Anda di halaman 1dari 16

1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GANGGUAN KEPRIBADIAN

MAKALAH

oleh:
KELOMPOK 3

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GANGGUAN KEPRIBADIAN

MAKALAH
disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik VIII
Dosen Pengampu: Ns. Emi Wuri Wuryaningsih, M. Kep., Sp. Kep.J.

Oleh:
Reny Dwi Nurmasari
Umamul Faqih Nurul Y.

122310101032
122310101044

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor
badaniah atau organobiologi, emosional, sosial dan faktor intelektual. Gangguan
kepribadian berbeda dari perubahan kepribadian dalam waktu dan cara terjadinya dan
gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan, yang timbul pada masa
kanak atau remaja dan berlanjut pada masa dewasa. Gangguan kepribadian bukan
keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau penyakit otak, meskipun dapat
mendahului dan timbul bersamaan dengan gangguan lain. Sebaliknya, perubahan
kepribadian adalah suatu proses yang didapat, biasanya pada usia dewasa, setelah stress
berat atau berkepanjangan, depresi lingkungan yang ekstrem, gangguan jiwa yang
parah atau penyakit/cedera otak.
Hingga sekarang sudah banyak teori tentang kepribadian dikemukakan.
Perbedaan yang ada lebih banyak ditekankan pada tekanan yang diberikan pada salah
satu aspek struktur atau fungsi kepribadian atau pada faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang
terhimpun ke dalam dirinya baik yang datang dari lingkunganya (dunia luarnya),
maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia dalamnya), sehingga corak perilakunya
itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi manusia itu. Dengan
mempelajari perilaku dan sifat-sifat kepribadian seseorang, maka kita dapat mengalami
kepribadian yang

sebenarnya. Kepribadian sangat berbeda dengan watak dan

temperamen. Watak ialah kepribadian yang

diperngaruhi oleh motivasi yang

menggerakkan kemauan sehingga orang bertindak. Tabiat atau temparamen ialah


kepribadian yang lebih tergantung kepada keadaan badaniah.
Gangguan kepribadian meliputi berbagai keadaan dan pola perilaku yang klinis
bermakna yang cenderung menetap dan merupakan ekspresi dari gaya hidup yang khas
dari individu serta cara berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Beberapa dari
keadaan dan pola perilaku ini timbul secara dini dalam masa pertumbuhan atau
perkembangan individu, sebagai hasil dari baik faktor konstitusional maupun
pengalaman sosial, sementara lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai berikut:
1.2.1

1.2.2

Tujuan umum
Mahasiswa keperawatan mampu memahami dengan baik dan menerapkan di
lapangan mengenai asuhan keperawatan klien dengan gangguan kepribadian
Tujuan khusus:
1.2.2.1
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai konsep dasar
mengenai gangguan kepribadian
1.2.2.2
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan kepribadian yang mengacu pada teori Stuart

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian
Gangguan kepribadian atau dikenal dengan

personality disorder

adalah

gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau dinilai negatif oleh
masyarakat. Gangguan kepribadian pada umumnya ditandai oleh masalah-masalah
dimana individu secara tipikal mengalami kesukaran dalam melaksanakan kehidupan
dengan orang lain sebagaimana yang ia kehendaki. Orang yang mengalami gangguan
kepribadian ini melihat orang lain sebagai hal yang membingungkan, tidak jelas dan
tidak dapat diduga. Dan begitu pula sebaliknya, ia akan melakukan tindakan sosial
secara membingungkan. (Sutarjo, 2007).
Adapun definisi gangguan kepribadian yang ada dalam DSM IV seperti yang
telah dijelaskan oleh Sutarjo A. Wiramiharja dalam salah satu bukunya adalah sifat-sifat
dalam kepribadian yang merupakan pola-pola berkelanjutan dalam hal mempersepsi,
menanggapi, berelasi, atau berpikir mengenai lingkungan dan dirinya sendiri sehingga
ditampilkan dalam rentang yang luas mengenai konteks-konteks pribadi dan sosial yang
penting.
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di
mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak
berfungsi. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat
menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subyektif maka
dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
gangguan kepribadian merupakan suatu jenis penyakit yang menyerang mental yang
mana terjadi ketidakberfungsian cara berfikir, memahami situasi, dan cara berhubungan
dengan orang lain sehingga individu mengalami kesukaran dalam melaksanakan
kehidupan dengan orang lain sebagaimana yang ia kehendaki.
Sedangkan konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalalm
berhubungan dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 2005). Konsep diri merupakan citra
subjektif dari diri dan percampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi
bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memberikan kita kerangka acuan yang
mempengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain
(Potter & Anne, 2005). Individu dengan konsep diri positif dapat berfungsi lebih efektif

