Anda di halaman 1dari 19

Resume Biologi Molekuler

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Berbasis Rekayasa Genetika

Dosen pengampu:
Drh. Wawid Purwatiningsih
Penyusun 2013-B:
Umi Farida

(125130107111014)

Dita Wahyuningtyas (125130101111028)


Nurul Marie Curie

(135130100111025)

Dita Julia Ningsih

(135130100111021)

Novi Andriani

(135130101111020)

Debora Aryanti W

(135130101111027)

Walda Tsania

( 13513010111036)

Desy Ari Susanti

(135130101111037)

Anang Masrur

(135130101111038)

Yeheazkiel Gianka T (135130107111013)


Ananta Ardi B

(135130107111015)

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSIRSITAS BRAWIJAYA
2015

Pencegahan dan pengobatan Penyakit pada Hewan Berbasis Rekayasa Genetika


1. Pencegahan penyakit berbasis Rekayasa genetika
Vaksin telah lama dikenal sebagai suatu substansi yang digunakan untuk memperoleh
respon imun terhadap mikroorganisme patogen.Vaksin pertama kali ditemukan pada tahun
1796 oleh Edward Jenner yaitu vaksin virus cacar. Sejak saat itu teknologi pembuatan vaksin
telah berkembang dengan pesat dan berbagai jenis vaksin untuk mencegah penyakit infeksi
telah banyak digunakan. Vaksin konvensional baik vaksin generasi pertama yaitu vaksin yang
mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan dan vaksin generasi kedua yaitu
vaksin yang mengandung mikroorganisme yang dimatikan, serta vaksin generasi yang ketiga
yaitu vaksin rekombinan yang juga dikenal dengan vaksin sub unit yang mengandung
fragmen antigenik dari suatu mikroorganisme yang dapat merangsang respon imun, dalam
penggunaannya masih memiliki beberapa kelemahan. Vaksin generasi pertama seringkali
dapat bermutasi kembali menjadi virulen sehingga menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
Oleh sebab itu biasanya jenis vaksin yang dilemahkan ini tidak dianjurkan diberikan kepada
penderita yang mengalami imunokompromais. Sedangkan vaksin generasi kedua adalah
vaksin mengandung mikroorganisme yang dimatikan menggunakan zat kimia tertentu,
biasanya dengan menggunakan formalin atau fenol, dalam penggunaannya sering mengalami
kegagalan atau tidak menimbulkan respon imun tubuh. Untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terjadi pada penggunaan vaksin generasi pertama dan kedua mulailah
dikembangkan vaksin generasi yang ketiga yaitu vaksin rekombinan yang juga dikenal
dengan vaksin sub unit. Vaksin sub unit dibuat melalui teknik rekayasa genetika untuk
memperoleh fragmen antigenik dari mikroorganisme, sehingga disebut dengan vaksin
rekombinan. Sebagai contoh, vaksin hepatitis B mengandung bagian protein selubung dari
virus hepatitis B yang diproduksi melalui rekayasa genetika, oleh sel ragi. Vaksin rekombinan lebih aman dibandingkan dengan vaksin yang mengandung seluruh sel virus, karena
fragmen antigenik yang terdapat dalam vaksin rekombinan tidak dapat bereproduksi dalam
tubuh penerima, disamping itu vaksin rekombinan umumnya tidak menimbulkan efek
samping. Namun demikian vaksin generasi ketiga inipun ternyata hanya dapat menimbulkan
respon imun humoral dan tidak dapat menimbulkan respon imun seluler. Vaksin DNA
Transfer DNA plasmid secara langsung ke dalam jaringan mencit tanpa sistem penghantaran
khusus telah berhasil dilakukan pertama kali pada tahun 1990. DNA plasmid yang
disuntikkan secara intramuskular ke dalam tubuh mencit tersebut. ternyata dapat
memproduksi protein yang dikode oleh sekuen DNA yang terdapat dalam DNA plamid
tersebut di dalam jaringan mencit. Penelitian berikutnya telah membuktikan bahwa DNA

