Anda di halaman 1dari 25

KUNJUNGAN STUDI LAPANGAN ke KRAKATAU STEEL

di CILEGON, BANTEN

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia oleh Ibu Dra. Hj. Nining Yuningsih

disusun oleh :
kelompok : Krakatau Steel
kelas
: XI IPA 2

SMA NEGERI 10 BANDUNG


Jalan Cikutra no. 77
2012/2013

KUNJUNGAN STUDI LAPANGAN ke KRAKATAU STEEL


di CILEGON, BANTEN

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia oleh Ibu Dra. Hj. Nining Yuningsih

disusun oleh :
anggota
:
Adit Setiadi
Afif Faisal Darmawan
Agatha Rizky D. L
Agung Subakti
Alexander Grady
Andini Oktaviani
Anisa Fauziah
Bairatri Ulfiani
Christophora Devy Natalia B
Dinda Fauzilly
Dendi Sobari
Dwiki Wisnu Wardana
Randika Tijana Firdaus
Viona Pradya Maretiyanti

SMA NEGERI 10 BANDUNG


Jalan Cikutra no. 77
2012/2013

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat
rahmat, taufik, dan karunia-Nya, serta tidak lupa shalawat serta salam selalu
kami limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, karena
Allah SWT kami dapat menyelesaikan penulisan makalah hasil Studi Lapangan
ke daerah industri Krakatau Steel di Cilegon, Pantai Carita, dan Hutan Cagar
Alam.
Makalah ini dibuat berdasarkan studi lapangan yang kami lakukan pada
hari Selasa, 7 Mei 2013 dan Rabu, 8 Mei 2013. Penulisan makalah ini
dimaksudkan untuk melengkapi salah satu tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia yang merupakan salah satu kewajiban kami selaku siswa
kelas XI IPA SMA Negeri 10 Bandung.
Makalah yang kami buat tentunya tidak akan selesai tanpa bantuan dari
beberapa pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan
terima kasih kepada Ibu Ratmiwati selaku wali kelas, serta Ibu/ Bapak guru
yang lain yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga makalah ini
dapat terselesaikan. Tak lupa juga rekan-rekan kami yang telah membantu
dalam pengerjaan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih terdapat banyak kesalahan . Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik
dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Kami
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan
umumnya bagi para pembaca.

Bandung, 25 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
DAFTAR ISI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
BAB I
PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.1
Latar Belakang
1.2
Rumusan Masalah
1.3
Tujuan
1.4
Manfaat
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
PT. Krakatau Steel
....................................2
2.2
Biota Laut . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
2.3
Biomonitoring
......................................... 5
BAB III
METODOLOGI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
3.1
Objek Penelitian
3.2
Metode Penelitian
3.3
Teknik Pengumpulan Data
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Proses Pembuatan Baja di PT. Krakatau Steel . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
4.2
Biota Laut di Pantai Carita
.............................. 9
4.3
Biomonitoring di Hutan Lindung (Taman Wisata Alam Carita)
. . . 10
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan dan Saran

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12

DAFTAR PUSTAKA
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
LAMPIRAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kunjungan studi lapangan ke Cilegon ini dilakukan untuk memenuhi
kepahaman kami dalam kegiatan praktikum karena fasilitas di
SMAN 10 Bandung kurang memadai untuk pemahaman kami, seperti
pengaplikasian dari program IPA yang materinya telah kami pelajari.
Oleh karena itu, kami terdorong untuk melakukan kunjungan ke PT.
Krakatau Steel beserta anak cabangnya, Pantai Carita sebagai sarana
pembelajaran Biota Laut dan Hutan Lindung sebagai sarana Biomonitoring.
Dengan kegiatan ini, kami dapat memahami pengaplikasian sehari hari dari
materi yang kami pelajari di sekolah.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang kami tulis, kami dapat merumuskan
beberapa masalah, yaitu :
- Bagaimanakah proses pembuatan baja di PT. Krakatau Steel?
- Apa sajakah bahan-bahan yang terkandung dalam pembuatan baja?
- Bagaimanakah keaadaan ekosistem Pantai Carita?
- Bagaimanakah keadaan ekosistem di Hutan Lindung ?
1.3

Tujuan
Tujuan diadakannya kegiatan Studi Tour ini, yaitu :
- Mengetahui proses pembuatan baja di PT. Krakatau Steel.
- Mengetahui bahan apa saja yang digunakan dalam pembuatan baja.
- Mengetahui keadaan ekosistem Pantai Carita.
- Mengetahui keadaan ekosistem Hutan Lindung.

