Anda di halaman 1dari 14

PEMBORAN HORISONTAL

Tujuan Pemboran Horisontal


Sesuai dengan sasaran pemboran horisontal, yaitu untuk memperpanjang penembusan
zona produktif, atau dengan kata lain untuk memperluas daerah pengurasan suatu sumur,
maka tujuan dilakukannya pemboran horisontal adalah untuk :
1. Meningkatkan laju produksi sumur.
2. Meningkatkan recovery sumur.
3. Membuat reservoir yang sudah tidak ekonomis bila dikembangkan dengan
pemboran tegak, akan menjadi ekonomis kembali bila dikembangkan dengan
pemboran horisontal.
4. Memperkecil terjadinya water dan gas coning.
5. Meningkatkan operasi Enhanced Oil Recovery.
Alasan Dilakukan Pemboran Horisontal
Dalam membor suatu formasi, seharusnya selalu diinginkan lubang yang vertikal,
karena dengan lubang vertikal disamping operasinya lebih mudah, juga umumnya
mempunyai biaya lebih murah daripada pemboran horisontal. Pemboran horisontal
dilakukan karena faktor dan keadaan khusus saja. Alasan dilakukannya pemboran
horisontal adalah :
1. Alasan geografi
2. Alasan geologi
3. Alasan ekonomi
Ketiga alasan tersebut satu sama lain saling berhubungan dalam mempengaruhi
pertimbangan untuk dilakukan atau tidaknya pemboran horisontal.
Alasan Geografi
Alasan ini meliputi kondisi topografi dari daerah bersangkutan yang meliputi :
a. Bila reservoirnya berada di bawah sebuah kota yang padat penduduknya, lalu
lintas yang ramai maupun bangunan yang strategis. (Gambar 4.1)

Gambar 4.1
Pemboran Horisontal Di Bawah Kota Yang Padat Penduduk
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)
b. Bila reservoirnya berada di bawah daerah bertebing terjal dan curam yang apabila
dilakukan pemboran vertikal sangat sulit secara teknis. (Gambar 4.2)

Gambar 4.2
Pemboran Horisontal Di bawah Tebing Yang Terjal Dan Curam
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)
Alasan Geologi
Sebagai alasan geologi ditinjau dari dua hal, yaitu patahan dan rekahan.

a. Bila terdapat patahan dimana di bawah patahan tersebut terdapat reservoir


minyak atau gas, maka untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan pemboran
horisontal. (Gambar 4.3)

Gambar 4.3
Pemboran Horisontal Pada Formasi Dengan Struktur Patahan
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)
b. Pada formasi yang tipis dan memiliki area yang luas, maka pemboran horisontal
sangat dimungkinkan untuk memperluas daerah pengurasan sehingga diperoleh
hasil yang menguntungkan. Demikian juga bila ditemui reservoir dengan bentuk
rekahan-rekahan vertikal akan lebih menguntungkan bila dilakukan pemboran
horisontal. (Gambar 4.4)

Gambar 4.4
Pemboran Horisontal Pada Formasi Dengan Struktur Rekahan Vertikal
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)
Alasan Ekonomi

Sebagai alasan yang ditinjau dari pertimbangan ekonomi adalah :


a. Pemboran lepas pantai (offshore)
Bila reservoir minyak atau gas berada di bawah lepas pantai dan seandainya
setiap sumur digunakan sebuah platform untuk mengebor, maka biaya yang
diperlukan akan besar sekali. (Gambar 4.5)

Gambar 4.5
Pemboran Horisontal Di Lepas Pantai (Offshore)
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)
b. Adanya lensa-lensa
Bila reservoir terdiri dari beberapa lensa dan diinginkan untuk ditembus
sekaligus, maka lubang bor dirancang dan diarahkan untuk menembus lensalensa tersebut. (Gambar 4.6)

Gambar 4.6
Pemboran Horisontal Yang Terdiri Dari Beberapa Lensa
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)

c. Menghambat terjadinya water dan gas coning


Dengan melakukan pemboran horisontal, maka akan menghambat atau
menghindari terjadinya laju invasi (terproduksinya) air atau gas dibandingkan
dengan pemboran vertikal. (Gambar 4.7)

