kelemahan pada ektremitas inferior, demam yang hilang
timbul, BB menurun dan keringat malam yang berlebihan, pada pemeriksaan fisik yaitu pada
Vertebra Thorakal 10-Vertebra Lumbalis terdapat penonjolan (gibbus)kifosis, tepi tumpul,
konsistensi keras, ukuran panjang 7 cm dan lebar 2 cm, nyeri tekan (-), defisit neurologis berupa
hipestesi sinistra setinggi V.Th 10 ke bawah dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan
sputum BTA dan pemeriksaan rontgen thoraks, lumbosacral dan pelvis dimana ditemukan tanda
dan gejala yang khas dari Spondilitis TB pada pasien ini. Pasien diterapi dengan IVFD RL 20
tpm, PCT 3x500 mg (k/p), B complex 3x1 tab, KTC 3% 1 amp (k/p), OAT Kategori 1, Inj.
Methylprednisolon 4x62,5 mg/IV, Inj. Ranitidine 2x1 amp/IV, Diet tinggi protein dan
karbohidrat. Pasien ini setelah mendapatkan terapi dengan Methylprednisolon nyerinya semakin
berkurang dan kelemahan lebih membaik namun belum sembuh total pasien sudah meminta
pulang, sehingga pada akhirnya pasien dipulangkan secara paksa. Saran sebaiknya pada pasien
dengan pulang paksa ini diberikan methylprednisolon oral yang dosis ditentukan oleh dokter
spesialis saraf dan melakukan kontrol obat untuk keluhan nyerinya ke dokter spesialis saraf.

35

DAFTAR PUSTAKA
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10

11
12
13

14
15

Umar Fatimah,dkk.Pharmaceutical Care untuk Penyakit Tuberkulosis. Direktorat


Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan Departemen Kesehatan RI 2005.
Raka Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis. CDK208/ vol. 40 no. 9, th. 2013.
Aditama Y. T., Kamao S., Baari C., Surya A. Tuberkulosis dan Permasalahannya.
Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2 Cetakan Pertama. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: 2009; 3-4.
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta : 2008; xiii
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007 Provinsi Nusa Tenggara
Timur. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Jakarta : 2008; 80-81.
Vitriana. Spondilitis Tuberkulosa. Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FKUNPAD/ RSUP dr. Hasan Sadikin , FK-UI/ RSUPN dr. Ciptomangunkusumo. 2002.
Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (Tb). Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Nomor 364/menkes/sk/v/2009.
Moesbar Nazar. Infeksi Tuberkulosa pada Tulang Belakang. Sub Departemen Orthopaedi
dan Trauma Departemen Ilmu Bedah FK-USU/RSUP H. Adam Malik, Medan. Suplemen
Majalah Kedokteran Nusantara Volume 39 No. 3 September 2006.
Camillo FX. Infections of the Spine. Canale ST, Beaty JH, ed. Campbells Operative
Orthopaedics. edisi ke-11. 2008. vol. 2, hal. 2237. Dalam tinjauan pustaka Raka Janitra,
Zuwanda. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis. CDK-208/ vol. 40
no. 9, th. 2013.
Nataprawira HM, Rahim AH, Dewi MM, Ismail Y. Comparation Between Operative and
Conservative Therapy in Spondylitiis Tuberculosis in Hasan Sadikin Hospital Bandung.
Majalah Kedokteran Indonesia. Vo.60.No.7 Juli 2010. Dalam tinjauan pustaka Raka
Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis. CDK-208/
vol. 40 no. 9, th. 2013.
Amin S., Bahar A. Tuberkulosis Paru. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi V.
Jakarta Pusat : Interna Publishing: 2009; 2230.
Kumar, Cotran, Robbin. Buku Ajar Patologi Vol.2. Ed. 7. Jakarta : EGC, 2007. 13: 54451.
Hidalgo JA. Pott Disease. [Online]. 2008 Aug 29 [cited 2009 Aug 27];[17 screens].
Available from: URL:http:www.eMedicine.com/med/topic. Dalam tinjauan pustaka Raka
Janitra, Zuwanda. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis. CDK-208/
vol. 40 no. 9, th. 2013.
Mubin Halim A. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Diagnosis dan Terapi. Edisi 2.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta : 2008. 219-33.
Pelatihan Penanggulangan Tuberkulosis bagi Tim DOTS Rumah Sakit. Modul D
Pengobatan Pasien TB di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal BIna Pelayanan Medik. Jakarta : 2009;2-8.

36

37