Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. Definisi
Gastroenteritis Akut adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh
berbagai bakteri, virus, dan pathogen parasitic. Gastroenteritis Akut (GEA) diartikan sebagai
buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan / setengah cair (setengah padat)
dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya berlangsung kurang
dari 7 hari, terjadi secara mendadak.
Dengan kata lain Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada daerah usus
yang menyebabkan bertambahnya keenceran dan frekuensi buang air besar ( BAB ) lebih
dari 3 kali perhari yang dapat menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi adalah suatu keadaan
kekurangan atau kehilangan cairan tubuh yang berlebihan. Secara klinis Gastro Enteritis
dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
a. Gastro Enteritis Desentriform
Disebabkan oleh antara lain: Shigella, Entamoeba Hystolitica.
b. Gastro Enteritis Koleriform
Disebabkan oleh antara lain: Vibrio, Klastrida, atau Intoksikasi makanan.
2. Etiologi
a. Makanan dan Minuman.
Kekurangan zat gizi; kelaparan (perut kosong) apalagi bila perut kosong dalam
waktu yang cukup lama, kemudian diisi dengan makanan dan minuman dalam jumlah
banyak pada waktu yang bersamaan, terutama makanan yang berlemak, terlalu manis.
Tidak tahan terhadap makanan tertentu (Protein, Hidrat Arang, Lemak) yang dapat
menimbulkan alergi.
b. Infeksi atau Investasi Parasit.
Bakteri, virus, dan parasit yang sering ditemukan: Vibrio Cholerae, E. coli,
Salmonella, Shigella, Compylobacter, Aeromonas. Enterovirus (Echo, Coxsakie,
Poliomyelitis), Adenovius, Rotavirus, Astovirus. Beberapa cacing antara lain: Ascaris,
Trichurius, Oxyuris, Strongyloides, Protozoa seperti Entamoeba Histolytica, Giardia
lamblia, Tricomonas Hominis.
c. Jamur (Candida Albicans)
Biardia Lambia, Cryptosporidium.
d. Infeksi.
Diluar saluran pencernaan yang dapat menyebabkan Gastroenteritis adalah
Encephalitis (radang otak), OMA (Ortitis MediaAkut / radang dikuping),
Tonsilofaringitis (radang pada leher / tonsil), Bronchopeneumonia (radang paru).
e. Perubahan udara.

22

Perubahan udara sering menyebabkan seseorang merasakan tidak enak dibagian


perut, kembung, diare dan mengakibatkan rasa lemas, oleh karena cairan tubuh yang
terkuras habis.
f.

Faktor Lingkungan.
Kebersihan lingkungan tidak dapat diabaikan. Pada musim penghujan, dimana air
membawa sampah dan kotoran lainnya, dan juga pada waktu kemarau dimana lalat tidak
dapat dihindari apalagi disertai tiupan angin yang cukup besar, sehingga penularan lebih
mudah terjadi. Persediaan air bersih kurang sehingga terpaksa menggunakan air
seadanya, dan terkadang lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

3. Klasifikasi
a. Diare Akut
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat dalam
beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.
b. Diare Kronis.
Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu (pada orang
dewasa) sedangkan pada bayi dan anak-anak ditetapkan batas waktu 2 minggu.
Klasifikasi diare menurut derajat dehidrasi adalah sebagai berikut:

22

Ringan

Sedang

Berat

BB
( % kehilangan )

4-5

6-8

9-10

Keadaan Umum

Haus, sadar

Haus, gelisah,
letargi

Mengantuk, dingin, berkeringat

Air mata

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Turgor jaringan

Normal

Tidak ada

Tidak ada

Membran mukosa

Basah

Kering

Sangat kering

Tekanan darah

Normal

Normal / rendah < 90mmHg, mungkin tidak dapat


diukur

BAK

Normal

Menurun / keruh Oliguria

Nadi

Normal

Cepat

Cepat, lemah, mungkin tidak


teraba

Mata

Normal

Cekung

Sangat cekung

Fontanela anterior

Normal

Cekung

Sangat cekung

Defisit cairan ( ml/ kg )

40-50

60-90

>100

a. Dehidrasi ringan : turgor kulit menurun, takhikardi, haus Defisit cairan 5 % dari berat
badan.
b. Derajat sedang

: turgor kulit jelas turun,hipotensi,takikardi,nadi lemah,sangat haus

defisit 0 % berat badan.


c. Derajat berat : turgor kulit sangat menurun, hipotensi, stupor sampai koma, mata
cowong,nadi lemah atau hilang tak teraba,sianosis ujung ektermitas, renjatan/shock
defisit cairan > 10 %.

