Anda di halaman 1dari 96

JURNAL

AKUNTANSI

Vol.1 No.1 Juni 2013

ISSN 2088 - 768X

POLITIK LUAR NEGERI TERHADAP AKUNTANSI DI INDONESIA John F. Sonoo

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI SEKTOR PUBLIK (Perbandingan Beberapa Negara) Wiwin Kurniasari

MANAJEMEN PAJAK DIPANDANG DARI SISI FISKUS Dewi Kusuma Wardini

PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP HUBUNGAN ANTARA TOTAL QUALITY MANAGEMENT DENGAN KEPUASAN KERJA PADA PERUSAHAAN GO PUBLIK DI BURSA EFEK JAKARTA Sri Suranta

PERILAKU EARNINGS MANAGEMENT DISEKITAR PERUBAHAN TARIF PAJAK TAHUN 2008 (Studi Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Yang Menyalurkan Kredit Kepada UKM) Suyanto

DETERMINAN KESUKSESAN IMPLEMENTASI APLIKASI E-FAKTUR PAJAK Tri Ciptaningsih

ANALISIS POTENSI RASIO CAMEL SEBAGAI INDIKATOR SINYAL KONDISI BERMASALAH BANK PERKREDITAN RAKYAT KONVENSIONAL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Gendro Wiyono

FACTORS DETERMINING DIVIDEND PAYOUT:

EMPIRICAL EVIDENCE OF INDONESIA LISTED FIRMS Theresia Trisanti

JA

VOL.1

NO.1

Hal. 1-88

JUNI 2013

ISSN 2088-768X

JURNAL AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA

PENANGGUNGJAWAB Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

PENANGGUNGJAWAB TEKNIS Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

REDAKSI Sunarto, SE., MM Sri Ayem, SE., M.Sc Dewi Kusuma W, SE, S.Psi., M.Sc., Akt Teguh Erawati, SE., M.Sc Andri Waskita Aji, SE., M.Sc., Akt Suyanto, SE., M.Si

MITRA BESTARI Dr. Atika Jauharia Hatta, M.Si Dr. Dody Hapsoro, MSPA., MBA., CA., Ak Dr. Sri Hermuningsih, MM

Alamat Redaksi:

Redaksi Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jl. Kusumanegara No. 121, Lt-2 Yogyakarta e-mail: jurnalakuntansi.feust@gmail.com, Telp/Fax: (0274) 557455

Redaksi menerima artikel hasil penelitian yang belum pernah dipublikasikan di media lain. Redaksi berhak meringkas, mengurangi, dan memperbaiki format tulisan yang akan dimuat dalam jurnal tanpa mengubah subtansi dari isi dan tulisan. Naskah diketik dalam format 2 (dua) spasi pada kertas A4, dengan garis tepi kiri 4, atas 4, kanan 3, dan bawah 3. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Abstrak dengan bahasa inggris bagi tulisan/karya ilmiah berbahasa inggris. Panjang artikel antara 10 20 halaman (2500-5000 kata). Pengiriman harus menyertakan cetakan naskah hardcopy sebanyak 2(dua) eksemplar dan menyertakan softcopy berupa CD. Penulis menyertakan biodata (Nama, Alamat, Alamat Kantor, No. Telp, e-mail). Penulis akan mendapatkan 2 eksemplar naskah yang diterbitkan. Naskah konseptual memuat komponen: Judul, Absttrak, Kata Kunci, Pendahuluan, Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis, Metodologi Penelitian, Pembahasan, Kesimpulan- Implikasi-Saran-Keterbatasan, dan Daftar Pustaka.

JURNAL

AKUNTANSI

Vol.1 No.1 Juni 2013

ISSN 2088 - 768X

POLITIK LUAR NEGERI TERHADAP AKUNTANSI DI INDONESIA John F. Sonoo

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI SEKTOR PUBLIK (Perbandingan Beberapa Negara) Wiwin Kurniasari

MANAJEMEN PAJAK DIPANDANG DARI SISI FISKUS Dewi Kusuma Wardini

PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP HUBUNGAN ANTARA TOTAL QUALITY MANAGEMENT DENGAN KEPUASAN KERJA PADA PERUSAHAAN GO PUBLIK DI BURSA EFEK JAKARTA Sri Suranta

PERILAKU EARNINGS MANAGEMENT DISEKITAR PERUBAHAN TARIF PAJAK TAHUN 2008 (Studi Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Yang Menyalurkan Kredit Kepada UKM) Suyanto

DETERMINAN KESUKSESAN IMPLEMENTASI APLIKASI E-FAKTUR PAJAK Tri Ciptaningsih

ANALISIS POTENSI RASIO CAMEL SEBAGAI INDIKATOR SINYAL KONDISI BERMASALAH BANK PERKREDITAN RAKYAT KONVENSIONAL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Gendro Wiyono

FACTORS DETERMINING DIVIDEND PAYOUT:

EMPIRICAL EVIDENCE OF INDONESIA LISTED FIRMS Theresia Trisanti

JA

VOL.1

NO.1

Hal. 1-88

JUNI 2013

ISSN 2088-768X

EDITORIAL

JURNAL AKU NTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SARJANAWI YATA T AMANSISWA YOGYAKA RTA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan telah terbit Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Vol.1 No.1. Fakultas Ekonomi khusunya program studi Akuntansi sangat berbahagia dapat secara konsisten menerbitkan jurnal akuntansi.

Program studi akuntansi ternyata di tahun 2013 dapat melangkah konsisten dalam menerbitkan jurnal akuntansi dengan jumlah sama, semoga dimasa mendatang masih dapat berjalan sukses dan lancar. Semangat giat belajar sepanjang hayat menjadikan kontribusi mahasiswa dan dosen dapat melakukan semangat maju dari sisi karya ilmiah.

Maju dengan niat ilmu sebagai panglima cukup membawa angin segar, layar perubahan sudah berkembang. Potensi Fakultas dan Program Studi mendukung, semoga menjadi hari- hari yang membahagiakan semua pihak.

Pelajaran yang diperoleh melalui karya ilmiah ini adalah, apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat adalah niat yang besar yakni Maju Bersama Ekonomi Kerakyatan Berasaskan Ajaran Hidup Tamansiswa mulai ada titik terang karena mau bekerja sama.

Terima kasih yang telah mendukung, ramai-ramai maju bersama melalui Fakultas Ekonomi dengan menjadi masyarakat ilmiah yang terus berjuang menjadi manusia kritis dengan menulis di Jurnal Akuntansi.

Selamat

Berjuang

Yogyakarta, Juni 2013 Redaksi Jurnal Akuntansi

ii

DAFTAR ISI

JURNAL AKU NTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SARJANAWIYATA T AMANSISWA YOGYAKA RTA

POLITIK LUAR NEGERI TERHADAP AKUNTANSI DI INDONESIA John F. Sonoo

1

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI SEKTOR PUBLIK (Perbandingan Beberapa Negara) Wiwin Kurniasari

12

MANAJEMEN PAJAK DIPANDANG DARI SISI FISKUS Dewi Kusuma Wardini

21

PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP HUBUNGAN ANTARA TOTAL QUALITY MANAGEMENT DENGAN KEPUASAN KERJA PADA PERUSAHAAN GO PUBLIK DI BURSA EFEK JAKARTA Sri Suranta

29

PERILAKU EARNINGS MANAGEMENT DISEKITAR PERUBAHAN TARIF

PAJAK TAHUN 2008 (Studi Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Yang Menyalurkan Kredit Kepada UKM) Suyanto

42

DETERMINAN KESUKSESAN IMPLEMENTASI APLIKASI E-FAKTUR PAJAK

Tri Ciptaningsih

52

ANALISIS POTENSI RASIO CAMEL SEBAGAI INDIKATOR SINYAL KONDISI BERMASALAH BANK PERKREDITAN RAKYAT KONVENSIONAL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Gendro Wiyono

59

FACTORS DETERMINING DIVIDEND PAYOUT:

EMPIRICAL EVIDENCE OF INDONESIA LISTED FIRMS Theresia Trisanti

80

iii

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

POLITIK LUAR NEGERI TERHADAP AKUNTANSI DI INDONESIA

John F Sonoto

Intisari Artikel ini bertujuan mengulas perkembangan akuntansi sejak masuknya investor asing pada tahun 1967, dikeluarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan kemudian disusul pada tahun 1968 dengan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri, terjadinya krisis financial secara global sekitar tahun 1997 yang mengguncang perekonomian Negara-negara adikuasa termasuk Asia dan Indonesia muncullah issu IFRS. IFRS sepertinya adalah semacam ketakutan Negara adikuasa sehubungan dengan pesatnya pertumbuhan perdagangan di Asia seperti China yang telah menguasai berabagai industry mulai dari industri makanan sampai industry nuklir dan yang lebih menggemparkan lagi China berencana menjadikan mata uangnya sebagai alat bayar interntasional. Kata Kunci: IFRS, PMA, krisis financial

PENDAHULUAN Perkembangan Praktik Akuntansi di Indonesia

akuntansi di Indonesia tidak

lepas dari masa penjajahan para Kolonial Belanda dan para lulusan akademi dari Amerika Serikat yang bekerja pada perusahaan-perusahaan Indonesia. Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusuri pada era penjajahan belanda sekitar tahun 1642. Jejak yang jelas berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747 yakni dengan praktik pembukuan yang dilaksanakan amphioen society yang berkedudukan di Jakarta. Pada era belanda mengenalkan sistem pembukuan berpasangan (double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan oleh Luca Pacioli. Perusahaan VOC milik belanda yang merupakan organisasi kemersil utama selama

masa penjajahan memainkan peranan penting dalam praktik bisnis di Indonesia selama era ini.

Selama kurun waktu tahun 1800an sampai awal tahun 1900an kegiatan ekonomi pada masa penjajahan dapat dikatakan mengalami peningkatan yang sangat cepat. Hal ini ditandai dengan dihapuskannya tanam paksa sehingga pengusaha belanda banyak yang menamkan modalnya di Indonesia. Peningkatan kegiatan ekonomi kaum kolonial secara langsung telah mendorong munculnya permintaan akan

Praktik

tenaga akuntan dan juru buku yang telatih.

Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan

di Indonesia pada tahun 1907. Peluang

terhadap kebutuhan audit ini akhirnya diambil oleh akuntan belanda dan inggris yang masuk ke Indonesia untuk membantu kegiatan administrasi diperusahaan tekstil dan perusahaan manufaktur. Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia adalah J. W. Labrijin yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896 dan orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit adalah Van Schagen yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1907. Kehadiran seorang Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan Negara (government Accountant Dienst) yang terbentuk pada tahun 1915. Akuntan yang pertama adalah Frese dan

Hogeweg yang mendirikan kantor di Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor

ini diikuti kantor akuntan yang lain yakni

akuntan H. Y. Vorens pada tahun 1920 dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak (Belasting Accountant Dienst). Oleh karena penguasaan terhadap aktifitas ekonomi, maka pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai akuntan publik. Berbagai pergulatan dengan berbagai upaya dalam

menghadapi kaum penjajah yang menguasai ekonomi pribumi akhirnya pada tanggal 21 September 1929 muncullah orang Indonesia

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

pertama yang bekerja dibidang akuntansi yakni J. D. Massie, jabatan yang dipercayakan kepadanya adalah sebagai pemegang buku Jawatan Akuntan Pajak Berbagungnya J. D. Massie, sebagai pemegang buku Jawatan Akuntan Pajak setidaknya menjadi kesempatan emas bagi akuntan lokal dalam hal ini orang pribumi yang kemudian diikuti oleh mundurnya Belanda dari Indonesia pada tahun 1942 1945 untuk mulai menekuni bidang akuntansi. Sejak tahun 1929 pada saat J.D Massie menjadi sebagai pemegang buku Jawatan Akuntan Pajak sampai tahun 1947 setelah kemerdekaan RI hanya baru ada satu orang akuntan yang berbangsa Indonesia yakni Prof. Dr, Abutari. Sekalipun Belanda telah hengkang dari Indonesia, namun praktik akuntansi model belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (era tahun 1950an). Selain praktik di berbagai perusahaan pendidikan pelatihan akuntansi juga masi didominasi oleh sistem akuntansi Belanda. Pada waktu itu, catatan pembukuannya menekankan pada mekanisme debet dan kredit, yang antara lain dijumpai pada pembukuan Amphioen Socyteit bergerak dalam usaha peredaran candu atau morfin (Amphioen) yang merupakan usaha monopoli Belanda. Catatan pembukuannya merupakan modifikasi system Venesia-Italia, dan tidak dijumpai adanya kerangka pemikiran konseptual untuk mengembangkan system pencatatan karena kondisinya sangat menekankan pada praktik- praktik dagang yang semata-mata untuk kepentingan perusahaan Belanda Dalam berbagai pergerakan menuju pada kemandirian bangsa maka masyarakat mendesak pemerintah RI untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan yang dimiliki Belanda. Pada tahun 1958 proses nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan dan pindahnya orang-orang belanda dari Indonesia berdampak pada kelangkaan akuntan dan tenaga ahli pembukuan. Nasionalisasi dan kelangkaan akuntan serta tenaga ahli di tanah air pada akhirnya berpaling ke praktik akuntansi model Amerika. Namun demikian, pada era ini

praktik akuntansi model Amerika mampu berbaur dengan akuntansi model Belanda, terutama terjadi di lembaga pemerintah. Makin meningkatnya jumlah institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi, seperti pembukaan jurusan akuntansi di Universitas Indonesia 1952, institut ilmu keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-STAN) 1990, Universitas Padjajaran 1960, Universitas Sumatra Utara 1960, Universitas Airlangga 1960 dan Universitas Gadjah Mada 1964 telah mendorong perganitan praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika pada tahun 1960. Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga harus mengadopsi sistem akuntansi model Amerika Pada pertengahan tahun 1980an, sekelompok teknokrat muncul dan memiliki kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada pasar dengan dukungan praktik akuntansi yang lebih baik. Kebijkan kelompok tersebut memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan lembaga-lembaga internasional. Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banyak ditemui perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan, satu untuk menunjukkan gambaran sebenarnya dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan keputusan; satu untuk menunjukkan hasil yang positif dengan maksud agar dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman/kredit dari bank domestic dan asing; dan satu lagi yang menunjukan hasil negative untuk tujuan pajak Pada awal tahun 1990an, tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan yang dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Bank Duta adalah contoh salah satu bank yang bermasalah pada zaman pemerintahan presiden Soeharto. Bank Duta go public pada tahun 1990 tetapi gagal mengungkapkan kerugian yang jumlahnya

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

besar. Bank Duta juga tidak menginformasikan semua informasi kepada BAPEPAM, auditornya atau underwriternya tentang masalah tersebut. Celakanya lagi, auditor Bank Duta mengeluarkan pendapat wajar tanpa pengecualian. Kasus ini diikuti oleh kasus Plaza Indonesia Realty dan Barito Pasific Timber antara tahun 1992 dan 1993 Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan Badan berwenang untuk mengeluarkan kebijkan regilasi yang terkai denga pelporan keuangan. Pada tahun 1994, pemerintah melalui IAI mengadopsi seperangkat standar akuntansi keuangan (PSAK). Kedua, pemerintah bekerjasama dengan Bank Dunia (Word Bank) melaksanakan proyek pengembangan akuntansi yang ditunjuk untuk mengembangkan regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada tahun 1995, pemerintah memuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam undang-undang Perseroan Terbatas. Dan yang keempat, pada tahun 1995 pemerintah memasukkan aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam Undang-Undang Pasar Modal

Resesi ekonomi yang ditandai dengan jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar pada tahun 1997-1998 mengakibatkan terjadinya tekanan yang meningkat kepada pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan pada tahun 1998, para pengusaha besar (konglomerat) yang mengalami kebangkrutan, sistem perbankan yang colleps, meningkatnay inflasi dan pengangguran memaksa pemerintah bekerjasama dengan IMF dan melakukan negosisasi atas bebagai paket penyelamatan yang ditawarkan IMF. Pada waktu itu kesalahan secara tidak langsung diarahkan pada buruknya praktik akuntansi dan rendahnya kualitas keterbukaan informasi. Untuk menjaga pertanggungjawaban terhadap publik, pemerintah menempatkan bidang akuntansi sebagai sarana startegis sehingga perkembangan akuntansi di Indonesia sangat sarat dengan issu politik bangsa yang oleh penulis secara ringkas perkembangan praktik akuntansi di Indonesia dapat dilihat seperti pada tabel 1 dibawah ini:

Tabel 1 Perkembangan Ekonomi dan Perkembangan Akuntansi di Indonesia sejak era kolonial sampai era setelah Soeharto (era reformasi)

Perkembangan Politik dan Sosial

Perkembangan ekonomi

Perkembangan akuntansi

Era kolonial belanda (1595-1945):

Perusahaan Hindia Belanda (VOC)

Belanda mengenalkan akuntansi di Indonesia. Regulasi akuntansi yang pertama dikeluarkan tahun 1964 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Regulasi tersebut mengatur administrasi kas dan piutang

- Belanda menguasai Jawa dan kepulauan lain

menguasai perdagangan di Indonesia. Keterlibatan dan aktifitas

- Islam menjadi agama mayoritas

pribumi di perdagangan dibatasi dengan ketat. Etnis China diberi hak khusus bidang perdaganagan dan transportasi air

Era Soekarno (1945-1966):

Dominasi perdagangan oleh Belanda dan China mendorong munculnya ketidak adilan di masyarakt. Akhirnya, Indonesia memilih pendekatan sosialis dalam pembangunan yang ditandai dengan dominasi peran Negara. Tahun 1958, semua perusahaan milik Belanda dinasionalisasi dan Warga Negara Belanda keluar dari Indonesia

