Anda di halaman 1dari 7

Geologi Struktur (Billings, 1972)

BAB 5
TEKNIK-TEKNIK STUDI LIPATAN DI PANGKALAN KERJA ATAU LABORATORIUM
5.1 TINJAUAN UMUM
Pembahasan lipatan dalam bab-bab sebelumnya ditekankan pada masalah pengamatan dan analisisnya di lapangan atau di
pangkalan kerja. Dalam bab ini kita akan mempelajari metoda-metoda analitik lain yang terutama dapat dipakai di laboratorium,
meskipun sebenarnya dapat pula dilakukan di pangkalan kerja. Metoda-metoda yang dimaksud mencakup penggunaan diagram
pi (pi diagram) dan diagram beta (beta diagram) yang dirajahkan pada jaring sama-luas (equal-area net). Diagram-diagram
tersebut dapat dibuat secara manual atau dengan bantuan komputer.
Sebelum membahas tentang diagram pi dan diagram beta, terlebih dahulu kita harus memahami beberapa hal yang berkaitan dengan proyeksi stereografi (stereographic projection) dan proyeksi sama-luas (equal-area projection).
5.2 PROYEKSI SAMA-LUAS DAN PROYEKSI STEREOGRAFI
5.2.1 Prinsip-Prinsip Dasar
Prinsip-prinsip dasar proyeksi stereografi dan proyeksi sama-luas dilukiskan pada gambar 5-1. Gambar 5-2 adalah jaring
stereografi (stereographic net), sedangkan gambar 5-3 adalah jaring sama-luas (equal-area net). Kedua jaring itu memiliki
beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaan kedua jaring itu dapat terlihat dengan jelas dari gambar 5-2 dan 5-3.
Perbedaan antara kedua jaring itu akan dijelaskan nanti.
Gambar 5-1A memperlihatkan suatu bola, dimana AF adalah sumbu vertikal, BD sumbu horizontal barat-timur, dan CE
sumbu horizontal utara-selatan. BCDE adalah bidang horizontal, ACFE adalah bidang vertikal utara-selatan, dan BFDA adalah
bidang vertikal barat-timur.
Misalkan ada suatu garis yang menunjam 40o ke arah timur. Suatu titik yang terletak pada permukaan bola dan ditembus
oleh garis tadi disebut kutub (pole). Sekarang asumsikanlah, seperti yang akan selalu dilakukan apabila kita bekerja dengan
memakai proyeksi ini, bahwa garis tadi melalui titik O yang merupakan pusat bola. Karena menunjam ke timur, maka garis itu
akan terletak pada bidang BFDA dengan kutub-kutub berupa titik L (pada setengah bola bagian atas) dan G (pada setengah
bola bagian bawah). Apabila titik G itu diproyeksikan secara vertikal pada bidang BCDE, maka akan diperoleh titik proyeksi K.
Dalam proyeksi stereografi, garis-garis proyeksinya tidak ditarik vertikal pada bidang BCDE, melainkan ditarik dari titik G
menuju titik tertinggi yang dimiliki oleh bola itu (yakni titik A) sehingga kita mendapatkan titik proyeksi H.
OH OD tan

(5-1)
dimana: = sudut GOF.
Dalam proyeksi proyeksi sama-luas (untuk alasan yang akan dijelaskan nanti):
OH 2 0,707 OD sin

(5-2)

Jadi dalam proyeksi-proyeksi tersebut, HO mencerminkan GO, yaitu suatu garis yang menunjam 40 o ke arah timur (GOF =
50 ). Dengan demikian, jarak dari titik pusat proyeksi merupakan fungsi dari nilai tunjaman. Suatu garis yang berkedudukan
barat-timur dengan penunjaman nol akan ditampilkan sebagai garis OD (atau OB). Suatu garis yang berkedudukan utaraselatan dengan penunjaman nol akan ditampilkan sebagai garis OE (atau OC). Garis vertikal akan ditampilkan sebagai titik O.
Pembahasan yang lebih mendetil mengenai metoda pembuatan proyeksi sama-luas disajikan oleh Doell & Altenhofen (1960).
Dari pembahasan di atas jelas terlihat bahwa ternyata kita hanya menggunakan satu belahan bola saja. Apabila kita akan
menggunakan belahan atas, maka proyeksinya akan berperan sebagai cerminan dari proyeksi belahan bawah. Sudah barang
tentu akan timbul ketaksaan dalam merepresentasikan garis yang tunjamannya nol; garis itu dapat direpresentasikan sebagai
titik-titik pada ujung garis. Walau demikian, kita dapat memilih salah satu diantaranya. Dalam analisis statistik, seperti yang akan
diperlihatkan nanti, metoda penghitungan titik secara otomatis akan memecahkan masalah tersebut. Pada kebanyakan masalah
struktur, garis yang terlibat dalam permasalahan itu bukan merupakan vektor dalam arti kata garis itu tidak memiliki arah.
Meskipun demikian, dalam masalah-masalah paleomagnetisme, sifat vektor sangat penting artinya. Dalam kasus tersebut,
rajahan-rajahan dapat ditempatkan pada setengah bola bagian bawah, sedangkan titik-titik pada setengah bola bagian atas
diberi simbol khusus.
Pada gambar 5-1A diasumsikan bahwa ada suatu garis yang menunjam 25 o ke arah baratdaya. Kutub pada setengah bola
bagian bawah adalah I, sedangkan titik proyeksinya pada bidang horizontal adalah titik J.
o