4. Patofisiologi
Sebanyak sekitar 9 - 10 liter cairan memasuki saluran cerna setiap harinya, berasal
dari luar (diet) dan dari dalam tubuh kita (sekresi cairan lambung, empedu dan sebagainya).
Sebagian besar (75 - 85%) dari jumlah tersebut akan diresorbsi kembali di usus halus dan
sisanya sebanyak 1500 ml akan memasuki usus besar. Sejumlah 90 % dari cairan tersebut di
usus besar akan diresorbsi, sehingga tersisa jumlah 150 - 250 ml cairan yang akan ikut
membentuk tinja.
Faktor-faktor faali yang menyebabkan Gastro Enteritis sangat erat hubungannya satu
sama lain, misalnya saja, cairan intra luminal yang meningkat menyebabkan terangsangnya
usus secara mekanisme meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat.
Sebaliknya bila waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan
gangguan waktu penyentuhan makanan dengan mukosa usus sehingga waktu penyerapan
elektrolit, air dan zat-zat lain terganggu.
Mekanisme dasar yang menimbulkan Gastroenteritis :
a. Gangguan Osmotik
Akibat terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang
usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
b. Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul
karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun
akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan
diare pula.
Meningkatnya motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal merupakan
akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan elektrolit yang berlebihan.
Gastro Enteritis juga dapat terjadi karena Kuman Patogen masuk ke dalam traktus
gastro intestinal melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi kuman tersebut,
kemudian merusak sel-sel mukosa usus, khususnya melibatkan ileum dan kolon, sehingga
akan terjadi peradangan.

22

Gastro Enteritis yang disebabkan infeksi bakteri terbagi dua yaitu :


a. Bakteri noninvasif (enterotoksigenik)
Bakteri masuk ke dalam makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri
tersebut. Bakteri kemudian tertelan dan masuk kedalam lambung, didalam lambung
bakteri akan dibunuh oleh asam lambung, namun bila jumlah bakteri terlalu banyak
maka akan ada yang lolos ke dalam usus 12 jari (duodenum).
Di dalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya mencapai
100 juta koloni atau lebih per-ml cairan usus. Dengan memproduksi enzim muicinase
bakteri berhasil mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan sel epitel usus
sehingga bakteri dapat masuk ke dalam membrane (dinding sel epitel). Di dalam
membrane bakteri mengeluarkan toksin yang disebut sub unit A dan sub unit B. Sub unit
B melekat di dalam membrane dari sub unit A dan akan bersentuhan dengan membrane
sel serta mengeluarkan cAMP (cyclic Adenosin Monophospate). cAMP berkhasiat
merangsang sekresi cairan usus di bagian kripta vili dan menghambat absorbsi cairan di
bagian kripta vili, tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut.
Sebagai akibat adanya rangsangan sekresi cairan dan hambatan absorbsi cairan
tersebut, volume cairan didalam lumen usus akan bertambah banyak. Cairan ini akan
menyebabkan dinding usus menggelembung dan tegang dan sebagai reaksi dinding usus
akan megadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk
mengalirkan cairan ke baeah atau ke usus besar.
Dalam keadaan normal usus besar akan meningkatkan kemampuannya untuk
menyerap cairan yang bertambah banyak, tetapi tentu saja ada batasannya. Bila jumlah
cairan meningkat sampai dengan 4500 ml (4,5 liter), masih belum terjadi diare, tetapi
bila jumlah tersebut melampaui kapasitasnya menyerap, maka akan terjadi diare.
b. Bakteri Enteroinvasif
Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi, dan
bersifat sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah. Bakteri
yang termasuk dalam golongan ini adalah Enteroinvasif E. Coli (EIEC), S. Paratyphi B,
S. Typhimurium, S. Enteriditis, S. Choleraesuis, Shigela, Yersinia dan Perfringens tipe C.
Penyebab diare lainnya, seperti parasit menyebabkan kerusakan berupa usus besar
(E. Histolytica) kerusakan vili yang penting menyerap air, elektrolit dan zat makanan
(lamdia) patofisologi kandida menyebabkan gastroenteritis belum jelas, mungkin karena
superinfeksi dengan jasad renik lain.
Pada Gastro Enteritis yang disebabkan oleh virus, lapisan mukosa usus menjadi
merah dan meradang, dan terjadi edema. Biasanya hanya terbatas pada lapisan mukosa
usus, terjadi pengrusakan terhadap sel-sel epithel yang matang dan kemudian digantikan
oleh absorbsi, yang tidak matang yang tidak dapat menyerap karbohidrat atau gizi lain
dan air secara efisien.
Mekanisme yang dilakukan virus masih belum jelas kemungkinan dengan
merusak sel epitel mukosa walaupun hanya superfisial, sehingga mengganggu absorpsi
air, dan elektrolit. Sebaliknya sel-sel kripti akan berpoliferasi dan menyebabkan
bertambahnya sekresi cairan ke dalam lumen usus. Selain itu terjadi pula kerusakan
22

