Anda di halaman 1dari 6

Penyebab henti Napas dan henti jantung

Penyebab henti napas dan hwnti napas ini sangat banyak. Setiap peristiwa atau penyakit apapun
yang menyebabkan berkurangnya oksigen dalam tubuh dapat menimbulkan keadaan henti napas
dan henti jantung. Penyakit dan keadaan yang dapat menyebabka henti napas dan henti jantung
antara lain:
a. Penyakit paru-paru, seperti radang paru, TBC, asma, dan bronchitis.
b. Penyakit jantung, seperti jantung koroner, jantung bawaan, dan penyakit jantung lainnya.
c. Kecelakaan lalu lintas yang mengenai rongga dada.
d. Penyakit-penyakit yang mngenai susunan saraf.
e. Sumbatan jalan napas oleh benda asing, misal: tersedak.
Henti napas dapat terjadi dalam beberapa keadaan :
Tenggelam
Stroke
Obstruksi jalan napas
Epiglotitis
Overdosis obat
Tersengat listrik
Infark miokard
Koma akibat berbagai macam kasus
Sebab-sebab HENTI JANTUNG :
Afiksi dan hipoksi
Serangan jantung
Obat-obatan
Reaksi sensitifitas
Kateterisasi jantung
Hentu jantung diketahui dari :
hilangnya denyut nadi pada arteri besar
korban tidak radar
Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang penolong korban henti napas dan
henti jantung dalam melakukan tindakan-tindakan bantuan hidup dasar.
1. Jalan napas korban harus dalam keadaan terbuka.
Tujuannya agar oksigen bisa masuk ke tubuh korban.
2. Pernapasan harus berlangsung terus sampai bantuan tenaga kesehatan datang.

Hal ini dimaksudkan agar oksigen masuk ke dalam aliran peredaran darah paru-paru.
3. Darah harus mengalir ke seluruh tubuh supaya oksigen dapat dibawa oleh darah ke semua
organ-organ tubuh terutama otak.
Patofisiologi henti napas
Berkurangnya oksigen di dalam tubuh kita akan memberikan suatu keadaan yang disebut
hipoksia. Hipoksia ini dikenal dengan istilah sesak napas. Frekuensi napas pada keadaan sesak
napas lebih cepat daripada keadaan normal. Oleh karena itu, bila sesak napas ini berlangsung
lama maka akan memberikan kelelahan pada otot-otot pernapasan. Kelelahan otot-otot napas
akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa gas CO2. Gas CO2
yang tinggi ini akan mempengaruhi susunan saraf pusat dengan menekan pusat napas yang ada di
sana. Keadaan ini dikenal dengan istilah henti napas.

Resusitasi jantung paru


Survei primer : yg dapat dilakukan oleh setiap orang
Survei sekunder : hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan
merupakan lanjutan dari survei primer.
Efek Samping dari RJP

Fraktur sternum dan tulang dada

Pneumotorax

Hemotorax

Robekan atau memar paru

Robekan pada hati

Tanda dari keberhasilan RJP

Dada naik turun pada saat ventilasi

Pupil akan mulai bereaksi secara normal

Warna kulit akan berkurang pucatnya

Penderita mencoba untuk bergerak / menelan

Denyut jantung kan kembali

Langkah-langkah bantuan hidup dasar terdiri dari tiga tahap:


a. Memeriksa Jalan Napas
Pada korban yang tidak sadar akan terjadi relaksasi dari otot-otot termasuk otot-otot di dalam

