Anda di halaman 1dari 44

Tugas II PMB Gasoline

TUGAS II PENGOLAHAN MINYAK BUMI

PRODUK MINYAK BUMI

GASOLINE

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 4
HANA SUBHIYAH (1406582783)
JONATHAN (1206202040)
YAN AULIA ARDIANSYAH (1206314642)
YULIARTI RAHAYU NINGSIH (1406507940)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2015
Kelompok 4

|1

Tugas II PMB Gasoline

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat-Nyalah makalah tugas pengolahan minyak bumi ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya. Makalah Gasoline merupakan salah satu tugasmata kuliah Pengolahan
Minyak Bumi semester genap tahun 2015.
Dalam penyelesaiannya, kami mendapatkan banyak bimbingan dari berbagaipihak.
Oleh karena itu, sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Nelson Saksono, selaku dosen pengajar yang telah memberikan kepercayaan dan
kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan pembuatan makalah Gasoline ini serta
memberikan pengarahan dan bimbingannya kepada kami.
2. Semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
Akhir kata, kami berharap agar makalah Gasoline ini dapatmenjadi salah satu sumber
referensi ilmiah yang bermanfaat bagi banyak pihak. Terimakasih.

Depok, 22 Maret 2015

Kelompok 4

Kelompok 4

|2

Tugas II PMB Gasoline

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................................1
KATA PENGANTAR ....................................................................................................2
DAFTAR ISI ................................................................................................................ ..3
BAB I GASOLINE DAN KARAKTERISTIK GASOLINE .....................................4
1.1. Gasoline ......................................................................................................4
1.2. Karakteristik Gasoline ................................................................................5
BAB II PROSES PRODUKSI GASOLINE ................................................................12
2.1. Distilasi .......................................................................................................12
2.2. Delay Coking Proses ....................................................................................14
2.3. Fluidized Catalytic Cracker (FCC Process) .................................................15
2.4. Hydrotreating Process ..................................................................................15
2.5. Catalytic Reforming Process ........................................................................16
2.6. Isomerization Process ...................................................................................17
2.7. Gasoline Blending (Aditif Bensin)................................................................19
BAB III TEKNOLOGI GASOLINE ............................................................................24
3.1. Teknologi Gas to Liquid .................................................................................24
3.2. Fluid Catalytic Cracking Unit (FCCU) ..........................................................26
3.3. Catalytic Reforming Unit ...............................................................................27
BAB IV EKONOMI DAN LINGKUNGAN..................................................................29
4.1. Aspek Ekonomi ..............................................................................................29
4.2. Aspek Lingkungan .........................................................................................36
BAB V KESIMPULAN ..................................................................................................41
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................42
LAMPIRAN

Kelompok 4

|3

Tugas II PMB Gasoline

BAB I
GASOLINE DAN KARAKTERISTIK GASOLINE

1.1

Gasoline
Gasoline atau Petrol adalah cairan campuran yang berasal dari minyak bumi dan

sebagian besar tersusun dari hidrokarbon. Cairan ini bening agak kekuning-kuningan, dan
sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar di mesin pembakaran dalam dengan
pengapian. Istilah gasoline banyak digunakan dalam industri minyak, bahkan dalam
perusahaan non-Amerika. Kadangkala digunakan juga istilah mogas (kependekan dari
motor gasoline) untuk membedakannya dengan avgas, gasoline yang digunakan oleh
pesawat terbang ringan. Gasoline bisa didapatkan dari proses penyulingan bertingkat
minyak bumi (straight run), bisa dengan proses pemecahan (cracking) fraksi-fraksi berat
minyak bumi, atau bisa juga dengan jalan polimerisasi/alkilasi fraksi ringan minyak bumi.
Gasoline merupakan bahan bakar transportasi yang masih memegang peranan
penting sampai saat ini, tersusun dari hidrokarbon, mulai dari C4 sampai dengan C12. Dengan
kata lain, gasoline terbuat dari molekul yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon yang
terikat antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk rantai. Karena merupakan
campuran berbagai bahan, daya bakar gasoline berbeda-beda menurut komposisinya.
Kualitas gasoline ditentukan oleh bilangan oktana, yaitu bilangan yang menunjukkan jumlah
iso-oktana dalam gasoline, yang merupakan ukuran kemampuan bahan bakar mengatasi
ketukan ketika terbakar dalam mesin.
Komposisi kimia gasoline sangat tergantung pada bahan baku minyak mentah (API,
komposisi kimia), proses kilang (distilation, alkylation, hydrocracking, catalytic cracking),
spesifikasi dan sifat-sifat yang disesuaikan dengan kondisi iklim, persyaratan dan spesifikasi
yang diminta oleh pembuat mesin kendaraan (sesuai dengan teknologi yang diterapkan) dan
persyaratan ambang batas polutan.
Sebagai bahan bakar utama untuk kendaraan bermotor ada beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi gasoline sebagai bahan bakar yaitu :
1. Mudah bercampur dengan udara dan terdistribusi merata di dalam intake manifold.
2. Tahan terhadap detonasi atau knocking.
3. Tidak mudah terbakar sendiri sebelum waktu yang di tentukan (pre ignition).
4. Tidak memiliki kecenderungan menurunkan efisiensi volumetris dari mesin.
Kelompok 4

|4

Tugas II PMB Gasoline

5. Mudah ditangani.
6. Murah dan mudah didapat.
7. Menghasilkan pembakaran yang bersih, tanpa menyisakan korosi pada komponen
peralatan mesin.
8. Memiliki nilai kalor yang cukup tinggi.
9. Tidak membentuk gum dan varnish yang dapat merusak komponen mesin.

Gasoline memiliki berbagai nama, tergantung pada produsen dan angka oktan-nya.
Beberapa jenis gasoline yang dikenal di Indonesia, di antaranya:

Premium, produksi Pertamina yang memiliki Oktan 88

Pertamax, produksi Pertamina yang memiliki Oktan 92

Pertamax Plus, produksi Pertamina yang memiliki Oktan 95

Pertamax Racing, produksi Pertamina yang memiliki Oktan 100, khusus untuk
kebutuhan balap mobil.

1.2

Primax 92, produksi Petronas yang memiliki Oktan 92

Primax 95, produksi Petronas yang memiliki Oktan 95

Super 92, produksi Shell yang memiliki Oktan 92

Super Extra 95, produksi Shellyang memiliki Oktan 95

Performance 92, produksi Total yang memiliki Oktan 92

Performance 95, produksi Total yang memiliki Oktan 95

Karakteristik Gasoline
Gasoline adalah zat cair yang mempunyai kemampuan untuk menguap pada suhu

yang rendah. Molekul-molekul pada gasoline memiliki kecenderungan untuk lepas dari
permukaan lebih besar dibandingkan dengan zat cair lainnya, makin tinggi temperatur maka
makin cepat pula molekul-molekul gasoline lepas dari permukaannya.
Sebagai bahan bakar, gasoline harus memiliki standar tertentu agar dapat melakukan
pembakaran secara baik dan mampu memberikan tenaga pada mesin kendaraan, berikut
sifat-sifat utama pada gasoline:
1. Kecepatan Penguapan (Volatilitas)
Volatilitas merupakan sifat bahan bakar yang penting bagi mesin kendaraan karena
berkaitan dengan kemudahan menguap dari suatu bahan bakar. Volatilitas berkaitan
dengan kemudahan motor distart-dingin, kemampuan beroperasi (driveability),
Kelompok 4

