Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang masalah

Berbagai organisasi internasional antara lain PBB, Bank Dunia dan World Tourism
Organization (WTO), telah mengakui bahwa pariwisata merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan social dan ekonomi. Diawali
dari kegiatan yang semula hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang yang relatif kaya pada
awal abad ke-20, kini telah menjadi bagian dari hak azazi manusia, sebagaimana dinyatakan oleh
John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox yakni bahwa “where once travel was considered a
privilege of the moneyed elite, now it is considered a basic human right. Hal ini terjadi tidak
hanya di negara maju tetapi mulai dirasakan pula di negara berkembang termasuk pula
Indonesia.
Dalam hubungan ini, berbagai negara termasuk Indonesia pun turut menikmati dampak
dari peningkatan pariwisata dunia terutama pada periode 1990 – 1996. Badai krisis ekonomi
yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997, merupakan pengalaman yang sangat berharga
bagi masyarakat pariwisata Indonesia untuk melakukan re-positioning sekaligus re-vitalization
kegiatan pariwisata Indonesia. Disamping itu berdasarkan Undang-undang No. 25 Tahun 2000
tentang Program Perencanaan Nasional pariwisata mendapatkan penugasan baru untuk turut
mempercepat pemulihan ekonomi nasional dan memulihkan citra Indonesia di dunia
internasional. Penugasan ini makin rumit terutama setelah dihadapkan pada tantangan baru
akibat terjadinya tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Menghadapi tantangan dan peluang ini, telah dilakukan pula perubahan peran Pemerintah
dibidang kebudayaan dan pariwisata yang pada masa lalu berperan sebagai pelaksana
pembangunan, saat ini lebih difokuskan hanya kepada tugas-tugas pemerintahan terutama
sebagai fasilitator agar kegiatan pariwisata yang dilakukan oleh swasta dapat berkembang lebih
pesat. Peran fasilitator disini dapat diartikan sebagai menciptakan iklim yang nyaman agar para
pelaku kegiatan kebudayaan dan pariwisata dapat berkembang secara efisien dan efektif.
Selain itu sub sektor pariwisata pun diharapkan dapat menggerakan ekonomi rakyat,
karena dianggap sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan prasarana dibandingkan
1
2

dengan sektor usaha lainnya. Harapan ini dikembangkan dalam suatu strategi pemberdayaan
masyarakat melalui pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan atau community-based
tourism development .
Marpaung, Bahar dalam Siti Nurkhasanah menyataka bahwa: “sesuai perkembangan,
kepariwisataan memberikan keuntungan baik bagi wisatawwan maupun warga setempat.
Pariwisata dapat memberikan keuntungan yang standar kepada warga setempat melalui
keuntungan ekonomi yang didapat dari tempat tujuan wisata”.
World Travel and Tourism Council (WTTC, 2000) dalam Siti Nurkhasanah menyatakan
bahwa:
Industri pariwisata telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi 200 juta orang diseluruh
dunia, atau 8 % dari jumlah lapangan pekerjaanyang ada atau 1 dari 12,4 jenis pekerjaan
yanga ada. menurut perhitungan, angka ini akan terus berkembang sejalan dengan
tersedianya 5,5 juta jenis pekerjaan baru pada tahun 2010 nanti atau sama dengan 150
juta orang yang bekerja pada berbagai jenis pekerjaan dengan total Gross Domestic
Product (GDP) sebesar US$6.591 milyar.