1.4

Manfaat
- Dapat mengetahui
- Dapat mengetahui
baja.
- Dapat mengetahui
- Dapat mengetahui

proses pembuatan baja di PT. Krakatau Steel.


bahan apa saja yang digunakan dalam pembuatan
keadaan ekosistem Pantai Carita.
keadaan ekosistem Hutan Lindung

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 PT. Krakatau Steel
PT. Krakatau Steel adalah sebuah perseroan, merupakan sebuah
perusahaan baja terbesar di Indonesia. Krakatau Steel adalah Badan Usaha
Milik Negara yang bertempat di Cilegon, Banten. Pada tanggal 31 Agustus
1970, demikian tanggal berdiri daripada Krakatau Steel. Baja lembaran panas,
baja lembaran dingin, dan baja batang kawat merupakan produk yang
dihasilkan oleh Krakatau Steel. Hasil produksi yang demikian rupa tadi pada
umumnya adalah bahan baku bagi industri lanjutannya.
Berikut ini sekilas sejarah tentang Krakatau Steel. Pada suatu masa di
tahun 1960, Ir. Soekarno yang kala itu menjadi Presiden, mencanangkan
Proyek Besi Baja Trikora untuk meletakkan dasar industri nasional yang
tangguh. Sepuluh tahun selanjutnya berdirilah PT Krakatau Steel, atau
tepatnya Krakatau Steel berdiri pada tanggal 31 Agustus 1970, di mana
Krakatau Steel yang memanfaatkan kembali peralatan-peralatan dari proyek
itu yang berbentuk pabrik kawat baja, pabrik baja tulangan dan pabrik baja
profil. Presiden Soeharto, pada tahun 1977, ia yang meresmikan awal
beroperasinya produsen baja terbesar di Indonesia tersebut.
Perkembangan Krakatau Steel selaku perusahaan yang bergerak dalam
bidang industri baja berlangsung cukup maju. Dalam kurun waktu kurang dari
sepuluh tahun, Perusahaan telah menambah bermacam fasilitas produksi
seperti Pabrik Billet Baja, Pabrik Batang Kawat, Pabrik Besi Spons, serta
fasilitas infrastruktur berupa pusat pembangkit listrik, Pusat Penjernihan Air,
pelabuhan khusus sistem telekomunikasi dan Cigading. Krakatau Steel, dengan
perkembangan tersebut tadi, menjadi satu-satunya perusahaan baja yang
terpadu di Indonesia.
Tak berhenti sampai situ, perusahaan terus mengembangkan produksi
bermacam jenis baja untuk berbagai kebutuhan, seperti baja lembaran dingin,
baja lembaran panas, dan batang kawat. Sekarang ini, Krakatau Steel
mempunyai kapasitas produksi baja kasar sebesar 2,45 juta ton per tahun
untuk mendukung produksi baja itu. Krakatau Steel mampu mendiversifasi
bisnisnya pada usaha-usaha penunjang yang menghasilkan bermacam produk
baja bernilai tambah tinggi seperti baja profil, pipa spiral, pipa ERW, dan baja
tulangan, mnyediakan industri infrastruktur seperti kawasan industri dan
pelabuhan, menyediakan industri utilitas seperti tenaga listrik dan air bersih,
menyediakan industri jasa teknik seperti rekayasa dan kontruksi, menyediakan
teknologi informasi, dan menyediakan layanan kesehatan seperti rumah sakit.
Demikian tadi mampu disediakan oleh Krakatau Steel sebab Krakatau Steel
dibantu oleh 10 anak perusahaannya. Dan Krakatau Steel, produk-produk

bajanya, tidak hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan baja nasional,