31

Geologi Struktur (Billings, 1972)

Metoda untuk menampilkan bidang diperlihatkan pada gambar 5-1B dan 5-1C. Misalkan saja ada suatu bidang yang
menjurus ke utara-selatan dan miring 50o ke arah timur. Jika bidang itu dibayangkan melalui pusat bola O (gambar 5-1B), maka
garis potong bidang tersebut dengan bola bagian bawah adalah busur CGE. Proyeksi G pada bidang BCDE adalah H,
sedangkan proyeksi busur CGE adalah busur CHE. Gambaran busur CHE pada bidang BCDE inilah yang ditampilkan dalam
proyeksi stereografi dan proyeksi jaring sama-luas. Jadi, apabila suatu saat memperoleh data yang berupa proyeksi seperti itu,
kita akan membaca bidang tersebut memiliki jurus utara-selatan (karena garis yang melalui titik O berarah utara-selatan) dengan
kemiringan ke arah timur (karena busurnya terletak di sebelah timur titik O). Jarak HD sendiri mencerminkan nilai kemiringan
bidang tersebut, sedangkan nilai eksaknya tergantung pada proyeksi yang kita gunakan (ingat, besar OH untuk proyeksi stereografi dan proyeksi sama-luas tidaklah sama).
Dengan cara yang sama maka kita akan memperoleh bahwa proyeksi suatu bidang yang jurusnya baratlaut dan miring 50 o
ke arah baratdaya adalah garis HJI (gambar 5-1C).
Jaring stereografi dan jaring sama-luas sama-sama memberikan hasil yang memuaskan ketika digunakan dalam analisis
struktur. Walau demikian, jaring sama-luas dirancang sedemikian rupa sehingga luas suatu bidang pada permukaan bola akan
sebanding dengan luas bidang tersebut dalam bidang proyeksi. Sebagai contoh, semua bidang yang menempati 1 cm 2
permukaan bola akan menempati daerah seluas 0,5 cm 2 dalam bidang proyeksi karena
Ac
Ah

(5-3)

2r

1
2

dimana Ac adalah luas bidang proyeksi.


Ah adalah luas permukaan setengah bola.
r adalah jari-jari bola dan lingkaran.
Data yang dirajahkan pada jaring sama-luas dapat dianalisis secara statistik. Hal ini akan dibahas pada sub bab 5.4 dan
20.4. Jaring sama-luas yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah geologi struktur dapat dilihat pada gambar 5-4.
Perlu ditekankan bahwa meskipun gambar itu mirip dengan gambar garis-garis lintang dan bujur pada peta bumi, namun
jaring itu tidak memiliki hubungan apapun dengan peta bumi karena setiap garis tersebut tidak mengindikasikan arah kompas.
Busur-busur yang cembung ke arah lingkaran luar jaring merepresentasikan lingkaran-lingkaran besar (gambar 5-3). Busurbusur itu merupakan garis-garis proyeksi dari setiap busur yang merupakan hasil perpotongan antara berbagai bidang dengan
bola proyeksi, dimana bidang-bidang itu memiliki jurus YY. Karenanya, busur-busur itu disebut lingkaran besar. Busur-busur
yang cembung ke arah pusat jaring merepresentasikan lingkaran-lingkaran kecil. Busur-busur itu merupakan garis-garis proyeksi
dari setiap busur yang merupakan hasil perpotongan antara berbagai bidang dengan bola proyeksi, dimana bidang-bidang itu
terletak tegak lurus terhadap garis YY. Karenanya, busur-busur itu disebut lingkaran kecil.
5.2.2 Metoda Perekonstruksian
5.2.2.1 Perajahan Bidang
Misalkan kita akan menggambarkan proyeksi suatu bidang dengan jurus U030B dan kemiringan 60TL. Buatlah suatu
overlay berbentuk bujur sangkar dari kertas transparan. Pada overlay itu gambarkan sebuah lingkaran yang ukurannya sama
dengan lingkaran proyeksi, sebuah titik pusat (titik O), serta simbol-simbol titik kompas utama (U, S, B, dan T). Lihat gambar 55A. Tempatkan jaring sama-luas di bawah overlay sedemikian rupa sehingga gambar lingkaran pada overlay itu berimpit dengan
lingkaran proyeksi jaring sama-luas. Tempatkan overlay sedemikian rupa sehingga arah utara yang ditunjukkan pada overlay itu
selalu mengarah ke atas. Putar jaring sama-luas 30 o pada arah yang berlawanan dengan arah gerak jarum jam sedemikian rupa
sehingga garis YY menyatakan jurus U030B, lalu gambarkan garis itu pada overlay (gambar 5-5B). Setelah itu, putar kembali
jaring sama-luas hingga simbol utara yang ditunjukkannya kembali berimpit dengan simbol utara pada overlay. Pilih salah satu
garis busur yang akan menunjukkan proyeksi bidang yang miringnya 60 o, yaitu busur yang bernilai 60 o (terhitung dari lingkaran
proyeksi), kemudian gambarkan busur itu hingga bersambungan dengan ujung-ujung garis yang menyatakan jurus. Busur itu
adalah busur YFY pada gambar 5-5B. Dengan demikian, kita mendapatkan proyeksi bidang dengan jurus U030B dan
kemiringan 60TL.
Apabila kita ingin merajahkan kutub yang tegak lurus terhadap bidang itu, putar jaring sama luas sehingga garis jurus yang
diperlihatkannya berimpit dengan garis YY. Setelah itu, tentukan sebuah titik pada garis XX yang berjarak 90o dari titik F. Pada
gambar 5-5B, titik yang dimaksud adalah titik G.
Sebenarnya akan lebih praktis apabila yang diputar-putar adalah overlay, bukan gambar jaring sama-luas yang terletak
dibawahnya (gambar 5-5C). Untuk mendapatkan gambaran yang sama, kita putarkan kertas penutup 30 o searah dengan jarum
jam, lalu tarik garis vertikal (garis yang berimpit dengan garis YY). Itulah garis jurus. Kemudian pilihlah salah satu busur yang
akan menggambarkan proyeksi dari garis potong antara bidang tersebut dengan bidang bola. Akhirnya kita dapatkan bidang
yang dimaksud. Pengalaman penulis selama ini dalam menggunakan proyeksi stereografi dan proyeksi sama-luas menunjukkan
bahwa sebenarnya kita tidak perlu menggambarkan garis jurus.