enzim-enzim disakarida yang menyebabkan intoleransi yang akhirnya memperlama


diare.
Gastro Enteritis Akut dapat terjadi disebabkan oleh infeksi langsung virus
ataupun oleh efek neurotoksik yang dihasilkan oleh bakteri. Akibatnya terjadi
peningkatan frekuensi buang air besar.
5. Manifestasi Klinik
a. Nausea (mual ), Muntah, Demam, Diare, Nyeri perut (abdominal discomfort), Rasa perih
di ulu hati, Nafsu makan berkurang, Rasa lekas kenyang, Perut kembung, Rasa panas di
dada dan perut, Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).
b. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan
berkurang.
c. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai wial dan
wiata.
d. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
e. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat
f.

banyaknya asam laktat.


Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-

ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.
g. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung
cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus)
sebagai akibat hipovokanik.
h. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
i. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam.
(Kusmaul).
6. Penatalaksanaan Medik
a. Penggantian cairan intra vena ( IV bolus 500ml normal salin untuk dewasa, 10- 20ml
b. Pemberian suplemen nutrisi harus diberikan segera pada pasien mual muntah.
c. Antibiotik yang diberikan pada pasien dewasa adalah cifrofloksasin 500mg.
d. Pemberian metronidazole 250-750mg selama 5-14 kali.
e. Pemberian obat anti diare yang dikomendasikan antibiotic.
f. Obat antiemetic yang digunakan pada pasien yang muntah dengan dehidrasi
7. Komplikasi
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
b. Renjatan hipovolemik.
c. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan
pada elektro kardiagram).
d. Hipoglikemia.
e. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan
vili mukosa, usus halus.
f. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
g. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami
kelaparan.
8. Prognosa
Penyebab diare akut mendadak tersering adalah virus, maka tidak ada pengobatan
yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah
beberapa hari. Diare akut dapat disembuhkan dengan pemberian makanan seperti biasa dan
minuman/cairan yang cukup saja. Mencoba untuk menyembuhkan diare dengan obat seperti

22

menyumbat saluran pipa yang akan keluar menyebabkan aliran balik dan akan
memperbanyak salauran tersebut.
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Riwayat Keperawatan
a. Awal kejadian: Awalnya suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.
b. Keluhan utama : Feses semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit
terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut
dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.
2. Pemeriksaan Fisik Keperawatan
a. Keadaan umum: pasien tampak lemah.
b. Sistem pernafasan
Pernafasan lebih cepat dan dalam (kusmaul) karena asidosis metabolik. Keadaan ini
terjadi pada pasien yang mengalami diare berat dan mengalami gangguan biokimiawi
akibat menurunnya ion HCO3- dan H+.
c. Sistem kardiovaskuler
Nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, TD menurun < 90 mmHg, muka pucat, akral dingin
dan kadang sianosis (waspada syok).
d. Sistem neurologi
Penurunan kesadaran bila sudah terjadi dehidrasi berat, kejang karena terjadi
penumpukan natrium dalam serum.
e. Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, warna urine kuning keruh, konsistensi pekat (jika terjadi syok
hipovolemik).
f.