namun juga ditujukan secara internasional.
Sejak dahulu kala kemampuan teknis daripada Krakatau Steel yang
tinggi telah mendapatkan pengakuan berdasarkan standar internasional.
Malahan pada tahun 1973 Perusahaan telah mendapatkan Sertifikat ASTM
A252 dan AWWA C200, dan pada tahun1977 mendapatkan Sertifiat API 5L
untuk produksi pipa spiral. Sertifikat ISO 9001 diddapatkan Krakatau Steel
pada tahun 1993 dan sudah ditingkatkan menjadi ISO 9001:2000 pada tahun
2003. Selain daripada itu, pada tahun 1997 SGS internasional memberikan
Sertifiat ISO 14001 berkat komitmen Perusahaan kepada keselamatan kerja
dan kesadaran lingkungan.
Di tengah situasi pasar yang masih bergejolak, pada 10 November 2010,
Krakatau Steel sukses menjadi perusahaan terbuka dengan menyelenggarakan
penawaran umum perdana IPO serta mencatatkan sahamnya di Bursa Efek
Indonesia. Krakatau Steel menorehkan pendapatan bersih sebesar 17,9 triliun
rupiah dan laba bersih 1.02 triliun rupiah terjadi pada tahun 2011. Dan masih
pada tahun 2011, Perusahaan dan anak perusahaannya dengan aset 21,5 triliun
rupiah telah mempunyai 8.023 orang karyawan.
Krakatau Steel mengawali proses produksi baja dimulai dengan pabrik
pembuatan besi yang menggunakan proses reduksi langsung bijih besi dengan
gas alam. Hasil produksi yang berupa besi spons ini kemudian dilebur bersama
dengan besi bekas scrap pada proses pembuatan baja yakni pabrik baja billet
dan baja slab. Proses pembuatan baja itu menggunakan teknologi dapur busur
listrik yang dilanjutkan dengan proses pengecoran kontinyu menjadi baja billet
dan baja slab.
Baja slab dicanai dalam situasi panas pada pabrik baja lembaran canai
panas menjadi baja lembaran panas berupa coil, strip, maupun pelat. Sebagian
baja lembaran panas ini langsung dijual ke konsumen atau diproses lebih lanjut
di fasilitas produksi lainnya yakni pabrik baja lembaran canai dingin. Pabrik ini
menghasilkan produk baja lembaran dingin berupa baja lembaran panas yang
dipickling, maupun baja lembaran dingin dengan perlakukan anil atau temper.
Produk baja lembaran yang dihasilkan bisa berupa coil maupun sheet. Baja
billet yang dihasilkan sebagian dijual ke konsumen akan tetapi pada umumnya
diproses lebih lanjut di pabrik baja batang kawat menjadi batang kawat.
Krakatau Steel dalam menjalankan usahanya memiliki nilai-nilai perusahaan
yang dijunjung tinggi seperti: Kompetensi, Mencerminkan tekad dan
kepercayaan diri untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, keahlian dan
sikap untuk kinerja yang berkesinambungan; Intregitas, Mencerminkan
kepatuhan akan peraturan serta komitmen untuk kesepakatan melalui
profesionalisme dalam mencapai tujuan perseroan; Handal, Mencerminkan
kesiapan, kecepatan dan tanggap dalam menyelenggarakan komitmen melalui

sinergi dari semua sumber daya perseroan untuk kepuasan dan kepercayaan
pelanggan; Inovasi, Mencerminkan kapasitas dan tekad dalam menciptakan ideide segar bersama dengan implementasi yang lebih baik dalam meningkatkan
proses dan kualitas output.
Visi dan Misi PT Krakatau Steel
Visi PT Krakatau Steel
Untuk menjadi Perseroan baja terpadu dengan keunggulan kompetitif untuk
tumbuh terus menerus menuju perusahaan global ternama
Misi PT Krakatau Steel
Untuk memberikan mutu terbaik produk baja serta layanan berkenaan demi
kemakmuran negara
Anak perusahaan
PT KHI Pipe Industry
PT Krakatau Wajatama
PT Krakatau Engineering
PT Krakatau Bandar Samudra
PT Krakatau Information Technology
PT Krakatau Industrial Estate Cilegon
PT Krakatau Daya Listrik
PT Krakatau Tirta Industri
PT Krakatau Medika
PT Meratus Jaya Iron & Steel
PT Krakatau Posco
2.2 Biota Laut
Pantai Carita adalah sebuah pantai di pesisir barat provinsi Banten,
Indonesia Pantai ini merupakan obyek pariwisata pantai di Indonesia yang
cukup terkenal selain Pantai Anyer, Pantai Karang Bolong dan Pantai Tanjung
Lesung.
Pantai Carita merupakan objek wisata yang terletak di Kabupaten
Pandeglang dan telah ditetapkan berdasarkan SK Menteri Pertanian
No.440/kpts/UM/1978 pada tanggal 15 Juli 1978 sebagai Taman Wisata Alam.
Pantai ini terkenal dengan pasir pantainya yang putih sehingga membuat
kawasan ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Pantai Carita kaya akan sumber daya alamnya. Hamparan tepian yang
amat landai dengan ombak laut yang kecil dan lembut menyapu di sepanjang
pantai, dipadu dengan pemandangan Gunung Krakatau.