yang terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektal dan penguasaan


lingkungan. Konsep diri yang negated dapat dilihat dari hubungan sosial yang
maladaptif.
Gangguan kepribadian ambang (Boderline Personality Disorder) merupakan
salah satu dari jenis-jenis gangguan kepribadian kelompok Dramatic/Erratic Cluster
dimana gangguan kepribadian ini ditandai oleh suatu cakupan ciri perilaku, emosional,
dan kepribadian. Pada intinya gangguan ini mencakup suatu pola pervasif dari
ketidakstabilan dalam hubungan, self-image, dan mood, serta kurangnya kontrol atas
implus. Orang dengan gangguan kepribadian ambang cenderung tidak yakin akan
identitas pribadi mereka, nilai, tujuan, karier, dan bahkan mungkin orientasi seksual
mereka.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa
gangguan identitas pribadi memiliki hubungan dengan gangguan kepribadian, dimana
keduanya sama-sama memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain sehingga hal
ini dapat mengakibatkan individu mengalami kesukaran dalam melaksanakan kehidupan
dengan orang lain sebagaimana yang ia kehendaki. Selain itu gangguan identitas pribadi
juga merupakan salah satu dari jenis-jenis gangguan kepribadian yakni berada dalam
kelompok Boderline Personality Disorder.
2.2 Psikopatologi/ psikodinamika
a. Faktor predisposisi
1) Faktor biologis: 2) Faktor psikologis: Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk
penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistic, orang tua yang
tidak percaya pada anak,. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran,
yaitu peran yang sesuai dengan jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan
peran yang sesuai dengan kebudayaan.
3) Faktor sosiokultural: tekanan teman sebaya dan kultur social yang berubah
b. Faktor presipitasi
1) Stressor psikologis: Penganiayaan sexual dan psikologis atau menyaksikan
kejadian yang mengancam kehidupan. Ketergantungan peran yaitu
berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu
mengalami sebagai frustasi. Transisi peran sehat sakit: Sebagai akibat

pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin


dicetuskan oleh :
a) Kehilangan bagian tubuh
b) Perubahan ukuran, bentuk dan fungsi tubuh
c) Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal
d) Prosedur medis dan keperawatan
2) Stressor sosial budaya :
Transisi peran perkembangan :Perubahan normatif yang berkaitan dengan
pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan individu dan
norma budaya nilai dan tekanan untuk penyesuaian diri.
Transisi peran situasi: Terjadi dengan bertambahnya atau berkurangnya
anggota keluarga, (Stuart, 2006).
c. Respon terhadap stress
1) Kognitif: klien serringkali merasa tidak ada percaya diri, sukar mengambil
keputusan, ragu / tidak yakin terhadap keinginan
2) Afektif: klien merasa bergantung terhadap orang lain tidak mampu atau tidak
berani membuat keputusan sendiri.
3) Fisiologis: klien biasanya menunjukkan detak jantung meningkat ketika
dihadapkan pada suatu keputusan.
4) Perilaku: seringkali menyalahkan orang lain
5) Sosial: Masalah dalam hubungan interpersonal.
d. Kemampuan mengatasi masalah/sumber koping
1) Kemampuan personal: kemampuan yang diharapkan pada klien dengan
gangguan identitas diri yaitu kemampuan untuk meningkatkan rasa percaya
diri terhadap identitasnya sehingga merasa yakin pada identitasnya sendiri.
Kemampuan lanjutan yang harus dikuasai untuk mengatasi gangguan
identitas diri adalah kemampuan meningkatkan rasa percaya diri dan berani
mengambil keputusan.
2) Dukungan sosial: adalah dukungan untuk individu yang di dapat dari
keluarga, teman, kelompok, atau orang-orang disekitar klien dan dukungan
terbaik yang diperlukan oleh klien adalah dukungan keluarga.
3) Asset material: ketersediaan materi antara lain yaitu akses pelayanan
kesehatan, dana atau finansial yang memadai, asuransi, jaminan pelayanan
kesehatan dan lain-lain.
4) Keyakinan positif: merupakan keyakinan spiritual dan gambaran positif
seseorang sehingga dapat menjadi dasar dari harapan yang dapat
mempertahankan koping adaptif walaupun dalam kondisi penuh stressor.
Keyakinan yang harus dikuatkan pada klien gangguan identitas diri adalah

