Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS JURNAL

STASE KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS


PASUNG: PHYSICAL RESTRAINT AND CONFINEMENT OF
THE MENTALLY ILL IN THE COMMUNITY

Disusun Oleh :
Kelompok I
Arisyanudin Presetyo
3215002
Dika Prasetya Wibowo
3215004
Dita Trinuryati
3215006
Lalu Rodi Sanjaya
3215010
Laili Sofianingtyas
3215011
Masriana Yuliani
3215012
Nuryanti Sindif
3215013
Selvia Rian Nasikha
3215014
Sri Ratna Dewi
3215015
Suci Ramadhani
3215016

PROGRAM PROFESI NERS


STIKES JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA

2015

LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS JURNAL
STASE KEPERAWATAN JIWA KOMUNITAS

PASUNG: PHYSICAL RESTRAINT AND CONFINEMENT OF


THE MENTALLY ILL IN THE COMMUNITY

Disusun Oleh :
KELOMPOK I

Telah disetujui pada


Hari

Tanggal

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

BAB I
LATAR BELAKANG
A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa menurut World Health Organization adalah suatu keadaan bahagia
yang dirasakan individu dalam mencapai kemampuan yang dimiliki, dapat mengatasi stres
dalam hidupnya dengan baik, dapat bekerja secara produktif sehingga menjadi sukses, dan
sanggup membuat konstribusi untuk masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 2008).
Kesehatan jiwa akan diperoleh seseorang manakala dalam diri seseorang tertanam nilai-nilai
konsistensi dan realitas dalam kehidupannya dalam menghadapi stressor yang ada
(Departemen Kesehatan RI, 2008). Stressor yang terdapat dalam setiap kehidupan manusia
dapat teratasi jika individu memiliki koping untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Individu yang memliki koping adaptif dapat menyelesaikan masalahnya dan terhidar dari
resiko terkena gangguan jiwa. Namun sebaliknya, apabila individu tersebut tidak mampu
melakukan koping adaptif, maka individu tersebut akan beresiko mengalami gangguan jiwa.
Gangguan jiwa masih menjadi masalah serius kesehatan mental di Indonesia yang
perlu mendapat perhatian lebih dari pemangku kebijakan kesehatan nasional. Meskipun
masih belum menjadi program prioritas utama kebijakan kesehatan nasional, namun dari
angka yang didapatkan dari beberapa riset nasional menunjukkan bahwa penderita gangguan
jiwa di Indonesia masih banyak dan cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 terdapat 0,46 persen dari total populasi
Indonesia atau setara dengan 1.093.150 jiwa penduduk Indonesia berisiko tinggi mengalami
skizofrenia (Lestari & Wardhani, 2014).
Hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) tahun 1995 menunjukkan
bahwa gejala gangguan kesehatan jiwa pada penduduk rumah tangga dewasa di Indonesia
yaitu 185 kasus per 1.000 penduduk. Hasil SKMRT juga menyebutkan, gangguan mental
emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 140 kasus per 1. 000 penduduk, sementara
pada rentang usia 514 tahun ditemukan 104 kasus per 1. 000 penduduk (Lestari &
Wardhani, 2014).

Masih banyak penderita gangguan jiwa berat yang tidak mendapat penanganan
secara medis atau yang drop out dari penanganan medis dikarenakan oleh faktor-faktor
seperti kekurangan biaya, rendahnya pengetahuan keluarga dan masyarakat sekitar terkait
dengan gejala gangguan jiwa, dan sebagainya. Sehingga masih banyak penderita gangguan
jiwa yang dipasung oleh anggota keluarganya, agar tidak mencederai dirinya dan/atau
menyakiti orang lain di sekitarnya.
Pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa masih banyak terjadi, di mana sekitar
20. 000 hingga 30. 000 penderita gangguan jiwa di seluruh Indonesia mendapat perlakuan
tidak manusiawi dengan cara dipasung (Lestari & Wardhani, 2014). Pada tahun 2011
Menteri Kesehatan RI sudah mencanangkan program Indonesia Bebas Pasung pada tahun
2014. Namun sampai dengan sekarang (tahun 2014) belum terlihat penanganan yang
signifikan dan komprehensif dalam penanganan dini penderita gangguan jiwa. Program
Indonesia Bebas Pasung 2014 saat ini direvisi menjadi Program Indonesia Bebas Pasung
2019, sehingga Indonesia dalam menentukan ketercapaian target masih ada 5 tahun lagi atau
bahkan lebih cepat karena proses ini masih berlangsung berkesinambungan dengan adanya
komitmen dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi dan kota/kabupaten
(Lestari & Wardhani, 2014).
Beban yang ditanggung oleh keluarga yang hidup bersama penderita gangguan jiwa
berat meliputi beberapa faktor, baik secara ekonomi maupun sosial. Stigma di masyarakat
terhadap penderita gangguan jiwa juga mempersulit penanganan penderita gangguan jiwa
secara komprehensif. Goffman (1963) menyatakan bahwa stigma terhadap penderita
gangguan jiwa memiliki dua komponen utama, yaitu yang bersifat publik (reaksi umum dari
publik terhadap orang yang menderita gangguan jiwa) dan stigma individu (prasangka orang
itu sendiri terhadap gangguan jiwa yang diderita yang cenderung kembali kepada dirinya
sendiri). Sehingga stigma terhadap penderita gangguan jiwa terutama gangguan jiwa berat
masih perlu dikaji lebih mendalam, untuk mencari solusi yang tepat dalam penanganan
penderita gangguan jiwa berat di masyarakat, dan lebih luas untuk mendukung program
Indonesia Bebas Pasung 2019.

