Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Penyakit diare masih menjadi penyebab kematian balita terbesar di dunia.

Diare seringkali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan
nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare membunuh
dua juta anak di dunia setiap tahun. Di Indonesia sekitar 162 ribu balita meninggal
setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Penyakit diare di negara maju
walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi
insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan.
Pada umumnya masalah penyakit diare merupakan salah satu penyakit
yang berbasis lingkungan dikarenakan masih buruknya kondisi sanitasi dasar,
lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan
sehat, dan masih banyak faktor penyebab munculnya penyakit diare tersebut.
Kebersihan lingkungan merupakan suatu yang sangat berpengaruh
terhadap kesehatan pada umumnya. Banyaknya penyakit-penyakit lingkungan
yang menyerang masyarakat karena kurang bersihnya lingkungan disekitar
ataupun kebiasaan yang buruk yang mencemari lingkungan tersebut. Hal ini dapat
menyebabkan penyakit yang dibawa oleh kotoran yang ada di lingkungan bebas
tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung yaitu melalui perantara.
Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang telah dikenal sejak jaman
Hippocrates. Sampai saat ini, diare masih merupakan salah satu masalah
kesehatan utama masyarakat Indonesia.
B.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
1

Tujuan
Untuk mengetahui definisi diare
Untuk mengetahui etiologi diare
Untuk mengetahui manifestasi klinik diare
Untuk mengetahui klasifikasi diare
Untuk mengetahui patofisiologi diare
Untuk mengatahui WOC Diare
Untuk mengetahui prognosis dan komplikasi diare
Untuk mengetahui penatalaksanaan diare
Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang diare

j.

Untuk mengetahui terapi diare

BAB II
LANDASAN TEORITIS
A.

Definisi Diare
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang
terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk
tinja yang encer atau cair. (Suriadi,Rita Yuliani, 2001).
Diare didefinisikan sebagai buang air besar lembek atau cair bahkan
dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (3 kali
atau lebih dalam sehari) (Depkes RI Ditjen PPM dan PLP, 2002).

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal


ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari
3 kali sehari dan pada neonates lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa
lendir darah .
B.

Etiologi Diare
Proses terjadinya diare dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya:
1.

Faktor infeksi
Proses ini diawali adanya mikroorganisme yang masuk kedalam
saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan
merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan
usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya
mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorpsi cairan dan
elektrolit , terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit pada dinding
usus. Selanjutnya terjadi peningkatan aktivitas tonus otot usus,
absorbsi aktif Na dari rumen usus menurun dan sekresi aktif Na, Cl,
air dari mukosa usus ke lumen usus meningkat. Peningkatan isi lumen
usus menyebabkan terjadinya hiperperistaltik dan menimbulkan diare.
Pada diare akut :
Diare infeksius dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit.
Transmisi biasanya melalui jalur fekal-oral. Rotavirus dan Norwalk
merupakan agen potagen viral tersering. Salmonella,Shigella,
Yersinia, Campilobacter, dan E.coli patogenik merupakan bakteri
patogen tersering. Giardia lamblia, Crytosporidium, dan Entamoeba
histolytica merupakan parasit patogen utama.
Pada diare kronis :
Walaupun gastroenteritis infeksiosa terjadi secara akut, agen penyebab
tertentu dapat menyebabkan diare yang berkepanjangan. Giardia
lamblia merupakan penyebab infeksius yang sering menimbulkan
diare kronis, walaupun ditemukan juga infeksi kronis akibat
Salmonella, Campylobacter, Clostridium difficile, Yersina dan virus
virus tertentu.

2.
3

Faktor malabsorpsi

Merupakan kegagalan dalam melakukan absorpsi. Diawali dengan


defisiensi enzim yaitu enzim laktose yang menyebabkan terjadinya
malabsorbsi

laktosa,

insufisiensi

lipase

dan

pankreas

yang

menyebabkan malabsorbsi lemak dan abeta lipoproteinemia yang


menyebabkan malabsorbsi protein. Malabsorpsi menyebabkan tekanan
osmotik dalam rongga usus meningkat selanjutnya terjadi pergeseran
air dan elektrolit dalam rongga usus yang merangsang peristaltik dan
menyebabkan hiperperistaltik dan terjadilah diare.
3.