mulut. Akibatnya lidah akan jatuh ke bagian belakang dari tenggorokan dan akan menutupi jalan
napas. Akibatnya, korban tidak dapat bernapas. Penutupan jalan napas ini juga dapat disebabkan
oleh gigi palsu, sisa-sisa muntahan, atau benda asing lainnya.
Di sini penolong memeriksa apakah korban masih bernapas atau tidak. Bila tidak bernapas akibat
adanya sumbatan maka penolong harus membersihkan jalan napas ini agar menjadi terbuka.
Korban dibaringkan terlentang.
Penolong berlutut di samping korban sebelah kanan pada posisi sejajar dengan bahu.
Letakkan tangan kiri penolong di atas dahi korban dan tekan kearah bawah dan tangan kanan
penolong mengangkat dagu korban ke atas. Tindakan ini akan membuat lidah tertarik ke depan
dan jalan napas terbuka serta akan membentuk satu garis lurus sehingga oksigen mudah masuk.
Dekatkan wajah Anda ke wajah korban, dengar serta rasakan hembusan napas korban sambil
melihat ke arah dada korban apakah ada gerakan dada atau tidak. Bila korban masih bernapas
maka:
o Baringkan korban di tempat yang aman dan nyaman
o Jangan dikerumuni
o Berikan posisi berbaring yang senyaman mungkin bagi korban
Bila Anda tidak dapat mendengar dan tidak merasakan napas korban serta tidak adanya
gerakan dada, maka ini menunjukkan bahwa korban tidak bernapas. Setelah itu lakukan
b. Melakukan Pernapasan Buatan
Ada dua macam pernapasan buatan, yaitu:
Pernapasan buatan dari mulut ke mulut
- Korban dalam posisi terlentang dengan kepala seperti pada langkah pertama, yaitu kepala
mendongak.
- Tangan kiri penolong menutup hidung korban dengan cara memijitnya dengan jari telunjuk dan
ibu jari, tangan kanan penolong menarik dagu korban ke atas.
- Penolong menarik napas, kemudian letakkan mulut penolong ke atas mulut korban sampai
menutupi seluruh mulut korban jangan sampai ada kebocoran, kemudian tiupkan napas penolong
ke dalam mulut korban secara pelan-pelan sambil memperhatikan adanya gerakan dada korban
sebagai akibat dari tiupan napas penolong. Gerakan ini menunjukkan bahwa udara yang
ditiupkan oleh penolong itu masuk ke dalam paru-paru korban, dan ini juga berarti oksigen telah
masuk ke dalam paru-paru korban.
- Setelah itu angkat mulut penolong dan lepaskan jari penolong dari hidung korban. Hal ini untuk
memberi kesempatan pada dada korban kembali ke posisi semua sebelum pernapasan buatan
berikutnya diberikan.
Pernapasan buatan dari mulut ke hidung
- Sama dengan cara dari mulut ke mulut, hanya bedanya penolong meniup napasnya melalui
hidung korban. Mulut korban harus menutupi seluruh hidung korban, sementara meniup napas,
mulut korban dalam keadaan tertutup.
- Setelah melakukan langkah ke-2 ini, penolong memeriksa denyut nadi korban melalui denyut
nadi yang ada di sebelah kanan dan kiri leher korban. Caranya:
a. Tentukan garis tengah leher yang melewati adams apple (jakun)

b. Geser jari penolong ke kiri atau ke kanan sejauh 2 jari. Di situlah tempat meraba denyut nadi
leher.
c. Raba denyut nadi leher tersebut dengan menggunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah)
Apabila tidak teraba denyut nadi, ini menandakan bahwa jantung korban tidak berdenyut, maka
lanjutkan ke langkah 3.
c. Membuat peredaran darah buatan
Tujuan dari langkah ke-3 ini adalah untuk membuat suatu aliran darah buatan yang dapat
menggantikan fungsi jantung sehingga oksigen yang diberikan dapat sampai ke organ-organ
yang membutuhkan. Adapun mekanismenya sebagai berikut:
Bila dilakukan penekanan pada tulang dada di atas jantung maka darah akan terdorong keluar
dari jantung masuk ke jaringan tubuh.
Bila penekanan tersebut dilepaskan maka darah akan terisap kembali ke jantung
Mekanisme ini sama dengan cara kerja dari jantung saat jantung memompa darah.
Cara membuat peredaran darah buatan
Untuk menentukan letak dari tempat penekanan adalah dengan menelusuri tulang rusuk
korban yang paling bawah dari kiri dan kanan yang akan bertemu di garis tengah, dari titik
pertemuan itu naik 2 jari kemudian letakkan telapak tangan penolong di atas 2 jari tersebut.
Tangan penolong satunya diletakkan di atas dari telapak tangan di atas 2 jari tadi.
Lakukan penekanan sedalam kira-kira 1/3 dari tingginya rongga dada korban dari atas korban,
biasanya antara 3-5 cm.
Harus diingat, pada saat melakukan penekanan, siku penolong tidak boleh ditekuk.
Bantuan hidup dasar ini dapat dilakukan oleh satu orang atau bisa juga dilakukan oleh dua orang
penolong. Bila hanya satu orang penolong maka kombinasi antara pernapasan buatan dan
peredaran darah buatan dilakukan dengan frekuensi 15:2. Artinya 15 kali penekanan dada
diberikan 2 kali pernapasan buatan. Bila ada dua orang penolong maka diberikan dengan
frekuensi 5:1, yang artinya setiap 5 kali penekanan dada diberikan 1 kali pernapasan buatan.
Bantuan hidup dasar ini diberikan oleh penolong sampai tenaga kesehatan datang.
FASE-FASE RESUSITASI KARDIO PULMONER
FASE I : Tunjangan hidup dasar (Basic Life Support) yaitu
prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, henti nafas dan henti jantung
Indikasi tunjangan hidup dasar terjadi karena :
henti napas.
Henti jantung , yang dapat terjadi karena :
Kolaps kardiovaskular
Fibrilasi ventrikel atau
Asistole ventrikel.
Terdiri dari :

A (airway) : menjaga jalan nafas tetap terbuka.