dapat dimasukkan langsung secara in vivo untuk menghasilkan protein yang dikehendaki
sesuai dengan sekuen DNA yang mengkode ekspresi protein tersebut. Sejak saat itu diyakini
bahwa metode transfer DNA secara in vivo dapat diaplikasikan baik untuk terapi gen maupun
untuk vaksinasi dengan DNA. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mempelajari
berbagai faktor yang mempengaruhi efisiensi dan sifat imunogenisitas dari DNA plasmid,
yang pada akhirnya dikenal dengan vaksin DNA untuk memberikan imunitas tubuh terhadap
serangan berbagai mikroorganisme. Sampai saat ini berbagai hasil penelitian telah
dipublikasikan bahwa imunisasi dengan DNA dapat menghasilkan protein asing atau antigen
yang dapat menstimulasi respon imun, sehingga dapat mencegah berbagai penyakit infeksi
pada binatang percobaan antara lain terhadap Human immunodeficiency virus(HIV) , virus
Ebola , malaria, Mycobacterium tuberculosis, virus inluenza, atau untuk meningkatkan sistem
imunitas terhadap sel-sel tumor. Perkembangan penelitian dalam bidang vaksin DNA ini telah
berkembang pesat padaa berbagai jenis penyakit infeksi termasuk malaria, virus dengue,
cytomegalovirus, virus Ebola, virus influenza, avian influenza viruses, West Nile virus
(WNV), SARS corona virus, virus hepatitis B dan HIV. Konstruksi dan Elemen Genetik
Vaksin DNA Struktur dan elemen genetik dari suatu vaksin DNA terdiri dari duaunit utama
yaitu yang pertama adalah unit propagasi plasmid yang berfungsi sebagai pengendali replikasi dan perbanyakan plasmid DNA secara in vitro dalam sel bakteri, sesuai dengan jumlah
dan volume yang diinginkan pada saat diproduksi. Sedangkan unit yang kedua terdiri dari
fragmen DNA yang mengandung gen vaksin yang telah dikloning ke dalam plasmid DNA,
dimana gen vaksin ini diharapkan mengekspresi protein asing di dalam sel hospes (tubuh
manusia). Elemen genetik dari vaksin DNA dapatdilihat pada Gambar 1. Plasmid vaksin
DNA mempunyai unit propagasi yang berfungsi untuk multiplikasinya dalam sel mikroba
sebagai hospesnya yang terdiri dari fragmen DNA untuk replikasi dan marka seleksi.
Produksi vaksin DNA secara in vitrobiasanya menggunakan bakteri Escherichia coli. Plasmid
DNA ditransformasi ke dalam sel bakteri, kemudian diseleksi sel transforman Escherichia
coliyang mengandung plasmid DNA.

Klon Escherichia coli yang membawa plasmid DNA ini kemudian dibiakkan dalam media
yang sesuai dalam skala industri, kemudian plasmid DNA diisolasi, dimurnikan dan
diformulasi menjadi vaksin DNA. Setelah vaksin DNA disuntikkan ke dalam tubuh maka unit
sintesis vaksin akan bekerja di dalam sel hospes atau sel manusia. Seperti yang terlihat pada
Gambar 1. unit sistesis vaksin ini terdiri dari promotor, in-tron, sekuen DNA signal, gen
vaksin yang mengkode protein atau antigen dari mikroba patogen dan transkrip-sional
terminator (poly-A), serta im-mune stimulatory sequences (ISS). Ekspresi dari protein asing
atau an-tigen dalam sel hospes yang dikode oleh gen vaksin, dimulai oleh promo-tor dan
diakhiri oleh terminator (poly-A). Untuk meningkatkan po-tensi vaksin DNA, biasanya dalam
plasmid DNA ditambahkan ISS, yaitunukleotida heksamer yang dapat berinteraksi dengan
reseptor dan meningkatkan sifat imonogenisitas dari vaksin DNA.
Mekanisme Aksi Vaksin DNA

(Douglas et al, 2000)

Mekanisme vaksin DNA dalam merangsang sistem imun adalah setelah plasmid DNA
disuntikkan ke dalam jaringan maka plasmid DNA akan bereplikasi secara otonom dan
memproduksi protein asing atau antigen yang dikode oleh gen vaksin.

Antigen ini langsung dapat menstimulasi sel B yang kemudian dapat memproduksi antibodi
terhadap antigen atau protein asing yang dikode oleh plasmid DNA. Sel yang mengandung
antigen asing tersebut kemudian dapat bersifat sebagai sel penyaji antigen (antigen presenting
cells), yang kemudian dapat melalui jalur-jalur tertentu, baik melalui jalur major
histocompatibility complex(MHC) I pada sel CD8+T atau MHC II pada sel CD4+T, sehingga
mengalami proses yang berbeda dalam merangsang sistem imunutas tubuh. Protein asing juga
dapat langsung masuk ke dalamsuatu sel penyaji lainnya misalnya sel dendritik, sehingga
dengan demikian selain dapat merangsang sistem imun humoral juga dapat merangsang
sistem imun selular. Karena proses pembentukan antigen oleh sel hospes setelah vaksinasi
DNA menyerupai produksi antigen pada saat terinfeksi dengan mikroorganisme secara
alamiah, maka respon imun yang terjadi akibat vaksinasi DNA sama dengan respon imun
yang diinduksi mikroorganisme patogen.
Vaksin DNA bekerja melalui 2 jalur, yaitu:
ENDOGENOUS : Protein antigenik yang disajika oleh sel di mana ia diproduksi
EXOGENOUS : Protein antigenik terbentuk dala satu sel, tetapi disajikan oleh sel yang
berbeda