Dalam perkembangan pariwisata sekarang ini cukup menarik untuk dijadikan kajian
penelitian geografi, karena terdapat hubungan keruangan, lingkungan dan waktu dimana aneka
bentuk kehidupan manusia tergantung pada lingkungan.
Wisata alam berpotensi untuk dikembangkan karena banyak orang yang menaruh minat
dari wisata ini. menurut Fandeli, Nurdin dalam Siti Nurkhasanah (2005:5) “ wisatawan pada
umumnya berasal daeri kota, menginginkan suasana baru di pedesaan atau di alam yang jauh dari
kebisingan dan hiruk pikuk kehidupan kota”.
Dengan adanya program otonomi daerah, maka setiap daerah harus mampu mengelola
sumberdaya yang ada pada daerah tersebut. moisalnya pengembangan sumber daya alam,
sumber daya manusia dan IPTEK. Dengan pengembangan sumberdaya yang ada, diharapkan
daerah mampu mensejahterakan kehidupan masyarakatnya.
Perencanaan yang matang melalui penyiapan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata
daerah di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota sudah harus dimulai untuk menemukenali
wilayah yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan kepariwisataan yang tetap ditujukan
untuk meningkatkan peran serta dan kesejahteraan masyarakat seluas-luasnya.
3

Penyiapan sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi tinggi di bidang pelayanan


jasa kepariwisataan juga menjadi hal yang perlu dilakukan. Kemampuan masyarakat dalam
berinteraksi dan bersosialisasi perlu dilengkapi pula dengan kemampuan teknis, operasional dan
manajerial dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan. Stigma bahwa pekerja di bidang
pariwisata merupakan pelayan harus mulai diubah menjadi pekerja profesional yang berkelas
dunia. Kemampuan masyarakat dalam mengembangkan kompetensi mereka di bidang
kepariwisataan dipercaya akan mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta pengalaman
berwisata bagi wisman maupun wisnus.
Berdasarkan berbagai kondisi tersebut, pengembangan pariwisata di Kabupaten Pacitan
harus difokuskan pada pengembangan pariwisata berbasis bahari dengan dukungan fasilitas dan
aksesibilitas. Fokus pembangunan kepariwisataan ini akan mampu memposisikan obyek wisata
yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah sebagai destinasi utama pariwisata Kabupaten
Pacitan yang berbeda dengan daerah lainnya seperti Bali dengan alamnya (pantai). Fokus
pembangunan kepariwisataan ini perlu dibicarakan dan menjadi komitmen seluruh stakeholders
dalam pembangunan kepariwisataan di daerah.
Kabupaten Pacitan merupakan daerah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai
daerah wisata. Dengan panorama alam berupa pantai, goa, dan kerajinan akik dapat dijadikan
aset yang berharga. Bila dilihat dilapangan, pengembangan potensi tersebut kurang maksimal.
misalnya fasilitas dan aksessibilitas sangat kurang mendukung sebagai kawasan wisata. Arahan
dan strategi pengembangannya adalah dengan pengembangan wista temetis yang terpadudan
saling melengkapi antara kawasan yang potensial dan kurang potensial dikembangkan. Strategi
pengembangan dapat dijabarkan dalam bentuk perumusan rencana pengembangan yang meliputi:
1. pengembangan struktur wilayah pengembangan pariwisata (WPP) Kabupaten Pacitan.
2. pembuatan jalur wisata yang dapat mempermudah wisatawan untuk menuju obyek
wisata.
3. identifikasi serta penetapan lokasi bagi pusat-pusat pelayanan pada tingkat WPP.
4. identifikasi serta penetapan loaksim pembangunan fasilitas penunjang wisata dan
infrastruktur.
Di Kabupaten Pacitan terdapat obyek wisata alam yang berupa pantai, sumber air hangat
dan goa.
No Obyek Wisata Lokasi
4