32

Geologi Struktur (Billings, 1972)

5.2.2.2 Perajahan Garis


Misalkan kita akan merajahkan suatu garis yang menunjam 30 o ke arah U020T. Gambarlah pada overlay suatu garis pada arah
U020T, lalu beri tanda (misalnya garis OD pada gambar 5-5D). Putarlah overlay sedemikian rupa sehingga garis OD berimpit
dengan garis YY atau XX. Pilihlah titik kedudukan yang terletak pada nilai busur 30 o (terhitung dari lingkaran proyeksi).
Kemudian beri tanda (misalnya titik F pada gambar 5-5E). Itulah kutub bawah dari garis yang dimaksud.
5.3 DIAGRAM PI
Diagram pi dan diagram beta banyak digunakan untuk menganalisis lipatan. Jurus dan kemiringan perlapisan yang dirajahkan pada diagram itu berasal dari titik-titik pengamatan yang jumlahnya cukup banyak. Apabila kedudukan lapisan pada suatu
singkapan relatif sama, maka satu pengukuran sudah dianggap memadai sebagai wakil dari singkapan itu. Namun, apabila pada
singkapan itu terdapat suatu lipatan, kita perlu mengukur kedudukannya pada beberapa titik.
Proyeksi bidang-bidang yang merepresentasikan semua bidang perlapisan akan terlihat sebagai suatu busur, kecuali untuk
bidang-bidang perlapisan yang horizontal atau vertikal. Proyeksi bidang veritkal akan berbentuk garis lurus yang pengarahannya
sama dengan jurus bidang tersebut. Proyeksi bidang horizontal akan berimpit dengan lingkaran proyeksi.
Beberapa contoh dari diagram ini dapat dilihat pada gambar 5-6. Busur a adalah proyeksi suatu bidang dengan kedudukan
U020T/70TG. Busur b adalah proyeksi bidang dengan kedudukan U080B/20BD. Garis c proyeksi suatu bidang vertikal dengan
jurus U030B. Lingkaran d proyeksi suatu bidang horizontal. Biasanya, dengan pengecualian untuk lapisan vertikal, garis jurus
tidak diperlihatkan dalam proyeksi.
Diagram pi adalah proyeksi kutub-kutub yang tegak lurus terhadap suatu struktur planar, dalam hal ini bidang perlapisan.
Pada gambar 5-6, titik-titik kutub itu dilukiskan sebagai titik Pa, Pb, Pc, dan Pd. Proyeksi bidang horizontal akan berimpit dengan
pusat lingkaran proyeksi (Pd = O). Bidang vertikal Pc akan memiliki dua titik proyeksi yang terletak saling berlawanan, yakni Pc
dan (Pc). Dalam analisis statistik, setiap titik kubub bidang vertikal dihitung berharga setengah. Kita juga dapat memilih untuk
merajahkan satu saja titik kutub bidang vertikal dan metoda pembuatan garis kontur (contouring) akan membantu kita dalam
menera fakta tersebut.
Gambar 5-7 adalah diagram pi dari gambar 4-6A. Setiap titik pada gambar 5-7 mewakili semua simbol jurus dan kemiringan
yang ada dalam gambar 4-6A. Angka-angka kemiringan yang tercantum pada setiap titik gambar 5-7 berkorespondensi dengan
nilai kemiringan dari setiap titik pada gambar 4-6A. Untuk menghindari penumpukan, beberapa titik digeser sedikit sedemikian