Gambar 4.7
Water Dan Gas Coning Pada Sumur Horisontal
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)
Jenis-jenis Pemboran Horisontal
Sumur horisontal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian vertikal, bagian pertambahan
sudut kemiringan (build Up Curve), dan bagian horisontal. Adanya pertambahan sudut
kemiringan inilah yang memacu berkembangnnya teknologi pemboran horisontal. Dan
sampai sekarang pemboran horisontal berkembang menjadi empat tipe, yaitu : tipe Long
Radius Radial System, Medium Radius Radial System, Short Radius Radial System, dan
Ultra Short Radius Radial System (USRRS).
1. Long Radius Radial System
Metoda ini sering disebut dengan sistem pemboran horisontal konvensional.
Pemboran long radius ini mempunyai build angle 2 6/100 ft MD (Measured Depth),
build radius (R) sebesar 1000 ft 3000 ft dan panjang lateral 1000 ft 4000 ft.
Pemboran long radius ini terdiri dari tiga bagian (phase) mulai dari ujung kepala sumur
sampai ujung sumur bagian bawah. Phase 1 adalah pemboran vertikal sampai KOP (Kick
Off Point). Phase 2 adalah pemboran berarah dari KOP sampai ujung pembentukan busur

(curvature), dan phase 3 adalah pemboran yang mempunyai arah horisontal. Penentuan
kedalaman total dari tiap-tiap phase disesuaikan dengan kemiringan formasi.
Perlengkapan yang biasa digunakan untuk mencegah timbulnya masalah mekanis lubang
sumur, seperti yang ada di bawah ini dengan pertimbangan-pertimbanngan lithologi,
perencanaan sumur, logistik, dan harga sewa rig, yaitu :
1. Pemasangan Measurement While Drilling (MWD),
2. Penggunaan Sreerable Motor atau Top Drive System,
3. Penggunaan Oil Base Mud,
4. Aplikasi sistem logging dengan bantuan drill pipe,
5. Penerapan gaya puntir Positive Displacement Motor (PDM) untuk coring,
6. Pemasangan stabilizer dengan bilah yang halus (smooth blades) dan tepinya
tajam, atau pemasangan stabilizer yang tidak berputar untuk peralatan down hole
yang berputar,
7. Pemasangan Mechanical Drilling Jars,
8. Penggunaan Polycrystalline Diamond Compact Bits (PDC Bits).
Peralatan yang digunakan pada pemboran tipe ini paling sederhana di antara
keempat tipe pemboran horisontal yang ada, karena peralatan pada pemboran ini
merupakan peralatan pemboran konvensional yang susunannya telah dimodifikasi. Sama
seperti pemboran berarah konvensional, bent subs dipakai untuk pembelokan awal kick
off point dan untuk pembentukan sudut, kontrol arahnya menggunakan steerable motor.
Sedangkan untuk bagian horisontal, kita menggunakan down hole mud motor. Karena
kesederhanaannya dan juga relatif mudah aplikasinya, pemboran horisontal tipe ini
banyak sekali dilakukan, walaupun untuk mencapai titik sasaran yang sama diperlukan
jarak pemboran yang jauh lebih panjang dibanding dengan ketiga tipe pemboran
horisontal lainnya.
Kelebihan dari penggunaan long radius radial system adalah :

Dapat menghasilkan bagian lubang mendatar yang sangat panjang,

Peralatan pemboran yang digunakan adalah peralatan yang konvensional (hampir


sama dengan directional drilling),

Tingkat dogleg yang tidak terlalu tinggi,

Mudah dalam pengoperasiannya,

Kelemahan dari penggunaan long radius radial system adalah :

Trayek yang harus dikontrol sangat panjang,

Casing yang digunakan lebih banyak,

Kurang cocok untuk zona tipis dan dangkal.

2. Medium Radius Radial System


Pemboran horisontal jenis ini mempunyai build angle 6 20/100 ft. Build radius
(R) sebesar 300 ft 800 ft dan mempunyai range lateral antara 1000 ft 4000 ft. Untuk
pengeboran digunakan down hole mud motor yang telah di disain secara khusus, yaitu
angle build motor digunakan untuk membentuk sudut dan angle hold motor untuk
mengebor bagian horisontal sumur.
Pada pemboran dengan sistem ini, masih dimungkinkan penggunaan peralatan
pemboran yang konvensional dan kontrol arahnya menggunakan steerable motor.
Peralatan pemboran horisontal jenis ini dikembangkan oleh perusahaan ARCO Oil & Gas
Co. Pengembangan peralatan pemboran horisontal tipe ini dimaksudkan untuk
menjembatani pemboran horisontal tipe long radius radial system dan short radius radial
system. Metoda ini sangat aktif dikembangkan oleh banyak perusahaan. Peralatan yang
umum digunakan adalah :
1. Bit tricone motor bearing,
2. Komponen drill string dilengkapi dengan compressive strength DP,
3. Peralatan MWD (Measurement While Drilling),
4. Steering yang konvensional.
Kelebihan dari penggunaan medium radius radial system adalah :

Penembusan formasi lain di atas target tidak terlalu panjang,

Kontrol terhadap pemboran lebih baik sebab menggunakan Down Hole Motor
(DHM) dan peralatan steerable,

Dapat mencapai panjang lateral sampai 4000 ft,

Peralatan pemboran semi konvensional,

Casing dan komplesi seperti sumur umumnya,

Ukuran lubang yang dikehendaki bervariasi,

Dapat dilakukan coring dan logging,

Dapat diterapkan berbagai jenis komplesi.