2.3 Biomonitoring
Biomonitoring adalah metode pemantauan kualitas air dengan
menggunakan indikator biologis (Bioindikator), saat ini metode ini telah banyak
dikembangkan di beberapa Negara, yang dimaksud dengan bioindikator adalah
kelompok atau komunitas organisme yang keberadaannya atau perilakunya di
alam berhubungan dengan kondisi lingkungan, apabila terjadi perubahan
kualitas air maka akan berpengaruh terhadap keberadaaan dan perilaku
organisme tersebut, sehingga dapat digunakan sebagai penunjuk kualitas
lingkungan. Jenis ideal yang dapat digunakan sebagai bioindikator adalah
organisme akuatik yang tidak memiliki tulang belakang (makroinvertebrata).
Makroinvertebrata air terdiri dari larva Plecoptera (stonefly), larva
Trichoptera (kutu air), larva Ephemeroptera (kumbang perahu),
Platyhelminthes (cacing pipih), larva odonanta (capung), Crustaceae (udangudangan), Mollusca (siput dan kerang) larva Hemiptera (kepik), Coleoptera
(kumbang air), hirudinea (lintah), Oligochaeta (cacing), dan larva Diptera
(Nyamuk, lalat).
Kemudian dalam mendukung terciptanya kelancaran dan dalam upaya
menambah wawasan, kita juga harus pula mengamati kondisi tempat/objek
yang menjadi tujuan utama kita dalam pengamatan Biomonitoring ini.Air laut
adalah air murni yang didalamnya terlarut berbagai zat padat dan gas. Air laut
seberat 1000 gram akan berisi kurang lebih 35 gram senyawa-senyawa
terlarut yang secara kolektif disebut garam. Banyaknya zat terlarut tersebut
disebut salinitas.
Perbedaaan antara sifat fisik-kimia daratan dengan lautan :
Kerapatan air laut yang lebih besar menyebabkan organisme dan
partikel yang relatif besar dapat terapung-apung didalamnya. Tidak ada
komunitas didaratan yang terapung-apung di udara yang sebanding dengan
komunitas lautan.
Berbeda dengan udara, air sangat kuat menyerap cahaya, akibatnya
cahaya yang masuk ke air hanya dapat menembus sampai kedalaman tertentu,
sebelum cahaya terserap secara sempurna.
Perbedaan struktural dan fungsional :
Komunitas daratan secara universal didominasi oleh tumbuhan berbunga
yang besar dan terdapat terus menerus serta berumur panjang, sedangkan
komunitas lautan tidak mempunyai tumbuh-tumbuhan besar.
Kebanyakan rantai makanann di lautan mempunyai lima hubungan untuk
mencapai karnivora puncak, sedangkan rantai makanan didaratan cenderung
lebih pendek, rata-rata mempunyai tiga hubungan untuk mencapai karnivora
puncak.

Nilai ekologis pesisir dan laut antara lain :


- 71% permukaan bumi merupakan laut, secara dominan menentukan
dinamika iklim dan ekologi dunia.
- Siklus hidrologi sangat bergantung pada jumlah massa air laut yang
sanagat besar. Tanpa volume air laut ini, bumi akan menjadi padang
pasir.
- Laut sebagai penampung unsure-unsur hara yang terbawa oleh aliran
sungai dan aliran air permukaan dari daratan.
- Laut sebagai penyimpanan panas, karena panas jenis air air tinggi,
berfungsi sebagai pengatur iklim global.
- Laut sebagai penyerap atau reserboir CO2.
Nilai social-ekonomi pesisir dan pantai :
- Sumber bahan makanan/pangan, industry farmasi dan kosmetika melalui
kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan bioteknologi
kelautan.
- Sumber bahan tambang dan mineral, serta energi.
- Wahana rekreasi dan pariwisata, serta industry maritime.
- Media transportasi dan perhubungan yang sangat menunjang bagi
seluruh nilai social-ekonomi yang sangat penting bagi kemajuan nilai-nilai
tersebut.
- Lebih dari 50% penduduk dunia bermukimdi kawasan pesisir, dan 2/3
dari seluruh kota-kota besar dunia terletak di kawasan pesisir