1 Pantai Klayar Kecamatan Donorojo


2 Pantai Srau Kecamatan Pringkuku
3 Pantai Watu Karung Kecamatan Pringkuku
4 Pantai Teleng Ria Kecamatan Pacitan
5 Goa Gong Kecamatan Punung
6 Goa Tabuhan Kecamatan Punung
7 Pemandian Air Hangat Tirta Husada Kecamatan Arjosari
Di obyek wisata tersebut, wisatawan dapat menikmati panorama pantai, goa, dan
hangatnya air yang mengandung belerang. obyek wisata tersebut dapat mendatangkan wisatawan
domestic maupun wisatawan asing yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi
masyarakat maupun pemerintah Kabupaten Pacitan.
Oleh karena itu perlu adanya pengembangan yang lebih optimal pada obyek wisata yang
kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Misalnya obyek wisata yang jauh dari kota Pacitan
dan memiliki aksesibilitas dan fasilitas yang kurang memadai. Untuk melakukan pembangunan
pada obyek wisata tersebut diperluakan kerja sama antara masyarakat, pemerintah dan pihak
pengelola. Selain itu juga diperlukan strategi pengembanagan dengan mengidentifikasi
poermasalahan maupun potensi dasar yang mendukung sehingga tujuan dari pengembangan
obyek wisata dapat tercapai dengan baik.

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana potensi obyek wisata alam di Kabupaten Pacitan?

2. Bagaimana pengembangan pariwisata di Kabupaten Pacitan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan massalah dapat dijelaskan bahwa tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui potensi obyek wisata yang berada di Kabupaten Pacitan.


5

2. Mengetahui lnagkah pengembangan pariwisata di Kabupaten Pacitan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atau
wawassan tentang geografi pariwisata sehubungan dengan pengembangan kepariwisataan.

2. Manfaat Praktis

Diharapkan dapat memberikan sumbangan lebih lanjut pada Dinas Pariwisata Kabupaten
Pacitan dalam pengembangan obyek wisata.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
6

1. Pemetaan

Ada beberapa pengertian pemetaan. Pengertian pemetaan menurut Wikipedia adalah


proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi)
dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy
maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster.

a) Peta

Bentuk lain dari Peta

1. Atlas
Atlas adalah gabungan dari beberapa peta yang dikumpulkan dalam sebuah buku yang memiliki
judul atlas serta jenis-jenis atlas yang ada di buku tersebut.
2. Globe
Globe atau Bola Dunia adalah suatu bentuk tiruan bola bumi yang dibuat dalam skala yang kecil
untuk dapat lebih memahami bentuk asli planet bumi.

Secara umum, proyeksi peta dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari cara
pemindahan data topografi dari permukaan Bumi ke atas permukaan peta.

Proyeksi peta menurut jenis bidang proyeksi dibedakan :

1. Proyeksi bidang datar / Azimuthal / Zenithal


2. Proyeksi Kerucut
3. Proyeksi Silinder

Proyeksi peta menurut kedudukan bidang proyeksi


6 dibedakan :

1. Proyeksi normal
2. Proyeksi miring
3. Proyeksi transversal

Proyeksi peta menurut jenis unsur yang bebas distorsi dibedakan :


7

1. Proyeksi conform, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya sudut


2. Proyeksi equidistant, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya panjang
jarak
3. Proyeksi equivalent, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya luas
suatu daerah pada bidang lengkung

Peta dapat diklasifikasikan menurut jenis, skala, fungsi, dan macam persoalan (maksud
dan tujuan). Ditinjau dari jenisnya peta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta
garis. Peta foto adalah peta yang dihasilkan dari mosaik foto udara / ortofoto yang dilengkapi
garis kontur, nama, dan legenda (Prihandito 1989: 3). Peta ini meliputi peta foto yang sudah
direktifikasi dan peta ortofoto. Adapun peta garis adalah peta yang menyajikan detil alam dan
buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan (Prihandito 1989: 3). Peta ini terdiri atas
peta topografi dan peta tematik.
Peta dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu peta berdasarkan isinya, berdasarkan
skalanya dan berdasarkan tujuanya.

Jenis peta berdasarkan isinya

1. Peta Umum

Peta umum adalah peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta umum
ini memuat semua penampakan yang terdapat dalam suatu daerah, baik kenampakan alam
maupun kenampakan social budaya.