(Douglas et al, 2000)


Keuntungan Vaksin DNA
Vaksin DNA memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan vaksin konvensional. Pada
umumnya efektifitas vaksin konvensional tergantung pada terbentuknya antibodi dalam
mencegah penyakit infeksi. Namun demikian vaksin konvensional tidak mampu merangsang
respon imun selular. Vaksin DNA selain dapat merangsang respon imun humoral melalui
pembentukan antibodi, juga dapat merangsang imun selular melalui aktivasi sel T (cellmediated response immune), sehingga dapat memberikan kekebalan terhadap mikroba
patogen intraselular, misalnya terhadap Mycobacterium tuberculosis, virus, parasit, atau sel
kanker melalui sel T pembunuh (killer T cells) atau melalui efek sitotoksik. Beberapa
keuntungan lainnya dari vaksin DNA adalah:

1. Plasmid DNA mudah diproduksi dalam jum-lah yang besar secara lebih ekonomis,
dalam waktu yang lebih cepat diban-dingkan dengan vaksin konvensional;
2. DNA sangat stabil, tahan terhadap perubahan suhu sehingga lebih mudah untuk
disimpan dan didistribusikan;
3. Sekuen DNA dapat diubah dengan mudah dalam laboratorium, sehingga vaksin DNA
4.

dapat disesuaikan dengan perubahan mikroorganisme patogen;


Dapat direkayasa gabungan beberapa plasmid DNA yang mempunyai spek-trum luas

untuk beberapa epitop antigen;


5. Vaksin DNA terbukti dapat meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus dan bakteri
dalam waktu yang sangat lama; dan
6. Tidak memerlukan perlakukan khusus terhadap mikroba patogen selama proses
produksi. Vaksin DNA termasuk vaksin yang aman jika digunakan pada manusia.
Walaupun demikian dalam awal pengembangannya dikhawatirkan terjadinya efek
yang tidak diinginkan jika vaksin DNA digunakan pada manusia, antara lain
kekhawatiran bahwa DNA asing dapat terintegrasi ke dalam kromosom hospes
sehingga dapat menyebabkan stimulasi gen yang tidak terkontrol yang dapat
mengakibatkan terbentuknya sel kanker. Tetapi hal ini tidak perlu dirisaukan karena
dalam beberapa uji praklinik pada binatang percobaan, integrasi vaksin DNA ke dalam
kromosom hospes masih jauh lebih rendah dari pada mutasi spontan yang terjadi di
alam. Kekhawatiran terjadinya induksi reaksi autoimun terhadap vaksinasi DNA yang
dapat menyebabkan terbentuknya antibodi anti DNA juga tidak terbukti selama uji
klinik dengan vaksin DNA.
Kerugian Vaksin DNA:
1. Terbatas pada imunogen protein saja
2. Panjang imunostimulasi menyebabkan peradangan kronis
3. Beberapa antigen membutuhkan pengolahan yang kadang tidak muncul
Perbedaan Vaksin Subunit dan Vaksin Rekombinan.
Pada vaksin subunit ada protein-protein tertentu yang diambil untuk dilibatkan, tidak
semua dari protein didalam tubuh. Misalnya pada kasus H5N1 dimana protein yang paling
antigen adalah H dan N, maka protein tersebut yang diambil dan dikembangkan sebagai
vaksin untuk merelease antibodi, lain halnya dengan vaksin rekombinan yaitu hasil dari
retriksi DNA atau RNA nya (genetik yang direkayasa) (Radji, 2009)
2. Pengobatan berbasis rekayasa genetika
Beberapa penyakit genetik dapat diobati dengan beberapa cara tanpa melibatkan
rekayasa genetik, misalnya diobati dengan obat tertentu, transfusi darah, perubahan pola
makan (diet) atau transplantasi

organ tubuh. Perlakuan tersebut dapat menyembuhkan

penyakit yang disebabkan oleh tidak berfungsinya gen, misalnya dengan pemberian faktor