Faktor makanan
Dapat terjadi apabila memakan makananan basi, beracun, & alergi .
Pada makanan yang beracun, toksin tidak dapat diserap lalu toksin
akan merusak vili usus, karena terjadi kerusakan pada vili usus maka
tubuh mensekresi Na dan air dari mukosa usus ke lumen usus
sehingga terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit usus. Terjadi
hiperperistaltik yang menyebabkan kesempatan usus menyerap
makanan menurun dan terjadilah diare.
Faktor makanan bisa terjadi karena sensitivitas terhadap protein susu
dan kedelai. Merupakan alergi gastrointestinal terhadap makanan yang
menyebabkan cidera mukosa.

4.

Faktor psikologis
Seperti rasa takut dan cemas yang dapat mempengaruhi terjadinya
peningkatan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses
penyerapan,

kemampuan

usus

menyerap

makanan

menurun

menyebabkan terjadinya diare


C.

Maniestasi Klinik Diare


Gejala dan tanda :
1.

2.

Gejala umum
Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare
Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut
Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare
Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun,
apatis, bahkan gelisah
Gejala spesifik

Vibrio cholera : diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan
berbau amis
Disenteriform : tinja berlendir dan berdarah
Pada Neonatus dan Bayi
Frekuensi BAB pada bayi lebih dari 3/hari dan pada neonates
lebih dari 4/hari, bentuk cair pada BAB nya kadang-kadang disertai
lendir dan darah, nafsu makan menurun, warnanya lama-kelamaan
kehijauan karena bercampur empedu, muntah, rasa haus, malaise,
adanya lecet pada daerah sekitar anus, feses bersifat banyak asam
laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diserap oleh usus,
adanya tanda dehidrasi (dehidrasi ringan apabila kehilangan 2-5% dari
berat badan atau rata-rata 25 ml/kg bb, dehidrasi sedang apabila
kehilangan caairan 5-8% dari berat badan atau rata-rata 75 ml/kg bb
dan dehidrasi berat apabila kehilangan cairan 8-10% dari berat badan
atau rata-rata 125 ml/kg bb), kemudian dapat terjadi diuresis yang
berkurang (olguria sampai dengan anuria) atau sampai dengan terjadi
asidosis metabolic seperti tampak pucat dengan pernapasan kusmaul.
Manifestasi yang membedakan diare inflamasi dan noninflamasi
Manifestasi
Karakter tijna

Diare inflamasi
Diare noninflamasi
Biasanya volume sedikit,Volume banyak, cair, tanpa

Patologi

mengandung darah dan pus pus atau darah


Inflamasi mukosa kolonUsus halus proksimal

Mekanisme diare

atau ileum distal


Inflamasi

mukosaDiare

mengganggu

absorpsiyang

sekretori/osmotik
diinduksi

cairan dan kemungkinanenterotoksin


efek
Kemungkinan patogen

sekretagog

atau

darimekanisme lainnya. Tidak

produk inflamasi
ada inflamassi mukosa
Shigella,
Salmonella, Kolera, ETEC, EPEC,
Campylobacter,

E.

Coli keracunan makanan tipe

O157, EIEC, Clostridium toksin,


Difficile,
Enterocolitica,
5

oleh

Yersinia Adenovirus,

Rotavirus,
NLV,

E. Cryprosporidia, Giardia.

Hystolitica
EIEC, Enteroinvasive E.Coli, EPEC, Enteropathogenic

E.Coli, ETEC,

Enterotoxigenic E.Coli, NLV, Norwalk-Like Virus


D.

Klasifikasi Diare
Ada beberapa jenis diare, yaitu:
1.

Diare cair akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari
(umumnya kurang dari 7 hari) dengan pengeluaran tinja yang lunak
atau cair yang sering dan tanpa darah, mungkin disertai muntah dan
panas. Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi
merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.

2.

Disentri, yaitu diare yang disertai darah dengan atau tanpa lendir dalam
tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan
dengan cepat, kerusakan mukosa usus karena bakteri invasif.

3.

Diare persisten (kronis), yaitu diare yang mula-mula bersifat akut


namun berlangsung lebih dari 14 hari. Episode ini dapat dimulai
sebagai diare cair atau disentri. Akibat diare persisten adalah penurunan
berat badan dan gangguan metabolisme.

4.