Peta umum dikelompokan lagi menjadi dua, yaitu:

o Peta topografi

Peta topografi yaitu peta yang menggamabrkan bentuk tinggi rendahnya permukaan
bumi. Dalam peta topografi digunakan garis kontur, yaitu garis yang
menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian sama.
8

o Peta Chorografi

Peta chorografi adalah peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan
bumi dengan skala lebih kecil antara 1:250.000 sampai 1:1000.000 atau lebih. Peta
chorografi menggambarkan daerah yang luas, misalnya propinsi, Negara bahkan
dunia. Dalam peta chorografi juga digambarkan semua kenampakan yang ada pada
suatu wilayah diantaranya gunung, sungai, danau, jalan batas wilayah, kota, rawa
dll. Atlas adalah salah satu kumulan peta chorografi.

2. Peta khusus atau Tematik

Disebut peta khusus karena peta tersebut hanya menggambakan satu atau dua
kenampakan pada permukaan bumi yang ingin ditampilkan, baik kondisi fisik maupun
social budaya. Contoh: peta curah hujan, peta kepadatan penduduk, peta penyebaran
penduduk dll.

Jenis peta berdasarkan skalanya

Skala adalah perbandingan antara ukuran di peta dengan ukuran sesungguhnya di


lapangan. Jenisnya ada Skala Numerik dan Skala Grafik. Skala Numerik adalah Skala yang
ditampilkan dengan simbol angka, misalnya 1:25.000 yaitu 1 cm di peta sama dengan 25.000 cm
(250 M) di lapangan. Skala Grafik adalah Skala yang ditampilkan dalam bentuk grafik/gambar
yang menyatakan perbandingan panjang ukuran di peta dengan ukuran sebenarnya di lapangan.

Berdasarkan skalanya peta dapat di kelompokan dalam empat jenis, yaitu :

1. Peta kadaster/teknik adalah peta dengan skala antara 1:100 sampai 1:5000.
2. Peta skala besar adalah peta dengan skala 1:5000 sampai 1:250.000
3. Peta skala sedang adalah peta dengan skala 1:250.000 sampai 1:500.000
4. Peta skala kecil adalah peta dengan skala 1:500.000 sampai 1:1000.000

Jenis Peta berdasarkan tujuanya


9

1. Peta pendidikan
2. Peta ilmu Pengetahuan
3. Peta Informasi Umum
4. Peta turis
5. Peta navigasi
6. Peta Aplikasi
7. Peta Perencanaan

Peta sangatlah penting bagi kehidupan manusia, secara umum fungsi peta dapat
disimpulkan sebagai berikut:

1. Menunjukan posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi


2. Memperlihatkan Ukuran dan arah suatu tempat di permukaan bumi
3. Menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi
4. Membantu mengetuhi kondisi suatu daerah
5. Menyajikan data potensi suatu wilayah
6. Alat anlisis
7. Alat untuk mempelajari fenomena geografi di permukaan bumi

Adapun unsur buatan manusia di antaranya adalah: sarana perhubungan (jalan, rel kereta
api, jembatan, terowongan, kanal), konstruksi (gedung, bendungan, jalur pipa, jaringan listrik),
daerah khusus (daerah yang ditanami tumbuhan, taman, makam, permukiman, lapangan olah
raga), dan batas administratif (Prihandito 1989: 22; Hascaryo dan Sonjaya 2000: 10). Tinggalan-
tinggalan arkeologis atau bersejarah seperti bangunan megalitik, candi, gereja, dan reruntuhan
bangunan kuna, seringkali juga ditampilkan dalam peta topografi (lihat McIntosh, 1986: 44).
Selain menyajikan data keruangan, peta topografi juga memuat data non-keruangan, antara lain
grid, graticul (garis lintang dan bujur), arah utara, skala, dan legenda (keterangan mengenai
simbol-simbol yang digunakan pada peta) (Prihandito 1989: 117-120; Hascaryo dan Sonjaya
2000: 10).
Pemanfaatan Peta
Peta topografi dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, serta dapat digunakan
sebagai peta dasar (base map) dalam pembuatan peta tematik, seperti peta arkeologi dan peta
10

