Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH FARMASETIKA DASAR II

INKOMPATIBILITAS SEDIAAN SUSPENSI

OLEH :
KELOMPOK IV
VISTA ARIANTI WISAL
WA ODE MARFIAH SAFITRI
WA ODE NUR BADRIAH
WISDAYANTI NUR FATMA IMRAN
YULIANA
MISRA FEBRIANI
I MADE SATRIA BINAWA ALIT
MARIANI TRIWATAMI
SYAHRIR
WA ODE SITI KARNIA RAMADAN
NARFINA

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

F1F1 12 129
F1F1 12 130
F1F1 12 131
F1F1 12 132
F1F1 12 133
F1F1 12 134
F1F1 12 135
F1F1 12 136
F1F1 12 137
F1F1 12 138
F1F1 12 139

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013

A.
B. Latar Belakang
C.
D. Pengertian Suspensi
E.

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut

dalam bentuk halus yangterdispersi ke dalam fase cair. Zat yang terdispersi
harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan-lahan,
endapan harus terdispersi kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk
menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi harus menjamin
sediaan mudah digojog dan dituang.
F.
Istilah susu kadang-kadang digunakan untuk suspensi dalam
pembawa yang mengandung air yang ditujukan untuk pemakaian oral seperti
Susu Magnesia. Istilah magma sering digunakan untuk menyatakan suspensi
zat padat anorganik dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya mempunyai
kecenderungan terhidrasi dan teragregasi kuat yang menghasilkan konsistensi
seperti gel dan sifat reologi tiksotropik seperti Magma Bentonit. Istilah losin
banyak digunakan untuk glongan suspensi topikal dan emulsi untuk
pemakaian pada kulit.
G. Sediaan suspensi dalam farmasi digunakan dalam berbagai
cara yaitu:
1. Suspensi oral (Sulfa/Kemicetine suspention)
H.
Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung
partikel padatdalam bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan
bahan pengaroma yan sesuai yang ditujukan untuk pemakaian oral.
Beberapa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkan yang lain berupa
campuran padat dalam bentuk halus yang harus dikonstitusikan terlebih
dahulu dengan pembawa yang sesuai, segera sebelum digunakan.
2. Suspensi topikal
I. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel
padat dalam bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang
ditujukan untuk penggunaan pada kulit.
3. Suspensi tetes telinga
J.Sediaan cair mengandung pertakel-partikel halus yang ditujukan
untuk diteteskan pada telinga bagian luar.

4. Suspensi oftalmik
K.
Suspensi

oftalmik

adalah

sediaan

cair

steril

yang

mengandung partikel-partikel sangat halus yang terdispersi dalam cairan


pembawa untuk pemakaian pada mata. Obat dalam suspensi harus dalam
bentuk termikronisasiagar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada
kornea. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan jika terdapat massa
yang menggumpal atau terjadi penggumpalan.
5. Suspensi untuk injeksi
L.
Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa
suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak boleh
menyumbat jarus suntik (syringe ability) serta disuntikan secara intervena
atau kedalam larutan spinal.
6. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi
M.
Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat
kering dengan bahan injeksi pembawa yang sesuai untuk membentuk
larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah
penambahan bahan pembawa yang sesuai.
N.
O. Stabilitas Suspensi
P.

Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembentukan

suspensi adalah cara memperlambat penimbunana partikel serta menjaga


homogenitas partikel yang merupakan salah satu cara untuk menjaga stabilitas
dari suspensi.
Q.

Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi

a.
b.
c.

yaitu :
Ukuran partikel
Kekentalan (viskositas)
Jumlah partikel (konsentrasi)

d.

Sifat dan muatan dari partikel

R. Bahan Pensuspensi
1.

Bahan pendispersi dari alam


S.
Bahan alam dari suspensi berupa jenis gom yang
sering disebut gom atau hidrikoloid. Gom dapat larut atau mengembang

atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk musilago atau


lendir.
T.
Golongan dari gom meliputi:
a. Akasia (Pulvis Gummi Arabic)
b. Chondrus
c. Tragakan
d. Algin
U.
Bahan pensuspensi alam yang bukan gom yakni
tanah liat. Tanah liat sering dipergunakan untuk tujuan menambah
stabilitas suspensi yang terdiri dari 3 macam yairu :
a. Bentonit
b. Hectorite
c. Veegum
2. Bahan pensuspnsi sintesis
V.
Bahan pensuspensi sintesis terdiri dari :
a. Derivat selulosa
b.

golongan organik polimer

W. Cara Pembuatan Suspensi


1. Metode Dispersi
X.

Metode yang dilakukan dengan cara menambahan

serbuk bahan obat ke dalam musilago yang telah terbentuk, dan kemudian
diencerkan. Terjadinya kerusakan pada pendispersian serbuk ke dalam
pembawa disebabkan karena adanya udara, lemak, atau kontaminan pada
serbuk. Untuk menurunkan gangguan permukaan antar partikel zat padat
dengan cairan perlu ditambahkan zat pembahasah.
2. Metode Presipitasi
Y.