Sistem pencernaan
Mual muntah, diare >3x sehari encer mungkin bercampur lendir /darah, bising usus
meningkat, distensi abdomen, nyeri perut, perut teraba keras (kram abdomen).

g. Sistem integumen
Turgor kulit menurun, selaput mukosa dan bibir kering, kulit didaerah perianal merah,
lecet.
h. Sistem musculoskeletal
i.

Kelemahan pada ekstremitas.

3. Diagnostik Test
a. Pemeriksaan tinja
1) Makroskopis: memeriksa bakteri atau kuman penyebab diare tanpa pewarnaan.
2) Mikroskopis: memeriksa kuman penyebab diare dengan pewarnaan dan dengan
menggunakan mikroskop mikro.
Contoh: diare yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang tidak dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskop biasa.
b. Berat jenis plasma untuk menentukkan deficit cairan akibat diare.
c. Pemeriksaan kadar elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium dalam serum
(terutama pada penderita diare yang disertai kejang).
22

d. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah (Analisa Gas Darah)


mendeteksi adanya asidosis metabolik.
e. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
f. Pemeriksaan Darah
g. pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor)
dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.
h. Doudenal Intubation
Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama
dilakukan pada penderita diare kronik.
C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Diare berhubungan dengan malabsorbsi
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif
3. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan intake
cairan
D. INTERVENSI KEPERAWATAN
No.

1.

Nursing Care Plan

NANDA: Nursing
Diagnosis
Diare berhubungan
dengan malabsorbsi

Nursing Outcomes
Classification (NOC)

Bowel elimination
Fliud balance
Hydration
Electrolyte and acid
base balance

Kriteria hasil :

Nursing Interventions
Classification (NIC)
Diarhea menegement
1. Evaluasi efek samping pengobatan
terhadap gastrointestinal
2. Ajarkan pasien untuk
menggunakan obat anti diare
3. Instruksikan keluarga untuk

Feses berbentuk
Menjaga rectal dari

mencatat warna,jumlah, dan

frekuensi keluaran feses


iritasi
4. Evaluasi intake makanan masuk
Tidak mengalami diare 5. Identifikasi faktor penyebab diare
6. Observasi turgor kulit secara rutin
Mempertahankan
7. Instruksikan pasien untuk makan
turgor kulit
rendah serat, tinggi kalori tinggi
2.

Defisit volume cairan


berhubungan dengan
kehilangan cairan
secara aktif

Fluid balance
Hydration
Ntritional status :food

1. Pertahankan intake dan output

and fluid intake

cairan
Monitor tanda-tanda vital
Monitor vital sign
Kolborasi pemberian cairan IV
Motivasi keluarga untuk

output sesuai dengan

membantu pasien maka.

2.
Kriteria hasil :
3.
4.
Mempertahankan urine 5.
umur
Tanda tanda vital

22

protein
Fluid management :

Hypovolemia management :

dalam batas normal


1. Monitor status cairan termasuk
Tidak ada tanda tanda
intake dan output cairan
2. Monitor tingkat HB dan
dehidrasi
Turgor kulit baik
hematokrit
3.

4.

Resiko kerusakan
integritas kulit
berhubungan dengan
perubahan status
metabolik

Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
berhubungan dengan
penurunan intake
cairan

Tissue integrity : skin and


mocus membranes
Kriteria hasi :
Pertahankan integritas
kulit
Tidak ada lesi kulit
Perfusi jaringan baik
Tidak ada hypertermi
Nutritional status
Nutritional status : food
and fluid intake
Nutritional status :
nutrient intake
Weight control
Kriteria hasil :

3. Monitor berat badan


4. Monitor tanda-tanda vital
1. Anjurkan pasien menggunakan
pakaian loggar
2. Jaga kebersihan dan kelembapan
kulit
3. Monitor kulit tentang adanya
kemerahan
4. Monitor mobilisasi dan aktivitas
5.
1.
2.
3.
4.