turis (lihat Prihandito 1989: 17). Dalam kondisi tertentu, misalnya medan survei yang terlalu
berat, peta yang sudah ada dapat dipakai untuk memplotkan temuan. Pemetaan tersebut,
meskipun hanya bersifat sementara, sangat efektif untuk menyimpan dan menyelamatkan data
arkeologis (Hascaryo dan Sonjaya 2000: 1).

2. Pariwisata

Ada banyak definisi tentang pariwisata. pengertian pariwisata menurut Pendit dalam Siti
Nurkhasanah (1994 : 37), “pariwisata adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan wisata,
termasuk pengusahaan obyek dan daerah tujuan wisata sert usaha usaha yang terkait dibidang
tersebut”. Menurut Spillane (1994:21), “ pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke
tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari
keseimbangan atau keserasian atau kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi social,
budaya, alam dan ilmu”.

Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif wisatawan untuk
mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata tersebut adalah sebagai berikut.

1. Wisata Budaya

Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup
seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar
negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya
dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan
mengambil bagian dalam kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama,
seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya.

2. Wisata Maritim atau Bahari

Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air, lebih–lebih di danau,
pantai, teluk, atau laut seperti memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan,
kompetisi berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman laut dengan pemandangan indah
11

di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan didaerah–daerah
atau negara–negara maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di Indonesia
banyak tempat dan daerah yang memiliki potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulau–
pulau Seribu di Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulau–pulau kecil
disekitarnya, taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut pula wisata tirta.

3. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)

Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan
yang mengkhususkan usaha–usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar
alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi
oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta
alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa serta pepohonan
kembang beraneka warna yang memang mendapat perlindungan dari pemerintah dan
masyarakat. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran
hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta
tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di tempat–tempat lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang
telah berkembang seperti Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya

4. Wisata Konvensi

Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan wisata konvensi.
Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas
bangunan dengan ruangan–ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konfrensi,
musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional.
Jerman Barat misalnya memiliki Pusat Kongres Internasiona (International Convention Center)
di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine International Convention Center) di Manila
dan Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta untuk tempat penyelenggaraan
sidang–sidang pertemuan besar dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik yang ada di
12

Berlin, Manila, atau Jakarta berusaha dengan keras untuk menarik organisasi atau badan–badan
nasional maupun internasional untuk mengadakan persidangan mereka di pusat konvensi ini
dengan menyediakan fasilitas akomodasi dan sarana pengangkutan dengan harga reduksi yang
menarik serta menyajikan program–program atraksi yang menggiurkan.

5. Wisata Pertanian (Agrowisata)

Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan
yang dilakukan ke proyek–proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya
dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi
maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka warna dan
suburnya pembibitan berbagai jenis sayur–mayur dan palawija di sekitar perkebunan yang
dikunjungi.

6. Wisata Buru

Jenis ini banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang memiliki daerah atau hutan
tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen atau biro
perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk
berburu gajah, singa, ziraf, dan sebagainya. Di India, ada daerah–daerah yang memang
disediakan untuk berburu macan, badak dan sebagainya, sedangkan di Indonesia, pemerintah
membuka wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana wisatawan boleh menembak
banteng atau babi hutan.