BAB II
JURNAL

Pasung: Physical Restraint and Confinement of The Mentally Ill in


The Community
TERLAMPIR

BAB III
RESUME JURNAL
A. Nama Peneliti
1. Harry Minas
2. Hervita Diatri
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Pulau Samosir, Sumatra, Indonesia.
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan semua kasus pasung di Pulau Samosir,
untuk menyelidiki keadaan dari restrain (pasung), dan untuk melepaskan dari restrain.
D. Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan pendekatan cross sectional.
E. Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 6 bulan ditemukan 15 kasus dari pasung. 15
kasus dari pasung, terdiri dari laki-laki dan perempuan serta semua kasus yang ditemukan
didiagnosis dengan skizofrenia. Durasi dari restrain (pasung) rata-rata dari 221 tahun.

BAB IV
ANALISA JURNAL
A. Analisa Penelitian
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 15 klien yang mengalami gangguan mental.
2. Intervention
Pada penelitian ini tidak dilakukan intervensi karena termasuk penelitian observasional
dengan pendekatan cross sectional.
3. Compare
Dalam penelitian ini juga tidak ada perbandingan dalam penanganan pasien karena dalam
penelitian ini bertujuan untuk menemukan semua kasus pasung di Pulau Samosir melalui
diskusi dan wawancara.
4. Output
Selama 6 bulan ditemukan 15 kasus dari pasung. Macam dari pasung (restrain) yaitu
menggunakan rantai dan kayu. Dari 15 kasus yang ditemukan 8 kasus laki-laki dan 7
kasus perempuan, dengan rata-rata usia dari 2556 tahun. Dari 13 kasus didiagnosa
dengan skizofrenia. Untuk satu kasus didiagnosis dengan perubahan personal dan
halusinasi serta riwayat epilepsi, dan kasus yang lainnya dengan diagnosis demensia yang
tidak diketahui penyebabnya dengan gangguan perilaku. Durasi penyakit rata-rata dari 3
sampai 25 tahun. Sebelumnya 9 dari 15 kasus pernah mendapatkan perawatan kejiwaan.
Bentuk paling umum digunakan untuk pemasungan adalah di ruangan kecil atau gubuk.
Semua keluarga mempertahankan pemasungan. Durasi dari pasung rata-rata 2 - 21 tahun.

B. Critical Appraisal
Komponen yang Dinilai

Ya /

Penjelasan

Tdk
Judul dan abstrak :
Apakah judul sesuai dengan isi ?

Judul jurnal sesuai dengan isi abstrak,


Ya

yaitu untuk menemukan semua kasus


pasung

di

menyelidiki

Pulau
keadaan

Samosir,
dari

untuk
restrain

(pasung), dan untuk melepaskan dari


restrain (pengobatan gangguan mental
Apakah tujuan penelitian disebutkan?

Ya

apa ?

tanpa pasung).
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
menemukan semua kasus pasung di Pulau
Samosir, untuk menyelidiki keadaan dari
restrain (pasung), dan untuk melepaskan
dari

restrain

(pengobatan

gangguan

mental tanpa pasung).


Apakah abstrak memberikan

ya

informasi yang lengkap : latar

Abstrak dalam jurnal sudah lengkap.


Sudah menuliskan tujuan,
telah menjabarkan tentang latar belakang,

belakang, tujuan, metode, hasil ?

metode, hasil penelitian dan kesimpulan.