Akademi lulusan Amerika mengisi kekosongan posisi akuntan dan sistem akuntansi dan auditing Amerika dikenalkan di Indonesia. Baik akuntansi model Belanda maupun Amerika digunakan secara bersama. Ikatan akuntansi Indonesia didirikan tahun 1957 untuk memberi pedoman dan untuk mengkoordinasi aktivitas akuntan

Indonesia memperoleh kemerdekaan. Kepemimpinan presiden Soekarna dekat dengan pemerintah China (RRC). Tahun 1965 terjadi kudeta oleh komunis yang berhasil digagalkan dan mendorong peran militer

Era Soeharto (19661998):

Dibawah kepemimpinan Soeharto, pembangunan ekonomi didasarkan

Terjadi transfer pengetahuan dan keahlian akuntansi secara

Pada tahun 1966 Soeharto menjabat

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

sebagi presiden Indonesia yang kedua. Terpilihnya sebagai presiden pendekatan kebijakan ekonomi dan politik yang dilaksanakan adalah pendekatan konservatifisme

pada pendekatan kapitalis. Investor asing didorong dan tahun 1967 dikeluarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang menghasilkan munculnya perusahaan asing

langsung dari kantor pusat perusahaan asing kepada karyawan Indonesia dan secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas bisnis. Tahun 1973, IAI mengadopsi seperangkat prinsip akuntansi dan standar auditing serta professional code of conduct. Prinsip-prinsip akuntansi didasarkan pada pedoman akuntansi yang dipublikasikan AICPA tahun 1965. Standar akuntansi internasional diadopsi tahun 1995

Tahun 1997-1998 krisis keuangan yang menimpa Asia juga ikut berdampak pada ekonomi Indonesia sehingga banyaknya perusahaan yang bangkrut

Era setelah Soeharto (setelah 1998):

Indonesia berjuang dari kesulitan ekonomi dan stabilitas sosial

Regulasi diperketat untuk memperbaiki pengungkapan informasi keuangan

Soeharto dipaksa mengundurkan diri pada tahun 1998

Perdagangan para kaum kolonial saat itu secara langsung ikut mempengaruhi teknis pencatatan akuntansi

di Indonesia atau orang Belanda

menyebutkannya sebagai sistem Tata Buku. Sistem akuntansi yang berkemabang

saat itu adalah Kontinental dan Anglo

Saxon. Kedua sistem ini juga ikut Tabel 2 Pebedaan akuntansi Sistem Anglo Saxon dan Kontinental

dipengaruhi oleh karena perbagai kepentingan kaum penjajah dan alumni- alumni pribumi yang mengikuti pendidikan di luar negeri. Untuk lebih jelas perbedaan kedua sistem akuntansi tersebut, maka dapat diringkas dalam tabel, 2 seperti dibawah ini:

Objek

Sistem Kontinental

 

Sistem Anglo Saxon

1. Buku harian

Pengelompokkan

debit

kredit

Pengelompokkan

debit

kredit

belum rinci

sudah rinci

 

2. Akun buku besar

 

- Penyusutan

Menggunakan akun cadangan dan dicatat di kredit Menggunakan akun campuran

Menggunakan akun beban penyusutan dan dicatat di sisi debit Tidak menggunakan akun

- Akun campuran

Terdapat penyetoran prive Arsip disimpan sebagai

- Prive

dokumen

Tidak terdapat penyetoran

 

3. Neraca Lajur

Arsip

tidak

disimpan

karena

Terdiri atas:

hanya sebagai alat bantu

1. Neraca

Terdiri atas:

 

4. Laporan keuangan

2. Laporan perhitungan Laba Rugi

1. Neraca

2. Laporan perhitungan Laba

3. laporan perubahan Modal

Rugi

3. Laporan perubahan Modal

4. Laporan Arus Kas

 

5. Laporan Dana

 

6. Laporan catatan keuangan

Eksistensi akuntansi Indonesia dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh organisasi profesi. Pada tahun 1950an, di Indonesia belum ada profesi akuntansi lulusan universitas lokal. Hampir semua

akuntan memiliki kualifikasi professional berasal dari Belanda. Munculnya Undang- Undang No. 34/1954 tentang pemakaian gelar akuntan merupakan fondasi lahirnya akuntan yang berasal dari univeritas lokal.

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

Pada tahun 1957, kelompok pertama mahasiswa akuntansi lulus dari Universitas Indonesia. Namun demikian, kantor akuntan publik milik orang Belanda tidak mengakui kualifikasi mereka. Atas dasar kenyataan tersebut, akuntan lulusan Universitas Indonesia bersama-sama dengan akuntan senior lulusan Belanda mendirikan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada tanggal 23 Desember 1957 dan yang menjadi ketua umum IAI pertama kalinya adalah professor Soemarjo Tjitrosidojo seorang akademisi berpendidikan Belanda. Adapun tujuan pendirian IAI waktu itu diantaranya adalah untuk membimbing perkembangan akuntansi serta meningkatkan mutu pendidikan akuntan; meningkatkan mutu pekerjaan akuntan; mempromosikan status profesi akuntansi serta mendukung pembangunan nasional dalam perkembangan pertumbuhan ilmu akuntansi di Indonesia Kehidupan ekonomi secara global khususnya dibidang financial ikut mempengaruhi permintaan jasa akuntansi dan bermunculan berbagai regulasi luar negeri maupun dalam negeri yang digulirkan demi penyelamatan ekonomi masing-masing negara. Selama tahun 1960an, menurunnya peran kegiatan keuangan mengakibatkan penurunan permintaan jasa akuntansi dan kondisi ini berpengaruh pada perkembangan profesi akuntansi di Indonesia. Namun demikian, perubahan kondisi ekonomi dan politik yang terjadi pada akhir era tersebut, telah mendorong pertumbuhan profesi akuntansi. Profesi akuntansi mulai berkembang cepat sejak tahun 1967 yakni setelah dikeluarkannya Undang-Undang Penanaman Modal Asing dan Undang- Undang Penanaman Modal Dalam Negeri 1968. Usaha profesionalisasi IAI mendapat sambutan ketika dilaksanakan konvensi akuntansi yang pertama yakni pada tahun 1969. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya Surat Keputusan Menteri Keuangan yang mewajibkan akuntan bersertifikat menjadi anggota IAI Selanjutnya, pada tahun 1973, IAI membentuk “Komite Norma Pemeriksaan Akuntan” (KNPA) untuk mendukung

terciptanya perbaikan ujian akuntansi. Yayasan Pengembangan Ilmu Akuntansi Indonesia (YPAI) didirikan pada tahun 1974 untuk mendukung pengembangan profesi melalui program pelatihan dan kegiatan penelitian. Selanjutnya pada tahun 1985 dibentuk Tim Koordinasi Pengembangan Akuntansi (TKPA). Kegiatan TKPA ini didukung sepenuhnya oleh IAI dan didanai oleh Bank Dunia sampai berakhir pada tahun 1993 dengan misinya adalah untuk mengembangkan pendidikan akuntansi, profesi akuntansi, standar profesi dan kode etik profesi. Kemajuan selanjutnya dapat dilihat pada tahun 1990an ketika Bank Dunia mensponsori Proyek Pengembangan Akuntan (PPA). Melalui proyek ini berbagai standa akuntansi dan auditing dikembangkan, standar profesi diperkuat dan ujian sertifikasi akuntan publik (USAP) mulai dikenalkan. Ujian sertifikasi akuntan publik berstandar internasional diberlakukan sebagai syarat wajib bagi akuntan public yang berpraktik sejak tahun 1997. Pengenalan USAP ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Hal ini dapat dilihat pada SK Menteri Keuangan No. 43/ KMK. 017/ 1997 yang berisi ketentuan tentang prosedur perizinan, pengawasan dan sanksi bagi akuntan publik yang bermasalah. SK Menteri Keuangan No. 43/ KMK. 017/ 1997 kemudian dalam perkembangannya digantikan dengan SK Menteri Keuangan No. 470/ KMK. 017/ 1999. Setelah empat puluh lima tahun pendirian IAI, IAI berkembang menjadi organisasi profesi yang sangat diakui keberadaannya di Indonesia dan profesi sebagai akuntan public, akuntan manajemen, akuntan pendidik dan akuntan pemerintah Profesi akuntansi menjadi sorotan public ketika terjadi krisis keuangan di Asia pada tahun 1997 yang ditandai dengan bangkrutnya berbagai perusahaan dan Bank di Indonesia serta berbagai skandal-skandal keuangan lainnya yang sangat sarat dengan isu politik. Hal ini disebabkan perusahaan yang mengalami kebangkrutan tersebut, banyak yang mendapat opini wajar tanpa

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

pengecualian (unqualified audit opinies) dari akuntan publik. Pada bulan Juni 1998 Asian Development Bank (ADB) menyetujui Financial Givernance Reform Sector Development Program (FGRSD) untuk mendukung usaha pemerintah mempromosikan dan memperkuat proses pengelolaan (governance) perusahaan disektor public dan keuangan. Kebijakan FGRSD yang disetujui pemerintah adalah usaha untuk menyusun peraturan yang membuat:

1. Auditor bertanggung jawab atas kelalaian dalam melaksanakann audit

2. Direktur bertanggung jawab atas informasi yang salah dalam laporan keuangan dan informasi publik lainnya. Pada tahun 2001, Departemen

Keuangan mengeluarkan Draft Akademik

tentang Rancangan Undang-Undang Akuntan Publik yang baru. Dalam draft ini disebutkan bahwa tujuan dibentuknya Undang-Undang Akuntan Publik adalah:

1. Melindungi kepercayaan public yang diberikan kepada akuntan public

2. Memeberikan kerangka hukum yang lebih jelas bagi akuntan public

3. Mendukung pembangunan ekonomi

nasional dan menyiapkan akuntan dalam menyongsong era liberisasi jasa akuntan publik Hal penting dalam RUU AP ini adalah tentang ketentuan yang menyebutkan bahwa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dapat dituntut dengan saksi pidana.

Perkembangan Standar Akuntansi Di Indonesia Kehadiran Standar Akuntansi Keuangan yang telah teruji oleh waktu dan zaman membuktikan bahwa akuntansi sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara nasional. Para pemakai laporan keuangan seperti, investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha, pelanggan, pemerintah dan masyarakat sangat membutuhkan informasi sekalipun dengan tingkat kebutuhan yang berbeda diantara mereka. Agar informasi yang diterima para pemakai atau pengguna

laporan keuangan adalah informasi yang dapat dipahami, relevan, materialitas, handal, jujur, netral, maka diperlukan sebuah standar yang memadai. supaya lebih dekat mengenal perjalanan panjang perjuangan para pemikir- pemikir yang telah meluangkan waktu dan pemikiran cemerlangnya untuk mendesain bentuk dan isi dari Standar Akuntansi Keuangan, berikut akan diuraikan sejarah perkembangan Standar Akuntansi Keuangan. Dalam sejarah perkembangan Standar Akuntansi Indonesia, terdapat tiga tonggak sejarah. Tonggak sejarah pertama diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada tahun 1973, untuk pertama kalinya Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melakukan modifikasi prinsip dan standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam satu buku “ Prinsip Akuntansi Indonesia atau disingkat dengan sebutan (PAI)” Tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu, Komite Prinsip Akuntansi Indonesia atau (PAI)”melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan mengkodifikasikannya dalam “Prinsip Akuntansi Indonesia 1984”. Berikutnya yang ketiga adalah, pada tahun 1994 IAI melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan melakukan kodifikasi dala buku “Standar Akuntansi Keuangan atau disingkat dengan sebutan SAK per tanggal 1 Oktober tahun 1994.” Gencarnya isu globalisasi yang digulirkan Negara- negara mauju maka sejak tahun 1994 itu juga IAI memutuskan untuk melakukan harmonisasi dengan Standar Akuntansi Internasional (SAI) hal ini dilakukan untuk menciptakan iklim investasi yang sehat demi menggenjot perekonomian dalam negeri. Dalam perkembangan selanjutnya ketika krisis moneter yang mengantam seluruh dunia dan peristiwa-peristiwa perusahaan- perusahaan raksasa dunia yang runtuh sekejap, akhirnya perubahan dari harmonisasi SAK ke SAI menjadi ke adaptasi SAK ke SAI, kemudian menjadi adopsi dalam rangka konvergensi dengan international financial reporting standards atau disingkat dengan sebutan (IFRS)

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

Standar akuntansi yang berkualitas menjadi masalah penting dalam profesi akuntansi dan semua pemakai laporan keuangan. Chariri dan Hendro, 2010 menyatakan bahwa standar akuntansi yang berkualitas akan mempengaruhi kualitas dari laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian, standar akuntansi memiliki peran penting bagi pihak penyusun dan semua pemakai laporan keuangan agar timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan Issu konvergensi secara langsung menyita perhatian dewan standard dan pemakai laporan keuangan untuk meningkatkan standar akuntansi keuangan yang berkualitas dalam rangka pengembangan kualitas stuktur pelaporan keuangan global. Untuk dapat menilai berkualitasnya sebuah standar, (Levit 1998; Leisenring, 1998; Regro, 1998; dan DiPiazza et al, 2008) dalam Chariri dan Hendro, 2010 mensyaratkan beberapa hal penting, yang dapat diringkum diantaranya:

1. Standard harus ditulis dengan jelas, dapat dimengerti dan prinsipnya seharusnya dapat diterapkan secara operasional

2. Standar harus dapat diperbandingkan, transparansi dan menyediakan pengungkapan penuh

3. Standar seharusnya menyediakan pedoman pengakuan dan pengukuran yang mendasari transaksi ekonomi

4. Standar seharusnya konsisten dengan pedoman yang diberikan kerangka konseptual

5. Standar seharusnya memungkinan untuk

penggunaan penilaian yang wajar Pertumbuhan ekonomi secara global berdamapak pada peningkatan perkembangan dunia usaha di Indonesia mencermati siklum perekenomian secra global, sehingga pada tahun 2002 Dewan Standar Akuntan Indonesia menerbitkan beberapa revisi yang terkait dengan Standar

Akuntan Keuangan yang ada. Sejak September 1998 hingga April 2002 Dewan Standar Akuntansi Keuangan

standar

revisiannya sebagai berikut:

Pertama, menerbitkan empat PSAK revisi, yakni:

- PSAK 55 (revisi 1999) tentang Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai merevisi PSAK 55 tentang Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai;

- PSAK 31 (revisi 2000) tentang Akuntansi Perbankan merevisi PSAK 31 (revisi 1994) tentang Akuntansi Perbankan;

berhasil

mengembangkan

- PSAK 5 (revisi 2000) tentang Pelaporan Segmen merevisi PSAK 5 tentang Pelaporan Informasi Keuangan Menurut Segmen; dan

- PSAK 19 (revisi 2000) tentang Aktiva Tidak berwujud merevisi:

PSAK 19 tentang Aktiva Tak Berwujud;

PSAK 6 tentang Akuntansi dan Pelaporan bagi Perusahaan dalam Tahap Pengembangan, pada paragraf yang mengatur pengakuan biaya pada perusahaan dalam tahap pengembangan (perintisan usaha);

PSAK 17 tentang Akuntansi Penyusutan, pada bagian yang mengatur amortisasi (penyusutan) aktiva tidak berwujud; dan

PSAK 20 tentang Biaya Riset dan Pengembangan

Kedua, menerbitkan tiga PSAK baru, yakni:

- PSAK 56 tentang Laba Per Saham’

- PSAK 57 tentang Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontijensi, Aktiva Kontijensi merevisi PSAK 8 tentang Kontijensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca, pada bagian yang mengatur mengenai Kontijensi; dan’

- PSAK 58 tentang Operasi dalam Penghentian Tantangan terhadap kualitas standar akuntansi keuangan saat ini adalah dengan adanya rencana konvergensi IFRS di Indonesia. Sehingga dari revisian 2002 kembali muncul untuk periode 2008-2010.

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

Pembahasan: Pengaruh Politik Luar Negeri Terhadap Perkembangan Praktik dan Standar Akuntansi di Indonesia Penjelasan perkembangan praktik dan standar akuntansi Indonesia diatas menunjukkan bahwa akuntansi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Choi et. Al

(1998;36) dalam Widarsono menyatakan bahwa sejumlah faktor lingkungan diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap pengembangan akuntasi, antara lain:

1. Sistem Hukum

Kodifikasi standar-standar dan prosedur akuntansi kelihatannya alami dan cocok dalam Negara-negara yang menganut code law. Sebaliknya, pembentukan kebijakan akuntansi yang non legalitas oleh organsasi-organisasi professional yang berkecipung dalam sektor swasta lebih sesuai dengan sistem yang berlaku dinegara-negara hukum (Common Law). Indonesia disebut- sebut sebagai neagra hukum sehingga jika perhatikan akuntansi Indonesia menganut sistem Common Law. Dalam hukum perang atau situasi darurat nasional lainnya, semua aspek fungsi akuntansi mungkin diatur oleh sejumlah pengadilan atau badan pemerintah pusat.

2. Sistem Politik

Sistem politik pada suatu Negara pun ikut mewarnai perkembangan akuntansi, karena sistem politik tersebut “mengimpor” dan “mengekspor” standar-standar dan

praktik-praktik akuntansi. Sebagai contoh, akuntansi inggris yang ada semasa pergantian Abad 20, “diekspor” ke Negara- negara persemakuran. Belanda melakukan hal yang sama ke Filipina dan Indonesia.