B (breathing) : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat.
Pernapasan yang adekuat dinilai tiap kali tiupan oleh penolong, yaitu diperhatikan :
Gerakan dada waktu membesar dan mengecil
Merasakan tahanan waktu meniup dan isi paru korban waktu mengembang, dengaR suara
dan rasakan udara yang keluar waktu ekspirasi.
Tiupan pertama ialah 4 kali tiupan cepat, penuh, tanpa menunggu paru korban mengecil
sampai batas habis.
C (circulation) : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru (KJL),
FASE II : Tunjangan hidup lanjutan (Advance Life Support); yaitu tunjangan hidup dasar
ditambah dengan :
D (drugs) : pemberian obat-obatan termasuk cairan.
Obat-obatan dibagi 2 golongan yaitu :
Penting, yaitu : Sodium bikarbonat, Epinephrine, Sulfat Atropin, Lidokain, Morphin
sulfat, Kalsium Khlorida; oksigen
Berguna yaitu obat-obat vasoaktif (Levarterenol), Isoproterenol (Metaraminol),
Propranolol dan Korticosteroid.
E (EKG) : diagnosis elektrokardiografis secepat mungkin setelah dimulai KJL, untuk
mengetahui apakah ada fibrilasi ventrikel, asistole atau agonal ventricular complexes.
F (fibrillation treatment) : tindakan untuk mengatasi fibrilasi ventrikel.
FASE III : Tunjangan hidup terus-menerus (Prolonged Life support).
G (Gauge) : Pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus,
dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.
H (Head) : tindakan resusitasi untuk menyelamatkan otak dan sistim saraf dari kerusakan lebih
lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya kelainan neurologik
yang permanen.
(Hipotermi) : Segera dilakukan bila tidak ada perbaikan fungsi susunan saraf pusat yaitu pada
suhu antara 30-32
(Humanization) : Harus diingat bahwa korban yang ditolong adalah manusia yang mempunyai
perasaan, karena itu semua tindakan hendaknya berdasarkan perikemanusiaan.
I (Intensive care) : perawatan intensif di ICU, yaitu : tunjang-an ventilasi : trakheostomi,
pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung, pengukuran pH, pCO tunjangan sirkulasi,
mengendalikan kejang.

OBSTRUKSI JALAN NAPAS


Benda asing dapat menyebabkan obstruksi jalan napas sebagian (parsial) atau total .
1. obstruksi jalan napas parsial , korban mungkin masih bisa melakukan pernapasan namun
kualitas pernapasn dapat baik atau buruk.

Pada korban dengan pernapasan baik , korban biasanya masih dapat melakukan batuk
dengan kuat , usahakan agar korban tetap bisa melakukan batuk dengan kuat
sampaibenda asing tersebut dapat keluar.
Obstruksi jalan napas dengan pernapasan yg buruk harus diperlakukan seperti pada
obstruksi jalan napas komplit.
2. obstruksi jalan napas komplit, korban biasanya tidak dapat bicara, napas, atau batuk.
Biasanya korban memegang leher dengan diantara ibu jari dan jari lainnya. Sturasi
oksigen dengan cepat turun dan otak akan mengalami kekurangan oksigen sehingga
menyebabkan kehilangan kesadaran an kematian segera bila tidak cepat mengambil
tindakan.
Penata laksanaan jalan napas :
Manuver Heilmich (hentakan subdiafragma abdomen)
Suatu hentakan yg menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma sehingga memaksa udara
yg ada dalam paru untuk kelar dengan cepat sehingga diharapkan dapat mendorong atau
mengeluarkan benda asing yg menyumbat jalan napas.mungkin dibutuhkan pengulangan 6-10 x
untuk membersihkan jala napas.
Manuver heilmich pada korban sadar dengan posisi berdiri atau duduk
Penolong berdiri dibelakang korban , melingkarai pinggang korban dengan ke 2 tangan
kemudian kepalkan 1 tangan dan letakknsisi jempol tangan kepalan pd perut korban sedikit
diatas pusar dan dibawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan
lainnya. Tekan kepalan ke perut dengan hentakan secara cepat ke arah atas. Setiap hetakan harus
terpisah yg jelas.
Manuver heilmich pada korban yg tergeletak
Korban harus diletakan pada posisi terlentang dengan muka keatas.penolong berlutut disisi paha
korban . letakkan salah 1 tangan pada perut korban dibawah ujung tulang sternum , tangan ke 2
diletakan diatas tangan pertama.penolong menekan kearah perut dengan hentakan yg cepat ke
arah atas. Manuver ini dapat dilakukan pada korban sadar jika penolongnya terlampau pendek
untuk peluk pinggang krban.
MEMBEBASKAN SUMBATAN JALAN NAFAS PADA BAYI

Pastikan adanya sumbatan jalan nafas total ( Bukan infeksi )

Atur Posisi bayi ( telungkup )

Lakukan 5 X hentakan punggung & 5 X pijatan dada

Ulangi Poin 1- 3 sampai efektif