BAB III
METODOLOGI
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan
prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga
merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Metode adalah
suatu cara memikirkan dan memeriksa suatu hal menurut suatu rencana
tertentu.
3.1 Objek Penelitian
Objek yang menjadi bahan penelitian kami yaitu :
PT. Krakatau Steel
Biota Laut Pantai Carita
Biomonitoring Hutan Lindung Anyer
3.2 Metode Penelitian
Metode yang kami gunakan, yaitu observasi langsung. Maksudnya
observasi langsung adalah suatu metode penelitian dengan cara-cara yang
dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat
mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan dengan cara melakukan
pengamatan langsung ke tempat yang menjadi objek penelitian. Disana kami
mengadakan observasi langsung ke beberapa tempat, seperti kawasan industri
Krakatau Steel, Pantai Carita, dan Hutan Cagar Alam.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
1. Studi kepustakaan (Library Research),
adalah suatu teknik pengumpulan data dimana data yang diperoleh
merupakan data yang diperoleh penulis dengan mencari bahan-bahan
yang diperlukan dengan cara membaca dan mempelajari buku-buku atau
sumber-sumber lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Studi lapangan (Field Research),
adalah suatu tehnik pengumpulan data dimana data yang diperoleh
merupakan data yang diperoleh langsung dari pihak-pihak yang memiliki
keterkaitan dengan objek yang diteliti dengan cara observasi, yaitu
teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung objek yang
akan diteliti berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dan
mencatatnya.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1

Proses pembuatan baja di Krakatau Steel

a) Peleburan bahan baku


Besi tua dimasukkan ke dapur listrik dan dipanaskan dengan suhu
0
1650 C dan dimasukkan ke ember lender lalu di mesim tuang kontinu
dicetak menjadi lembaran dan batangan. Baja lembaran kemudian akan
diolah menjadi coil dan plat. Sedangkan baja batangan akan diolah
menjadi kawat.
b) Pengurangan kadar karbon
Diawali dengan baja yang mencair kemudian slepdoor dibuka
dengan injeksi oksigen kemudian membakar baja hingga kadar karbon
menurun.
c) Penambahan atau pencampuran logam lain, agar baja memiliki sifat yang
khas. Agar baja mempunyai sifat yang khas sesuai peruntukannya maka
harus dicampur dengan logam lain seperti Cr, Ni, Co, Mn, W.
d) Bahan yang terkandung adalah Iron Pellet
Dengan kadar besi (Fe) sebesar 60-67%, dan bahan lain berupa :
Metalization dengan kadar 92-94%
Fosfor dengan kadar max 0,05%
Sulfur dengan kadar max 0,03%
Total karbon dengan kadar 1-3%
Bahan baku tersebut diperoleh dari hasil explorasi dari dalam negeri
tepatnya di daerah Kalimantan yaitu PT. Maratus Jaya Krakatau steel akan
tetapi lebih memperbanyak bahan baku hasil impor dari Negara Brazil karena,
kualitasnya lebih baik. Tetapi, Indonesia sendiri sebenarnya memiliki potensi
yang sangat besar karenakan banyak sekali pertambangan yang menghasilkan
iron pellet dimulai dari sabang sampai merauke.

4.2 Biota Laut di Pantai Carita


Cuaca pada saat observasi keadaan pantai carita adalah berawan
dengan pH air laut 8. Keadaan ekosistem biotik dan abiotik nya cukup
baik. Suhu udara di pantai pada saat itu adalah 30 oC, suhu air 290 C
dengan kelembaban 84 %. Keadaan ekosistem yang dikatakan cukup baik
terlihat dari masih banyaknya biota laut yang hidup disana dengan air
laut yang masih jernih, terumbu karang dan tanaman laut yang indah
menghiasinya.
Tabel data Plantea dan Protista yang ditemukan
No

Jenis Organisme

Kingdom Plantae

Kingdom Protista

1
2

Ganggang Merah
Ganggang Coklat

Phyllum Rhodophyta
Phyllum Phaeophita

Tabel data Animalia yang kami temukan di pantai Carita


No
Jenis Organisme
Phyllum
1
Gurita
Mollusca
2
BintangUlarLaut
Echinodermata
3
Teripang
Echinodermata
4
Kepiting
Arthopoda
5
Annelida
6
Siput air
Mollusca
7
Kerang
Mollusca
8
Kumang
Arthopoda

Class
Chepalopoda
Ophiaroidea
Holothuroidea
Crustacea
Polychaeta
Gastropoda
Bivalvia
Crustacea

Di Pantai carita kami juga mengamati satu jenis hewan dengan


ciri-ciri morfologi, sebagaiberikut :
- Tidak bersegmen
- Berbentuk bintang berlengan 5
- Memiliki kaki amburakal
- Simetris radial
Dari ciri-ciri tersebut dapat kami simpulkan bahwa hewan tersebut
termasuk ke dalam Phyllum Echinodermata dan kelas Ophiuroidea