Justifikasi, metodologi, desain :
Apakah dijelaskan alasan melakukan

Ya

Dalam penelitian ini sudah dijelaskan

penelitian (di latar belakang dan

alasan atau tujuan melakukan penelitian

tinjauan pustaka) ?

di latar belakang penelitian, yaitu untuk


menemukan semua kasus pasung di Pulau
Samosir, untuk menyelidiki keadaan dari
restrain (pasung), dan untuk melepaskan

Apakah tinjauan pustakanya lengkap /


cukup ?

Ya

dari restrain
Tinjauan pustaka dalam jurnal ini sudah
cukup sesuai aturan, tetapi dari 21
tinjauan pustaka ada 9 tinjauan pustaka
yang belum sesuai aturan. Teori yang
diambil dari beberapa referensi sudah

sesuai dengan isi dalam jurnal yang


Apakah menggunakan referensi

Ya

terbaru ? (maksimal 5 tahun)

dibahas.
Dari 21 referensi yang digunakan
terdapat 9 referensi merupakan referensi
lama (> 5 tahun), dengan tahun referensi
terlama adalah tahun 1998 dan referensi
terbaru tahun 2008. Sedangkan 12

Apakah hipotesisnya disebutkan ?

referensi adalah >5 tahu terakhir


Tidak Tidak dicantumkan hipotesa dalam
penelitian. Seharusnya hipotesa selalu
dicantumkan dalam penelitian yang
dilakukan

Jika eksperimen, apakah kelompok

Tidak Jurnal menggunakan non ekserimental /

intervensi dan kontrol dijelaskan ?

metode observasional dengan pendekatan


cross sectional.

Apakah kelompok intervensi dan

Tidak Tidak terdapat kelompok kontrol dan

kontrol dimatchingkan atau tidak ?


Apakah eksperimennya blind atau

intervensi.
Tidak

double blind ?
Kalau blind, bagaimana cara

Jurnal menggunakan non ekserimental /


metode observasional dengan pendekatan

cross sectional
Tidak -

melakukan blindingnya ?
Sampling :
Bagaimana populasi dipilih?

Populasi dipilih melalui diskusi dengan


dokter dan staff klinis lainnya di 11
puskesmas, datang ke desa dan diskusi
dengan kepala desa dan anggota penting

Menggunakan probability sampling


atau non probability sampling ?

lainnya di masyarakat desa.


Menggunakan non probablility sampling
(pengambilan sampel yang tidak memberi
peluang atau kesempatan sama bagi
setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih
menjadi
sampel)
yaitu

menggunakan teknik purposive sampling


(teknik pengambilan sampel yang
dilakukan dengan memilih sampling atas
dasar pertimbangan sekelompok pakar di
bidang ilmu yang sedang diteliti).
Apakah kriteria inklusi dan eksklusi
disebutkan ? apa ?
Apakah ukuran sampel cukup ?

Tidak Tidak disebutkan dengan jelas kriteria


-

inklusi dan ekslusi pada penelitian ini.


Jumlah sampel 15 kasus, dalam penelitian
ini tidak dikatakan sampel mencukupi
atau tidak.
Pengumpulan data dilakukan dengan

Pengumpulan data :
Bagaimana cara pengumpulan

diskusi dengan dokter dan staff klinis

datanya (kuesioner atau ada yang

lainnya di 11 puskesmas, datang ke desa

lain)

dan diskusi dengan kepala desa dan


anggota penting lainnya di masyarakat
desa. Selain itu, data juga didapat dari
wawancara dengan orang yang dipasung
dengan anggota keluarga yang bersedia
dan anggota lain dari masyarakat desa
yang

Siapa yang mengumpulkan data ?

memberikan

informasi

yang

relevan.
Dalam penelitian ini tidak dijelaskan
siapa yang mengumpulkan data.

Apakah instrumen pengumpulan


data dijelaskan ?

Tidak Instrumen pengumpulan data tidak


dijelaskan di dalam penelitian dan tidak
dilampirkan di dalam penjelasan.

Apakah instrumen diuji dulu ?

Tidak Tidak dijelaskan bahwa instrumen sudah


diuji atau belum. Uji validitas reliabilitas
juga tidak ada atau tidak dijelaskan.

Apakah confounding (memalukan)


factors diidentifikasi ?

Tidak Confounding factor dalam penelitian ini


tidak teridentifikasi.