pasien
Monitor status nutrisi pasien
Monitor interaksi saat makan
Monitor turgor kulit
Monitor mual dan muntah
Monitor pertumbuhan dan

perkembangan
5. Monitor pucat, kemerahan pada
konjungtiva
6. Monitor lingkungan saat makan
7. Monitor kalori dan intake nutrisi

Berat badan ideal sesuai


dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada penurunan
berat badan yang berarti

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. L DENGAN GEA


DI RUANG EDELWEIS RUMAH SAKIT UMUM BHAYANGKARA
PROVINSI SULAWESI TENGGARA
TANGGAL 30 MARET 2015
22

Nama Mahasiswa

Nama Pasien
Umur

: Tn. L
: 42 tahun

No. RM

: 05 87 49

DiagnosisMedis: GEA
Ruang/Kamar
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Klien
Nama
: Tn. L
Umur
: 42 Tahun
Jenis kelamin
: laki-laki
Pendidikan
: sarjan (S1)
Pekerjaan
: PNS
Status Perkawinan
: Kawin
Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Alamat
: Jl. Mekar Baru, Kadia
Tanggal masuk : 30 Maret 2015
Tanggal Pengkajian
: 30 Maret 2015
Sumber Informasi
: pasien dan keluarga
Diagnosis Masuk
: GEA
Penanggung
Nama
: Ny. R
Hubungan dengan pasien
: Istri Pasien

2. Riwayat Keluarga
Genogram

22

: Edelweis/ VIP I

Keterangan Genogram
: laki-laki
: perempuan
: tinggal serumah
: laki-laki meninggal
: perempuan meninggal
: pasien
: hubungan keturunan

GI

: kakek dan nenek pasien yang meninggal dunia karena faktor yang tidak diketahui
penyebabnya.

GII

: kedua orang tua pasien. Ayah dan saudaranya telah meninggal karena tidak
diketahui penyebabnya.

GIII

: klien dengan GEA serta saudara yang masih hidup dan dalam keadaan sehat.

GIV

: anak-anak pasien yang masih hidup dan dalam keadaan sehat.

3. Status Kesehatan
a. Status Kesehatan Saat Ini
Keluhan utama (saat MRS dan saat ini)
- Klien mengatakan BAB cair 10 x saat di rumah, serta mual dan muntah.
Keluhan saat ini :
Klien mengatakan masih BAB cair dan sempat muntah lagi 2 kali.
Alasan masuk Rumah Sakit dan perjalanan penyakit saat ini :
Klien mengatakan BAB cair 10 x SMRS secara tiba-tiba tidak ada nyeri yang
dirasa. Klien juga mengatakan sempat muntah di Rumah sebanyak 3 kali klien
menyatakan awalnya perut hanya terasa mules dan ingin BAB dan ternyata encer,
lebih dari 10 x pada hari sabtu 29 maret 2015.
- Alasan MRS
:amanya keluhan
:
Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
Klien mengatakan tidak dapat melakukan apa-apa. BAB cair yang dirasa secara
tiba-tiba, karena lebih dari 10x dan disertai muntah sebanyak 3 kali dan nampak
kondisi klien yang lemah maka keluarga memutuskan untuk membawa ke RS.
b. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Penyakit yang pernah dialami
Klien mengatakan tidak pernah mengalami sakit yang serius
Pernah dirawat

22

Klien mengatakan tidak pernah dirawat sebelumnya.