Kelemahan dari penggunaan medium radius radial system adalah :

Ukuran lubang tertentu,

Memerlukan compressive strength DP yang tinggi.

3. Short Radius Radial System


Pemboran horisontal jenis ini mempunyai build angle 2 5/ft. Sedangkan build
radius (R) antara 20 ft 40 ft dan mempunyai panjang lateral antara 100 ft 800 ft.
Pemboran dengan short radius radial system dilakukan dengan maksud untuk
memproduksi kembali sumur-sumur tegak yang sudah tidak berproduksi. Short radius
radial system menggunakan short mud motor yang didisain secara khusus, yaitu bagian
angle build motor untuk mengebor bagian kurva radius 40 ft dari lubang sumur dan
bagian angle hold motor untuk mengebor bagian horisontal sumur. Ciri-ciri pemboran
dengan short radius radial system adalah :
1. Penggunaan flexible drill pipe,
2. Penggunaan flexible joint drill collar,
3. Penggunaan drill bit stabilizer,
4. Penggunaan down hole motor (DHM).
Rangkaian pipa pemboran dalam sistem ini tidak ikut berputar. Sistem pemboran
yang lama yaitu dengan menggunakan knuckle joint masih digunakan. Near bit stabilizer
berfungsi sebagai penumpu yang dapat menghasilkan efek pendulum sehingga bit dapat
diarahkan sesuai dengan lintasan kurva yang diharapkan.
Kelebihan dari penggunaan short radius radial system adalah :

Jari-jari kelengkungan yang kecil (20 40 ft),

Jarak vertikal reservoir lebih dangkal,

Mudah dikoreksi jika terjadi kesalahan arah lubang,

Panjang keseluruhan lubang sumur dapat diminimumkan,

Pendefinisian struktur formasi dapat lebih akurat.

Kelemahan dari penggunaan short radius radial system adalah :

Panjang bagian yang lateral dari sumur terbatas,

Jumlah round trip relatif banyak,

Memerlukan metoda penyelesaian sumur yang khusus,

Peralatan pemboran non-konvensional atau peralatan khusus,

Ukuran lubang bor terbatas,

Diperlukan peralatan power swivel atau top drive rig,

Kontrol terhadap azimuth sangat terbatas,

Tidak dapat dilakukan logging.

4. Ultra Short Radius Radial System (USRRS)


Sistem ini merupakan metoda yang saat ini paling aktif dikembangkan dibandingkan
dengan metoda-metoda lainnya. Pengembangan sistem ini dipelopori oleh Petrolphysics
Inc. (Gambar 4.8). USRRS mempunyai radius kelengkungan (R) sebesar 1 2 ft dan
build angle sebesar 45 60/ft. Pada teknik ini, drain hole sepanjang 100 200 ft di bor
dengan menggunakan water jet. Daya penembusan ke dalam batuan diperoleh dari
pancaran fluida berkecepatan tinggi yang dihasilkan oleh jet bit. Berdasarkan penelitian
yang sudah dilakukan, kecepatan penembusan pada berbagai kekerasan batuan yang
berbeda adalah :
Unconsolidated Sand : 6 60 ft/menit
Sand/Dolomite

: 2 10 ft/menit

Hatd (Granit)

: 0.5 1 ft/menit

Diameter tubing drain hole bervariasi dari 1 2 inchi, tergantung dari sistem
pemboran yang digunakan. Setelah pemboran, tubing di perforasi atau di gravel packed.
Kemudian tubing dipotong dan drain hole berikutnya di bor pada kedalaman yang sama.
Sangat dimungkinkan untuk membor beberapa drain hole pada kedalaman tertentu.
Kelebihan dari penggunaan ultra short radius radial system adalah :

Tingkat ketepatan pencapaian target sangat tinggi,

Dapat memanfaatkan sumur-sumur open hole lama,

Dapat menghasilkan sampai empat arah lubang horisontal pada satu kedalaman
seperti jari-jari sepeda,

Sangat baik untuk diaplikasikan pada sistem lensa.