3. Sistem Kepemilikan Bisnis

Kepemilikan publik yang besar atas saham-saham perusahaan menyiratkan prinsip-prinsip pelaporan dan pengungkapan

akuntansi keuangan yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang kepemilikannya didominasi oleh keluarga atau bank

4. Perbedaaan besaran dan kompeksitas perusahaan-perusahaan bisnis

Dikotomi yang terjadi antara perusahaan besar dan kecil terus berlanjut, mulai dari masalah asuransi, hingga keseluruh hirarki perusahaan induk-anak, termasuk masalah kompleksitas. Perusahaan konglomerasi besar yang beroperasi dalam lini bisnis yang sangat beragam membutuhkan teknik-teknik pelaporan keuangan yang berbeda dengan perusahaan kecil yang menghasilkan produk tunggal. Perusahaan-perusahaan multinasional juga membutuhkan sistem akuntansi yang berbeda dengan sistem akuntansi perusahaan-perusahaan domestik.

5. Iklim Sosial

Iklim sosial turut memberikan sumbangan dalam pengembangan akuntansi diberbagai belahan dunia. Misalanya, di Perancis mengarah pada pelaporan

tanggungjawab sosial, sebaliknya di Swiss masih sangat konservatif sehingga perusahaan-perusahaan besar swiss melaporkan kondisi keuangannya yang relative ringkas.

6. Tingkat Kompetensi Manajemen

Bisnis dan Komunitas Keuangan Kompetensi atau kemampuan manajen bisnis dan pengguna dari output akuntansi akan sangat menentukan perkembangan akuntansi. Karena secanggih dan sehebat apapun output akuntansi, jika manajemen bisnis dan para pengguna tidak dapat membaca, mengartikan dan memahaminya hal tersebut tidak akan ada gunanya.

7. Tingkat Campur Tangan Bisnis

Legislatif Regulasi mengenai perpajakan mungkin memerlukan prinsip-prinsip akuntansi tententu. Seperti swedia, dimana kelonggaran pajak tertentu harus dibukukan secara akuntansi sebelum bisa diklaim bagi tujuan pajak; ini juga merupakan situasi bagi penilaian persediaan metode LIFO di AS.

8. Ada Legalisasi

Akuntansi Tertentu Dalam beberapa kasus, terdapat peraturan legislative khusus untuk aturan-aturan dan teknik-teknik akuntansi tententu. Di AS, SEC menentukan

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

standar-standar pengungkapan dan akuntansi bagi perusahaan-perusahaan besar, dengan mengacu pada FASB.

9. Kecepatan Inovasi Bisnis

Semuala, kegiatan marger dan akuisisi tidak diperhitungkan secara akuntansi, namun karena penggabungan bisnis yang begitu popolar di Eropa memaksa akuntansi turut berkembang untuk memenuhi kebutuhan dari mereka yang berkepentingan.

10. Tahap Pengembangan Ekonomi

Negara yang masih mengandalkan ekonomi pertanian membutuhkan prinsip- prinsip akuntansi yang berbeda dengan Negara industri maju. Di Negara pertanian, tingkat ketergantungan pada kredit dan kontrak bisnis jangaka panjang mungkin masih kecil. Sehingga akuntansi akrual yang canggih tidak berguna dan yang dibutuhkan adalah akuntansi kas sederhana.

11. Pola Pertumbuhan Ekonomi

Kondisi perekonomian yang stabil mendorong peningkatan persaingan memperbutkan pasar-pasar yang ada sehingga memerlukan suatu pola akuntansi yang stabil dan akan jauh berbeda pada Negara yang kondisinya sedang mengalami perang berkepanjangan.

12. Status Pendidikan dan Organisasi

Profesional Karena ketiadaan profesionalisme akuntansi yang terorganisir dan sumber otoritas akuntansi lokal suatu Negara, standar-standar dari area lain atau Negara lain mungkin digunakan untuk mengisi kekosongan tersebut. Adaptasi faktor-faktor akuntansi dari Inggris merupakan pengaruh lingkungan yang signifikan dalam akuntansi dunia akhir PD II. Sejak saat itu, proses adaptasi internasional beralih ke sumber- sumber dari AS. Pengembangan akuntansi, baik yang berasal dari Negara itu sendiri atau yang diadaptasi dari Negara-negara lain, tidak akan sukses kecuali jika kondisi- kondisi lingkungan seperti yang terdapat

dalam daftar diatas dipertimbangkan secara penuh Akuntansi mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan tumbuh dan berkembangnya bisnis surat-surat berharga khususnya bisnis saham pasar modal. Perkembangan pasar modal Indonesia yang pesat dimulai sejak ditetapkannya paket- paket kebijakan oleh pemerintah pada Desember 1987, oktober 1988, dan Desember 1988. Kebijakan-kebijakan tersebut telah meningkatkan kegairahan para pelaku bisnis di pasar modal, sekaligus menarik perhatian para peneliti untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan pasar modal. Kebijakan tersebut juga membuat adanya perubahan mendasar terhadap kegiatan di pasar modal Indonesia. Perkembangan yang pesat ini semakin didukung dengan swastanisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 1992, penerapan Jakarta Automated Trading system pada tahun 1995, dan dikeluarkannya Undang- undang No. 8 Tahun 1995 tentang pasar modal yang berlaku efektif mulai Januari 1996. Mekanisme transaksi perdagangan bursa di Indonesia yang dilakukan oleh pasar modal beserta lembaga-lembaga penunjangnya memperoleh kapastian hukum Menurut Sunariyah dalam Puspitasari, 2010 menyatakan bahwa perkembangan harga saham dipengaruhi beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal perusahaan yang berpengaruh berasal dari pendapatan per lembar saham, besarnya deviden yang dibagi, kinerja manajemen perusahaan, dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Faktor eksternal yang berpengaruh seperti munculnya gejolak politik pada suatu Negara, perubahan kebijakan moneter dan

laju inflasi yang tinggi.

SIMPULAN Dari berbagai kajian literatur yang dijelaskan dengan berbagai bukti perjalanan panjang sejarah Perkembangan Praktik Akuntansi dan Standar Akuntansi Keuagan

di Indonesia sejak zaman kolonial, era

kepemimpinan Presiden Soekarno, Era

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

Presiden Soeharto, sampai era reformasi, hingga percaturan PSAK dan ISAK 2011 (konvergensi IFRS) sangat kental dengan pengaruh gejolak politik Negara-negara Maju apalagi jika dihubungkan dengan Pertumbuhan atau perkembangan Pasar Modal (Bursa Efek Indonesia). Sejak awal perkembangan akuntansi telah dibalut dengan strategi meningkatkan perekonomian dalam negeri dengan mengundang masuknya investor asing sehingga pada tahun 1967 dikeluarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing dan kemudian disusul pada tahun 1968 dengan Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri saat itulah kemudian permintaan akan tenaga profesi akuntansi kembali bermunculan setelah Belanda Hengkang dari Indonesia. Selanjutnya ketika krisis financial secara global sekitar tahun 1997 yang mengguncang perekonomian Negara-negara adikuasa termasuk Asia dan Indonesia muncullah issu IFRS. Indonesia dengan berbagai regulasinya berencana melakukan konvergensi IFRS, sehingga dengan optimisnya Indonesia akan melaksanakannya pada tahun 2012. Bagi saya ini adalah politik perdagangan luar negeri khususnya Negara-negara Maju seperti Amerika dengan sekutunya yang mulai ketakutan menghadapi Negara-negara Asia seperti China yang menunjukkan kemampuannya mengenjot ekonomi Nasionalnya. Pesatnya pertumbuhan perdagangan China yang telah menguasai berabagai industry mulai dari industru makanan sampai industry nuklir dan yang lebih menggemparkan lagi China berencana menjadikan mata uangnya sebagai alat bayar interntasional yang akan bersaing dengan Dollar Amerika Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) membuktikan bahwa UKM memberikan kontribusi besar bagi perekonomian bangsa sehingga ketika krisis financial melanda, UKM justru yang mampu menggenjot perekonomian secara nasional. Sehingga bagi saya jika ditanyakan sejauh mana pengaruh politik luar negeri terhadap Standar Akuntansi Keuangan Indonesia? Ini adalah

produk kapitalisasi negara-negara maju yang sukses mempolitisasi perekonomian nasional. Kita harus kembali melihat pada sejarah perkembangan, disana sangat jelas bahwa setelah pemberlakuan Undang- undang Penanaman Modal Asing barulah diikuti dengan pesatnya permintaan tenaga profesi akuntansi dan kemudian berkembang sampai pada pembuatan naskah Standar Akuntansi Keuangan. Sehingga saya sepakat dengan salah satu pendapat Choi et. Al (1998) bahwa Sistem politik pada suatu Negara ikut mewarnai perkembangan akuntansi, karena sistem politik tersebut “mengimpor” dan “mengekspor” standar- standar dan praktik-praktik akuntansi.

DAFTAR PUSTAKA Almilia L.S., 2010, Overview Roadmap Konvergensi IFRS 2012 dan Perkembangan PSAK di Indonesia, Bahan Ajar Mata Kuliah Pelaporan dan Akuntansi Keuangan, PPAk Universitas Sanatha Dharma Astika I. B. P., Kontribusi Teori Kepentingan Kelompok dalam Standar Akuntansi Keuangan, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Udayana. Diakses Januari

2011

Chariri A dan Hendero S K S., 2010, menguji kualitas standar akuntansi Hasil Adopsi IFRS: studi empiris pada PSAK N0. 55 (Revisi 2006), SNA XIII, Purwokerto Earning Management, Universitas Surabaya.

Diakses Januari 2011

Ferdian

F.,

periodisasi

perkembangan

akuntansi

di

Indonesia,

Diakses Januari 2011 Jumantoro B.A., sejarah akuntansi Indonesia,

Diakses Januari 2011 Puspitasari, 2010, Pengaruh Informasi Akuntansi Terhadap Harga Saham, Fakultas Ekonomi Universitas

JURNAL AKUNTANSI. VOL 1. NO.1 JUNI 2013

Muhammadiyah Surakarta. Diakses Januari 2011 Sejarah standar akuntansi keuangan sejak tahun 1994 Siddharta I.T. dkk, 2002, Kata Pengantar Dewan Standar Ikatan Akuntan Indonesia

SAK, 2002, Pendahuluan Kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan

Sunardi, perkembangan akuntansi di Indonesia, tugas mata kuliah seminar akuntansi, fakultas ekonomi universitas pancasakti Tegal. Diakses Januari

2011

Sebuah tinjauan:

perkembangan akuntansi internasional,

Widarsono,

A,

UPI BHMN Bandung. Diakses Januari 2011

Sonoto.J, 2011, Review Telaah Kritis Perkembangan Akuntansi di Indonesia dan Dampaknya Pada Bursa Saham Indonesia, Tugas Individual Pelaporan Dan Akuntansi Keuangan, Program Pendidikan Profesi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI SEKTOR PUBLIK (Perbandingan Beberapa Negara)

Wiwin Kurniasari STAIN SALATIGA

Abstract

The consolidated Financial Report (CFR) in the public sector takes on considerable impotance if the”group” is considered as a mosaic of different entities that together contribute to carrying out public policies. The accounting system must represent this overall scenario and analyzes eight countries (Indonesian, Australia, New Zeland, Canada, Sweden, France, USA, and the U.K.), as well as the new informational requirements of the International Public Sector Accounting Standards (IPSASs). Accounting prinsiples used for compling a CFR in the public sector will be compared. The objective of the study is highligt the similiarities and differeces between the various prinsiples and consideration of related to the consolidation of annual accounts in the public sector.

Keywords:

Principles, Accountability.

Consolidated

Financial

Report,

PENDAHULUAN Informasi keuangan merupakan suatu kebutuhan bagi para pengguna (stakeholders) yang disajikan untuk membantu dalam pengambilan keputusan sosial, politik, dan ekonomi, sehingga keputusan yang diambil lebih berkualitasa dan tepat sasaran. Laporan keuangan ini juga merupakan cermin untuk melihat kondisi keuangan Republik tercinta ini. Tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan menyediakan informasi mengenai: 1) kecukupan penerimaan selama periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran; 2) kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundangan; 3)jumlah sumberdaya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai; 4) bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya; 5) posisi keuangan dan

Public

Sector,

International

Accounting

kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman; 6) perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. Sementara peranan pelaporan keuangan pemerintah yaitu:

yaitu

mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pelaksanaan kebijakan sumber daya dalam mencapai tujuan.

2. Manajemen, yaitu memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian atas aset, kewajiban, dan ekiutas dana pemerinah.

3. Transaparansi, yaitu memberikan informasi keuangan yang terbuka, jujur, menyeluruh kepada para pengguna (stakeholders).

4. Evaluasi kinerja, yaitu mengevaluasi kinerja entitas pelaporan, terutama dalam menggunakan sumber daya

1. Akuntabilitas,

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

ekonomi untuk mencapai kinerja transparansi. 5. Keseimbangan antargenerasi, yaitu memberikan informasi mengenai kecukupan penerimaan pemerintah untuk membiayai seluruh pengeluaran, dan apakah generasi yang akan datang ikut menanggung beban pengeluaran tersebut. Dalam rangka mewujudkan tujuan dan peranan pelaporan keuangan Pemerintah Indonesia tersebut maka dibutuhkan laporan keuangan konsolidasi. Laporan keuangan konsolidasian pada Pemerintah Indonesia sebagai entitas pelaporan mencakup laporan keuangan semua entitas akuntansi, termasuk laporan keuangan badan layanan umum. Penyajian laporan keuangan konsolidasian meliputi: Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas (LAK), dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Proses konsolidasi diikuti dengan eliminasi akun-akun timbal balik (reciprocal accounts), misalnya jika terdapat sisa uang yang harus dipertanggungjawakan yang belum dipertangungjawabkan oleh Bendaharawan pembayar sampai dengan akhir periode akuntansi.Namun demikian apabila eliminasi dimaksud belum memungkinkan, maka dimungkinan dalam CaLK. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Ciri-ciri entitas pelaporan adalah sebagai berikut: 1) dibiayai oleh APBN/APBD atau mendapat pemisahan kekayaan dari anggaran; 2) dibentuk dengan peraturan perundang-undangan; 3) pimpinan entitas tersebut adalah pejabat negara yang ditunjuk atau dipilih oleh rakyat; dan 4) entitas tersebut menyampaikan pertanggungjawaban baik langsung maupun tidak langsung kepada wakil rakyat sebagai pihak yang menyetujui anggaran. Entitas pelaporan ini terdiri dari: Pemerintah Pusat dan Daerah; Kementerian Negara/Lembaga

(KL) dan Bendahara Umum Negara (BUN). Pengguna anggaran atau pengguna barang sebagai entitas akuntansi menyelenggarakan akuntansi dan menyampaikan laporan keuangan sehubungan dengan anggaran atau barang yang dikelolanya yang ditujukan kepada entitas pelaporan. Setiap unit pemerintahan yang menerima anggaran belanja atau mengelola barang adalah entitas akuntansi yang wajib menyelenggarakan akuntansi, dan secara periodik menyiapkan laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Laporan keuangan tersebut disampaikan secara intern dan berjenjang kepada unit yang lebih tinggi dalam rangka penggabungan laporan keuangan oleh entitas pelaporan. Perusahaan negara/daerah pada dasarnya adalah suatu entitas akuntansi, namun akuntansi dan penyajian laporannya tidak menggunakan standar akuntansi pemerintahan. Entitas akuntansi terdiri dari: 1) setiap kuasa pengguna anggaran di lingkungan suatu Kementerian/Lembaga yang mempunyai dokumen pelakasanaan anggaran tersendiri; 2) Bendahara Umum Daerah (BUD); 3) Kuasa pengguna anggaran di lingkungan Pemerintah Daerah bila mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran yang terpisah, jumlah anggarannya relatif besar, dan pengelolaan kegiatannya dilakukan secara mandiri; 4)Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas, misalnya Badan Layanan Umum pada rumah sakit, universitas negeri, atau otorita. Berikut ini tabel yang memperlihatkan perbedaan antara entitas akuntansi dan entitas pelaporan secara ringkas sebagai berikut:

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Tabel 1

No

Indikator

Entitas Akuntansi

Entitas Pelaporan

1

Definisi

unit pemerintahan pengguna anggaran atau pengguna barang yang wajib menyelenggarakan akuntansi, dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan (konsolidasi) pada entitas pelaporan.

unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.

2

Komponen

1. Kuasa pengguna anggaran Kementerian/Lembaga yang mempunyai dokumen anggaran tersendiri.

2. Bendahara Umum Daerah (BUD)

1. Pemerintah Pusat

2. Pemerintah Daerah

3. Kementerian Negara/Lembaga di

lingkuangan Pemerintah Pusat. 4. Satuan organisasi di lingkungan pusat/daerah atau organisasi lainnya, jika menurut peraturan

perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib menyajikan laporan keuangan

3. Kuasa pengguna anggarandi lingkungan Pemerintah Daerah bila mempunyai dokumen pelaksanaan anggaran yang terpisah.

Sumber: Komite Standar Akuntansi Sektor Publik (KSAP), 2013

Prosedur konsolidasi dilakukan dengan menggabungkan dan menjumlahkan akun yang diselenggarakan oleh entitas pelaporan lainnya dengan atau tanpa meneliminasi akun timbal balik. Entitas pelaporan menyusun laporan keuangan dengan menggabungkan laporan keuangan seluruh entitas akuntansi yang secara organisatoris berada di bawahnya. Ketika konsolidasi dilakukan tanpa mengeliminasi akun-akun yang timbal balik dan estimasi besaran akan dicantumkan dalam CaLK. Laporan konsolidasi pada BLU digabungkan pada Kementerian Negara/Lembaga teknis Pemerintah Pusat atau Daerah yang secara organisatoris membawahinya dengan ketentuan sebagai berikut: LRA BLU digabungkan secara bruto kepada LRA Kementerian Negara/Lembaga teknis Pemerintah Pusat atau daerah yang membawahiya. Neraca BLU digabungkan kepada neraca Kementerian Negara/Lembaga teknis Pemerintah Pusat atau daerah yang membawahiya. Pertumbuhan kebutuhan keuangan dan akuntabilitas menuntut lebih luas dan lebih lengkap tentang sistem akuntansi Konsolidasi Laporan Keuangan (CFR)-untuk

memberikan umpan balik untuk pengambilan keputusan dan peningkatan akuntabilitas. Namun, ada beberapa masalah dengan menggunakan CFR di sektor publik, termasuk kesulitan membandingkan informasi konsolidasi di berbagai tingkat pemerintahan dan mendefinisikan batas konsolidasi (Heald dan Georgiou, 2000; Robb dan Newberry, 2007). Meskipun beberapa negara telah menerapkan CFR (Benito et al., 2007), badan independen dan ahli menawarkan masukan yang diperlukan untuk melaksanakan perubahan, misalnya Dewan Standar Akuntansi Sektor Publik Internasional (IPSASB). Di beberapa negara (Swedia, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru dan Australia), standar akuntansi untuk konsolidasi rekening tahunan telah ditetapkan. Di banyak negara, audit utama dan akuntansi perusahaan telah memainkan peran penting dalam proses implementasi akuntansi akrual dalam sektor publik. Metode dan praktek dari sektor swasta telah disalin dan diperkenalkan di sektor publik tanpa tujuan analisis mendalam dan karakteristik Sektor Publik (Ellwood dan Newberry, 2007; Robb dan Newberry, 2007). Namun, reformasi akuntansi dan

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

faktor-faktor kunci dalam proses reformasi telah bervariasi antara negara-negara (2002) menunjukkan perubahan yang baik secara manajerialisme atau mendorong

akuntabilitas. Artikel ini menyoroti fitur dari konsolidasi pendekatan di sektor publik, di hal standar akuntansi, konsolidasi aturan dan standar akuntansi, konteks yang standar akuntansi telah dibentuk (publik atau swasta), dan kriteria untuk mengidentifikasi area konsolidasi di negara-negara lain maupun konsolidasi standar internasional.

