Anda di halaman 1dari 14

Halaman Cover

Daftar isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroekosistem Lahan Basah
2.2 Agroekosistem Lahan Kering
2.3 Kualitas Tanah dan Kesehatan Tanah
2.4 Hama dan Penyakit Penting Tanaman pada Agroekosistem
2.5 Pengaruh Populasi Musuh Alam
2.6 Dampak Manajemen Agroekosistem Terhadap Kualitas dan Kesehatan Tanah
2.7 Kriteria Indikator dalam Pengelolaan yang Sehat dan Berkelanjutan
BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan tempat
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Cara Kerja (Metode pelaksanaan aspek HPT, BP, Tanah)
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Umum Lahan (Secara Fisiografis dan geografis)
4.2 Analisis Keadaan Agroekosistem lokasi fieldtrip (dibandingkan dengan jurnal/literatur)
4.2.1.
BP
:
a.
Sejarah lahan
b.
Produktivitas
c.
Stabilitas keberlanjutan
d.
Kemerataan dan perhitungan LER/NKL (jika ada)
e.
Kriteria lahan PHT dan NON PHT
4.2.2.
HPT :Biodiversitas Hama, serangga lain dan musuh alami (segitiga fiktorial)
serta intensitas penyakit.
4.2.3.
TANAH
4.2.3.1. Kriterian dan Indikator Pengukuran Biodiversitas Tanaman(Biologi)

4.2.3.2. Kepadatan Tanah (Fisika)


A. PHT
B. NON PHT
1.) Tabel Data Berat Isi
Massa

Massa

Massa

Total

Ring

Total

Kotor
(Mt + Mr)

(Mr)

(Mt)

Ring
Diameter
(d)

Tinggi
(p)

cm
5

cm
5

G
288

g
58

g
230

Kadar Air Sub Sampel


(W)
Tanah
Tanah
Kaleng
(K)
Basah +
oven +
Kaleng
(Tb+K)

Kaleng
(To+K)

g
45,16

g
35,15

Perhitungan

BI =

Mp
Vt

Massa Total
Mp=
1+ KA

KA=

( Tb+ K ) (+ K )
( + K )K

1
2
Vt= d t
4

KA=

( 45,16 )(35,15)
( 35,15 )6,39

KA=

10,01
28,76

KA=0,348

Mp=

230
1+0,348

Mp=

230
1,348

Mp=170,62 gr

1
Vt= 3,14 25 5
4
BI =

Mp 170 , 62 gr
gr
=
=1, 7 3
3
Vt 98 , 125 cm
cm

Vt=98,125 cm

g
6,39

2.) Tabel Data Berat Jenis


L
g
50,85

Massa (g)
L + To
L + To + A
g
g
70,87
162,25

Massa Padatan
Mp
g
20,02

Volume Padatan
Vp
cm3
8,62

BJ
p

g/cm3
2,32

Perhitungan

BJ =

Mp
Vp

Mp=( 70,87 )50,85


Mp=20,02 gr

Mp=( + L )L
Vp=100(162,2570,87)

Vp=100( ( L++ A )( L+ ) )