|5

Tugas II PMB Gasoline

terjadinya proses vapourlock pada saat panas, pembentukan deposit di ruang bakar dan
pelepasan emisi volatile organic compound (VOC) dari tangki bahan bakar. Penentuan
nilai volatilitas dari suatu bahan bakar sangat ditentukan oleh kondisi iklim setempat
sehingga dalam gasolinesendiri yang terdiri dari berbagai campuran hidrokarbon dari
fraksi ringan sampai sedang (C4-C12) harus diformulasikan sehingga memenuhi
persyaratan/kebutuhan tersebut diatas. Volatilitas bahan bakar seringkali juga dinyatakan
dengan tekanan uap yang dinyatakan dalam Reid Vapour Pressure (RVP) dengan satuan
tekanan.
2. Angka Oktana (Research Octane Namber-RON)
Angka oktana merupakan parameter terpenting didalam spesifikasi bahan bakar
karena angka oktana berkaitan langsung dengan kualitas bahan bakar yang akan
mempengaruhi proses pembakaran di dalam ruang bakar dan sekaligus menentukan
tingkat efisiensi termal motor. Untuk menaikkan angka oktan dari gasoline dapat
ditambahkan suatu senyawa yang mempunyai angka oktan lebih tinggi atau yang sering
disebut dengan octane booster misalnya, seperti: MTBE, ETBE, TAME, etanol
(oxygenate octane booster) dan toluene, xylene ataupun iso-octane (hydracarbon yang
mempuyai nilai oktan tinggi) dan jenis aditif lain.
3. Nilai Kalor
Nilai kalor adalah suatu angka yang menyatakan jumlah panas atau kalori yang
dihasilkan dari proses pembakaran sejumlah tertentu bahan bakar dengan udara
(oksigen). Nilai kalor merupakan parameter dan tuntutan utama dari pemilihan bahan
bakar untuk dapat digunakan pada sektor transportasi karena pertimbangan keterbatasan
tempat penyimpanan di kendaraan. Salah satu keunggulan bahan bakar hidrokarbon
adalah mempunyai densitas energi yang lebih besar dalam kondisi atmosferik bila
dibandingkan dengan jenis bahan bakar alternatif lainnya, seperti etanol, metanol, LPG
dan natural gas. Nilai kalor dari gasolineakan tergantung pada hidrokarbon/komposisi
kimia penyusunnya seperti: alkene, benzene, aromatic dan oxygen (C, H dan O).
Rentang nilai kalor gasoline cukup tinggi, yaitu antara 10.160 11.000 kkal/kg.
4. Berat Jenis (Densitas)
Berat jenis sering dinyatakan dengan skala Baume atau skala API. Masing-masing
skala ini dapat dinyatakan sebagai fungsi dari berat jenis pada suhu 60 F. Berat jenis
gasoline yang dipakai sebagai bahan bakar berkisar dari 0.71-0.76 atau 67-54 Be atau
67.8-54.7 API. Tujuan dari penentuan berat jenis adalah sebagai kontrol dan salah satu
Kelompok 4

|6

Tugas II PMB Gasoline

indikator awal bila terjadi kontaminasi yang dapat menurunkan mutu produk. Nilai berat
jenis juga bermanfaat untuk perhitungan pada proses blending dan perhitungan berat
dari produk.
Berat jenis berbanding terbalik dengan nilai kalor. Pada volume yang sama, semakin
besar berat jenis suatu minyak, semakin kecil nilai kalornya, demikian juga sebaliknya
semakin rendah berat jenis semakin tinggi nilai kalornya.
5. Kadar Sulfur
Kadar sulfur yang tinggi dapat mengganggu proses pembakaran dan merusak
komponen mesin. Kadar sulfur dalam gasoline tidak boleh lebih dari 2% bahkan jika
mungkin harus rendah dari batas tersebut.
6. Kadar Damar
Kadar damar maksimum 10 mg tiap 100 cm3 gasoline. Kadar damar pada gasoline
dapat menimbulkan berbagai kerusakan, diantaranya:

Dapat menempel kuat di berbagai tempat di dalam motor, misalnya pada katupkatup, saluran pembuangan dan torak.

Menurunkan bilangan oktana pada waktu masih dalam tangki penyimpanan.


Makin lama gasoline disimpan makin banyak pembentukan damar.

7. Titik Nyala
Titik nyala gasoline berkisar antara -10 C -15 C. Titik nyala gasoline merupakan
uap gasoline terendah yang membentuk campuran sehingga dapat menyala dengan udara
apabila terkena percikan api. Titik nyala yang rendah menyulitkan penyimpanan dan
pengangkutan.
8. Titik Beku
Titik beku adalah suhu pada gasoline mulai membeku. Bila di dalam gasoline
terdapat kadar aromat yang tinggi, maka pada suhu tertentu aromat-aromat itu
mengkristal dan saluran-saluran gasoline bisa tersumbat. Karena itu motor-motor yang
bekerja pada cuaca dingin titik beku gasoline harus rendah sekitar -50 C.
9. Titik Embun
Suhu pada saat uap gasoline mulai mengembun dinamakan titik embun gasoline.
Penguapan lengkap tetesan gasoline dalam saluran isap tergantung pada tinggi rendahya
titik embun. Bila titik embun terlalu tinggi, maka tetesan gasoline yang belum menguap
dalam saluran isap dapat turut masuk ke dalam silinder sehingga pemakaian bahan bakar
menjadi boros, karena di dalam silinder terdapat campuran dengan kondisi yang tidak
Kelompok 4

|7

Tugas II PMB Gasoline

homogen. Hal ini menyebabkan pembakaran berlangsung dengan tidak baik. Banyaknya
gasoline yang menetes ke dalam ruang engkol melalui cicin torak tergantung titik
rendahnya embun ini. Pada umumnya, titik embun gasoline motor tidak lebih dari 140
C.

Pada umumnya gasoline yang dipasarkan sekarang ini merupakan hasil campuran
dari beberapa komponen gasoline hasil destilasi langsung (straight run gasoline) maupun
gasoline

hasil

dari

proses

lanjutan

seperti

perengkahan

reformasi,

alkilasi,

isomerisasi/polimerisasi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komposisi kimia


gasoline yang dipakai sebagai bahan bakar motor terdiri dari hidrokarbon alifatik jenuh/ tak
jenuh, hidrokarbon siklik ataupun hidrokarbon aromatik.
Tabel di bawah ini (Tabel 1.1-Tabel 1.3) adalah standar dan mutu (spesifikasi)
bahan bakar jenis gasoline (bensin) yang dipasarkan di dalam negeri berdasarkan keputusan
Dirjen Migas.

Kelompok 4

|8

Tugas II PMB Gasoline

Tabel 1.1. Standar dan Mutu Jenis Bensin 88

Kelompok 4

|9

Tugas II PMB Gasoline

Tabel 1.2. Standar dan Mutu Jenis Bensin 91

Kelompok 4

| 10

Tugas II PMB Gasoline

Tabel 1.3. Standar dan Mutu Jenis Bensin 95

Kelompok 4

| 11

Tugas II PMB Gasoline

BAB II
PROSES PRODUKSI GASOLINE

2.1

Distilasi
Distilasi sendiri memiliki fungsi untuk memisahkan crude oil menjadi berbagai

produk seperti naphtha, minyak tanah, diesel dan gas berdasarkan perbedaan titik didih. Ada
2 jenis distilasi yang digunakan dalam proses penyulingan minyak mentah, yaitu
atmospheric distillation, yang ditunjukkan oleh Gambar 2.1 dan vacuum distillation
(Gambar 2.2) yang digunakan secara berurutan. Proses pemisahan pertama menggunakan
atmospheric distillation lalu hasil produk bawah dapat dipisahkan lagi menggunakan
vacuum distillation.
a. Atmospheric Distillation Unit

Gambar 2.1. Atmospheric Distillation Unit

Adapun prinsip kerja dari unit ini antara lain:


Memanaskan minyak mentah dengan memanfaatkan panas dari produk stream
Menghilangkan garam dan mengeringkan minyak mentah menggunakan pemisahan cair
(Desalter)
Memanaskan minyak mentah ke suhu yang diinginkan menggunakan heater
Flash minyak mentah di kolom distilasi atmosfer
Menghasilkan produk atas, bawah, dan samping
Kelompok 4

| 12

Tugas II PMB Gasoline

Produk yang dihasilkan dari unit ini adalah sebagaimana dijabarkan dalam Tabel 2.1 berikut
ini:

Tabel 2.1. Produk dari Atmospheric Distillation Unit

b. Vacuum Distillation Unit

Gambar 2.2. Vacuum Distillation Unit

Unit ini digunakan untuk memisahkan kembali hidrokarbon yang terdapat pada
produk bawah distilasi atmosferik. Adapun prinsip kerja dari unit ini antara lain:
Memanaskan bottom product dengan menggunakan vacuum furnace
Menjalankan flashing pada distilasi vakum
Menghasilkan produk atas, bawah dan samping
Kelompok 4

| 13

Tugas II PMB Gasoline

Produk yang dihasilkan dari unit ini adalah sebagaimana dijabarkan dalam Tabel 2.2 di
bawah ini:

Tabel 2.2. Produk dari Vacuum Distillation Unit

2.2

Delay Coking Process


Hal ini dilakukan untuk mengkonversi nilai rendah residu untuk produk (naphtha

dan solar) dan minyak gas coker. Proses utama yang digunakan adalah thermocracking
untuk meningkatkan rasio H/C dengan carbon rejection semi-batch. Blok diagram proses
ini ditunjukkan oleh Gambar 2.3. Adapun prinsip kerja dari unit ini antara lain:

Panaskan residu dan memberikan kondensasi utama dengan memasukan umpan ke


bawah fractionator utama

Panaskan fraksinator dengan pemanas

Flash dengan uap panas sehingga cake akan terpisah dengan uap

Lalu cake yang terbentuk akan terpisah lewat hydrorejecting

Gambar 2.3. Delay Coking Process


Kelompok 4

| 14

Tugas II PMB Gasoline

Proses di atas akan menghasilkan produk sebagaimana dijabarkan dalam Tabel 2.3 di bawah
ini:

Tabel 2.3. Produk dari Delay Coking Process

2.3

Fluidized Catalytic Cracker (FCC) Process


Proses ini bertujuan untuk mengkonversi nilai gas oil yang rendah menjadi produk

berharga seperti naptha dan diesel. Teknik yang digunakan adalah catalytic cracking dengan
menambah rasio H/C dengan sisa karbon yang terdapat pada proses selanjutnya. FCC
menggunakan katalis kimia untuk memecah molekul besar menjadi molekul lebih kecil yang
lebih berguna, sementara untuk komponen yang terlalu ringan untuk menjadi gasoline maka
perlu melalui proses yang disebut alkilasi, yang menggabungkan molekul yang lebih ringan
untuk menjadi molekul lebih berat yang lebih tinggi angka oktannya.

2.4

Hydrotreating Process
Merupakan proses yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan zat

pengotor seperti sulfur, nitrogen dan besi. Proses utamanya adalah hidrogenasi yang akan
berlangsung pada reaktor dengan menggunakan katalis dan akan mengubah rasio H/C lalu
akan ada juga penghilangan sulfur dengan teknik absorbsi. Blok diagramnya ditunjukkan
oleh Gambar 2.4 berikut ini:

Kelompok 4

| 15

Tugas II PMB Gasoline

Gambar 2.4. Hydrotreating Process

2.5

Catalytic Reforming Process


Proses ini digunakan untuk mengkonversi naptha dengan oktan rendah menjadi

reformate dengan oktan tinggi yang nantinya akan di-blending menjadi gasoline. Selain itu
juga untuk menghasilkan aromatik lain seperti benzena, toluena dan xylene untuk industri
petrokimia. Teknik utama yang digunakan adalah dengan menggunakan katalis. Karena
reaksi reforming terjadi pada katalis. Reaksi yang diharapkan adalah dehidrogenasi napthene
menjadi aromatik, isomerisasi hapthane, dan isomerisasi parafin. Blok diagramnya
ditunjukkan oleh Gambar 2.5. Adapun sistem kerja unit ini adalah:

Naptha dan recycle hydrogen bercampur, lalu dipanaskan dan masuk ke dalam
reaktor bed

Setiap lewat perlu masukan panas untuk mendorong reaksi

Pada akhir proses limbah dipisahkan dengan hydrogen dari recycle atau didapat dari
hydrotreating

Reformate dapat diproses lebih lanjut untuk memisahkan komponen aromatik atau
menjadi campuran gasoline.

Kelompok 4

| 16

Tugas II PMB Gasoline

Gambar 2.5. Catalytic Reforming Process

Produk yang dihasilkan dari proses ini ditunjukkan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Produk dari Catalytic Reforming Process

2.6

Isomerization Process
Proses ini dimaksudkan untuk mengkonversi low-octane n-paraffin menjadi high-

octane iso-paraffin. Proses isomerisasi berlangsung di reaktor bed di mana n-paraffin akan
dikonversi menjadi iso-paraffin. Dikarenakan katalis yang digunakan sangat sensitif
terhadap kontaminan seperti sulfur dan air maka diperlukan pre-treatment agar katalis tidak
cepat jenuh. Blok diagramnya ditunjukkan oleh Gambar 2.6. Langkah prosesnya adalah:

Feed yang telah dihilangkan sulfurnya dan hidrogen akan dikeringkan di dalam fixed
bed agar tercampur.

Campuran akan dipanaskan dan dialirkan ke dalam reaktor hidrogenasi untuk


menjenuhkan olefin menjadi parafin dan juga menjenuhkan benzena.
Kelompok 4

| 17

Tugas II PMB Gasoline

Limbah dari proses hidrogenasi akan didinginkan dan dialirkan ke dalam


isomerization reactor.

Hasil dari isomerisasi akan didinginkan dan dipisahkan antara hidrogen dan LPG
yang berada pada fuel gas dan produk isomerisasi untuk campuran gasoline.

Gambar 2.6. Isomerization Process

Produk yang dihasilkan dari proses ini adalah sebagaimana dijabarkan dalam Tabel 2.5
berikut ini:

Tabel 2.5. Produk dari Isomerization Process

Kelompok 4

| 18

Tugas II PMB Gasoline

2.7

Gasoline Blending (Aditif Bensin)


Sesuai dengan perkembangan teknologi otomotif, pada dasawarsa terakhir ini

tentunya perlu diimbangi dengan kualitas dari bahan bakar yang digunakan. Salah satu
parameter untuk menentukan kualitas bahan bakar adalah angka oktannya. Jika angka oktan
bahan bakar yang digunakan terlalu rendah, maka timbul gejala ketukan (knocking) pada
motor dan selanjutnya akan mengurangi performansi motor secara keseluruhan. Untuk
meningkatkan performa dari bahan bakar pada dasarnya ditambahkan beberapa senyawa
pada gasoline sehingga dapat dihasilkan bahan bakar gasoline berkualitas tinggi. Aditif
tersebut dikenal dengan sebutan Aditif Octane Booster. Aditif Octane Booster merupakan
komponen dari senyawa yang digunakan untuk meningkatkan angka oktan dari bahan bakar
dan sekaligus sebagai komponen anti-ketuk :

Tetra Ethyl Lead (TEL)

Salah satu komponen yang digunakan sebagai bahan anti ketuk pada saat ini adalah Tetra
Ethyl Lead (TEL), Pb(C2 H5)4. Beberapa pertimbangan mengapa timbal digunakan sebagai
aditif bensin:
Memiliki sensitivitas tinggi dalam meningkatkan angka oktan, di mana setiap tambahan
0.1 gram timbal per 1 liter gasoline mampu menaikkan angka oktan sebesar 1.5 - 2 satuan
angka oktan.
Harga relatif murah untuk kebutuhan peningkatan 1 satuan angka oktan dibandingkan
dengan menggunakan senyawa lainnya.
Pemakaian timbal dapat menekan kebutuhan aromat sehingga proses produksi relatif
lebih murah dibandingkan produksi gasoline tanpa timbal.
Dampak positif lain adanya timbal dalam adalah kemampuannya memberikan fungsi
pelumasan pada dudukan katup dalam proses pembakaran khususnya untuk kendaraan
produksi tahun lama. Adanya fungsi pelumasan ini akan mendorong dudukan katup
terlindung dari proses keausan sehingga lebih awet - untuk mobil yang diproduksi tahun
lama.
Dampak negatif timbal terhadap lingkungan hidup termasuk kepada kesehatan
manusia, adalah bahwa pencemaran timbal dalam udara menurut penelitian merupakan
penyebab potensial terhadap peningkatan akurnulasi kandungan timbal dalam darah
terutarna pada anak-anak. Akumulasi timbal dalam darah yang relatif tinggi akan
Kelompok 4

| 19

Tugas II PMB Gasoline

menyebabkan sindroma saluran pencernaan, kesadaran (cognitive effect), anemia, kerusakan


ginjal hipertensi, neuromuscular dan konsekuensi pathophysiologis serta kerusakan syaraf
pusat dan perubahan tingkah laku. Pada kondisi lain, akumulasi timbal dalam darah ini juga
menyebabkan ganggua n fertilitas, keguguran janin pada wanita hamil, serta menurunkan
tingkat kecerdasan (IQ) pada anak-anak. Penyerapan timbal secara terus menerus melalui
pernafasan dapat berpengaruh pula pada sistem haemopoietic. Studi menunjukkan bahwa
penurunan penggunaan timbal dalam gasoline sebesar 50% berakibat menurunkan 30%
kandungan timbal dalam darah. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa timbal dalam
gasoline merupakan penyebab utama timbulnya penumpukan timbal dalam darah yang
nantinya akan dapat menyebabkan timbulnya kanker.
Berdasarkan hasil riset senyawa TEL ini pertama-tama terurai pada temperatur
sekitar 100C dengan bantuan panas dari ruang bakar, melalui reaksi penguraian sebagai
berikut:

Reaksi radikal etil dengan TEL dapat menghasilkan alkana, alkena, hidrogen dan
juga radikal Pb-trietil. Yang bertindak sebagai bahan anti ketuk adalah Pb-oksida, dimana
Pboksida ini berada dalam bentuk radikal-radikal yang tersebar dalam ruang bakar dan
sebagian akan melekat pada dinding silinder membentuk endapan, dan sebagian lagi akan
keluar ke atmosfir bersama-sama dengan gas sisa pembakaran. Pb-oksida yang dibebaskan
ke atmosfir inilah yang sangat berbahaya bagi lingkungan, sehingga perlu dicarikan bahan
substitusi untuk menggantikan TEL sebagai aditif octane booster.

Senyawa Oksigenat
Penggunaan TEL sebagai aditif anti ketuk di dalam bensin makin banyak digantikan

oleh senyawa organik beroksigen (oksigenat) seperti alkohol (methanol, etanol, isopropil
alkohol) dan eter (Metil Tertier Butil Eter (MTBE), Etil Tertier Butil Eter (ETBE) dan
Tersier Amil Metil Eter (TAME)). Oksigenat adalah senyawa organik cair yang dapat
dicampur ke dalam bensin untuk menambah angka oktan dan kandungan oksigennya.
Kelompok 4

| 20

Tugas II PMB Gasoline

Selama pembakaran, oksigen tambahan di dalam bensin dapat mengurangi emisi


karbon monoksida, CO dan material- material pembentuk ozon atmosferik. Selain itu
Penggunaan alkohol sebagai zat aditif pengganti TEL masih terbatas karena beberapa
masalah antara lain tekanan uap dan daya hidroskopisnya yang tinggi. Oleh karena itu
senyawa eter lebih banyak digunakan daripada alkohol. Senyawa eter yang telah banyak
digunakan adalah MTBE, sedangkan ETBE dan TAME masih terbatas karena teknologi
prosesnya masih belum banyak dikembangkan. Deskripsi beberapa senyawa oksigenat
sebagai aditif gasoline dengan lebih jelas dapat dilihat pada berikut ini :
Metanol
Metanol memiliki angka oktan yang tinggi dan mudah didapat dan penggunaannya
sebagai aditif bensin tidak menimbulkan pencemaran udara. Namun perbedaan struktur
molekul methanol yang sangat berbeda dari struktur hidrokarbon bensin menimbulkan
permasalahan dalam penggunaannya, antara lain kandungan oksigen yang sangat tinggi
dan rasio stoikiometri udara per bahan bakar. Nilai bakarnya pun hanya 45% dari
bensin. Metanol merupakan cairan alkohol yang tak berwarna dan bersifat toksik. Pada
kadar tertentu (kurang dari 200 ppm) methanol dapat menyebabkan iritasi ringan pada
mata, kulit dan selaput lendir dalam tubuh manusia. Efek lain jika keracunan methanol
adalah meningkatnya keasaman darah yang dapat mengganggu kesadaran.
Etanol
Etanol memiliki angka oktan yang hampir sama dengan metanol. Daya toleransi etanol
terhadap air lebih baik daripada metanol. Di negara-negara yang mempunyai kelebihan
produksi pertanian etanol dibuat dari fermentasi produk pertanian. Etanol juga bersifat
toksik. Di dalam tubuh manusia keberadaan etanol diproses di dalam hati di mana enzim
dehidrogenasi mengubah etanol menjadi asetaldehida. Akumulasi asetaldehida itu dapat
mengganggu sistem kesadaran otak manusia. Namun begitu penggunaan etanol sebagai
aditif bensin dinilai relatif lebih aman dibanding metanol.
Metil Tersier Butil Eter (MTBE)
MTBE adalah salah satu senyawa organik yang tidak mengandung logam dan tidak
membentuk senyawa peroksida yang berbahaya bagi lingkungan serta mampu
bercampur secara memuaskan dengan hidrokarbon. Senyawa ini terdiri dari gugusan

Kelompok 4

| 21

Tugas II PMB Gasoline

Methyl dan Buthyl tertier dengan rumus molekul CH3 OC4 H9 atau C5H12O , sedangkan
rumus bangunnya adalah:

Kisaran angka oktan MTBE adalah 116 118 RON, berat molekul 88 dan titik
didihnya 55C, kalor pembakaran 8.400 kkal/kg. Karena kisaran angka oktan yang
tinggi, maka MTBE dapat digunakan sebagai aditif octane booster. Disamping itu
karena titik didihnya yang rendah, maka MTBE bersifat mudah menguap, sehingga ada
batasan konsentrasi volume tertentu jika senyawa tersebut digunakan untuk
meningkatkan angka oktan bensin dasar. Pembatasan ini perlu dilakukan untuk
menghindari penguapan yang berlebihan dari bahan bakar secara sia sia, disamping itu
juga untuk menghindari terjadinya vapour lock sehingga menyumbat saluran udara
masuk karburator. Bensin yang telah ditambahkan aditif MTBE memiliki Reid Vapour
Pressure (RVP) kurang dari 9 Karena sifat volatilitas dan tekanan uap Reid yang
dimiliki oleh senyawa Methyl Tertiary Buthyl Ether, maka senyawa tersebut memiliki
kemampuan untuk berfungsi sebagai additivive otane booster guna meningkatkan
angka oktan bahan bakar.
Ada beberapa kelemahan dalam penggunaan MTBE sebagai aditif gasoline. Kelarutan
MTBE dalam air tinggi, sehingga dapat menimbulkan kerugian kepada manusia.
Apabila terjadi kebocoran tangki SPBU maka bensin akan meresap ke dalam tanah. Air
tanah yang terminum manusia ini berbahaya karena sudah tercemari dengan MTBE
yang bersifat karsinogenik (zat penyebab penyakit kanker).
Isopropil Alkohol (IPA), Modifikasi dari Etanol
Isopropil alkohol (IPA) adalah zat yang tidak beracun. Rumus kimianya adalah
CH3CHOHCH3, zat yang sangat mudah menguap, mudah terbakar, berbau khas dan
beracun. IPA memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut :

Kelompok 4

| 22

Tugas II PMB Gasoline

1) Tersedia dalam jumlah yang cukup besar dalam bentuk propana karena merupakan
salah satu hasil samping dari kilang minyak bumi. Jumlah produksi propana pada
3

kilang PT. Badak adalah sekitar 125.000 m /hari atau sekitar 1.250 ton/hari.
2) IPA kering, yaitu IPA dengan kemurnian 99,8%-v, digunakan sebagai penghilang
air pada bahan bakar sehingga dapat mencegah pembekuan pada bahan bakar.
3) IPA kering (anhidrous) dapat meningkatkan kinerja kendaraan bermotor karena
merupakan komponen pencampur beroktan cukup tinggi (nilai RON 118 dan nilai
MON 98)
4) Tidak korosif pada mesin kendaraan bensin sehingga memiliki keunggulan bila
dibandingkan metanol. Metanol memiliki sifat korosif pada mesin bensin sehingga
apabila digunakan sebagai zat aditif, mesin kendaraan harus diganti dengan mesin
baru yang tahan korosi terhadap metanol.
5) Tidak dapat dikonsumsi dalam bentuk minuman sehingga memiliki nilai lebih bila
dibandingkan etanol.
MMT
Methylcyclopentadienyl Manganese Tricarbonyl (MMT) adalah senyawa organologam
yang digunakan sebagai pengganti bahan aditif TEL. RVP-nya rendah yaitu 2,43 psi
dan penggunaannya dibatasi hingga 18 mg Mn/liter bensin. Indeks pencampuran RVP
yang rendah menguntungkan dalam proses pencampuran bensin karena mengurangi
tekanan uap bahan bakar RVP sehingga emisi uap selama operasi dan penggunaan
bahan bakar pada kendaraan bermotor berkurang. Penggunaan MMT hingga 18 mg
Mn/liter bensin dapat meningkatkan angka oktan bensin sebesar 2 poin.
Naphtalene
Naftalena adalah salah satu komponen yang termasuk benzena aromatik hidrokarbon,
tetapi tidak termasuk polisiklik. Naftalena memiliki kemiripan sifat

yang

memungkinkannya menjadi aditif bensin untuk meningkatkan angka oktan. Sifat-sifat


tersebut antara lain: sifat pembakaran yang baik, mudah menguap sehingga tidak
meninggalkan getah padat pada bagian-bagian mesin. Penggunaan Naftalena sebagai
aditif memang belum terkenal karena masih dalam tahap penelitian.