4.3

Biomonitoring di Hutan Lindung (Taman Wisata Alam


Carita)
Kondisi lingkungan Hutan Lindung yaitu cuaca sedang berawan dan
memiliki suhu di ketinggian rendah adalah 31 oC, suhu di ketinggian
menengah adalah 28 oC, dan memiliki suhu tetap di bagian puncak yaitu
28oC dengan kelembaban di bawah sebesar 84%, pertengahan sebesar
91% dan diatas sebesar 92 % dan ketinggian 200 mdpl. Luas hutan ini
sekitar 95 hektar.
Dalam pengamatan kami menemukan hewan indikator capung
sebanyak 1 buah. Berarti menandakan bahwa hutan masih dalam keadaan
bagus karena capung selalu mencari mata/sumber air jernih untuk
bertelur. Kelimpahan kupu-kupu >4 begitupun kelimpahan burung >4
menunjukkan hutan yang bagus karena burung merupakan pemakan buahbuahan sehingga hutan masih menyimpan makanan bagi burung dan
habitat mereka, begitupun bunga yang masih mekar disana karena
merupakan makanan bagi kupu-kupu yang hidup disana. Sedangkan untuk
primate sendiri, kami hanya mendengar suaranya. Menurut guide yang
ada disana bahwa untuk hewan primate hanya keluar saat pukul 6 sore.
Tumbuhan yang dominan di hutan ini adalah pulai, mahoni , jati,
kayutiujan, daun kecil dandaun besar, paku rane,dll. Bila kita bandingkan,
ekosistem di huatan memiliki perbedaan yang signifikan dengan
lingkungan sekitar kita, diantaranya tumbuhan yang dominan, hewan
indicator, suhu dan kelembaban serta pohon-pohon besar sudah
ditebang untuk pelebaran jalan.
Di Cagar Carita Alam kami menemukan empat buah tumbuhan yang
banyak ditemukan diantaranya :
Paku Rane
Pohon Mahoni (Swietenia macrophylla)
Pohon Jati
Pohon Pulai (Fastonia scholari, R.B)
Kami juga mengamati satu spesies tumbuhan yang kami temui.
Tumbuhan tersebut memilki ciri-ciri :
- Alat reproduksi biji
- Daun, batang dan akar semu
- Bentuk urat daun menjari
- Batang tidak bercabang
- Memilki akar tunggang

Berikutlah dokumentasi spesies tumbuhan yang kami temui dan yang


kami tidak mengenalnya :

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan Studi Lapangan yang telah kami lakukan pada tanggal 7 s.d
8 Mei 2013 di PT Krakatau Steel, Pantai Carita, dan Hutan Lindung, kami
mendapatkan pengetahuan lebih yang dapat membantu jika ada masalah yang
berhubungan dengan objek masalah dari Studi Lapangan ini. Kami pun dapat
melihat secara langsung bagaimana pembuatan baja, ekosistem di Pantai
Carita, dan ekosistem di Hutan Lindung.
Baja adalah besi yang kadar karbonnya antara 0 1,5%, makin rendah
kadar karbon maka makin baik kualitas bajanya. Bahan baku yang digunakan PT.
Krakatau Steel untuk membuat baja berupa biji besi (iron pellet) dengan kadar
besi(Fe) 60 67% yang didatangkan langsung dari Brazil. Pembuatan baja
dilakukan melalui tahapan proses peleburan bahan baku, pengurangan kadar
karbon, dan penambahan logam lain, agar baja mempunyai sifat yang khas
dengan dicampur Cr, Ni, Co, Mn, dan W. Peleburan bahan baku menggunakan
spektometer dengan energi listrik dengan teknik besi spons ditambah dengan
biji tua, kemudian dimasukkan ke dalam dapur listrik yang bersuhu 1.650C,
sehingga menghasilkan baja cair. Pengurangan kadar karbon dilakukan pada
saat baja mencair, kemudian sleptor dibuka dengan injeksi oksigen kemudian
membakar baja hingga kadar karbon, silikon, dan fosfor pun turun.
Biota Laut dilakukan di Pantai Carita dengan cuaca yang berawan dengan
suhu 30C, suhu air laut 29C, kelembapan 84%, dan pH air laut 8 dengan
keadaan ekosistem cukup baik dengan adanya biota laut yang masih banyak.
Biomonitoring yang dilakukan di Hutan Lindung (Taman Wisata Alam
Carita) dengan ketinggian 200 m diatas permukaan laut dan luas 95 ha, dapat
ditemukan cukup banyak tumbuhan dan hewan.
Namun, kami tidak dapat menerima informasi yang cukup dikarenakan
waktu yang sangat singkat, dan keterbatasan informasi yang diberikan tour
guide di Hutan Lindung (Taman Wisata Alam Carita) terhadap kami selaku
peserta Studi Lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Lembar Kerja Siswa (LKS)