Vp=10091,38

Vp=8,62 cm 3

BJ =

20,02 gr
gr
=2,32 3
3
8,62 cm
cm

3.) Porositas
Porositas

1,7
100
2,32

0,27 100
27

4.) Tabel Penetrasi


Ulangan

Jarum

Perhitungan
bacaan skala ( cm ) kompresi peer (
penetrasi=

Jarum

Per yang digunakan

N
)
cm

Hasil Bacaan

1,4 cm150
penetrasi=

0,25 cm

N
cm

Berat isi merupakan perbandingan massa tanah dengan volume partikel


termasuk volume pori-pori tanah. Berdasarkan hasil pengamatan data diatas
diperoleh nilai BI (Berat Isi) tanah sebesar 1,7 g/cm3. Apabila nilai BI ini
diklasifikasikan pada klasifikasi Berat Isi Tanah hasil Laboratorium Fisika Tanah FP
UB (2006) dapat dikategorikan dalam kelas yang sangat tinggi / sangat berat/ sangat
mampat. Hal ini dikarenakan lahan tersebut dilakukan pengolahan lahan secara
intensif. Pengolahan lahan dapat membuka pori-pori tanah setelah pori terbuka maka
tanah sawah akan digenangi oleh air sehingga pori-pori dalam tanah jenuh air hingga
lama kelamaan tanah tersebut menjadi mampat/berat untuk diolah. Hardjowigeno
dan Rayes (2005) mengemukakan bahwa perubahan sifat fisik tanah yang mulamula terjadi pada tanah sawah merupakan akibat pelumpuran. Pelumpuran dilakukan
dengan pengolahan tanah dalam keadaan tergenang, ketika tanah dibajak kemudian
digaru sehingga agregat tanah hancur menjadi lumpur yang sangat lunak.
Selain itu dapat diketahui dari perhitungan porositas, didapatkan nilai 27 %
hal ini berarti kandungan udara dan air pada sampel tanah utuh sebesar 27%
sehingga persentase padatan tanah sebesar 73%. Hal ini sesuai Soepardi (1983)
Berat isi yang tinggi akan terjadi penurunan pori tanah. Nilai berat isi yang tinggi
tersebut mengakibatkan tanah akan lebih sulit meneruskan air lalu pergerakan air
menjadi terhambat. Sehingga genangan air di sawah cenderung lebih bertahan lama.
Soepardi (1983). Sifat dan Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hardjowigeno, S dan M. Luthfi Rayes. 2005. Tanah Sawah. Karakteristik,


Kondisi dan Permasalahan Tanah Sawah di Indonesia. Bayumedia Publishing
Anggota IKAPI Jatim: Malang.

Berat jenis tanah menunjukkan kerapatan dari partikel padat secara


keseluruhan tanpa ruang pori. Berdasarkan uji laboratorium diperoleh nilai berat jenis

tanah pada lahan sawah 2,32 gr/cm3. BJ pada tanah ini tergolong kecil sehingga
mempengaruhi Bahan Organik dalam tanah, dikarenakan BJ sebesar 2,32 gr/cm 3
sehingga banyak mengandung Bahan Organik. Menurut (Hardjowigeno, 2007), pada
tanah secara umum nilainya berat jenis antara 2,6 2,7 g.cm-3, bila semakin banyak
kandungan bahan organik, nilai berat jenis tanah semakin kecil.
Berat jenis tanah dengan 2,32 gr/cm3 menunjukkan tanah ditempat
pengamatan masih kurang normal. Menurut Buck & Nyle (1982),

bobot jenis

partikel untuk tanah mineral berkisar antara 2,6 2,75. Hal ini terjadi berdasarkan
berat jenisnya, mineral primer dapat dibedakan atas mineral berat dan mineral ringan.
Mineral berat adalah mineral primer yang mempunyai berat jenis >2,75, sedang yang
berat jenisnya <2,6 disebut mineral ringan. Yang tergolong mineral berat adalah
mineral-mineral grup olivin, piroksin, amphibol, mika, rutil, anatas, dan mineral opak.
Sedangkan yang tergolong mineral ringan adalah mineral-mineral grup felspar dan
grup silika yang kerapatannya terdapat dalam kisaran ini, biasanya merupakan bagian
terbesar dari tanah mineral. Selain itu, karena berat bahan organik yang lebih kecil
dari berat bahan padat tanah mineral yang lain dalam volume yang sama, jumlah
bahan organik dalam suatu tanah jelas mempengaruhi bobot jenis partikel. Akibatnya
tanah permukaan biasanya memiliki bobot jenis partikel yang lebih kecil dari subsoil.
Dengan kata lain, semakin banyaknya bahan organik yang terkandung, maka
semakin kecil nilai berat jenis tanah. Sedangkan, semakin banyak mineral berat yang
terkandung di dalam tanah, maka akan semakin besar pula lah nilai berat jenis
partikel tanah tersebut.
Prasetyo,Bambang Hendro. et al., 2004. MINERALOGI, KIMIA, FISIKA,
DAN BIOLOGI TANAH SAWAH. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanah Dan
Agroklimat. Departemen Pertanian
Arsyad (1989) bahwa kemantapan agregat sangat dipengaruhi oleh
penggunaan lahannya.