Kelemahan dari penggunaan ultra short radius radial system adalah :

Panjang bagian lateral terbatas (sekitar 400 ft),

Operasi dilakukan dengan sistem hidrolik pada tekanan tinggi (10,000 psi),

Memerlukan operasi underreaming sebelum pemasangan peralatan.

Jenis penyelesaian sumur kurang dapat bervariasi.

Gambar 4.9
Skema Tipe-tipe Pemboran Horisontal
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)

Gambar 4.8
Pemboran Horisontal Dengan USRRS
(Rudi Rubiandini, R. S., 1989)

Perencanaan Rangkaian Pipa Bor


Rangkaian pipa bor mempunyai berbagai susunan dengan tujuan yang berbeda.
Peralatan ini disambungkan satu dengan yang lainnya oleh uliran sambungan. Adapun
tujuan umum dari rangkaian pipa bor ini adalah :
1. Memberikan saluran bagi fluida pemboran dari rig ke bit,
2. Meneruskan gerak rotasi ke bit,
3. Memungkinkan berat diset di atas bit,
4. Menurunkan dan menaikkan bit ke dalam lubang.
Sedangkan tujuan khusus dari rangkaian pipa bor ini adalah :
1. Memberikan stabilitas pada alat-alat bawah permukaan untuk mengurangi vibrasi
dan bit jumping,
2. Memungkinkan fluida formasi dan tes tekanan melalui drill string.
1. Drill Pipe
Drill pipe adalah suatu bentuk pipa yang dilengkapi alat penghubung berupa uliran
pada kedua ujungnya. Tiap ujung harus kuat/tebal, karena stress terbesar terjadi pada
ujung ini. Adapun tujuan pemasangan dari drill pipe adalah :
1. Sebagai alat transmisi torsi dan kelly ke bit,
2. Sebagai saluran fluida pemboran,
3. Sebagai alat penggantung Bottom Hole Assembly (BHA).
2. Bottom Hole Assembly (BHA)
Peralatan BHA pada pemboran horisontal dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
:
1. Motor Bottom Hole Assembly
Motor bottom hole assembly ini merupakan bagian dari motor penyediaan tenaga
yang digunakan untuk menggerakkan bit.
2. Rotary Bottom Hole Assembly
Rangkaian drill string akan digerakkan oleh rotary table atau tenaga swivel pada
permukaan. Teknik pemboran dengan rotary BHA tergolong teknik yang
konvensional dalam aplikasinya pada sumur horisontal. Akan tetapi, pada bagian
tertentu dalam pemboran horisontal masih diperlukan.
3. Steerable Bottom Hole Assembly

Pada steerable BHA ini menggunakan bent sub, tilt sub, offset stabilizer, dan
bottom hole motor.
Ketiga jenis BHA ini menggunakan MWD atau steering tool yang dihubungkan
dengan non-magnetic drill collar. Prinsip pendulum, fulcrum, dan stabilisasi digunakan
dalam menyusun BHA untuk semua tipe pemboran horisontal.
BHA mempengaruhi trayektori lubang sumur dan BHA terdiri dari beberapa macam
komponen, yaitu :
1. Drill Collar
Drill collar dipasang di bagian bawah dari drill string, dengan maksud untuk
memberikan berat yang cukup pada bit dalam suatu operasi pemboran. Drill collar
tidak mempunyai tool joint yang dipasangkan pada badan pipa, dinding drill collar
yang tebal memungkinkan ulir yang dipasang langsung pada dindingnya. Adapun
tipe khusus drill collar adalah :
a. Anti Wall Stick,
b. Square Drill Collar,
c. Monel Drill Collar.
2. Stabilizer
Stabilizer berfungsi untuk menjaga arah pemboran sesuai dengan yang
direncanakan. Teknik stabilizer yang populer adalah pendulum dan packed hole.
Keuntungan dipasangnya stabilizer adalah :
a. Menurunkan gaya perlengkungan pada drill collar,
b. Memungkinkan penggunaan WOB yang besar,
c. Menaikkan umur bit dengan jalan mengurangi goyangan pada bit,
d. Mencegah penjepitan pipa oleh dinding lubang bor.
3. Roller Reamer
Roller reamer terdiri dari blade stabilizer ditambah suatu seri roller yang dibuat
dari baja keras atau tungsten carbide. Disamping berfungsi sebagai stabilizer, alat ini
juga membantu mempertahankan ukuran lubang dan menanggulangi pipe stucking
yang disebabkan oleh dogleg atau key seat.
4. Shock Sub
Shock sub adalah alat yang ditempatkan pada bagian bawah DC untuk mengabsorb vibrasi dan beban shock yang terjadi karena aksi cutting ketika pemboran
menembus formasi keras. Tujuan dari pemasangan shock sub adalah :