rupa sehingga jadi jelas terlihat. Titik-titik itu terletak dalam girdle yang berupa garis lurus berarah barat-timur. Girdle tersebut
merupakan proyeksi suatu bidang yang mengandung semua titik kutub yang tegak lurus terhadap semua bidang perlapisan
pada gambar 4-6A. Dengan cara yang sama kita akan mendapatkan gambar 5-8 yang merupakan diagram pi dari data juruskemiringan pada gambar 4-6B. Titik-titik itu terletak pada girdle yang cembung ke utara. Girdle itu merupakan jejak proyeksi dari
suatu bidang yang mengandung semua titik proyeksi yang tegak lurus terhadap bidang perlapisan. Baik gambar 5-7 maupun
gambar 5-8 tidak memiliki titik yang terletak pada lingkaran proyeksi karena lapisan yang dilukiskan pada gambar 4-6A dan 4-6B
tidak ada yang vertikal.
Diagram pi dianalisis dengan asumsi bahwa lipatannya merupakan lipatan silindris (cylindrical fold). Pada lipatan silindris,
sumbu lipatan tegak lurus terhadap bidang yang direpresentasikan oleh girdle dalam diagram pi. Pada gambar 5-7, karena
girdle merupakan proyeksi dari suatu bidang vertikal yang berarah barat-timur, maka jurus sumbu lipatannya adalah utaraselatan dan horizontal. Girdle pada gambar 5-8 merupakan proyeksi suatu bidang yang miring 75 o ke utara. Karena itu, sumbu
lipatannya menunjam 15o ke selatan.
Dari pembahasan di atas jelas sudah bahwa diagram pi dapat dipakai untuk menentukan arah dan nilai tunjaman lipatan.
Diagram itu juga dapat mengindikasikan lebih dari satu arah lipatan. Gambar 5-9 mengindikasikan adanya dua himpunan
lipatan. Satu himpunan, diberi tanda garis, dapat disimpulkan relatif terbuka karena titik-titik yang mewakilinya tersebar pada
suatu garis yang berarah barat-timur; sumbunya horizontal dan berarah utara-selatan. Himpunan kedua, tanda kali, merupakan
chevron fold karena yang terlihat hanya kedudukan dari sayap-sayapnya yang curam. Sumbu lipatan itu horizontal dan berarah
barat-timur.
Perlu diketahui bahwa ada beberapa keterbatasan penggunaan diagram pi, yaitu:
1. Antiklin dan siklin akan ditampilkan dengan cara yang sama. Lipatan yang ada pada diagram pada gambar 5-7 dan 5-8
dapat diartikan sebagai sinklin maupun antiklin.
2. Diagram pi mungkin disusun oleh beberapa lipatan. Pada gambar 5-9, kita dapat menyimpulkan bahwa kedua lipatannya
terletak pada dua tempat yang berbeda atau keduanya ada pada suatu daerah secara bersama-sama.
3. Apabila nilai tunjamannya berubah, lipatan tidak akan bersifat silindris. Makin bervariasi nilai tunjamannya, makin kompleks
pula diagram pi yang dihasilkannya.
Dengan demikian, jelas bahwa penafsirk\an diagram pi harus didasarkan pada penyebaran geografis data pengamatan.
Jadi, setelah membuat diagram pi biasanya kita harus melihat kembali peta dan catatan lapangan untuk memastikan jenis
lipatan (sinklin atau antiklin), jumlah lipatan (satu atau lebih), dan menentukan apakah suatu lipatan itu silindris atau bukan. Jika