Diare dengan masalah lain. Anak yang menderita diare (diare akut dan
persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain seperti demam,
gangguan gizi, atau penyakit lainnya. Tatalaksana penderita diare ini
berdasarkan acuan baku diare dan tergantung juga pada penyakit yang
menyertainya.
Menurut pedoman MTBS (2000), diare dapat dikrlompokkan menjadi :
Diare akut : terbagi atas diare dengan dehidrasi berat, diare dengan
dehidrasi sedang, diare dengan dehidrasi ringan
Diare persisten : jika diare berlangsung 14 hari atau lebih. Terbagi
atas diare persiten dengan dehidrasi dan persiten tanpa dehidrasi
Disentri : jika diare berlangsung disertai dengan darah
Pedoman MTBS tentang klasifikasi diare

Tanda dan gejala yang tampak


6

Klasifikasi

Terdapat 2 atau lebih tanda dan gejalaDiare dengan dehidrasi berat


berikut :
-

Letargi atau tdk sadar

Mata cekung

Tdk bisa minum atau malas


minum

Cubitan kulit perut kembalinya

sangat lambat
Terdapat 2 atau lebih tanda dan gejalaDiare dengan dehidrasi ringan atau
berikut :

sedang

- Gelisah, rewel atau mudah marah


- Mata cekung
- Haus
- Cubitan kulit perut kembalinya
Tidak

lambat
cukup

tanda-

tanda

untukDiare tanpa dehidrasi

diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat


atau ringan/sedang
Diare selama 14 hari atau lebih disertaiDiare persisten berat
dengan dehidrasi
Diare selama 14 hari atau lebih tanpaDiare persisten
disertai dengan dehidrasi
Terdapat darah dalam tinja (berak campurDisentri
darah)

E.

Patofisiologi Diare
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama
gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat
diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi,
sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi
rongga

usus

yang

berlebihan

ini

mengeluarkannya sehingga timbul diare.

akan

merangsang

usus

untuk

Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus


akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan
mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan
sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan

bakteri

timbul

berlebihan

yang

selanjutnya

dapat

menimbulkan diare pula.


Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme
hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung,
mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin
dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan
menimbulkan diare.
F.

WOC
Terlampir

G.

Prognosis dan Komplikasi Diare


Diare yang berkpanjangan dapat menyebabkan :
1. Dehidrasi (kekurangan cairan)
Tergantung dari persentase cairan tubuh yang hilang.
Derajat dehidrasi akibat diare dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a. Tanpa dehidrasi, biasanya anak merasa normal, tidak rewel, masih
bisa bermain seperti biasa. Umumnya karena diarenya tidak berat,
anak masih mau makan dan minum seperti biasa.
b. Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan anak rewel atau
gelisah, mata sedikit cekung, turgor kulit masih kembali dengan
cepat jika dicubit.
c. Dehidrasi berat, anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung,
pada cubitan kulit turgor kembali lambat, napas cepat, anak terlihat
lemah.
2. Gangguan sirkulasi
Pada diare akut , kehilangan cairan dapat terjadi dalam waktu yang
singkat. Jika kehilangan cairan ini lebih dari 10% berat badan, pasien
dapat mengalami syok atau presyok yang disebabkan oleh berkurangnya
volume darah (Hipovolemia).

3. Gangguan asam-basa (Asidosis)


Hal ini terjadi akibat kehilangan caran elektrolit (bikarbonat) dari dalam
tubuh. Sebagai kompensasinya tubuh akan bernapas cepat untuk
membantu meningkatkan pH arteri.
4. Hipoglikemia (kadar gula darah rendah)
Hipoglikemia sering terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami
malnutrisi (kurang gizi). Hipogikemia dapat mengakibatkan koma.
Penyebab yang pasti belum diketahui, kemungkinan karna cairan
ekstraseluler menjadi hipotonik dan air masuk kedalam cairan
intraseluler sehingga terjadi edema otak yang mengakibatkan koma.
5. Gangguan gizi
Gangguan ini terjadi karena asupan makanan yang kurang dan output
yang berlebihan. Hal ini akan bertambah berat bila pemberian makanan
dihentikan, serta sebelumnya penderita sudah mengalami kekurangan
gizi (malnutrisi)
H.

Penatalaksanaan diare
1. Pengobatan Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah
pemberiannya.
1) Cairan per oral
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan
peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan
glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan
kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan
dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula
lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin
disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung
NaCl dan sukrosa.

2) Cairan parentral
Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat,
dengan rincian sebagai berikut:

Untuk anak umur 1 bulan-2 tahun berat badan 3-10 kg

1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus


set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus
1 ml=20 tetes).

7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt


(infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set
infus 1 ml=20 tetes).