Riwayat alergi :
Ya
Tidak
Riwayat Transfusi
:
Ya
Tidak
Kebiasaan :
Merokok
Ya
Tidak
Minum Kopi
Ya
Tidak
Penggunaan Alkohol
Ya
Tidak
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan bahwa keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit seperti hipertensi,
jantung, diabetes mellitus dan asma
5. DiagnosisMedis dan Terapi
Diagnosis : GEA (Gastrointestinal Akut)
Terapi : - Infus RL 20 Tpm
- Omeprazol 2 x 20 mg
- Renadinac 2 x 25 mg

- Injeksi Ranitidin 1 amp/ 8 jam


- Injeksi Ceftriaxone 1 gr/ 8 jam
- Injeksi cetorolak 30 mg/ ekstra

6. Pola Fungsi Kesehatan


a. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Selama ini klien jarang memeriksakan kesehatannya.
b. Nutrisi/metabolik
- Sebelum sakit/kebiasaan
o
Pola makan
: 2 3 kali sehari (nasi, ikan, sayur)
o
Frekwensi
: 2 3 kali sehari
o
Nafsu makan
: Baik
o
Makanan kesukaan: sayur asam
o
Makanan pantangan
: tidak ada
o
BB
: 58 kg
TB
: 160 cm
2
o
IMT sebelum sakit : 22,6 kg/m
Perubahan selama sakit
Klien mengatakan selama sakit nafsu makannya berkurang akibat muntah yang
dialami, klien juga mengatakan badannya masih terasa lemas.
BB : 56 kg
o
TB : 160 cm
o
IMT saat dirawat di Rumah Sakit : 21,8 kg/m2
o

c. Pola eliminasi
- BAK sebelum sakit
o
Frekwensi/ jumlah : 2 4 kali sehari 500 cc
o
Warna
: kuning
o
Bau
: amoniak
-

22

Perubahan BAK selama sakit


Klien mengatakan selama sakit tidak ada perubahan dalam pola BAK.
BAB sebelum sakit
o
Frekwensi : 1 kali sehari
o
Konsistensi
: lunak
o
Warna
: kuning
o
Bau
: khas

Perubahan BAB selama sakit


Klien menyatakan selama sakit ini, BAB cair tanpa ampas tidak berlendir, tidak
berdarah dengan frekuensi lebih dari 10 x

d. Pola aktivitas dan latihan


Kemampuan perawatan diri
0
1
2
3
4
Makan/minum

Mandi

Toileting

Berpakaian

Mobilisasi di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi ROM

0 :mandiri, 1 : alat bantu, 2 : dibantu orang lain, 3 : dibantu orang lain danalat, 4 :
tergantung total
Nampak selama masa pengkajian pasien masih dapat melakukan aktivitas sendiri tanpa
bantuan alat.
e. Oksigenasi
Klien tidak terpasang oksigen
f.

Pola tidur dan istirahat


- Sebelum sakit/kebiasaan
o
Tidur malam
: 24.00 05.00
o
Tidur siang
: Tidak teratur
- Perubahan selama sakit
Klien mengatakan tidak dapat tidur nyenyak selama sakit ini.

g. Pola kognitif-perseptual
Pola kognitif baik, dapat merespon dengan lingkungan sekitarnya. Tampak tidak
menggunakan alat bantu.
h. Pola persepsi diri/konsep diri
- Hal yang dipikirkan saat ini
Klien mengatakan saat ini dia tidak dapat/ bisa lagi menjalankan perannya sebagai
kepala keluarga dan pegawai untuk sementara waktu.
- Harapan setelah menjalani perawatan
:
Klien mengatakan kepercayaan sepenuhnya di serahkan pada dokter perawat serta
petugas medis lainnya untuk kesembuhannya serta dapat beraktivitas seperti sedia
kala.
i.

Pola seksual dan produksi


- Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi :
Klien mengatakan tidak mengalami gangguan dan perubahan pada pola seksual
karena sakit yang dialami.

22

j.

Pola peran-hubungan
Klien nampak kooperatif terhadap pengobatan serta hubungan baik sesame pasien
perawat dokter serta petugas medis lainnya.

k. Pola manajemen koping stress


Klien mengatakan kurang nyaman dengan kondisinya saat ini dan berharap sembuh.
l.

Pola keyakinan-nilai
Klien mengatakan selama sakit aktivitas ibadahnya terganggu serta pasien berdoa
kepada Allah SWT untuk di beri kesembuhannya.