Apakah ada penjelasan validitas dan

Tidak Jurnal tidak menyebutkan hasil uji

reliabilitas instrumen ?
Pertimbangan etik :
Apakah penelitian menggunakan

validitas dan reliabilitas.


Tidak

ethical approval dari komite etik ?

Apakah ada informed consent dalam

Dalam penelitian ini tidak menjelaskan


apakah menggunakan ethical approval
atau tidak.

Tidak Dalam penelitian ini, Inform consent

penelitian ?

tidak ada dan tidak dilampirkan dalam


penelitian untuk membantu
responden/peneliti lain mengetahui
informed consent yang digunakan.

Analisis data dan hasil :


Apakah hasil disampaikan dengan

Ya

jelas ?

Hasil penelitian dituliskan dengan jelas.


Hasil penelitian yang disampaikan secara
deskriptif. Hasilnya: Hasil penelitian
menunjukkan bahwa selama 6 bulan
ditemukan 15 kasus dari pasung. 15
kasus dari pasung, terdiri dari laki-laki
dan perempuan serta semua kasus yang
ditemukan

didiagnosis

dengan

skizofrenia. Durasi dari restrain (pasung)


rata-rata dari 221 tahun.
Apakah p-value dan confidence

Tidak

interval dilaporkan ?
Apakah hasilnya signifikan ?

Tidak dicantumkan p- value nya dan


confidence interval
Dalam penelitian tidak dijelaskan apakah
hasilnya signifikan atau tidak akan tetapi
hasil dalam penelitian ini dijelaskan

Apakah kesimpulan penelitian ini ?

dengan deskriptif.
Penyediaan pelayanan kesehatan mental
masyarakat dasar, di mana tidak ada
sebelumnya, memungkinkan mayoritas
orang di restrain untuk menerila

perawatan psikiatrik dan melepaskan dari


pasung.
Hasil dan keterbatasan penelitian :

.
Ya

Apakah hasil bisa

Hasil penelitian ini dapat diterapkan


untuk menurunkan angka pemasungan

digeneralisasikan?

pada orang dengan gangguan mental dan


dapat diganti untuk mendapatkan
perawatan atau pelayanan kesehatan
Apakah keterbatasan penelitian ini

mental di RS.
Tidak Dalam penelitian ini tidak dijelaskan
mengenai keterbasan dalam penelitian ,

disebutkan ?

sehingga pembaca tidak dapat


mengetahui keterbatasan apa pada
penelitian ini.
Apakah ada saran untuk penelitian

Tidak Dalam penelitian ini tidak ada saran

selanjutnya ?

penelitian selanjutnya, dimana saran lebih


baik dimasukkan untuk membantu
peneliti selanjutnya dalam
mengembangkan penelitian yang sudah
ada.

Apakah implikasi penelitian


tersebut? (yang disebutkan dalam

Implikasi penelitiaan tidak dicantumkan


dalam jurnal.

jurnal)
C. Hubungan hasil penelitian dengan kondisi riil di klinis atau di lapangan
Ketika dilakukan kunjungan ke rumah klien. Klien dipasung dengan rantai oleh
keluarganya di luar rumah atau gubuk yang kecil. Klien dahulu pernah mendapatkan
perawatan kejiwaaan tetapi sudah lama dibawa ke rumah karena tidak ada perubahan.
Kelebihan dan kekurangan jurnal
1) Kelebihan Jurnal
Jurnal ini memiliki berbagai kelebihan :

Pada abstract menampilkan keterangan yang lengkap yaitu latar belakang, metode,

hasil, dan tempat penelitian


- Waktu penelitian dicantumkan
- Penelitian ini bereferensi (> 5 tahun)
2) Kekurangan Jurnal
Dalam jurnal ini peneliti memiliki berbagai kekurangan, antara lain:
- Abstract tidak mencantumkan informasi tentang isi jurnal secara lengkap.
- Tidak ada hipotesanya
- Tidak ada kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian
- Instrumen penelitian tidak dicantumkan
- Keterbatasan tidak tercantumkan

D. Perbandingan Isi Jurnal


1. Aplikasi pada kasus presentasi
Jurnal ini diaplikasikan pada pasien halusinasi pendengaran yang di pasung (restrain)
oleh keluarga. Pihak keluarga melakukan pemasungan dengan dirantai di kakinya dan
pihak keluarga tidak mau membawa pasien ke pelayanan kesehatan mental untuk
mendapatkan pengobatan. Pihak keluarga beranggapan meskipun pasien dirawat di RS
Jiwa tetap tidak ada perubahan atau tidak sembuh.
2. Perbandingan sisi jurnal dengan penelitian lain (metode dan tempat) terkait kasus
No

ANALISA

JURNAL PENELITIAN

JURNAL PEMBANDING

1.