16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit

Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1
ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1
ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1
ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250
ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% +
1 bagian NaHCO3 1 %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6
tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
Untuk bayi berat badan lahir rendah
Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4
bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 %).

b. Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan
berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:

10

Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan


lemak tak jenuh

Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)

Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan


misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak
yang berantai sedang atau tak jenuh.

c. Obat-obatan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang
melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang
mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain :
a) Asetosal dosis 25 mg/kg BB/hari.
b) Khlorpromazin dosis 0,5-1 mg/kg BB/hari.
2. Keperawatan
Asuhan Keperawatan :
1) Pengkajian
a. Identitas Anak
Nama, umur, tempat/ tanggal lahir, alamat/ No telp, tingkat
pendidikan dll.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat kelahiran ; Panjang Lahir, Berat Badan Lahir

Rendah
Riwayat Nutrisi ; Mal Nutrisi, KEP, Pola Makan dan

Minum, Tipe Susu Formula


Riwayat diare ; Berulang, Penyebab
Pola Pertumbuhan
Riwayat Otitis media dan atau infeksi lainnya
Memakan makanan yang tidak bersih
Kurangnya persnal higiene (tidak mencuci tangan sebelum

makan, tempat bermain yang kotor)


Pernah menderita OMA, tonsilitis/
bronkopneumonia, ensefalitis

11

tonsilofaringitis,

Malabsorbsi karbohidrat (misalnya : intoleransi laktosa),

lemak dan protein


Alergi terhadap makanan tertentu

c. Riwayat Kesehatan Sekarang


Riwayat Diare : Frekuensi, Penyebab
Riwayat Tinja : Jumlah, warna, bau, konsistensi, waktu

BAB
Kaji Intake dan Output BAB > 3x sehari dengan konsistensi

encer
Anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan meningkat,

nafsu makan berkurang


Tinja makin cair disertai lendir atau darah. Warna tinja

berubah jadi hijau karena bercampur dengan empedu


Daerah disekitar anus lecet karena sering defekasi
Muntah bisa terjadi sebelum dan sesudah diare
Gejala dehidrasi mulai tampak jika pasien telah banyak

kehilangan cairan dan elektrolit


Diuresis : terjadi oliguria (<1 ml/kg/jam), pada dehidrasi
berat tidak ada urine

d. Pengkajian Sistem
a) Pengkajian umum
1. Kesadaran
2. Tanda tanda vital
Suhu tubuh : pengukuran suhu melalui mulut (anak > 6
th), pengukuran axilla (<4 6 th).
Nadi : kuat, lemah, teratur/ tidak.
Nafas : kedalaman, irama, teratur/ tidak
TD : Sistolik/ diastolik, tekanan nadi
3. TB / BB
4. Lingkar kepala
5. Lingkar Dada
b) Pengkajian fisik
Tingkat dehidrasi
Dehidrasi ringan
Dehidrasi sedang
Dehidrasi berat

12

% kehilangan berat badan


bayi
Anak besar
5% (50 ml/kg)
3% (30 ml/kg)
5-10% (50-100 ml/kg)
6% (60ml/kg)
10-15 % (100-150 ml/kg) 9% (90 ml/kg)

1. Kepala
a) Higiene kepala
b) Ubun-ubun cekung
2. Mata
a) Palpebra : cekung/ tidak
b) Konjungtiva : anemis/tidak
c) Sklera : ikterik/tidak
3. Hidung
Sianosis, epistaksis
4. Mulut
Membran mukosa : pink, kering
5. Telinga
Apakah ada infeksi/ tidak
6. Sistem kardiovaskuler
a) Nadi apeks : irama teratur/ tidak
b) Nadi perifer : irama teratur/ tidak
c) Bunyi jantung : murni/ bising
d) Kulit : pucat/ sianosis
7. Sistem pernapasan
a) Frekuensi napas
b) Bunyi napas : murni/ bising
c) Kedalaman, Pola napas
8. Sistem persyarafan
a) Tingkat kesadaran
b) Pola tingkah laku
c) Fungsi pergerakan : ketahanan, paralysis
d) Fungsi sensori : Rf fisiologis, Rf patologis
9. Sistem musculoskeletal
a) Gaya berjalan
b) Persendian
c) Kesimetrisan
10. Sistem pencernaan
a) Bising usus : ada/ tidak, frekuensi
b) Distensi abdomen : ada/tidak
c) Mual/ muntah
11. Sistem eliminasi ( BAB dan BAK )
Frekuensi, konsistensi, bau, warna
e. Faktor Psikososial
Tahap perkembangan anak, kebiasaan di rumah
Metode koping orangtua dan anak
Interaksi orangtua dan anak
f. Pengkajian Keluarga
Jumlah anggota keluarga
13

Pola komunikasi
Pola interaksi
Pendidikan dan pekerjaan
Kebudayaan dan keyakinan
Fungsi keluarga

g. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan tinja : makroskopis dan mikroskopis, pH,
kadar gula
Keseimbangan asam basa dalam darah
Kadar ureum dan kreatinin ( mengetahui faal ginjal)
Elektrolit : Na, K, Ca, F, dalam serum (terutama diare yang
disertai kejang)
Intubasi duodenum ( mengetahui jenis parasit)
2) Diagnosa Keperawatan
Dx

Kurang volume cairan disebabkan hilangnya cairan dalam

tubuh atau masukan cairan yang kurang.