1. Internasional

IPSASB adalah penetapan standar independen dari the International Federation of Accountants (IFAC) dan mengumumkan standar akuntansi untuk sektor publik yang didasarkan pada standar sektor swasta (IPSASB, 2008). Pada bulan Juli 2000, Komite Sektor Publik yaitu the Public Sector Committee (PSC) dikembangkan, atas dasar IAS 27, IPSAS 6, "Consolidated Financial Statements and Accounting for Controlled Entities’' (direvisi 2007). Standar ini berlaku untuk semua tingkat pemerintah (nasional, regional, lokal pemerintah dan unit komponen). IPSAS 6 mendefinisikan pengawasan sebagai kekuatan untuk menentukan kebijakan keuangan dan operasi untuk memperoleh keuntungan dari aktivitas entitas lain; kekuasaan tanpa manfaat tidak mencukupi sendiri. IPSAS 6 mendefinisikan seperangkat kekuasaan dan manfaat kondisi dan indikator yang membantu untuk memverifikasi adanya pengawasan. Indikator mengacu pada pengaruh pemerintah terhadap kebijakan

keuangan dan operasional. Manfaat kondisi (IPSAS 6: 39) atau Indikator (IPSAS 6:40) melibatkan keuangan dan keuangan non, positif atau negatif (seperti pertanggung jawaban terhadap suatu kerugian), hasil dari pemerintah. Pengendalian juga dianggap ada apabila setidaknya satu dari kondisi kekuatan dan salah satu kondisi dari manfaat masih ada.

2. Swedia

Pada tingkat pusat dan lembaga, mengikuti pengaruh sektor swasta, Badan

Pemerintah untuk otoritas Manajemen- Keuangan Nasional, di Swedia dikembangkan GAAP untuk pemerintah pusat (ESV, 2001, 2002,. Mattisson et al, 2003). Pemerintah Swedia, dengan profesional dan akademisi, juga telah menciptakan kerangka aturan khusus untuk Pemerintah Daerah Swedia. Setelah suatu badan penetapan standar, yang Swedia Dewan Kota Akuntansi (SCMA) telah dibentuk oleh Pemerintah Swedia dan Asosiasi Pemerintah Daerah. SCMA bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menafsirkan standar akuntansi yang berlaku umum dalam sektor kota (Falkman dan Tagesson 2008). Peraturan dari CFR untuk kota dan dewan daerah disediakan oleh Undang-Undang Akuntansi 1998 dan oleh standar SCMA s RKR 8.1.

3. Inggris (UK)

Whole of Government Financial Reporting (WGFR) Departemen Pemerintah Inggris mengikuti panduan Pelaporan Keuangan yang disusun berdasarkan Government Financial Reporting Manual (FReM) dan GAAP Inggris dengan beberapa adaptasi dan interprestasi dalam menyelaraskan standar akuntansi di Inggris dengan standar akuntansi Internasional (International Accounting Standards (IAS), dari 2009/10 FreM menerapkan standar konsolidasi IAS 27, menggantikan Inggris Standard FRS 2. Pada tingkat departemen yang lingkup konsolidasi didefinisikan dalam dua langkah. Setelah, sebagai kriteria persyaratan minimum pengawasan anggaran (Treasury, 2008a: 4.2.3, 4.2.14) atau FReM ini daftar (Treasury, 2008a: 4.2.12-4.2.13), yang sesuai kriteria IAS 27 diterapkan. Untuk IAS 27, Kontrol adalah kekuatan untuk mengatur keuangan dan kebijakan operasional dari entitas untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. Pada tingkat lokal, Undang-Undang Pemerintah Daerah 2003 membutuhkan otoritas lokal untuk mengikuti arus praktek akuntansi dan untuk mematuhi Kode Praktek Akuntansi pada Otoritas Lokal(Statement of Recommended PracticeSORP) yang memerlukan

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

penyusunan rekening kelompok sesuai dengan GAAP. Kode ini diterbitkan setiap tahun oleh Dewan Otoritas CIPFA / LASAAC of the telah mengumumkan bahwa Kode dari 2010 akan didasarkan pada IFRS dan itu akan disiapkan di bawah Pengawasan Financial Reporting Advisory Board (FRAB).

4. Amerika Serikat

Financial Accounting Standards Board (FASAB) Amerika Serikat didirikan pada awal 1990. FASAB telah diterima oleh

AICPA sebagai badan yang mengurus akuntansi standar untuk entitas federal. Untuk Pemerintah federal, Laporan FASAB

s (SFFAC 2) (1995) peran atribut pelaporan

entitas hanya untuk bagian eksekutif pemerintah federal, termasuk departemen dan Badan-badan independen. Tapi standar yang sama menegaskan bahwa entitas pemerintah federal mencakup semua sumber daya dan tanggung jawab yang ada dalam komponen entitas, apakah mereka bagian dari, eksekutif, legislatif, atau yudikatif dari

pemerintah (meskipun Rekomendasi FASAB yang berhubungan hanya untuk eksekutif). Meskipun SFFAC 2 memiliki berperan penting dalam menentukan ruang lingkup konsolidasi, Kongres dan otoritas lainnya memiliki aturan batas konsolidasi yang dimasukkan ke dalam pemerintah federal (GAO, 2005). Pada tingkat negara bagian dan pemerintah daerah Governmental Accounting Standards Board (GASB) yaitu Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan menerbitkan standar untuk sektor publik. Dewan Standar Akuntansi Pemerintahan (GASB) bersama-sama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) yang merupakan bagian dari Financial Accounting Foundation (FAF) menerbitkan konsep gagasan berdasarkan akuntabilitas keuangan.

5. Kanada

Di Kanada Dewan Standar Akuntansi Sektor Publik, yaitu Public Sector Accounting Board (PSAB) telah menetapkan standar untuk sektor publik

sejak tahun 2004. PASB adalah bagian dari Canadian Institute of Chartered Accountants yang telah menerbitkan standar yang berlaku di semua sektor publik yaitu PS 1300 (CICA, 2008) yang mengidentifikasi pengawasan sebagai kriteria utama pada area konsolidasi. Pengawasan didefinisikan sebagai kekuasaan untuk mengatur keuangan dan kebijakan operasi organisasi lain yang diharapkan bermanfaat dan mengurangi resiko kerugian pemerintah dari kegiatan organisasi. Pembenaran pada suatu piihan yang terletak pada ketidakjelasan pada suatu kriteria yang sering membuat suatu entitas

kebal terhadap perubahan legeslatif

khas sering terjadi di sektor publik. Pada

yang

setiap kasus terdapat beberapa indikator pengawasan di PS 1300 yang menyorot per tanggung jawaban dan kekuatan elemen seperti tanggung jawab atas kerugian atau kekuasaan untuk mendefinisikan misi dan tipe dari pengendalian strategis.

6. Selandia Baru (New Zealand)

The Financial Standards Reporting Board (FRSB) yaitu dewan standar pelaporan keuangan yang merupakan bagian dari the New Zealand Institute of Chartered Accountants (NZICA) mengumumkan standar akuntansi untuk sektor publik dan swasta yang disesuaikan dengan IAS-IFRS. Berdasarkan UU Keuangan Tahun 1989 Pemerintah Selandia Baru menyusun seluruh pelaporan keuangan pemerintah melalui Government Financial Reporting (WGFR) dan struktur pelaporan entitas mengikuti GAAP Selandia Baru. WGFR di Selandia Baru belum mampu menawarkan representasi dari sektor publik secara keseluruhan sejak baik kriteria kontrol, maupun yang ada tindakan normatif, termasuk badan-badan publik independen seperti universitas atau pemerintah daerah dalam konsolidasi. Pemerintah setempat mengkompilasi CFR sendiri pada dasar Pemerintah Local 2002 dan NZ IAS 27. Selandia Baru, seperti Australia, telah menambahkan paragraf ke IFRS dalam penerapannya ke sektor publik. Untuk tujuan mengidentifikasi adanya kontrol, paragraf

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

ditambahkan ke NZ IAS 27 mengacu pada seperangkat indikator kontrol dalam standar sebelumnya, NZ FRS 37 dan / atau IPSAS 6 untuk menentukan apakah ada kontrol di sektor publik. Definisi FRS 37 adalah:

"Kontrol oleh satu entitas terhadap entitas lain (a) entitas pertama memiliki kapasitas untuk menentukan keuangan dan kebijakan operasi yang memandu kegiatan kedua entitas, (b) entitas pertama memiliki hak untuk signifikan tingkat kepemilikan saat ini atau masa depan manfaat, termasuk pengurangan kepemilikan kerugian yang timbul dari kegiatan kedua entitas.

7. Australia Dewan Standar Akuntansi Australia yang tergabung ke dalam The Australian Accounting Standards Board (AASB) telah

menyusun Undang-undang standar akuntansi yang telah disesuaikan dengan IAS-IFRS untuk sektor publik dan swasta pada tahun

Semua

tingkatan di pemerintahan-persemakmuran, negara bagian dan lokal mengikuti AASB 127 yang didirikan pada tahun 2004 untuk mengadaptasi laporan konsolidasi standar sebelumnya berdasarkan IFRS, dan

2000.

kemudian diubah tahun 2008 dengan menerima standar pemerintah AAS 27, 29, dan 31. Selain AASB 127 pemerintah juga mengkompilasi AASB 1049 (yang diterbitkan tahun 2007 untuk pelaporan keuangan pemerintah pada umumnya yaitu Government and General Government Sector Financial Reporting) yang bertujuan menyelaraskan ekonomi mikro dari fungsi GAAP berbasis WGFR dengan fungsi ekonomi makro berdasarkan laporan statistik keuangan pemerintah pada the Government Financial Statistics (GFS) yang merupakan kerangka kerja dari (ABS, 2006). Kejadian di Australia menarik karena mengacu pada kedua kriteria konsolidasi, pengawasan dan akuntabilitas keuangan. AASB 127 mendefinisikan kontrol sebagai kekuatan untuk menentukan kebijakan keuangan dan operasi dari suatu entitas sehingga memperoleh manfaat dari aktivitasnya. karena mengacu pada kedua kriteria konsolidasi, pengawasan dan akuntabilitas keuangan. AASB 127 mendefinisikan kontrol sebagai kekuatan untuk menentukan kebijakan keuangan dan operasi dari suatu entitas sehingga memperoleh manfaat dari aktivitasnya.

Tabel 2 Perbandingan Pelaporan Keuangan Konsolidasi Akuntansi Sektor Publik di Beberapa Negara

 

Indonesia

Internasional

Inggris

Inggris

Amerika Serikat

(Lokal)

(Pusat)

Standars

International Public

IPSASB

CIPFA+ASB

ASB

+

GASB +

FASAB

Setting Body

Sector

Accounting

HM

Standards

(IPSAS)

Treasury

yang

diterbitkan

(FRAB)

oleh

International

Federation

of

Accountant (IFAC)

Standars

SAP

IPSAS 6-7-8

SORP 2006+

UK

GASB

SFFAC

FRS

GAAP-

1-2-4

berdasar

14-39-34

WGA

Sector

of

Publik

Public

Swasta yg di adapatasi utk sektor publik

Publik

Publik

Aplication

Reporting

Pemerintah

Pusat,

Semua

Lokal

Pusat

Negara,

Pemerintah

Entity

Pemerintah

Daerah,

Lokal,

&

USA

Kementerian/

Pemerintah

Lembaga,

Satuan

Tujuan

Organisasi

wajib

Khusus

sesuai UU

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

 

Kanada

Swedia

Selandia Baru

Australia

Perancis

Standars

PSAB

SCMA

ESV

NZ ICA

 

AASB

OEC

Setting Body

 

Standars

PS

1300-

RKR 8.1

ESV (Peraturan

NZ

IAS

27-

AASB 127

Manual (OES,

2500-2510

&

28-31

AASB 1049

1992)

Rekomendasi)

AAS 27-29-31

Sector

of

Publik

Publik

 

Publik/Swasta

Publik/Swasta

Publik

Aplication

Reporting

Semua

Lokal

Pusat

Semua

 

Semua

Lokal

Entity

 

Sumber: Giuseppe Grossi and Francesca Pepe (2009), diolah

KESIMPULAN

Artikel ini telah menganalisis penetapan standar, aturan konsolidasi dan aplikasi standar akuntansi sektor publik, kriteria untuk menentukan daerah konsolidasi dan indikator relatif pada berbagai negara, dan di konteks internasional. Secara substansial tidak banyak perbedaan antara berbagai standar atau dengan kriteria indikator konsolidasi. Seperti ditunjukkan oleh Wise (2006), ada beberapa subjektivitas dalam menafsirkan kriteria kontrol atau pengawasan dalam menentukan area konsolidasi, sehingga meninggalkan ruang untuk pertimbangan selain yang yang bersifat ekonomi, subjektivitas tersebut memungkinkan untuk adaptasi alat keuangan (obyektif serupa dalam setiap konteks) ke sejarah politik dan konteks fitur sosial. Untuk alasan ini masing- masing negara telah diartikulasikan dengan CFR sesuai dengan karakteristik yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

AASB

(2007),

AASB

1049Whole

of

Government and General Government

Sector

(www.aasb.com.au).

Reporting

Financial

Benito, B., Brusca, I. and Montesinos, V. (2007), The harmonization of government financial information systems: the role of the IPSASs. International Review of Administrative Sciences, 73,2, pp. 393317.

Broadbent, J., Dietrich, M. and Laughlin, R. (1996), The development of principal- agent, contracting and accountability relationships in the public sector:

conceptual and cultural problems. Critical Perspectives on Accounting, 7, 4, pp. 259284.

Broadbent, J. and Guthrie, J. (2008), Public sector to public services: 20 years of ‘contextual’ accounting research. Accounting, Auditing and Accountability Journal, 21, 2, pp.

129169.

CICA

Sector

Accounting Handbook (www.psab-

ccsp.ca).

(2008),

CICA

Public

Chan, J. L. (2003), Government accounting:

an assessment of theory, purpose and standards. Public Money & Management, 25, 1, pp. 1320.

CIPFA (2008), Code of Practice on Local

AASB (2008), AASB 127Consolidated and

Authority Accounting

in the United

Separate Financial Statements

KingdomA

Statement

of

(www.aasb.com.au).

Recommended

Practice 2008

(London).

ABS

(2006),

Australian

GFS

Framework

(www.aasb.com.au).

Chow,

D.,

Humphrey,

C.

and

Moll,

J.

(2007),

Developing

whole

of

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

government accounting in the UK. Financial Accountability & Management, 23, 1, pp. 2754. Ellwood, S. and Newberry, S. (2007), Public sector accrual accounting:

institutionalizing neo-liberal principles? Accounting, Auditing and Accountability Journal, 20, 4, pp. 549

573.

ESV (2001), Accrual Accounting in Swedish Central Government (www.esv.se).

ESV (2002), Conceptual Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements in Central Government Version 1.0 (www.esv.se).

Falkman, P. and Tagesson, T. (2008), Accrual accounting does not necessarily mean accrual accounting. Scandinavian Journal of Management, 24, 3, pp. 271283.

FASAB

(1995),

Statement

of

Federal

Financial Accounting

Entity and Display (www.fasab.org).

Concept

2.

GAO (2005), Annual Financial Report of the United States Government 2005 (www.gao.gov).

GASB

(1991),

Statement

No.

14.

The

Financial Reporting Entity (Norwalk).

Giuseppe Grossi and Francesca Pepe. 2009. Consolidation Financial Reporting in the Public Sector: a Cross-Country Comparison. Journal Compilation Cipfa - Public Money Siena University Italy.

Guthrie, J., Humphrey, C., Jones, L. R. and Olson, O. (2005), The dynamics of public financial management change in an international context. In Guthrie J. et al. (Eds), International Public Financial Management Reform (IAP, Greenwich), pp. 122.

Heald, D. and Georgiou, G. (2000), Consolidation principles and practices for UK government sector. Accounting and Business Research, 30, 2, pp. 153167.

Humphrey, C., Miller, P. and Scapens, R. (1993), Accountability and accountable management in the UK public sector. Accounting, Auditing and Accountability Journal, 6, 3, pp. 729.