Judul penelitian

Pasung: physical restraint


and confinement of the
mentally ill in
The community.

2.

Nama peneliti

3.

Tempat penelitian

Harry Minas
Hervita Diatri
Pulau Samosir, Sumatra,

Stigma dan penanganan


penderita gangguan jiwa berat
yang dipasung
(stigma and management on
people with severe mental
disorders with
pasung (physical restraint))
Weny Lestari
Yurika Fauzia Wardhani
Indonesia (Banten, Jawa Timur,

Indonesia

DI Yogyakarta, Aceh)

Obsevasional dengan

Kualitatif (penggalian data)

4.

Metode penelitian

pendekatan cross sectional


5.

Populasi penelitian

15 orang

6 orang

3. Perbandingan dengan teori yang sudah ada di textbook terkait kasus


Masih banyak penderita gangguan jiwa berat yang tidak mendapat penanganan
secara medis atau yang drop out dari penanganan medis dikarenakan oleh faktor-faktor
seperti kekurangan biaya, rendahnya pengetahuan keluarga dan masyarkat sekitar terkait
dengan gejala gangguan jiwa, dan sebagainya. Sehingga masih banyak penderita
gangguan jiwa yang dipasung oleh anggota keluarganya, agar tidak mencederai dirinya/
atau menyakiti orang lain di sekitarnya.
4. Implikasi Keperawatan
Pasien dengan halusinasi membutuhkan perawatan secara psikis dan menggunakan
obat-obatan secara rutin. Perawat sebagai tenaga kesehatan diharapkan tidak hanya memberi

perawatan dengan obat-obatan tetapi juga perawat sebagai terapis dapat membantu recovery
psikis pasien dengan memberikan penyuluhan kepada keluarga supaya pasien tidak di pasung
tetapi pasien dibawa ke pelayanan kesehatan mental untuk mendapatakan pengobatan dan
terapi karena dengan pemasungan tidak akan menjamin kesembuhan dari pasien. Sehingga
dengan penyuluhan tersebut keluarga lebih paham dan akan mengurangi pemasungan pada
pasien gangguan mental salah satunya pasien halusinasi.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 6 bulan ditemukan 15 kasus dari pasung. 15
kasus dari pasung, terdiri dari laki-laki dan perempuan serta semua kasus yang ditemukan di
diagnosis dengan skizofrenia. Durasi dari restrain (pasung) rata-rata dari 221 tahun
B. Saran
Beberapa saran yang dapat disampaikan kepada Puskesmas Pandak 1 dan masyarakat
terkhusus kepada para kader di dusun Pandak sebagai berikut :
1. Kepada Tenaga kesehatan diharapkan bisa menjadi terapis dan memberikan penyuluhan
kepada keluarga pasien dengan gangguan mental yang dipasung (restrain).
2. Kepada masyarakat dan kader lebih mengenal tanda dan gejala gangguan jiwa serta yang
beresiko gangguan jiwa, selain itu melakukan pendekatan kepada keluarga untuk tidak
melakukan pemasungan kepada pasien yang mengalami gangguan jiwa.

DAFTAR PUSTAKA
Dalami, Ermawati. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Jiwa. Jakarta : CV.
Trans Info Media.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007, Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
Keliat, B.A., dkk. (2005). Modul BasicCourse Community Mental Health Nursing. Kerjasama
FIK UI dan WHO.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Menuju Indonesia Bebas Pasung. Jakarta: Pusat Komunikasi
Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Terdeia pada:
http://www.depkes.go.id/index.php/ berita/press-release/1242-menuju-indonesia
[diakses Jumat, 17 April 2015].
Lestari, Weny dan Yurika Fauzia, Wardhani. (2014). Stigma dan penanganan penderita gangguan
jiwa berat yang dipasung. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol. 17 No. 2.
http://www.a-pdf.com/?product-split-demo. Diakses pada Jumat 17 April 2015.
Minas, Harry dan Hervitra, Diatri. (2008). Pasung: physical restraint and confinement of the
mentally ill in The community. International Journal of Mental Health Systems,
Vol: 2:8. http://www.ijmhs.com/content/2/1/8. Diakses pada Jumat 17 April
2015.
NANDA. (2005). Nursing Diagnoses : Definitions & Classification 2007- 2008. Philadelphia:
NANDA International