Porositas
Porositas merupakan jumlah keberadaan pori-pori tanah, pori tanah mengandung air
dan udara. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan porositas pada tanah sawah
sebesar 27%. Nilai ini dikategorikan masuk kedalam kelas rendah berdasarkan

Laboratorium Fisika Tanah FP UB (2007). Nilai porositas yang rendah dapat terjadi
ketika lahan tersebut dilakukan pengolahan secara intensif. Ketika terjadi
pengolahan lahan lapisan top soil akan tercuci (leaching) sehingga lapisan tersebut
berbalik posisi dan berada pada lapisan sub soil (20-30 cm). Menurut Islami dan
Utomo (1995) menyatakan bahwa pengelolaan tanah dapat bertujuan untuk
membentuk lapisan kedap air atau lapisan padat yaitu di bawah lapisan olah yang
mempunyai porositas yang rendah. Nilai porositas yang rendah berpengaruh juga
terhadap draenasi dan aerasi tanah, sehingga dapat dikatakan kondisi udara pada
tanah sawah tersebut sangat minim karena lebih lama tergenang oleh air. hal ini
berpengaruh pada respirasi akar tanaman budidaya.
Selain itu ada dugaan karena pemakaian pupuk anorganik yang terus menerus,
sehingga mengakibatkan tanah menjadi keras dan miskin unsur hara,namun hal ini
masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat menjadi kesimpulan.
Islami, T. dan Utomo,W.H. (1995). Hubungan Tanah, Air, dan Tanaman.
IKIP Semarang Press. Semarang.

Faktor yang Menyebabkan Pemadatan Tanah


Sesuai dengan pengamatan di lapang, pemadatan dipengaruhi oleh bahan organik tanah,
biota tanah, tekstur dan struktur. Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan organik
dapat menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan
tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Bobot isi tanah di lahan
dengan pengolahan intensif biasanya memiliki nilai BI tinggi karena tanah telah
mengalami pemadatan akibat penggunaan alat-alat berat untuk pengolahan tanahnya.
Sedangkan untuk nilai BJ tanah, menurut literature (Anonymous, 2010) menyatakan
bahwa, Pada tanah secara umum nilainya BJ antara 2,6 2,7 g/cm 3, bila semakin
banyak kandungan BO, nilai BJ semakin kecil. Pada lahan dengan pengolahan intensif
memiliki BJ bisa lebih dari 2,6 apabila pemadatan tanah yang terjadi amat tinggi.
Apabila nilai BJ terlalu tinggi juga berpengaruh terhadap penentuan laju sedimentasi
serta pergerakan partikel oleh air dan angin.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi pemadatan tanah adalah:


a. Mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

b. Penggunaan pupuk organik karena dengan menggunakan pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik
maupun kimia tanahnya. Penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah sehingga
c. melakukan pengolahan tanah yang baik dan melakukan rotasi tanaman
d. melakukan pengapuran karena pH terlalu masam.

Menurut Durgunoglu dan Mitchell (1975), kegagalan terjadi pada mekanisme


penetrasi statis. Pada tanah yang relatif homogen, ketahanan penetrasi
meningkat seiring dengan bertambah dalamnya lapisan tanah dan kekerasan
tanah, serta diameter ujung penetrometer.