7. Wisata Ziarah

Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan
kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh
perorangan atau rombongan ke tempat–tempat suci, ke makam–makam orang besar atau
pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman
tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak
dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin,
13

keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah.
Dalam hubungan ini, orang–orang Khatolik misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana
Vatikan di Roma, orang–orang Islam ke tanah suci, orang–orang Budha ke tempat–tempat suci
agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat–tempat suci
atau keramat yang dikunjungi oleh umat–umat beragama tertentu, misalnya seperti Candi
Borobudur, Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa Tengah, makam Wali
Songo, Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan sebagainya. Banyak agen atau biro
perjalanan menawarkan wisata ziarah ini pada waktu–waktu tertentu dengan fasilitas akomodasi
dan sarana angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempat–tempat tersebut di atas.
Sesungguhnya daftar jenis–jenis wisata lain dapat saja ditambahkan di sini, tergantung kapada
kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau negeri yang
memang mendambakan industri pariwisatanya dapat meju berkembang. Pada hakekatnya semua
ini tergantung kepada selera atau daya kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung
dalam bisnis industri pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasan–gagasan yang dimiliki
oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di
dunia ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi kemajuan
industri ini, karena industri pariwisata pada hakikatnya kalau ditangani dengan kesungguhan hati
mempunyai prospektif dan kemungkinan sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia yang
melahirkan gagasan–gagasan baru dari waktu–kewaktu. Termasuk gagasan–gagasan untuk
menciptakan bentuk dan jenis wisata baru tentunya.

3. Potensi Pariwisata

Potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat di


kembangkanatau sesuatu yang dapat menjadi actual (Badudu : 689). Potensi pariwisata adalah
obyek atau atraksi wisata yang dapat dipublikasikan, dipasarkan, dikelola serta dikembangkan
menjadi tempat peristirahatan atau bersenang-senang dalam smentara waktu (recreation) dan
dapat diambil manfaat dari obyek tersebut ( Cholil, 2000:14).

Menurut Wagito dalam Fandeli(1995:8), potensi yang dimiliki Indonesia antara lain:

1. Alamnya yang indah baik darat, gunung, pantai, dan laut.


14

2. Sumber daya manusia yang banyak dan upah relative murah.

3.Seni budaya yang beraneka ragam disebabkan oleh banyaknya suku bangsa di seluruh
nusantara.

4. Letak geografisnya yang sangat strategis, yaitu berada di katulistiwa dan diantara 2 benua.

5. Kondisi iklimnya yang baik sepanjang tahun dapat untuk kegiatan berwisata

6. Sikap masyarakat yang ramah dan bersahabat.

7. pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.

8. stabilitas politik dan keamanan yang mantap.

9. wilayah yang luas dan sebagian belum terjangkau.

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Darsini Puji Astuti (1999) melakukan penelitian dengan judul Potensi Dan Prospek
Obyek Wisata Pemandian Umbul Cokro Kecamatan Tulung Kabupaten Daerah Tingkat Ii Klaten
Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagai sumber data dalam
penelitian adalah informan yang tediri dari 50 orang warga desa dan 35 orang wisatawan,
dokumentasi dan arsip,. Tehnik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan analisis
dokumen. tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, validitas data yang
digunakan adalah trisnggulasi data. Tehnik analisisnya menggunakan analisa dengan model
interaktif. Hsail penelitiannya adalah (1) potensi pokok yang terdapat pada Obyek wisata Umbul
Cokro adalah sumber mata air dan kolam renang disamping itu juga terdapat potensi pendukung
berupa pemandangan alam dan jembatan gantung. (2) Obyek wisata Umbul Cokro merupakan
obyek wisata yang berkembang dan memiliki prospek yang bagus,hal ini dapat dilihat dari
potensi obyek wisata yang berupa sumber mata air dan kolam renang, jumlah pengunjung yang
meningkat, dan rencana pengembangan obyek wisata yang terpadu.