Kelompok 4

| 23

Tugas II PMB Gasoline

BAB III
TEKNOLOGI GASOLINE

3.1

Teknologi Gas To Liquid (GTL)


Perkembangan teknologi GTL di dunia saat ini telah mencapai tahap komersial.

Beberapa pemegang paten seperti Sasol Ltd., Shell, ExxonMobil, Rentech Inc., Syntroleum
Corp., JNOC, dll, telah berhasil mengoperasikan kilang-kilang GTL di berbagai penjuru
dunia seperti Nigeria, Mesir, Argentina, Qatar, Iran, Malaysia, dan Australia. Produk yang
dihasilkan dari teknologi GTL ini meliputi: naptha, middle distillates, dan lilin (waxes),
produk naptha sendiri bisa di up grading menjadi produk gasoline. namun dapat juga di
arahkan ke produk dimetil eter (DME), dan metanol. Dari beberapa produk GTL tersebut,
middle distillates (diesel dan bahan bakar jet) dapat mengganti langsung diesel berbasis
minyak bumi yang digunakan selama ini dalam mesin diesel (compression ignition engines).
Produk samping yang dihasilkan berupa hidrokarbon ringan (tail gas) masih dapat
dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga (power generation), sedangkan hidrogen dapat
diolah lanjut menjadi pupuk/urea atau dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam
merancang kilang GTL terintegrasi (Gambar 3.1).
Dengan teknologi GTL, cadangan gas sebesar 1 TCF (Trillion Cubic Feet) dapat
menghasilkan produk GTL berupa bahan bakar sintetis (diesel dan naphtha) sebesar 10,000
barrel/hari selama 30 tahun, dengan asumsi laju alir umpan gas alam sebesar 100 MMSCFD
(Million Standard Cubic Feet per Day). Data terakhir BP Statistics mencatat jumlah
cadangan gas Indonesia tahun 2002 sebesar 92.5 TCF; dengan demikian kita dapat
menghitung sendiri berapa barrel/hari diesel dan naphtha yang dapat diproduksi guna
mengurangi impor BBM (solar) yang selama ini dilakukan.

Kelompok 4

| 24

Tugas II PMB Gasoline

Gambar 3.1. Skema Teknologi Gas-To-Liquid (GTL) terintegrasi. (Sumber: Sasol, Ltd)

Tahapan proses dari teknologi GTL ini adalah: tahap pemurnian gas (gas
purification), proses pembuatan gas sintesis (synthesis gas process), proses Fischer-Tropsch
(Fischer-Tropsch process), dan tahap peningkatan kualitas produk (product upgrading).
1. Tahapan Pemurnian Gas (Gas Purification)
Pada tahap ini, gas alam yang keluar dari sumur dibersihkan dari senyawa-senyawa yang
dapat mengganggu jalannya proses selanjutnya. Senyawa-senyawa tersebut diantaranya:
H2S, CO2, H2O, dan lain-lain Teknologi komersial yang dapat digunakan diantaranya
proses absorpsi menggunakan pelarut tertentu, misalnya: MEA (monoetanolamin), DEA
(dietanolamin), dan TEG (trietilen glikol).
2. Tahapan Pembuatan Gas Sintesis (Synthesis Gas Process)
Pada tahapan ini, gas alam yang telah dibersihkan, direaksikan sehingga menghasilkan
gas sintesis. Gas sintesis atau SynGas adalah istilah yang diberikan kepada campuran
gas karbonmonoksida (CO) dengan hidrogen (H2) yang digunakan untuk mensintesis
berbagai macam zat seperti metanol dan ammonia. Proses pembuatan gas sintesis yang
telah komersial adalah: proses steam reforming, oksidasi parsial, dan CO2reforming.
3. Tahapan Reaksi Fischer-Tropsch (Fischer-Tropsch Process)
Reaksi Fischer-Tropsch (FT) merupakan tahapan reaksi yang paling penting dalam
teknologi GTL. Pada tahap reaksi FT ini, gas sintesis dikonversi menjadi hidrokarbon

Kelompok 4

| 25

Tugas II PMB Gasoline

rantai panjang. Jenis katalis, jenis reaktor, rasio H2/CO, dan kondisi operasi merupakan
faktor yang menentukan jenis produk yang dihasilkan.
Reaksi FT keseluruhan secara umum :
(1) nCO + mH2 C1 C40- (alkana) + H2O
(2) nCO + mH2 C1 C40- (alkena) + n CO2
Keterangan: harga n dan m sangat bergantung pada metode pembuatan gas sintesis
dan jenis bahan baku yang digunakan, misalnya: rasio H2/CO gas bumi = 1.8-2.3,
batubara = 0.6-0.8.
Jenis katalis yang banyak digunakan adalah katalis berbasis kobalt (Co) dan besi (Fe).
Jenis reaktor FT yang digunakan misalnya terdiri dari reaktor slurry, fixed bed, dan
fluidized. Reaktor-reaktor tersebut dioperasikan pada rentang suhu antara 149C-371C
dengan tekanan antara 0.7-41 bar.
4. Tahapan Peningkatan Kualitas Produk (Product Upgrading)
Tahap ini merupakan tahap untuk mendapatkan produk sesuai jenis dan spesifikasi yang
diinginkan. Proses yang digunakan merupakan proses yang telah digunakan secara
komersial pada kilang-kilang minyak umumnya, seperti: proses catalytic reforming,
fluid catalytic cracking, isomerisasi, alkilasi, dll.

3.2

Fluid Catalytic Cracking Unit (FCCU)


FCC adalah unit secondary processing di kilang yang menggunakan micro-

spherodial catalyst (zeolitic catalyst) yang akan terfluidisasi dengan pengaturan supply
udara yang tepat. Generasi pertama katalis berupa natural clay (clay alam) seperti : Bentonit
component utama montmorilonite dan Hydrat Silica Alumina mengandung Magnesia.
Sedangkan katalis generasi kedua (1940) Katalisator Synthetis : Silica Alumina Amorp. Dan
katalis yang dipakai sekarang adalah Catalysator zeolite : Sodalite, zeolite A, Faujasite dan
lain-lain. Produk yang dihasilkan unit ini adalah minyak yang lebih ringan dengan bilangan
oktan dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produk utama yang dihasilkan adalah :
a) Raw Propane-Propylene, sebagai bahan baku polipropilen
b) Propan dan butan, sebagai komponen LPG
c) Naphtha (HOMC / High Octane Mogas Component)
Tujuan utama proses cracking adalah mengkonversi Medium Gas Oil dan Heavy
Vacuum Gas Oil dari HVU (High Vacuum Unit) dan minyak berat (long residue) menjadi
produk menjadi gasoline dengan oktan tinggi..Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan
Kelompok 4

| 26

Tugas II PMB Gasoline

dari segi kuantitas maupun kualitas jenis umpan memegang peranan penting. Untuk
mendapatkan hal tersebut persyaratan umpan Catalytic Cracking sebagai berikut :
1. Gravity oAPI : 28 - 30
2. Boilling range 600 - 1100oF
3. ASTM Distilasi recovery 700oF = 10 % max
4. Conradsion carbon residue weight = 0,5 % max
5. Water content 0,05 % max khusus cold.
3.3