keyakinan untuk menjadi percaya terhadap drinya sendiri dan mampu


mengambil setiap keputusan.
e. Mekanisme koping
Rentang Respon Konsep Diri
Respon adaptif

Respon maladaptif

Aktualisasi
Depersona
Konsep
Harga diri
Kerancuan
Keterangan dari
konsep
diri:
diri rentang respon
lisasi
rendah
diri positif
identitas
1) Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan
latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
2) Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam
beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang negative dari
dirinya.
3) Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk menilai dirinya negative
dan merasa lebih rendah dari orang lain.
4) Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek
identitas masa kanak-kanak ke dalam kematangan aspek psikososial
kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
5) Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri
sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat
membedakan dirinya dengan orang lain.
Gangguan identitas personal berada pada rentang paling dekat dengan
respon maladaptif yakni keracunan identitas sehingga masalah gangguan
identitas

personal

merupakan

respon

maladaptif

dimana

respon

ini

menimbulkan adanya gangguan dengan berbagai tingkat keparahan.


2.3 Diagnosa yang dapat muncul
Diagnosa keperawatan:
Gangguan identitas pribadi
2.4 Intervensi
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Gangguan identitas pribadi
NOC:
Definisi:
ketidakmampuan a. Identity
mempertahankan persepsi diri yang b. Body image
c. Comfort status: psycho
utuh dan terintegrasi
spiritual
Batasan karakteristik
d. Self-awareness
a. Sifat personal kontradiktif
e. Distorted thought selfb. Deskripsi waham tentang diri
control
sendiri

Intervensi
NIC:
Self-awareness Enhancement
a. mendorong
pasien
untuk
mengenali dan mendiskusikan
pemikiran dan perasaan
b. membantu
pasien
untuk
menyadari bahwa setiap orang
adalah unik

c.
d.
e.
f.
g.

Gangguan citra tubuh


f. Role performance
Kebingungan gender
Kriteria hasil:
Ketidakefektifan koping
a. Identitas diri: mampu
Gangguan hubungan
membedakan antara diri
Ketidakefektifan
performa
sendiri dan orang lain
peran
serta
ciri
esensi
h. Merasa kosong
seseorang
i. Merasa aneh
j. Perasaan yang berfluktuasi b. Body image: mampu
mempersepsikan
tentang diri sendiri
penampilan sendiri dan
k. Ketidakmampuan
fungsi tubuh
membedakan stimulus internal
c.
Status
psikospiritual:
dan eksternal
mampu
memahami
Faktor yang berhubungan:
konsep
diri,
a. Harga diri rendah kronik
kesejahteraan emosional,
b. Indoktrinasi pemujaan
sumber inspirasi, makna,
c. Diskontinuitas budaya
dan
tujuan
dalam
d. Diskriminasi
kehidupan
seseorang.
e. Disfungsi proses keluarga
diri:
f. Mengkonsumsi
zat
kimia d. Kesadaran
mengakui
kekuatan,
toksik
keterbatasan, nilai-nilai,
g. Inhalasi zat kimia toksik
perasaan, sikap, pikiran,
h. Gangguan kepribadian ganda
i. Sindrom otak organic
dan perilaku seseorang
j. Prasangka
dalam hubungan dengan
k. Gangguan psikiatrik (mis:
lingkungan dan lain-lain.
psikosis, depresi, gangguan e. Kontrol diri: menahan
disosiatif)
diri
dari
gangguan
l. Krisis situasional
persepsi, proses berpikir,
m. Harga diri rendah situasional
dan konten berpikir.
n. Perubahan peran sosial
f. Kinerja peran: mampu
o. Tahap perkembangan
menyesuaikan
antara
p. Tahap pertumbuhan
kesesuaian
perilaku
q. Penggunaan obat psikoaktif
peran individu dengan
harapan peran

c. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi nilai-nilai yang
berkontribusi terhadap konsep diri
d. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi perasaan biasa
tentang diri
e. observasi saham atau pikiran
tentang perilaku pasien atau
respon
f. memfasilitasi identifikasi pasien
pola respon biasa untuk berbagai
situasi
g. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi prioritas hidup
h. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi dampak penyakit
pada konsep diri
i. verbalisasi penolakan pasien
realitas, yang sesuai
j. menghadapi ambivalen (marah
atau depresi) perasaan pasien
k. membuat pengamatan tentang
kondisi emosional pasien saat ini
l. membantu pasien untuk menerima
ketergantungan pada orang lain,
yang sesuai
m. membantu
pasien
untuk
mengubah tampilan diri sebagai
korban dengan mendefinisikan
hak sendiri, yang sesuai
n. membantu
pasien
untuk
menyadari pernyataan diri yang
negatif
o. mengidentifikasi
perasaan
bersalah
p. membantu
pasien
mengidentifikasi situasi yang
memicu kecemasan
q. mengeksplorasi dengan pasien
kebutuhan untuk mengontrol
r. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi atribut positif
diri
s. membantu pasien / keluarga untuk
mengidentifikasi alasan untuk
perbaikan
t. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi abillities, gaya

10

u.
v.
w.

x.
y.

belajar
membantu pasien untuk menguji
kembali persepsi negatif diri
membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi sumber motivasi
membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi perilaku yang
merusak diri sendiri
memfasilitasi ekspresi diri dengan
peer group
membantu
pasien
untuk
mengenali
pernyataan
yang
kontradiktif

2.5 Contoh kasus


An. R merupakan anak laki-laki dari pasangan keluarga kaya yang saat ini sudah
berumur 19 tahun dan duduk di bangku kuliah. An. R merupakan anak tunggal jadi
orang tuanya bersikap sangat over protektif terhadap an. R. semua yang dikatakan orang
tuanya harus dipenuhi karena orang tuanya ingin menjadikan an. R sebagai anak yang
dapat membanggakan orang tua sesuai dari keinginan orang tuanya. Orang tuanya selalu
khawatir ketika an. R ingin melakukan sesuatu, bahkan hampir semua urusan an. R
diketahui oleh orang tuanya. Akhir-akhir ini An. R bersikap sedikit aneh karena setiap
harinya dia suka menyendiri. Selain itu kadang-kadang dia suka memakai baju
perempuan disaat santai. Semakin hari kebiasaan ini semakin dirasakan nyaman oleh
An. R sehingga pada kesehariannya ia selalu berpakaian layaknya seorang wanita.
Ternyata hal itu dilakukan sebagai ungkapan kekesalannya terhadap orang tuanya yang
selalu mengaturnya, sikapnya yang seperti itu menunjukkan dia takut berbicara secara
pribadi dengan orang tuanya yang semakin lama hanya membuat keadaan an. R
semakin terpuruk.
2.6 Analisis kasus
a. Pengkajian
1) Identitas pribadi
Meliputi nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, golongan darah, tanggal pengkajian, dn
lain sebagainya.
2) Keluhan utama: An. R merasa tidak berani mengambil keputusan/protes
sehingga bertingkah aneh