pembeku darah dapat mengobati pasien penderita hemofilia. Sedangakan pengobatan dengan
rekayasa genetika adalah merupakan pendekatan alternatif untuk beberapa penyakit karena
kelainan gen. Pada gen terapi tersebut dilakukan penyisipan gen normal yang mempunyai
informasi yang benar kedalam DNA dari sel yang menderita gen malfungsi. Penambahan gen
tersebut dinamakan gen insersi. Penambahan gen yang benar tersebut menyebabkan sel yang
defek dapat berfungsi normal kembali dan dapat mengurangi atau menghilangkan gejala d ari
penyakit genetik tersebut. Misalnya pada mengobatan penyakit hemofilia dengan faktor
pembeku darah, sekali disisipkan gen yang benar kedalam sel, sel dapat kembali normal untuk
memproduksi sendiri faktor pembeku darahnya. Terapi gen juga dapat digunakan untuk
penyakit tertentu yang mungkin bukan karena penyakit genetik. Misalnya, penyakit kanker
ganas, biasanya dilakukan dengan operasi pengambilan jaringan tumor, dengan radiasi dan
atau kemoterapi, belakangan ini peneliti merencanakan pengobatan pasien penderita tersebut
dilakukan dengan penghambatan pembentukan sel darah putih secara genetik. Pada dasarnya
proses terapi gen ini adalah menyisipkan atau sebaliknya mendelesi sebagian dari gen pada
pasien yang menderita gen defek, sehingga penderita akan menjalani hidup normal kembali.
Ada dua methoda untuk menyisipkan materi gen kedalam khromosom manusia, yang pertama
adalah tehnik ex-vivo dan yang kedua adalah tehnik invivo. Tehnik ex-vivo dilakukan dengan
jalan operasi dengan mengeluarkan sel dari jaringan yang terkena, menyuntikkan atau
menyisipkan DNA baru (DNA yang memperbaiki penyakit) kedalam sel tersebut dan
dibiarkan untuk membelah dan memperbanyak diri dalam biakan jaringan. Kemudian jaringan
baru tersebut dimasukkan kembali pada lokasi tubuh penderita yang mengalami kelainan. Hal
tersebut juga dapat dilakukan dengan mengkultur sumsum tulang (zat pembentuk darah) dari
pasien, karena bila diinjeksikan kembali, darah akan bersirkulasi keseluruh jaringan tubuh.
Model operasi pengambilan jaringan ini dapat menyebabkan rasa sakit pada pasien, dan
biasanya pasien akan mengalami rasa sakit dua kali yaitu waktu pengambilan sel dari tubuh
dan waktu mengembalikan sel yang diperbaiki kembali kedalam tubuh.Pada terapi gen
dengan methoda invivo, pasien tidak perlu dioperasi atau bahkan anasthesi. Pada proses ini
DNA yang benar diinjeksikan kedalam sel melalui satu atau dua tipe virus sebagai pembawa
dan yang sering digunakan adalah virus yang sangat sederhana. Dr. Richard Mulligan dari
MIT (Medical Institute of Technology, Amerika) Menciptakan sintesis retrovirus yang sangat
sesuai untuk membawa gen DNA untuk terapi gen. Virus tersebut tidak mempunyai DNA
virus (DNA virus yang menyebabkan penyakit) dan virus tersebut hanya membawa DNA baru
yang telah disisipkan kedalamnya, setelah disuntikkan pada tubuh pasien penderita, virus
tersebut mati. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan menggunakan retrovirus

tersebut keamanannya terjamin dan mempunyai efek yang lama. Tetapi sayangnya DNA baru
yang diinjeksikan hanya membantu sel yang baru dan tidak menolong memperbaiki sel yang
sudah ada yang mengalami kelainan. Tipe virus lain yang digunakan untuk tehnik invivo
adalah adenovirus, yaitu sejenis virus penyebab flu. Walaupun virus ini juga akan segera mati
setelah diinjeksikan untuk terapi DNA, virus ini juga menyerang sistem imun, sehingga
pasien akan menderita radang tenggorokan atau flu sesaat/sementara. Adenovirus bekerja
seperti pada retrovirus, tetapi lebih cepat yaitu sekitar 48 jam dan hanya memerlukan dosis
yang lebih kecil dibanding dengan retrovirus. Methode lain untuk terapi gen adalah splising
gen (gen splicing), yaitu pemotongan gen pada pasangan basa. Pemotongan pasangan basa
tersebut dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan bahan kimia disebut sebagai enzim
restriksi, yang berperan sebagai gunting untuk memotong DNA. Bermacam jenis enzim yang
dapat memotong/meristriksi satu sequense nukleotida.Begitu mengenali sequens yang cocok
pada strand DNA, enzim tersebut memotong dan memisahkan bagian dari pasangan basa
tersebut dan meninggalkan strand tunggal pada akhir dari helix pasangan ganda (gambar 2).
Kemudian peneliti memasukkan sequens yang dikehendaki pada rantai yang terbuka tersebut
untuk memperbaiki kelainan gen tersebut, sehingga rantai pasangan basa kembali menjadi
normal, hal ini disebut DNA ligase.