7. Riwayat Kesehatan dan Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum
:
Baik
Sedang
Lemah
Kesadaran:
TTV
: TD : 120/80 mmHg
Nadi : 82 x /menit
Suhu : 37, 90C
RR : 20 x /menit
a. Kulit, Rambut, dan Kuku
Distribusi rambut
Lesi
:
Ya
Tidak
Warna kulit
:
Ikterik
Sianosis
Kemerahan
Pucat
Akral
:
Hangat
Panas
Dingin Kering Dingin
Turgor
Oedem
:
Ya
Tidak
Lokasi :
Warna kuku
:
Pink
Sianosis
Lain-lain
b. Kepala dan Leher
Kepala
Simetris
Asimetris
Lesi :
Ya
Tidak
Deviasi Trakea
Ya
Tidak
Pembesaran kelenjar tiroid
Ya
Tidak
c. Mata dan Telinga
Gangguan penglihatan
Ya
Tidak
Menggunakan kacamata
Ya
Tidak
Visus :
Pupil
Isokor
Anisokor
Ukuran :
Sklera/konjungtiva
Anemis Ikterus
Gangguan pendengaran
Ya
Tidak
Menggunakan alat bantu dengar
Ya
Tidak
d. Sistem Pernafasan
Batuk
Ya
Tidak
Sesak
Ya
Tidak
- Inspeksi :
Kesimetrisan
: simetris kiri kanan
Pengembangan dada
: normal
Frekuensi dan irama napas : 20 x/ menit dan teratur
Kedalaman Pernafasan
: tidak ada kelainan
Penggunaan otot bantu napas
: tidak menggunakan otot bantu napas
- Palpasi :
Nyeri tekan
: tidak ada nyeri tekan
Vocal fremitus
: seimbang kiri kanan
- Perkusi :
Suara perkusi
: resonan
Deteksi adanya cairan / massa / udara (redup/ pekak / hiperresonans) :
Tidak ada kelainan
- Auskultasi :

22

Suara napas

: vesikuler (inspirasi terdengar penuh, ekspirasi

lebih lama)
Suara napas tambahan
: tidak ada suara napas tambahan
e. Sistem Kardiovaskuler
Nyeri dada
Ya
Tidak
Palpitasi
Ya
Tidak
CRT
<3 dtk
>3 dtk
-

Inspeksi :
Pembesaran vena jugularis : tidak ada pembesaran vena
Sianosis
: tidak ada tanda-tanda sianosis
Palpasi :
Iktus Kordis
: teraba cepat di midklavikula kiri ics V
Thrill
: Point of Maximum Impuls : Perkusi :
Suara perkusi
: bunyi pekak
Batas area jantung dan tanda pembesaran jantung : bunyi pekak pada pasien

Auskultasi :
Suara jantung ( BJ I dan II )
: murni
Irama jantung
: teratur
Frekuensi denyut jantung : 82 x/ menit
Suara jantung tambahan
: tidak ada
f. Payudara Wanita dan Pria
- Tidak ada nyeri tekan
- Tidak ada lesi atau benjolan
g. Sistem Gastrointestinal
Mulut
Bersih
Kotor
Berbau
Mukosa
Lembap
Kering
Stomatitis
Pembesaran hepar Ya
Tidak
Abdomen
Meteorismus
Asites
Nyeri tekan
Peristaltik : 25 x/mnt
h. Sistem Urinarius
Penggunaan alat bantu/kateter
Ya
Tidak
Kandung kencing, nyeri tekan
Ya
Tidak
Gangguan
Anuria
Oliguria
Retensi
Inkontinensia
Nokturia
Lain-lain :
i.

Sistem Reproduksi Wanita/Pria


tidak ada keluhan
j. Sistem Saraf
GCS : 15
Eye : 4
Verbal : 5
Motorik : 6
Rangsangan meningeal
Kakukuduk
Kering
Brudzinski I
Brudzinski II
Refleks fisiologis
Patela
Trisep
Bisep
Achiles
Refleks patologis
Babinski
chaddock
Oppenheim
Rossolimo
Gordon Schaefer
Stransky
Gonda
k. Sistem Muskuloskeletal
Kemampuan peregrakan sendi
Bebas
Terbatas
Deformitas
Ya
Tidak
Fraktur
Ya
Tidak
Kekakuan
Ya
Tidak
Nyeri Sendi/otot
Ya
Tidak
Kekuatan Otot
:

22

l.