Keseimbangan Hara (Kimia)


1.) % C-Organik
Perhitungan
Corganik =

(ml blankoml sampel) 3 100+%KA

ml blanko 0,5
100

Corganik =

(7 ml5,7 ml) 3 100+ 34,8

7 ml 0,5
100

Corganik =

1,3 3 134,8

3,5
100

Corganik =

3,9
1,348
3,5

Corganik =1,5
% Bahan Organik
BO=

100
%Corganik
58

BO=

100
1,5
58

BO=2,58

2.) pH
pH = 4,47
3.) Eh
Eh = 128,7 mv
4.) Ec
Ec = 0,16 ms

4.2.3.3. Apakah Lahan Tersebut Termasuk Sehat atau Tidak Sehat Berdasarkan
Kriteria dan Indikator
4.3 Rekomendasi (aspek BP, HPT, TANAH)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
5.2 saran terhadap keberlanjutan Agroekosistem
5.3 saran praktikum
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
SEKERTARIS: PUTRI DAN ASTI
*dikerjakan saja dulu ya bagian LATAR BELAKANG, TINJAUAN PUSTAKA DAN
METODOLOGI paling lambat selasa. Hari Rabu Insha Allah kita kerja klmpok bahas
yang pembahasannya di GS jam 1.

C. PHT
D. NON PHT
Aspek Fisika Tanah
5.) Tabel Data Berat Isi
Massa

Massa

Massa

Total

Ring

Total

Kotor
(Mt + Mr)

(Mr)

(Mt)

Ring
Diameter
(d)

Tinggi
(p)

cm
5

cm
5

g
288

g
58

g
230

Kadar Air Sub Sampel


(W)
Tanah
Tanah
Kaleng
(K)
Basah +
oven +
Kaleng
(Tb+K)

Kaleng
(To+K)

g
45,16

g
35,15

Perhitungan

BI =

Mp
Vt

Massa Total
Mp=
1+ KA

KA=

( Tb+ K ) (+ K )
( + K )K

1
2
Vt= d t
4

KA=

( 45,16 )(35,15)
( 35,15 )6,39

KA=

10,01
28,76

KA=0,348

Mp=

230
1+0,348

Mp=

230
1,348

Mp=170,62 gr

1
Vt= 3,14 25 5
4
BI =

Mp 170 , 62 gr
gr
=
=1, 7 3
3
Vt 98 , 125 cm
cm

Vt=98,125 cm

g
6,39

6.) Tabel Data Berat Jenis


L
g
50,85

Massa (g)
L + To
L + To + A
g
g
70,87
162,25

Massa Padatan
Mp
g
20,02

Volume Padatan
Vp
cm3
8,62

BJ
p

g/cm3
2,32

Perhitungan

BJ =

Mp
Vp

Mp=( 70,87 )50,85


Mp=20,02 gr

Mp=( + L )L
Vp=100(162,2570,87)

Vp=100( ( L++ A )( L+ ) )

Vp=10091,38

Vp=8,62 cm 3

BJ =

20,02 gr
gr
=2,32 3
3
8,62 cm
cm

7.) Porositas
Porositas

1,7
100
2,32

0,27 100
27

8.) Tabel Penetrasi


Ulangan

Jarum

Perhitungan
bacaan skala ( cm ) kompresi per (
penetrasi=

Jarum

Per yang digunakan

N
)
cm

Hasil Bacaan

Aspek Kimia Tanah


a. % C-Organik
Perhitungan
(ml blankoml sampel) 3 100+%KA
Corga nik=

ml blanko 0,5
100
Corganik =

(7 ml5,7 ml)3 100+ 34,8

7 ml 0,5
100

Corganik =

1,3 3 134,8

3,5
100

Corganik =

3,9
1,348
3,5

Corganik =1,5
b. % Bahan Organik
100
BO=
%Corganik
58
BO=

100
1,5
58

BO=2,58

c. pH
pH = 4,47
d. Eh
Eh = 128,7 mv
e. Ec
Ec = 0,16 ms
Aspek Biologi Tanah