Gambar 2. Menunjukkan adanya nukleotida yang tidak mempunyai pasangan (atas),


kemudian dilakukan pemotongan/splicing (tengah) dan dilakukan ligasi untuk memperbaiki
struktur DNA tersebut (bawah)Bentuk materi genetik apapun dapat displise/dipotong
bersamaan, misalnya bakteri dan DNA ayam dapat dipotong dan dikombinasikan. Yang lebih
sering perlakuan splise digunakan untuk usaha yang lebih penting yaitu untuk produksi
insulin dan hormone pertumbuhan untuk pengobatan pada penyakit manusia. Jaman dahulu
insulin hanya didapatkan dari pancreas kadaver (mayat/orang meninggal) yang diperlukan
sekitar 50 kadaver untuk satu dosis saja. Dengan tehnik modern yaitu tehnik splising gen,

insulin dapat dicukupi untuk penderita diabetis berapa saja. Yaitu dengan cara gen yang
memproduksi insulin dari DNA manusia displise kedalam DNA plasmid, plasmid kemudian
diinfeksikan ke bakteri, kemudian bakteri dipupuk ditumbuhkan dan dikembangbiakkan, yang
akhirnya sejumlah besar insulin dapat diproduksi dan kemudian dipanen. Plasmid adalah
molekul DNA yang dapat ditemukan dalam bakteri yang dipisahkan dari kromosom bakteri
(Gambar 3).
Ciri khas dari plasmid adalah:
- sangat kecil, hanya mempunyai beberapa ribu pasangan basa
- biasanya hanya dibawa oleh hanya satu atau beberapa gen
- berbentuk sirkuler
- hanya mempunyai satu replikasi yang murni

Gambar 3. Gambaran elektron mikroskop dari sel bakteri Eschericia coli yang di
ruptur/dirobek untuk mengeluarkan DNAnya. Gambar menunjukkan molekul DNA tunggal
yang berisi 4,6 juta pasangan basa yang dikode sekitar 4300 gen. Gambar panah menunjukkan
plasmid (bentuk sirkuler)
DNA rekombinasi (Recombinant DNA)
DNA rekombinasi adalah DNA baru yang dibuat dengan mengkombinasi dua jenis
DNA atau lebih menjadi satu jenis molekul DNA baru dengan cara splise dan ligasi. Jenis
DNA baru tersebut akan sangat berguna apabila molekul tersebut dilipat gandakan
(direplikasi) menjadi banyak supaya dapat dianalisis, misalnya dapat disquensing atau
keperluan analisis lainnya. Memproduksi banyak kopi molekul DNA rekombinasi yang
identik tersebut dinamakan cloning. Kloning dapat dilakukan secara in vitro dengan proses
yang disebut polymerase chain reaction (PCR). Bagaimana proses DNA rekombinasi
dilakukan seperti terlihat pada gambar 3 .

Gambar 4. Skema proses splising dengan endonuklease (BamHI/GATCC) dari dua DNA
murni, kemudian dua molekul DNA tersebut direkombinasikan dan memperoleh klon DNA
baru. Masing-masing didigesti dengan enzim restriksi endonuklease (BamHI)
Pada setiap kasus, DNA rekombinan harus dibawa oleh sel supaya dapat diperbanyak
dan dapat dimasukkan kedalam tubuh resipien/penerima. Hal tersebut dilakukan dengan
memasukkan DNA rekombinan kedalam bagian molekul dari organisme yang disebut vector.
Vektor dapat berupa virus, bagian dari bakteri dan sel mamalia yang memelihara molekul
DNA rekombinan tersebut. Jadi dalam hal ini misalnya sebagai hospes adalah E. coli dan
sebagai vector adalah plasmid. Dengan menggunakan prosedur seperti ini, banyak gen
manusia telah di-klon dalam E. coli atau sejenis ragi. Hal tersebut memungkinkan untuk
pertama kali diproduksi sejumlah protein manusia yang tidak terbatas secara invitro.
Pembiakan sel (E.coli, ragi/yeast, sel mamalia) yang ditransformasi oleh gen manusia dapat
digunakan untuk industri human protein seperti:
1. insulin untuk penderita diabetis,
2. factor kloting VIII untuk pria penderita hemofilia A,
3. factor IX untuk penderita hemofilia B,
4. hormone pertumbuhan,
5. erythropoietin (EPO) untuk pengobatan anemia,
6. tiga tipe interferon,
7. beberapa interleukin,
8. granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) untuk menstimulasi
susmsum tulang setelah transplantasi
9. granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) untuk menstimulasi produksi
neutrofil, misalnya setelah dilakukan khemoterapi dan untuk memobilisasi
hematopoietik stem sel dari sumsum tulang dan masuk dalam sirkulasi darah,
10. tissue plasminogen activator(TPA) untuk melisis penggumpalan darah,
11. adenine deaminase ADA untuk pengobatan SCID (penyakit imunodefisiensi
kombinasi),
12. angiostatin dan endostatin untuk percobaan obat anti kanker,
13. parathyroid hormon,
14. leptin,
15. antigen permukaan hepatitis B (HBs Ag) untuk vaksinasi penyakit hepatitis B,
16. C1 inhibitor (C1INH) digunakan untuk pengobatan penyakit hereditary angioneurotic
edema (HANE).
Terapi genetik untuk gangguan sistem imun
Salah satu kemajuan paling menarik di bidang terapi gen dalam beberapa tahun
terakhir adalah pembentukan sel T antigen-spesifik sebagai vektor untuk pengobatan secara
genetis yang diturunkan secara in vivo. Berbeda dengan aplikasi tradisional terapi gen,
kegunaan yang unik, spesifisitas dan memori dari kemampuan sel T,