Sistem Imun
Perdarahan gusi
Perdarahan lama
Pembengkakan KGB
Keletihan/kelemahan

m. Sistem Endokrin
Hiperglikemia
Hipoglikemia
Luka gangrene
8. PemeriksaanPenunjang
a. Data laboratorium yang berhubungan
Parameter
WBC
12, 6
103/ul
NUET
9, 85
103/u
PDW
13, 8
Fl

22

Ya
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Tidak
Tidak

Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Tidak

Nilai Rujukan
4 10
1,3 6, 7
15 - 18

KLASIFIKASI DATA
A. Data Subjektif
1. Klien mengatakan susah BAB cair 10x SMRS
2. Klien mengatakan muntah 3x sehari
3. Klien mengatakan selama sakit tidak dapat tidur nyenyak
4. Klien mengatakan nafsu makannya berkurang selama sakit
B. Data Objektif
1. KU lemah
2. Warna kulit pucat
3. Peristaltic usus 25x/menit
4. Klien nampak muntah
5. Klien Nampak gelisah
6. TTV :
TD : 120/80 mmHg
N : 82x/menit
0
S : 37,9 C
R : 20x/menit
7. WBC : 12,6
NUET : 9,85
PDW : 13,8
8. Nampak porsi makan yang dihabiskan hanya porsi

ANALISIS DATA
Nama Pasien

: Tn. L

Umur

: 24 tahun

No.

22

Tanggal

No. RM
Data

: 03 87 49
Diagnosis Medis
Etiologi

: GEA
Masalah

1.

30/03/15

DS :
- Klien

Makanan, infeksi, jamur


mengatakan

Diare

sudah

BAB cair 10x SMRS


>> Tekanan osmotic,
hiperperistaltik usus,
hipersekresi air dan elektrolit

DO :
-

KU lemah
Peristaltik usus 25x/m
S : 37,9 0C
WBC : 12,6
NUET : 9,85
PDW : 13,8

Pergeseran air dan elektrolit


ke usus, penyerapan makanan
di usus menurun

DIARE
2.

30/03/15

DS :
- Klien mengatakan muntah
-

Makanan, infeksi, jamur

Ketidakseimba
ngan cairan dan

3x
Klien mengatakan BAB encer

Diare

elektrolit

DO :
-

>> Frekuensi BAB

KU lemah
Warna kulit pucat
Klien nampak muntah

Distensi Abdomen
Mual muntah

3.

30/3/15

DS :
- Klien
sakit

Ketidakseimbangan
Elektrolit
Makanan, infeksi, jamur
mengatakan
tidak

dapat

selama

nyaman

tidur

Diare

nyenyak
DO :
-

Distensi Abdomen

KU lemah
Warna kulit pucat
Klien nampak gelisah

Mual muntah
Tidak dapat rileks

Gangguan Rasa Nyaman


PENYIMPANGAN KDM
.
Makanan, infeksi,
jamur

22

Ganguan

>> Tekanan osmotic,


hiperperistaltik usus,
hipersekresi air dan elektrolit

rasa

Pergeseran air dan elektrolit ke


usus, penyerapan makanan di
usus menurun
DIARE
Distensi Abdomen
Ketidakseimbangan
Elektrolit

Mual dan muntah

Nafsu makan
menurun

Tidak dapat rileks

Gangguan
Rasa Nyaman

B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Diare berhubungan dengan prosws infeksi, inflamasi usus ditandai dengan :
DS :
-

Klien mengatakan sudah BAB cair 10x SMRS

DO :
-

22

KU lemah
Peristaltik usus 25x/m
S : 37,9 0C
WBC : 12,6
NUET : 9,85

PDW : 13,8
2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan diare dan muntah ditandai
dengan :
DS :
-

Klien mengatakan muntah 3x


Klien mengatakan BAB encer

DO :
-

KU lemah
Warna kulit pucat
Klien nampak muntah

3. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit ditandai dengan :
DS :
-

Klien mengatakan selama sakit tidak dapat tidur nyenyak

DO :
-

22

KU lemah
Warna kulit pucat
Klien nampak gelisah