33

Geologi Struktur (Billings, 1972)

hal itu masih belum memberi jawaban, mungkin pula kita perlu melakukan studi lapangan sekali lagi untuk mengambil data
tambahan. Jadi, cara terbaik untuk membuat dan menganalisis diagram pi adalah ketika pekerjaan lapangan baru dimulai.
5.4 DIAGRAM KONTUR
Data struktur juga sering ditampilkan dalam bentuk diagram kontur (contour diagram). Gambar 5-10 adalah diagram titik
(point diagram) hasil perajahan proyeksi titik-titik kutub dari 152 bidang perlapisan dalam sekis Devon pada Lembar Peta
Petersborough, New Hampshire (Greene, 1970). Dari diagram itu tampak bahwa sebagian besar jurus bidang perlapisan adalah
timur, timurlaut, dan utara dengan kemiringan 1060 o ke utara, baratlaut, dan barat. Gambar 5-11 merupakan diagram kontur
yang dibuat berdasarkan gambar 5-10. Daerah yang diberi tanda titik-titik rapat (daerah yang dibatasi oleh kontur kecil di
tengah) diberi nama 1214%, artinya bahwa 12-14% dari semua titik yang diperlihatkan oleh gambar 5-10 terletak pada suatu
daerah yang luasnya sama dengan 1% dari luas total diagram. Jadi, jika suatu lingkaran kecil yang luasnya 1% luas lingkaran
proyeksi diletakkan di atas daerah tersebut, maka jumlah titik yang terlingkupinya sama dengan 1214% dari jumlah semua titik
yan gada dalam diagram tersebut. Angka itu disebut angka maksimum. Suatu angka maksimum tidak perlu merupakan nilai
rata-rata atau mean dari titik-titiknya. Karena pada diagam tersebut diperlihatkan bahwa secara keseluruhan jurus perlapisannya
berarah timurlaut dengan kemiringan ke arah baratlaut, maka lapisan-lapisan yang diwakilinya mungkin merupakan sayap
tenggara dari sinklin, sayap baratdaya dari suatu sinklin yang telah terbalik, atau merupakan kumpulan siklin dan lipatan-lipatan
terbalik yang bidang sumbunya miring ke arah baratdaya.
Preparasi diagram kontur dari diagram titik dilukiskan oleh gambar 5-12. Selembar tracing paper diletakkan di atas diagram
titik. Center counter, CC gambar 5-12, mempunyai lubang di bagian tengahnya. Luas lubang itu sama dengan 1% luas diagram.
Jadi, apabila jari-jari diagram itu 100 cm, maka jari-jari lubang itu adalah 1 cm. Ada 200 titik yang dirajahkan pada gambar 5-12
(beberapa titik tertutupi oleh counter). Enam diantaranya tersebut terletak di dalam CC; 6 titik sama dengan 3% dari 200 titik, lalu
angka 3 dituliskan pada pusat lubang tersebut. Dengan cara yang sama kita hitung prosentase seluruh diagram itu sedemikian
rupa sehingga akhirnya akan didapatkan titik-titik prosentase. Agar perhitungan dapat dilakukan secara sistematis, sebaiknya
kita meletakkan suatu jaring di atas diagram titik tersebut, dimana jarak antar garis-garis jaring adalah 1/10 jari-jari lingkaran
diagram. Perhitungan sistematis dilakukan dengan cara menggeserkan CC ke kanan, kiri, atas, dan bawah sejauh satu jaring.
Jadi, suatu titik yang ada dalam diagram itu mungkin akan terhitung lebih dari sekali.
Titik-titik yang terletak pada atau dekat garis lingkaran proyeksi dihitung dengan menggunakan metoda pendekatan khusus.
Suatu peripheral counter (PC, pada gambar 5-12) digunakan untuk menghitung titik-titik seperti itu. Setengah dari lingkaran PC
akan terletak pada posisi yang berlawanan. Perhitungannya sendiri adalah dengan cara menjumlahkan titik-titik yang terjaring
pada kedua lingkaran itu. Pada gambar 5-12, jumlah titik yang terjaring adalah 8 (3 dalam lingkaran baratlaut dan 5 dalam
lingkaran tenggara). Delapan titik sama dengan 4% dari jumlah total titik. Angka yang disebut terakhir ini kemudian dirajahkan
pada kedua titik tengah lubang PC.
Setelah semua bagian lingkaran terhitung, kita akan mendapatkan suatu gambar yang terdiri dari titik-titik nilai prosentase.
Selanjutnya kita dapat membuat garis-garis kontur yang mewakili nilai-nilai prosentase itu. Caranya sama dengan cara pembuatan kontur topografi. Gambar 7-5 dan 7-6 merupakan contoh dari diagram titik dan diagram kontur yang dibuat dari diagram titik
tersebut.
Perlu diketahui bahwa baik CC maupun PC dapat dibuat sendiri dari kertas, karton, celluloid, atau bahan lain. Satu syarat
dari material yang digunakan adalah dimensinya relatif tetap pada kisaran temperatur dan tekanan atmosfir (agar tidak berubah).
5.5 DIAGRAM BETA
Diagram beta menampilkan proyeksi bidang, bukan proyeksi titik yang tegak lurus terhadap bidang itu. Tunjaman lipatan
dapat dihitung bila kedudukan perlapisan pada sayap yang berlawanannya diketahui. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada
jaring sama-luas, tentu saja dengan menggunakan belahan bola bagian bawah.
Gambar 5-13 adalah proyeksi dari tiga bidang perlapisan yang diperlihatkan pada gambar 4-6B. Ketiga busur itu saling
memotong pada suatu titik yang kemudian kita sebut titik . Perpotongan itu menunjukkan bahwa lipatannya menunjam ke
selatan. Sudut penunjaman itu sendiri ditentukan dengan cara memutarkan garis yang menghubungkan dengan pusat
diagram hingga sejajar dengan garis vertikal jaring. Dalam gambar itu, penunjaman adalah 26 o, suatu nilai jarak (dalam derajat)
dari lingkaran luar ke titik .
Jumlah titik potong dalam diagram itu adalah
n(n 1)
2

(5-4)
dimana n adalah jumlah bidang.
Gambar 5-14 adalah contoh dari New Zealand (Robinson dkk, 1963). Gambar 5-14A adalah diagram pi untuk titik-titik kutub
yang tegak lurus terhadap 22 bidang perlapisan dan skistositas. Girdle relatif berarah timurlaut-baratdaya dan melalui pusat

34

Geologi Struktur (Billings, 1972)