11

3) Pengkajian psikopatologi/psikodinamika
a) Faktor predisposisi
(1) Faktor biologis: nutrisi klien tidak terpenuhi dengan baik karena An.
R menolak untuk makan dan kebanyakan merenung.
(2) Faktor psikologis: tekanan orang tua yang terus menerus menuntut
anaknya untuk menjadi seperti yang diinginkan.
(3) Faktor sosiokultural: seusia An. R (19 tahun) merupakan masa
pencarian jati diri, jadi sangat rentan terhadap masalah mentalnya.
b) Faktor presipitasi
(1) Stressor psikologis
Tekanan orang tua yang terus menerus dilakukan terhadap an. R.
(2) Stressor sosial budaya
Anak R dan orang tuanya memang kurang terbuka dalam hal
komunikasi antar keluarga.
c) Respon terhadap stress
(1) Kognitif: An. R merasa takut, hampa, merasa ragu-ragu dan tidak
percaya diri.
(2) Afektif: An. R terlihat sering menyendiri, tatapan kosong dan
menghindar dari orang-orang disekitarnya.
(3) Fisiologis: An. R terlihat tidak nafsu makan, tidak beraktifitas seperti
biasanya, kurang berenergi.
(4) Perilaku: An. R terlihat lebih suka menyendiri dan berdiam diri di
dalam kamarnya dengan tingkah yang aneh yaitu dengan berpakaian
wanita.
(5) Social: An. R mengurung diri diri di kamarnya, An. R menjadi anak
yang acuh terhadap kondisinya, An. R menolak untuk bermain dengan
teman-temannya karena takut dimarahi oleh orang tuanya.
d) Kemampuan mengatasi masalah/sumber koping
(1) Kemampuan personal: klien tidak mampu atau takut menggunakan
kemampuan personalnya untuk berinteraksi dengan orang lain.
(2) Dukungan sosial: klien kurang mendapatkan dukungan dari keluarga
teman ataupun orang-orang disekitarnya.
(3) Asset material: klien dan keluarganya merupakan keluarga dengan
ekonomi menengah ke atas sehingga ia tidak mengalami kesulitan
dalam mengakses pelayanan kesehatan.
(4) Keyakinan positif: semenjak suka menyendiri, klien menjadi jarang
beribadah dan memiliki motivasi yang kurang karena tidak adanya
dukungan penuh dari orang-orang disekitarnya.

12

e) Mekanisme koping
Berdasarkan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, pada rentang
respon konsep diri dapat disimpulkan bahwa klien mengalami respon
yang

maladaptif

yakni

perilaku

gangguan

identitas

diri. Yaitu

ketidakpastian memandang diri sendiri. Penuh dengan keraguan, sukar


menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.
4) Diagnosa keperawatan
Gangguan identitas pribadi berhubungan dengan gangguan kepribadian ganda
5) Intervensi keperawatan
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Gangguan identitas pribadi
NOC:
Definisi:
ketidakmampuan a. Identity
mempertahankan persepsi diri yang b. Body image
c. Comfort status: psycho
utuh dan terintegrasi
spiritual
d. Self-awareness
e. Distorted thought selfcontrol
f. Role performance
Kriteria hasil:
g. Identitas diri: mampu
membedakan antara diri
sendiri dan orang lain
serta
ciri
esensi
seseorang
h. Body image: mampu
mempersepsikan
penampilan sendiri dan
fungsi tubuh
i. Status
psikospiritual:
mampu
memahami
konsep
diri,
kesejahteraan emosional,
sumber inspirasi, makna,
dan
tujuan
dalam
kehidupan seseorang.
j. Kesadaran
diri:
mengakui
kekuatan,
keterbatasan, nilai-nilai,
perasaan, sikap, pikiran,
dan perilaku seseorang
dalam hubungan dengan

Intervensi
NIC:
Self-awareness Enhancement
a. Dorong
pasien
untuk
mengenali dan mendiskusikan
pemikiran dan perasaan
b. Bantu pasien untuk menyadari
bahwa setiap orang adalah unik
c. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi nilai-nilai yang
berkontribusi terhadap konsep diri
d. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi perasaan biasa
tentang diri
e. Observasi saham atau pikiran
tentang perilaku pasien atau
respon
f. Fasilitasi identifikasi pasien pola
respon biasa untuk berbagai
situasi
g. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi prioritas hidup
h. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi dampak penyakit
pada konsep diri
i. verbalisasi penolakan pasien
realitas, yang sesuai
j. Hadapi ambivalen (marah atau
depresi) perasaan pasien
k. Buat pengamatan tentang kondisi
emosional pasien saat ini
l. Bantu pasien untuk menerima
ketergantungan pada orang lain,
yang sesuai

13

lingkungan dan lain-lain.