Zat yang akan didispersikan, dilarutkan terlebih

dahulu kedalam pelarit yang organik yang akan dicampurkan dengan air.
Kemudian larutan tersebut diencerkan dengan larutan pensuspensi dalam
air sehingga akan terjadi endapan halus tersuspensi dengan bahan
pensuspensi. Cairan organik tersebut meliputi etanol, propilen glikol, dan
polietilen glikol.
Z.
AA.

Sistem Pembuatan Suspensi

1.

Sistem flokulasi
AB.
Dalam sistem flokulasi, partikel flokulasi terikat lemah,
cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah
terdispersi kembali.
AC.
a.
b.
c.
d.

Secara umum sifat partikel deflokulasi yaitu

:
Partikel merupakan agregat yang bebas
Sedimentasi terjadi cepat
Sedimen terbentuk cepat
Sediken tidak membentuk cake yang keras dan padat serta mudah

terdispersi kembali seperti semula.


e. Wujud suspensi kurang bagus sebab sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nyata.
AD.
2. Sistem deflokulasi
AE.
Partikel drflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya
membentuk sedimen, akan terjadi agregasi dan akhirnya terbentuk cake
keras dan sukar tersuspensi kembali.
AF.
Secara umum sifat partikel flokulasi yaitu :
a. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
b. Sedimentasi yang terjadi lambat, masing-masing partikel mengendap
terpisah dan partikel berada dalam ukuran paling kecil.
c. Sedimen terbentuk lambat.
d. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar
terdispersi kembali.
e. Wujud suspensi bagus karena zat tersuspensi dama waktu relatif
lama.
AG.

Formulasi Suspensi
AH.

Untuk membuat suspensi stabil secara fisik ada dua cara

yaitu :
a. Penggunaan structured vehicle untuk mnjaga partikel deflokulasi dalam
suspensi.
b. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun
cepat terjadi pengenapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah
terdispersi kembali.
AI.
Pembuatan suspensi sisten flokulasi yaitu :
a. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.

b. Sete;ah itu ditambahkan zat pemflokulasi, bisanya larutan elektrolit,


surfaktan atau polimer.
c. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.
d. Jika dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka
ditambahkan structured vehicle.
e. Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured
vehicle.
AJ.Bahan Pengawaet Suspensi
AK. Penambahan bahan lain dapat pula dilakukan untuk menambah
stabilitas suspensi, antara lain dengan penambahan bahan pengawet. Bahan
pengawet sangat dibutuhkan, terutama untuk suspensi yang menggunakan
bahan hidrokoloid alam, karena bahan ini sangat mudah dirusak oleh bakteri.
AL. Sebagai bahan pengawet dapt digunakan butil parabenzoat
(1:1250), etil parabenzot (1:500), propil parabenzoat (1:4000), Nipasol,
Nipagin 1 %. Disampng itu banyak pula digunakan garam kompleks
merkuri sebagai pengawet, karena hanya diperlukan jumlah yang kecil, tidak
toksis, dan tidak iritasi. Misalnya fenil merkuri nitrat, fenil merkuri klorida,
fenil merkuri asetat.
AM. Penilaian Stabilitas Suspensi
1. Volume sedimantasi adalah perbandingan antara volume sedimentsi akhir
(Vu) terhadap volume mula-mula suspensi (Vo) sebelum mengendap.
2. Derajat flokulasi adalah perbandingan antara volume sedimen akhir dari
suspensi flokulasi (Vu) terhadap volum sedimentasi akhir suspensi
deflokulasi (Voc).
3. Metode reologi yaitu berhubungan dengan faktor sedimentasi dan
redispersibilitas, membantu perilaku pengendapan, mengatur pembawa
dan susunan partikel untuk tujuan pembanding.
4. Perubahan ukuran partikel yakni dapat digunakan cara freeze-thaw
cycling, yaitu temperatur diturunkan sampa pada titik beku, lalu dinaikkan
sampai mencair kembali.
AN.