Tujuan : agar volume cairan dapat teratasi dengan kriteria turgor
kulit membaik, berat badan kembali dalam batas normal, frekuensi
buang air besar menurun sesuai dengan kebiasaan (normal), jumlah
cairan yang masuk seimbang dengan yang keluar, membrane
mukosa basah.
Intervensi :
Lakukan rehidrasi pada pasien.
Tindakan rehidrasi dilakukan berdasarkan tingkat dehidrasi.
Apabila dehidrasi ringan sampai sedang dapat dilakukan rehidrasi
secara oral dengan memberikan cairan pedialyte, ricelite kemudian
meningkat ke makanan biasa untuk anak yang mudah dicerna
seperti pisang, roti bakar, biji-bijian kering dan ASI. Dalam
pemberian cairan terdapat 2 tipe yaitu pemberian formula lengkap
yang mengandung NaC, NaHCO3, KCL dan glukosa. Formula ini
dikenal dengan nama oralit. Tipe yang kedua adalah tipe formula
sederhana yang hanya mengandung NaCl dan sukrosa (garam dan
gula) atau karbohidrat lainnya.

14

Dehidrasi ringan : 1 jam pertama 25-50 ml/kg bb selanjutnya 125


ml/kg bb/hari
Dehidrasi sedang : 1 jam pertama 50-100 ml/kg bb selanjutnya 125
ml/kg bb/hari
Dehidrasi berat yaitu :
a) Bayi baru lahir (berat badan 2-3 kg)
Kebutuhan cairan 125 ml+100 ml+25 ml : 250 ml/kg bb/24
jam dengan pemberian cairan 4:1 (4 glukosa 5%+1
NaCHO3 1 %) dengan cara pemberian : 4 jam pertama 25
ml/kg bb/jam, 20 jam berikutnya 150 ml/kg bb/20 jam
b) Bayi berat badan lahir rendah ( <2 kg)
Kebutuhan cairan 250 ml/kg bb/24 jam, pemberian cairan
adalah 4 glukosa 10 % + 1 NaCHO3 1 %, dengan
pemberian 4 jam pertama 25 ml/kg bb/jam, 20 jam
berikutnya 150 ml/kg bb/20 jam
c) Umur 1 bulan 2 tahun (berat badan 3-10 kg)
Cara pemberiannya adalah 1 jam pertama 40 ml/kg bb/jam
kemudian dilanjutkan 7 jam berikutnya 12 ml/kg bb/menit
dan 16 jam kemudian 125 ml/kg bb
d) Umur 2 5 tahun (berat badan 10-15 kg)
Cara pemberiannya adalah 1 jam pertama 30 ml/kg bb/jam
kemudian dilanjutkan 7 jam berikutnya 10 ml/kg bb/menit
dan 16 jam kemudian 125 ml/kg bb
e) Umur 5-10 tahun (berat badan 15-25 kg)
Cara pemberiannya adalah 1 jam pertama 20 ml/kg bb/jam
kemudian dilanjutkan 7 jam berikutnya 10 ml/kg bb/menit

dan 16 jam kemudian 105 ml/kg bb


Lakukan monitoring terhadap jumlah cairan yang masuk dan

keluar (mengukur status dehidrasi)


Monitor adanya tanda renjatan hipovolemik seperti denyut
jantung cepat nadi kecil, tekanan darah menurun dan kesadaran

Dx

menurun
Monitor adanya tanda asidosis metabolic
Kolaborasi dengan tim medis
kekurangan nutrisi disebabkan oleh menurunya nafsu makan

dan kurangnya asupan, gangguan absorpsi

15

Tujuan : agar terpenuhinya kebutuhan nutrisi sehingga perubahan


nutrisi dapat teratasi dengan kriteria sebagai berikut : perubahan /
peningkatan berat badan dari penurunan selama nutrisi kurang
(20% atau lebih), adanya asupan yang cukup, perbaikan pada
turgor kulit, tidak dijumpai kelemahan otot dalam menelan atau
mengunyah, status gizi membaik sesuai standar, tanda-tanda vital
dalam keadaan normal.
Intervensi :