diagram. Hal itu mengindikasikan bahwa sumbu lipatannya horizontal dengan arah relatif baratdaya-tenggara. Gambar 5-14B
memperlihatkan jejak 22 bidang itu pada jaring sama-luas. Pada gambar itu terdapat 231 titik potong. Gambar 5-14C merupakan
diagram kontur dari 231 titik potong. Pada gambar itu terlihat bahwa 25% titik potong terkonsentrasi pada sudut baratdaya dan
tenggara. Hal itu mengindikasikan bahwa sumbu lipatannya berarah baratlaut-tenggara dan horizontal (tidak menunjam).
Diagram beta juga memiliki beberapa keterbatasan dalam hal penafsirannya. Keterbatasan itu sama dengan keterbatasan
yang dimiliki oleh diagram pi.
5.6 PEMAKAIAN KOMPUTER DALAM GEOLOGI
Banyak masalah geologi dapat dianalisis dengan komputer (Smith, 1966; Merriam, 1969). Ada empat teknik analisis geologi
yang menggunakan komputer, yaitu statistika, korelasi dan klasifikasi, trend analysis, dan simulasi (Merriam, 1969). Banyak
teknik tersebut, meskipun telah diperkenalkan sebelum 1960, sukar dilaksanakan karena pada waktu itu komputer tidak dapat
ditemukan semudah masa sekarang.
Dalam geologi struktur, statistika sebagian besar digunakan utnuk menganalisis unsur-unsur terarah dan kebenaannya.
Korelasi dan klasifikasi terkait dengan geologi struktur karena stratigrafi, dalam banyak hal, merupakan dasar bagi analisis
struktur. Trend analysis dalam geologi struktur terutama diarahkan pada penentuan bentuk dan bidang, baik sebelum maupun
setelah deformasi. Simulasi merupakan analisis matematis model-model dengan menggunakan komputer. Model-model seperti
itu lebih lengkap dan lebih cepat diperoleh dibanding model fisika yang dibuat secara manual.
Dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan bagaimana komputer dapat digunakan dalam geologi struktur. Penyusunan
programnya sendiri berada di luar lingkup buku ini; saudara dapat mencari sendiri dalam buku-baku rujukan yang banyak
beredar. Jadi, disini penulis hanya akan menunjukkan beberapa contoh yang diperoleh dari hasil pemakaian komputer.
Tujuan utama penggunaan komputer adalah untuk menghemat waktu dalam menganalisis sesuatu, terlebih untuk masalahmasalah yang tidak jarang sukar atau bahkan tidak mungkin dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya,
kadang-kadang ada juga permasalahan yang justru lebih cepat dikerjakan dengan menggunakan metoda aljabar atau grafik
sederhana.
Data yang menjadi masukan bagi program adalah data struktur, berupa data kedudukan, yang diubah menjadi sandi. Hasilhasil pengolahan data komputer dapat ditampilkan dalam bentuk angka, peta, penampang, atau gambar yang bergerak. Berikut
ini akan dikemukakan suatu contoh pemakaian komputer tersebut.
5.7 PEMBUATAN DIAGRAM PI DAN DIAGRAM BETA DENGAN KOMPUTER
Diagram pi dapat dibuat dengan komputer (Warner, 1969). Bahan dasar yang digunakan sebagai masukan adalah data jurus
dan kemiringan gejala planar. Salah satu contoh dapat dilihat pada gambar 5-15. Data yang dimasukkan pada contoh itu adalah
162 pengukuran bidang perlapisan. Masalah yang ingin dipecahkannya adalah: ada tidaknya pengarahan dari bidang-bidang
perlapisan tersebut. Seperti yang diperoleh dari hasil penyusunan diagram pi secara manual, rajahan-rajahan didasarkan pada
titik-titik yang tegak lurus terhadap bidang itu. Hasil analisis itu dapat berupa:
1. Jaring sama-luas yang dibagi menjadi seratus atau lebih daerah kecil yang luasnya sama. Cetakan akan dibuat dalam
bentuk deretan angka-angka kutub untuk setiap daerah kecil. Angka-angka itu selanjutnya diubah menjadi jaring secara
manual dan dibuat garis konturnya secara manual.
2. Jaring sama-luas seperti di atas, namun angka yang ditampilkan berupa nilai prosentase.
3. Angka-angka prosentase itu dicetak dalam suatu jaring oleh komputer. Contohnya gambar 5-15. Huruf A hingga F menyatakan angka 10 hingga 15. Pembuatan konturnya sendiri dilakukan secara manual.
4. Kontur dicetak langsung oleh komputer.
Gambar 5-15 memperlihatkan jurus rata-rata adalah utara, tetapi kemiringannya bervariasi, dengan konsentrasi terbesar
pada arah 60B.
Diagram beta juga dapat dibuat dengan komputer (Robinson dkk, 1963; Lam, 1969). Karena jumlah garis potong akan
meningkat secara cepat dengan bertambahnya jumlah bidang, maka metoda manual sangat sukar dilakukan untuk bidang yang
lebih dari 25 buah. Gambar 5-16 memperlihatkan dua diagram beta untuk dua daerah yang berbeda di Massachusetts utaratengah.
Gambar 5-16A adalah diagram beta yang dibuat berdasarkan 162 bidang perlapisan-foliasi yang menghasilkan 13.041 titik
potong. Dalam kasus ini, jumlah titik potong pada setiap bagian dicetak dalam bentuk tabel. Data itu kemudian diubah menjadi
bentuk prosentase, dimasukkan kembali pada setiap bagian jaring sama-luas, kemudian dibuat garis konturnya secara manual.
Tunjaman sumbu lipatan, rata-rata, adalah 20 oU, 10oT. Pada gambar 5-16B, 120 bidang (7140 titik potong) yang ada di tempat
itu mengindikasikan sumbu lipatan dengan tunjaman rata-rata 10 o pada arah S10T.
Penggunaan komputer dalam memecahkan masalah geologi struktur yang lain akan dikemukakan pada bab-bab lain.
5.8 PETA KONTUR STRUKTUR

35

Geologi Struktur (Billings, 1972)