Catalytic Reforming Unit


Catalytic reforming telah menjadi bagian penting bagi suatu kilang di seluruh dunia

selama bertahun-tahun. Fungsi utama proses catalytic reforming adalah meng-upgrade


naphtha yang memiliki octane number rendah menjadi komponen blending mogas (motor
gasoline) dengan bantuan katalis melalui serangkaian reaksi kimia. Naphtha yang dijadikan
umpan catalytic reforming harus di-treating terlebih dahulu di unit naphtha hydrotreater
untuk menghilangkan impurities seperti sulfur, nitrogen, oksigen, halide, dan metal yang
merupakan racun berbahaya bagi katalis catalytic reformer yang tersusun dari platina.
Reaksi catalytic reforming sangat ditentukan oleh kandungan paraffin, naphthene,
dan aromatic yang terkadung dalam naphtha umpan. Aromatic hydrocarbon yang
terkandung dalam naphtha tidak berubah oleh proses catalytic reforming. Sebagian besar
napthene bereaksi sangat cepat dan efisien berubah menjadi senyawa aromatic (reaksi ini
merupakan reaksi dasar catalytic reforming). Paraffin merupakan senyawa paling susah
untuk diubah menjadi aromatic. Untuk aplikasi low severity, hanya sebagian kecil paraffin
berubah menjadi aromatic. Sedangkan pada aplikasi high severity, konversi paraffin lebih
tinggi, tetapi tetap saja berlangsung lambat dan inefisien.
Feed unit catalytic reforming adalah heavy naphtha yang berasal dari unit naphtha
hydrotreating yang telah mengalami treating untuk menghilangkan impurities seperti sulfur,
nitrogen, oxygen, halida, dan metal yang merupakan racun bagi katalis catalytic reforming.
Boiling range umpan heavy naphtha antara 70 s/d 150 oC. Tujuan proses catalytic reforming
adalah memproduksi aromatic dari naphthene dan paraffin.
Produk unit catalytic reforming berupa high octane motor gasoline component
(HOMC) yang digunakan sebagai komponen blending motor gasoline. Produk unit catalytic
reforming ini mempunyai RONC > 95 dan bahkan dapat mencapai RONC 100. Produk lain
adalah LPG dan byproduct hydrogen. Produk LPG dikirim ke tangki produk (jika sudah
Kelompok 4

| 27

Tugas II PMB Gasoline

memenuhi spesifikasi produk LPG) atau dikirim ke unit Amine-LPG recovery terlebih
dahulu. By product hydrogen dikirim ke unit hydrotreater dan hydrogen plant.

Kelompok 4

| 28

Tugas II PMB Gasoline

BAB IV.
EKONOMI DAN LINGKUNGAN

4.1

Aspek Ekonomi

4.1.1 Harga Bensin di Seluruh Dunia


Harga rata-rata bensin di seluruh dunia adalah US$ 1,05 per liter (Menurut
http://www.globalpetrolprices.com, 9 Maret 2015). Namun, ada perbedaan substansial
dalam harga tersebut antara negara yang satu dengan negara lainnya seperti yang
ditunjukkan dalam Gambar 4.1. Sebagai aturan umum, negara-negara maju memiliki harga
yang lebih tinggi, sementara negara-negara berkembang dan negara-negara yang
memproduksi dan mengekspor minyak memiliki harga yang jauh lebih rendah. Hal ini
tercermin pada daftar 10 negara dengan harga bensin paling tinggi pada Gambar 4.2 (data
bulan Juli 2013) yang didominasi oleh negara maju dan daftar 10 negara dengan harga
bensin paling rendah pada Gambar 4.3 (data bulan Agustus 2012) yang didominasi oleh
negara-negara eksportir minyak. Satu pengecualian adalah Amerika Serikat yang
merupakan negara ekonomi maju tetapi memiliki harga bensin yang rendah. Perbedaan
harga antar negara disebabkan oleh berbagai jenis pajak dan subsidi untuk bensin.

Gambar 4.1 Harga Bahan Bakar (Bensin) di Dunia dalam USD/liter

Semua negara memiliki akses ke harga minyak yang sama pada pasar internasional,
tetapi kemudian memutuskan untuk mengenakan pajak yang berbeda. Akibatnya, harga
eceran bensin berbeda. Dalam beberapa kasus, seperti Venezuela, pemerintah bahkan
mensubsidi bensin dan oleh karena itu, orang di sana hampir tidak membayar apapun (gratis)
untuk bisa mengendarai kendaraan mereka. Data mengenai 10 negara dengan subsidi bahan
Kelompok 4

| 29

Tugas II PMB Gasoline

bakar terbesar, bensin dan diesel (tahun 2012), disajikan dalam Gambar 4.4. Terlihat
Indonesia masuk dalam daftar tersebut.

Gambar 4.2 Sepuluh Negara dengan Harga Bensin Termahal

Gambar 4.3 Sepuluh Negara dengan Harga Bensin Termurah

Kelompok 4

| 30

Tugas II PMB Gasoline

Gambar 4.4 Sepuluh Negara dengan Subsidi Bahan Bakar Terbesar


beserta Besar Subsidinya pada Tahun 2012

4.1.2 Harga Bensin di Indonesia


Pada bagian sebelumnya kita telah mengetahui harga bensin di berbagai negara di
dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Gambar 4.5 menunjukkan data harga bensin rata-rata
Indonesia pada periode 1 Desember 2014 - 9 Maret 2015 sedangkan pada periode yang sama
pada Gambar 4.6, harga tersebut coba dibandingan dengan harga bensin rata-rata di
beberapa negara .

Gambar 4.5 Harga Bensin Rata-rata di Indonesia (1 Des 2014 - 9 Mar 2014)

Kelompok 4

| 31

Tugas II PMB Gasoline

Gambar 4.6 Harga Bensin Rata-rata di Indonesia Dibandingkan dengan Negara Lainnya

4.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Bensin


Mungkin kita pernah bertanya-tanya, saat kita membeli atau mengisi bahan bakar
(gasoline) di SPBU, apa yang sebenarnya kita bayar? Menurut Tennessee Fuel &
Convenience Store Association (TFCA), berikut adalah rincian dari 4 faktor biaya terbesar.

Biaya crude oil mempengaruhi sekitar 48% dari harga.

Pajak federal dan pajak negara bagian mempengaruhi sekitar 23% dari harga (Di
Tennessee, pajak negara bagian dan federal gabungan adalah 39,8 sen per galon
bensin, sehingga ketika kita membeli 10 galon bensin, kita akan membayar sekitar
$4,00 untuk pajak).

Biaya proses refining dan margin adalah sekitar 18% dari harga.

Semua biaya distribusi dan pemasaran mempengaruhi sekitar 12% dari harga. Ini
termasuk transportasi, penyimpanan, biaya kartu kredit (biasanya 2 sampai 4 persen),
biaya melakukan bisnis, pajak penjualan, dan marjin laba kotor pengecer.

Sebenarnya, hampir 90 persen dari biaya satu galon bensin telah ditentukan bahkan
sebelum mencapai toko atau layanan stasiun lokal kita.
Besar persenan keempat faktor tersebut tidak selalu sama dan bisa berbeda di
berbagai lokasi (misalnya Gambar 4.7). Untuk di Indonesia sendiri, karena BBM (bensin)
tidak dikenakan pajak, maka faktor yang paling berpengaruh adalah harga minyak mentah.
Terbukti dari harga BBM di Indonesia yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Untuk daerah pedalaman dan wilayah Indonesia bagian Timur, faktor distribusi dan
pemasaran juga memainkan peran yang besar terhadap harga BBM yang dijual.