peneliti atau dokter

dapat menerapkan berbagai taktik dan strategidalam pengobatan penyakit genetik sistem
imun. Sel T dapat dimodifikasi untuk menghasilkan produk terapeutik atau produk regeneratif
ke

lokasi

peradangan dan kerusakan

jaringan. Selain itu, sel T bisa diubah untuk

memodulasi interaksi seluler atau untuk memperbaiki cacat genetik sendiri untuk
memperbaiki penyakit. Strategi-strategi modifikasi genetik yang berhubungan dengan
pengobatan penyakit autoimun pada model hewan eksperimental akan menjadi fokus dari bab
ini, dengan penekanan khusus pada Analog dari multiple sclerosis (MS), diabetes mellitus
tergantung insulin (IDDM) dan rheumatoid arthritis ( RA). Gen terapi, dalam bentuk yang
paling sederhana, dapat diwakili oleh

penggantian gen hilang atau cacat tunggal untuk

memperbaiki gangguan monogenik. Penyakit

gangguan genetik, seperti kekurangan

adenosine deaminase (ADA) atau cystic fibrosis (CF), sangat menarik untuk dijadikan target
percobaan terapi gen secara eksperimental sejak uji klinis pada manusia pertama dimulai
pada pasien defisiensi ADA pada tahun 1990. Dalam pengertian yang lebih luas, terapi gen
dapat dianggap tidak hanya untuk penggantian gen endogen yang rusak, tetapi juga dapat
menggabungkan penambahan gen asing atau yang dimodifikasi untuk mengubah fungsi
biologis. Sehingga dalam hal ini penyakit yang multigenik, patologi yang mendasari
gangguan kompleks atau yang tidak dikenal, sebagai penyakit autoimun , juga dapat
menjadi kandidat untuk terapi gen dengan memanfaatkan jalur endogen atau pengendalian
biologis atau membuat

gen

yang baru.

Strategi ini dapat dikategorikan dalam empat

kelompok umum yaitu: modifikasi jaringan target; pengiriman produk terapeutik; pengiriman
produk regeneratif, dan perubahan interaksi selular.Satu kesalah pahaman tentang sel T adalah
bahwa dia sangat tahan terhadap modifikasi genetik. Meskipun benar bahwa T sel terbukti
relatif lebih sulit untuk dimodifikasi daripada jenis sel lain, rekayasa DNA dapat dilakukan
melalui berbagai teknik (Tabel 1). Semua pendekatan terbagi dalam dua kategori besar yaitu:
nonviral (biasanya plasmid) serapan DNA, disebut "transfection," dan serapan DNA virus
yang dibantu, disebut "transduksi".

Masing-masing pendekatan

modifikasi tersebut

mempunyai kerugian dan keuntungan. Secara umum, metode nonviral cenderung kurang
efisien tetapi sangat stabil dan dengan efek samping yang lebih sedikit, sementara metode
virus sangat efisien namun memerlukan biaya yang tinggi dan kerugian yang nyata termasuk
efek samping yang serius.
Tabel 1. Metoda viral dan non-viral yang digunakan untuk modifikasi sel-T

Vektor virus, merupakan pengobatan sistem imun dengan pendekatan genetik paling
sering digunakan dalam bidang terapi gen. Semua vektor virus yang direkayasa untuk dapat
ber-replikasi dan segera mati setelah diberikan, sehingga dapat meminimalkan risiko infeksi
pada

hospes.