PT. Krakatau Steel
Baja adalah besi besi yang kadar karbonnya antara 0 1,5%, makin
rendah kadar karbon maka makin baik kualitas bajanya.
1. Bahan baku yang digunakan oleh PT. Krakatau Steel berupa biji besi
(iron pellet) dengan kadar besi (Fe) 60 67%, dan bahan lain berupa :
a. Metalization
dengan kadar 92 94%
b. Total Carbon
dengan kadar 1 3%
c. Fosfor
dengan kadar max 0,05%
d. Sulfur
dengan kadar max 0,03%
2. Bahan baku tersebut diperoleh dari :
a. Hasil explorosasi dari dalam negeri tepatnya di Kalimantan
b. Hasil impor dari negara Brazil
Alasan yang mengaharuskan PT. Krakatau Steel mengimpor bahan
baku adalah karena pabrik tersebut didesain untuk mengimpor.
Namun, di Kalimantan anak perusahaan PT. Krakatau Steel
memproduksi biji besi (iron pellet)
Apakah Indonesia memiliki potensi untuk pengadaan bahan baku PT.
Krakatau Steel ?
Jawab : Ya, karena pada buktinya PT. Meratus Jaya Iron Steel.
3. Pembuatan baja, dilakukan melalui tahapan proses :
- Peleburan bahan baku
- Pengurangan kadar karbon
- Penambahan logam lain, agar baja mempunyai sifat yang khas
a. Bagaimanakah teknik peleburannya ?
Jawab : Besi spons ditambah dengan besi tua, kemudian
dimasukkan kedalam dapur listrik yang bersuhu 1.650C, sehingga
menghasilkan baja cair.
Energi yang digunakan : energi listrik
Sistem pengendaliannya menggunakan : alat yang dinamakan
spektometer
b. Pengurangan kadar karbon dilakukan melalui proses : pada
keadaan baja mencair, kemudian sleptor dibuka dengan injeksi
oksigen kemudian membakar baja hingga kadar karbonpun turun.

Yang harus dihilangkan dalam bahan baku juga adalah silikon dan
fosfor :
Bagaimana cara menurunkan atau menghilangkan silikon dan fosfor
tersebut ? Dengan menggunakan injeksi oksigen.
c. Agar baja mempunyai sifat yang khas sesuai peruntukannya maka
harus dicampur dengan logam lain seperti Cr, Ni, Co, Mn, dan W :
Jenis baja yang dibuat oleh PT. Krakatau Steel adalah :
(i)
Baja Lembaran Panas dengan kadar Fe 100%, logam
campurannya (aliase) berupa :
- Logam Karton Medium dengan kadar 0,06 11%
- Logam Tinggi dengan kadar 11 22%
- Logam Rendah dengan kadar 22 40%
(ii)

Baja Lembaran Dingin dengan kadar Fe 100%, logam


campurannya (aliase) berupa :
- Logam Spons dengan kadar 18%
- Logam Snap dengan kadar 17%
- Logam Mangan dengan kadar 3%

(iii)

Baja Batang Kawat dengan kadar Fe 100%, logam


campurannya (aliase) berupa :
- Logam Spons dengan kadar 18%
- Logam Snap dengan kadar 17%
- Logam Mangan dengan kadar 3%

4. Kualitas control menggunakan teknik pengecekan oleh spektometer agar


kualitas plat baja diketahui berkurang dan dengan alat itu dapat
membantu kontrol kestabilan plat baja.
5. Produk yang dihasilkan dibentuk berupa plat baja dengan tujuan mudah
dimodifikasi agar menjadi bentuk yang diiginkan suatu industri.
6. Industri industri yang menggunakan produk dari PT. Krakatau Steel
adalah :
a. Industri otomotif yang memproduksi body mobil
b. Industri perkapalan yang memproduksi galangan kapal
c. Industri kereta api yang memproduksi gerbong
Produk PT. Krakatau Steel juga diekspor ke negara Cina, Amerika, dan
Eropa Barat.