Kelompok 4

| 32

Tugas II PMB Gasoline

Gambar 4.7 Faktor yang Menentukan Besar Harga BBM (Gasoline dan Diesel) di SPBU

4.1.4 Evaluasi Ekonomi (Studi Kasus)


Di bawah ini akan dibahas suatu evaluasi ekonomi, suatu studi kasus mengenai
rencana pembangunan suatu kilang minyak. Data-data yang disajikan dapat memberikan
kita gambaran mengenai seberapa besar dana, investasi yang dibutukan untuk membangun
dan mengoperasikan suatu kilang minyak.
Perkiraan biaya konstruksi unit proses pengilangan minyak (refinery) dan kebutuhan
utilitas mereka (tahun 1999), tercantum dalam Tabel 4.1. Kebutuhan akan air pendingin,
sistem uap, dan water makeup dihitung sesuai dengan pedoman yang berlaku. Perkiraan
awal pembangunan kilang ini, diharapkan dapat dimulai pada bulan Agustus 2000, dan
startup proses diantisipasi akan dimulai pada bulan Agustus 2002. Tingkat inflasi sebesar
3% per tahun akan digunakan untuk membawa present value dari biaya-biaya (cost) ke
future value mereka pada tahun 2002.
Modal kerja (working capital) diasumsikan sebesar 10% dari biaya konstruksi.
Sebuah tinjauan mengenai kebutuhan pengilangan minyak, menunjukkan bahwa sekitar 139
orang akan diperlukan untuk mengoperasikan kilang, di luar personil pemeliharaan. Para
personil pemeliharaan akan dimasukkan ke dalam biaya pemeliharaan sebesar 4,5% per
tahun. Gaji tahunan rata-rata sebesar US$ 60.000, termasuk tunjangan, akan digunakan.
Umur kilang akan diasumsikan 20 tahun dengan biaya pembongkaran (dismantling
cost) sama dengan nilai sisa (salvage value). Depresiasi garis lurus akan digunakan. Tingkat
pajak federal adalah 38%, dan tingkat pajak negara bagian (state) adalah 7%.
Biaya investasi dan kebutuhan utilitas dirangkum dalam Tabel 4.1, biaya operasi
pada Tabel 4.2. Sedangkan ringkasan biaya keseluruhan dan realisasi diberikan dalam
Kelompok 4

| 33

Tugas II PMB Gasoline

Tabel 4.3, biaya tahunan dan pendapatan pada Tabel 4.4, dan total biaya investasi pada
Tabel 4.5, termasuk di dalamnya waktu pembayaran dan tingkat pengembalian investasi.
Tabel 4.2 Biaya Investasi dan Kebutuhan Utilitas

(Sumber: Petroleum Refining - Technology and Economics 4th Edition Book)

Tabel 4.3 Rangkuman Biaya Operasi

Kelompok 4

| 34

Tugas II PMB Gasoline

(Sumber: Petroleum Refining - Technology and Economics 4th Edition Book)


Tabel 4.4 Rangkuman Tahunan Refinery (Harga Tahun 1999)

(Sumber: Petroleum Refining - Technology and Economics 4th Edition Book)

Tabel 4.5 Biaya dan Revenue

(Sumber: Petroleum Refining - Technology and Economics 4th Edition Book)

Tabel 4.6 Investasi Total

(Sumber: Petroleum Refining - Technology and Economics 4th Edition Book)

Kelompok 4

| 35

Tugas II PMB Gasoline

4.2

Aspek Lingkungan

4.2.1 Pertimbangan Ekologikal dalam Proses Pengilangan Minyak


Sejak akhir Perang Dunia II, kilang-kilang minyak telah membuat upaya khusus
untuk meminimalkan pembuangan limbah ke lingkungan sekitarnya. Kesadaran akan
kontrol emisi ini dilakukan atas dasar keamanan, ke-ekonomis-an bahan bakar, dan
keuntungan ekonomi karena pemeliharaan yang baik. Saat ini, regulasi pemerintah
mewajibkan kilang-kilang yang ada untuk menambah fasilitas untuk mengontrol ketat emisi
atau pembuangan zat yang dianggap tidak diinginkan atau berpotensi berbahaya. Biaya
modal tambahan terkait bervariasi, tetapi untuk sebuah kilang baru, biaya sering dianggap
berada di kisaran 15 sampai 20% dari total investasi. Total biaya tambahan untuk instalasi,
operasi, dan pemeliharaan fasilitas ini diperkirakan sekitar 10 sampai 20 sen (US, 1993) per
galon produk olahan.
Zat yang berpotensi berbahaya harus dikendalikan dengan hati-hati termasuk di
dalamnya adalah pembuangan hidrokarbon cair ke sungai, danau, dan lautan serta
pembuangan uap hidrokarbon ke atmosfer. Air limbah harus bebas dari senyawa kimia
beracun atau karsinogenik. Kandungan benzena dalam air harus dikurangi hingga kurang
dari 10 ppm (fraksi berat). Stack gas dari boiler, tungku proses, regenerator FCC, dan mesin
pembakaran internal harus memenuhi batasan yang diizinkan berhubungan dengan senyawa
yang berpotensi membahayakan dan partikulat. Hidrokarbon, oksida belerang (SOX) dan
oksida nitrogen (NOX) adalah contoh dari komponen stack gas yang dibatasi kadarnya pada
jumlah yang sangat rendah karena dapat menyebabkan hujan asam. Tingkat kebisingan juga
harus dikontrol. Beberapa metode kontrol yang lebih umum akan dibahas dalam bagian
selanjutnya nanti.

4.2.2 Limbah Pengilangan Minyak


Pengilangan atau penyulingan minyak bumi adalah proses pemisahan secara fisik,
termal, dan kimia minyak mentah menjadi fraksi utama yang kemudian diproses lebih lanjut
melalui serangkaian langkah pemisahan dan konversi hingga menjadi produk akhir. Produk
kilang yang umum termasuk (1) gas alam dan LPG, (2) pelarut, nafta, (3) minyak tanah, (4)
bahan bakar diesel, (5) bahan bakar jet, (6) minyak pelumas, (7) berbagai bahan bakar
minyak, (8) lilin, (9) residu, dan (10) aspal.
Suatu kilang tidak harus dan tidak selalu menghasilkan semua produk ini. Beberapa
kilang didedikasikan untuk produk-produk tertentu, misalnya, produksi bensin atau produksi
Kelompok 4

| 36

Tugas II PMB Gasoline

minyak pelumas atau produksi aspal. Namun, masalahnya adalah bahwa kilang juga
memproduksi berbagai produk limbah dari berbagai unit proses seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 4.6 (EPA, 1995a) yang harus dibuang dengan cara yang benar.

Tabel 4.7 Emisi dan Limbah dari Proses Refinery

Kelompok 4

| 37

Tugas II PMB Gasoline

Tabel 4.8 Emisi dan Limbah dari Proses Refinery (Lanjutan)

(Sumber: The Chemistry and Technology of Petroleum 4th Edition Book)

4.2.3 Pengolahan Air Limbah (Waste Water Treatment)


Sumber air limbah dalam kilang minyak, biasanya berasal dari:
1. Luapan permukaan drainase, yang bisa berasal dari kebocoran, saluran terbuka, dan
tumpahan yang terbawa oleh air hujan
2. Saluran air tangki penampungan minyak mentah dan produk
3. Air desalter
4. Saluran air dari drum refluks atmosferik
5. Saluran air dari genangan barometrik atau akumulator di menara vakum ejektor
6. Air dari proses decoking hidrolik drum kokas
7. Uap yang mengembun dari operasi purging drum kokas
8. Menara pendingin dan proses blow-down air boiler

Air permukaan akan dikumpulkan dalam parit dan sistem saluran pembuangan
sedangkan air dari unit/bejana proses akan dikumpulkan dalam sistem pipa pembuangan.
Hampir semua bejana, tangki, pompa, dan tempat-tempat rendah pada pipa terhubung ke
sistem pembuangan tertutup. Setiap air yang mungkin terkontaminasi dengan minyak akan
di-skim dalam separator API. Minyak hasil skim kemudian dipompa ke slop tank untuk
diolah kembali. Sebagian air dari separator API digunakan dalam desalter dan sisanya
dimurnikan dengan meng-koagulasi pengotor yang ada dalam flotation tank. Dalam langkah
ini, sebuah campuran yang terdiri dari besi hidroksida dan aluminium hidroksida digunakan
untuk menyebabkan pengotor membentuk froth atau slurry yang akan mengapung ke atas
air. Froth tersebut kemudian diambil dan dikentalkan. Lumpur yang dihasilkan kemudian
dibakar dalam incinerator.
Kelompok 4