Vektor retroviral sangat efektif, tetapi terbatas

karena hanya

dapat

menyebabkan transduce aktif dalam pembelahan sel. Menariknya, seorang peneliti telah
memanipulasi sisi negatif ini yaitu secara khusus merangsang (meng-induce) populasi sel T
antigen-spesifik yang mengalami pembelahan sebagai respons terhadap antigen serumpun.
Sebaliknya, vektor adenoviral memiliki kemampuan transducing baik secara aktif terhadap
sel yang membelah dan yang tidak membelah. Namun, vektor adenoviral dan vektor
retroviral, mengikuti ekspresi gen sementara, yaitu gen statis (silence) dan efek posisional.
Mereka juga cenderung untuk mendorong respon kekebalan yang kuat pada hospes.
Sementara

ini sebagian besar eksperimen terapi gen virus telah dilakukan dengan

menggunakan vektor retroviral dan adenoviral, vektor


dasar

dari

virus tersebut digunakan sebagai

virus adeno-asosiasi (AAV), virus herpes simpleks (HSV) dan juga

sitomegalovirus (CMV) telah digunakan. Salah satu vektor baru yang paling menjanjikan
adalah berdasarkan lentivirus. Vektor Lentiviral, seperti vektor adenoviral, menggabungkan
mekanisme kerja sistem tersebut yaitu terhadap sel yang membelah dan tidak membelah,
tetapi mereka tidak rentan terhadap gen silence dan tidak menimbulkan sejumlah respon
imun yang kuat. Dilain pihak virus HIV secara alamiah cocok untuk infeksi sel T, tetapi disisi
lain virus yang berasal HIV menimbulkan ancaman yang paling serius dari semua terapi
virus berdasarkan kompetensi replikasi. Dalam kasus HIV, hal ini jelas akan menimbulkan
bencana, namun sebetulnya

"aman" seperti

pada

adenovirus

dapat menerapkan

immunocomprimised pada pasien sakit parah. Walaupun kemungkinan ini bisa digunakan,
tetapi ada risiko bahwa integrasi vektor dapat menyebabkan transformasi ganas pada jaringan
hospes atau menimbulkan komplikasi tak terduga yang berkaitan dengan kondisi pasien yang
sedang dirawat. Namun, transfer gen virus-mediated tetap merupakan teknologi terkemuka

dalam teknologi terapi gen dewasa ini. Pendekatan lain yang sedang aktif diteliti adalah
penggunaan sel induk (stem-sel) untuk terapi gen. Sel induk dapat berasal dari berbagai
bentuk, tetapi kepentingan tertentu untuk imunologi adalah sel induk hematopoetic (HSC).
HSCs mampu repopulating kompartemen seluruh hematopoetic, termasuk sistem kekebalan
tubuh, sehingga mereka calon yang sempurna untuk terapi gen strategies dengan penargetan
sel nenek moyang jangka panjang dengan promotor yang tepat, ekspresi dari gen bisa dibatasi
tertentu dari garis keturunan. Sedangkan DNA plasmid dan DNA virus dapat digunakan invivo atau ex-vivo, tergantung pada pendekatan terapeutik, HSCs hampir secara eksklusif
diubah dari ex-vivo dan kembali ke hospes sehingga sistem hematopoetic

yang kurang

dapat terisi kembali. Virus telah terbukti efektif sebagai vektor dalam pengobatan pada
penyakit genetik manusia ADA-SCID.Penelitian terakhir melaporkan bahwa sel-T yang
dimodifikasi secara genetik dapat dilakukan dengan memproduksi transgenik pada hewan
coba. Dengan melakukan mikro-injeksi DNA kedalam sel telur yang telah dibuahi, semua sel
dari hewan transgenik dapat berpotensi mengekspresikan transgen.
Sel-T kemudian dapat dipanen dari hewan transgenik tersebut. Gen yang diekspresikan
terbatas pada sel-T saja melalui sel-T promotor spesifik seperti CD4+. Tetapi beberapa
kendala dapat terjadi bila terjadi kematian gen, sehingga gen tidak dapat diekspresikan atau
gen tidak dapat berpenetrasi kedalam jaringan. Gen mungkin tidak dapat inkorporasi dengan
sel germinal, sehingga gagal untuk ditransmisikan kepada keturunannya, tetapi hal ini masih
diteliti lebih lanjut sebab dan akibatnya. Secara umum metoda modifikasi genetik sel-T telah
mulai diaplikasikan dengan menggunakan model hewan coba untuk pengobatan penyakit
autoimun, tetapi yang telah dipublikasikan adalah tiga penyakit autoimun yang dicoba secara
eksperimental yaitu: experimental autoimmune encephalomyelitis (EAE), nonbase diabetic
(NOD) mice dan collagen-induced arthritis (CIA). Model eksperimen tersebut dilakukan
berdasarkan penyakit pada manusia yaitu penyakit multipel sklerosis (MS), insulin dependen
diabetis melitus (IDDM) dan rhematoid arthritis (RA).
Terapi stem sel (sel punca/sel induk)
Diawali dari terbentuknya tubuh manusia, sel adalah merupakan bagian dasar dari
kehidupan. Sel mengandung DNA, yang merupakan materi genetik dan mempunyai
kemampuan untuk membelah diri dan bereplikasi membentuk turunan sel yang juga
mengandung DNA identik dengan sel induknya.Seperti telah diterangkan bagian depan ada
dua bentuk sel dalam tubuh yaitu sel somatik dan sel germinal, sedangkan sel induk/stem sel
adalah sel yang berasal dari embryo, yang nantinya akanmembentuk sel somatik dan sel
germinal. Pada waktu germinal sel (ova) berkombinasi dengan germinal sel (spermatozoa)
pada saat terjadi proses reproduksi, keduanya akan membentuk zygot, yang kemudian