IASB (2008), International Accounting Standard 27:Consolidated and Separate Financial Statements (eifrs.iasb.org).

Ikatan Akuntan Indonesia. 2011.Pedoman Standar Akuntansi Keuangan No.04. tentang Laporan Konsolidasi. Jakarta:

Salemba Empat.

IPSASB

(2008),

2008

Handbook

of

International Public Sector Accounting Pronouncements (www.ifac.org).

Johnsen,

(2005),

Reinventing public sector accounting.

Financial

&

Management, 21, 3, pp. 259262.

A.

and

Lapsley,

I.

Accountability

Lüder, K. (2002), Research in comparative governmental accounting over the last decadeachievements and problems. In Montesinos, V. and Josè, M. V. (Eds), Innovations in Governmental Accounting (Kluwer Academic Publishers, Dordrecht), pp. 121.

Lüder, K. and Jones, R. (Eds) (2003), Reforming Governmental Accounting and Budgeting in Europe (Fachverlag Moderne Wirtschaft, Frankfurt).

Mattisson, O., Paulsson, G. and Tagesson, T. (2003), Sweden. In Lüder, K. and Jones, R. (Eds), op. cit.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Robb, A. and Newberry, S. (2007), Globalization: governmental accounting and international financial reporting standards. Socio-Economic Review, 5, 4, pp. 725754.

Republik Indonesia. (2005), Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah Pernyataan No.11.

Republik Indonesia. 2006. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

Republik Indonesia. 2010. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.

Republik Indonesia. (2011), Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.233/PMK 05 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK/2007 Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat.

Treasury

(2008a),

Government

Financial

Reporting Manual 20092010 (FReM), (London).

Treasury (2008b), Summary of IFRS included in the IFRS-based FreM (London).

Wise,

V. (2006), Cross-sector transfer

of

consolidated financial reporting. Australian Journal of Public Administration, 65, 3, pp. 6273.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

MANAJEMEN PAJAK DIPANDANG DARI SISI FISKUS

Dewi Kusuma Wardani Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa E-mail: d3wi_kusuma@yahoo.co.id

Abstract

Tax is the main government’s income. Tax contribution rose from 56.5% in 2000 to 77.2% in 2011. Non-tax income decreased from 43.5% in 2000 to 22.8% in 2011 (Kemenkeu, 2011). It implies that tax has greater portion in government income, i.e. more than 75% from total income. Tax-payers think that tax is a burden for them so they try to reduce it with tax management. Tax management can be viewed as a legal thing, and is not an illegal tax evasion. Although it is legal, tax management can reduce tax income and harm government. The Indonesian tax income realization was still bellow the target, except in 2008 and 2010. The tax income target inaccessibility makes government was in debt to pay the expenses. The government burdened high tax interest. Tax interest rose from 27.1% in 2005 to 28.5% in 2011. On the other hand, subsidy dropped from 50.2% in 2005 to 46.5% in 2011. Subsidy cutting caused by the tax interest increasing showed that government could not welfare their people because the income was not addressed only for their people but for others whom Indonesia has debt. We can conclude that tax management harms government because it reduces government income, increases debt interest, and reduces government capacity to welfare their people. So, government must monitor tax management practices in order to avoid tax income decreasing because of tax management .

Keywords: Tax Management, Government Income, Debt Interest, Subsidy

PENDAHULUAN Pajak merupakan kontribusi wajib yang harus dibayar oleh wajib pajak kepada negara/pemerintah yang dapat dipaksakan tanpa ada balas jasa (kontraprestasi) yang secara langsung diterima oleh pembayar pajak (UU 18/2007). Dari definisi tersebut maka semua wajib pajak, mau tidak mau dan suka tidak suka, harus menyisihkan sebagian uangnya untuk membayar pajak. Otomatis pajak dianggap sebagai beban oleh masyarakat karena dengan adanya pajak maka kemampuan ekonomisnya berkurang akibat menyisihkan uangnya untuk membayar pajak. Bahkan, sejak lahirpun orang sudah dikenakan pajak ketika ia menggunakan suatu produk tertentu, seperti

bayi yang harus diselimuti kain yang sudah dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN). Konsekuensi dari anggapan bahwa pajak merupakan beban bagi masyarakat adalah masyarakat berusaha untuk tidak membayar pajak. Terdapat dua mekanisme untuk mengurangi pajak yang harus dibayar, yaitu dengan cara penghindaran pajak (tax avoidance) dan penyelundupan pajak (tax evasion). Kedua mekanisme tersebut mirip yang mana keduanya merupakan metoda agar kewajiban perpajakan dapat dikurangi, namun perbedaan diantara keduanya pun sangat besar. Penghindaran pajak adalah perbuatan legal yang masih dalam ruang lingkup pemajakan dan tidak melanggar ketentuan perundang-undangan perpajakan.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Penyelundupan pajak merupakan perbuatan ilegal yang melanggar ketentuan perundang- undangan perpajakan (Zain, 2007). Tipisnya perbedaan antara penghindaran pajak dan penyelundupan pajak membuat wajib pajak harus pandai- pandai dalam mengatur strategi perpajakannya. Disinilah muncul istilah manajemen pajak, yaitu proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga utang pajaknya, baik pajak penghasilan maupun pajak-pajak lainnya, berada dalam posisi yang paling minimal sepanjang hal ini dimungkinkan, baik oleh ketentuan perundang-undangan perpajakan maupun secara komersial (Zain, 2007). Bila dilihat dari definisinya maka manajemen pajak dianggap legal oleh pemerintah dan tidak akan menimbulkan dampak buruk bagi wajib pajak akibat pengurangan dalam pembayaran pajak. Meskipun demikian, dari sisi negara sebagai fiskus, yaitu pihak yang memungut pajak, tentu saja menajemen pajak perlu dicermati lagi dampaknya karena manajemen pajak dapat mengurangi penerimaan pajak yang notabene merupakan penerimaan terbesar negara, yaitu 77,2% dari total penerimaan negara tahun 2011 (Kemenkeu, 2011). Artikel ini akan mengulas mengenai bagaimana pandangan fiskus terhadap fenomena manajemen pajak yang sudah umum dilakukan oleh wajib pajak dan merupakan tindakan yang legal. Dengan membaca artikel ini, pemerintah diharapkan dapat mengatur strategi dalam mengelola manajemen pajak yang dilakukan oleh perusahaan. Selain itu, perusahaan juga diharapkan dapat semakin bijak dalam melakukan manajemen pajak sehingga tidak hanya memikirkan kepentingan bisnis semata, namun juga memikirkan bangsa ini secara holistic. Pembahasannya akan dibagi menjadi lima bagian, yaitu pendahuluan, manajemen pajak, pentingnya pajak bagi negara, manajemen pajak dipandang dari sisi fiskus, dan penutup.

MANAJEMEN PAJAK Manajemen pajak, yaitu proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga utang pajaknya, baik pajak penghasilan maupun pajak-pajak lainnya, berada dalam posisi yang paling minimal sepanjang hal ini dimungkinkan, baik oleh ketentuan perundang-undangan perpajakan maupun secara komersial (Zain, 2007). Dari definisi tersebut maka manajemen pajak dapat diartikan sebagai penghindaran pajak yang sifatnya legal, dan bukan penyelundupan pajak yang sifatnya ilegal. Manajemen pajak dilakukan oleh perusahaan dengan didorong oleh beberapa hal, antara lain (Zain, 2007):

1. Menganggap pajak sebagai beban. Pajak dianggap sebagai beban yang memberatkan sehingga perusahaan berusaha untuk mengurangi beban itu sekecil-kecilnya agar daya belinya tidak berkurang.

2. Adanya ketentuan Undang-undang perpajakan yang membuat celah sehingga manajemen pajak dapat dilakukan, seperti: (a) sistem self assessment dan (2) ketentuan pajak

penghasilan mengenai biaya yang dapat dikurangkan dan tidak dapat dikurangkan. Di lain pihak, Wajib pajak melakukan pelanggaran pepajakan didorong oleh beberapa faktor, seperti (Suandy, 2001):

1. Tax required to pay (besarnya pajak yang harus dibayar). Semakin besar pajak yang harus dibayar maka semakin besar pula kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran

2. Cost to bribe (biaya untuk menyogok fiskus). Semakin kecil biaya untuk menyogok aparat pajak maka semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran

3. Probability to detection (kemungkinan terdeteksi). Semakin kecil kemungkinan pelanggaran pajak dapat terdeteksi maka semakin tinggi

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran

4. Size to penalty (sanksi). Semakin kecil

sanksi yang dikenakan terhadap pelanggaran maka semakin tinggi kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran Manajemen pajak dapat dilakukan dengan melaksanakan tindakan penstrukturan yang terkait dengan konsekuensi perpajakan. Beberapa langkah yang harus diambil dalam melakukan manajemen pajak, antara lain (Zain, 2007):

1. Menetapkan sasaran atau tujuan manajemen pajak, yaitu untuk mengefisienkan pajak tanpa melanggar ketentuan perundang-undangan serta tetap melaksanakan segala ketentuan administrative secara baik dan efektif.

2. Mengidentifikasi sutuasi saat ini serta hal-hal yang dapat mendukung dan menghambat tujuan manajemen pajak, seperti identifikasi faktorlingkungan jangka panjang, memahami etika

kebijakan perusahaan serta manajemen pajak

PENTINGNYA PAJAK BAGI NEGARA Negara memiliki tugas untuk memelihara ketenangan dan ketertiban serta melaksanakan pertahanan dan keamanan, melindungi hak dan harta benda setiap warganya terhadap gangguan anggota masyarakat lainnya, dan menerima pendelegasian yang diberikan oleh rakyat melalui wakil-wakilnya. Pelaksanaan tugas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit., yang jumlahnya tergantung dari kegiatan yang akan dilakukan untuk melaksanakan ketiga tugas pemerintah tersebut. Untuk membiayai pengeluaran atau belanja, pemerintah harus memiliki penerimaan Negara (Siahaan, 2010). Rencana biaya dan penerimaan pemerintah Indonesia disebut dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berikut komposisi pendapatan Negara tahun

2000-2011.

Gambar 1 Komposisi Pendapatan Negara

Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penerimaan Negara Bukan Pajak

Sumber: Kemenkeu, 2011

Dalam total pendapatan negara, kontribusi perpajakan meningkat dari 56,5% di tahun 2000 menjadi 77,2% di tahun 2011. Penerimaan negara bukan pajak menurun dari 43,5% di tahun 2000 menjadi 22,8% di tahun 2011 (Kemenkeu, 2011). Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pajak mengambil porsi yang paling besar dalam pendapatan Negara, yakni lebih dari 75%

total pendapatan Negara. Dapat dikatakan bahwa pajak menjadi penting dalam kelangsungan hidup Republik Indonesia. Seandainya tidak ada pajak yang diperoleh maka Negara ini akan kolaps. Penerimaan perpajakan berasal dari tiga komponen, yaitu pajak non migas, kepabeanan dan cukai, serta PPH Migas. Beriku komposisi penerimaan perpajakan.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Gambar 2 Komposisi Penerimaan Perpajakan

100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% PPh Migas Kepabeanan dan Cukai
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
PPh Migas
Kepabeanan dan Cukai
Pajak Non Migas
0%
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010*
APBN
2011

Sumber: Kemenkeu, 2011

Dalam total penerimaan perpajakan, kontribusi pajak non migas meningkat dari 68,1% di tahun 2000 menjadi 83,4% di tahun 2011, kepabeanan dan cukai menurun dari 15,8% di tahun 2000 menjadi 10,1% di tahun 2011, dan pajak penghasilan (PPh) migas

menurun dari 16,1% di tahun 2000 menjadi 6,5% di tahun 2011. Dapat disimpulkan bahwa pajak non migas, yang berasal dari PPh, PPn dan PPnBM, PBB, serta bea materai, menjadi sumber terbesar penerimaan Negara dari pajak.

Gambar 3 Penerimaan Perpajakan

penerimaan Negara dari pajak. Gambar 3 Penerimaan Perpajakan Sumber: Kemenkeu, 2011 Penerimaan perpajakan meningkat lebih

Sumber: Kemenkeu, 2011

Penerimaan perpajakan meningkat lebih dari dua kali lipat pada periode 2005- 2011. Penerimaan perpajakan meningkat rata-rata 16,1%, yang mana tahun 2005 hanya Rp 347 triliun menjadi Rp 850,3 triliun di tahun 2011. Penerimaan Perpajakan dominan didukung dari sumber Pajak

Nonmigas (rata-rata 77,3%), sedangkan Kepabeanan dan Cukai (13,5%), dan PPh Migas (9,1%). Tax ratio pada kisaran 11%- 12,5% , kecuali tahun 2008 mencapai 13,3% oleh dampak tingginya kenaikan harga minyak mentah dan komoditi primer (Kemenkeu, 2011).

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Gambar 4 Perbandingan Anggaran dan Realisasi Penerimaan Perpajakan

Uraian

2005

Uraian 2005

2006 2007

2008 2009

2010

2011

2006 2007 2008 2009 2010 2011

APBN-P

Real

%

APBN-P

Real

% APBN-P

Real

% APBN-P

Real

% APBN-P

Real

% APBN-P

Real*

% APBN

352,0 347,0 98,6 425,1 409,2 96,3 492,0 491,0 99,8 609,2 658,7 108,1 652,0 619,9 95,1
352,0
347,0
98,6
425,1
409,2
96,3
492,0
491,0
99,8
609,2
658,7
108,1
652,0
619,9
95,1
743,3
744,4
100,1
850,3
PenerimaanPerpajakan
95,1 743,3 744,4 100,1 850,3 PenerimaanPerpajakan PenerimaanDJP PenerimaanDJBC PPhMigas 264,9 263,4
95,1 743,3 744,4 100,1 850,3 PenerimaanPerpajakan PenerimaanDJP PenerimaanDJBC PPhMigas 264,9 263,4

PenerimaanDJP

PenerimaanDJBC

PPhMigas

264,9

263,4

99,4

333,0

315,0

94,6

395,2

381,4

96,5

480,9

494,1

102,7

528,4

494,5

93,6

606,1

590,5

97,4

708,9

49,8

48,5

97,4

53,3

51,0

95,6

59,5

65,6

110,3

74,7

87,6

117,3

74,6

75,4

101,1

81,8

95,0

116,1

85,8

37,2

35,1

94,4

38,7

43,2

111,6

37,3

44,0

118,1

53,6

77,0

143,6

49,0

50,0

102,0

55,4

58,9

106,3

55,6

Sumber: Kemenkeu, 2011

Jika dilihat dari tabel di atas maka dapat kita simpulkan bahwa realisasi penerimaan pajak masih di bawah target, kecuali tahun 2008 dan 2010, padahal pemerintah sudah membuat kebijakan fiscal yang diharapkan dapat mempengaruhi optimalisasi penerimaan pajak. Beberapa kebijakan atau insentif fiskal yang mempengaruhi optimalisasi penerimaan pajak, antara lain (www.pajak.go.id):

1. 2006 : Peningkatan PTKP dari Rp12 juta menjadi Rp13,2 juta

2. 2007 : Penyelesaian seluruh kewajiban restitusi yang belum dibayarkan pada tahun-tahun sebelumnya

3. 2008 : Sunset policy yang memberikan penghapusan denda/bunga

4. 2009 : Amandemen UU PPh berupa penurunan tarif PPh (OP 5% & Badan 2%) dan peningkatan PTKP dari Rp13,2 juta menjadi Rp15,8 juta

5. 2010 : Amandemen UU PPN yang memberikan pembebasan untuk beberapa komoditi tertentu dan lanjutan pelaksanaan amandemen UU PPh berupa penurunan tarif PPh badan (3%)

MANAJEMEN PAJAK DIPANDANG DARI PIHAK FISKUS Dalam kaitannya dengan manajemen pajak, fiskus mengalami dilemma. Di satu sisi, manajemen pajak merupakan suatu kegiatan yang legal sehingga pemerintah tidak boleh memperkarakan kegiatan itu sepanjang tindakan yang dilakukan wajib

pajak tidak menyalahi peraturan perpajakan.

Di sisi lain, manajemen pajak dapat

menimbulkan kerugian pajak (tax losses) yang terjadi akibat adanya selisih antara potensi pajak dan realisasi penerimaan pajak (Zain, 2007). Oleh sebab itu, perlu dicermati arti pentingnya kerugian pajak tersebut pada masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Di awal artikel ini telah dibahas bahwa penerimaan pajak digunakan sebagai salah satu sumber penerimaan Negara guna membiayai belanja Negara. Apabila

penerimaan dari pajak dan penerimaan non pajak kurang maka pemerintah harus menutup biaya tersebut dengan melakukan

utang, baik utang dalam negeri dan utang

luar negeri. Konsekuensi dari utang adalah

bunga utang yang harus dibayar setiap tahun

.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Gambar 5 Anggaran Belanja Negara

VOL.1 NO.1 JUNI 2013 Gambar 5 Anggaran Belanja Negara 200 200 2 5, 5, 0 200
200 200 2 5, 5, 0 200 0 Bun Subs 5, ga… idi,… 5 2005
200
200 2
5,
5,
0
200 0
Bun
Subs
5,
ga…
idi,…
5
2005 Bans
os,… 200
200
200
200
5,
5,
5, 5,
Sumber: Kemenkeu, 2011
Mod
Bara
Lain Pega
al,…
ng,…
wa… -…
2010 2010 2010 , , , Mod Subsi Bela al,… di,… 2010 nja… 2010 2010
2010 2010
2010
, ,
,
Mod
Subsi
Bela
al,… di,…
2010
nja…
2010 2010
2010
2010 2010
, ,
, , ,
Bung
Bara
Pega
Lain- Bans
ng,…
a…
wai…
lain… os,…

Jika kita cermati dari gambar 5 di atas maka dapat kita simpulkan bahwa pemerintah harus mengalokasikan lebih dari 10% penerimaannya pada bunga utang.