Kontur struktur (structure contour), contohnya dapat dilihat pada gambar 5-17, merupakan salah satu cara terbaik untuk
menampilkan lipatan dalam bentuk tiga dimensi. Peta tersebut dapat dibaca seperti kita membaca peta topografi. Kontur itu
didasarkan pada suatu horizon tunggal, misalnya puncak atau dasar beberapa lapisan tertentu. Posisi setiap lapisan diacukan
pada suatu datum, biasanya permukaan air laut rata-rata. Karena horizon kunci dapat menyebar ke daerah yang letaknya lebih
rendah daripada muka air laut rata-rata, maka kontur negatif bukan hal yang jarang ditemukan. Suatu bagian horizon memiliki
kemiringan yang tinggi apabila kontur-kontur yang merepresentasikannya relatif rapat. Pada gambar 5-17, selang kontur adalah
25 kaki, dan setiap 100 kaki kontur diberi tanda. Struktur yang diperlihatkan oleh gambar tersebut adalah suatu antiklin yang
menunjam ke dua arah dan di bagian tenggaranya dibatasi oleh sebuah sinklin yang menunjam ke arah timurlaut. Sayap
tenggara dari antiklin, karena kontur strukturnya relatif rapat, lebih curam dibanding sayap baratlaut yang konturnya lebih
renggang. Tunjaman antiklin di sebelah baratdaya lebih landai dibanding tunjamannya di timurlaut. Apabila seseorang tahu skala
peta itu, maka dia dapat menentukan kemiringan pada suatu tempat. Pada sayap baratlaut antiklin, kontur turun dari 200 kaki
menjadi 100 kaki. Karena kedua kontur itu berjarak lebih kurang 1 mil, maka kemiringan sayap ini lebih kurang 1 o.
Peta kontur struktur secara khusus sangat bermanfaat di daerah-daerah dimana kemiringannya rendah. Sebenarnya peta
tersebut sukar ditafsirkan jika stratanya telah terbalik. Karena itu, kadang-kadang ada ahli yang membuat garis putus-putus
untuk menunjukkan kontur dari strata yang telah terbalik sehingga hal itu diharapkan akan memudahkan proses penafsiran.
Peta kontur struktur didasarkan pada dua jenis data. Di daerah yang tatanan geologinya relatif sederhana, peta itu dapat
dibuat dari hasil pengamatan permukaan saja. Dari data jurus dan kemiringan lapisan dapat diperkirakan ketinggian relatif suatu
lapisan kunci terhadap muka air laut pada suatu lokasi tertentu.
Tidak sedikit peta kontur struktur dibuat berdasarkan data bawah permukaan. Data yang dibutuhkan adalah lokasi sumur
dan ketinggian lapisan kunci dalam setiap sumur, relatif terhadap muka air laut rata-rata. Jenis informasi terakhir ini dapat
diperoleh dengan cara menghitungnya dari ketinggian puncak sumur, kedalaman lapisan kunci, atau mungkin (jika lapisannya
tidak tercapai), dari jarak vertikal lapisan kunci di bawah suatu lapisan yang dapat dikenal.
Sebenarnya komputer juga dapat digunakan untuk membuat peta kontur struktur. Hasil-hasilnya dapat ditampilkan dalam
salah satu bentuk di bawah ini:
1. Tabel ketinggian lapisan kunci.
2. Titik-titik ketinggian dalam bentuk peta, kemudian dapat dibuat diagram konturnya secara manual.
3. Kontur struktur.
Apabila strukturnya sederhana dan jarak antar sumur relatif dekat, maka peta yang dihasilkan akan sangat akurat.
Trend surface analysis digunakan dalam geologi sebagai metoda statistika untuk menunjukkan variasi sifat batuan dari satu
tempat ke tempat lain. Contohnya adalah variasi besar butir dalam suatu lapisan pasir. Diameter rata-rata dari butiran dapat
berkurang dengan makin jauhnya suatu endapan dari daerah sumber dan juga dapat bertambah ke atas (dalam suatu lapisan).
Dalam geologi struktur, trend surface analysis terutama ditujukan untuk mengetahui variasi bentuk suatu bidang tertentu, misalnya suatu ketidakselarasan atau horizon stratigrafi. Masalahnya adalah menentukan, secara matematis, geometri bidang
tersebut (trend surface-nya) yang paling sesuai dengan bidang aktualnya. Sederetan lipatan dapat terdiri dari dua komponen
yang, secara dua dimensi, dapat ditampilkan sebagai dua kurva sinusoidal (gambar 5-18A). Dalam pandangan tiga dimensi,
struktur tersebut dapat ditampilkan dalam bentuk kurva sinusoidal tiga komponen (gambar 5-18B).
Salah satu masalah geologi struktur adalah menentukan berbagai komponen tersebut di atas dalam peta kontur struktur
(Robinson & Charlesworth, 1969). Gambar 5-19A adalah suatu peta kontur struktur pada apa yang disebut sebagai ketidakselarasan pra-Kapur di Alberta. Pada gambar 5-19B jurus dan kemiringan regional daerah tersebut telah disaring sedemikian
rupa sehingga hanya gejala-gejala dengan ukuran minimum antara 10-40 mil dan relief lebih dari 100 kaki saja yang diperlihatkan. Dari gambar itu dapat diketahui bahwa bidang datar yang merepresentasikan ketidakselarasan sebenarnya memiliki
kemiringan 0,05o ke arah baratdaya. Daerah-daerah yang diberi tanda hitam merupakan keratan-keratan (bumps) bidang
tersebut, sedangkan daerah yang diberi tanda abu-abu adalah depresinya. Keratan-keratan itu dapat menjadi jebakan minyak.
5.9 PENGHITUNGAN KEDALAMAN PERLIPATAN
Kedalaman perlipatan (the depth of folding) pada kondisi tertentu dapat dihitung. Pada gambar 5-20A diasumsikan bahwa
persegi panjang vertikal dl berubah menjadi persegi panjang b(d + h), tetapi luasnya tetap. Jadi:
dl b(d h)