membelah diri melalui beberapa fase pembelahan membentuk bola kecil yang berisi
sekumpulan sel (sel pluripoten), maka bentukan itulah yang disebut stem sel. Ada tiga tipe
stem sel yang utama, ketiganya diambil dari lokasi yang berbeda dan digunakan untuk terapi
yang berbeda pula, tetapi masih terdapat beberapa kontroversi. Ketiga jenis terapi stem sel
tersebut adalah: Embryonic stem cells (ES), adult stem cells, dan umbilical stem cells.
Stem sel embryo (Embryonic Stem Cells/ES)
Stem sel embryo dapat diperoleh dari fase awal pertumbuhan embryo (Gb.4), yang
berbentuk blastosit. Stem sel tersebut diperoleh dari perkembangan baru dari sekumpulan sel
yang sangat berpotensi untuk membelah diri yang akan membentuk sel dalam jaringan pada
tubuh manusia. Banyak peneliti yakin bahwa penelitian stem sel embryo merupakan prospek
yang cerah dan sangat berpotensi untuk dapat menyembuhkan berbagai penyakit kelainan
genetik. Mereka percaya bahwa penyakit seperti Parkinsons Disease, Alzheimer, kerusakan
sumsum tulang belakang serta penggantian organ dapat diobati dengan cara ini. Tetapi
pengobatan sistem ini masih terjadi kontroversi, karena adanya perlakuan dengan
pengambilan embryo yang berumur sekitar lima sampai enam hari. Banyak kontroversi
terutama terjadi antara pihak ilmuwan, pemerintah dan pemuka agama yang merupakan
puncak perdebatan diantara mereka mengenai penggunaan embryo tersebut.

Gambar 5 Awal terbentuknya stem sel (a), dan pluripoten stem sel yang akan membentuk
jaringan (b).
Adult stem cell (stem sel dari orang dewasa)
Stem sel dari orang dewasa dapat diperoleh dari bagian tubuh/jaringan yang khusus
dari orang dewasa. Karena jaringan orang dewasa telah mengalami perkembangan dan telah
terbentuk fungsinya masing-masing maka stem sel diambil dari daerah yang akan berkembang
seperti sumsum tulang. Sel dari organ tersebut tidaklah sepenuhnya pluripoten dan hanya akan
membentuk jaringan tertentu saja. Tetapi jenis stem sel ini telah digunakan untuk beberapa
tujuan seperti kloning, terapi diabetis, dan darah buatan. Banyak kontroversi terjadi pada
penelitian stem sel dewasa kloning ini dan pengaruh dari kloning tersebut. Kloning stem sel

dewasa hanya terbatas dilakukan pada hewan saja dan sangat tidak etis bila dilakukan pada
orang sehingga sampai sekarang belum pernah dilakukan.
Stem sel umbilikus (umbilical cord stem cells)
Umbilikus cord stem sel dapat diperoleh dari bayi yang baru lahir (umbilkus/ari-ari).
Banyak sekali sampai jutaan multipotent (tidak sebanyak pluripotent dari embrio, tetapi lebih
banyak potensial daripada stem sel dewasa), dimana stem sel terdapat dalam umbilikal cord
dan darah yang terkandung didalamnya. Stem sel tersebut dapat disimpan dalam bank stem
sel dan akan dapat digunakan kemudian untuk sumsum tulang, anemia, dan pengobatan
kanker. Disamping itu stem sel umbilikal cord ini tidak banyak terjadi kontroversi, karena
biasanya umbilikus ini dibuang atau dikubur saja setelah bayi lahir. (Darmono,2001)

DAFAR PUSTAKA
Darmono, Therapi genetik diabetes mellitus. M. Med. Indones. 2001;36(3)
Douglas, et al. DNA Vaccines Method and Protocol. Humana Press Inc. Totowa, New Jersey
07512
Radji, 2009. Vaksin DNA:Vaksin Generasi Keempat. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. VI, No.
1, April 2009, 28 37 ISSN: 1693-9883. Laboratorium Mikrobiologi dan
Bioteknologi. Departemen Farmasi FMIPA-UI, Depok, 16424