Bahkan bunga utang lebih besar prosentasenya daripada pengeluaran untuk bantuan sosial (bansos).

Gambar 6 Belanja Non K/L Meningkat Rata-rata 11,6% dengan Proporsi Belanja Subsidi Menurun sedangkan Pembayaran Bunga Utang Meningkat

550,0 433,7 450,0 403,8 386,6 69,9 321,8 350,0 101,0 95,5 279,6 88,4 250,7 240,3 89,9
550,0
433,7
450,0
403,8
386,6
69,9
321,8
350,0
101,0
95,5
279,6
88,4
250,7
240,3
89,9
49,6
77,0
250,0
115,2
64,2
54,4
79,8
93,8
65,2
150,0
79,1
275,3
214,1
187,6
150,2
138,1
120,8
107,4
50,0
- 50,0
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Lainnya
Bunga utang
Subsidi
26

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

2005 Seri es1, Lai… Seri es1, Seri Su… es1, Lainnya Bu…
2005
Seri
es1,
Lai…
Seri
es1,
Seri
Su…
es1,
Lainnya
Bu…

Sumber: Kemenkeu, 2011

Seri Su… es1, Lainnya Bu… Sumber: Kemenkeu, 2011 2011 Seri es1, La… Seri Seri es1, es1,
2011 Seri es1, La… Seri Seri es1, es1, Su… Lainnya Bu…
2011 Seri
es1,
La…
Seri
Seri
es1,
es1,
Su…
Lainnya
Bu…

Dari gambar 6 dapat kita lihat bahwa Belanja non K/L meningkat rata-rata 11,6%, berasal dari peningkatan subsidi (17,5%) dan bunga utang (11,8%). Proporsi subsidi cenderung menurun, dimana sebesar 50,2%

di tahun 2005 menjadi 46,5% pada tahun 2011, sedangkan proporsi bunga utang meningkat, yaitu 27,1% di tahun 2005 menjadi 28,5% di tahun 2011.

Gambar 7 Pembiayaan Utang 2009-2011

 

Realisasi

APBN

Uraian

2009

2010

2011

Bunga Utang

93,8

88,4

115,2

Pembiayaan Utang

83,9

86,6

127,0

SBN Neto

99,5

91,2

126,7

Penerbitan Jatuh Tempo dan Buy Back

 

148,5

167,6

215,0

(49,1)

(76,5)

(88,3)

Pinjaman Luar Negeri Neto

(15,5)

(5,0)

(0,6)

Penarikan Pinjaman Pinjaman Program Pinjaman Proyek

 

58,7

52,0

58,9

28,9

28,8

19,8

29,7

23,2

39,1

 

23,5

16,8

27,4

Pemerintah Pusat Penerimaan

Penerusan

Pinjaman Penerusan Pinjaman Pembayaran Cicilan Pokok PLN

6,2

6,4

11,7

(6,2)

(6,4)

(11,7)

(68,0)

50,6)

(47,8)

Pinjaman Dalam Negeri

-

0,4

1,0

Sumber: Kemenkeu, 2011

Tidak pernah kita bayangkan apabila pemotongan subsidi oleh pemerintah diakibatkan oleh peningkatan prosentase pembayaran bunga utang. Hal ini menyebabkan tugas pemerintah untuk

maupun luar negeri, yang memiliki piutang pada Negara. Bahkan jika kita lihat dari gambar 7 dapat disimpulkan bahwa bunga utang lebih banyak disetorkan pada luar negeri.

menyejahterakan masyarakat tidak tercapai karena penerimaan Negara bukan ditujukan

PENUTUP

untuk subsidi, tetapi malahan diberikan

Pajak

merupakan

pendapatan

utama

kepada pihak-pihak lain, baik dari dalam

Negara.

Dalam

total

pendapatan

negara,

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

kontribusi perpajakan meningkat dari 56,5% di tahun 2000 menjadi 77,2% di tahun 2011. Penerimaan negara bukan pajak menurun dari 43,5% di tahun 2000 menjadi 22,8% di tahun 2011 (Kemenkeu, 2011). Hal tersebut menunjukan bahwa pajak mengambil porsi yang paling besar dalam pendapatan Negara, yakni lebih dari 75% total pendapatan Negara. Dari sisi wajib pajak, pajak dianggap sebagai beban bagi masyarakat. Hal ini menyebabkan masyarakat berusaha mengurangi beban pajak melalui manajemen pajak. Manajemen pajak dapat diartikan sebagai penghindaran pajak yang sifatnya legal, dan bukan penyelundupan pajak yang sifatnya ilegal. Meskipun manajemen laba dianggap legal, namun tetap dapat mengurangi pendapatan pajak sehingga merugikan fiskus. Realisasi penerimaan pajak masih di bawah target, kecuali tahun 2008 dan 2010, padahal pemerintah sudah membuat kebijakan fiscal yang diharapkan dapat mempengaruhi optimalisasi penerimaan pajak. Tidak tercapainya target penerimaan pajak menyebabkan pemerintah harus berhutang untuk membiayai pengeluaran Negara. Hutang ini membuat pemerintah dibebani oleh bunga pajak yang sangat tinggi. Proporsi bunga utang meningkat dari 27,1% di tahun 2005 menjadi 28,5% di tahun 2011, sedangkan proporsi subsidi cenderung menurun sebesar 50,2% di tahun 2005 menjadi 46,5% pada tahun 2011. Pemotongan subsidi oleh pemerintah yang diakibatkan oleh meningkatnya prosentase pembayaran bunga utang menunjukkan

bahwa pemerintah tidak mampu menyejahterakan masyarakat karena penerimaan Negara bukan ditujukan untuk subsidi masyarakat, tetapi malahan diberikan kepada pihak-pihak lain, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memiliki piutang pada Negara. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manajemen pajak dapat merugikan fiskus karena menurunkan pendapatan, meningkatkan beban bunga hutang, dan menurunkan kemampuan Negara untuk menyejahterakan masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah harus mengawasi proses manajemen pajak ini agar penerimaan pajak tidak semakin berkurang akibat manajemen pajak yang dilakukan oleh wajib pajak.

DAFTAR PUSTAKA Kemenkeu.2011.Materi Lokakarya Kebijakan Keuangan Negara bagi kalangan Dosen Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi Provinsi D.I.Yogyakarta.Jakarta: Kementerian Keuangan RI

Siahaan, Marihot Pahala.2010.Hukum Pajak Elementer: Konsep Dasar Perpajakan di Indonesia.Yogyakarta: Graha Ilmu

Suandy.2001.Manajemen

Salemba Empat

Pajak.Jakarta:

www.pajak.go.id, diakses tanggal 7 Agustus

Zain,

2011

Mohammad.2007.Manajemen

Perpajakan.Jakarta: Salemba Empat

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

PENGARUH SISTEM AKUNTANSI MANAJEMEN DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP HUBUNGAN ANTARA TOTAL QUALITY MANAGEMENT DENGAN KEPUASAN KERJA PADA PERUSAHAAN GO PUBLIK DI BURSA EFEK JAKARTA

Sri Suranta Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

E-mail: srisuranta@yahoo.com

ABSTRACT

The purpose of this research is to examine empirically the effect of management accounting systems and leadership style to the relationship between Total Quality Management (TQM) with job satisfaction. The hypothesis is that there are significant influence of management accounting systems and leadership style to relationship between Total Quality Management (TQM) with job satisfaction. Taken population in this research consists of companies in Indonesian Capital Market Directory (ICMD) year 2004. The samples are middle managers of manufacturing business in ICMD. The hypotheses are examined by moderated regression analysis. Therefore, data must be analyzed by classical assumption, i.e. normality, autocorrelation, and heteroscedasticity. The examination indicated that all variable are valid and reliable. The classical assumption test fulfilled the classical assumption. Results of hypothesis examination indicate that leadership style has effect to the relationship between Total Quality Management (TQM) with job satisfaction. Nevertheless, the effect of management accounting systems to relationship between Total Quality Management (TQM) with job satisfaction is not supported by the research.

Keyword: Total Quality Management (TQM), Management Accounting Systems, Leadership Style, Job Satisfaction.

PENDAHULUAN TQM merupakan inovasi teknologi perusahaan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas baik tenaga kerja maupun kapital (Wruck dan Michael, 1997). Praktik TQM yang efektif memerlukan perubahan dalam sistem akuntansi manajemen. Komponen penting perubahan-perubahan dalam sistem akuntansi manajemen adalah pengumpulan informasi baru, desiminasi informasi lintas hirarki organisasional, sistem reward, tujuan kinerja, dan ukuran kinerja (Sim dan Killough, 1998). Riset empiris menyatakan bahwa TQM mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap outcome individual, misalnya kepuasan kerja. Temuan Boselie dan Ton (2001) yang melakukan riset di Belanda

menemukan adanya hubungan konsep cooperation”, “information”, “leadership”, “salary”, “work conditions” dan “goal setting” dengan kepuasan kerja dan keinginan untuk meninggalkan organisasi. Wasserman et al. (2001) menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan faktor penting dalam kinerja organisasional. O’Reilly III et al. (2005) menemukan bukti substansial bahwa kepemimpinan mempunyai hubungan positif baik dengan outcomes organisasi maupun individu. Penelitian ini menggunakan variabel pemoderasi dengan alasan bahwa variabel pemoderasi adalah suatu variabel independen lainnya yang dimasukkan kedalam model karena mempunyai efek kontinjensi dari hubungan variabel independen dan variabel

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

dependen sebelumnya. Suatu interaksi negatif terjadi jika hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen lebih negatif untuk nilai variabel pemoderasi yang lebih tinggi (Jogiyanto, 2004: 142-145). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah berikut ini. Penelitian ini memfokuskan TQM, sistem akuntansi manajemen meliputi karakteristik informasi sistem akuntansi manajemen, yaitu informasi broad scope, aggregate, integration, dan integrated yang bermanfaat menurut persepsi para manajer. Hal ini mendasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Boselie dan Ton (2001) bahwa terdapat hubungan konsep informasi, dalam hal ini informasi sistem akuntansi manajemen pada hubungan TQM dengan outcome individual. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Sim dan Killough (1998), Suprantiningrum dan Zulaikha (2003), dan Mardiyah dan Listianingsih (2005), mereka menggunakan komponen sistem akuntansi manajemen yang terdiri atas sistem pengukuran kinerja dan sistem penghargaan (reward). Perbedaan lainnya adalah penelitian ini menggunakan variabel kepemimpinan sebagai variabel kontinjensi (pemoderasi) dalam hubungan TQM dengan outcome organisasi/individu. Hal ini juga mendasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Boselie dan Ton (2001) bahwa terdapat hubungan konsep leadership pada hubungan TQM dengan outcome individual, yaitu kepuasan kerja. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk menemukan bukti empiris apakah interaksi informasi sistem akuntansi manajemen dan gaya kepemimpinan dengan total quality management berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Manfaat yang dapat diambil dari penelitian adalah untuk memberi masukan bagi dunia bisnis mengenai pentingnya mempertimbangkan faktor-faktor kondisional, yaitu informasi sistem akuntansi manajemen dan gaya kepemimpinan atas penerapan TQM untuk meningkatkan outcome organisasi/individu, yaitu kepuasan kerja.

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Kontinjensi Hannan dan Freeman (Gerdin, 2005)

berpendapat bahwa pendekatan kontinjensi dapat dilakukan jika memenuhi asumsi yang menjadi ide dari pendekatan kontijensi sebagai berikut.

1. Tidak ada satupun desain organisasional yang terbaik, yang terstruktur secara pasti dan tidak terstruktur secara pasti, yang diaplikasikan dalam suatu organisasi.

2. Beragam desain organisasional

tersebut memiliki peluang hasil atau kinerja yang sama. Terpenuhinya kedua asumsi tersebut merupakan syarat untuk dapat dilakukannya pengujian kontinjensi dalam bentuk seleksi natural yaitu dengan menyesuaikan perubahan jumlah populasi (Hannan dan Freeman dalam Gerdin, 2005). Sistem akuntansi manajemen merupakan suatu pendekatan kontinjensi dari faktor kondisional yang digunakan dalam penelitian sebagai variabel yang memoderasi suatu hubungan. Sesuai dengan pendekatan kontinjensi, Otley dalam Nazaruddin (1998), pendekatan kontinjensi akuntansi manajemen didasarkan premis bahwa tidak ada sistem akuntansi manajemen secara universal selalu tepat digunakan seluruh organisasi, namun sistem akuntansi manajemen hanya sesuai (fit) untuk suatu konteks atau kondisi tertentu saja. Teori kontinjensi dalam metoda penelitian mengargumenkan bahwa efektivitas informasi sistem akuntansi

manajemen tergantung eksistensi perpaduan antara organisasi dengan lingkungannya (Mardiyah dan Listianingsih, 2005). Sistem akuntansi manajemen sering digunakan sebagai mekanisme untuk memotivasi dan mempengaruhi perilaku karyawan dalam berbagai cara yang akan memaksimalkan kesejahteraan organisasi dan karyawan. Sistem akuntansi manajemen sebagai alat kontrol organisasi dan alat yang efektif menyediakan informasi yang bermanfaat guna memprediksi konsekuensi

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

yang mungkin terjadi berbagai aktivitas yang dilakukan. Gaya Kepemimpinan merupakan suatu pendekatan kontinjensi dari faktor kondisional yang digunakan dalam penelitian sebagai variabel yang memoderasi suatu hubungan. Sesuai dengan pendekatan kontinjensi, O’Reilly III et al. (2005) menemukan bukti bahwa bahwa kepemimpinan diantara hirarki secara agregat dapat mempengaruhi perubahan strategi. Hal ini berarti perusahaan yang menerapkan strategi baru, misalnya menerapkan TQM akan dapat dipengaruhi oleh kepemimpinan di setiap hirarki organisasi.

TQM, Informasi Sistem Akuntansi Manajemen, dan Kepuasan Kerja Boselie dan Ton (2001) melakukan riset mengenai persepsi karyawan terhadap TQM dan pengaruhnya terhadap outcome individual di Belanda dan menemukan adanya hubungan konsep “cooperation”, “information”, “leadership”, “salary”, “work conditions” dan “goal setting”

dengan kepuasan kerja dan keinginan untuk meninggalkan organisasi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan teknik TQM secara langsung dapat meningkatkan outcome organisasi maupun individu, yaitu kepuasan kerja setelah penerapan TQM tersebut dipengaruhi oleh informasi sistem akuntansi manajemen yang ada didalam organisasi. Sistem akuntansi manajemen sering digunakan sebagai mekanisme untuk memotivasi dan mempengaruhi perilaku karyawan dalam berbagai cara yang akan memaksimalkan kesejahteraan organisasi dan karyawan. Sistem akuntansi manajemen sebagai alat kontrol organisasi dan alat yang efektif menyediakan informasi yang bermanfaat guna memprediksi konsekuensi yang mungkin terjadi berbagai aktivitas yang dilakukan (Mardiyah dan Listianingsih, 2005). Berdasar uraian tersebut, hipotesis alternatif yang diajukan adalah berikut ini. Ha 1 : Interaksi antara penerapan TQM dan informasi akuntansi manajemen berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

Gambar 1 Model Pengaruh Interaksi TQM dan Informasi Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial dan Kepuasan Kerja

TQM
TQM

Kepuasan Kerja

Informasi Sistem Akuntansi Manajemen

TQM, Gaya Kepemimpinan, dan Kepuasan Kerja Berdasar penelitian O’Reilly III et al. (2005), Wasserman et al. (2001), dan penelitian yang dilakukan oleh Boselie dan Ton (2001) yang menemukan hubungan antara TQM dan konsep kontekstual, yaitu leadership terhadap kepuasan kerja dan

keinginan untuk meninggalkan organisasi, hipotesis alternatif yang diajukan berikut ini. Ha 2 : Interaksi antara penerapan TQM dan gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kepuasan kerja.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Gambar 2 Model Pengaruh Interaksi TQM dan Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Manajerial dan Kepuasan Kerja

TQM
TQM

Kepuasan Kerja

Gaya Kepemimpinan

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

menurut metodenya

merupakan penelitian survei. Penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan datanya. Survei (survey) atau lengkapnya self-administrated survey adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu (Jogiyanto, 2004). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari lalu ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2001). Populasi dalam penelitian ini adalah manajer tingkat menengah pada perusahaan di Indonesia. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2001). Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling) dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu, kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan (judgment) tertentu atau jatah (quota) tertentu (Jogiyanto, 2004). Subjek penelitian yang dijadikan sampel adalah manajer tingkat menengah pada perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia yang diseleksi dari Index Capital Market Directory 2004, dengan alasan: a) perusahaan yang menerapkan TQM biasanya perusahaan

manufaktur, b) manajer tingkat menengah

Penelitian

ini

merupakan pelaksana manajemen puncak yang mampu berinteraksi dengan karyawan dan manajemen puncak, dan c) biasanya mereka terlibat langsung dengan kebijakan yang dilaksanakan oleh manajemen puncak.

Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Menurut Sekaran (2000), data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari individu- individu, kelompok-kelompok tertentu, dan juga responden yang telah ditentukan secara spesifik yang memiliki data secara spesifik dari waktu ke waktu. Data primer penelitian ini diperoleh melalui survei, yaitu dengan cara menyebar kuesioner dengan menggunakan jasa pos (mail survey). Survei pos (mail survey) merupakan survei yang pertanyaan-pertanyaannya diirimkan kepada responden lewat pos atau fax atau cara pengiriman yang lain (Jogiyanto, 2004). Data penelitian ini diperoleh melalui kuesioner yang diberikan kepada responden sesuai prosedur pengumpulan data yang direncanakan. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 612 eksemplar yang terdistribusi di 153 perusahaan manufaktur se-Indonesia yang terdapat dalam Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2004. Penyebaran kuesioner dimulai pada pertengahan bulan Juli 2006 sampai dengan pertengahan bulan September 2006. Setiap perusahaan diberikan 4 eksemplar kuesioner yang ditujukan kepada middle management, misalnya: Manajer Keuangan, Manajer Pemasaran, Manajer Produksi dan Manajer Sumber Daya Manusia.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Dari 612 eksemplar kuesioner yang disebarkan ternyata kembali sebanyak 33 eksemplar. Dari 33 eksemplar setelah diperiksa 2 eksemplar tidak dapat dianalisis

karena perusahaan tidak menerapkan TQM. Jumlah total kuesioner yang dapat dianalisis sebanyak 31 eksemplar.

Tabel 1 Jumlah Kuesioner yang Disebar, Kembali, Tidak Dapat Dianalisis dan Dapat Dianalisis

Keterangan

Jumlah

%

Kuesioner Disebar Kuesioner Kembali

612

100

33

5,4

Kuesioner tidak dapat dianalisis

2

0,4

Kuesioner Dianalisis

31

5

Sumber: data primer yang diolah

Tabel 2 Data Responden yang Mengembalikan Kuesioner dan Dapat Dianalisis

No

Perusahaan

Jumlah

%

1

PT. Mustika Ratu

4

100

2

PT. Semen Gresik (Persero)

2

50

3

PT. Dankos Laboratories

3

75

4

PT. Citra Tubindo Tbk.

4

100

5

PT.

Astra Otoparts Tbk.

4

100

6

PT. Pyridam Farma Tbk.

4

100

7

PT. Pelangi Indah Comindo

1

25

8

PT. Tira Austenite Tbk.

1

25

9

PT. Dynaplast Tbk.

2

50

10

PT. IMSI Tbk.

1

25

11

PT. Tembaga Mulia Semanan Tbk.

1

25

12

PT. Surya Kertas

1

25

13

PT. Polychem Indonesia

2

50

14

PT. HM Sampoerna

1

25

TOTAL

31

5%

Sumber: data primer yang diolah

Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel Independen Total Quality Management (TQM)

dalam

penelitian ini adalah suatu filosofi yang

proses

menekankan peningkatan

Total

Quality

Management

pemanufakturan secara berkelanjutan dengan mengeliminasi pemborosan, meningkatkan kualitas, mengembangkan ketrampilan, dan mengurangi biaya produksi (Sim dan Killough, 1998). Variabel TQM ini mengukur persepsi manajer secara individual mengenai penerapan teknik TQM di

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

lingkungan perusahaannya. Variabel TQM

mengenai

instrumen

yang

bersifat

diukur dengan memasukkan elemen utama

integration.

manajemen kualitas yaitu orientasi proses, elemen manusia serta budaya kualitas. Instrumen yang digunakan adalah instrumen yang dikembangkan oleh Ahire (1996). Instrumen ini juga digunakan oleh Rahayu (1998) dalam tesisnya. Instrumen ini terdiri dari 6 pertanyaan yang diukur dengan menggunakan skala interval. Skala yang digunakan mulai 1 yang menyatakan “sangat tidak setuju”, sampai dengan 5 yang menyatakan “sangat setuju”. Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Sistem akuntansi manajemen dalam penelitian ini adalah sistem yang

Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan dalam penelitian ini merupakan derajat hubungan antara seseorang dengan teman sekerjanya, termasuk teman sekerja yang tidak disukai (Fiedler dalam Sumarno, 2005). Instrumen untuk mengukur variabel ini diadopsi dari Fiedler (1967) yang dikenal dengan nama Least Preferred Cowoker (LPC). Instrumen ini juga digunakan oleh Sumarno (2005). Instrumen ini diukur dengan menggunakan skala interval. Skala yang digunakan mulai 1 (satu) sampai dengan 7 (tujuh).

mengumpulkan data operasional dan finansial, memprosesnya, menyimpannya dan melaporkannya kepada pengguna, yaitu para pekerja, manajer, dan eksekutif (Atkinson et al. dalam Desmiyawati, 2001). Variabel informasi sistem akuntansi manajemen diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Chenhall dan Morris (1986) dan telah digunakan beberapa peneliti yang lain, misalnya Abbernathy dan Guthrie (1994); Chong dan Chong (1997); Nazaruddin (1998); Supardiyono (1999); Mardiyah dan Gudono (2000) dalam Imron (2004), Muslichah (2003), Meildawati (2003) dan Imron (2004). Chenhall dan Morris (1986) menyatakan bahwa terdapat empat karakteristik informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi manajemen, yaitu broad scope, timeliness, aggregate, dan integrated

Variabel Dependen Kepuasan Kerja Kepuasan kerja didalam penelitian ini merupakan keadaan emosi positif atau menyenangkan yang diakibatkan oleh penghargaan atas pekerjaan seseorang atau pengalaman pekerjaannya (Locke dalam Wasisto dan Sholihin, 2004). Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ) yang pendek yaitu sebanyak 20 item pertanyaan. Instrumen ini juga digunakan oleh peneliti lain, misalnya Aisyah dan Sholihin (2004) dan Wasisto dan Sholihin (2004). Instrumen ini diukur dengan menggunakan skala interval. Skala yang digunakan mulai 1 yang menyatakan “tidak puas” sampai dengan 5 yang menyatakan “benar-benar puas”.

yang bermanfaat menurut persepsi para manajer. Instrumen ini terdiri dari 19 pertanyaan yang diukur dengan menggunakan skala interval. Skala yang digunakan mulai 1 yang menyatakan “tidak penting”, sampai dengan 7 yang menyatakan “sangat penting”. Ke-19 pertanyaan tersebut terbagi dalam: 5 (lima) pertanyaan mengenai instrumen yang bersifat broad scop, 4 (empat) pertanyaan mengenai instrumen yang bersifat timelines, 7 (tujuh) pertanyaan mengenai instrumen yang bersifat aggregation dan 3 (tiga) pertanyaan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Pengujian Data Uji Validitas Untuk menguji validitas konstruk dalam penelitian ini, digunakan alat uji pearson correlation. Hasil dari uji ini menunjukkan semua instrumen pada setiap variabel valid, karena nilai signifikansi koefisien pearson lebih kecil dari α yang ditetapkan, yaitu sebesar 0,05 atau nilai koefisien pearson lebih besar dari nilai ρ tabel yang ditetapkan, yaitu sebesar 0,374.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Uji Reliabilitas Untuk menguji reliabilitas data dalam penelitian ini, digunakan teknik Cronbach’s alpha. Hasil uji cronbach’s alpha menunjukkan bahwa variabel Total Quality Management (TQM), sistem akuntansi manajemen (SAM), gaya kepemimpinan,

kepuasan kerja dan kinerja manajerial dikategorikan reliabilitas baik, karena nilai cronbach’s alpha lebih besar dari 0,8. Dari hasil uji validitas dan reliabilitas maka variabel yang ada layak untuk dilakukan uji berikutnya.

Tabel 3 Reliabelitas Data Variabel Penelitian

No

Variabel

Signifikansi Cronbach’ Alpha

Status

1 TQM

0,9025

baik

2 SAM

0,9610

baik

3 Gaya Kepemimpinan

0,9103

baik

4 Kepuasan Kerja

0,9321

baik

Sumber: Data Primer Diolah

Uji Asumsi Klasik Normalitas Uji Normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dari hasil uji normalitas yang telah dilakukan dapat kita ketahui bahwa variabel Total

Quality Management (TQM), sistem akuntansi manajemen (SAM), gaya kepemimpinan, kepuasan kerja dan kinerja manajerial berdistribusi normal, karena nilai signifikansi K-S lebih besar dari α yang tetapkan, yaitu 0,05.

Tabel 4 Hasil Uji Normalitas Data Penelitian

No

Variabel

Signifikansi K-S

Status

1 TQM

0,403

normal

2 SAM

0,879

normal

3 Gaya Kepemimpinan

0,978

normal

4 Kepuasan Kerja

0, 949

normal

Sumber: Data Primer Diolah

Multikolinearitas Uji Multikolinearitas merupakan suatu alat keadaan dimana variabel-variabel independen dalam persamaan regresi mempunyai hubungan yang kuat satu sama lain (Arsyad, 1997). Menurut Hartmann dan Moers dalam Jogiyanto (2004: 150) bahwa multikolinearitas tidak terjadi untuk tiga variabel interaksi karena koefisien dari interaksi variabel independen dengan variabel pemoderasi tidak sensitif terhadap perubahan dari titik awal skala (misalnya

ditransformasikan untuk ditengahkan berdasarkan nilai rata-ratanya) dari variabelin dependen dan variabel pemoderasi, sehingga multikolinearitas tidak terjadi masalah ketika menerapkan analisis regresi pemoderasi.

Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas berarti penyebaran titik data populasi pada bidang regresi tidak konstan. Situasi heteroskedastisitas akan menyebabkan penafsiran koefisien regresi

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

menjadi tidak efisien. Hasil taksiran dapat menjadi kurang dari semestinya, melebihi dari semestinya, atau menyesatkan. Model regresi yang baik, jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap atau homoskedastisitas (Nugroho, 2005). Uji Heteroskedastisitas menggunakan metode grafik scatter plot. Hasil dari gambar scatte rplot menunjukkan penyebaran titik-titik sebagai berikut:

1) Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0.

2) Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja. 3) Penyebaran titik-titik data tidak

membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar. Penyebaran titik-titik data tidak berpola.

4)

Berdasar hasil uji heteroskedastisitas, dapat

disimpulkan bahwa model regresi linier moderasian terbebas dari asumsi klasik heteroskedastisitas dan layak digunakan dalam penelitian.

Gambar 3 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Partial Regression Plot

Dependent Variable: PUAS

20 10 0 -10 -20 -30 -100 0 100 200
20
10
0
-10
-20
-30
-100
0
100
200

TQMGK

Autokorelasi Pengujian autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji Durbin Watson. Nilai d yang dihasilkan dalam setiap persamaan regresi sebesar 1,706; dan 2,218.Dengan tingkat signifikansi 0,05, nilai d pada tabel statistik d dari Durbin Watson untuk K (jumlah variabel independen) = 3 dan n (jumlah sampel) = 31 yaitu nilai dl = 1,130 dan nilai du = 1,550. Dari nilai-nilai tersebut diketahui tidak terjadi autokolerasi sebab d hitung tidak lebih kecil dari du dan tidak lebih besar dari 4-du yaitu 1,550 < 1,706; 2,218< 2,450 yang berarti tidak ada autokorelasi (lampiran tabel 6).

Pengujian Hipotesis dengan Moderated Regression Analysis (MRA) Hipotesis penelitian ini diuji dengan alat analisis regresi berganda. Menurut Jogiyanto (2004), model empiris untuk variabel pemoderasi menggunakan model analisis regresi moderasian (moderated regression analysis). Berikut ini hasil analisis regresi pengaruh gaya kepemimpinan dan SAM terhadap hubungan antara Total Quality Management (TQM) dan kepuasan kerja.

Uji Hipotesis Ha 1 Hipotesis 1 (Ha 1 ) dinyatakan bahwa interaksi antara penerapan TQM dan informasi akuntansi manajemen berpengaruh

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

terhadap kepuasan kerja. Berdasar tabel 5 di bawah diketahui bahwa variabel interaksi TQM dan SAM memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,064 > 0,05 yang artinya hubungan

interaksi tersebut tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi TQM dengan SAM terhadap kepuasan kerja.

Tabel 5 Hasil Uji Hipotesis 1

Unstandardized

Standardized

 

Coefficients

Coefficients

t

Sig.

Model

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

-24,278

53,124

-0,457

0,651

TQM

4,963

2,488

1,989

1,995

0,056

SAM

0,655

0,412

1,300

1,590

0,123

TQMSAM

-3,718E-02

0,019

-2,595

-1,933

0,064

a Dependent Variable: PUAS

Uji Hipotesis Ha 2 Hipotesis 2 (Ha 2 ) dinyatakan bahwa interaksi antara penerapan TQM dan gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Berdasar tabel 6 di bawah diketahui bahwa variabel interaksi TQM dan gaya kepemimpinan memiliki nilai signifikansi t sebesar 0,043 < 0,05 yang artinya hubungan interaksi tersebut

signifikan. Hal ini berarti bahwa ada pengaruh signifikan interaksi TQM dengan gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja. Namun, koefisien nilai t negatif yaitu sebesar t = -2,120, yang berarti semakin tinggi pengaruh gaya kepemimpinan semakin besar pengaruh negatif TQM terhadap kepuasan kerja.

Tabel 6 Hasil Uji Hipotesis 2

Unstandardized

Standardized

 

Coefficients

Coefficients

t

Sig.

Model

B

Std. Error

Beta

1(Constant)

-150,321

97,018

-1,549

0,133

 

TQM

8,948

4,219

3,587

2,121

0,043

PIMPIN

2,401

1,076

3,081

2,230

0,034

TQMGK

-9,812E-02

0,046

-5,132

-2,120

0,043

a Dependent Variable: PUAS

Pembahasan Hasil Analisis Hasil analisis regresi berganda moderasian (moderated regression analysis) tidak dapat menolak tiga hipotesis alternatif,

yaitu Ha2. Hal ini berarti bahwa ada pengaruh signifikan gaya kepemimpinan terhadap hubungan antara Total Quality Management (TQM) dengan kepuasan kerja.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Namun penelitian ini menolak Ha1 bahwa tidak ada pengaruh signifikan sistem akuntansi manajemen (SAM) terhadap hubungan antara Total Quality Management (TQM) dengan kepuasan kerja. Hasil penelitian ini konsistensi dengan hasil penelitian Boselie dan Ton (2001) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan konsep “cooperation”, “information”, “leadership”, “salary”, “work conditions” dan “goal setting” dengan kepuasan kerja. Hasil penelitian ini juga konsistensi dengan hasil penelitian O’Reilly III et al. (2005) yang menemukan bukti substansial bahwa kepemimpinan mempunyai hubungan positif baik dengan outcomes organisasi maupun individu.

SIMPULAN DAN SARAN Berdasar hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan berikut ini.

1. Ada pengaruh yang signifikan interaksi antara total quality management dengan gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja.

2. Tidak ada pengaruh pengaruh yang signifikan interaksi antara total quality management dengan sistem akuntansi manajemen terhadap kepuasan kerja.

3. Perusahaan yang menerapkan strategi baru, misalnya total quality management dapat mempengaruhi outcome individu, misalnya kepuasan kerja bila didukung faktor kondisional yang lain, misalnya sistem akuntansi manajemen dan gaya kepemimpinan.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Oleh karena itu peneliti memberikan saran perbaikan untuk penelitian berikutnya.

1. Instrumen untuk mengukur kinerja manajerial merupakan self-rating yang bisa menimbulkan leniency bias, yaitu kecenderungan memberikan skor yang lebih tinggi daripada keadaan sebenarnya. Penelitian mendatang bisa dikembangkan dengan menggunakan ukuran kinerja organisasi, misalnya

dengan menggunakan ROA (Return On Assets) atau ROI (Return On Investment). 2. Pengiriman kuesioner melalui pos tidak mendapatkan respon yang baik serta tidak dapat dikendalikan karena peneliti tidak bisa secara langsung bertemu dengan responden. Hal tersebut menyebabkan persentase tingkat pengembalian kuesioner melalui pos sangat kecil. Untuk penelitian mendatang, sebaiknya peneliti melakukan reminder kepada responden yang lebih intensif, dengan cara setelah kuesioner dikirim, responden dihubungi beberapa kali lewat telepon untuk memastikan bahwa kuesioner sampai tujuan, kuesioner telah diisi dan dikembalikan lagi kepada peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

Ahire,

Y,

Waller, and Mathew A. Al. 1996. Development and Validation of TQM Implementation Constructs. Decision Sience, 27: 23-56.

Sanjay

L,

Golhar,

Damodar

Aisyah, Mimin Nur dan Mahfud Sholihin.

2004.

Commitment and Job-Relevant Information on The Relationship between Budgetary Participation and Job Satisfaction. Simposium Nasional Akuntansi VII (SNA VII): Denpasar, 2-3 Desember.

Organizational

The

Role

of

Arsyad, Lincolin. 1997. Peramalan Bisnis. Yogyakarta: BPFE.

Banker,

R.

D.,

G.

Potter

and

R.

G.

Schroeder.

1993.

Reporting

Manufacturing

Performance

Measures to Workers: An Empirical

Study.

Management

Accounting Research 5 (Fall): 33-55.

Journal

of

Besterfield, Dale H, Carol Besterfield- Michna, Glen H. Besterfiled dan Mary Besterfield-Sacre. 2003. Total

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Quality Management. Third Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Boselie, Paul, and Ton Van Der Weile. 2001. Employee Perceptions of HRM and TQM and the Effects of Satisfaction and Intention to Leave. ERIM Report Series Reference No. 2001-

42-ORG.

Chenhall, RH. (2003). Management Control Systems Design within Its Organizational Context: Findings

from

Contingency-based

Research

and

Directions

for

The

Future.

Accounting, Organizations and Society 28, pp. 127-168.

Chenhall, Robert H., and Morris, Deigen. 1986. The Impact of Structure, Enviroment, and Interdependence on the Perceived Usefulness of Management Accounting System. The Accounting Review, Vol. LXI, No.1, pp. 16-33.

Desmiyawati. 2001. Pengaruh Strategi Bisnis dan Ketidakpastian Lingkungan terhadap Hubungan antara Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi Manajemen dengan Kinerja Organisasi. Thesis S2. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM.

Fiedler, F.E. (1964). A Contingency Model of Leadership Effectiveness. Advances in Experimental Social Psychology. L. Berkowitz. New York: Academic Press: pp. 149-190.