(5-4)

Dengan beberapa perubahan, konsep yang sama dapat diperluas untuk sabuk-sabuk lipatan. Diasumsikan bahwa tidak terjadi
pemanjangan maupun pemendekan pada arah yang sejajar dengan sumbu lipatan dan bahwa batuan-batuan tidak berubah
volumenya. Tanda b adalah simbol lebar daerah yang terlipat; l adalah lebar awal sebelum terdeformasi, diukur di sepanjang
lapisan tertentu yang ada dalam sabuk lipatan; h adalah jumlah pengangkatan akibat perlipatan.
Pada gambar 5-20B, garis hitam tebal melukiskan suatu lapisan tunggal. Pada ujung kiri penampang ada garis itu datar dan
tidak terlipatkan. Di sabuk lipatan telah terjadi pengangkatan dari posisi semula (posisi semulanya digambarkan sebagai garis
putus-putus). Nilai pengangkatan rata-rata, h, dapat ditentukan dengan beberapa cara. Cara termudah adalah dengan mengukur

36

Geologi Struktur (Billings, 1972)

pengangkatan aktual pada selang-selang jarak tertentu, kemudian dihitung rata-ratanya. Semua faktor dalam persamaan telah
diketahui, kecuali d. Biasanya persamaan yang digunakan adalah:
d

bh

(5-5)

l b

d adalah nilai kedalaman perlipatan dihitung dari lapisan yang horizontal.


Ada beberapa asumsi yang melandasi perhitungan di atas. Dua diantaranya adalah:
1. Bahwa ada suatu bidang batas tajam antara batuan terlipat (atas) dengan batuan tidak terlipat (bawah). Dengan kata lain, diasumsikan bahwa ada suatu dcollement. Apabila lipatan secara berangsur hilang ke bawah, perhitungan itu akan salah,
dan kedalaman terhitung akan lebih rendah dari kedalaman sebenarnya.
2. Bahwa strata tidak mengalami penurunan akibat perlipatan. Hal ini perlu diingat karena pada banyak sabuk lipatan diketahui
bahwa batuan dasar mengalami penurunan akibat kompresi horizontal. Jika hal ini terjadi, maka nilai h yang dihitung lebih
rendah dari nilai sebenarnya. Dengan demikian, nilai kedalaman sebenarnya harus lebih tinggi daripada nilai kedalaman
terhitung.
Kedalaman lipatan di Pegunungan Jura telah dihitung. Dalam kasus tersebut, metoda di atas dapat diterapkan karena di
daerah tersebut lapisan batuan sedimen yang relatif tipis dipisahkan oleh suatu dcollement dari batuan dasar kristalin.
RUJUKAN
Doell, RR dan RE Altenhofen. 1960. Preparation of an Accurate Equal-Area Projection. USGS Prof. Paper 400B. Hlm. 27-29.
Greene, R. 1970. The Geology of the Peterborough Quadrangle, New Hampshire. Bulletin of the New Hampshire Dept. Resources and Economic Development
No. 4. 88 h.
Krumbein, WC dan FA Graybill. 1965. An Introduction to Statistical Models in Geology. New York: McGraw-Hill. 475 h.
Lam, PWH. 1969, Computer method for plotting beta diagrams. Amer. Jour. Sci. 267:1114-1117.
McIntyre, DB. 1966. Trend-surface analysis of noisy data. Kansas Geol. Surv. Computer Contribution No. 7. Hlm. 45-56.
Merriam, DF (ed.) 1969. Computer Applications in Earth Sciences. New York: Plenum Press. 282 h.
Merriam, DF. 1969. Computer utilization by geologists. Kansas Geol. Surv. Computer Contribution No. 40. Hlm. 1-40.
OLeary, M, RH Kipport, dan OT Spitz. 1966. Fortan IV and Map Program for Computation and Plotting of Trend Surfaces for Degrees 1 through 6. Kansas Geol.
Surv. Computer Contribution No. 3. 47 h.
Robinson, JE dan HAK Charlesworth. 1969. Spatial Filtering Illustrates Relationship between Tectonic Structure and Oil Occurrence in Southern and Central
Alberta. Kansas Geol. Surv. Computer Contribution No. 40. Hlm. 13-18.
Robinson, P dkk. 1963. Preparation of beta diagrams in structural geology by a digital computer. Amer. Jour. Sci. 261:913-928.
Smith, FG. 1966. Geological Data Processing Using Foltran IV. New York: Harper & Row. 284 h.
Warner, J. 1969. Fortran IV Program for Construction of Pi-Diagram with the Univac 1108 Computer. Kansas Geol. Suv. Computer Contribution No. 22. 38 h.

37