a. Mengurangi kerusakan sambungan drill collar dan drill pipe,


b. Mengurangi beban shock pada bit, sehingga mengurangi kecepatan kerusakan
gigi dan bearing bit.
5. Subs
Berupa sambungan joint yang pendek, yang memberikan suatu cross over untuk
sambungan yang berbeda pada drill string.
6. Drilling Jar
Tujuan dari pemasangan drilling jar adalah untuk memberikan suatu aksi
sentakan ke arah atas pada saat pipa mengalami jepitan. Suatu drilling jar terdiri dari
sliding mandrell yang ditempatkan pada drill string, dan mandrell dihubungkan pada
satu ujung string dan sleeve pada ujung lainnya. Jar dapat di run pada string dalam
limit tertentu tanpa terjadi pergerakan pada mandrell.
Peralatan Pembelok Dan Jenis Motor Di BHA
Setelah kedalaman titik belok (Kick Off Point) ditentukan, maka mulai dari titik
tersebut kita arahkan mata bor (bit) ke sasaran dengan sudut kemiringan tertentu dengan
menggunakan alat pembelok (deflection tools).
1.

Badger Bit
Badger bit biasanya digunakan pada formasi yang lunak, dimana laju
pemborannya 40 ft/jam atau lebih. Pahat ini menggunakan nozzle bit biasa dengan dua
atau tiga cone. Prinsip kerjanya terletak pada tidak tidak seimbangnya jet lumpur pada
pahat tersebut, dimana salah satu jetnya berukuran lebih besar dari yang lain.

2.

Spud Bit
Spud bit merupakan bit tanpa roller cutter, bentuknya seperti baji kopi. Prinsip
kerja pahat ini seperti badger bit, yaitu mengarahkan jet ke arah pembelokan lubang
yang diinginkan.

3.

Knuckle Joint
Knuckle joint pada prinsipnya merupakan suatu drill string yang diperpanjang
dengan menggunakan suatu sendi peluru. Oleh karena itu memungkinkan terjadinya
putaran bersudut antara rangkaian pipa pemboran dengan pahat, dimana antara drill
string dan bitnya disetel pada sudut tertentu. Untuk mendapatkan sifat yang fleksibel,
alas ini sering dipasang langsung pada drill pipe tanpa menggunakan drill collar.

4.

Whipstock
Whipstock adalah suatu alat dari besi tuang yang berbentuk baji dengan saluran
tempat bergeraknya bit yang melengkung hingga bit akan dibelokkan arahnya.
Whipstock ini haruslah disetkan pada daerah yang keras agar tidak mudah ikut berputar
dengan berputarnya drill string.

5.

Jetting
Merupakan teknik yang digunakan untuk mengarahkan atau membelokkan lubang
sumur pada formasi lunak. Sumur dapat dimulai dan dibangun pada inklinasi
maksimum dengan menggunakan satu BHA. Bit jetting khusus dapat dipakai atau
memungkinkan untuk menggunakan bit dengan panjang gigi normal.

6.

Turbo Drill
Sebenarnya yang dapat membelokkan lubang pemboran adalah adanya bent sub
yang dipasang di atas turbo drill (semacam turbin yang berbentuk pipa dan dapat
dirangkaikan pada rangkaian pipa bor). Prinsip kerja turbo drill adalah dengan
didorongnya lumpur pemboran oleh pompa menggerakkan rotor pada turbin sehingga
dapat memutar bitnya saja tanpa harus memutar rangkaian pipa pemboran (drill string).
Kemudian bit disambung dengan drill string akan membentuk sudut tertentu sehingga
didapat pembelokan yang kontinyu. Dengan turbo drill ini dapat dihasilkan lubang bor
yang lebih halus daripada kelima alat pembalok yang tersebut diatas.

7.

Dyna Drill
Dyna drill merupakan down hole mud motor. Seperti juga turbo drill, dyna drill
akan memutar bit tanpa harus memutar drill string. Adanya bent sub pada peralatan ini
akan menghasilkan lengkungan yang halus (smooth). Didalam pemakaian yang
optimum, dyna drill sangat tergantung pada kecepatan sirkulasi dan beda tekanan pada
pompa. Pemakaiannya disesuaikan dengan keperluan dan kondisi yang ada.
Prinsip kerja dyna drill ini adalah bila rotor diputar, pompa akan menghisap cairan
dan mengalirkannya ke saluran yang telah ditentukan. Pada dyna drill ini tenaga
hidrolis (volume dan tekanan) dari cairan pemboran akan mengubah rotor yang
berbentuk helicoidal menjadi tenaga mekanis (torsi dan putaran).