Singgih Prihadi (2005) dengan judul penelitian Analisis Potensi Obyek Wisata
Pendukung Dan Arah Pengembangannya Di Kawasan Wisata Utama Waduk Serba Guna
Wonogiri Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menggunakan metode
15

diskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulkan data berupa wawancara, observasi, lapangan
dan dokumentasi. Teknik analisisnya menggunakan analiis dengan model interaktif melalui
seleksi data, penyajian data dan penyimpulan data dan melakukan scoring pada masing-masing
variabel. Hasil penelitian ini adalah, (1) sebaran obyek wisata pendukung disekitar kawasan
utama waduk serba guna Wonogiri sebanyak 10 obyek. (2) Obyek wisata potensial ada 2 obyek,
dan kategori agak potensial ada 8 obyek. (3) Arah pengembangannya dibgi menjadi 4 arahan,
yaitu: obyek wisata alam, obyek wisata pertanian, obyek wisata inat khusus, dan obyek wisata
masal.

C. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran pada dasarnya menunjukan arahan enalaran untuk dapat sampai pada
penemuan jawaban konseptual atau masalah yang dirumuskan.

Salah satu tujuan mengelola obyek wisata adalah untuk menyeimbangkan keadaan
lingkungan tempat wisata dengan keinginan wisatawan sehingga tenmpat wisata tetap terjaga
kelestariannya dan wisatawan merasa puas dengan kenikmatan yang diperoleh selama berwisata.

Obyek Wisata

Parameter Potensi: Faktor Pendukung :

- Iklim - masyarakat
- Aksestabilitas - Pemerintah
- Sarana dan prasarana - pengelola
- Daya tarik wisata

Obyek wisata sangat Obyek wisata Obyek wisata kurang


Analisis faktor
potensial potensial potensial
Analisis Data (pengharkatan) pendukung
16

Pengembangan obyek wisata

Peningkatan jumlah wisatawan

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Lokasi penelitian adalah obyek-obyek wisata alam di Kabupaten Pacitan.

2. Waktu Penelitian
17

Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, diawali dari penyusunan proposal sampai
dengan penulisan laporan penelitian, yaitu dimulai bulan Januari sampai Juni 2010.

No Jadwal Penyusunan Januari Februari Maret April Mei Juni


Skripsi

1 Penyusunan proposal

2 Penyusunan instrumen

3 Pengumpulan data

4 Analisis data

5 Penulisan laporan
penelitian

17
B. Bentuk dan Strategi Penelitian

Penelitian yangdilakukan ini mempunyai tujuan untuk menemukan, mengembangkan, dan


menguji kebenaran suatu teori. Agar tujuan tersebut dapat dicapai maka diperlukan metode yang
tepat.

Menurut Surahmad (1994 : 131) “ metode merupakan cara utama yang digunakan untuk
mencapai suatu tujuan. Misalnya untuk menguji suatu hipotesis dengan menggunakan teknik dan
cara tertentu”.

Penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong (2001; 3)
“suatu prosedur penelitian yang menghasilkandata diskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari orang-orang atau pelaku yang diamati”.
18

Penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif.

C. Sumber Data

1. Data Primer

Data primer diperoleh dari hasil pengamatan langsung dilapangan pada waktu penelitian
dilakukan, wawancara dengan penduduk, pengelola, pemerintah setempat, dan pengisian angket
oleh wisatawan.

Data yang diperoleh dari pengamatan dilapangan antara lain:

a. daya tarik obyek wisata( tingkat kelangkaan, nilai wisata, ketersediaan lahan untuk
rekreasi,dll)

b. sarana dan prasarana (air bersih, tempat ibadah, MCK, parker, listrik, warung makan).

c. aksesibilitas (jarak dari jalan raya, kendaraan menuju obyek, jalan menuju obyek).

Instrument yang digunakan adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan angket bagi
pengunjung).

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari pihak yang terkait dengan penelitian ini, misalnya
pemerintah, pengelola, dsb. Data yang dikumpulkan adalah data curah hujan, kunjungan
wisatawan, komposisi penduduk dan persebarannya, peta administrasi Kabupaten Pacitan.