| 38

Tugas II PMB Gasoline

4.2.4 Pengendalian Polusi Udara


Sumber utama dari polusi udara potensial adalah dari gas hasil pembakaran yang
dikeluarkan dari boiler, tungku proses, regenerator FCC, dan uap hidrokarbon yang
menguap dari peralatan proses dan tangki penyimpanan. Kandungan sulfur dioksida dalam
gas hasil pembakaran dikontrol oleh peraturan lokal yang membatasi kandungan sulfur
dalam bahan bakar. Tail-gas dari unit recovery sulfur Claus selanjutnya diproses di tail-gas
cleaning unit (TGCU) yang mengkonversi hidrogen sulfida dan belerang dioksida
berkonsentrasi rendah menjadi unsur sulfur dan dengan demikian mencapai recovery lebih
dari 98% dari sulfur masukan. Tail-gas final ini kemudian dibakar dan dilepaskan melalui
tumpukan (cerobong) yang tinggi, seringkali 200 kaki atau lebih, dan pada kecepatan yang
cukup sehingga mengakibatkan kandungan sulfur dioksida di tanah berada dalam nilai-nilai
yang aman.
Uap hidrokarbon dari peralatan proses dan tangki penyimpanan akan dikumpulkan
dalam sistem perpipaan tertutup dan digunakan untuk bahan bakar kilang atau, dalam hal
tingkat ventilasi yang tinggi selama proses upset, uap akan dibakar di flare atau burn pit,
dengan ketentuan khusus yang bertujuan untuk mencegah terbentuknya visible smoke dan
memastikan pembakaran yang sempurna.
Fluid Catalytic Cracker (FCC) biasanya dilengkapi dengan dua hingga tiga tahap
cyclone untuk meminimalkan hilangnya debu katalis ke atmosfer. Dalam beberapa kasus,
presipitator elektrostatis digunakan bersamaan dengan boiler limbah panas (waste heat
boiler) untuk menghilangkan semua debu yang terlihat (visible dust) dari regenerator
catalytic cracker flue gas.
Proses crushing dan screening kokas (coke) dari unit delayed coking umumnya
dilakukan dalam kondisi basah untuk mencegah hilangnya debu ke udara. Produk kokas
(coke) akhir seringkali disimpan dalam bangunan untuk mencegah angin membawa partikel
halus ke atmosfer.

4.2.5 Pengendalian Polusi Suara


Kebisingan dalam suatu kilang dapat berasal dari mesin berputar (rotating
equipment) seperti kipas pendingin, turbin, kompresor, mesin, dan motor/rotor. Aliran fluida
berkecepatan tinggi melalui katup, nozel, dan pipa juga berkontribusi terhadap tingkat
kebisingan umum. Untuk mengontrol suara ini, peralatan yang menyebabkan kebisingan
Kelompok 4

| 39

Tugas II PMB Gasoline

biasanya diisolasi. Proper intake dan exhaust silencer disediakan pada blower, mesin
pembakaran, dan turbin. Di kilang yang lebih baru, luas lahan yang digunakan cukup,
sehingga jika dikombinasikan dengan langkah-langkah pengendalian kebisingan di atas,
pada dasarnya tidak ada suara yang terdengar di luar batas-batas kilang.

Kelompok 4

| 40

Tugas II PMB Gasoline

BAB V
KESIMPULAN

Angka Oktana menentukan kecenderungan gasoline untuk berdetonasi, yaitu gasoline


yang mengalami pembakaran dengan sendirinya tanpa adanya percikan api dari busi.
Semakin tinggi angka Oktana, semakin rendah kecenderungan gasoline untuk
berdetonasi. Angka Oktana juga berbanding lurus dengan harga gasoline di pasaran.

Gasoline dapat dihasilkan dari straight run process ataupun dari secondary process
pengolahan minyak bumi dengan karakteristik gasoline yang berbeda-beda.

Teknologi terbaru dari pengolahan gasoline adalah digunakannya katalis zeolite pada
unit Fluid Catalityc Cracking.

Penggunaan teknologi GTL (Gas To Liquid ) adalah proses terbaru untuk mendapatkan
gasoline dari fraksi naptha.

Negara-negara maju memiliki harga gasoline yang lebih tinggi, sementara negaranegara berkembang dan negara-negara yang memproduksi dan mengekspor minyak
memiliki harga gasoline yang jauh lebih rendah. Pengecualian untuk Amerika Serikat.

Empat faktor yang mempengaruhi harga bensin di SPBU atau pasaran adalah harga
bahan baku (minyak mentah), biaya proses refining, biaya distribusi dan pemasaran
serta pajak atau subsidi. Besar kontribusi/persenan keempat faktor tersebut berbedabeda tergantung kebijakan negara/regional masing-masing.

Kelompok 4

| 41

Tugas II PMB Gasoline

DAFTAR PUSTAKA
Witono, Johannes Anton. Teknologi Gas to Liquid.
http://majarimagazine.com/2008/10/teknologi-gas-to-liquid-gtl/

maret

2015.

Colwell, Ronald (Ron) F. 2009. Oil Refinery Process- A Brief Overview. Process
Engineer Associates.
Bahan Baku dan Proses PengoalahanMinyak di Pertamina RU III
Setiyawan, Atok. 2012. Kajian Eksperimental Pengaruh Etanol Pada Premium Terhadap
Karakteristik Pembakaran Kondisi Atmosferik Dan Bertekanan Di Motor Otto
Silinder Tunggal Sistem Injeksi. Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Mesin,
Universitas Indonesia, 2012.

Kelompok 4

| 42

Tugas II PMB Gasoline

LAMPIRAN

Pertanyaan dan Jawaban


1. Pertanyaan:
Mengapa densitas (SG) berbanding terbalik dengan Nilai Kalor ?
Jawaban:
Nilai Kalor atau Heating Value atau Calorific Value atau Kalor Pembakaran adalah
kalor yang dihasilkan oleh pembakaran sempurna 1 satuan berat bahan bakar padat
atau cair atau 1 m3 atu 1 satuan volume bahan bakar gas, pada keadaan baku.

Nilai kalor atas atau gross heating value atau higher heating value adalah
kalor yang dihasilkan apabila semua air yang mula-mula berwujud cair setelah
pembakaran mengembun menjadi cair kembali.

Nilai kalor bawah atau net heating value atau lower heating value adalah
kalor yang besarnya sama dengan nilai kalor atas dikurangi kalor yang diperlukan
oleh air yang terkandung dalam bahan bakar dan air yang

terbentuk dari

pembakaran bahan bakar untuk menguap pada 25C dan tekanan tetap.
Nilai kalor dari bahan bakar minyak umumnya berkisar antara 18,300 19,800
Btu/lb atau10,160 -11,000 kkal/kg.
Hubungan antara densitas (SG) dengan Nilai Kalor bakar minyak, ditentukan oleh
rumus berikut:
Untuk pembakaran pada volume tetap:

Nilai Kalor Atas, Btu/lb = 22.320 [3.780 x (SG)2]


Untuk pembakaran pada tekanan tetap:

Nilai Kalor Bawah, Btu/lb = 19.960 [3.780 x (SG)2] + (1.362 x SG)


Dari rumus di atas, semakin besar nilai densitas suatu bahan bakar, maka nilai
kalornya semakin kecil, dan sebaliknya.
2. Pertanyaan:
Bagaimana perbedaan karakteristik gasoline yang dihasilkan dari tiap proses ?
Jawaban:
Karakteristik gasoline daritiap proses berbeda-beda hal itu dinyatakan dengan
bilangan oktana yang dihasilkan. Gasoline yang dihasilkan dari proses straight run
mempunyai angka oktana lebih rendah dibandingkan dari proses yang lain. Angka
oktana yang lebih rendah menyebabkan penambahan zat aditif lebih banyak pada
Kelompok 4

| 43

Tugas II PMB Gasoline

saat diblending sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menaikkan bilangan oktana
pada proses straight run jauh lebih mahal dibandingkan gasoline yang dihasilkan
dari proses Fluid Catalityc Cracking. Sebenarnya angka oktana dapat diatur pada
saat proses blending, dari semua proses yang menghasilkan gasoline dapat dicampur
antara proses satu dengan lainnya, gunanya untuk meningkatkan atau mendapatkan
gasoline yang sesuai dengan keinginan pasar.
3. Pertanyaan:
Mengapa damar dapat menurunkan nilai Oktan ?
Jawaban:
Damar atau getah (gum) dapat terbentuk karena adanya alkena-alkena dalam
gasoline yang mempunyai satu ikatan ganda sehingga berpotensi untuk
berpolimerisasi membentuk molekul- molekul yang lebih besar. Pembentukan damar
ini dipercepat oleh adanya zat asam di udara, seperti peroksiden. Pembentukan
polimer alkena ini dapat menurunkan bilangan Oktana karena hilangnya komponen
alkena-alkena sebagai salah satu komposisi kimia penyusun gasoline.
Pembentukan damar dapat dicegah dengan penambahan senyawa-senyawa dari tipe
poliphenol dan aminophenol, seperti hidroquinon dan p-aminophen.

Kelompok 4

| 44