Berikan nutrisi setelah dehidrasi teratasi yang mengandung cukup


kalori, protein, mineral dan vitamin atau selamaa diare perlu
ditambahkan jumlah kalori sebanyak 30% protein 3-5 kg g/kg

bb/hari yang pada umumnya adalah 2,5 g/kg bb/hari


Pada bayi pertahankan pemberian ASI
Berikan makanan dengan mempertimbangkan usia, berat badan

dan kemampuan menerima anak


Lakukan monitoring dan pengukuran status gizi atau tanda
perubahan nutrisi seperti berat badan, turgor kulit, bising usus,

kemampuan menelan dan jumlah asupan


Berikan penjelasan kepada keluarga dalam mencegah makanan
yang dapat menyebabkan diare, cara mensterilkan botol susu dan
hygiene lingkungan
Dx

gangguan integritas kulit disebabkan oleh karena terlalu

seringnya defekasi, kotoran yang bersifat asam yang berasal dari


laktosa yang tidak mampu diserap oleh usus selama diare.
Tujuan

: untuk mengatasi segera agar tidak terjadi gangguan

integritas pada kulit dengan ketentuan keadaan kulit membaik yaitu


tidak ditemukan kemerahan (lecet), hidrasi baik dan tidak lembab
Intervensi :
Lakukan penggantian popok dengan sering dan mengkajinya
setiap saat setelah buang air besar atau kecil
Berikan salep pelumas atau bedak pada daerah rectum dan
perineum

16

Ajarkan kepada keluarga untuk menjaga kebersihan pada daerah


sekitar rectum dan perineum, serta

cara mengganti popok,

memberikan bedak dan salep pelumas


Dx kurang pengetahuan (keluarga) pada anak dengan diare dapat
disebabkan karena informasi yang kurang atau budaya yang
menyebabkan tidak mementingkan pola hidup yang sehat.
Tujuan : agar keluarga memahami atau mengetahui cara mengatasi
diare.
Intervensi
Berikan penjelasan tentang masalah yang kurang diapahami atau
tidak dimengerti khususnya masalah diare
Ajarkan dengan cara mendemonstrasikan upaya mengatasi diare
khususnya dalam penanganan diare serta cara mencegahnya
Dx

kecemasan atau ketakutan pada anak karena dampak

hospitalisasi ( rawat inap)


Tujuan : untuk meminimalkan kecemasan atau ketakutan sebagai
dampak dari hospitalisasi.

Intervensi
Sediakan mainan sesuai dengan usia tumbuh kembang serta
dalam melakukan tindakan pengobatan dengan menjelaskan dan
mengizinkan untuk memegang alat-alat selama alat dalam
kategori untuk dipegang
Monitor terhadap perubahan tanda kecemasan seperti ungkapan
perasaan, gelisah, diaphoresis, frekuensi jantung dan pernapasan
serta ketegangan otot
Berikan dorongan untuk mengungkapan perasaan
Berikan dukungan pada keluarga untuk mengekspresikan
perasaannya
I.
17

Pemeriksaan Penunjang

Sifat tinja
Tinja pada infeksi Rotavirus biasanya berwarna hijau, berair dan tidak
berdarah.
Tinja pada infeksi salmonella. Biasanya bewarna hijau, berlendir, dan
berbau telur busuk
Tinja pada infeksi Shigella. Khas berair, berdarah dan tidak berbau
Pewarnaan metilen blue.
Pewarnaan tinja dengan metilen blue merupakan pemeriksaan skrining
yang berguna untuk memilih pasien rawat jalan yang memerlukan
kultur bakteri. Adanya leukosit polimorfonuklear memberi kesan
adanya enteritis bakterial. Spesimen yang dikumpulkan dalam suatu
wadah lebih baik daripada spesimen pada popok atau yang diambil
dengan swab. Pewarnaan melilen blue kadang kadang dapat
mengidentifikasi Giardia lamblia.
Kultur tinja.
Kultur tinja sebaiknya dilakukan pada pasien berikut :
Pasien yang dirawat dirumah sakit
5. Antibiotik bila perlu
Sebagian besar penyebab diare adalah Rotavirus yang tidak memerlukan
antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaatdan
efek sampingnya bahkan merugikan penderita
J.