7. Bentuk limbah dari PT. Krakatau Steel adalah kimia, debu, dan sleg
Resiko dampak terhadap lingkungan positif dan aman.
Pengolahan limbah dilakukan dengan cara :
- Gas CO2 dicairkan menjadi bahan campuran minuman berkarbonasi.
- Debu diubah menjadi semen.
8. Bagaimana target PT. Krakatau Steel untuk 10 tahun mendatang adalah
berbenah diri, menggembangkan kapasitas produksi, dan memproduksi
baja kelas dunia.

KESIMPULAN
PT. Krakatau Steel di Cilegon merupakan perusahaan yang
bergerak di bidang metalurgi, yaitu dalam hal megolah baja dari bahan
mentah menjadi barang setengah jadi yang nantinya akan diolah lagi
menjadi barang jadi oleh perusahaan lain. PT. Krakatu Steel pun
memanfaatkan limbahnya juga agar tidak membahayakan bagi lingkungan
sekitarnya.

Biota Laut di Pantai Carita


1. Jelaskan bagaimana keadaan Pantai Carita saat kalian melakukan
observasi meliputi :
a. Cuaca
: Berawan
b. Suhu Udara
: 30C
c. Suhu Air
: 29C
d. Kelembaban
: 84%
e. pH air laut
:8
f. Keadaan Ekosistem : Cukup baik dengan banyaknya biota laut
A. Isilah tabel dibawah ini dengan cara menuliskan sampai tingkatan kelas
untuk hewan invertebrata yang dijumpai di Pantai Carita !
Dari hasil pengamatan kalian, jenis hewan yang ditemukan di Pantai
Carita adalah :
Tabel data Animalia yang ditemukan di Pantai Carita
No
Jenis Organisme
Phyllum
Class
1
Gurita
Mollusca
Chepalopoda
2
Bintang Ular Laut
Echinodermata
Ophiaroidea
3
Teripang
Echinodermata
Holothuroidea
4
Kepiting
Arthopoda
Crustacea
5
Annelida
Polychaeta
6
Siput air
Mollusca
Gastropoda
7
Kerang
Mollusca
Bivalvia
8
Kumang
Arthopoda
Crustacea
B. Isilah tabel data tumbuhan dan protista yang kalian temukan di Pantai
Carita dan kelompokkan sampai takson yang kalian ketahui !
Tabel data Plantae dan Protista yang ditemukan di Pantai Carita
No

Jenis Organisme

Kingdom Plantae

Kingdom Protista

1
2

Ganggang Merah
Ganggang Cokelat

Phyllum Rhodophyta
Phyllum Phaeophita

2. Setiap
kelompok
wajib
mengamati
1
jenis
hewan
invertebrata/protista yang ditemui, dan jelaskan ciri ciri
morfologinya, kemudian klasifikasikan sampai tingkatan takson paling
yang kalian ketahui !
- Tidak bersegmen
- Berbentuk bintang berlengan 5
- Memiliki kaki amburakal
- Simetris radial

Dari ciri-ciri yang ada maka hewan / protista tersebut masuk dalam :
Phyllum Echinodermata
Kelas Ophiuroidea
KESIMPULAN
Dalam cuaca berawan, biota laut di Pantai Carita cukup banyak sekali
dengan adanya gurita, bintang ular laut, teripang, ganggang merah, ganggang
cokelat, dan lain lain.

Biomonitoring di Hutan Lindung (Taman Wisata Alam


Carita)
A. Isilah tabel dan jawablah pertanyaan pertanyaan dibawah ini
dengan singkat dan jelas !
Tanggal
: 8 Mei 2013
Cuaca
: Berawan
Waktu Pengamatan
: Pukul 15.00 s.d 16.00 WIB
Ketinggian
: 200 m dpl
Luas Pengamatan
: 95 ha
Deskripsi ekosistem : Banyak terdapat tumbuhan dan hewan
Lokasi
: Hutan Lindung ( Taman Wisata Alam Anyer)
Objek
Jenis Kehadiran
Kelimpahan
Ket
Monitorin
Ada
Tidak
2<
2 - 4 >4
g
ada
1
2
Capung
3
4
5

Kupu
kupu

1
2
3
4
5

Burung

1
2
3
4
5

Primata

1
2
3
4
5

B. Sebutkan tumbuhan yang banyak ditemui (dominan)


pengamatan di Hutan Lindung Anyer minimal 4 buah !
1. Merbau
2. Mahoni
3. Khaya
4. Ki Hujan

selama

C. Setiap kelompok wajib mengamati dan mengidentifikasi 1 spesies


tumbuhan yang ditemui sebutkan dan klasifikasikan sampai tingkat
takson yang kalian ketahui !