D. Teknik Sampling

Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel dengan cara purposive sampling, yaitu
dengan menentukan orang yang dapat dipercaya menjadi informan serta mengetahui masalah
penelitian. Dalam hal ini responden adalah penduduk, wisatawan, pemerintah, dan pengelola
obyek wisata. Pengambilan data pada setiap obyek meliputi 5 orang penduduk dan 15 orang
wisatawan.
19

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Angket

Angket merupakan daftar pertanyaan yang telah dibuat untuk diisi oleh responden.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan secara berstruktur dengan informan yang bertindak sebagai


responden.

3. Pengamatan dan observasi

Untuk mendapatkan data primer selain wawancara juga menggunakan teknik


pengamatan. Data yang dikumpulkan adalah sarana dan prasareana, aksesibilitas, dan
daya tarik obyek.

4. Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk mencatat dokumen dari pemerintah, pengelola obyek.

F. Analisis Data

1. Analisis Potensi Obyek Wisata Alam

Untuk menentukan potensi wisata menggunakan teknik skor pada setiap obyek. Kriteria
dan asumsi yang digunakan dalam penskoran masing-masing parameter adalah sebagai berikut:

1. Daya tarik obyek wisata

Parameter ini menjadi prioritas yang utama dalam penilaian. Faktor yang dinilai adalah:

- Daya tarik obyek wisata

Meliputi tingkat kelangkaan, nilai wisata, ketersediaan lahan untuk rekreasi, kebersihan
lokasi.

- Aksisibilitas
20

Meliputi jarak dari jalan raya, kendaraan menuju obyek, jalan menuju obyek.

- Sarana dan prasarana

Meliputi sarana air bersih, tempat ibadah, akomodasi, MCK, warung makan.

1. Analisis Faktor Yang Mendukung Pengembangan Obyek Wisata Alam

Sesuai jenis penelitian dan karakteristik datanya yang bersifat kualitatif, maka teknik
analisis data yang digunakan adalah diskriptif yaitu teknik analisis data yang digunakan untuk
menjawab maslah yang didapat dari penelitian dan dihubungkan dengan teori yang
melandasinya.

Dari data yang dikumpulkan, dianalisis supaya mudah dibaca dan memberi informasi
yang jelas. Model analisis data yang digunakan adlah model analisis interaktif dimulai dari
pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA

Prihadi, Singgih. 2005. Analisis Potensi Obyek Wisata Pendukung Dan Arah
Pengembangannya Di Kawasan Utama Waduk Serba Guna Wonogiri Kecamatan
Wonogiri Kabupaten Wonogiri. Skripsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret.

Desky, M.A. 2001. Managemen Perjalanan Wisata. Yogyakarta : Adicita.

Departemen Kehutanan. 1993. Kriteria Penilaian dan Pengembangan Obyek Wisata


Alam. Bogor.

Khasanah. Nur. 2007. Studi Tentang Potensi Wisata Dan Pengembangannya Pada
Obyek Wisata Alam Di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Skripai.
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
21

21
PEMETAAN OBYEK WISATA ALAM DAN
PENGEMBANGANNYA PADA OBYEK WISATA ALAM DI
KABUPATEN PACITAN TAHUN 2010
22

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh :

Tedy Arditya Rochman

K5406041









DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1

A. Latar Belakang Masalah .................. ..................................................................... 1

B. Perumusan Masalah .............................................................................................. 4

C. Tujuan Penelitian .................................................................................................. 5

D. Manfaat Penelitian ................................................................................................ 5

BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................................................... 6

A. Tinjauan Pustaka .............................................................................................................. 6

B. Hasil Penelitian Yang Relevan ........................................................................................ 14


23

C. Kerangka Pemikiran ......................................................................................................... 15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................................................... 17

A. Tempat Dan Waktu Penelitian ......................................................................................... 17

B. Bentuk Dan Strategi Penelitian ....................................................................................... 18

C. Sumber Data .................................................................................................................... 18

D. Teknik Sampling ............................................................................................................. 19

E. Teknik Pengumpulan Data.................................................................................................19

F. Analisis Data ...................................................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................. 21

ii