Terapi Diare
Pengobatan diare berdasarkan derajat dehidrasinya :
1. Tanpa dehidrasi, dengan terapi A
Pada keadaan ini, buang air besar terjadi 3-4 kali sehari atau disebut mulai
mencret. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan masih mau
makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan dirumah oleh
ibu atau anggota keluarga yang lainnya dengan memberikan makanan dan
minuman yang ada dirumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG),
air tajin, air the, maupun oralit. Istilah pengobatan iniadalah dengan
menggunakan terapi A.
Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan dirumah.
a. Memberikan anak lebih banyak cairan
b. Memberikan makanan terus menerus

18

c. Membawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam


tiga hari.

2. Dehidrasi rngan atau sedang, dengan terapi B


Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai
5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan
cairan 6-10% dari berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada
derajat dehidrasiringan atau sedang digunakan terapi B, yaitu :
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan :
Usia
Jumlah oralit

<1 tahun
300 mL

1-4 tahun
600 mL

> 5 tahun
1200 mL

1-4 tahun
200 mL

> 5 tahun
400 mL

Setelah itu tambahkan setiap kali mencret :


Usia
Jumlah oralit

<1 tahun
100 mL

3. Dehidrasi berat, dengan terapi C


Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus menerus,
biasanya lebih dari 10 kalidisertai muntah, kehilangan cairan lebih dari
10% berat badan. Diare ini diatasi dengan terapi C yaitu perawatan
dipuskesmas atau rumah sakit untuk diinfus RL (Ringer laktat)
4. Teruskan pemberian makan
Pemberian makan seperti semula diberikan sedini mungkin dan
disesuaikan dengan kebutuhan. Makanan tambahan diperlukan pada masa
penyembuhan. Untuk bayi, ASI tetap diberikan bal sebelumnya
mendapatkan Asi, namun bila sebelumnya tidak mendapatkan ASI daat
diteruskan dengan memberikan susu formula.
5. Antibiotik bila perlu
Sebagian besar penyebab diare adalah Rotavirus yang tidak memerlukan
antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaatdan
efek sampingnya bahkan merugikan penderita
K. Penatalaksanaan atau Pengobatan untuk Orang Dewasa
Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas
(Nelwan 14).

19

I. Rehidrasi Sebagai Prioritas Utama Pengobatan


Ada 4 hal yang perlu diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang
cepat dan akurat yaitu :
1. Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena
tersedia cukup banyak di pasaran, meskipun jumlah Kaliumnya
rendah bila dibandingkan dengan Kalium cairan tinja.
Apabila tidak tersedia cairan ini, boleh diberikan cairan NaCl
isotonik. Sebaiknya ditambahkan satu ampul Nabikarbonat 7,5%
50 ml pada setiap satu liter infus NaCl isotonik, bila obat ini
tersedia. Asidosis akan dapat diatasi 1-4 jam.
Pada keadaan diare akut awal yang ringan di pasaran cairan/bubuk
oralit, yang dapat diminum sebagai usaha awal agar tidak terjadi
rehidrasi dengan berbagai akibatnya.
2. Jumlah cairan yang hendak diberikan
Pada prinsipnya jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai
dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Kehilangan cairan
dari badan dapat dihitung dengan memakai cara :
Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis :
Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan 5% X kkBB
Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan 8% X kkBB
Dehidrasi berat, kebutuhan cairan 10% X kkBB
3. Jalan masuk atau cara pemberian cairan.
Rute pemberian cairan pada orang dewasa terbatas pada oral dan
intravena. Untuk pemberian per oral diberikan larutan oralit yang
komposisinya berkisar antara 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, ,5 g
NaBikarbonat dan 1,5 g KCl setiap liternya. Cairan per oral juga
digunakan untuk mempertahankan hidrasi setelah rehidrasi inisial.
4. Jadwal pemberian cairan.
Untuk jadwal rehidrasi inisial yang dihitung dengan rumus BD
plasma atau sistem skor diberikan dalam waktu 2 jam. Tujuannya
jelas agar tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin. Jadwal
pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3 didasarkan
pada kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi

20

inisial sebelumnya, rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam


ke-3.
II. Melaksanakan Tata Kerja Terarah Untuk Identifikasi Penyebab Diare
Akut Karena Infeksi
Karena diare akut akan terutama menyebabkan gangguan dalam
keseimbangan air, elektrolit dan asam basa maka pemeriksaan penunjang
yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi lengkap, Astrup, elektrolit,
ureum, kreatinin, BD plasma.
Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan
keadaan klinisnya, namun setidaknya dilakukan pemeriksaan urin lengkap,
tinja lengkap dan biakan colok dubur.
Bila ada demem tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik,
pemeriksaan biakan empedu, Widal. Sediakan darah malaria serta serologi
Helicobacter jejuni sangat dianjurkan.
Pemeriksaan khusus seperti serologi amuba, jamur dan Rotavirus
biasanya menyusul bila dicurigai setelah melihat hasil pemeriksaan
penyaring.
Secara klinis, diare karena infeksi akut dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Koleriform : diare terutama terdiri atas cairan saja
2. Disenteriform : pada diare didapatkan lendir kental dan kadangkadang darah.
III. Melakukan Terapi Simtomatik
Pemberian terapi simtomatik haruslah berhati-hati dan setelah benarbenar

dipertimbangkan

karena

lebih

banyak

kerugian

daripada

keuntungannya.
Anti motilitas seperti Loperamid akan memperburuk diare yang
diakibatkan oleh bakteria yang entero invasif karena potensial akan
memperpanjang waktu kontak antara bakteria dengan epitel usus. Kalau
memang dibutuhkan karena pasien amat kesakitan diberikan dalam jangka
pendek (1-2 hari saja) dan jumlah sedikit (3-4 tablet) serta memperhatikan
ada tidaknya glaukoma atau hipertrofi prostat.
Hal yang sama harus sangat diperhatikan pada pemberian antiemetik,
karena Metoklopropamid misalnya dapat memberikan kejang pada anak
dan remaja akibat rangsangan ekstrapiramidal.

21

IV. Melakukan Terapi Definitif


Pada infeksi saluran cerna pencegahan sangat penting. Higiene
perorangan, sanitasi lingkungan dan imunitas melalui vaksinasi memegang
peran. Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi :
1. Kolera elthor : Tetrasiklin 4 X 500 mg/hari selama 3 hari atau
Kortimoksazol dosis awal 2 X 3 tablet kemudian 2 X 2 tablet
2.
3.
4.
5.
6.

selama 6 hari atau Kloramfenikol 4 X 500 mg/hari selama 7 hari.


V.parahaemolyticus
E.coli : tidak memerlukan terapi
C. perfringens : spesifik
S. aureus : kloramfenicol 4 X 500 mg/hr
Salmonellosis : Ampisilin 4 X 1 g/hr atau Kontrimoksazol 2 X 2
tablet masing-masing selama 10-14 hr atau gol. Quinolone seperti

Siprofloksasin 2 X 500 mg selama 3-5 hari.


7. Shigellosis : Ampisilin 4 X 1 g/hr selama 5 hari atau
Kloramfenikol 4 X 500 mg/hr selama 5 hr.
8. Infeksi Helicobacter jejuni (dulu dikenal dengan Campylobacter
jejuni) : Eritromisin 3 X 500 mg atau 4 X 500 mg selama 7 hari.
9. Amebiasis : Metronidazol 4 X 500 mg/hr selama 3 hari atau
tinidazol dosis tunggal g/hr selama 3 hari atau Secnidazole dosis
tunggal 2 g/hr selama 3 hari atau tetrasiklin 4 X 500 mg/hari
selama 10 hari.
10. Giardiasis : Quinacrine 3 X 100 mg/hr selama 1 minggu atau
Chloroquin 3 X 100 mg/hr selama 5 hari atau Metronidazole 3 X
250 mg/hr selama 7 hari.
11. Balantidiasis : Tetrasiklin 3 X 500 mg/hr selama 10 hari.
12. Candidiasis : Mycostatin 3 X 500.000 unit selama 10 hari.
13. Virus : Simtomatik dan suportif.

22

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Diare merupakan

suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak

normal ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi


lebih dari 3 kali sehari dan pada neonates lebih dari 4 kali sehari dengan
atau tanpa lender darah . Penyebab timbulnya diare ada beberapa faktor
yaitu faktor infeksi, malabsorpsi, makanan dan psikologis. Gelaja umum
diare yaitu berak cair, muntah, demam, dan gejala dehidrasi.
Diare diklasifikasikan menjadi diare dengan dehidrasi berat, diare
dengan dehidrasi ringan atau sedang, diare tanpa dehidrasi, diare akut,
diare

persisten

dan

disentri.

Diare

yang

berkepanjangan

dapat

menimbulkan komplikasi dan diare dengan dehidrasi berat dapat


menimbulkan kematian. Penatalaksanaan diare bisa secara medis,
keperawatan dan terapi.

23