 

(1967).

A

Theory

of

Leadership

Effectiveness.

New

York: McGraw-Hill.

 
 

(1971).

Leadership.

New

York: General Learning Press.

(1981). Leader Attitudes and

Group Effectiveness. Westport, CT:

Greenwood Publishing Group.

Gerdin, Jonas. 2005. Conceptualizations of Contigency Fit in Management Accounting Research- Correspondence Between Statistical Models Used and Core Contigency

Theory

Assumptions.

Gibson,

James

L.

1997.

Behavior, Structure, edition. Chicago: Irwin.

Organization,

Process.

9 th

Gujarati, Damodar N. 2003. Basics Econometrics. New York : Mc Graw Hill. Hackman, J. R. And Wegeman, R. (1995). Total Quality Management:

Empirical, Conceptual and Practical Issues. Administrative Science Quarterly, 40, pp. 309-342.

Handoko, T Hani. 1986. Manajemen. Edisi Kedua. Yogyakarta.: BPFE UGM

Handoko, T. Hani. 2001. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia. Edisi Kedua. Yogyakarta:

BPFE UGM

Hardini, Sri. 2001. Hubungan Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Prestasi Kerja Pegawai KPKN Yogyakarta. Skripsi S-1 Fakultas Ekonomi, UGM.

Herbowo, 2005. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: AA YKPN Ikhsan, Arfan dan Rasdianto. 2005. Pengaruh Intervening Penggunaan Sistem Akuntansi Manajemen dalam Hubungan Antara Intensitas Persaingan Pasar terhadap Kinerja Unit Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi VIII (SNA VIII):

Solo, 15-16 September.

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Imron, Moch. 2004. Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan dan Strategi Bisnis terhadap Hubungan antara Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Broadscope dengan Kinerja Unit Bisnis Strategis. Simposium Nasional Akuntansi VII (SNA VII):

Denpasar, 2-3 Desember.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 1998. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Ittner, CD and Larcker, DF. 1995. Total Quality Management and The Choice of Information and Reward Systems. Journal of Accounting Research 33 (suppl.), pp. 1-34.

Jogiyanto,

Metodologi

Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman. Edisi 2004/2005. Yogyakarta: BPFE.

H.

M.

2004.

Luthans,

Fred.

1998.

Organizational

Organisasional sebagai Variable Moderating. Skripsi S1. Tidak dipublikasikan. Surakarta: UNS.

Mowen, Maryanne M., and Hansen R. Don. 2000. Management Accounting. International Thomson Publishing, pp. 434-457.

Mulyadi

(1998).

Total

Quality

Management. Edisi I. Yogyakarta:

Aditya Media.

dan Johny (1999). Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen: Sistem Pelipat Ganda Kinerja Perusahaan. Edisi I. Yogyakarta: Aditya Media. Muslichah (2003). The Effect of Contextual Variables on Management Accounting System Characteristics and Managerial Performance. Simposium Nasional Akuntansi VI (SNA VI): Surabaya, 16-17 Oktober.

Nazaruddin, Ietje. 1998. Pengaruh Desentralisasi dan Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi

Behavior. New York: Mc Graw Hill

Manajemen terhadap Kinerja

Mahoney, T.

A.,

T. H. Jerdee

and S.

J.

Manajerial. Jurnal Riset Akuntansi

Carroll

(1963).

Development

of

Indonesia, Vol. 1, No. 2, hal. 141-

Managerial

Performance:

A

160.

Research Approach. South Western Publ. Co.

Cincinnati:

Mardiyah, Aida Ainul dan Listianingsih (2005). Pengaruh Sistem Pengukuran Kinerja, Sistem Reward, dan Profit Center terhadap Hubungan antara Total Quality Management dengan Kinerja Manajerial. Simposium Nasional Akuntansi VIII (SNA VIII): Solo, 15- 16 September.

Meildawati. 2003. Pengaruh Efektivitas Sistem Akuntansi Manajemen terhadap Peningkatan Kinerja Manajerial: Ketidakpastian Lingkungan dan Struktur

Nugroho, Bhuono Agung (2005). Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Edisi 1. Yogyakarta: Penerbit Andi.

O’Reilly III, Charles A., David Caldwell and Jennifer Chatman. 2005. How Leadership Matters: The Effects of Leadership Alignment on Strategic Execution. Stanford GSB Research Paper No. 1895, June. Prasetyo, Priyono Puji. 2002. Pengaruh Locus of Control terhadap Hubungan Antara Ketidakpastian Lingkungan dengan Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Manajemen. Jurnal Riset Akuntansi

Suprantiningrum dan Zulaikha (2003).

Indonesia, Vol. 5, No. 1, hal. 119-

Pengaruh Total Quality

136.

Management terhadap Kinerja Manajerial dengan Sistem

Rahayu,

Fatik

(1998).

TQM

dan

Pengukuran Kinerja dan Sistem

Dampaknya

terhadap

Kepuasan

Penghargaan (Reward) sebagai

Kerja.

Tesis

S2.

Tidak

Variabel Moderating. Simposium

dipublikasikan. Yogyakarta: UGM.

Nasional Akuntansi VI (SNA VI):

Santoso, Singgih (2001). SPSS Versi 10:

Mengolah Data Statistik secara Profesional. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sekaran, Uma (2000). Research Method for Business: A Skill Building Approach. Third Edition. New York:

John Wiley & Sons, Inc.

Shank, J.K. and V. Govindarajan. 1993. Strategic Cost Management: The New Tool for Competitive Advantage. New York: Free Press.

Sim, K.L., and L.N. Killough. 1998. The Performance Effect of Complementaries between Manufacturing Practice and Management Accounting System. Journal of Management Accounting Research 10 (Fall): pp. 325-346.

Sugiyono (2001). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfabeta.

Sumarno, J. (2005). Pengaruh Komitmen Organisasi dan Gaya Kepemimpinan terhadap Hubungan anatar Partisipasi Anggaran dan Kinerja Manajerial. Simposium Nasional Akuntansi VIII (SNA VIII):

Solo, 15-16 September.

Surabaya, 16-17 Oktober.

Syptak, Marslanddan dan Ulmer. 1999. Job Satisfaction: Putting Theory Into Practice. American Academy of Phisicians. Vol. 6, No. 9

Wartono. 2005. Metodologi Penelitian. Modul Perkuliahan Metodologi Penelitian. Universitas Sebelas Maret: Surakarta.

Wasisto, Arief dan Mahfud Sholihin. 2004. Peran Partisipasi Penganggaran dalam Hubungan antara Keadilan Prosedural dengan Kinerja Manajerial dan Kepuasan Kerja. Simposium Nasional Akuntansi VII (SNA VII): Denpasar, 2-3 Desember.

Wasserman, Noam, Nitin Nohria dan Bharat N. Anand. 2001. When Does The Leadership Matter? The Contingent Opportunities View of CEO Leadership. Startegy Unit Working Paper No. 02-04; Harvard Business School Working Paper No. 01-063.

Wruck, Karen H., and Michael C. Jensen. 1997. Science, Specific Knowledge, and Total Quality Management. Journal of Applied Corporate Finance, Vol. 10, No. 2 (Summer).

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

PERILAKU EARNINGS MANAGEMENT DI SEKITAR PERUBAHAN TARIF PAJAK TAHUN 2008 (Studi Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Yang Menyalurkan Kredit Kepada UKM)

Suyanto Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta E-mail: iyantsuyanto@gmail.com

ABSTRAK This study aims to test the level of earning management before and after the income tax rate reduction for 2008 fiscal year. The samples were 21 banking companies listed in Indonesia Stock Exchange, which has provides loans to SMEs. The analysis using paired samplest-test to test these differences of earning management before and after the income tax rates changes. The results showed that earning management in the high tax rate was higher than in the lower tax rate. This shows that management has responded the income tax rates changes to take the opportunity.

Keywords: discretionary accruals, earnings management, corporate income tax changes.

LATAR BELAKANG Kontribusi pajak dalam mendanai pengeluaran negara tak dapat dipungkiri sangat besar karena dalam kurun waktu 2006-2012, penerimaan perpajakan berkontribusi rata-rata 70% terhadap total pendapatan negara dan hibah. Akibat pentingnya sumber pajak ini juga dapat menimbulkan konflik antara wajib pajak dan pemerintah. Di satu sisi pemerintah berkeinginan untuk memungut pajak setinggi mungkin akibat berkurangnya pendapatan negara dari sektor lain, namun di sisi lain wajib pajak menginginkan membayar pajak sekecil mungkin. Akibatnya pihak wajib pajak akan mencarai berbagai macam cara untuk memperkecil pembayaran pajak. Salah satunya dengan memanipulasi laba perusahaan. Perubahan peraturan perpajakan yang terjadi di Indonesia, bisa menjadi celah bagi perusahaan untuk dapat melakukan penghematan pajak. Perubahan tarif yang terjadi pada wajib pajak badan yaitu adanya penurunan tarif selama dua tahun berturut- turut, pada tahun 2008 terjadi perubahan tarif

pajak dari tarif progresif ke tarif proportional menjadi 28%, yang berlaku mulai tahun 2009, kemudian perubahan tarif terjadi lagi pada tahun 2009 terjadi penurunan tarif kembali dari 28% menjadi 25% yang berlaku pada tahun 2010. Manajemen bisa melakukan tax shifting yaitu memindahkan pendapatan ke tahun yang memiliki tarif yang lebih rendah. Pada beberapa penelitian sebelumnya antara lain oleh Wijaya dan Martani (2011) serta Setiawati dan Naim (2001) menemukan bahwa perusahaan melakukan tindakan manajemen laba dalam menanggapi penurunan tarif pajak badan di Indonesia, baik perusahaan yang mengalami keuntungan maupuan perusahaan yang mengalami kerugian selain itu juga ditemukan bahwa perusahaan yang memperoleh keuntungan melakukan praktik manajemen laba yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang mengalami kerugian. Sementara penelitian yang menemukan hasil sebaliknya adalah Sitorus dan Handayani (2010), Setiawati

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

(2000) serta Hidayati dan Zulaikha (2003) tidak menemukan bukti empiris terjadi indikasi manajemen laba. Selama ini penelitian di Indonesia menggunakan sampel berdasarkan kelompok industri perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan belum ada yang meneliti sampel berdasarkan kebijakan perusahaan dalam menyalurkan kredit kepada UKM khususnya perusahaan dalam industri perbankan. Oleh karena itu penelitian ini akan mengambil sampel perusahaan perbankan yang ada di Bursa Efek Indonesia dengan tiga periode tarif pajak yang berbeda yaitu tahun 2008 dan 2010.

PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, peneliti memfokuskan masalah yang dirumuskan sebagai berikut:

Apakah terjadi perilaku manajemen laba melalui discretionary accrual dalam merespon penurunan tarif pajak penghasilan Badan tahun 2008, pada perusahaan perbankan yang menyalurkan kredit kepada UKM?

TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan perumusan masalah,

tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menguji apakah penurunan tarif pajak penghasilan Badan tahun 2008 akan direspon oleh wajib pajak Badan perbankan yang menyalurkan kredit kepada UKM dengan melakukan manajemen laba.

2. Untuk memperoleh bukti empiris tentang ada tidaknya perbedaan tingkat discretionary accrual pada perbankan yang menyalurkan kredit kepada UKM sebelum dan sesudah penurunan tarif pajak penghasilan Badan 2008.

MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan bisa

memberikan manfaat sebagai beikut.

1. Hasil dari penelitian ini bisa dijadikan

bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya.

2. Hasil penelitian bisa digunakan sebagai referensi oleh pihak investor perusahaan agar lebih jeli dalam melihat laba yang dilaporkan perusahaan.

3. Hasil penelitian ini juga bisa digunakan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal Pajak agar mengetahui manajemen laba yang diketahui oleh perusahaan dalam rangka meminimalkan pajaknya.

LANDASAN TEORI

1.

Laba

Laba secara operasional merupakan perbedaan antara pendapatan yang direalisasi yang timbul dari transaksi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pendapatan tersebut. Pengertian laba menurut IAI dalam adalah kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi peranan modal. Besar kecilnya laba sebagai pengukur kenaikan

sangat bergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Belkaoui dalam Chariri dan Ghozali dalam Lestari,

Budi (2011) menyebutkan bahwa laba memiliki beberapa karakteristik antara lain sebagai berikut:

a. Laba didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi

b. Laba didasarkan pada postulat periodisasi, artinya merupakan prestasi perusahaan pada periode tertentu.

c. Laba didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan pemahaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pengakuan pendapatan.

d. Laba memerlukan pengukuran tentang biaya dalam bentuk biaya historis yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan pendapatan tertentu.

e. Laba didasarkan pada prinsip penandingan (matching) antara pendapatan dan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut. Laba menunjukkan kinerja perusahaan yang berasal dari aktivitas

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

operasionalnya Perbandingan yang tepat atas pendapatan dan biaya tergambar dalam laporan laba rugi. Penyajian laba melalui laporan laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan.

1. Manajemen Laba

Laporan keuangan adalah cerminan dari kondisi perusahaan karena memuat informasi mengenai laporan kinerja manajemen, laporan arus kas dan laporan perubahan posisi keuangan perusahaan. Dalam laporan keuangan biasanya yang dijadikan parameter utama adalah besarnya laba perusahaan. Dengan adanya penilaian kinerja manajemen tersebut dapat mendorong timbulnya perilaku menyimpang dari pihak manajemen perusahaan yang salah satu bentuknya adalah manjemen laba (earnings management). Manajemen laba merupakan tindakan manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standar tertentu untuk mempengaruhi laba yang akan terjadi menjadi seperti yang mereka inginkan melalui “pengelolaan” faktor internal yang dimiliki atau digunakan perusahaan. (Sitorus dan Handayani, 2010). Scott dalam Sitorus dan Handayani (2010) mendefinisikan earnings management sebagai:

Earnings management is the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective”. Yang artinya earnings management adalah pilihan yang dilakukan oleh

manajemen dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu. Sedangkan Sugiri dalam Sitorus dan Handayani (2010), definisi earnings management di bagi dalam dua defenisi, yaitu :

a. Definisi Sempit Bahwa earnings management hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Selain itu juga diartikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accrual dalam menetukan earnings.

b. Definisi Luas

Earnings management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan atau mengurangi laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab tanpa mengakibatkan peningkatan atau penurunan profitabilitas ekonomi jangka panjang tersebut.

2. Perubahan Tarif Pajak di Indonesia

Perubahan untuk tarif PPh Badan yang terjadi di Indonesia adalah perubahan tarif UU PPh tahun 1983 yang mulai berlaku pada tahun 1984, perubahan tariff UU PPh tahun 1994 yang mulai berlaku pada tahun 1995, perubahan tariff UU PPh tahun 2000 yang mulai berlaku pada tahun 2001, dan perubahan UU PPh tahun 2008 yang mulai berlaku pada tahun 2009. Perubahan Undang-Undang Perpajakan terbaru di Indonesia terjadi tahun 2008 meliputi Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), Undang- Undang Pajak Penghasilan (UU PPh), serta Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (UU PPN dan PPnBM). Hal ini diatur berdasarkan Aturan Pelaksanaan Ketentuan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 81 tahun 2007, UU No. 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dan dipertegas dengan Peraturan Menteri Keuangan PMK- 38/PMK.03/2008. Perubahan tarif yang terjadi pada wajib pajak badan yaitu adanya penurunan tarif pajak pada tahun 2008 dari tarif progresif ke tarif proportional menjadi 28%, yang berlaku mulai tahun 2009.

PENELITIAN TERDAHULU Beberapa penelitian terdahulu yang menemukan adanya perilaku manajemen laba disekitar perubahan tarif pajak adalah:

Guenther dalam Sitorus dan Sri Handayani (2007), Frankel dan Trezervent (1994) dalam Setiawati dan Naim (2001). Sedangkan yang menemukan hasil sebaliknya antara lain:

penelitian oleh Sitorus dan Handayani (2010), Wijaya dan Martani (2011),

JURNAL AKUNTANSI. VOL.1 NO.1 JUNI 2013

Setiawati (2000) dan Hidayati dan Zulaikha (2003) yang dalam penelitiannya membuktikan bahwa perubahan Undang- Undang Perpajakan tahun 2000 tidak direspon oleh Wajib Pajak Badan untuk melakukan earning management dengan tujuan untuk meminimumkan beban pajak penghasilan perusahaan

Penelitian ini untuk menguji apakah ada perbedaan signifikan discretional accruals di sekitar tahun terjadinya perubahan tarif pajak pada perusahaan perbankan yang listed di Bursa Efek Indonesia. Sehingga data yang digunakan adalah tahun 2008 dan 2009.

RERANGKA KONSEPTUAL

Tingkat Discretional Accrual

Sebelum penurunan tarif Pajak

(Tahun 2008)

Tingkat Discretional Accrual

Sebelum penurunan tarif Pajak

(Tahun 2009)

2008
2008
Sebelum penurunan tarif Pajak (Tahun 2009) 2008 Uji Beda Hipotesis Penelitian diajukan dalam penelitian ini

Uji Beda

Hipotesis Penelitian

diajukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1: Tingkat discretionary accrual setelah penurunan tarif pajak penghasilan Badan Tahun 2008 lebih rendah daripada sebelum penurunan tarif pajak pada perusahaan Perbankan yang listed di Bursa Efek Indonesia. H2: Ada perbedaan signifikan antara tingkat discretionary sebelum dan setelah penurunan tarif pajak penghasilan Badan Tahun 2008 pada perusahaan Perbankan yang listed di Bursa Efek Indonesia.

Hipotesis

yang

METODE PENELITIAN

1. Populasi dan Sampel

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan data sekunder.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan Wajib Pajak Badan perusahaan

perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia periode tahun 2008-2009. Pengambilan data laporan keuangan perusahaan perbankan melalui