k. Kontrol diri: menahan
diri
dari
gangguan
persepsi, proses berpikir,
dan konten berpikir.
l. Kinerja peran: mampu
menyesuaikan
antara
kesesuaian
perilaku
peran individu dengan
harapan peran

m. Bantu pasien untuk mengubah


tampilan diri sebagai korban
dengan
mendefinisikan
hak
sendiri, yang sesuai
n. Bantu pasien untuk menyadari
pernyataan diri yang negatif
o. Identifikasi perasaan bersalah
p. Bantu pasien mengidentifikasi
situasi yang memicu kecemasan
q. Eksplorasi
dengan
pasien
kebutuhan untuk mengontrol
r. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi atribut positif
diri
s. Bantu pasien / keluarga untuk
mengidentifikasi alasan untuk
perbaikan
t. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi abillities, gaya
belajar
u. Bantu pasien untuk menguji
kembali persepsi negatif diri
v. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi sumber motivasi
w. Bantu
pasien
untuk
mengidentifikasi perilaku yang
merusak diri sendiri
x. Fasilitasi ekspresi diri dengan
peer group
y. Bantu pasien untuk mengenali
pernyataan yang kontradiktif

6) Implementasi keperawatan
Diagnosa
Gangguan identitas diri

Implementasi
a. mendorong pasien untuk mengenali
dan mendiskusikan pemikiran dan
perasaan
b. membantu pasien untuk menyadari
bahwa setiap orang adalah unik

14

c. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi nilai-nilai yang
berkontribusi terhadap konsep diri
d. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi perasaan biasa
tentang diri
e. observasi saham atau pikiran
tentang perilaku pasien atau respon
f. memfasilitasi identifikasi pasien
pola respon biasa untuk berbagai
situasi
g. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi prioritas hidup
h. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi dampak penyakit
pada konsep diri
i. verbalisasi
penolakan
pasien
realitas, yang sesuai
j. menghadapi ambivalen (marah atau
depresi) perasaan pasien
k. membuat pengamatan tentang
kondisi emosional pasien saat ini
l. membantu pasien untuk menerima
ketergantungan pada orang lain,
yang sesuai
m. membantu pasien untuk mengubah
tampilan diri sebagai korban
dengan mendefinisikan hak sendiri,
yang sesuai
n. membantu pasien untuk menyadari
pernyataan diri yang negatif
o. mengidentifikasi perasaan bersalah
p. membantu pasien mengidentifikasi
situasi yang memicu kecemasan
q. mengeksplorasi dengan pasien
kebutuhan untuk mengontrol
r. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi atribut positif diri
s. membantu pasien / keluarga untuk
mengidentifikasi alasan untuk
perbaikan
t. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi abillities, gaya
belajar
u. membantu pasien untuk menguji
kembali persepsi negatif diri
v. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi sumber motivasi

15

w. membantu
pasien
untuk
mengidentifikasi perilaku yang
merusak diri sendiri
x. memfasilitasi ekspresi diri dengan
peer group
y. membantu pasien untuk mengenali
pernyataan yang kontradiktif

7) Evaluasi
Diagnosa Keperawatan
Gangguan identitas diri

Evaluasi
S

: An. R mulai menunjukkan keberanian


dalam menyampaikkan kemauannya

O : An. R terlihat tidak takut dalam berbicara


dengan orang tuanya
A : tujuan tercapai sebagian
P : intervensi dilanjutkan

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gangguan Kepribadian adalah istilah umum untuk suatu jenis penyakit mental di
mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak
berfungsi. Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang respon yang

16

adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang dapat
diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang berlaku, sedangkan respon
maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah
yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya. Klien An. Y berada
dalam rentang respon sosial mal adaptif yakni konsep diri: gangguan identitas diri

3.2 Saran
Salah satu masalah kesehatan jiwa yang sering muncul dan terjadi di kalangan
remaja saat ini adalah masalah gangguan identitas diri. Hal ini dapat diakibatkan karena
banyak hal termasuk hubungan antar keluarga, tekanan orang-orang terdekat. Klien
dengan masalah kejiwaan atau psikologi memiliki kekhususan dalam melakukan
penatalaksanaannya, untuk itu hendaknya para perawat dan calon perawat dapat
memahami dan mempelajari dengan baik cara-cara untuk melakukan asuhan
keperawatan pada klien dengan gangguan kejiwaan atau dalam hal ini gangguan
identitas diri.

DAFTAR PUSTAKA
Potter, Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.
Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2006). Principles and practice of psychiatric nursing. Eight
edition. St. Louis: Mosby Year Book.
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.